SIMAK

Gagasan, ide, opini, refleksi, resensi-tinjauan, dan sharing dari Postinus Gulö

  • ..



    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    widget

  • Blog Stats

    • 26,288 hits
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Kategori Tulisan

  • Arsip

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Maret 2008
    S S R K J S M
    « Feb   Mei »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • .

  • Mempermainkan Keadilan-Sejarah Indonesia Tak Terlupakan

    Selasa, 3 November 2009. Itulah sejarah Mahkamah Konstitusi yang diketuai Mahfud MD mengukir sejarah baru. Membuka rekaman upaya kriminalisasi terhadap pimpinan KPK Bapak Bibit dan Candra. Rekaman itu diperdengar kepada khalayak umum. Saya termasuk yang penasaran sehingga betah mendengarkan rekaman itu via stasiun TVOne dari jam 11 s/d 16. 05 sore. Sakit..sakit....rekaman itu sungguh merobek-robek rasa keadilan. Ternyata di negeri Indonesia, mafia peradilan masih berkuasa. Aparat penegak hukum seolah sudah diborgol oleh para koruptor! Sejarah ini sejarah Indonesia. Jangan dilupakan.

  • Komentar Pengunjung

    Ferry di Apa Itu Neoliberalisme?
    Postinus di Apa Itu Neoliberalisme?
    frans lubis ,SE. di Apa Itu Neoliberalisme?
    bang sat ria di Apa Itu Hidup?
    wahyuindrawan di Apa Itu Hidup?
    dede fadillah di Istilah dan Sejarah Meditasi d…
    Postinus di Sikap Positif
    Postinus di “Terima Kasih, Penghinaan…
    OBERLIN ZEBUA di “Terima Kasih, Penghinaan…
    adi di Sikap Positif
    norman di Apa Itu Hidup?
    anto di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
    link di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
    Yohanes AD Purnomo di What is the Meaning of Li…
    Postinus di Karakter Kepemimpinan Kri…
  • Top Klik

    • Tidak ada
  • So funny

    zwani.com myspace graphic comments

  • ….

    Saudara Anda, Postinus Gulö, adalah pembuat blog ini. Ia lahir di kampung terpencil, Dangagari, Kecamatan Moro’ö, Pulau Nias. Dalam suka-duka terpaan kesengsaraan ia mampu menyelesaikan Sekolah Dasar-nya di SD Negeri 071084 Dangagari, Pulau Nias. Perjuanganlah yang menghantarnya menyelesaikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Negeri 1 Mandrehe, Pulau Nias. Berlayar ke negeri orang bukanlah cita-citanya. Namun, realita menghantarnya ke Sibolga. Di sana ia menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di SMU Swasta Santo Fransisukus Aek Tolang, Pandan dan Seminari Menengah St. Petrus Sibolga. Hidup memang bukanlah kebetulan. Tangan Allah selalu menjamah. Tidak pernah terbayangkan. Ia, lalu, menjawab "panggilan" Allah di Pulau Jawa. Tepatnya di Bandung, Jawa Barat. Bergabung ke Ordo Sanctae Crucis Sang Kristus Indonesia. Tahun 2004 s/d 2008 mendalami ilmu filsafat di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Sejak bulan Agustus 2009 mendalami ilmu teologi dan humaniora di Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan. Bapak-Ibu, Saudara-Saudari, salam dalam kasih Tuhan. Ya'ahowu

FIKSI, IDE, DAN IDEOLOGI

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 6, 2008

Tulisan ini saya awali dengan pertanyaan: apa arti sebuah ide, seperti ide tentang Allah, ide tentang keadilan, dan ide tentang kebahagiaan? Bagi William James, ideas are not solely determined by the social conditions of their time, but also by earlier ideas, or by ideas transferred from different ideological field and different social-economic contexts”, ‘ide-ide itu tidak hanya ditentukan oleh kondisi-kondisi zamannya, tetapi oleh ide-ide sebelumnya atau ide yang berbeda dalam sosial-ekonomi dalam konteks yang berbeda-beda’.  

Saya yakin bahwa ide-ide itu ditentukan oleh status atau kedudukan dan golongan sosial (terpelajar atau tidak) dari orang yang mencetuskan dan memperjuangkannya. Misalnya, ide orang kaya dengan ide orang miskin sangat berbeda. Orang kaya cenderung anti Pedagang Kaki Lima (PKL). Dengan alasan: mengakibatkan jalan macet dan bahkan mengganggu pejalan kaki. Lain halnya orang miskin. Mereka malah pro PKL. Dengan alasan, barang-barang ada di sekitar mereka, bisa dijangkau, bisa tawar-menawar. Jadi, seni berbicara dengan sendirinya terpraktekkan.  

 Harus diakui bahwa di balik ide ada bisnis, ada proyek politis yang cenderung mencari keuntungan. Misalnya, ide melakukan cacah jiwa semasa Kaisar Agustus di seluruh Imperium Roma. Ide itu sarat kepentingan. Kepentingan untuk menentukan jumlah populasi sehingga dengan demikian bisa ditentukan berapa upeti dan pajak yang harus dibayar ke ibu Kota Roma.

Demikian juga di Indonesia. Jika orang Indonesia ke luar negeri diharuskan mengurus surat fiskal, SKKB, surat dokter. Tujuan utama bukan untuk mengamankan tetapi mencari untung.  William James mempunyai konsepsi yang luas dan fleksibel tentang ide. Menurutnya, deretan terminologi : ide, ideologi, teori, proposisi, kurang lebih sama artinya atau yang sering disebut juga family resemblance.

Namun, di sini saya hanya memfokuskan pada dua kata saja: ide dan ideologi. Perbedaan antara ide dan ideologi (yang disebut juga sistem) bagi James adalah perbedaan dalam tingkat (in degree) bukan perbedaan dalam jenis (in kind). “Tingkat” yang berbeda yaitu perbedaan dalam “sistematis”.

Artinya berbeda dalam tingkat keluasan komprehensif dan koherensi. An idea is an implicit system; and a system is an explicit idea”: sebuah ide adalah sebuah sistem yang masih terselubung, implisit, sedangkan suatu sistem adalah sebuah ide yang sudah eksplisit (terurai), kata James. Dengan kata lain, ide adalah gagasan yang masih kabur dan fragmentaris.

Sedangkan ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu (baca: weltanschauung), sebagai akal sehat dan beberapa kecenderungan filosofis, atau sebagai serangkaian ide yang dikemukakan oleh kelas masyarakat yang dominan kepada seluruh anggota masyarakat (definisi ideologi Marxisme).  Ada dua syarat gagasan dapat disebut ideologi.

Pertama, gagasan tersebut dapat dipakai sebagai sarana penyelesaian masalah hidup. Jadi, ideologi harus unik karena harus bisa memecahkan problematika kehidupan.

Kedua, suatu gagasan layak disebut ideologi jika ia meliputi metode penerapan, penjagaan, dan penyebarluasan ideologi. Jadi, ideologi harus khas karena harus disebarluaskan ke luar wilayah lahirnya ideologi itu. Dengan kata lain, suatu ideologi bukan semata-mata berupa pemikiran teoretis seperti filsafat, melainkan dapat dijelmakan secara operasional dalam kehidupan sehari-hari. Dari uraian ini, ideologi adalah gagasan yang terurai secara teratur, “system is well order whole”.  

William James membedakan ide dan fiksi. Bagi dia, keduanya merupakan buah pikiran manusia. Masalahnya, apa perbedaan keduanya dan di mana letak perbedaannya ? Menurut James, perbedaan antara ide dan fiksi terletak pada degree of conviction (perbedaan dari tingkat kepercayaan) kita tentang ide dan fiksi itu sendiri. Ide disebut believable; sedangkan fiksi disebut unbelievable. Sesuatu itu hanya sebuah ilusi jika kita menganggap sesuatu itu tidak bisa dipercayai. Jadi, ide itu believable for me or for people.

Antara believable dan unbelievable berbeda dalam hal tindakan. Suatu ide disebut believable jika kita menjadikannya sebagai dasar bagi tindakan kita. Dan disebut fiksi jika kita tidak berani menjadikannya sebagai dasar dari suatu tindakan. Maka banyak ide yang dianggap kelompok tertentu sebagai believable tetapi bagi yang lain tidak (unbelievable).  Yang dipersoalkan oleh James adalah what is the meaning of an idea?.

Misalnya, apa arti kebahagiaan. Bagi James, ide adalah plan of action (rencana tindakan) yang akan kita lakukan guna meraih atau menghindari sesuatu. Maka arti dari ide itu berbeda-beda. Ide kebahagiaan bagi hedonis berbeda bagi kaum religius. Bagi hedonis bisa saja mereka artikan bahwa kebahagiaan adalah rencana untuk memuaskan keinginan sendiri. Sedangkan bagi kaum religius, kebahagiaan adalah rencana untuk menyenangkan dan melakukan kehendak Allah. Ide tentang surga, misalnya, baik Kristen, Islam, Budha maupun Hindu berbeda dalam memaknainya. Bagi Kristen surga itu diibaratkan sebagai tempat di mana orang tidak kawin dan tidak dikawinkan. Pemahaman Islam, tentang surga adalah 1001 malam.

Sedangkan Budha, memahami surga sebagai situasi pudarnya segala nafsu, dan bagi Hindu, surga adalah sunyata, nothing, lain dari apa yang kita alami.  Menurut kaum Skolastik (Tomistik), makna dari suatu ide identik dengan defenisinya. Karena itu setiap kata, ide, konsep dirumuskan dengan jelas, agar tertangkap maknanya. Contoh, apa makna dari konsep Allah ? Aristoteles dan Thomas mengatakan Allah itu actus purus (aktivitas murni).

Kata actus harus dimengerti sebagai aktualisasi diri dan dikontraskan dengan potensi, kemungkinan. Actus purus artinya segala kemungkinan sudah terwujud dan tidak ada potensi yang belum terwujud padaNya, semuanya sudah terealisasi di dalam Allah. Pada Allah tidak ada kemungkinan, maka Ia adalah realitas sempurna. Semuanya sudah terungkap padanyaNya (jadi Allah perfek).  Contoh lain, Spinoza mengatakan Deus est causa sui et causa omnium (Allah menciptakan dirinya sendiri dan semua yang lain). Jadi, “makna” identik dengan defenisi, pengertian dari kata ide, konsep.

Defenisi sering disebut denotasi yang dibedakan dengan konotasi. Denotasi adalah defenisi. Dengan kata lain defenisi dan denotasi adalah arti utama dan pertama (primer) dari suatu ide. Sedangkan konotasi itu adalah arti sekunder dan tambahan dari suatu ide. ***  

* Postinus Gulö adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung  

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>