Semua orang ingin sukses. Tetapi mereka kurang mengetahui kunci-kuncinya. Saya menemukan beberapa kunci untuk sukses.
Pertama, kepercayaan diri (self-confidence), saya singkat SC saja. SC inilah yang mendorong orang untuk eksploratif, kreatif dan inovatif. Jika seseorang memilki SC yang kuat ia tidak minder akan apa yang ia miliki. Efeknya, ia berani mengonfrontasikan pengetahuan dan tindakannya dengan pengetahuan dan tindakan orang lain. Fenomena yang sering terjadi: kalah sebelum bertanding. Artinya, tidak mau mencoba, malu sama orang lain. Ia melihat orang lain lebih hebat darinya. Ia melihat dirinya tidak punya apa-apa alias rendah diri.
Kedua, inisiatif (sisi psiko-motorik). Inisiatif adalah pintu untuk melangkah. Jika tidak punya inisiatif, maka orang tidak akan berbuat apa-apa untuk masa depannya. Coba perhatikan fenomena dewasa ini, banyak orang yang tidak punya inisiatif. Mereka lebih suka diperintahkan daripada sadar sendiri. Maka, mungkin benar apa yang dikatakan oleh mantan Wakil Presiden, M. Jusuf Kalla: orang Indonesia jangan hanya diajak tapi diperintahkan. Tumpulnya inisiatif bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, pikiran-pikiran yang belum tentu nyata. Misalnya, sebelum bertindak sudah memikirkan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi. Coba, seandainya yang dipikirkan adalah peluang. Saya rasa kita semakin berinisiatif untuk bertindak banyak hal. Kedua, takut menghadapi tantangan. Menghindar dari tantangan. Bukan mencari kiat menghadapi tantangan. Tantangan-tantangan hidup dibayangkan seperti gunung yang menimpa dirinya. Daud adalah tokoh legendaris yang patut kita contoh. Ketika dia berdoa yang ia minta pada Tuhan bukan agar Tuhan menjauhi tantangan darinya. Akan tetapi, ia minta kearifan, kebijaksanaan agar ia mampu mencari solusi secara bijaksana juga.
Ketiga, persiapan. Jika kita memiliki self-confidence dan inisiatif, maka kunci berikutnya adalah persiapan. Persiapan-persiapan sangat dibutuhkan sehingga jika ada “peluang karir” kita sudah punya modal. Persiapan bisa dilakukan melalui latihan, menyerap berbagai macam informasi. Memiliki daya kuriositas (ingin mengetahui banyak hal). Jangan salah, persiapan-persiapan semacam inilah yang membuat kita memiliki SKILL (keahlian), CAPABILITY (kemampuan). Kedua hal ini saya singkat SCA. SCA mendorong kita untuk mencapai keberhasilan-keberhasilan tertentu (achievement). Artinya, Anda tidak pernah bisa mencapai sesuatu tanpa ada usaha untuk mempersiapkan diri. Coba Anda tanya kepada siswa SMA apa cita-cita mereka. Banyak yang menjawab: ingin sukses. Cita-citanya kabur. Setelah itu tanya lagi, apa yang kamu perbuat sehingga kamu sukses. Mereka banyak yang bingung. Artinya, mereka ingin sukses tapi tidak memikirkan bagaimana caranya meraih kesuksesan itu. Hidup adalah ibarat sebuat bangunan. Jika bangunan dirancang dan direncanakan secara matang maka akan kokoh. Biar diterpa badai tantangan tetap berdiri tegak. Sebaliknya, jika sebuah bangunan dirancang dan direncanakan serampangan maka hasilnya gampang lapuk, roboh dan hancur.
Keempat, kesempatan (chance). Kesempatan itu ada. Cuma kita kadang sulit menemukannya. Barangkali kalau sudah menemukan, tetapi kita belum siap. Maka kesempatan itu diambil orang lain. Oleh karena itu, jika Anda ingin agar kesempatan tidak raib di depan Anda, persiapkanlah dirimu. Benahilah dirimu dengan berbagai keahlian dan kemampuan, yang tidak didapat di bangku sekolah atau kuliah.
Kelima, relasi (relationship). Kunci kelima ini menentukan juga. Kadangkala kita punya keahlian. Akan tetapi, karena kita tidak punya relasi yang baik maka kesempatan itu raib di hadapan kita. Prinsipnya, kita tidak mungkin hidup jika sendiri. Kita membutuhkan peran orang lain. Maka, memperluas jaringan itu akan menggampangkan kita meraih kesempatan emas. Selamat mempraktekkan.
By Postinus Gulö
