Apresiasi Puisi
Ditulis oleh postinus di/pada Februari 28, 2008
Gempa yang mencabik-cabik Jogya dan daerah sekitarnya pada tgl 27 Mei lalu, membuat diri ini berefleksi. Untaian refleksi itu saya goreskan dalam bentuk puisi. Pertama, berjudul: “Tersembunyi. Kedua, berjudul: “Dikala Bencana Mengungkap Makna”. Puisi ini merupakan ungkapan interior mendalam saya menuai pengalaman merasa yang memilukan ketika menjadi relawan di Klaten, Ganjuran dan Baciro tanggal 1 s/d 17 Juni 2006 silam. Saya dan teman saya para frater OSC lainnya mengalami hal serupa. Pengalaman menjadi relawan memang tak dapat dibayar dengan uang. Pengalaman itu begitu berharga. Ia salah satu mozaik hidup yang memperindah kepribadian saya.
Di daerah bencana, kami banyak menjumpai orang-orang yang putus asa. Seolah tak ada harapan yang harus mereka gapai. Hanya ada satu kata yang selalu keluar dari mulut mereka, pasrah. Namun, ternyata kepasrahan yang mereka maksud adalah tak mampu berbuat apa, pasif. Saya melihat bahwa sebenarnya yang sedang mereka alami bukan kepasrahan tetapi kefrustrasian, apatis dan tak mau bangkit. Saya meminjam kata-kata Meister Ekkerhart (mistikus) bahwa pasrah berarti membiarkan diri larut dalam tangan Tuhan. Dengan pasrah, ia memberikan egonya, agar terjalin dalam jaring-jaring Tuhan. Berada dalam pelukan Tuhan membuat hatinya tenang, karena bukan dia lagi tetapi Tuhan sendiri yang menjadi dasar hidupnya.
Gempa dahsyat yang tak henti melanda Indonesia tentu menambah berbagai masalah. Namun, kita tak perlu pesimis. Norman Vincent Peale pernah berkata bahwa masalah itu tanda kehidupan. Tempat yang tak ada masalah hanyalah kuburan. Sekarang, tergantung pada kita (yang mengalami masalah), apakah masalah itu kita bikin tambah baik atau tambah pahit hidup kita sendiri. Dikala mengalami masalah seharusnya kita sadari bahwa itu merupakan kesempatan untuk berefleksi, sehingga ia menjadi batu loncatan untuk naik kelas. Kurang lebih itulah apresiasi kedua puisi saya ini.

aditya berkata
Hay..Lam kenal semua ya…aq baru join neh !!
Postinus berkata
Trim’s Aditya. Selamat bergabung…
nuri berkata
‘ter, terkadang pengertian antara apastis ama pasrah ‘be-ti’banget (beda tipis…..=)) piye ‘ter?
postinus berkata
Thanks Sdri. Nuri pertanyaannya. emang sih beda tipis pengertian dan sekaligus pemahaman kita pada dua kata itu. Namun, ada baiknya jika kita melihatnya secara berbeda.
1. Apatis, dipahami sbb (:
a) Ekspresi sikap seseorang yang menunjukkan ketidakacuhan pada kesenangan dan penderitaan (Yunani: apathos), keadaan tenang atau damai dalam pikiran dan badan sebagai akibat tidak terpengaruh oleh keadaan dunia sehari-hari.
b) Sikap acuh tak acuh, tidak adanya dorongan atau rangsangan untuk bertindak.
Dari pemahaman semacam ini, ada hal penting yang mesti kita perhatikan: apatis adalah sikap pasrah secara pasif: tidak mau bertindak. Dikala ia mengalami penderitaan ia tidak memiliki harapan untuk bangkit. Maka, sikap semacam ini sering menjadi “sebab” utama dari kasus bunuh diri. Orang sudah tidak mengharapkan apa-apa, seoah-olah “jalan ke Roma hanya satu”.
2. Pasrah dalam arti positif adalah pasrah aktif: memiliki pengharapan di tengah situasi yang paling sulit sekalipun. Gagasan seorang teolog, Edward Schillebeeckx, mungkin lebih tepat dikaitkan dengan sikap pasrah aktif. Schillebeeckx, pernah berkata: sikap yang seharusnya dikembangkan oleh para penderita adalah sikap yang menjadikan penderitaan sebagai cambuk untuk bangun dari penderitaannya, ia bukan lari dari derita (karena tak pernah ada manusia yang luput dari pengalaman penderitaan). Artinya, selalu memiliki harapan dikala dirudung derita.
Seseorang yang pasrah aktif membiarkan dirinya dituntun oleh Allah melalui tangan-tangan hambaNya: manusia.
Jadi, jika seseorang pasrah tetapi tak berbuat apa-apa, tak berpengharapan, ia termasuk dalam kategori kaum apatis. Sebaliknya, jika seseorang pasrah tetapi ia berpengharapan serta mau bertindak, berusaha, ia termasuk dalam kategori kaum religius-mistikus: ia mampu memaknai penderitaannya sebagai kesempatan melihat wajah Kristus (Teilhard de Chardin).
Fr. Postinus Gulö, OSC