SIMAK

Gagasan, ide, opini, refleksi, resensi-tinjauan, dan sharing dari Postinus Gulö

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..



    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 89,763 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Maret 2008
    S S R K J S M
    « Feb   Mei »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

Ajaran Konfusianisme Tentang Jen: Suatu Studi Perbandingan dengan Etika Kristiani

Posted by postinus pada Maret 3, 2008


Oleh Postinus Gulõ

Introduksi

Sebelum Konfusius lahir, masyarakat tradisonal Cina mengalami kekacauan: pemerintah menerapkan sistem otoriter dan feodalisme. Selain itu, terjadi perang antara dinasti yang satu dengan dinasti yang lainnya. Jadi, pada era itu banyak orang Cina yang tidak menghargai kehidupan. Era yang mengabaikan perikemanusiaan (jen) semacam inilah yang menjadi titik awal munculnya ajaran Konfusius (551-478/479 B. C) tentang jen. Jen bagi Konfusianisme adalah keutamaan (virtue): “jen is universal love, as the highest virtue, and graded love”.[1]

Menurut sejarah peradaban Cina, kaisar yang mengangkat peradaban ke arah yang lebih tinggi adalah Kaisar Yao (menjadi kaisar dari 2356-2347 B. C); Kaisar Shun (2244-2205), dan Kaisar Yu (mulai memerintah pada tahun 2205 B. C). Ketiga kaisar ini dikenal sebagai tiga kaisar bijaksana : menjunjung tinggi perikemanusiaan, kesalehan, murah hati, tidak mementingkan kelompoknya. Singkatnya, mereka selalu bertindak atas dasar cinta kasih.[2] Konfusius mencontoh sikap dan kebijaksanaan ketiga kaisar ini. Jadi, yang menjadi paradigma utama dalam etika Konfusianisme tentang jen adalah sikap dan cara hidup ketiga kaisar tersebut.

  

Berbicara mengenai etika Kristiani, kita mesti menyinggung ajaran Yesus Kristus yang ada dalam Kitab Suci Kristen (Katolik) dan juga ajaran teolog Kristen (dalam hal ini Thomas Aquinas). Etika Kristiani adalah etika yang mengikuti sikap dan ajaran moral Yesus: sequella Christi et imitatio Christi. Sebab, Yesus adalah penggenap seluruh hukum moral, bahkan Dia-lah hukum baru bagi orang yang mau hidup sempurna. Yesus adalah jalan, hidup dan kebenaran (Yoh 14 : 6-7). Ajaran dan tindakan Yesus merupakan manifestasi dari ajaran dan tindakan Allah sendiri (Yoh 7 : 16-17), sehingga dengan demikian prinsip etika Kristiani harus dibangun atas dasar imitatio Christi et imitatio Dei (bdk. Mat 5 : 48 ; Luk 6 : 36). Hemat kata, etika Kristiani bersifat kristosentris (berpusat pada ajaran moral Kristus). Sebab, peletak pertama dan yang menjadi paradigma utama dalam etika Kristiani adalah sikap dan tindakan Yesus sendiri.[3]

Dalam paper ini, saya akan menguraikan ajaran Konfusianisme (Konfusius dan Mencius) tentang Jen yang notabene sebagai keutamaan, sikap budiman, cinta universal. Pemahaman Konfusius tentang jen kemudian saya bandingkan dengan etika Kristiani (ajaran Yesus dan Thomas Aquinas). Jadi, etika Kristiani hanya sebagai pembanding saja. Oleh karenanya tidak semua etika Kristiani saya bahas dalam paper ini.

  

 I. Jen: Dasar Etika

1.1 Jen menurut Konfusius

1.1.1  Jen Sebagai Keutamaan (Sikap Budiman, Virtue)

 Selama hidupnya, Konfusius lebih menaruh perhatian pada masalah-masalah moralitas daripada masalah metafisika (seperti Taois). Bagi Konfusius yang lebih penting adalah mencermati masalah keadaan manusia. Oleh karenanya – dalam ajarannya – Konfusius mengambil Jalan Kemanusiaan (Dao). Bagi Konfusius dalam berelasi dengan orang lain, keluhuran yang paling utama adalah jen. Secara harafiah jen berarti manusia. Namun, Konfusius dan para muridnya memperdalam ajaran tentang jen dengan sangat luas: mencakup semua ajaran tentang etika Konfusianisme. Jen is benevolence, love, altruism, kindness, charity, compassion, magnanimity, perfect virtue, goodness, human-heartedness, humaneness, and humanity.[4] Jadi, Jen adalah suatu kualitas yang harus diolah di dalam diri kita sendiri dan dicari pada diri orang lain. Bagi Konfusius, jen menyangkut segalanya, roh dari segala keluhuran. Jen adalah sumber utama keluhuran, keutamaan (sifat budiman) : kebijaksanaan, cinta, belas kasih, kebaikan (yi) dan kesetaraan. Jen adalah ‘‘jalan tengah’’ yang menjadi dasar dari segala kualitas. Sifat alami manusia adalah jen. Dan, tujuan utama perikemanusiaan (jen) adalah untuk mencapai kesempurnaan moral. Oleh karenanya, jen harus dibuktikan dalam sikap keharmonisan di tengah masyarakat yang plural atau majemuk.  

1.1.2        Jen Sebagai Pusat dan Dasar Etika

Menurut Paul K. T. Sih, bagi Konfusius, jen adalah pusat dan dasar etika. Sih menulis demikian, “humanity (jen) is the ethical standard by which man can hope to achieve the full attainment of human stature…humanity (jen) is central, unifying subject of Confucius’ ethical ideas…to Confucius, humanity is dearer even than life.’’[5] Singkatnya, Jen bagi Konfusius adalah konsep sentral dari pengajarannya. “Jen is the central concept of Cofucius’ teachings and characteristic content of Confucian doctrine”.[6] Konfusius (dalam Analects[7] ) mengatakan bahwa humanity (jen) yang benar dan baik adalah humanity yang berpegang pada tiga prinsip.[8]

Pertama, mengamalkan titah Surga, yakni melakukan yang baik dan benar terhadap orang lain, sebagaimana surga juga memelihara manusia.[9] Inilah hukum Surga. Dan, jika manusia berpegang pada hukum Surga ini, penyesalan jauh darinya saat ia meninggal dunia: ‘‘if a man in the morning embraces the law of Heaven, then he may die in the same evening without regret.” Menurut Konfusius, melakukan titah Surga berarti manusia mau mengarahkan hatinya kepada Surga (toward Heaven), sang pemberi kebajikan.

Kedua, humanity harus dibatinkan, dimasukkan ke dalam hati, memperhatikan diri, introspeksi diri, mengevaluasi diri (toward one’s self). Manusia yang memiliki semangat humanity adalah manusia yang memiliki kontrol diri (pengendalian diri), mampu mengalahkan egoisme diri, mampu menaklukkan diri sendiri dan oleh karenanya ia mampu mengetahui yang benar dan tepat: “to conquer one’s self and return to what is right and proper, this is true humanity”.

Ketiga, seseorang dianggap memiliki semangat humanity jika ia bersedia dengan tulus menolong dan membangun orang lain (toward one’s neighbors). Singkatnya, esensi dari humanity adalah “reverence and prudence, broadmindedness and generosity, humility and courtesy.”[10]

           

Konfusius sangat pro pada kehidupan manusia (pro-life). Pada waktu kandang kuda Konfusius terbakar, tetapi dia tidak ada di tempat, ketika ia pulang dan melihat ada kebakaran, lalu ia bertanya: “adakah orang terluka?” (Lun Yu X, 17). Jadi, Konfusius tidak bertanya tentang kudanya! Bagi Konfusius yang menjadi nomor satu adalah manusia bukan binatang (binatang dalam hal ini bisa berarti kekayaan, harta).

1.1.3        Kutub Jen: Chung dan Shu

           

Jen memiliki dua kutub yakni, kutub chung dan kutub shu, yang membimbing manusia dalam hal-hal yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan. Chung bersifat positif, tegas dan aktif : bertindak sesuai dengan cinta dan kebaikan, tanpa pamrih dan dengan tulus.  Sedangkan shu berdimensi larangan (negatif): jangan melakukan sesuatu kepada orang lain kalau Anda tidak mau orang lain melakukan hal itu terhadap Anda: do not do to others what you yourself do not like or not desire. Shu is said to be the key guilding one’s whole life, the primary procedure through which jen is practiced; but jen is the central concept of Confucius’ teachings. Therefore, Jen is shu and shu is the thread running through Confucianism.[11] Singkatnya, Shu merupakan tindakan bagaimana mengaktualisasikan jen sebagai love  

Perikemanusiaan merupakan hakikat material dan bersifat lebih konkrit. Hakikat material manusia adalah “mengasihi manusia”. Inilah inti dari perikemanusiaan (jen). Pendeknya, perikemanusiaan mengutamakan sikap tenggang rasa: perlakukanlah orang lain seperti engkau memperlakukan dirimu sendiri.”[12] Anjuran ini menurut Konfusius disebut juga Chung. Dalam etika Konfusianisme, perikemanusiaan bertitik-tolak dari diri sendiri. Manusia harus melihat dirinya agar dapat mengerti orang lain. Menurut Konfusius, kenyataan sehari-hari dalam hidup ini merupakan suatu keseluruhan dari chung dan shu, yang memiliki prinsip resiprokal, timbal-balik. Prinsip chung dan shu ini merupakan jalan untuk mengamalkan kemanusiaan (jen).[13]

1.1.4        Sikap-Sikap Orang Yang Ber-jen

Menurut Konfusius dan para pengikutnya, orang yang ber-jen mesti memiliki dan selalu mengamalkan 8 sikap yang mulia.[14]

Pertama, Ren (cinta kasih). Menurut Konfusius manusia yang bermartabat (ber-jen) adalah manusia yang memiliki Ren (cinta kasih): kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Bagi Konfusius, mengasihi seseorang berarti mendorongnya untuk menjadi rajin (Lun Yu XIV, 7).[15] Ren merupakan pusat kualitas moral manusia. Ren adalah intisari dari cinta terhadap sesama, perikemanusiaan, hati nurani, keadilan, dan kasih sayang. Dalam Konfusianisme, Ren adalah landasan utama bagi Jen. Jadi, Ren adalah idealisme moral tertinggi yang melandasi dan merupakan  roh terhadap etika lain, seperti kebenaran (yi); kesusilaan (li) ; bijaksana (zi) dan sikap dapat dipercaya (xin). Ketika Fan Chi (murid Konfusius) bertanya tentang Ren, Konfusius menjawab : ‘‘cintailah manusia’’ (Lun Yu XII, 22).

           

Kedua, Yi (kebenaran/keadilan/kebaikan/kewajiban). Menurut Fung Yu-Lan, Yi berarti keadaan yang seharusnya terjadi yang harus dilakukan oleh manusia tanpa syarat. Untuk melakukan hal yang adil dan benar, pertama-tama bukan untuk mengharapkan pamrih, tetapi karena perbuatan itu sendiri harus dilakukan sebagai hal yang benar.

Ketiga, Li (Kesusilaan). Ketika salah seorang muridnya, Yan Yuan bertanya tentang cinta kasih, Konfusius menjawab : mengendalikan diri dan berpegang teguh pada kesusilaan, itulah cinta kasih.

           

Keempat, Zhi (bijaksana). Anda dikatakan bijaksana jika setiap hari Anda memiliki kesadaran untuk melakukan yang baik dan benar. Dalam Analects (atau Lun Yu), konsep Konfusius tentang kebijaksanaan cukup mendalam. Konfusius berkata : ‘‘jika melihat seorang yang bijaksana, berusahalah menyamainya dan jika melihat seorang yang tidak bijaksana, periksalah dirimu sendiri (Lun Yu IV, 17); bila melakukan kesalahan, jangan takut untuk memperbaikinya (Lun Yu I, 8 : 4); bila kamu tahu berlakulah sebagai orang yang tahu, bila kamu tidak tahu katakanlah bahwa kamu tidak tahu, itulah yang disebut mengetahui (Lun Yu II, 17); orang yang suka cinta kasih (Ren) tetapi tidak suka belajar, ia akan menanggung cacat bodoh. Orang yang suka kebijaksanaan (zhi) tetapi tidak suka belajar, ia akan menanggung cacat kalut jalan pikiran (Lun Yu XVII, 8)’’.

           

Kelima, Xin (dapat dipercaya). Kata xin berasal dari gabungan kata Ren (manusia) dan Yan (kata-kata atau ucapan). Manusia bersandar pada kata-katanya mengandung arti bahwa jika manusia konsisten dengan kata-katanya maka ia layak dipercaya. Seorang pemimpin harus layak dipercaya oleh rakyatnya. Caranya adalah berlaku bijak dan melakukan hal yang benar dan baik sesuai titah Surga.

           

Keenam, Zhong Shu (Setia dan Tepa Sarira). Setia (zhong) terdiri dari dua kata: xin (hati) dan zhong (tengah). Artinya, orang yang berperilaku setia adalah orang yang memiliki hati yang terletak di tengah (hati yang terletak di tempat yang semestinya). Setia kepada seseorang berarti selalu membimbingnya (Lun Yu 14.7).[16] Shu (tepa sarira atau tenggang rasa) juga terdiri dari dua kata : Ru (seperti) dan xin (hati). Artinya, tenggang rasa adalah perbuatan yang muncul dari hati. Maka orang yang sudah tumpul hatinya, tentu juga kurang mampu untuk bertenggang rasa.

           

Ketujuh, Tiang Ming (takdir). Konfusius mengidealkan orang yang memiliki semangat Tian Ming adalah seperti Junzi yang selalu bersikap sungguh-sungguh, mengamalkan kesusilaan, cinta kasih, kebijaksanaan, kebenaran dan sikap dapat dipercaya. Junzi tidak memperkarakan soal kaya, mati, hidup, karena Junzi percaya bahwa jika manusia berlaku sebagaimana yang dititahkan Surga (melakukan yang baik dan benar serta yang seharusnya dilakukan), ia akan memperoleh segalanya tanpa ia tuntut dan harapkan.

               

Kedelapan, Jun Zi (manusia budiman, manusia ber-jen). Menjadi Jun zi, bagi Konfusianisme, berarti menjadi manusia yang memiliki idealisme moral yang tertinggi. “Seorang Jun Zi memegang kebenaran sebagai pokok pendiriannya, kesusilaan sebagai pedoman perbuatannya, mengalah dalam pergaulan dan menyempurnakan diri dengan sikap dapat dipercaya (Lun Yu XV, 18). Seorang Jun Zi mengutamakan kepentingan umum bukan kepentingan kelompoknya (Lun Yu II, 14). Seorang Jun Zi mau berlomba tetapi tidak mau berebut, mau berkumpul tetapi tidak mau berkomplot (Lun Yu XV, 22)”. Singkatnya, manusia ber-jen adalah manusia yang memiliki integritas diri.

           

1.2 Jen dalam ajaran Mencius (371-289)      

Mencius dianggap oleh sebagian besar sejarawan sebagai Konfusian Agung nomor dua. Ia menyebarkan ajaran Konfusius lebih jauh lagi dengan memberikan sumbangan pemikirannya yang unik. Mencius mengawali ajarannya tentang jen yakni harus memperhatikan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, Mencius menasihati para pemimpin untuk secara tulus memperhatikan rakyat. Ia mengatakan bahwa jika para penguasa bermurah hati (memiliki jen) dan berusaha meningkatkan taraf hidup orang banyak, rakyat akan memberikan dukungan sepenuhnya pada pemerintah.[17]  Mencius sependapat dengan gurunya, Konfusius bahwa pada dasarnya sifat alami manusia itu baik. Dengan demikian, jen sudah ada dalam diri manusia. Kejahatan bukanlah sifat yang melekat pada manusia. Hal ini parallel dengan yang ada dalam ajaran Kristiani: Allah menciptakan manusia secitra dengan-Nya dan baik adanya (lihat Kej 1: 27-31).     

      

Adanya kejahatan di dunia, Mencius memberi ilustrasi demikian: pada zaman dahulu jauh dari peradaban manusia, pegunungan Kerbau diselimuti oleh hamparan hijau pepohonan. Tetapi ketika penduduk negeri menjadi banyak, orang menebang pohon sehingga pegunungan itu kehilangan keindahannya. Meskipun demikian, alam masih berniat baik untuk mempertahankan keindahannya, dan tanaman-pun tumbuh kembali. Tetapi lagi-lagi orang mengirimkan ternak mereka di pegunungan itu, sehingga pegunungan  itu kembali gundul dan kehilangan keindahannya. Keadaan manusia ibarat gunung itu, dulu dalam diri manusia pernah terjadi sikap santun dan baik tetapi lama-lama manusia tak peduli untuk melestarikan anugerah kebaikan, kemurahan hati, perikemanusiaan (jen) yang ada dalam dirinya. Lebih jauh Mencius mengatakan bahwa manusia mampu membedakan yang baik dan yang jahat; tugas yang penting dan yang terkadang sulit bagi manusia adalah menemukan jalur yang benar dan menjalaninya.[18]      

Pribadi yang unggul adalah “pribadi jen”. Sejalan dengan Konfusius, Mencius mempercayai jen sebagai ciri untuk menjadi manusia yang paling baik. Jen inilah yang membedakan manusia dari binatang, karena manusia memiliki kemampuan untuk berperilaku murah hati, kasih sayang dan menghormati orang lain. Orang bijak adalah orang yang murah hati dan menghormati sesama. Mencius percaya bahwa manakala kita mencintai dan dengan tulus menghormati kemanusiaan, maka kebaikan akan dikembalikan kepada kita (tanpa kita harapkan).

1.3 Jen Dibagun dalam Keluarga     

Praktek membangun kualitas jen dimulai di dalam keluarga. Kepatutan anak kepada orangtuanya (filial piety) merupakan nilai penting sebagai pengamalan jen. Anak-anak memiliki tugas untuk mencintai dan menghormati orangtua. Mencius pernah berkata : seandainya setiap orang memperlakukan orangtua dengan cinta kasih dan rasa hormat, banyak persoalan di dunia akan lenyap dengan sendirinya. Semakin kita jauh dari keluarga – tempat kelahiran dan negeri kita – kita semakin kurang memiliki pribadi dan kurang mendalam pula emosi kita terhadap orang di tempat itu. Dalam keluarga harus dibina sikap murah hati dan saling menghormati. [19]  

Menurut Konfusius, keluarga adalah tempat ideal untuk mengajarkan prinsip-prinsip etika. Bahkan keluarga adalah Negara dalam bentuk yang kecil. Oleh karena itu, aparatur Negara harus membangun relasi terhadap yang lain sebagaimana relasi yang ada dalam keluarga. Konfusius mengusulkan lima relasi, yang adalah sebagai acuan untuk bertindak, berperilaku.

Pertama, relasi antara atasan dan bawahan. Kedua, relasi antara ayah dan anak. Ketika, relasi antara suami dan istri. Keempat, relasi antara kakak dan adik. Kelima, relasi antara kawan dan sahabat. Kelima relasi ini merupakan prinsip etika Konfusius yang dibangun atas kesadaran pada kedisplinan. Etika kedisplinan ini, kemudian yang harus dibangun di dalamnya adalah love in the father, filial piety in the son; gentility in the eldest brother, humility and respect in the younger; righteous behavior in the husband, obedience in the wife; humane consideration in elders, deference in the juniors; benevolence in rulers, loyalty in subjects.[20]

II. Ajaran Konfusius dan Etika Kristiani

2.1 Chung-Shu (Dibandingkan Dengan Kaidah Emas Kristiani)

           

Ajaran chung dan shu Konfusius, terdapat juga dalam Golden Rule (Kaidah Emas) Kristiani yang berasal dari ajaran moral Yesus Kristus “segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7: 12) atau Kaidah Emas Tobit 4: 15: “apa yang tidak kamu sukai sendiri, janganlah perbuat kepada siapapun”.

             

Kedua tokoh yang ber-keutamaan tinggi ini (Konfusius dan Yesus), rupa-rupanya menitikberatkan ajarannya dalam diri manusia itu sendiri: manusia harus memperlakukan orang lain seperti dirinya sendiri. Mengapa? Karena kadangkala seseorang “mati rasa”, tidak menyadari bahwa apa yang ia perbuat cukup menyakitkan. Singkatnya, bagi kedua tokoh ini selalu memakai analogi: jika Anda dicubit Anda merasa sakit, demikian juga jika Anda mencubit orang lain, ia pun merasa sakit.

           

Kekhasan moralitas Konfusianisme terletak pada penekanan sikap compassion, rendah hati, oblatif, gratuity, tanpa syarat, tanpa pamrih. Nilai-nilai moral tersebut juga kita temukan dalam etika Kristiani. Yesus sendiri telah menunjukkan kegratuitasan, cinta tanpa syarat: Ia menjadi sama seperti manusia, merendahkan diri bahkan sampai mati di kayu salib (Flp. 2: 5-11). Bagi Yesus, tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15: 13). Sabda Yesus yang tertulis dalam Injil Yohanes ini, parallel dengan anjuran Konfusius dalam Lun Yu-nya: ciri-ciri orang utuh adalah siap mengorbankan nyawa ketika menghadapi bahaya….(Lun Yu 14.12) [21]

2.2 Jen jika dibandingkan dengan Ajaran Yesus

           

Menurut John C. H. Wu, etika Konfusius parallel dengan charisma umat Kristiani.[22] Bahkan ajaran Konfusius hampir sama dengan ajaran Yesus, sehingga Karl Jaspers mensejajarkan Konfusius dengan Yesus. Hipotesis Wu tersebut bisa dibenarkan karena Yesus sendiri mengajarkan etika yang kurang lebih sama dengan etika Konfusius. Misalnya, sabda Yesus tentang Hukum Cinta Kasih: “Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap jiwa dan ragamu” (toward God), ini hukum yang terutama; sedangkan hukum yang kedua adalah “kasihilah sesamamu manusia sama seperti dirimu sendiri” (Mat 22: 34-40; Luk 10: 25-28). Hukum moral yang kedua dari Yesus ini, bisa juga diparalelkan sebagai hukum moral yang mengarah pada diri sendiri (toward one’s self) dan hukum moral yang mengarah pada orang lain (toward one’s neighbors). Yesus secara eksplisit menegaskan bahwa, orang lain yang kita cintai bukan hanya orang-orang yang baik kepada kita, tetapi juga kita harus mampu mencintai musuh. Karena apa bedanya kita dengan orang jahat, karena orang jahat juga dapat mencintai temannya yang sama-sama jahat (bdk. Luk 6: 27-33).

           

Humanisme Yesus secara eksplisit dapat kita cerna dalam sikap Yesus terhadap orang Farisi yang menekankan legalisme. Ia berkata, “hari Sabat ada untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk. 27; Yoh 5: 1-18). Tindakan Yesus yang terkesan “melanggar” hukum Yahudi ini, kemudian dikembangkan oleh Thomas Aquinas menjadi kebajikan epikeia. Inti kebajikan epikeia adalah bahwa hukum dibuat untuk manusia dan bukan manusia untuk hukum.[23] Tindakan kebajikan epikeia Yesus yang lain dapat kita temukan dalam sikap-Nya, misalnya: ketika Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat (Mat 12: 1-8). Bagi Yesus, nyawa manusia-lah yang lebih penting daripada hukum. Jangan karena hukum, perbuatan yang seharusnya dilakukan, tidak dilakukan karena bertentangan dengan kebiasaan hukum.

           

Bagi Yesus, orang budiman (ber-jen) adalah orang yang mengamalkan sifat-sifat mulia, antara lain: Pertama, memaafkan tanpa syarat: jika pipi kirimu ditampar berikanlah pipi kananmu (Mat 5: 38-40; Luk 6: 27-36); ampunilah sesamamu tujuh puluh kali tujuh kali (Mat 18: 12). Kedua, mencintai Allah (Mat 22: 37-38). Ketiga, mencintai sesama manusia seperti diri sendiri (Mat 22: 39). Menurut Yesus, seluruh hukum dan kitab para nabi tergantung pada Hukum Cinta Kasih (Mat 22 : 40). Jadi, keutamaan menurut Konfusius dan keutamaan menurut Yesus, memang memiliki nilai-nilai yang sama walaupun arahnya dan semangatnya berbeda. Konfusius membangun ajarannya mengenai keutamaan dengan berlandaskan pada kemanusiaan (antropologis dan sosiologis), sedangkan Yesus membangun ajaran-Nya mengenai keutamaan dengan berlandaskan pada semangat iman, semangat teologis (walaupun ada juga sisi antropologis dan sosiologis).

           

Perlu diperhatikan bahwa pengertian Konfusius tentang Heaven (Surga), tidak semata-mata berada pada posisi yang vertikal dan tidak semata-mata transenden. Heaven adalah metafor: dapat mengatur dan memimpin. Oleh karena itu, Surga dikaitkan dengan wujud manusia, yakni Kaisar yang berhak mengatur dan memimpin alam semesta. Sementara dalam etika Kristiani, surga memiliki arti yang sangat abstrak, jauh, transenden, tempat di mana Allah bertakhta.

2.3 Virtue[24] dan Humanity dalam Ajaran Thomas Aquinas (1225-1274)

2.3.1 Virtue

           

Bagi Thomas Aquinas, ada 7 keutamaan yang dibagi dalam 2 klasifikasi, yakni : pertama, keutamaan antropopogi-sosial : kebijaksanaan, keberanian, pengendalian diri, keadilan. Kedua, keutamaan teologis : iman, pengharapan dan cinta kasih.[25] Dalam Summa Theologiae, lebih jauh Thomas menjelaskan keutamaan-keutamaan itu, antara lain: virtue is a good quality of mind by which one lives righteously, of which no one make bad use, which God works in us without us (S. Th. I- II, Q. 55. 4); jadi, ujung-ujungnya Allah-lah yang menganugerahkan virtue kepada manusia: infused virtue is caused in us by God without our action, but not without our consent. Jadi, virtue ada kaitannya dengan iman: kita percaya bahwa Allah-lah yang menganugrahkan virtue; virtue bukan semata-mata datang dari kekuatan manusia. Virtue is made perfect in infirmity (Bdk. 2 Kor 12: 9); virtue is man’s goodness; justice is a kind of virtue; orang yang ber-virtue adalah orang yang hidup secara benar, lives righteously (bdk. S. Th. I-II, Q. 55 4). Virtue is the order of love (S. Th. I-II. Q. 55. 1-2). Virtue is a habit a person act well; virtue is that which make its possessor good (S. Th. I-II. Q. 56. 3). The principal act of moral virtue is choice (S. Th. I-II. Q. 56. 4). Menurut Thomas, kebijaksanaan (prudence) diperlukan untuk mencapai virtue (56. 4). Prudence is a virtue of the utmost necessity for human life (S. Th. I-II. Q. 57. 5). Singkatnya, bagi Thomas, virtue is the utmost of power and  a power of the soul (S. Th. Q. 56. 1).

2.3.2        Konsep Tentang Humanitas

           

Manusia yang manusiawi (ber-humanity) adalah manusia yang bertindak sejalan dengan hukum kodrat moral (tindakannya tidak contra naturam). Oleh karena itu, menurut Thomas Aquinas, kejahatan, membunuh, homo seksual, lesbian, dan yang sejenis dengan ini adalah tindakan yang contra naturam, tindakan yang bertentangan dengan perikemanusiaan (bagi Thomas, kodrat manusia adalah anugerah dari Allah, tidak bisa diciptakan oleh manusia). Dengan demikian, menurut Thomas prinsip utama humanity (yang disebut juga prinsip utama moral) adalah bonum est faciendum et prosequendum, et malum vitandum (lakukanlah yang baik dan promosikan, sedangkan yang jahat harus dihindari)”. Ini adalah prinsip hukum kodrat moral. [26] Orang yang dianggap ber-humanity dan berkeutamaan adalah orang yang bertindak atas dasar voluntary, tanpa pamrih (bdk. S. Th. I-II. Q. 18. 6). Dari urain di atas, nampaknya, etika Kristiani tentang virtue dan humanity selalu bermuara pada teologi, selalu dikaitkan dengan Allah yang disebut “Maha” (jadi, ada sisi transenden dan imanen).

           

Menurut Timothy E. Connell, hukum kodrat moral Thomas Aquinas di atas, identik dengan hukum yang disampaikan oleh Yesus: hukum cinta kasih; karena penekanan yang terdapat dalam hukum kodrat moral Thomas adalah melakukan yang baik, memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya.[27]

           

Menurut Thomas Aquinas, dalam kesadaran moral yang paling dasariah, manusia menjadi mengerti yang baik dan jahat, sehingga ketika ia memilih yang baik, manusia berjumpa dengan kehendak Allah. Suara hati yang memampukan manusia untuk mengerti, memahami dan menangkap kehendak Allah; suara hati adalah facultas intellectus. Suara hati yang menangkap hukum moral, sehingga manusia taat kepada kehendak Allah. Orang berbuat baik karena taat pada suara hatinya.[28] Jadi, etika yang diajarkan oleh Thomas Aquinas adalah etika yang selalu dibatinkan, sama halnya dengan etika Konfusius yang juga harus dibatinkan (terutama dalam prinsip humanity).

           

III. Penutup

3.1  Kesimpulan

           

Setelah menelusuri kekhasan etika Konfusius tentang jen dan setelah membandingkannya dengan etika Kristiani, maka ada beberapa kesimpulan.

Pertama, Jen dalam pemahaman Konfusianisme adalah azas utama moral, virtue yang paling utama; dan roh dari jen adalah hukum cinta kasih. Sejalan dengan etika Konfusianisme, roh dari etika Kristiani juga selalu bermuara pada Hukum Cinta Kasih dari Yesus.

Kedua, Jen berarti menjalankan apa yang seharusnya dilakukan tanpa pamrih ; jadi, tidak utilitaristis, tidak teleologis, tidak do ut des. Hal ini paralel dengan etika Kristiani : ajaran moral Kristiani lebih memilih ajaran moral universal, yakni ajaran deontologis, dan moral iman yang berkewajiban melakukan sesuatu yang harus dilakukan, dan sesuai kehendak Allah.

Ketiga, dalam ajaran Konfusianisme tentang jen, yang ditekankan adalah sikap compassion, keberpihakkan pada kemanusiaan, sikap oblatif, gratuit, rendah hati, cinta tanpa syarat. Nilai-nilai moral tersebut kita temukan juga dalam etika Kristiani. Yesus sendiri telah melakukannya : Ia menjadi sama seperti manusia, merendahkan diri, bersedia disiksa bahkan sampai mati di kayu salib demi cinta-Nya kepada manusia (bdk. Flp. 2 : 5-11).

Keempat, baik ajaran Konfusianisme maupun etika Kristiani sama-sama mengusung common good (bonum commune), bonum verum (true good), bonum ultim et universe.

Kelima, konsep Konfusianisme tentang jen lebih condong pada dimensi antroposentris-sosiologis (dimensi horizontal, moral perbuatan). Sedangkan etika Kristiani (mengenai virtue dan humanity) selalu berdimensi teologis, antropologis (dimensi vertikal, horizontal, dan moral iman dan moral perbuatan). Bagi orang Kristen, etika dibenarkan jika merupakan ungkapan iman, sesuai kehendak Allah. Konsep Kristiani tentang etika selalu merujuk pada Allah yang berada di tempat yang abstrak, jauh, transenden. Sedangkan, dalam Konfusianisme, Heaven adalah bagian dari bumi, yang dapat memerintah dan mengatur manusia. Para Kaisar bijak adalah manifestasi dari Heaven.

Keenam, prinsip etika Kristiani adalah sequella Christi et imitatio Christi et imitatio Dei. Sedangkan prinsip Kofusius tentang jen adalah meniru sikap dan cara dari Three Sage ( Kaisar Yao, Kaisar Shun, dan Kaisar Yu).

3.2  Relevansi

           

Dalam situasi dunia saat ini, etika Konfusianisme dan etika Kristiani (tentang humanity, jen, virtue) sangat relevan untuk diterapkan. Manusia zaman kiwari semakin brutal karena semakin menjauh dari nilai-nilai moral (cinta kasih, tenggang rasa), dan iman. Manusia zaman kiwari banyak yang lupa diri, yang mereka usung adalah permusuhan (hostility) dan bukan hospitality; yang mereka pentingkan adalah kepentingan kelompoknya; sehingga tenggang rasa di negeri ini (Indonesia, misalnya) telah lama digusur dan diinjak-injak. Kerusuhan yang terjadi di Indonesia ( di masa silam) memberi gambaran kepada kita bahwa sebagian masyarakat Indonesia yang masih mempertahankan jalur kejahatan, telah kehilangan dan menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai iman. Hal itu terjadi karena tatanan moral, nilai-nilai luhur, keutamaan, humanity semakin digusur, tidak dihiraukan lagi.

Foot notes :

 [1] Cfr. Xinzhong Yao, Jen, Love and Universality: Three Arguments Concerning Jen in Confusiacism; Asia Philisoph,Volume 5, Number 2 October, 1995 (United Kingdom: Carfax Publishing, Taylor & Francis Group), hlm. 181-183

[2] Lihat C. Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins, Simple Confusianism: Tuntunan Hidup Luhur (Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer/BIP, 2006), hlm. 4-5

[3] Bdk. Charles E. Curan, The Living Tradition of Catholic Moral Theology (Notre Dame, Indiana: University of Notre Dame Press, 1992), hlm. 84. Lihat juga William Dunphy (Editor), The New Morality: Continuity and Discontinuity (London: Herder and Herder, Inc.), hlm. 17. Lihat juga Timothy E. O’Cornell, Principles for a Catholic Morality (Chicago: The Seabury Press, 1978), hlm. 30-31

 [4]Lihat Raymond Dawson, Confusius (Toronto: Oxford University Press, 1981), p. 37-38. Beliau mengidentikkan JEN dengan kata HUMANENESS. Namun, beliau juga menyadari bahwa konsep kaum Konfusianisme tentang jen lebih luas dibanding pengertian tentang humaneness.

[5] Lihat by Y. C. Koo, Cs., Chinese Philosophy Vol I: Confucianism And Other Schools (China: China Academy, 1974), hlm. 42 dan 43

 [6]Cfr. Xinzhong Yao, Op. Cit., hlm. 182

[7] Analects (Lun Yu) , adalah bunga rampai ajaran Konfusius yang dikumpulkan oleh muridnya

[8] lihat Y. C. Koo, Cs.,  Loc. Cit., hlm. 43. Dalam tulisannya ini, beliau pada umumnya selalu mengidentikkan JEN dengan kata HUMANITY. Walaupun demikian, beliau tetap sadar bahwa jen lebih luas daripada kata humanity.

[9] Lihat Leslie Stevenson &David L. Haberman, Ten Theories of Human Nature (New York, 1998); translated by Yudi Santoso dan Saut Pasaribu, Sepuluh Hakikat Manusia (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2001), hlm. 37

[10] Y. C. Koo, Cs., Op. Cit., hlm. 44

[11] Xinzhong Yao, Op.Cit., hlm. 182-183

[12] Lihat Leslie Stevenson & David L. Haberman, Op. Cit., hlm. 51. Bdk. Bagus Takwin, Filsafat Timur: Sebuah Pengantar ke Pemikiran-pemikiran Timur (Yogyakarta: Jalasutra, 2003), hlm. 91

[13] Bagus Takwin, Ibid., hlm. 92

[14] Uraian bagian ini, sebagian besar saya sadur dari situs http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Khonghucu. Lihat juga http://filsafatchina.com/KONFUSIANISME/Zheng%20Ming.htm. Bdk. Bagus Takwin, Op. Cit., hlm. 85-91. Lihat C. Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins, Op. Cit., hlm. 67-97

[15] Bdk. Lyndon Saputra (Editor), Literatur Lengkap Ajaran Konfusius, Jilid 3 (Batam: Lucky Publishers, 2002), hlm. 11

[16] Ibid., hlm. 11

[17] Lihat C. Alexander Simpkins, Cs., Op. Cit., hlm. 24

[18]  Ibid., hlm. 27-28

[19] Ibid., hlm. 30

                 [20] Lihat Y. C. Koo, Cs., Op. Cit., hlm. 44

[21] Lyndon Saputra (Editor), Op. Cit., hlm. 24

[22] Y. C. Koo, Cs., Op. Cit.,  hlm. 43

[23] Lihat Karl Heinz Peschke, Etika Kristiani, Jilid I: Pendasaran Teologi Moral (Maumere: Ledalero, 2003), hlm. 128

[24] Uraian yang lebih detail dapat dilihat dalam, S. Th. I – II, Q. 55 – 57 dan S. Th. I – II, Q. 18 – 19

[25] Lihat K. Bertens, Etika (Jakarta: Gramedia, 2001), hlm. 222

[26] S.Th., Ia2ae, Q. 94. 2: “that good is to be sought and done, evil to be avoided.”

[27] Lihat Timothy E. O’Connell, Op. Cit.,  hlm. 20-207

[28] Lihat, Bernhard Kieser, Moral dasar: Kaitan Iman dan Perbuatan (Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm. 113-114

Daftar Pustaka

1.      Aquinas, St. Thomas. 1964. Summa Theologiae Volume 18 (Ia2ae. 18-21): Principles of Morality; English edition and translation by Thomas Gilby. London: Eyre & Spottiswoode (London) and McGraw-Hill Book Company (New York)

2.      Aquinas, St. Thomas.  1964. Summa Theologiae Volume 23 (Ia2ae. 55-67): Virtue; English edition and translation by W. D. Hughes. London: Eyre & Spottiswoode (London) and McGraw-Hill Book Company (New York

3.      Aquinas, St. Thomas.   1964. Summa Theologiae Volume 28 (Ia2ae. 90-97): Law and Political Theory; English edition and translation by Thomas Gilby. London: Eyre & Spottiswoode (London) and McGraw-Hill Book Company (New York)

4.       Bertens, K., 2001. Etika. Jakarta: Gramedia

5.       Dawson, Raymond. 1981. Confusius. Toronto: Oxford University Press

6.       Dunphy, William (Editor). The New Morality: Continuity and Discontinuity. 1967. London: Herder and Herder, Inc.

7.       E. Curran, Charles. 1992. The Living Tradition of Catholic Moral Theology. Notre Dame, Indiana: University of Notre Dame Press

8.       E. O’Connell, Timothy. 1978. Principles for a Catholic Morality. Chicago: The Seabury Press

9.       Kieser, Bernhard. 1987. Moral dasar: Kaitan Iman dan Perbuatan. Yogyakarta: Kanisius

10.   Koo, Y. C., Cs. 1974. Chinese Philosophy Vol I: Confucianism And Other Schools China: China Academy

11.  Peschke, Karl Heinz. 2003. Etika Kristiani, Jilid I: Pendasaran Teologi Moral. Maumere: Ledalero

12.  Saputra, Lyndon (Editor). 2002. Literatur Lengkap Ajaran Konfusius, Jilid 3 (terjemahan dari The Complete Analects of Confusius, Jilid 3). Batam: Lucky Publishers

13.   Simpkins, C. Alexander dan Annellen Simpkins. 2006. Simple Confusianism: Tuntunan Hidup Luhur. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer/BIP

14.   Stevenson, Leslie &David L. Haberman. (1998). 2001. Ten Theories of Human Nature (New York, 1998); translated by Yudi Santoso dan Saut Pasaribu, Sepuluh Hakikat Manusia. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya

15.   Takwin, Bagus. 2003.  Filsafat Timur: Sebuah Pengantar ke Pemikiran-pemikiran Timur. Yogyakarta: Jalasutra

16.  Yao, Xinzhong. Jen, Love and Universality : Three Arguments Concerning Jen in Cofucianism ; Asian Philosophy, Volume 5, Number 2 October, 1995. United Kingdom: Carfax Publishing, Taylor & Francis Group

About these ads

8 Tanggapan to “Ajaran Konfusianisme Tentang Jen: Suatu Studi Perbandingan dengan Etika Kristiani”

  1. Tan bee geok said

    thank you

  2. Merissa said

    Good post. I learn something new and challenging on blogs I stumbleupon on a daily basis.
    It will always be useful to read through articles from other writers and use a little something
    from their sites.

  3. Leanna said

    Many as part of the panic battle occasionally produce challenge “getting any inhale” due to the fact of the worry they might be feeling.
    within a panic, study issue patients were given sodium
    lactate and also practiced a dramatic enlarge of circulation in
    order to the temporal lobes of the mind. Regardless of what causes the misreading, the simple fact is the fact that the unconscious attention has misinterpreted the circumstances and also right now has sent a battle or flee signal in order to the body.

  4. Lavonda said

    you are going to find many different black colored swimsuits at different stores, as part
    of all a variety of designs. Definitely one piece swimsuits tend to be starting to help make
    a keep returning in fashion circles, which is great information for just about any definitely one which seems irritating or unsupported in
    the cute yet frequently difficult to put on bikini styles.
    discover our swimwear for women online today.
    .Bold hues, big floral imprints and bold patterns are frequently utilized on
    petite chest.

  5. Azo Yeast is a natural, homeopathic OTC medicine that
    comes in the form of the pill and helps to ease the warning signs of a yeast infection and preventing the onset
    of future yeast problems. Considering it can be confusing, because recently there is actually a lot of misinformation out
    recently there. The after very interesting botanical herb is known to feel great Candida treatment with abolish.
    Candidiasis, additionally individuals not resulted
    in by Candida albicans, can try to be addressed by the use of antifungal medication.
    If you tend to be feeling run up, after that it’s additionally a beneficial idea in order to choose a general vitamin supplement.

  6. Bev said

    Total business is just one of the trusted names and goals at providing really
    services to the customers. Brick pavers can be made
    from clay, shale, padded slate, calcium silicate, concrete, or shaped from quarried rock.
    Ergonomics is actually simply the application of science to the equipment we utilize and
    the systems in that we work. there are always a plethora of
    dollars which are given out every year as free scholarships and also generally there is no cause precisely
    why you need to not feel among the privileged
    few.

  7. Postinus said

    Thank you for all your comments on this article. God Bless Us.

  8. it takes some practice to get recently there, it is definitely worthwhile when you do.

    It is necessary to maintain with gear specs that can change over time.
    people may not know exactly how diverse the welding position can be.
    People whom aspire to choose up a position as part of welding can really use the crash courses and workshops on CNC
    cutting and also welding. It is actually found which carbon dioxide would never be utilized alone because of the high plasma in return, so combinations of gases tend to be employed
    as part of gas welding.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: