Arah Pendidikan
Ditulis oleh postinus di/pada Desember 10, 2008
Oleh Postinus Gulő*
Ada pemeo Latin yang menyinggung tujuan utama persekolahan/pendidikan. Pemeo Latin itu berbunyi: Non scholae sed vitae discimus (hendaknya sekolah bukan hanya untuk nilai melainkan untuk hidup). Artinya – meminjam kata-kata Fidelis Waruwu – kita belajar bukan hanya untuk sekolah (ujian/nilai dan kepintaran) melainkan untuk hidup (we learn no for school, but for life). Pendeknya, ilmu dan pendidikan yang didapat di bangku sekolah hendaknya membentuk karakter sang pelajar/sajana untuk lebih berakhlak baik, mampu hidup sebagai manusia. Pemeo Latin itu hendak menegaskan bahwa peserta didik tidak hanya dibekali daya “mengetahui” melainkan mereka juga disadarkan pada bagaimana “mempraktekkan dan menemukan”. Tujuannya agar peserta didik tidak hanya pintar “berteori” tetapi sekaligus ahli “bertindak baik dan benar”.
Akhir-akhir ini, pemeo Latin itu telah digeser – salah satunya – oleh pelaku ekonomi/pebisnis: sekolah bukan untuk menimba ilmu hidup melainkan untuk menimba keahlian bekerja. Sekolah bukan untuk belajar berempati melainkan untuk berkompetisi. Maka, tidak heran jika kaum kaya-pebisnis jarang tersentuh hatinya oleh realitas kehidupan kaum miskin.
Yang terkandung dalam ilmu hidup adalah logos (intellectual skills), eros (emotion skills), ethos (affective and spiritual skills) dan pathos (sympathy skills or solidarity skills). Artinya, ilmu hidup mampu mengintegrasikan dan mengolah tiga elemen yang mesti dibekali pada setiap peserta didik: hands (kemampuan bertindak/psikomotorik), heart (kemampuan menghidupi) dan head (kemampuan berpikir). Nah, pelaku ekonomi hanya menekankan kemampuan di tingkat hands dan head, tetapi melupakan elemen “heart skills”: kemampuan untuk memperhatikan nasib orang miskin dan tak berdaya bersaing di pasar.
Pergeseran arah pendidikan itu tampak, misalnya, dalam pandangan Murphy. Kevin M. Murphy (dalam artikel: “Education and Work”) berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan adalah untuk mencari keahlian bekerja. Maka, bagi Murphy pendidikan ibarat investasi dan modal dalam kegiatan ekonomi. Yang menentukan pertumbuhan ekonomi adalah knowledge and skills yang merupakan akumulasi dari human capital. Maka Murphy pernah berkata: “…markets determine wages and employment, capital refers to human capital, and human capital investment refers first and foremost to investment in education. Human capital, defined as the stock of workers and theirs skills…investment in education alone exceeds investment in all physical assets. From and economic perspective, education is important. The true source of economic growth is the accumulation of knowledge and skills, that is, the accumulation of human capital…One of the main ways of investing in human capital is education…Today, investments in education pay and pay well…” Kata-kata Murphy ini memang benar dan masuk akal. Namun, tujuan pendidikan bukan hanya untuk dunia ekonomi.
Menurut Murphy, keterampilan dan keahlian merupakan bagian dari human capital yang bisa didapat dari proses pendidikan. Orang yang sedang menimba ilmu-pendidikan ibarat orang yang sedang melakukan investasi, menanamkan modalnya di sebuah bank. Orang yang berpendidikan memiliki intellectual capital and skill capital dan bukan hanya sekedar physical capital. Jika merujuk pada Murphy, guru berarti hanya pribadi yang melatih anak didiknya untuk ahli bekerja. Padahal, jauh sebelum Murphy, Confusius pernah berkata bahwa pendidik sejati adalah pribadi yang terus berusaha menyadarkan muridnya akan potensi dan talenta yang dimiliki sang murid. Guru tidak hanya berusaha menyadarkan anak didiknya pada kemampuan bekerja!
Menurut hemat saya, sudah saatnya kita kembali membatinkan pemeo Latin: Non scholae sed vitae discimus. Selain itu, kita juga wajib mengakomodir 4 pilar pendidikan dari UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).
Pertama, learning to know: belajar untuk mengetahui lebih banyak varietas ilmu. Semakin banyak mengetahui, peserta didik diharapkan mampu bertindak bijaksana, tidak hanya berpikir secara sekuensi-dogmatis (lurus dan kaku), melainkan secara kon-sekuensi-kritis adaptif/tolerantif. Salah satu masalah besar rakyat Indonesia dewasa ini adalah kepicikan berpikir. Dalam arti cenderung sekuensi-dogmatis (fanatik dan intolerantif).
Kedua, learning to do: belajar untuk melakukan dalam rangka menyelesaikan masalah dan mengerjakan sesuatu. Di sini yang disasar adalah psikomotorik sang pelajar. Atau kemampuan bertindak dan daya kreativitas. Banyak peserta didik yang lemah daya kreatifnya. Mengapa? Karena kebiasaan berlatih kurang dibudayakan.
Ketiga, learning to be: kemampuan untuk menjadi-berkembang-bertumbuh sebagai manusia yang ideal.
Keempat, learning to live together: kemampuan untuk hidup berdampingan dengan orang lain. Anak didik mulai disadarkan untuk mencintai orang lain. Seperti kita tahu, manusia kiwari justru menjadikan perbedaan, golongan, suku, agama sebagai penyebab terjadinya konflik. Hal itu terjadi, mungkin karena belum mampu menerima kehadiran yang lain (the others). Selain itu, anak didik diarahkan agar mereka memiliki kesadaran akan nilai empati dan mau solider dengan orang lain. Artinya, UNESCO mengharapkan peserta didik tidak hanya “a knower and doer” melainkan sebagai “a self-finder and social-care-taker. UNESCO sadar bahwa tujuan utama pendidikan adalah untuk memanusiawikan manusia.
Postinus Gulő adalah alumnus Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.
