Gejolak Kebencian, Panggilan Memaafkan
Ditulis oleh postinus di/pada November 28, 2007
Pernah aku ditanya teman: siapa yang paling Anda cintai? saya jawab: si dia….teman itu langsung protes: bukan, diri Anda sendiri! Anda itu sering kesal, marah, ngomel, terluka, tetapi Anda tetap mencintai hidup Anda, bukan? Coba, ketika Anda melihat foto-foto kenangan Anda bersama teman-teman Anda, pastilah foto yang pertama Anda cari adalah foto Anda, bukan?
Sering saya berpikir, hidupku tak berarti, sering dilecehkan sama orang lain, sering dilukai. Tetapi saya sadar, pikiran itu justru membendung langkahku untuk melihat orang lain, berpikir tentang orang lain. Pikiran-pikiran itu justru menyekat mataku melihat orang lain, orang lain seolah musuh dan serigala yang mengancamku.
Saya sampai pada refleksi: ketika saya terus teringat akan perbuatan orang lain, ketika saya terus mengingat bahwa orang lain pernah menyakitiku, sebenarnya saya pada saat itu, sedang dipanggil Allah untuk mengampuni. Dengan kata lain, rasa benci adalah mandor yang mengingatkanku untuk mengampuni sesamaku.
Mengapa aku terluka? Ya, karena aku masih manusia, punya hati, punya persaan. Luka itu jangan sampai menimbulkan virus dalam hidupku, aku mesti mengobatinya dengan mengampuni orang yang melukaiku.
Sebenarnya, disaat aku terluka, saat itu juga aku tidak terluka. Disaat aku marah, pada saat itulah aku dipanggil untuk tidak marah tapi mengampuni. Hanyalah keterbukaan pada suara hati dan cinta Allah saya mampu merefleksikan ini. Semoga, aku memaknai hidupku lebih dari sekedar menghidupi hidupku. Amin.
Bandung, 28 November 2007
