Adalah menarik adegan-adegan yang ditampilkan dalam film ini. Menyaksikannya, saya teringat pada rangkaian kalimat adagium Latin “Non sibi vivere, sed et aliis proficere” (hidup bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk menjadi berkat bagi orang lain). Yang terjadi dalam fim ini justru sebaliknya, seseorang yang tadinya seorang teman, sahabat, berubah wujud: menjadi musuh, penghancur segala jalinan persahabatan yang telah dibina sejak sekian lama. Dan oleh karenanya, (dalam konteks film ini) seorang teman tidak selamanya menjadi pembawa berkat bagi orang lain.
Nicky, Staccey, cs. yang tadinya teman Venessa, hanya karena masalah afektif, percintaan (memperebutkan seorang cowok: Tony), persahabatan renggang, suara hati pun tak berbicara, tumpul. Sensibilitas menjadi hampa, yang terlihat hanya rasa benci, kegalauan, dan terror. Ada hal khusus yang ditampilkan dalam film ini: Staccey dan Venessa sejak kecil sudah saling kenal. Orangtua mereka pun sangat akrab. Tetapi hanya karena Venessa dekat dengan seorang lelaki, Tony (yang notabene dicintai juga oleh Staccey) persahabatan yang telah terbina sejak sekian lama pupus di tengah jalan. Saya melihat bahwa ada faktor lain yang membuat hati Staccey begitu bebal, sadis dan bersikap seperti teroris. Pertama-tama karena Nicky selalu menjadi provokator. Nicky selalu membakar hati Staccey untuk membenci, mempermainkan Venessa. Nickylah yang membuat api semakin menyala, dialah yang membuat Staccey semakin bejat terhadap kawan, temannya sendiri: Venessa.
Dalam kasus ini pun terlihat bahwa anak muda, selalu rindu pada jati diri, identitas, pengakuan dari orang lain. Venessa ketika dijauhi oleh teman-temanya (apalagi karena selalu diejek) merasa tidak aman, tidak at home, tidak menyenangkan. Sebaliknya, dari pihak Staccey, ia berlindung pada kelompoknya sendiri, ia merasa senang mempermainkan Venessa karena ada ‘dukungan’ dari teman-temannya. Teman dalam tataran kasus itu ada dua gendang : teman bisa membuat kita senang, happy, tetapi kenyataan yang dialami oleh Venessa, teman justru tidak menyenangkan, membuat dirinnya tertekan, aktivitas sekolahannya sempat berhenti, kacau balau.
Secara moral, kelakuan Nicky, Staccey, cs. tidak dapat dibenarkan. Karena sikap mereka lebih sadis dibandingkan tindakan seorang pembunuh fisik. Nicky dan Staccey, cs. melakukan penekanan secara mental, yang membawa Venessa pada kegilaan, ketidaknyaman seumur hidup, traumatik dan luka batin. Jadi, Nicky cs melakukan pembunuhan metafisik : pembunuhan secara psikologis.
Venessa adalah sosok yang berpendirian ‘positive thinkingg’ sekaligus lugu, polos, menampilkan dirinya apa adanya. Bahkan Venessa berusaha untuk mempercayai, memaafkan temannya, walaupun sudah beberapa kali menyakitinya. Ini luar biasa. Ketika dia bertemu dengan Staccey, ia masih mengharapkan agar Staccey masih menjadi temannya seperti dulu. Tetapi dasar pembohong, Staccey rupanya bermanis muka. Dia malah mengerjain Venessa.
Adegan ini, menghantar saya pada sebuah refleksi aktual: bagaimana jika sikap seperti Staccey, Nicky, cs., ada di komunitas, di keluarga, di tempat kita bekerja. Tentu, menjadi batu sandungan. Hanya karena sikap sembrono seseorang, lantas semangat kita beurbah menjadi amarah dan kekesalan. Maka, yang perlu diperhatikan adalah sikap komunikatif, tidak perlu dipendam semua masalah. Saya melihat bahwa Venessa agak terlambat mengkomunikasikan ketidaksetujuannya ke Staccey. Dia masih lugu. Oleh karena itu, sangat perlu dibedakan antara polos dan jujur, antara rendah diri dan rendah hati. Jika ada sikap yang kurang berkenan di hati, seharusnya dibicarakan secara baik-baik. ‘’Tidak perlu lama-lama di tepi sungai, karena bau Anda akan dicium buaya, kata pepatah orang bijak’’. Dalam menghadapi masalah tak perlu (semuanya) dimasukkan ke dalam wilayah perasaan, tetapi mesti dirasionalisasikan, dicari jalan keluar yang tepat dan bijaksana.
Kadangkala anak muda tidak menyadari dirinya ketika terkontaminasi dan tenggelam ke dalam keegoisan, ketidaktahuan. Di sini, adalah penting ‘suara hati’ ketika seseorang bersinggungan dengan dunia, di luar dirinya bahkan dengan dirinya sendiri. Menurut Irene Yosselyn, dalam dunia remaja: orangtua adalah simbolisasi dari suara hati, dalam arti, para orangtua mengambil peran sebagai suara hati bagi anaknya[1]. Orangtua menjadi figur, penuntun bagi anaknya. Dalam film ini, orangtua Venessa telah berperan sebagai suara hati bagi anaknya. Dia berusaha menenangkan anaknya, bahkan dia juga ikut berempati dan berusaha menyelesaikan masalah anaknya (baik terhadap orangtua Staccey maupun ke pihak sekolah, guru). Komunikasi adalah perlu, itulah nasihat sang ibu Venessa. Walaupun gagal beberapa kali, namun pada akhirnya, ketika dialog, curahan kekesalan, luapan amarah, luapan ketidaksetujuan yang terjadi antara Venessa dan Staccey permasalah semakin dapat dikendalikan.
Selanjutnya, bagi Irene Yosselyn, teman (bagi anak muda) adalah simbol suara hati, peneguh dan bahkan seorang teman yang sangat berperan dalam hidup seseorang: sebagai pelipur lara, sarana kontrol, teman sharing. Seorang teman yang baik adalah teman dialog, yang bisa mendengarkan keluhan kita. Seorang teman yang baik menaruh perhatian kepada sesamanya, kepada temannya. Dalam film ini wanita yang berkulit hitam (saya lupa namanya) adalah menjadi “teman’ Venessa, ia menjadi teman dialog, penaruh perhatian, penghibur dan orang yang memberi peneguhan. “Venessa kamu itu cantik, kamu itu pintar dibanding mereka, ketika kamu merusak dirimu sendiri, itu adalah tindakan bodoh” itulah katanya, nasihatnya, ketika Venessa mengalami depresi, putus asa karena dibenci oleh temannya sendiri. Saya melihat bahwa ketika kesadaran terbersit dalam hati seseorang (walaupun secara umur ia belum dewasa) tetapi karena ilham ‘kesadaran’, kata-katanya sungguh menampilkan kedewasaan; dan itulah yang ada dalam perempuan berkulit hitam itu.
Menutup diri tak ada gunanya ketika kita menghadapi masalah. Inilah pesan moral yang saya dapatkan dalam film ini. Ketika manusia, semakin menutup diri, masalah yang ia hadapi semakin menggerogoti kehidupannya. Pada zaman sekarang, ada banyak manusia yang sulit berkomunikasi dengan orang lain, manusia zaman modern (sebagian) ibarat seorang autis yang sibuk dengan dirinya sendiri: tidak mau tahu dan tidak mau diketahui orang lain, segalanya dijadikan rahasia pribadi.[2]
Dimensi persahabatan itu sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena melalui persahabatan terwujud suatu dimensi relasional . Teolog Curran menyatakan bahwa seseorang perlu menyadari komitmen relasionalnya terhadap orang lain, karena hal itu merupakan wujud dari komitmen relasionalnya dengan Tuhan [3]. Relasi terhadap sesama adalah manisfestasi dari relasi seseorang dengan Tuhan. Tentu, sebagai orang Kristiani antara visi dan misi, gagasan dan tindakan, teori dan aksi tidak bisa dipisahkan satu sama lain « iman tanpa perbuatan adalah ma
[2] Pernyataan ini adalah pernyataan Bapak Dr. Ignatius Bambang Sugiharto dalam seminar “Bedah Naskah Eugene Iunesco tentang The Lesson”, 29 April 2006 silam di G.K. Sunan Ambu STSI, Bandung
[3] Charles M. Shelton, SJ, Op.Cit, hlm 21
