“Terima Kasih, Penghinaan”
Ditulis oleh postinus di/pada September 24, 2009
Sebuah negeri hanya dihuni puluhan orang. Negeri itu indah dan makmur. Negeri suci. Negeri panggilan. Hidup tertata. Aturan hidup ada. “Hospitalitas” adalah semangat hidup mereka. Entah apa arti kata itu. Seolah tak berarti karena tak pernah dilakoni oleh penghuni yang sering mencetuskannya. Kata orang, jika kata itu dihayati oleh seseorang maka ia begitu ramah. Wajahnya berseri tidak menakutkan. Seseorang yang menghidupi “hospitalitas” berhati indah. Ia berpikiran jernih. Kata-katanya menyembuhkan. Tutur katanya enak didengar. Tidak bernada interogatif!
Di negeri itu dihuni sang guru berbagai karakter. Seorang guru memiliki karakter “luar biasa”. Ia simbol keketusan, kesombongan dan kebohongan. Kata-katanya penuh pembenaran dan penghinaan. Tutur bicaranya hampir selalu menyudutkan. Seolah semua ia tahu. Ia barangkali seperti pengidap psikopat. Seorang guru lain tampak bijak. Bicara begitu pelan. Sering unjuk gigi menunjukkan kehebatannya. Tapi ia sering melupakan tanggung jawabnya. Guru lainnya lagi aneh. Ia simbol kebodohan. Tak punya wibawa. Entah kenapa.
Negeri itu kaya pengalaman menarik. Menarik karena aneh bin ajaib. Pemikir sekaliber Sunitsop Őlug punya cerita mengenai negeri itu. Di suatu siang, penghuni negeri berjamu bersama. Canda tawa mengawali perjamuan. Persahabatan itu yang terlihat. Mereka saling cerita. Melucu. Tapi berakhir menghina. Peristiwa itu ibarat panggung teater komedi-tragedi.
Seorang guru bertanya kepada muridnya. “Apakah kamu bahagia di tempat di mana kami mengutusmu?”. Sang murid menjawab. “Ya bahagia”. Murid itu agak jengkel setiap mendengar pertanyaan itu. Sebab sang murid tahu persis dari siapa pertanyaan itu. Bukan dari sang guru yang sering menghina itu.
Biasanya sang guru itu bertanya pura-pura tidak mengerti. Ia bertanya apa saja sampai teman bicaranya kapok di depan matanya. Itulah karakternya. Maka sesungguhnya ia bukan guru. Bagi Sunitsop, seorang guru adalah sahabat bagi muridnya. Bahkan kata, Konfusius, guru sejati adalah pribadi yang membawa muridnya untuk mengetahui talentanya. Sunitsop dan Konfusius memahami peran guru sebagai pribadi yang menumbuhkan, menuntun dan mengayomi sang murid.
Dalam jamuan siang itu terjadi peristiwa menggelikan. Dari dua arah, tiba-tiba terdengar pernyataan yang berbeda dari dua guru. Isinya menghina murid yang sedang duduk makan di depan sang guru. Sang murid terdiam sejenak. Ia merenungkan pernyataan yang baru terlempar bagai peluru mengena di ulu hatinya. Logisnya sang murid marah, jengkel walau sebatas di hati. Raut wajah sang murid menjadi berubah. Kadang merah kadang pucat. Kekecewaan menghantui hatinya. Ia kecewa karena gurunya sendiri menghinanya. Perjamuan makan berakhir tanpa ada lagi canda ria. Berakhir begitu saja sejuta kesan.
Aneh bin ajaib. Sang guru rupanya marah. Ia marah pada sang murid yang berubah raut wajah. Pokoknya ia menganggap sang murid salah. Lantas peristiwa itu menjadi peristiwa keretakan. Relasi sang murid dan sang guru menjadi retak. Tidak saling sapa. Sunitsop heran. Ia bertanya-tanya lho siapa yang salah? Siapa yang menghina? Siapa yang seharusnya marah? Kok fakta diputarbalikan? Pimpinan negeri mendadak mengadakan rapat khusus. Sebagian penghuni negeri menghadirinya. Rapat itu rupanya bukan rapat sesungguhnya. Obrolan rapat itu ibarat obrolan di warung judi. Para murid terbuka. Bagi mereka keterbukaan adalah kejujuran. Apa yang dialami diungkapkan. Itu bukan kritik. Tapi evaluasi. Tindakan ini penting. Penting terutama agar saling memahami.
Sunitsop berpendapat understanding rather than judgment, memahami daripada menghakimi. Tapi ini kenyataan. Yang baik tidak selalu dianggap baik. Yang benar tidak selalu dianggap benar. Bagi seorang guru, sharing sang murid rupanya dipahami sebagai tindakan agresif. Bahkan pertanda bahwa murid inferior. Artinya, sang guru itu judgment rather than understanding, menghakimi daripada memahami.
Lagi-lagi Sunitsop heran setengah tidak percaya. Kok itu yang terjadi. Sunitsop kalang kabut. Pusing bercampur kecewa. Ternyata niat baik tidak selalu dianggap baik. Sunitsop tertunduk sambil bertanya dalam hati. “Apakah gara-gara murid itu mengungkapkan rasa amarahnya, lantas layak disebut agresif dan inferior? Siapa sebenarnya yang agresif dan inferior? Jangan-jangan sang guru itu! Pertanyaan Sunitsop cukup beralasan. Apapun yang dikatakan sang murid itu selalu ditangkis oleh sang guru pengidap psikopat itu. Bukan sekedar ditangkis tapi disalahkan. Maka, masuk akal jika Sunitsop terus merenungkan apa itu kebenaran. Jangan-jangan kebenaran ada kaitannya dengan otoritas.
Dalam peristiwa ini, sang guru merasa selalu benar walau ia salah. Maka,. kebenaran sebenarnya adalah kesalahan. Sunitsop menyadari diri sebagai pemikir, pencinta dan pencari kebijaksaan. Maka ia tidak frustrasi. Dalam hatinya terlintas kata-kata filsuf Karl Raimud Popper: seseorang layak disebut sebagai pimpinan jika ia mau dievaluasi dan mengevaluasi diri. Bagi Popper self-critical itu penting. Rapat khusus itu tidak menghasilkan niat-niat baik. Terutama bagi sang guru. Apa yang diungkapkan sang murid lantas menjadi buah bibir sang guru. Ia ceritakan kepada siapun tapi hanya sepotong saja: murid marah-marah melulu. Sang guru berusaha agar pendengarnya menyalahkan sang murid. Tidak hanya itu, sang guru seolah mencari massa bahwa ia tidak salah.
Sunitsop tentu merasa kasihan sama sang murid. Sudah dihina dipersalahkan pula. Di setiap kesempatan sang guru itu hampir selalu menyinggung peristiwa sharing itu. Intinya, sang murid itu layak sebagai orang yang salah. Di panggung suci pun ia wartakan peristiwa itu. Mungkin hingga kini sang guru itu belum sadar bahwa apa yang ia katakan adalah kebohongan. Ia tidak tahu bahwa para murid tertawa dalam hati mendengar kata-katanya. Bukan hanya tertawa tapi gerah dan heran kok guru ini masih mau tinggal di negeri suci ini. Sebab, ia menodai kesucian dan panggilan sang murid. Ia menjadi gangguan dan pembuat masalah. Mungkin Tuhan Allah juga menutup telinga ketika mendengar kata-kata sang guru itu.
Tapi patutlah kita meniru sikap Sunitsop. Walau ia terluka. Kecewa. Terheran-heran. Sunitsop tetap bersyukur: “terima kasih, penghinaan”. Sunitsop sadar betul bahwa peristiwa ini adalah berharga.

OBERLIN ZEBUA berkata
frater mau bertanya
1. bagaimana belajar dengan guru yang tidak disenangi?
2. cara belajar untuk anak remaja iyu
harusnya bagaimana?
krn biasanya anak remaja mudah terpengaruh n suka bermain.
3. bagaimana mengurangi atau menghilangkan sifat grogi n takut
di dalam kelas….
karena saya biasanya saya grogi bertanya n menjawab pertanyaan.
” TERIMAKASIH, YAAHOWU “
Postinus berkata
1. Kamu harus sadar bahwa membenci guru kita yang rugi. Massa kita menjadikan alasan malas belajar atau rajin belajar karena guru. Jangan lihat perilaku gurunya ttapi cobalah pahami dan renggut ilmunya. Belajar dgn memotivasi diri sendddiri krn Anda berhasil Anda pula yg menikmati
2. Anak muda mesti menyadari bahwa mempersiapkan diri sejak dini sangat ptg. Cobalah belajar dgn teratur dan lawanlah keinginan-keinginan. Biasanya anak muda banyak keinginan sehingga mudah terpengaruh. Belajar secara disiplin, sadar waktu. prioritas anak sekolah adalah belajar!
3. Anggaplah Anda bisa tampil seperti yang lain. Lupakanlah kekurangan Anda sehingga tidak rendah diri atau minder. Harus berani memulai bertanya dgn santai, jangan takut sebelum bertanya.
Trims Ya’ahowu.