SIMAK

Gagasan, ide, opini, refleksi, resensi-tinjauan, dan sharing dari Postinus Gulö

  • ..



    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    widget

  • Blog Stats

    • 24,595 hits
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Kategori Tulisan

  • Arsip

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Maret 2008
    S S R K J S M
    « Feb   Mei »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • .

  • Mempermainkan Keadilan-Sejarah Indonesia Tak Terlupakan

    Selasa, 3 November 2009. Itulah sejarah Mahkamah Konstitusi yang diketuai Mahfud MD mengukir sejarah baru. Membuka rekaman upaya kriminalisasi terhadap pimpinan KPK Bapak Bibit dan Candra. Rekaman itu diperdengar kepada khalayak umum. Saya termasuk yang penasaran sehingga betah mendengarkan rekaman itu via stasiun TVOne dari jam 11 s/d 16. 05 sore. Sakit..sakit....rekaman itu sungguh merobek-robek rasa keadilan. Ternyata di negeri Indonesia, mafia peradilan masih berkuasa. Aparat penegak hukum seolah sudah diborgol oleh para koruptor! Sejarah ini sejarah Indonesia. Jangan dilupakan.

  • Komentar Pengunjung

    Postinus di Sikap Positif
    Postinus di “Terima Kasih, Penghinaan…
    OBERLIN ZEBUA di “Terima Kasih, Penghinaan…
    adi di Sikap Positif
    norman di Apa Itu Hidup?
    anto di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
    link di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
    Yohanes AD Purnomo di What is the Meaning of Li…
    Postinus di Karakter Kepemimpinan Kri…
    Yohanes AD Purnomo di Karakter Kepemimpinan Kri…
    yoshimori di Apa Itu Neoliberalisme?
    bambang di Sikap Positif
    michail huda di Apa Itu Neoliberalisme?
    El Fajr Yumiraz di Apa Itu Neoliberalisme?
    azam-personal di Apa Itu Neoliberalisme?
  • Top Klik

    • Tidak ada
  • So funny

    zwani.com myspace graphic comments

  • ….

    Saudara Anda, Postinus Gulö, adalah pembuat blog ini. Ia lahir di kampung terpencil, Dangagari, Kecamatan Moro’ö, Pulau Nias. Dalam suka-duka terpaan kesengsaraan ia mampu menyelesaikan Sekolah Dasar-nya di SD Negeri 071084 Dangagari, Pulau Nias. Perjuanganlah yang menghantarnya menyelesaikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Negeri 1 Mandrehe, Pulau Nias. Berlayar ke negeri orang bukanlah cita-citanya. Namun, realita menghantarnya ke Sibolga. Di sana ia menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di SMU Swasta Santo Fransisukus Aek Tolang, Pandan dan Seminari Menengah St. Petrus Sibolga. Hidup memang bukanlah kebetulan. Tangan Allah selalu menjamah. Tidak pernah terbayangkan. Ia, lalu, menjawab "panggilan" Allah di Pulau Jawa. Tepatnya di Bandung, Jawa Barat. Bergabung ke Ordo Sanctae Crucis Sang Kristus Indonesia. Tahun 2004 s/d 2008 mendalami ilmu filsafat di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Sejak bulan Agustus 2009 mendalami ilmu teologi dan humaniora di Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan. Bapak-Ibu, Saudara-Saudari, salam dalam kasih Tuhan. Ya'ahowu

Syarat Menjalin Relasi Harmonis

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 6, 2008

Dalam bukunya “The Seven Habits of Highly Effective People”, Stephen R. Covey pernah mengusung landasan utama yang harus dimiliki oleh setiap manusia (jika ia mau berhasil dalam berelasi dengan orang lain), yaitu “personality ethics” (etika kepribadian). Menurut beliau personality ethics (PE) pada dasarnya mengambil dua jalan:

Pertama, teknik berhubungan dengan manusia atau masyarakat. Kedua, sikap mental positif (SMP) atau positive thinking (husnu-dzon). Nah, bagaimana mengaktualisasikan kedua “jalan” ini? Langkah pertama dan utama yang harus kita lakukan adalah: memperhatikan (mengevaluasi dan mengoreksi) persepsi kita sendiri. Mengapa? Karena persepsi itu bagai “lensa”: jika lensa yang kita pakai berwarna merah maka apapun yang kita lihat menjadi merah. Jadi, ketika kita “berpikir” tentang sesuatu jangan-jangan lensa yang kita pakai justru lensa yang tidak benar, bukan lensa yang seharusnya. Itu sebabnya perlu mengoreksi lensa berpikir kita.

Seorang teman bercerita: “saya pernah ditegur oleh atasan saya gara-gara pangkasan rambut terlalu pendek. Dengan nada ketus, beliau bilang, rambut kamu itu, saya tidak suka, kok terlalu pendek. Lain kali jangan seperti itu. Tidak sopan!” Lihat, atasan teman saya ini sedang asyik dengan persepsinya sendiri. Ia yakin bahwa apa yang ia pikirkan, benar. Dan bahkan ia paksa: harus dituruti oleh bawahannya. Ia lupa bahwa apa yang ia pikirkan hanyalah ungkapan egonya yang notabene hanya berdasarkan pada persepsinya. Mana ada patokan bahwa rambut pendek, tidak sopan? Masalah potongan rambut kan urusan pribadi seseorang.

Harusnya beliau bertanya: mengapa saya tidak suka melihat rambut bahawan saya ini? Jangan-jangan saya sedang membencinya, ada apa dengan diri saya? Ingat, gara-gara perbedaan persepsi tak sedikit orang yang terperangkap dalam permusuhan, perseteruan, kebencian, ketidak-haromonian.

Dari uraian di atas kelihatannya yang mau disasar adalah bahwa kita, manusia mesti “sekali-kali” melihat diri sendiri apakah kita selama ini “merasa benar” atau “mencari yang benar”. Karena jika kita hanya dikompasi oleh ide dan juga persepsi kita sendiri, kita menjadi “buta” melihat bahwa kita sendiri telah berlaku salah dalam melangkahkan kaki untuk berjalan mencoba melepas segala belenggu yang seharusnya bukan belenggu yang datang dari luar melainkan karena kita tak mampu mengelak.

Bahkan jika kita hanya merasa benar di hadapan teman kita sendiri, kita akan dijauhi. Tidak disukai. Boro-boro kita diacuhkan, malah dinggap sebagai “duri”. Sikap mental positif (SMP) butuh internalisasi dan aktualisasi bukan hanya teori. Nah, yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita mengaktualisasikan SMP ini jika persepsi kita sendiri masih juga kita “lestarikan” seperti sediakala walaupun seolah kita telah ubah?

Selain personality ethics, Covey melihat bahwa seseorang akan berhasil menjalin relasi harmoni dengan orang lain, jika orang bersangkutan memiliki character ethics (etika karakter): rendah hati, mampu mengendalikan diri, memiliki keberanian, integritas, rajin, sabar, sederhana, santun, mengusung nilai-nilai keadilan dan selalu mengaktualisasikan Kaidah Emas: memperlakukan orang lain seperti dia memperlakukan dirinya sendiri.

Lebih jauh Covey bersabda lagi: “sikap Anda menentukan ketinggian posisi Anda dan senyuman Anda menghasilkan lebih banyak teman daripada jika Anda hanya mengerutkan dahi”. Dengan kata lain, Covey lebih mengedepankan hospitality (keramahan) daripada hostility (permusuhan). Ide semacam ini membuat diri saya tergugah: adalah lebih penting jika manusia menyadari diri sebagai homo socius (sebagai teman) dan bukan hanya homo homini lupus (bukan sebagai serigala). Anda setuju?

  

* Postinus Gulö adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung

  

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>