Ditulis oleh postinus di/pada Maret 3, 2008
Oleh Postinus Gulö*
Menurut Plato, ada beberapa syarat pengetahuan. Pertama, suatu gagasan layak disebut pengetahuan jika ia dapat dipercaya atau mengandung nilai-nilai yang meyakinkan. Kedua, suatu gagasan disebut pengetahuan jika gagasan itu mengandung kebenaran. Ketiga, suatu gagasan disebut sebagai pengetahuan jika gagasan tersebut dapat dijustifikasi. Keempat, suatu gagasan disebut pengetahuan jika gagasan tersebut no contrary evidences reason (tidak ada alasan yang kontra).
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Philosophy | Leave a Comment »
Ditulis oleh postinus di/pada Maret 3, 2008
Istilah Cina tentang meditasi berasal dari kata chan. Kata chan atau chan’na berasal dari kata sanskerta yakni dhyana. Tidak banyak yang dapat dikatakan tentang Chan karena ajaran ini menekankan bahwa chan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Chan adalah perbuatan dan hanya dapat dipahami dengan perbuatan bukan penjelasan dengan kata-kata. Walaupun demikian, chan tak dapat dibiarkan tanpa ungkapan. Untuk mengetahuinya, kita harus mengerti sejarah Chan dalam ajaran Cina. Akar chan berasal dari agama Buddha. Ketika Buddha masuk ke Cina pada tahun 334-520 Masehi, terjadi peleburan antara ajaran-ajaran Buddha dengan ajaran-ajaran Cina yang sudah lebih dahulu ada. Chan sebagai cabang agama Buddha sangat berkembang pesat di Cina, dengan banyak menggunakan konsep-konsep ajaran klasik Cina, di antaranya Dao. Para biarawan Buddha mengartikan Dao sebagai jalan menuju nirwana. Pada awal penyebarannya, para Budhis Cina disebut daoren (manusia Dao). Sedangkan pohon Bodhi tempat Sidharta Gautama bersemadi dan mendapat pencerahan disebut Daoshu (pohon Dao). Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Philosophy | 3 Komentar »
Ditulis oleh postinus di/pada Maret 3, 2008
Oleh Postinus Gulõ
Introduksi
Sebelum Konfusius lahir, masyarakat tradisonal Cina mengalami kekacauan: pemerintah menerapkan sistem otoriter dan feodalisme. Selain itu, terjadi perang antara dinasti yang satu dengan dinasti yang lainnya. Jadi, pada era itu banyak orang Cina yang tidak menghargai kehidupan. Era yang mengabaikan perikemanusiaan (jen) semacam inilah yang menjadi titik awal munculnya ajaran Konfusius (551-478/479 B. C) tentang jen. Jen bagi Konfusianisme adalah keutamaan (virtue): “jen is universal love, as the highest virtue, and graded love”.[1] Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Budaya, Kumpulan Tulisan-Opini, Philosophy | 1 Komentar »
Ditulis oleh postinus di/pada Maret 3, 2008
Seni dianggap sebagai sarana pembebasan diri karena beberapa alasan. Pertama, seni melampaui segala logika moral. Seni adalah perkara eksistensial, perkara logika rasa. Kedua, dalam menggeluti kesenian, seorang seniman akan melompati masa-masa dialektis dan dialogis, baik secara eksternal maupun secara internal. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Philosophy | Leave a Comment »
Ditulis oleh postinus di/pada Maret 3, 2008
Oleh Postinus Gulö
Kejadian 1: 28: Pemicu Kerusakan Lingkungan?
Pembahasan mengenai kerusakan lingkungan bukanlah hal baru. Kian mencuatnya perilaku manusia yang merusak atau tidak peduli pada lingkungan, lalu, wacana ini menjadi perhatian baik filsuf, saintis, pun teolog. Eric Katz [1] mengakui, wacana mengenai hal ini. Lantas ia mencoba mencari akar teologis yang kira-kira ada tendensi atau kecenderungannya melegalkan perusakan lingkungan (baca: penguasaan lingkungan oleh manusia). Dalam perdebatan intelektual-teologis itu, lalu banyak filsuf dan teolog melirik Kitab Perjanjian Lama Yudaisme yang notabene seolah-olah menekankan kekuasaan manusia lebih besar dibanding ciptaan lain (antroposentrisme). Kejadian 1: 28: “…beranakcuculah dan penuhilah bumi dan taklukan itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi,”diklaim membawa masalah. Dalam perintah ini, kuasa manusia untuk memerintah, kedudukannya sebagai raja yang menyerupai Allah.[2]
Perintah “taklukanlah bumi” membuat kita bertanya: kalau begitu, bolehkah manusia sesuka hati menaklukan bumi (menebang pohon sembarangan, mengambil isi bumi, mengambil pasir yang notabene sering menimbulkan bencana bagi manusia itu sendiri). Atau sebenarnya apa maksud dari perintah ini? Kita tahu, tindakan para pengusaha yang menaklukan bumi dengan menebang kayu untuk keperluan industri telah melahirkan problem mengerikan: bencana. Di kota-kota besar, polusi semakin mengancam gara-gara pepohonan kian menghilang dibabat manusia. Jadi, kerusakan lingkungan bukan hanya berdampak pada lingkungan secara an sich tetapi juga berdampak pada manusia: mengalami penderitaan, bahkan kematian. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | 2 Komentar »
Ditulis oleh postinus di/pada Maret 3, 2008
Judul di atas merupakan pokok bahasan dalam seminar yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Fakultas Filsafat, Unpar pada tanggal 11 November 2005 dengan menghadirkan pembicara ahli yaitu, Mr. Roy Voragen, Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Seminar | Leave a Comment »
Ditulis oleh postinus di/pada Maret 3, 2008
Peneropong : Postinus Gulö. Judul Film : La Belle Noiseuse. Tahun diteropong : Tahun 2006.
Dari film ini, melukis adalah membahasakan yang tak terbahasakan, mengungkapkan yang tak terungkapkan, memperlihatkan yang tak terlihat, yang tak terukur (rumit, ambigu). Melukis juga merupakan ungkapan terdalam seseorang untuk mengekspresikan pergulatan dan hasil sensibilitas dan tangkapan – refleksi – kontemplasinya dari suatu objek, dan untuk mengungkapkan : bagaimana, siapa – apa, untuk apa, sedang apa objek lukisan itu dan ada apa di balik objek itu (Baca: kedalaman/intensifikasi). Pelukis, ingin melukiskan yang tak terlukiskan dan ingin melukiskan totalitas kehidupan Si Marianne (Emmanuelle Beart), bukan hanya soal luaran (surface) saja. Michel Piccoli (Frenhofer) sebagai pelukis, ingin melukiskan dan menunjukkan significant form (bentuk yang berarti) dari sebuah lukisan dengan cara mencari model natural-ekspresif (sifat ekspresi yang alami) dari objek lukisan sesuai dengan persepsinya. Dan karena lukisan merupakan hasil sensibilitas-refleksi-kontemplasi dan imajinasi terdalam dari seorang pelukis, dari sana tersirat makna sakralisasi dan spiritual dari sebuah lukisan. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Teropong Film | Leave a Comment »