SIMAK

Gagasan, ide, opini, refleksi, resensi-tinjauan, dan sharing dari Postinus Gulö

  • ..



    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    widget

  • Blog Stats

    • 25,337 hits
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Kategori Tulisan

  • Arsip

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Maret 2008
    S S R K J S M
    « Feb   Mei »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • .

  • Mempermainkan Keadilan-Sejarah Indonesia Tak Terlupakan

    Selasa, 3 November 2009. Itulah sejarah Mahkamah Konstitusi yang diketuai Mahfud MD mengukir sejarah baru. Membuka rekaman upaya kriminalisasi terhadap pimpinan KPK Bapak Bibit dan Candra. Rekaman itu diperdengar kepada khalayak umum. Saya termasuk yang penasaran sehingga betah mendengarkan rekaman itu via stasiun TVOne dari jam 11 s/d 16. 05 sore. Sakit..sakit....rekaman itu sungguh merobek-robek rasa keadilan. Ternyata di negeri Indonesia, mafia peradilan masih berkuasa. Aparat penegak hukum seolah sudah diborgol oleh para koruptor! Sejarah ini sejarah Indonesia. Jangan dilupakan.

  • Komentar Pengunjung

    wahyuindrawan di Apa Itu Hidup?
    dede fadillah di Istilah dan Sejarah Meditasi d…
    Postinus di Sikap Positif
    Postinus di “Terima Kasih, Penghinaan…
    OBERLIN ZEBUA di “Terima Kasih, Penghinaan…
    adi di Sikap Positif
    norman di Apa Itu Hidup?
    anto di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
    link di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
    Yohanes AD Purnomo di What is the Meaning of Li…
    Postinus di Karakter Kepemimpinan Kri…
    Yohanes AD Purnomo di Karakter Kepemimpinan Kri…
    yoshimori di Apa Itu Neoliberalisme?
    bambang di Sikap Positif
    michail huda di Apa Itu Neoliberalisme?
  • Top Klik

  • So funny

    zwani.com myspace graphic comments

  • ….

    Saudara Anda, Postinus Gulö, adalah pembuat blog ini. Ia lahir di kampung terpencil, Dangagari, Kecamatan Moro’ö, Pulau Nias. Dalam suka-duka terpaan kesengsaraan ia mampu menyelesaikan Sekolah Dasar-nya di SD Negeri 071084 Dangagari, Pulau Nias. Perjuanganlah yang menghantarnya menyelesaikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Negeri 1 Mandrehe, Pulau Nias. Berlayar ke negeri orang bukanlah cita-citanya. Namun, realita menghantarnya ke Sibolga. Di sana ia menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di SMU Swasta Santo Fransisukus Aek Tolang, Pandan dan Seminari Menengah St. Petrus Sibolga. Hidup memang bukanlah kebetulan. Tangan Allah selalu menjamah. Tidak pernah terbayangkan. Ia, lalu, menjawab "panggilan" Allah di Pulau Jawa. Tepatnya di Bandung, Jawa Barat. Bergabung ke Ordo Sanctae Crucis Sang Kristus Indonesia. Tahun 2004 s/d 2008 mendalami ilmu filsafat di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Sejak bulan Agustus 2009 mendalami ilmu teologi dan humaniora di Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan. Bapak-Ibu, Saudara-Saudari, salam dalam kasih Tuhan. Ya'ahowu

Arsip untuk Maret 2nd, 2008

Membudayakan Dialog

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 2, 2008

Oleh Postinus Gulö *) 

“Lihatlah pengunjung Café Rohani itu, mereka tertawa ria. Padahal, saya tahu mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Betapa indahnya jika masyarakat kita seperti mereka itu.” 

Kalimat di atas melukiskan dunia dan langit baru seperti kandang domba yang jauh dari perbuatan saling melukai. Dalam kalimat di atas, kita membayangkan suasana penuh sukacita karena ada laku yang saling menerima yang lain tanpa curiga. Dalam kalimat di atas terjadi komunikasi dan dialog yang mencerminkan kesetia-kawanan. Suasana nyata dalam kalimat di atas bisa dibayangkan dan bisa dinyatakan, walau kenyataannya tidak selalu nyata dalam hidup bermasyarakat kita! Entah kenapa. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Leave a Comment »

Paradigma Masyarakat Cina

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 2, 2008

Oleh Postinus Gulö  

Pengantar 

Dalam tulisan ini, saya ingin mengulas : Pertama, (beberapa) paradigma masyarakat Cina berdasarkan film The Hero dan juga berdasarkan beberapa artikel yang saya lampirkan di sini. Kedua, saya memberi komentar terhadap paradigma itu. Paradigma-paradigma Cina yang terdapat dalam kebudayaan Cina dapat kita simak dalam uraian berikut.  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Budaya, Kumpulan Tulisan-Opini | 2 Komentar »

Persoalan Fundamentalisme

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 2, 2008

            “Baik Fundamentalisme agama maupun fundamentalisme anti agama, lahir dari suatu proses dan perbenturan kultural yang panjang. Pada dasarnya kaum fundamentalisme selalu mengasingkan diri dari yang lain. Mereka membedakan: aku dan kamu, eksklusif.

Mereka mengklaim bahwa merekalah yang paling benar, dekat dengan Tuhan. Gagasan mereka selalu merujuk pada pandangan: liberalisme adalah ancaman, pluralisme harus dilawan, (penolakan ini, misalnya, tertuang dalam fatwa MUI); Kitab Suci, Al-Qur’an adalah satu-satunya alat seleksi dan kalam Ilahi murni atau sejati, daripadanya tak ada yang diragukan, tak mungkin salah. Mereka juga meyakini bahwa no evolution but creation (intelligent design)”. Demikianlah kata Prof. Dr. Karel Steenbrink dan Romo Dr. Y. Dedy Pradipto, Pr, dalam seminar yang bertema “Membedah Fundamentalisme: Faktor-Faktor yang Memungkinkan Terjadinya Fundamentalisme Agama Hari-Hari Ini”, yang diselenggarakan oleh AKUR (Aliansi Kerukunan Umat Beragama) dan Fakultas Filsafat Unpar pada tanggal 1 Mei  2006 silam.

Seminar yang dimoderatori oleh Pastor C. Harimanto Suryanugraha, OSC ini dihadiri oleh berbagai kalangan baik dari Islam, Katolik, Protestan, maupun para dosen dan mahasiswa Fakultas Filsafat, Unpar.

           

Prof. Dr. Steenbrink mengutip gagasan Max Weber tentang “Sosiologi Sekte dan Sosiologi Sekularisme”: Kaum fundamentalisme adalah sebuah sekte dan menolak sekularisme. Sebagai sekte, mereka adalah one-issue serta one-leader group terhadap agama-agama besar; mereka melakukan kontrol intern yang ketat: harus taat dan uniform; mereka membatasi diri dengan dunia luar. Kaum fundamentalisme melihat bahwa ilmu pengetahuan modern mengadakan entzauberung (demistifikasi) dunia ini; hal-hal gaip makin lama, makin sedikit, peranan agama semakin diperkecil, hampir tak bermakna lagi. Singkatnya, kaum fundamentalis agama menolak kemodernan, sekularisme, teori evolusi, simplifikasi peranan agama, dan pluralisme.

           

Sementara di Eropa, muncul kaum fundamentalis anti agama, mereka tidak puas pada lembaga agama; agama tidak menarik lagi bagi mereka. Di Nederland, misalnya, pada tahun 1954 sekitar 24% meninggalkan Gereja, 1995 (62%) dan muda-mudi yang lahir sesudah 1960 sebanyak 77% yang tidak peduli pada Gereja. Namun, meninggalkan Gereja tidak identik dengan tidak religius, lanjut Dosen IAIN dan ahli Islamologi yang berkewarganegaraan Belanda ini.

           

Kaum fundamentalis modern pada dasarnya, melawan relativisme. Mereka selalu menawarkan kebenaran tunggal, kalau perlu fatwa pun dikeluarkan. Di Indonesia, misalnya, agama hanya diakui 5 saja. Seolah-olah agama dan kepercayaan lain tak perlu dan oleh karenanya tak perlu diakomodasi, tak perlu diakui. Melihat symptom  tersebut, Romo Dr. Dedy Pradipto, Pr mengatakan bahwa fundamentalisme juga lahir karena faktor “kekuasaan”. MUI, misalnya, sangat berkuasa dalam menentukan yang benar dan yang salah; dan hal itu dilakukan bukan semata-mata supaya masyarakat rukun tetapi bagaimana agar keputusan MUI dapat diterima begitu saja, keputusan MUI adalah benar, tak mungkin salah. Kaum fundamentalisme di Indonesia, kian berkembang. Gerakan FPI, misalnya, tidak murni sebagai gerakan fundamentalisme agama. Ada sesuatu yang mau diperjuankan: ingin mengendalikan birokrasi Negara.

           

Seorang peserta seminar, Pendeta Dr. Albertus Patty berkomentar bahwa kaum fundamentalisme modern sebenarnya bersembunyi di balik kehausan akan kekuasaan, mereka memakai label agama (agama dijadikan alat justifiksi) padahal gerakan mereka bukan semata-mata karena kepentingan agama melainkan karena kekuasaan. Menanggapi hal ini, Prof. Dr. Steenbrink mengatakan bahwa faktor lain munculnya fundamentalisme adalah kehausan akan kekuasaan, seperti di Iran, atau kasus permusuhan bersejarah antara Spanyol (Katolik) dengan Belanda (Protestan). Belanda yang mayoritas Protestan melarang gedung Gereja Katolik berdiri di negaranya, para Pastor (misionaris) mereka tangkap dan dijebloskan ke penjara. Gedung gereja Katolik boleh berdiri, asalkan ada sogokan. Ini jelas ada nuansa politik, kepentingan kekuasaan.

           

Lalu, jika masalahnya serumit ini, “bagaimana kita berdialog (dan tentu terutama AKUR) dengan kaum fundamentalisme?” Itulah pertanyaan dari Mbak Titi, seorang peserta seminar yang juga lulusan Pascasarjana Antropologi UI. Pertanyaan ini mengundang kita untuk saling berfleksi, sekaligus masukan bagi AKUR, itu tanggapan Romo Dedy. Sejalan dengan itu, Prof Dr. Steenbrink mengatakan, sebelum melakukan dialog atau diskusi agama, kita semestinya membangun terlebih dahulu hubungan pribadi yang bersahabat supaya dialog yang akan kita rencanakan tidak sia-sia. Fr. Postinus Gulö, OSC              

Ditulis dalam Seminar | Leave a Comment »

Kekristenan dan Kebangsaan

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 2, 2008

“Umat Kristen dicurigai dan dibenci oleh non-Kristen karena ulah (sebagian) umat Kristen yang lebih Barat daripada Barat, eksklusif dan kurang membumi. Bagi sebagian umat Kristen, khotbah dan doa yang berbahasa Inggris seolah-olah lebih berkenan pada Tuhan daripada bahasa Indonesia. Banyak umat Kristen yang merasa lebih afdol jika menyelenggarakan kegiatan gerejawi di hotel berbintang. Singkatnya, mereka itu sombong dan kurang mempedulikan orang lain yang terperangkap dalam kemelaratan. Padahal, seharusnya orang Kristen tidak hanya baik dan dikenal di lingkungan gerejanya, tetapi juga dinilai baik dan dikenal di luar gerejanya, bahkan oleh penganut agama lain”. Hal itu dikemukakan oleh kedua pembicara, budayawan Remy Sylado dan Prof. Jacob Sumardjo, dalam seminar yang bertema “Kekristenan dan Kebangsaan” yang diselenggarakan  Himpunan Mahasiswa Program Studi Filsafat Unpar, 3 April 2006 silam.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Seminar | 1 Komentar »