What is the Meaning of Life?
Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008
Oleh Postinus Gulö *
Pertanyaan what is the meaning of life (apa makna ke-hidup-an) adalah salah satu persoalan pokok filsafat. Pertanyaan ini seolah gampang tetapi sulit dijawab. Pertanyaan macam ini bersinggungan dengan hal yang sublime, beyond (yang melampaui, yang tidak gampangan). Oleh karenanya, tidak berlebihan jika what is the meaning of life saya masukkan dalam kategori “the unthinkable, yet inevitable” (istilah Immanuel Kant), tak terpikirkan atau tidak dimengerti tetapi tidak terelakkan.
Singkat kata, pertanyaan what is the meaning of life sejajar dengan pertanyaan: hidup itu apa, mati itu apa, mengapa ada penderitaan, mengapa Allah membiarkan penderitaan, apakah Allah tidak mampu meniadakan penderitaan manusia, apakah penderitaan itu bermakna, apakah mati itu bermakna? Jika kematian saja bermakna, apalagi hidup pasti bermakna.
Pertanyaan what is the meaning of life menjadi salah satu tema pokok filsafat karena pertanyaan tersebut menentukan cara hidup, cara pandang dan nasib dari manusia. Bahkan pertanyaan itu, bisa membawa orang menjadi ateis atau juga bisa menjadi religius, bisa juga membawa orang untuk bunuh diri. Pertanyaan itu juga bisa jadi membawa orang juga untuk terus bertahan hidup, walaupun mengalami negativitas hidup (pengalaman-pengalaman yang pahit yang anti kehidupan, anti manusiawi). Ada lima negativitas hidup-menurut Karl Jaspers. Pertama, kematian (death), kedua, sins (dosa), ketiga, suffering (penderitaan), keempat, kekecewaan (kegagalan), kelima, frustration. Kelima negativitas ini merupakan the limit experiences of man. Albert Camus, filsuf Perancis pernah berargumen bahwa sebetulnya filsafat itu hanya berusaha menjawab satu pertanyaan pokok saja: mengapa aku hidup, tidak bunuh diri saja? Dengan kata lain, tugas filsafat adalah berusaha menjawab pertanyaan what is the meaning of life, supaya orang tidak bunuh diri dan tidak membunuh sesamanya. Ada beberapa versi jawaban berkaitan dengan pertanyaan what is the meaning of life.
Pertama, versi sekular humanisitik Terungkap dalam filsafat eksistensialisme-nya Sartre. Sartre pernah berkata bahwa semua manusia hidup dalam kondisi eksistential vacuum (kekosongan hidup). Oleh karena itu, manusia tak punya alasan atau tak punya tujuan apapun untuk hidup (there is nothing absolutely to life or no reason to life). Hidup tak bermakna. Eksistensi manusia di dunia ini adalah factum brutum, fakta yang tanpa nilai dan tanpa makna. Hidup adalah factum brutum. Sebab, manusia seakan-akan terdampar oleh nasib: masuk dalam nuansa hidup dan keluar ditentukan oleh nasib dari gelanggang hidup. Sartre berkata the meaning of life itu tergantung dari choose or option, pilihan kita sendiri. Apapun pilihan itu. Hidup yang vacum harus diisi oleh personal option. Sartre memberi dua petunjuk dalam rangka menentukan pilihan itu .
Pertama, ikutilah suara hatimu sendiri, jangan ikuti nasehat, instruksi, perintah, dan bisikan orang lain. Kita hendaknya berani mengikuti perasaan, impian kita sendiri (follow your heart). Pernyataan Sartre ini mengingatkan saya pada filsuf Zaman Pencerahan Immanuel Kant. Bagi Immanuel Kant, keputusan yang muncul dari diri sendiri merupakan keputusan manusia otonom. Sebaliknya, keputusan yang dilakukan karena tekanan dari luar merupakan keputusan manusia tidak otonom (istilah Kant: heteronom).
Kedua, taste intensity (rasakanlah intensitas). Artinya, carilah pilihan dan pengalaman hidup yang memukau, mendebarkan, menghebohkan hati dan jiwa kita sendiri. Bukan menghebohkan publik alias sensasi. Dengan kata lain, berlakulah dan pilihlah yang orisinal, otentik, yang luar biasa, aneh, baru tetapi bukan yang sama, bukan yang rutin, bukan yang terus terulang, bukan yang serupa dengan yang dilakukan orang lain, tapi juga bukan sensaional. Terjadinya pilihan yang otentik atau orisinal ditandai dengan suasana: pilihan tersebut dibuat dalam suasana fear and trembling (istilah Søren Kierkegaard). Pilihan itu dibuat dalam suasana penuh ketakukan dan getaran, debaran hati. Sebab, ketika kita menjatuhkan pilihan dalam susana fear dan trembling, kita tidak tahu apa konsekuensi, dampaknya bagi kita, bahkan kita tidak tahu bagaimana reaksi dan penilaian orang lain atas pilihan itu, seakan akan kita meloncat ke dalam kegelapan dan ketidakpastian. Tapi justru pada saat itu kitalah yang menjadi penulis, pencipta arti hidup dan nasib kita sendiri. Dalam situasi demikian, kita juga memberi makna atas hidup kita sendiri. Jadi, makna hidup tergantung dari manusia sebagai subjek pemberi makna hidupnya. Søren Kierkegaard menjelaskan dua contoh memilih secara otentik.
Pertama, pilihan Yesus pada waktu di Gestsemani (ketika Ia ditangkap) sampai keringatNya seperti tetesan darah. Walaupun Yesus diliputi ketakutan tetapi Ia tetap memilih untuk tidak melarikan diri. Ia berserah pada Bapa-Nya.
Kedua, pilihan Martin Luther: walaupun ia mendapat tekanan yang luar biasa ketika hendak memisahkan diri dari Gereja katolik tetapi ia tidak mau mengubah keyakinannnya, keputusannya untuk tetap menjadi rival Gereja Katolik.
Ketiga, pengalaman Kierkegaard saat mau memisahkan diri dari ikatan cinta dengan tunangannya. Sebenarnya mereka saling mencintai, tetapi Kierkegaard sendiri juga tidak tahu mengapa ia memutuskan hubungan dengan tunangannya itu.
Kedua, versi hermeneutik Heidegger adalah seorang ahli hermeneutik penerus Schleiermacher (filsuf dan teologi tersohor dari Jerman). Menurut Heidegger, hidup adalah menafsir. Berada adalah menafsir. Segala tindakan manusia membutuhkan tafsiran. Bagi Heidegger hidup itu harus diberi makna. Saya menganggap bahwa bagi Heidegger, memaknai hidup begitu penting. Tujuannya adalah agar hidup itu berharga sehingga kita tidak semena-mena memperlakukan hidup kita sendiri.
Ketiga, versi fenomenologis Hal ini terungkap dalam filsafat Lebenswelt-nya Husserl. Beliau mengatakan bahwa hidup adalah apa yang dialami sehari-hari. Realitas hidup adalah yang kita alami bukan hidup sebagaimana yang kita pikirkan. Dan menurut beliau, hidup tidak bisa dieksplorasi habis-habisan (inexhaustible), tak pernah ada kata final. Singkatnya, hidup itu harus dihayati terus-menerus. Hidup adalah soal pengalaman, soal penghayatan. Dan, pengalaman jauh lebih luas, kompleks dan rumit dibanding apa yang kita ceritakan.
Keempat, versi religius Tokohnya, adalah A.Y. Heschel seorang filsuf Yahudi, sezaman dengan Levinas dan Buber. Bukunya adalah Man is Alone. Sama dengan Sartre, ia menyaksikan adanya degradasi kemanusiaan, khususnya ketika ia menyaksikan Perang Dunia II. Kala itu, manusia menjadi anti manusiawi (inhuman). Menurut Heschel, ada beberapa alasan yang memicu mengapa manusia bisa menyimpulkan bahwa hidup itu vacuum.
Pertama, manusia hilang dalam keheningan alam yang luas dan dingin (lost in vast and cold universe). Kosmos seakan-akan diam, bisu, bungkam saja, tidak perduli dan tidak menanggapi aspirasi manusia. Manusia hidup dalam kesunyian alam. Singkatnya, manusia hidup ibarat pasir ditepi pantai tak berhingga. Seakan-akan manusia itu kecil dan tidak berarti dibanding keluasan dan keabadian alam. Seolah manusia tidak punya kontribusi terhadap alam. Dan, alam akan terus berada tanpa nasib, tanpa individu tertentu.
Kedua, manusia hilang dalam sejarah penderitaan. Sejarah itu, bukan sejarah keselamatan, tetapi sejarah itu brutal dan cruel (keras dan kejam), tetapi justru karena pengalaman hilang itu, manusia menjadi terusik, terpancing untuk menggapai “what is the meaning of life”. Bagi Heschel, pertanyaan what is the meaning of life berkorelasi dengan kebutuhan universal umat manusia (the universal need of humanity). Menurut Heschel, manusia mempunyai tiga kebutuhan.
Pertama, kebutuhan universal (the universal need) tentang “to love”. Apakah ada sesuatu sedemikian berharga sehingga sungguh-sungguh kita cintai, sehingga memancing keluarnya yang terbaik, potensi, energi, harapannya untuk hal yang dicintainya tersebut. Heschel berkata, meaningless experience sama dengan meaningless loveness dan meaningful sama dengan loveful.
Kedua, kebutuhan universal tentang “the need to be needed” (kebutuhan untuk dibutuhkan, dicintai). Kebutuhan terhadap hal itu, terjadi jika dalam kondisi negatif, seolah-olah kita pasif. Misalnya, saya juga butuh dihargai ketika berada dalam keadaan gagal, salah, tak berharga. Menurut Heschel, kebutuhan kedua ini juga menghantar orang pada kehadiran Allah. Manusia itu pada akhirnya membutuhkan kehadiran Allah. Kebutuhan akan adanya un-condotion love (cinta tanpa syarat). Apapun nasib, perasaan, status sosial kita, tetap saja kita butuh untuk dicintai. “Nama manusia terukir dalam telapak Allah”, kata Heschel. Jadi, apapun yang kita lakukan adalah berharga di mata Allah.
Ketiga, kebutuhan akan adanya eternal love. Cinta yang terus melimpahi kita mengatasi (beyond) maut bahkan melestarikan hidup kita. Mencintai sesuatu bukan hanya mengingat dan menghayati dalam hati tetapi juga diabadikan dalam hati. Karenanya, cinta akan abadi jika yang mengadakan (menawarkan) adalah yang Abadi juga. Secara kosmik, Allah itu tetap mencintai kita. Dengan kata lain, Allah yang sama yang telah menciptakan alam semesta juga mencintai kita. Maka cinta itu juga bersifat kosmik, dan Ia tidak bisu. Karenanya, alam juga merupakan perwujudan (manisfestasi) dari kemuliaan dan cinta Allah. Seperti yang dikatakan oleh Mazmur: langit, gunung dan samudera juga memuji keagungan dan kemuliaan yang Ilahi. Jadi, alam tidak bisu, tidak diam begitu saja. Para pembaca budiman, rupanya hidup bukan sekedar makan-minum, bukan sekedar menjalani hidup melainkan juga bagaimana memaknai dan menghidupi hidup itu sendiri. Dewasa ini perang semakin menjadi-jadi. Bom bunuh diri adalah senjata ampuh melumpuhkan lawan.
Globalisasi (swastanisasi) kian memperdalam jurang antara si kaya dan si miskin. Singkatnya, seolah hidup adalah kematian, penderitaan, kemiskinan. Oleh karena itu, sebetulnya yang perlu kita renungkan adalah apa artinya menjadi manusia dewasa ini. Yang penting adalah bagaimana kita hidup di dalam dunia zaman kiwari yang kian mencekam. Tentu, hidup ideal adalah hidup dalam tatanan yang damai, berada dalam suasana humanitas, saling menghargai, mementingkan rekonsiliasi serta menjunjung tinggi norma dan hukum yang berlaku. Namun, hidup ideal itu kontras dengan hidup faktual.
Hidup faktual itulah yang kita alami bukan hidup ideal. Walaupun demikian, hidup ideal perlu untuk mengarahkan mata kita ke hidup faktual yang ideal, layak, pantas dan berharga. Dewasa ini, hidup hanya berarti jika manusia berpartisipasi dan memiliki imajinasi untuk menciptakan “the new humanities”. Tujuannya, agar dunia ini layak sebagai tempat hunian manusia, layak sebagai tempat tinggal manusia. Manusia bukan binatang, sepanjang manusia sungguh manusiawi. Menurut Edward Schillebeeckx, manusia yang sungguh manusiawi adalah manusia yang membina “relasi” dengan diri sendiri, dengan lingkungan, dengan sesama manusia, dan memiliki utopi (baca: nilai-nilai). Relasi bagi Edward Schillebeext sangat penting. Terbangunnya relasi hanya terjadi jika ada cinta bukan jika ada permusuhan. Dengan kata lain, yang memutuskan relasi adalah permusuhan.
Hidup bukan sekedar bernafas. Hidup bukan sekedar muda lalu tua. Hidup bukan sekedar lahir lalu mati. Hidup bukan sekedar bertumbuh secara jasmani. Pertumbuhan manusia harus utuh: jasmani, intelektualitas, emosional, daya ciptap/psiko-motorik, imajinasi dan rohani (spiritual). Manusia sejati adalah manusia yang dapat mengalami hidupnya sendiri, tahu tujuan hidupnya dan menghargai hidupnya. Kata orang yang putus asa: hidup bukan sekedar anugrah melainkan juga bencana.
Betapa tidak, dewasa ini hidup manusia terancam oleh kemiskinan, terancam oleh berbagai kejahatan, terancam oleh penderitaan. Tidak heran jika banyak dari mereka yang mengakhiri hidupnya. Mungkin mereka berpikir: daripada saya menderita lebih baik saya bunuh diri saja. Daripada orang lain menguasai hidup saya, lebih baik saya yang menguasai hidup saya dengan bunuh diri saja. Kesimpulan kaum fatalis ini tentu tidaklah tepat. Sebab, bagaimanapun hidup itu adalah anugrah terbesar dari sang Pencipta. Yang dituntut dari kita, manusia adalah apakah kita mampu melihat cinta Allah di balik pengalaman kontras? Apakah kita tetap percaya dan mempercayakan hidup kita pada Allah walau kita dilanda derita? Apakah kita mampu bertahan hidup disaat bencana menghantam kita? Apakah kita mampu “mengatasi” penderitaan (mengatasi berarti tidak menghilangkan atau tidak mengelak dari penderitaan tetapi berusaha memakani penderitaan sehingga tidak terbelenggu oleh penderitaan itu).
Sekali lagi, hidup adalah perkara memaknai bukan sekedar menjalani. Mungkin dalam menjalani hidup, kita terseot-seot. Walaupun demikian, hidup itu mampu kita alami jika kita mampu mengambil hikmat di balik keterseot-seotan itu. Pengalaman negativitas hidup hanya dapat kita terima ketika kita mampu memaknainya. Landasan dari semuanya ini adalah iman dan pengharapan yang mau melakukan sesuatu atau mau berjuang bukan hanya diam. Keputus-asaan hanyalah tindakan yang mencelakakan kita. Sebab jika berlaku demikian, kita menutup pintu pengharapan bagi hidup kita sendiri. Selamat mengalami hidup. Semoga sukses selalu. ***
* Postinus Gulö adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung
Referensi:
1. Prof. Dr. Ign. Bambang Sugiharto, Notulensi Kuliah-kuliah Logika dan Bahasa, Bandung, FF, 2006
2. Pst. Agustinus Rachmat Widiyanto, OSC., L.Ph, Notulensi Kuliah-kuliah Epistemologi, Bandung, FF, 2005

Yohanes AD Purnomo berkata
I like this…