SIMAK

Gagasan, ide, opini, refleksi, resensi-tinjauan, dan sharing dari Postinus Gulö

  • ..



    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    widget

  • Blog Stats

    • 24,595 hits
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Kategori Tulisan

  • Arsip

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    November 2009
    S S R K J S M
    « Okt    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • .

  • Mempermainkan Keadilan-Sejarah Indonesia Tak Terlupakan

    Selasa, 3 November 2009. Itulah sejarah Mahkamah Konstitusi yang diketuai Mahfud MD mengukir sejarah baru. Membuka rekaman upaya kriminalisasi terhadap pimpinan KPK Bapak Bibit dan Candra. Rekaman itu diperdengar kepada khalayak umum. Saya termasuk yang penasaran sehingga betah mendengarkan rekaman itu via stasiun TVOne dari jam 11 s/d 16. 05 sore. Sakit..sakit....rekaman itu sungguh merobek-robek rasa keadilan. Ternyata di negeri Indonesia, mafia peradilan masih berkuasa. Aparat penegak hukum seolah sudah diborgol oleh para koruptor! Sejarah ini sejarah Indonesia. Jangan dilupakan.

  • Komentar Pengunjung

    Postinus di Sikap Positif
    Postinus di “Terima Kasih, Penghinaan…
    OBERLIN ZEBUA di “Terima Kasih, Penghinaan…
    adi di Sikap Positif
    norman di Apa Itu Hidup?
    anto di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
    link di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
    Yohanes AD Purnomo di What is the Meaning of Li…
    Postinus di Karakter Kepemimpinan Kri…
    Yohanes AD Purnomo di Karakter Kepemimpinan Kri…
    yoshimori di Apa Itu Neoliberalisme?
    bambang di Sikap Positif
    michail huda di Apa Itu Neoliberalisme?
    El Fajr Yumiraz di Apa Itu Neoliberalisme?
    azam-personal di Apa Itu Neoliberalisme?
  • Top Klik

    • Tidak ada
  • So funny

    zwani.com myspace graphic comments

  • ….

    Saudara Anda, Postinus Gulö, adalah pembuat blog ini. Ia lahir di kampung terpencil, Dangagari, Kecamatan Moro’ö, Pulau Nias. Dalam suka-duka terpaan kesengsaraan ia mampu menyelesaikan Sekolah Dasar-nya di SD Negeri 071084 Dangagari, Pulau Nias. Perjuanganlah yang menghantarnya menyelesaikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Negeri 1 Mandrehe, Pulau Nias. Berlayar ke negeri orang bukanlah cita-citanya. Namun, realita menghantarnya ke Sibolga. Di sana ia menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di SMU Swasta Santo Fransisukus Aek Tolang, Pandan dan Seminari Menengah St. Petrus Sibolga. Hidup memang bukanlah kebetulan. Tangan Allah selalu menjamah. Tidak pernah terbayangkan. Ia, lalu, menjawab "panggilan" Allah di Pulau Jawa. Tepatnya di Bandung, Jawa Barat. Bergabung ke Ordo Sanctae Crucis Sang Kristus Indonesia. Tahun 2004 s/d 2008 mendalami ilmu filsafat di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Sejak bulan Agustus 2009 mendalami ilmu teologi dan humaniora di Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan. Bapak-Ibu, Saudara-Saudari, salam dalam kasih Tuhan. Ya'ahowu

Kunci untuk Sukses

Ditulis oleh postinus di/pada Oktober 27, 2009

 Semua orang ingin sukses. Tetapi mereka kurang mengetahui kunci-kuncinya. Saya menemukan beberapa kunci untuk sukses.

Pertama, kepercayaan diri (self-confidence), saya singkat SC saja. SC inilah yang mendorong orang untuk eksploratif, kreatif dan inovatif. Jika seseorang memilki SC yang kuat ia tidak minder akan apa yang ia miliki. Efeknya, ia berani mengonfrontasikan pengetahuan dan tindakannya dengan pengetahuan dan tindakan orang lain. Fenomena yang sering terjadi: kalah sebelum bertanding. Artinya, tidak mau mencoba, malu sama orang lain. Ia melihat orang lain lebih hebat darinya. Ia melihat dirinya tidak punya apa-apa alias rendah diri.

Kedua, inisiatif (sisi psiko-motorik). Inisiatif adalah pintu untuk melangkah. Jika tidak punya inisiatif, maka orang tidak akan berbuat apa-apa untuk masa depannya. Coba perhatikan fenomena dewasa ini, banyak orang yang tidak punya inisiatif. Mereka lebih suka diperintahkan daripada sadar sendiri. Maka, mungkin benar apa yang dikatakan oleh mantan Wakil Presiden, M. Jusuf Kalla: orang Indonesia jangan hanya diajak tapi diperintahkan. Tumpulnya inisiatif bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, pikiran-pikiran yang belum tentu nyata. Misalnya, sebelum bertindak sudah memikirkan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi. Coba, seandainya yang dipikirkan adalah peluang. Saya rasa kita semakin berinisiatif untuk bertindak banyak hal. Kedua, takut menghadapi tantangan. Menghindar dari tantangan. Bukan mencari kiat menghadapi tantangan. Tantangan-tantangan hidup dibayangkan seperti gunung yang menimpa dirinya. Daud adalah tokoh legendaris yang patut kita contoh. Ketika dia berdoa yang ia minta pada Tuhan bukan agar Tuhan menjauhi tantangan darinya. Akan tetapi, ia minta kearifan, kebijaksanaan agar ia mampu mencari solusi secara bijaksana juga.

 

Ketiga, persiapan. Jika kita memiliki self-confidence dan inisiatif, maka kunci berikutnya adalah persiapan. Persiapan-persiapan sangat dibutuhkan sehingga jika ada “peluang karir” kita sudah punya modal. Persiapan bisa dilakukan melalui latihan, menyerap berbagai macam informasi. Memiliki daya kuriositas (ingin mengetahui banyak hal). Jangan salah, persiapan-persiapan semacam inilah yang membuat kita memiliki SKILL (keahlian), CAPABILITY (kemampuan). Kedua hal ini saya singkat SCA. SCA mendorong kita untuk mencapai keberhasilan-keberhasilan tertentu (achievement). Artinya, Anda tidak pernah bisa mencapai sesuatu tanpa ada usaha untuk mempersiapkan diri. Coba Anda tanya kepada siswa SMA apa cita-cita mereka. Banyak yang menjawab: ingin sukses. Cita-citanya kabur. Setelah itu tanya lagi, apa yang kamu perbuat sehingga kamu sukses. Mereka banyak yang bingung. Artinya, mereka ingin sukses tapi tidak memikirkan bagaimana caranya meraih kesuksesan itu. Hidup adalah ibarat sebuat bangunan. Jika bangunan dirancang dan direncanakan secara matang maka akan kokoh. Biar diterpa badai tantangan tetap berdiri tegak. Sebaliknya, jika sebuah bangunan dirancang dan direncanakan serampangan maka hasilnya gampang lapuk, roboh dan hancur.

 

Keempat, kesempatan (chance). Kesempatan itu ada. Cuma kita kadang sulit menemukannya. Barangkali kalau sudah menemukan, tetapi kita belum siap. Maka kesempatan itu diambil orang lain. Oleh karena itu, jika Anda ingin agar kesempatan tidak raib di depan Anda, persiapkanlah dirimu. Benahilah dirimu dengan berbagai keahlian dan kemampuan, yang tidak didapat di bangku sekolah atau kuliah.

 

Kelima, relasi (relationship). Kunci kelima ini menentukan juga. Kadangkala kita punya keahlian. Akan tetapi, karena kita tidak punya relasi yang baik maka kesempatan itu raib di hadapan kita. Prinsipnya, kita tidak mungkin hidup jika sendiri. Kita membutuhkan peran orang lain. Maka, memperluas jaringan itu akan menggampangkan kita meraih kesempatan emas. Selamat mempraktekkan.

 

By Postinus Gulö

Ditulis dalam Motivasi | Leave a Comment »

“Terima Kasih, Penghinaan”

Ditulis oleh postinus di/pada September 24, 2009

 Sebuah negeri hanya dihuni puluhan orang. Negeri itu indah dan makmur. Negeri suci. Negeri panggilan. Hidup tertata. Aturan hidup ada. “Hospitalitas” adalah semangat hidup mereka. Entah apa arti kata itu. Seolah tak berarti karena tak pernah dilakoni oleh penghuni yang sering mencetuskannya. Kata orang, jika kata itu dihayati oleh seseorang maka ia begitu ramah. Wajahnya berseri tidak menakutkan. Seseorang yang menghidupi “hospitalitas” berhati indah. Ia berpikiran jernih. Kata-katanya menyembuhkan. Tutur katanya enak didengar. Tidak bernada interogatif!

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Life Diary, My Reflection | 2 Komentar »

The Open Society Theory in the Plural Society Context

Ditulis oleh postinus di/pada September 18, 2009

By Postinus Gulö

My topic is taken from Karl Raimund Popper’s thesis and Henri Bergson’s opinion. Karl Raimund Popper is a politic philosopher who was born in Austria, while Henri Bergson is a philosopher who was born in French. Popper is a student from Bergson. In Bergson’s opinion, the open society is the society which is deemed in principle to embrace all humanity. A dream dreamt, now and again, by chosen souls, it embodies on every occasion something of itself in creation, each of which, through a more or less far-reaching transformation of man, conquers difficulties hitherto unconquerable. While according to Popper, the open society is the society in which individuals are confronted with personal decisions or individual freedom, and belief for critical attitude, critical thinking, creative thinking, hypothesis thinking and denies: the dogmatic thinking, magical thinking, tribalism attitude, fanaticism, violence and inevitable laws. The most important characteristics of the open society, competition for status among its members.

In my opinion, the open society theory is very important and its relevance in the plural society context like Indonesian society. Why? Because the principles of the open society theory are:

  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Leave a Comment »

“Kegiatan Ekonomi Harus Mengarah Pada Usaha Memanusiawikan Manusia”

Ditulis oleh postinus di/pada September 18, 2009

Oleh Postinus Gulő*

Mestinya, kegiatan ekonomi adalah proses realisasi manusia untuk memanusiawikan dirinya dan sesamanya. Jadi, kegiatan ekonomi bukan sekedar untuk mendesain manusia menjadi homo oeconomicus (manusia ekonomi) melainkan juga homo socius (makhluk sosial). Oleh karena itu, kegiatan ekonomi seharusnya di arahkan untuk menjawab kebutuhan individual sekaligus kebutuhan rakyat secara keseluruhan. Jika arah kegiatan ekonomi dijalankan seperti ini maka, visi-misi kegiatan ekonomi berada pada jalur memanusiawikan manusia.

Saya sangat terinspirasi dengan tulisan tokoh ekonomi kondang: Michael Novak menyangkut gagasannya dalam aktivitas ekonomi. Tokoh ini mengidealkan manusia sebagai makhluk yang harus menghasilkan sesuatu (homo faber), harus mampu mendesain dan merekayasa hidupnya. Dalam dunia dewasa ini, agaknya benar arah pemikiran Novak bahwa manusia dewasa ini dilihat oleh pelaku ekonomi sebagai modal (capital), investasi, dan komoditi.

Memang saya tidak begitu setuju dengan pendapat ini. Sebab, jika demikian, kegiatan ekonomi justru menjadikan manusia bukan manusia lagi. Manusia menjadi sama seperti barang yang layak diperdagangkan dan dipertukarkan dengan barang.

  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Leave a Comment »

Film Doubt: Potret Kepemimpinan yang Salah

Ditulis oleh postinus di/pada September 15, 2009

 Judul Film: Doubt (tahun 2008)

Penulis naskah: John Patrick Shanley

Bintang Film: Philip Seymour Hoffman (Father Flynn), Meryl Streep (Sister Aloysius), Adams (Sister James), Joseph Foster (Donald Miller), Viola Davis (Mrs. Miller)

Peneropong: Postinus Gulö

 

Film ini tidak hanya sebatas kritik atas kepemimpinan. Film ini mengungkap fakta yang sering terjadi di kalangan pemimpin. Seringkali kepemimpinan direduksi menjadi sebatas kekuasaan yang kaku, mencurigai, mengawasi (berlaku sebagai pan-optik), menentukan dan “menghancurkan” nasib orang. Pemimpin melupakan tanggung jawab besar yakni menumbuhkembangkan rekan kerjanya serta bawahannya. Ucapan Father Flynn kepada Sr. Aloysius (kepala sekolah) begitu menarik. “Emosi bukanlah fakta. Kecurigaan bukanlah fakta.” Kalimat ini menarik. Betapa tidak, suster begitu yakin bahwa Flynn memiliki hubungan khusus dengan seorang muridnya, Donald Miller. Memang ada pihak ketiga di antara mereka, Sister James. Ia bertipe selalu mencurigai seseorang. Maka ia suka memata-matai rekan kerjanya. Tidak heran jika kabar darinya sebatas gosip!

Saya “menangis” dalam hati melihat keegoisan Sr. Aloysius. Mrs.Miller bersujud minta agar anaknya, Donald Miller tidak dikeluarkan dari sekolah. Kalau dikeluarkan, maka Donald Miller akan dibunuh ayahnya. Apa yang terjadi, Sr. Aloysius tidak mau peduli.

Bagi saya, film ini berbicara mengenai realitas kehidupan kepemimpinan. Manakala, seorang pemimpin lebih mempercayai tukang gosip, pada saat itu pula ia telah melakukan beberapa kesalahan:

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Teropong Film | Leave a Comment »

Karakter Kepemimpinan Kristiani

Ditulis oleh postinus di/pada Desember 12, 2008

Oleh   Postinus Gulő  (1)


Pengantar

Berbicara mengenai kepemimpinan, yang terpikirkan oleh saya bukan hanya menyangkut pemimpin melainkan juga yang dipimpin. Kedua pihak ini mesti saling pro-aktif. Walaupun pemimpin begitu ideal, namun jika orang yang dipimpin tidak pro-aktif, sia-sialah sebuah organisasi: tidak lancar/tidak hidup. Namun, dalam artikel ini, saya hanya memfokuskan diri pada karakter seorang pemimpin.

Menurut Max de Pree(2) (tokoh manajemen kepemimpinan), pemimpin pertama-tama dipahami bukan sebagai jabatan (privilege) (3) melainkan sebagai pekerjaan/tanggung jawab/responsibility (dan menurut saya sebagai pelayanan). Artinya, tugas seorang pemimpin adalah berusaha memberdayakan orang untuk melakukan apa yang seharusnya mereka kerjakan dengan cara yang paling efektif dan manusiawi.(4) Pekerjaan menjadi efektif jika ada framework (kerangka kerja) yang akan dikerjakan.(5) Seseorang melakukan hal yang manusiawi jika apa yang mereka lakukan selalu dalam koridor moral dan ajaran iman.

Bahan inspirasi utama penulis saat menulis artikel ini adalah kepemimpinan Yesus. Saya tidak mau lari dari situ. Sebab, kepemimpinan Kristiani selalu berpegang teguh pada ajaran dan keteladanan Yesus. Dan kita sebagai pengikut-Nya mesti menempatkan diri sebagai pengikut Kristus sejati (imitatio christi). Ada beberapa karakter kepemimpinan yang mestinya kita, sebagai umat Kristen, mempraktekkannya dalam hidup keseharian kita, antara lain:

 

1. Pendoa

Sebelum membuat keputusan penting, Yesus berdoa terlebih dahulu. “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana (Mrk. 1: 35). Yesus pergi ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul (Luk. 6: 12-13).

 

Yesus begitu intim dengan Allah. Maka, apapun yang Ia lakukan selalu sesuai dengan kehendak Bapa-Nya. Seorang pemimpin mesti beguru pada sikap Yesus. Modal utama pemimpin dalam merealisasikan (mewujudkan) tanggung jawabnya serta visi dan misinya adalah kekuatan doa (daya spiritual). Kesatuan pemimpin dengan Allah, menjadi semangat yang berkobar untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Bahkan menjadi sumber kebijaksanaan pemimpin dalam mengemban tugasnya.(6)


 

2. Pelayan

Yesus pernah bersabda: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mrk. 10: 42-45). Pemimpin yang memiliki jiwa pelayan selalu berusaha mengambil keputusan yang mengarah pada bonum commune (kebaikan/keuntungan bersama) dan bukan semata-mata demi mencapai bonum private (keuntungan pribadi).(7) Yesus menggunakan istilah pelayan itu berarti pemimpin adalah bukan tipe Nato (no action talk only). Pemimpin adalah orang yang mau bertindak dan menyadari tanggung jawabnya.

 

Dan, yang patut diperhatikan oleh pemimpin adalah kata-kata bijak dari Ken Blanchard: “Semua pemimpin yang berjuang untuk menghasilkan hal-hal baik harus dapat mengeluarkan yang terbaik dari dalam dirinya dan orang lain. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam diri, yakni melalui hati yang mau melayani, lalu keluar untuk melayani orang lain.”(8)

 

3. Memiliki responsibility (bertanggung jawab)

Responsibility berasal dari dua kata. Response: tanggapan, tindakan, jawaban. Ability: kemampuan, kesanggupan. Jadi, responsibility adalah kemampuan bertindak, kesanggupan menanggapi. Seorang pemimpin harus memiliki kepekaan pada tanggung jawabnya. Tanggung jawab adalah semangat hidup seorang pemimpin. Dalam Kitab Suci, kita sering mendengar: jika kita bisa menyelesaikan perkara kecil maka kepada kita akan dipercayakan untuk melakukan pekerjaan besar (minora servabis, mayora te servabit). Lancar atau tidaknya sebuah organisasi tergantung pada kesadaran pemimpin akan tanggung-jawabnya. Oleh karena itulah, dalam mengemban dan merealisasikan tanggung-jawabnya, seorang pemimpin mesti bersikap persuasif. Pemimpin berusaha untuk tidak meluki hati siapapun. 

  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | 2 Komentar »

Arah Pendidikan

Ditulis oleh postinus di/pada Desember 10, 2008

Oleh Postinus Gulő*

Ada pemeo Latin yang menyinggung tujuan utama persekolahan/pendidikan. Pemeo Latin itu berbunyi: Non scholae sed vitae discimus (hendaknya sekolah bukan hanya untuk nilai melainkan untuk hidup). Artinya – meminjam kata-kata Fidelis Waruwu – kita belajar bukan hanya untuk sekolah (ujian/nilai dan kepintaran) melainkan untuk hidup (we learn no for school, but for life). Pendeknya, ilmu dan pendidikan yang didapat di bangku sekolah hendaknya membentuk karakter sang pelajar/sajana untuk lebih berakhlak baik, mampu hidup sebagai manusia. Pemeo Latin itu hendak menegaskan bahwa peserta didik tidak hanya dibekali daya “mengetahui” melainkan mereka juga disadarkan pada bagaimana “mempraktekkan dan menemukan”. Tujuannya agar peserta didik tidak hanya pintar “berteori” tetapi sekaligus ahli “bertindak baik dan benar”.

Akhir-akhir ini, pemeo Latin itu telah digeser – salah satunya – oleh pelaku ekonomi/pebisnis: sekolah bukan untuk menimba ilmu hidup melainkan untuk menimba keahlian bekerja. Sekolah bukan untuk belajar berempati melainkan untuk berkompetisi. Maka, tidak heran jika kaum kaya-pebisnis jarang tersentuh hatinya oleh realitas kehidupan kaum miskin.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Leave a Comment »

Sikap Positif

Ditulis oleh postinus di/pada Mei 12, 2008

Oleh Postinus Gulö

Saya sangat bersyukur pada Allah. Melalui peristiwa kecil Ia menyapaku: memberikan pencerahan reflektif. Ketika saya sedang membaca sebuah buku yang berjudul: “Developing the Leaders Around You”, yang ditulis John C. Maxwell, saya menemukan pencerahan. Dan, saya yakin bahwa ini adalah suara Tuhan, nasehat Allah. Inspirasi yang muncul pun saya rangkai dalam kalimat. Saya tidak menyia-nyiakan pengalaman tersingkap itu. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Motivasi | 6 Komentar »

Isu Diskriminasi Jender dalam Film “The Hours”

Ditulis oleh postinus di/pada Mei 2, 2008

Peneropong: Postinus Gulö. Judul film: The Hours. Pemain film: Virginia Woolf, Julianne Moore, Meryl Streep, Richard, Cs.


* * *

Perempuan, sosok lembut penuh kerahiman. Ia ibu semua manusia. Semua manusia pernah bersemayam dalam rahim perempuan, sang ibu. Di rahim, kita berenang dalam kenyamanan. Sembilan bulan lamanya. Tiada derita. Yang ada serba ada. Yang ada serba senang. Jika dunia ini ibarat rahim, dunia ini begitu nyaman.


Akan tetapi…..ketika jabang bayin lahir. Ia bukan senang. Ia gelisah. Kenyamanan tiada lagi. Lantas ia menangis. Ia mampu merasa: dunia begitu tidak jelas. Penuh perjuangan. Rasa mesti diolah. Pikiran mesti dipelihara. Sikap mesti dikontrol. Kalau tidak, segalanya chaos. Di dunia, senang adalah produk design manusia. Ia bukan seperti rahim yang tinggal “dinikmati” jabang bayi.


Peranan perempuan begitu berharga. Tetapi, mengapa mereka terus ditindas, dipandang kelas dua, laki-laki yang salah jadi? Ketertindasan perempuan itulah yang diangkat dalam film ini. Selamat membaca dan berenung……….! Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Teropong Film | 3 Komentar »

The End of Intelligence Quotient?

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 16, 2008

Postinus Gulö *

        Dalam buku If Aristotle Ran General Motors: The New Soul Business, Tom Morris mengindikasikan (secara implisit) bahwa wisdom adalah gejala baru dalam kultur postmodern. Tren ini mengindikasikan terjadinya konvergensi (titik temu)  antara dua gagasan yang berbeda (misalnya spiritualitas vs bisnis, Allah vs Mamon) yang notabene tidak bisa digabungkan oleh Yesus.

         Bagi Tom Morris, making money bukanlah kegiatan yang haram seperti yang difatwakan oleh institusi religius. Making money (cari uang) adalah kegiatan sakral: kesempatan untuk memuliakan nama Allah, lahan untuk melayani Allah dan manusia sebagaimana tuntutan Yesus. Lantas, bagaimana caranya? Caranya adalah mesti membawa spiritualitas ke dalam bisnis. Mesti membawa hati nurani ke dalam dunia usaha sehingga tidak terjadi korupsi. Jadi, making money menjadi kegiatan sacral manakala bertujuan memuliakan Allah. Hal inilah yang disebut dengan manajemen berbasis hati nurani. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Philosophy | 1 Komentar »

Bahasa dalam Perspektif Ferdinand de Saussure

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 16, 2008

Pengantar 

Paper ini merupakan hasil analisa dan resume ide-ide Ferdinand Saussure tentang bahasa berdasarkan bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Pengantar Linguistik Umum (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1993). Setelah membaca buku tersebut, saya berkesimpulan bahwa bahasa – bagi Saussure – erat-terkait dengan makna. Makna adalah soal relasi differensial. Artinya, makna (dalam tata bahasa) terkait pada kata sebelum dan sesudahnya. Singkatnya, makna adalah urusan internal kalimat (intra-linguistik); makna tidak ada di luar kalimat. Konsekuensi berpikir seperti  ini adalah, makna extra-linguistik cenderung diabaikan.

Mengenal Saussure berarti kita mesti mengenal beberapa gagasan yang penting dari beliau. Pertama, langage, langue dan parole. Kedua, sintagmatis dan asosiatif. Ketiga, valensi. Keempat, sinkronik dan diakronik. Kelima, tanda, penanda dan petanda. Keenam, arbitrer (kesemenaan) dan mutlak. Ketujuh, sistem aksara. Gagasan-gagasan beliau inilah yang saya uraikan dan jelaskan  dalam paper ini. Selamat membaca!

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Philosophy, Teropong Artikel & Buku | 13 Komentar »

Syarat Menjalin Relasi Harmonis

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 6, 2008

Dalam bukunya “The Seven Habits of Highly Effective People”, Stephen R. Covey pernah mengusung landasan utama yang harus dimiliki oleh setiap manusia (jika ia mau berhasil dalam berelasi dengan orang lain), yaitu “personality ethics” (etika kepribadian). Menurut beliau personality ethics (PE) pada dasarnya mengambil dua jalan:

Pertama, teknik berhubungan dengan manusia atau masyarakat. Kedua, sikap mental positif (SMP) atau positive thinking (husnu-dzon). Nah, bagaimana mengaktualisasikan kedua “jalan” ini? Langkah pertama dan utama yang harus kita lakukan adalah: memperhatikan (mengevaluasi dan mengoreksi) persepsi kita sendiri. Mengapa? Karena persepsi itu bagai “lensa”: jika lensa yang kita pakai berwarna merah maka apapun yang kita lihat menjadi merah. Jadi, ketika kita “berpikir” tentang sesuatu jangan-jangan lensa yang kita pakai justru lensa yang tidak benar, bukan lensa yang seharusnya. Itu sebabnya perlu mengoreksi lensa berpikir kita.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Motivasi | Leave a Comment »

FIKSI, IDE, DAN IDEOLOGI

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 6, 2008

Tulisan ini saya awali dengan pertanyaan: apa arti sebuah ide, seperti ide tentang Allah, ide tentang keadilan, dan ide tentang kebahagiaan? Bagi William James, ideas are not solely determined by the social conditions of their time, but also by earlier ideas, or by ideas transferred from different ideological field and different social-economic contexts”, ‘ide-ide itu tidak hanya ditentukan oleh kondisi-kondisi zamannya, tetapi oleh ide-ide sebelumnya atau ide yang berbeda dalam sosial-ekonomi dalam konteks yang berbeda-beda’.  

Saya yakin bahwa ide-ide itu ditentukan oleh status atau kedudukan dan golongan sosial (terpelajar atau tidak) dari orang yang mencetuskan dan memperjuangkannya. Misalnya, ide orang kaya dengan ide orang miskin sangat berbeda. Orang kaya cenderung anti Pedagang Kaki Lima (PKL). Dengan alasan: mengakibatkan jalan macet dan bahkan mengganggu pejalan kaki. Lain halnya orang miskin. Mereka malah pro PKL. Dengan alasan, barang-barang ada di sekitar mereka, bisa dijangkau, bisa tawar-menawar. Jadi, seni berbicara dengan sendirinya terpraktekkan. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Philosophy | Leave a Comment »

Ketika Manusia (Tak) Berhati Nurani

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 6, 2008

                                               

             Dunia lebur dalam kerakusan, keegoisan, kebohongan. Adalah Hitler pernah berkata “berbohonglah terus-menerus karena suatu saat kebohongan Anda akan dianggap sebagai kebenaran”. Tesisnya ini terbukti. Tatkala ia menghasut rakyat Jerman bahwa Yahudi: manusia tak berguna, harus dibasmi, seolah diafirmasi begitu saja. Ternyata, kerakusan dan kebohongan membentuk manusia dalam wajah yang licik dan picik. Kata-kata Hitler ini bukan hanya terjadi di masa lalu. Kini, kelicikan semakin menjadi tindakan spektakuler pejabat, kaum intelektualis, dan kaum cerdik. Akhir-akhir ini, kelicikan adalah jurus instan-manjur mencapai kejayaan. KKN semakin terpelihara karena keegoisan dan kebohongan itu. Bahkan lembaga pengusung kedamaian, “agama” menjadi tempat membangun tembok kebencian karena keegoisan. Maka, dewasa ini kita mendengar ada perang religius. Mereka ingin mewujudkan surga di bumi, tetapi sebenarnya tindakan mereka justru menciptakan neraka, kata Karl R. Popper.   

Kebencian manusia zaman kiwari tidak hanya sebatas wacana tapi diaktualisasikan menjadi kenyataan yang membabi buta. Maka, John Naisbitt dan Patricia Aburdence menjadi frustrasai. Spirituality  Yes, Religion No, kata mereka.  Mereka menggugat kebenaran yang ditawarkan lembaga agama. Namun, sebenarnya ingin mereposisi agama, bukan membenci agama secara ontologis.

 

            Ketika dunia lebur dalam kekacauan, banyak pengagum kebenaran menjadi frustrasi dan ragu pada kebenaran: jangan-jangan kebenaran hanya pembenaran atau kebenaran diidentikkan dengan pembenaran. Agama yang tadinya sebagai sarana keselamatan; sekarang malah pembawa ketakutan, kehancuran. Agama harus digugat, kata A. Wilson. Gagasannya itu bukan hanya kritikan mengawang-ngawang. Againts Religion: Why We Shouldn’t Try to Live Without It, itu adalah bukunya yang sangat menohok dan mungkin menggemparkan dunia. Ia mengganggap bahwa agama adalah pembawa tragedi. Jauh sebelum itu, klaim yang lebih menohok datang dari Marx: agama adalah candu. Bahkan Feurbach. Pernah berkata, agama hanya sebatas tempat memproyeksikan Allah, tidak lebih dari itu. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Leave a Comment »

Moral dan Politik

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008

Paper ini pertama-tama ingin menjawab satu pertanyaan: bagaimana jika politik dan moral terpisah? Jawaban pertanyaan ini saya paparkan dalam uraian berikut.

 

Politik berkaitan erat dengan kekuasaan dan ketatanegaraan. Hal itu sesuai dengan etimologi politik: politeia (negara), dan politikos (negarawan). Jika kita kembali melihat hakikat filsafat politik, semakin jelas bahwa politik dan moral saling interpendensi. Plato misalnya, mendefenisikan filsafat politik sebagai salah satu cabang etika (filsafat moral) sosial atau kemasyarakatan. Baginya, manusia sudah selalu berpolitik karena manusia tidak pernah terlepas dari negara (politeia).[1]

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Leave a Comment »