Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008
Paper ini pertama-tama ingin menjawab satu pertanyaan: bagaimana jika politik dan moral terpisah? Jawaban pertanyaan ini saya paparkan dalam uraian berikut.
Politik berkaitan erat dengan kekuasaan dan ketatanegaraan. Hal itu sesuai dengan etimologi politik: politeia (negara), dan politikos (negarawan). Jika kita kembali melihat hakikat filsafat politik, semakin jelas bahwa politik dan moral saling interpendensi. Plato misalnya, mendefenisikan filsafat politik sebagai salah satu cabang etika (filsafat moral) sosial atau kemasyarakatan. Baginya, manusia sudah selalu berpolitik karena manusia tidak pernah terlepas dari negara (politeia).
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Leave a Comment »
Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008
1. Latar Belakang Geografis Kultural-Religius
Penyembahan kepada banyak dewa merupakan usaha untuk mempersonifikasikan Yahweh yang gaib, yang transenden, yang tak kelihatan ke dalam dunia manusia. Namun, Israel Kuno kurang menyadari bahwa tindakan itu merupakan “buatan” mereka sendiri dan bukan Allah sejati. Dalam tindakan itu Yahweh justru disingkirkan. Di Kanaan, misalnya, dewa utama adalah baal hadad, yakni dewa angin, dewa kilat, dewa guntur, dan dewa hujan yang diberi karakteristik seperti manusia. Di Kanaan, masyarakat yang sangat ambisi untuk mengejar kekayaan menyadari bahwa beribadat kepada Allah secara benar merugikan, karena mereka harus mengikuti ajaran Yahweh untuk menuruti peraturan kesusilaan yang ketat dalam hidup sehari-hari. Peraturan itu tidak membantu mereka untuk cepat menjadi kaya. Sedangkan beribadat kepada baal menguntungkan: baal tidak menuntut kejujuran hidup yang begitu ketat; baal cukup puas dengan perhatian yang diberikan kepadanya melalui ibadat.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Teologi | Leave a Comment »
Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008
Oleh Postinus Gulö *
“Ia bergelar doktor, tetapi ia seorang koruptor.” Kalimat itu saya ucapkan dalam suatu diskusi empat mata. Saat itu, kami membahas fenomena Indonesia yang sedang dilanda tragedi dan ‘perselingkuhan’ intelektual. Banyak pejabat dan politikus (yang adalah kaum intelektual), justru mengkhianati bangsa. Mereka mengangkangi kepentingan umum dengan berlaku tidak jujur: korupsi. Dari fenomena ini, maka yang penting bukan kadar intelektual setiap pejabat, melainkan etos atau kecenderungan etis setiap pejabat. Etos adalah arête atau keutamaan (istilah dari Socrates) yang memampukan seseorang memiliki kekuatan moral, berkarakter baik. Dan jika pejabat kita memiliki etos atau arête, saya percaya, mereka dapat mengontrol diri dari keinginan jahat: korupsi. Korupsi adalah tindakan mencuri terencana.
Motivasi mencuri bermacam-macam. Seseorang mencuri karena ia lapar atau untuk bertahan hidup, untuk mengisi perut. Motivasi semacam ini sering kita baca di surat kabar. Umumnya, mereka adalah kalangan akar rumput, tidak mampu, berpendidikan rendah. Ada juga yang mencuri karena terpengaruh teman, lingkungan. Bahkan ada yang mencuri karena ingin memiliki seperti yang orang lain miliki tetapi ia tidak mau bekerja seperti orang lain. Ia pingin yang cepat, instan. Ia tidak mau keluar keringat, cukup jalan pintas saja. Model motivasi terakhir ini, itulah yang terjadi dalam diri pencuri sepeda motor, mobil, perampok bank, dll. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Leave a Comment »
Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008
Postinus Gulö*
Dalam bukunya “How to Have a Beautiful Mind”, Edward de Bono dengan percaya menguraikan: hampir semua manusia tidak pernah memperhatikan “kesehatan” pikirannya. Manusia hanya sibuk memperhatikan kesehatan fisiknya. Kecenderungan manusia semacam ini kian melilit pikiran manusia zaman kiwari. Kalau tidak percaya, cobalah Anda amati perilaku generasi global. Adalah seorang pendukung berat gejala semacam ini berkata: “darker skin means healthier body, it’s sexier”.
Tetapi jangan heran. Gejala ini bukan barang yang jatuh dari langit. Di belakang fenomena itu, biopolitical sympton yang mempropagandakannya dengan kampanye nilai: cantik, wellness, healthy, kurus, ganteng. Kampanye ini ternyata sukses: produk industri “diet” sangat laris. Propaganda “values” semacam ini adalah barang dagangan industri hiburan dan informasi yang kian menghipnotis siapa saja yang memang tak selektif. Melihat gejala semacam itu, mungkin ada benarnya apa yang pernah dilontarkan oleh Michel Foucault: jika dulu, yang menjadi pan-optikon atau control bagi manusia adalah institusi disiplin seperti sekolah, penjara, polisi, sekarang yang menjadi pan-optikon adalah industri iklan dan informasi.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, My Reflection | 4 Komentar »
Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008
Oleh Postinus Gulö *
Konon, filsafat pertama kali dicetuskan oleh Pythagoras (582-496 BC). Kala itu, Pythagoras menyebut dirinya sebagai philosophos, “kawan kebijaksanaan”. Itu sebabnya, etimologi filsafat adalah philos berarti cinta, sahabat, kawan. Dan, Sophos (sophia) berarti kebijaksanaan, hikmat, pengetahuan. Jadi, seorang filsuf adalah sahabat, pencinta dan pencari kebijaksanaan. Konsep Pythagoras tentang filsafat perlu kita ketahui bersama. Tujuannya adalah agar kita jangan dan tidak rancu serta salah kaprah memahami apa itu filsafat dan bagaimana kita berfilsafat. Pythagoras mengatakan bahwa hanya Tuhanlah yang memiliki kebijaksanaan sempurna. Dan, Tuhan adalah sumber kebijaksanaan. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Philosophy | Leave a Comment »
Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008
Oleh Postinus Gulö *
Pertanyaan what is the meaning of life (apa makna ke-hidup-an) adalah salah satu persoalan pokok filsafat. Pertanyaan ini seolah gampang tetapi sulit dijawab. Pertanyaan macam ini bersinggungan dengan hal yang sublime, beyond (yang melampaui, yang tidak gampangan). Oleh karenanya, tidak berlebihan jika what is the meaning of life saya masukkan dalam kategori “the unthinkable, yet inevitable” (istilah Immanuel Kant), tak terpikirkan atau tidak dimengerti tetapi tidak terelakkan.
Singkat kata, pertanyaan what is the meaning of life sejajar dengan pertanyaan: hidup itu apa, mati itu apa, mengapa ada penderitaan, mengapa Allah membiarkan penderitaan, apakah Allah tidak mampu meniadakan penderitaan manusia, apakah penderitaan itu bermakna, apakah mati itu bermakna? Jika kematian saja bermakna, apalagi hidup pasti bermakna. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Philosophy | 1 Komentar »
Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008
Oleh Postinus Gulö
Neoliberalisme merupakan sebuah fenomena sosial-politik yang biasanya dialamatkan kepada sekelompok penguasa dan intelektual di Barat yang mendukung dan ingin menghidupkan kembali gagasan-gagasan liberalisme klasik. Neoliberalisme adalah kata lain dari “liberalisme baru”. Neoliberalisme kerap dianggap sebagai pendukung pasar bebas, ekspansi modal dan globalisasi.
Istilah neoliberalisme sering disalah-artikan. Misalnya, ada sebagian yang menganggap bahwa ekonomi pasar identik dengan neoliberalisme. Menurut B. Herry Priyono, neoliberalisme memang melibatkan aplikasi ekonomi pasar, tetapi tidak semua ekonomi pasar bersifat neoliberal: ekonomi pasar sosial tidak bersifat neoliberal. Awalan neo (baru) pada istilah neoliberalisme menunjuk pada gejala yang mirip dengan tata ekonomi 30 tahun terakhir dengan masa kejayaan liberalisme ekonomi di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang ditandai dominasi financial capital dalam proses ekonomi. Namun, yang terjadi dalam 30 tahun terakhir tersebut (akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20) bercorak lebih ekstrem dan gejala ini berlangsung dengan berakhirnya era besar yang disebut embedded lberalism. Neoliberalisme berisi kecenderungan lepasnya kinerja pemodal dari kawalan, tetapi dalam bentuk yang lebih ekstrem. Neoliberalisme kadangkala dianggap sebagai cara para tuan besar pemodal untuk merebut kembali kekuasaan, sesudah mereka terkekang dalam periode setelah Perang Dunia II sampai dasawarsa 1970-an.
Walaupun neoliberalisme selalu dikaitkan dengan ekonomi, namun sebenarnya neoliberalisme bukan hanya sekedar ekonomi. Neoliberalisme bervisi tentang manusia dan masyarakat dengan cara pikir ekonomi yang khas sebagai perangkat utama. Visi neoliberalisme tersebut dapat kita lihat dalam uraian berikut: Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | 14 Komentar »