Istilah dan Sejarah Meditasi dalam Budhisme
Ditulis oleh postinus di/pada Maret 3, 2008
Istilah Cina tentang meditasi berasal dari kata chan.[1] Kata chan atau chan’na berasal dari kata sanskerta yakni dhyana. Tidak banyak yang dapat dikatakan tentang Chan karena ajaran ini menekankan bahwa chan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Chan adalah perbuatan dan hanya dapat dipahami dengan perbuatan bukan penjelasan dengan kata-kata. Walaupun demikian, chan tak dapat dibiarkan tanpa ungkapan. Untuk mengetahuinya, kita harus mengerti sejarah Chan dalam ajaran Cina. Akar chan berasal dari agama Buddha. Ketika Buddha masuk ke Cina pada tahun 334-520 Masehi, terjadi peleburan antara ajaran-ajaran Buddha dengan ajaran-ajaran Cina yang sudah lebih dahulu ada. Chan sebagai cabang agama Buddha sangat berkembang pesat di Cina, dengan banyak menggunakan konsep-konsep ajaran klasik Cina, di antaranya Dao. Para biarawan Buddha mengartikan Dao sebagai jalan menuju nirwana. Pada awal penyebarannya, para Budhis Cina disebut daoren (manusia Dao). Sedangkan pohon Bodhi tempat Sidharta Gautama bersemadi dan mendapat pencerahan disebut Daoshu (pohon Dao).
Mula-mula chan berarti mengidentikkan budi individu dengan budi semesta. Hal dicapai dengan meditasi. Dalam meditasi yang ditekankan adalah ketenangan, konsentrasi. Oleh karenanya, dalam filsafat Cina terkenal juga meditasi ini dengan sebutan filsafat diam, yang sering disebut chanisme. Unsur pokok chanisme adalah budi. Budi harus dipertajam sebelum dapat ditunggalkan dengan budi semesta.
Dengan demikian, aliran Chan mengembangkan aneka teknik yang berbeda dengan yang dikembangkan oleh aliran dhyana di India. Maka chan dapat dibedakan dari dhyana. Pertama, dhyana dipahami sebagai penerangan religius, menekankan konsentrasi dan kemampuan melupakan pengaruh dari luar, sedangkan chan dipandang sebagai kemampuan filsafati serta menekankan kebijaksanaan dan kemampuan untuk mengatasi keadaan kritis. Kedua, dalam dhyana, budi berusaha melupakan dunia eksternal dan mencapai pemahaman intelektual, sedang dalam chan, budi bekerja dalam dunia ini dan mencapai pemenuhan diri (realisasi diri).
Di kalangan guru Chan terdapat berbagai interpretasi budi semesta, tetapi umumnya dapat dikatakan bahwa mereka memaksudkannya sebagai kekosongan. Kekosongan tak dapat diterangkan dengan kata-kata dan tidak dapat diamati oleh indera. Untuk mengerti budi semesta, para guru Chan mengajarkan wu nian (tiadanya pikiran), wang jing (melupakan perasaan), ren xin (membiarkan budi menempuh jalan sendiri). Menurut Hui-neng ((627-671), salah seorang pendiri aliran Chan, mengatakan bahwa ajaran Chan sangat mirip dengan Taoisme.
[1] Lihat Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1989), 138. lihat juga Bagus Takwin, Filsafat Timur: Sebuah Pengantar ke Pemikiran Timur (Yogyakarta: Jalasutra, 2003), hlm. 98

Spiritual Guidance berkata
Salam Kenal
Puada berkata
salam bahagia
info buat komunitas
Lembag IKE INSTITUT mengundang workshop dengan tema “The Science of Meditation ” Moving/DinamicMeditation : Dari Wu Chi Ke Taichi, bagaimana Pengaruh gerak Tai Chi bagi saluran meridian, Eight Pieces of brocades, 20 minutes Daily for health in long live, pada hari kamis, jum’at tanggal 21-22 Agustus 2008 di The Valley Resort Hotel, Lembah Pakar No 28 Dago, Bandung Hadir dalam Pelatihan ini beberapa narasumber Bpk. Dr. Ir Sugiarto, Msc (Master Taichi Jing Wu Men), Dr. Hudoyo Hupudio, MPH, Ir. Anhar Mapparenna MBA (Praktisi Meditasi berbagai aliran agama).Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi sdri. Tatie / Sdr. Hendri 022-4224931 atau 085624619122, 0811245111
dede fadillah berkata
saya butuh penjelasan sejarah secara umum tentang meditasi