SIMAK

Gagasan, ide, opini, refleksi, resensi-tinjauan, dan sharing dari Postinus Gulö

  • ..



    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    widget

  • Blog Stats

    • 25,280 hits
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Kategori Tulisan

  • Arsip

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Februari 2008
    S S R K J S M
    « Jan   Mar »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    2526272829  
  • .

  • Mempermainkan Keadilan-Sejarah Indonesia Tak Terlupakan

    Selasa, 3 November 2009. Itulah sejarah Mahkamah Konstitusi yang diketuai Mahfud MD mengukir sejarah baru. Membuka rekaman upaya kriminalisasi terhadap pimpinan KPK Bapak Bibit dan Candra. Rekaman itu diperdengar kepada khalayak umum. Saya termasuk yang penasaran sehingga betah mendengarkan rekaman itu via stasiun TVOne dari jam 11 s/d 16. 05 sore. Sakit..sakit....rekaman itu sungguh merobek-robek rasa keadilan. Ternyata di negeri Indonesia, mafia peradilan masih berkuasa. Aparat penegak hukum seolah sudah diborgol oleh para koruptor! Sejarah ini sejarah Indonesia. Jangan dilupakan.

  • Komentar Pengunjung

    wahyuindrawan di Apa Itu Hidup?
    dede fadillah di Istilah dan Sejarah Meditasi d…
    Postinus di Sikap Positif
    Postinus di “Terima Kasih, Penghinaan…
    OBERLIN ZEBUA di “Terima Kasih, Penghinaan…
    adi di Sikap Positif
    norman di Apa Itu Hidup?
    anto di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
    link di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
    Yohanes AD Purnomo di What is the Meaning of Li…
    Postinus di Karakter Kepemimpinan Kri…
    Yohanes AD Purnomo di Karakter Kepemimpinan Kri…
    yoshimori di Apa Itu Neoliberalisme?
    bambang di Sikap Positif
    michail huda di Apa Itu Neoliberalisme?
  • Top Klik

  • So funny

    zwani.com myspace graphic comments

  • ….

    Saudara Anda, Postinus Gulö, adalah pembuat blog ini. Ia lahir di kampung terpencil, Dangagari, Kecamatan Moro’ö, Pulau Nias. Dalam suka-duka terpaan kesengsaraan ia mampu menyelesaikan Sekolah Dasar-nya di SD Negeri 071084 Dangagari, Pulau Nias. Perjuanganlah yang menghantarnya menyelesaikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Negeri 1 Mandrehe, Pulau Nias. Berlayar ke negeri orang bukanlah cita-citanya. Namun, realita menghantarnya ke Sibolga. Di sana ia menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di SMU Swasta Santo Fransisukus Aek Tolang, Pandan dan Seminari Menengah St. Petrus Sibolga. Hidup memang bukanlah kebetulan. Tangan Allah selalu menjamah. Tidak pernah terbayangkan. Ia, lalu, menjawab "panggilan" Allah di Pulau Jawa. Tepatnya di Bandung, Jawa Barat. Bergabung ke Ordo Sanctae Crucis Sang Kristus Indonesia. Tahun 2004 s/d 2008 mendalami ilmu filsafat di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Sejak bulan Agustus 2009 mendalami ilmu teologi dan humaniora di Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan. Bapak-Ibu, Saudara-Saudari, salam dalam kasih Tuhan. Ya'ahowu

Arsip untuk Februari, 2008

Film “Odd Girl Out”

Ditulis oleh postinus di/pada Februari 28, 2008

Adalah menarik adegan-adegan yang ditampilkan dalam film ini. Menyaksikannya, saya teringat pada rangkaian kalimat adagium Latin “Non sibi vivere, sed et aliis proficere” (hidup bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk menjadi berkat bagi orang lain). Yang terjadi dalam fim ini justru sebaliknya, seseorang yang tadinya seorang teman, sahabat, berubah wujud: menjadi musuh, penghancur segala jalinan persahabatan yang telah dibina sejak sekian lama. Dan oleh karenanya, (dalam konteks film ini) seorang teman tidak selamanya menjadi pembawa berkat bagi orang lain.            

Nicky, Staccey, cs.  yang tadinya teman Venessa, hanya karena masalah afektif, percintaan (memperebutkan seorang cowok: Tony), persahabatan renggang, suara hati pun tak berbicara, tumpul. Sensibilitas menjadi hampa, yang terlihat hanya rasa benci, kegalauan, dan terror. Ada hal khusus yang  ditampilkan dalam film ini: Staccey dan Venessa sejak kecil sudah saling kenal. Orangtua mereka pun sangat akrab. Tetapi hanya karena Venessa dekat dengan seorang lelaki, Tony (yang notabene dicintai juga oleh Staccey) persahabatan yang telah terbina sejak sekian lama pupus di tengah jalan. Saya melihat bahwa ada  faktor lain yang membuat hati Staccey begitu bebal, sadis dan bersikap seperti teroris. Pertama-tama karena Nicky selalu menjadi provokator. Nicky selalu membakar hati Staccey untuk membenci, mempermainkan Venessa. Nickylah yang membuat api semakin menyala, dialah yang membuat Staccey semakin bejat terhadap kawan, temannya sendiri: Venessa.            

Dalam kasus ini pun terlihat bahwa anak muda, selalu rindu pada jati diri, identitas, pengakuan dari orang lain. Venessa ketika dijauhi oleh teman-temanya (apalagi karena selalu diejek) merasa tidak aman, tidak at home, tidak menyenangkan. Sebaliknya, dari pihak Staccey, ia berlindung pada kelompoknya sendiri, ia merasa senang mempermainkan Venessa karena ada ‘dukungan’ dari teman-temannya. Teman dalam tataran kasus itu ada dua gendang : teman bisa membuat kita senang, happy, tetapi kenyataan yang dialami oleh Venessa, teman justru tidak menyenangkan, membuat dirinnya tertekan, aktivitas sekolahannya sempat berhenti, kacau balau.              

Secara moral, kelakuan Nicky, Staccey, cs. tidak dapat dibenarkan. Karena sikap mereka lebih sadis dibandingkan tindakan seorang pembunuh fisik. Nicky dan Staccey, cs. melakukan penekanan secara mental, yang membawa Venessa pada kegilaan, ketidaknyaman seumur hidup, traumatik dan luka batin. Jadi, Nicky cs melakukan pembunuhan metafisik : pembunuhan secara psikologis.            

 Venessa adalah sosok yang berpendirian ‘positive thinkingg’ sekaligus lugu, polos, menampilkan dirinya apa adanya. Bahkan Venessa berusaha untuk mempercayai, memaafkan temannya, walaupun sudah beberapa kali menyakitinya. Ini luar biasa. Ketika dia bertemu dengan Staccey, ia masih mengharapkan agar Staccey masih menjadi temannya seperti dulu. Tetapi dasar pembohong, Staccey rupanya bermanis muka. Dia malah mengerjain Venessa.

Adegan ini, menghantar saya pada sebuah refleksi aktual: bagaimana jika sikap seperti Staccey, Nicky, cs., ada di komunitas, di keluarga, di tempat kita bekerja. Tentu, menjadi batu sandungan. Hanya karena sikap sembrono seseorang, lantas semangat kita beurbah menjadi amarah dan kekesalan. Maka, yang perlu diperhatikan adalah sikap komunikatif, tidak perlu dipendam semua masalah. Saya melihat bahwa Venessa agak terlambat mengkomunikasikan ketidaksetujuannya ke Staccey. Dia masih lugu. Oleh karena itu, sangat perlu dibedakan antara polos dan jujur, antara rendah diri dan rendah hati. Jika ada sikap yang kurang berkenan di hati, seharusnya dibicarakan secara baik-baik. ‘’Tidak perlu lama-lama di tepi sungai, karena bau Anda akan dicium buaya, kata pepatah orang bijak’’. Dalam menghadapi masalah tak perlu (semuanya) dimasukkan ke dalam wilayah perasaan, tetapi mesti dirasionalisasikan, dicari jalan keluar yang tepat dan bijaksana.            

 Kadangkala anak muda tidak menyadari dirinya ketika terkontaminasi  dan tenggelam ke dalam keegoisan, ketidaktahuan. Di sini, adalah penting ‘suara hati’ ketika seseorang bersinggungan dengan dunia, di luar dirinya bahkan dengan dirinya sendiri. Menurut Irene Yosselyn, dalam dunia remaja: orangtua adalah simbolisasi dari suara hati, dalam arti, para orangtua mengambil peran sebagai suara hati bagi anaknya[1]. Orangtua menjadi figur, penuntun bagi anaknya. Dalam film ini, orangtua Venessa telah berperan sebagai suara hati bagi anaknya. Dia berusaha menenangkan anaknya, bahkan dia juga ikut berempati dan berusaha menyelesaikan masalah anaknya (baik terhadap orangtua Staccey maupun  ke pihak sekolah, guru). Komunikasi adalah perlu, itulah nasihat sang ibu Venessa. Walaupun gagal beberapa kali, namun pada akhirnya, ketika dialog, curahan kekesalan, luapan amarah, luapan ketidaksetujuan yang terjadi antara Venessa dan Staccey permasalah semakin dapat dikendalikan.           

 Selanjutnya, bagi Irene Yosselyn, teman (bagi anak muda) adalah simbol suara hati, peneguh dan bahkan seorang teman yang sangat berperan dalam hidup seseorang: sebagai pelipur lara, sarana kontrol, teman sharing. Seorang teman yang baik adalah teman dialog, yang bisa mendengarkan keluhan kita. Seorang teman yang baik menaruh perhatian kepada sesamanya, kepada temannya. Dalam film ini wanita yang berkulit hitam (saya lupa namanya) adalah menjadi “teman’ Venessa, ia menjadi teman dialog, penaruh perhatian, penghibur dan orang yang memberi peneguhan. “Venessa kamu itu cantik, kamu itu pintar dibanding mereka, ketika kamu merusak dirimu sendiri, itu adalah tindakan bodoh” itulah katanya, nasihatnya, ketika Venessa mengalami depresi, putus asa karena dibenci oleh temannya sendiri. Saya melihat bahwa ketika kesadaran terbersit dalam hati seseorang (walaupun secara umur ia belum dewasa) tetapi karena ilham ‘kesadaran’, kata-katanya sungguh menampilkan kedewasaan; dan itulah yang ada dalam perempuan berkulit hitam itu.   

Menutup diri tak ada gunanya ketika kita menghadapi masalah. Inilah pesan moral yang saya dapatkan dalam film ini. Ketika manusia, semakin menutup diri, masalah yang ia hadapi semakin menggerogoti kehidupannya. Pada zaman sekarang, ada banyak manusia yang sulit berkomunikasi dengan orang lain, manusia zaman modern (sebagian) ibarat seorang autis yang sibuk dengan dirinya sendiri: tidak mau tahu dan tidak mau diketahui orang lain, segalanya dijadikan rahasia pribadi.[2]

Dimensi persahabatan itu sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena melalui persahabatan terwujud suatu dimensi relasional . Teolog Curran menyatakan bahwa seseorang perlu menyadari komitmen relasionalnya terhadap orang lain, karena hal itu merupakan wujud dari komitmen relasionalnya dengan Tuhan [3]. Relasi terhadap sesama adalah manisfestasi dari relasi seseorang dengan Tuhan. Tentu, sebagai orang Kristiani antara visi dan misi, gagasan dan tindakan, teori dan aksi tidak bisa dipisahkan satu sama lain « iman tanpa perbuatan adalah ma


[1] Lihat Charles M. Shelton, SJ, Moralitas Kaum Muda, Bagaimana Menanamkan Tanggung Jawab Kristiani,(Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm. 21

[2] Pernyataan ini adalah pernyataan Bapak Dr. Ignatius Bambang Sugiharto dalam seminar “Bedah Naskah Eugene Iunesco tentang The Lesson”, 29 April 2006 silam di G.K. Sunan Ambu STSI, Bandung

[3] Charles M. Shelton, SJ, Op.Cit,  hlm 21

     

Ditulis dalam Teropong Film | Leave a Comment »

Apresiasi Puisi

Ditulis oleh postinus di/pada Februari 28, 2008

Gempa yang mencabik-cabik Jogya dan daerah sekitarnya pada tgl 27 Mei lalu, membuat diri ini berefleksi. Untaian refleksi itu saya goreskan dalam bentuk puisi. Pertama, berjudul: “Tersembunyi. Kedua, berjudul: “Dikala Bencana Mengungkap Makna”. Puisi ini merupakan ungkapan interior mendalam saya menuai pengalaman merasa yang memilukan ketika menjadi relawan di Klaten, Ganjuran dan Baciro tanggal 1 s/d 17 Juni 2006 silam. Saya dan teman saya para frater OSC lainnya mengalami hal serupa. Pengalaman menjadi relawan memang tak dapat dibayar dengan uang. Pengalaman itu begitu berharga. Ia salah satu mozaik hidup yang memperindah kepribadian saya.

 Di daerah bencana,  kami banyak menjumpai orang-orang yang putus asa. Seolah tak ada harapan yang harus mereka gapai. Hanya ada satu kata yang selalu keluar dari mulut mereka, pasrah. Namun, ternyata kepasrahan yang mereka maksud adalah tak mampu berbuat apa, pasif. Saya melihat bahwa sebenarnya yang sedang mereka alami bukan kepasrahan tetapi kefrustrasian, apatis dan tak mau bangkit. Saya meminjam kata-kata Meister Ekkerhart (mistikus) bahwa pasrah berarti membiarkan diri larut dalam tangan Tuhan. Dengan pasrah, ia memberikan egonya, agar terjalin dalam jaring-jaring Tuhan. Berada dalam pelukan Tuhan membuat hatinya tenang, karena bukan dia lagi tetapi Tuhan sendiri yang menjadi dasar hidupnya.  

Gempa dahsyat yang tak henti melanda Indonesia tentu menambah berbagai masalah. Namun, kita tak perlu pesimis. Norman Vincent Peale pernah berkata bahwa masalah itu tanda kehidupan. Tempat yang tak ada masalah hanyalah kuburan. Sekarang, tergantung pada kita (yang mengalami masalah), apakah masalah itu kita bikin tambah baik atau tambah pahit hidup kita sendiri. Dikala mengalami masalah seharusnya kita sadari bahwa itu merupakan kesempatan untuk berefleksi, sehingga ia menjadi batu loncatan untuk naik kelas. Kurang lebih itulah apresiasi kedua puisi saya ini.                                                                         

Ditulis dalam My Reflection, Puisi | 4 Komentar »

Dikala Bencana Mengungkap Makna

Ditulis oleh postinus di/pada Februari 28, 2008

Seolah utopia sirna saat bencana merenggut berlaksa nyawa onggokkan daging tak berdaya Bumi seolah ganas dan bungkam membiarkan mereka mati konyol tercabik bencanaSeolah kematian dan kehidupan tak bermakna Seolah penderitaan dan kebahagiaan tak berbeda Suatu peristiwa seolah tak dimengerti sang berakal budiKata-kata antagonistik-dualistik pun seolah tak termaknai.  

Adalah pertanyaan dan permasalahan klasik: mengapa Allah yang katanya Mahabaik, Mahakasih, Maha dan Maha…membiarkan penderitaan mencabik manusia citraNya? Memang, masalah itu klasik namun sangat aktual hingga zaman kiwari.   

Mereka dangkuk tuk merenung coba berefleksi dikala nyata mengungkap maknaTapi, insaflah ‘kan hidupLiang lahat tak masalahMasalah menghadang hidupBahkan masalah tanda kehidupan di atas jagadSang insan berkuasa atas masalah tuk bikin hidup tambah baik atau tambah pahitEmosi sentimental dangkal merogoh makna merosotTapi emosi pasrah membangkit menuai harapan.

Adalah banyak derita berserak di bumi Namun, peristiwa itu yang menyapa dan menyentuh jutaan manusia coba berbelarasa Sekat-sekat pemisah disingkap demi suatu komitmen: berbelaskasih Insan sejagad bahu-membahu mengambal mereka yang seolah mati sia-sia dan tragis Manusia memaknai hidupnya: menjadi berkat bagi orang lain Derita bencana mengundang berefleksiItu bahasa iman, bahasa dikala rasa menyentuh batas.           

Adalah penderitaan yang melahirkan kaum ateis Mereka  frustrasi akan bencana derita yang tak berujung berlaksa Dan penderitaan dan kejahatanlah yang mendorong kaum ateis menemukan jati diri Barangkali pelipur lara semata: hidup terperangkap dalam jaring-jaring misteri? Walaupun fakta mampu mengungkap makna, namun tak henti bertanya seolah tak pasti.            

Bencana bebas melanda IndonesiaPilu tangis  serempak memekik jagad Berapa ribu nyawa yang tak sempat menata diri harus pamit selamanya Seolah selepas lahir tertata, kehidupan pun dihembus ketiadaan.

 Bencana garang yang tak  berbelaskasih terus bebas membantai Mayat-mayat berserak tak ubahnya seonggok daging tak berarti Kini mereka telah tiada dan menjadi cerita Kepergian mereka bukan melodrama picik yang diikat romantisme sukacita tetapi air mata duka cita. Marilah kita mendoakan mereka!  

Klaten, 15 Juni 2006 

Ditulis dalam My Reflection, Puisi | Leave a Comment »

Tersembunyi

Ditulis oleh postinus di/pada Februari 28, 2008

 Nyata menyapa mereka….           

 Pilu terbungkus duka isak tangis bersimbah           

 Beribu tanya dan….           

Selaksa rasa bersarang mengusik tenangnya kalbu  

Ini ada dan nyata                       

Menebas kesunyataan usia                       

Sekejap berderap sembari lunglai                       

 Ternista kekriyaan ekstasi                       

Membara menyulut sanubari                       

Tak tersentuh, merana terurai                       

Tak henti berujung lara belaksa            

Nyata menyapa mencari makna          

Seuntai harapan bersembunyi           

Ia menyapa, melebur daksa seolah tak karuan           

Itulah kemisterian?                        

Mereka bak meniti tangga derita                       

Terhempas ke lembah ketiadaan serba nista                     

  Pekik rintihan kebingungan                     

  Membara mempesona, kagum terpana                       

 Tak mengerti kedalaman nestapa yang membidik tak henti           

 Usai lahir tertata           

Sibuk mengisi hari tanpa mencari           

 Ya, hidup tak tergapai           

Akhirat….. ‘ku menyesal menjemput           

Terdiam merasuk hening           

Bak dedaunan ditiup sang semesta                        

Segumpal jagad terhentak                       

Penghuni merintih terasing lunglai                        Membisu….            

Oh…tersembunyi makna mengungkap sabda           

Misteri Ilahi menusuk jantung semesta membalik fakta            Tak ‘ku mengerti jejak langkah laku           

Penghuni bersembunyi di ruas-ruas perhentian          

Pengaliran nafas hidup isak dan derita     

Oh, misteri….misteri dikau sarang tersembunyi

Klaten, 10 Juni 2006

Puisi ini pernah dimuat di Menjemaat, edisi Februari 2008                                                                                                                        

Ditulis dalam My Reflection, Puisi | Leave a Comment »