SIMAK

Gagasan, ide, opini, refleksi, resensi-tinjauan, dan sharing dari Postinus Gulö

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..



    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 86,856 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Februari 2008
    S S R K J S M
    « Jan   Mar »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    2526272829  

Film “Odd Girl Out”

Posted by postinus pada Februari 28, 2008


Adalah menarik adegan-adegan yang ditampilkan dalam film ini. Menyaksikannya, saya teringat pada rangkaian kalimat adagium Latin “Non sibi vivere, sed et aliis proficere” (hidup bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk menjadi berkat bagi orang lain). Yang terjadi dalam fim ini justru sebaliknya, seseorang yang tadinya seorang teman, sahabat, berubah wujud: menjadi musuh, penghancur segala jalinan persahabatan yang telah dibina sejak sekian lama. Dan oleh karenanya, (dalam konteks film ini) seorang teman tidak selamanya menjadi pembawa berkat bagi orang lain.            

Nicky, Staccey, cs.  yang tadinya teman Venessa, hanya karena masalah afektif, percintaan (memperebutkan seorang cowok: Tony), persahabatan renggang, suara hati pun tak berbicara, tumpul. Sensibilitas menjadi hampa, yang terlihat hanya rasa benci, kegalauan, dan terror. Ada hal khusus yang  ditampilkan dalam film ini: Staccey dan Venessa sejak kecil sudah saling kenal. Orangtua mereka pun sangat akrab. Tetapi hanya karena Venessa dekat dengan seorang lelaki, Tony (yang notabene dicintai juga oleh Staccey) persahabatan yang telah terbina sejak sekian lama pupus di tengah jalan. Saya melihat bahwa ada  faktor lain yang membuat hati Staccey begitu bebal, sadis dan bersikap seperti teroris. Pertama-tama karena Nicky selalu menjadi provokator. Nicky selalu membakar hati Staccey untuk membenci, mempermainkan Venessa. Nickylah yang membuat api semakin menyala, dialah yang membuat Staccey semakin bejat terhadap kawan, temannya sendiri: Venessa.            

Dalam kasus ini pun terlihat bahwa anak muda, selalu rindu pada jati diri, identitas, pengakuan dari orang lain. Venessa ketika dijauhi oleh teman-temanya (apalagi karena selalu diejek) merasa tidak aman, tidak at home, tidak menyenangkan. Sebaliknya, dari pihak Staccey, ia berlindung pada kelompoknya sendiri, ia merasa senang mempermainkan Venessa karena ada ‘dukungan’ dari teman-temannya. Teman dalam tataran kasus itu ada dua gendang : teman bisa membuat kita senang, happy, tetapi kenyataan yang dialami oleh Venessa, teman justru tidak menyenangkan, membuat dirinnya tertekan, aktivitas sekolahannya sempat berhenti, kacau balau.              

Secara moral, kelakuan Nicky, Staccey, cs. tidak dapat dibenarkan. Karena sikap mereka lebih sadis dibandingkan tindakan seorang pembunuh fisik. Nicky dan Staccey, cs. melakukan penekanan secara mental, yang membawa Venessa pada kegilaan, ketidaknyaman seumur hidup, traumatik dan luka batin. Jadi, Nicky cs melakukan pembunuhan metafisik : pembunuhan secara psikologis.            

 Venessa adalah sosok yang berpendirian ‘positive thinkingg’ sekaligus lugu, polos, menampilkan dirinya apa adanya. Bahkan Venessa berusaha untuk mempercayai, memaafkan temannya, walaupun sudah beberapa kali menyakitinya. Ini luar biasa. Ketika dia bertemu dengan Staccey, ia masih mengharapkan agar Staccey masih menjadi temannya seperti dulu. Tetapi dasar pembohong, Staccey rupanya bermanis muka. Dia malah mengerjain Venessa.

Adegan ini, menghantar saya pada sebuah refleksi aktual: bagaimana jika sikap seperti Staccey, Nicky, cs., ada di komunitas, di keluarga, di tempat kita bekerja. Tentu, menjadi batu sandungan. Hanya karena sikap sembrono seseorang, lantas semangat kita beurbah menjadi amarah dan kekesalan. Maka, yang perlu diperhatikan adalah sikap komunikatif, tidak perlu dipendam semua masalah. Saya melihat bahwa Venessa agak terlambat mengkomunikasikan ketidaksetujuannya ke Staccey. Dia masih lugu. Oleh karena itu, sangat perlu dibedakan antara polos dan jujur, antara rendah diri dan rendah hati. Jika ada sikap yang kurang berkenan di hati, seharusnya dibicarakan secara baik-baik. ‘’Tidak perlu lama-lama di tepi sungai, karena bau Anda akan dicium buaya, kata pepatah orang bijak’’. Dalam menghadapi masalah tak perlu (semuanya) dimasukkan ke dalam wilayah perasaan, tetapi mesti dirasionalisasikan, dicari jalan keluar yang tepat dan bijaksana.            

 Kadangkala anak muda tidak menyadari dirinya ketika terkontaminasi  dan tenggelam ke dalam keegoisan, ketidaktahuan. Di sini, adalah penting ‘suara hati’ ketika seseorang bersinggungan dengan dunia, di luar dirinya bahkan dengan dirinya sendiri. Menurut Irene Yosselyn, dalam dunia remaja: orangtua adalah simbolisasi dari suara hati, dalam arti, para orangtua mengambil peran sebagai suara hati bagi anaknya[1]. Orangtua menjadi figur, penuntun bagi anaknya. Dalam film ini, orangtua Venessa telah berperan sebagai suara hati bagi anaknya. Dia berusaha menenangkan anaknya, bahkan dia juga ikut berempati dan berusaha menyelesaikan masalah anaknya (baik terhadap orangtua Staccey maupun  ke pihak sekolah, guru). Komunikasi adalah perlu, itulah nasihat sang ibu Venessa. Walaupun gagal beberapa kali, namun pada akhirnya, ketika dialog, curahan kekesalan, luapan amarah, luapan ketidaksetujuan yang terjadi antara Venessa dan Staccey permasalah semakin dapat dikendalikan.           

 Selanjutnya, bagi Irene Yosselyn, teman (bagi anak muda) adalah simbol suara hati, peneguh dan bahkan seorang teman yang sangat berperan dalam hidup seseorang: sebagai pelipur lara, sarana kontrol, teman sharing. Seorang teman yang baik adalah teman dialog, yang bisa mendengarkan keluhan kita. Seorang teman yang baik menaruh perhatian kepada sesamanya, kepada temannya. Dalam film ini wanita yang berkulit hitam (saya lupa namanya) adalah menjadi “teman’ Venessa, ia menjadi teman dialog, penaruh perhatian, penghibur dan orang yang memberi peneguhan. “Venessa kamu itu cantik, kamu itu pintar dibanding mereka, ketika kamu merusak dirimu sendiri, itu adalah tindakan bodoh” itulah katanya, nasihatnya, ketika Venessa mengalami depresi, putus asa karena dibenci oleh temannya sendiri. Saya melihat bahwa ketika kesadaran terbersit dalam hati seseorang (walaupun secara umur ia belum dewasa) tetapi karena ilham ‘kesadaran’, kata-katanya sungguh menampilkan kedewasaan; dan itulah yang ada dalam perempuan berkulit hitam itu.   

Menutup diri tak ada gunanya ketika kita menghadapi masalah. Inilah pesan moral yang saya dapatkan dalam film ini. Ketika manusia, semakin menutup diri, masalah yang ia hadapi semakin menggerogoti kehidupannya. Pada zaman sekarang, ada banyak manusia yang sulit berkomunikasi dengan orang lain, manusia zaman modern (sebagian) ibarat seorang autis yang sibuk dengan dirinya sendiri: tidak mau tahu dan tidak mau diketahui orang lain, segalanya dijadikan rahasia pribadi.[2]

Dimensi persahabatan itu sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena melalui persahabatan terwujud suatu dimensi relasional . Teolog Curran menyatakan bahwa seseorang perlu menyadari komitmen relasionalnya terhadap orang lain, karena hal itu merupakan wujud dari komitmen relasionalnya dengan Tuhan [3]. Relasi terhadap sesama adalah manisfestasi dari relasi seseorang dengan Tuhan. Tentu, sebagai orang Kristiani antara visi dan misi, gagasan dan tindakan, teori dan aksi tidak bisa dipisahkan satu sama lain « iman tanpa perbuatan adalah ma


[1] Lihat Charles M. Shelton, SJ, Moralitas Kaum Muda, Bagaimana Menanamkan Tanggung Jawab Kristiani,(Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm. 21

[2] Pernyataan ini adalah pernyataan Bapak Dr. Ignatius Bambang Sugiharto dalam seminar “Bedah Naskah Eugene Iunesco tentang The Lesson”, 29 April 2006 silam di G.K. Sunan Ambu STSI, Bandung

[3] Charles M. Shelton, SJ, Op.Cit,  hlm 21

     

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: