SIMAK

Gagasan, ide, opini, refleksi, resensi-tinjauan, dan sharing dari Postinus Gulö

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..



    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 88,362 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Desember 2010
    S S R K J S M
    « Nov   Jan »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  

Perjuangan Menyelamatkan Bahtera Keluarga dalam Film Fireproof

Posted by postinus pada Desember 17, 2010


Oleh Postinus Gulö

Film ini menarik dan reflektif. Menarik karena di dalamnya diungkap secara dramatis penyebab karamnya bahtera keluarga Kapten Caleb Holt dan Catherine Holt yang telah menikah selama tujuh tahun. Caleb adalah seorang pemadam kebakaran di daerah Albania, Georgia. Catherine memiliki profesi karyawati di sebuah rumah sakit. Bahtera keluarga Caleb-Catherine hampir karam karena mereka terbenam dalam ketidaksalingan menghargai, tidak saling mempercayai, tidak saling terbuka dan saling menolak. Mereka mengalami kesulitan berkomunikasi dengan baik. Caleb-Catherine, awalnya tidak memahami bahwa perkawinan adalah consortium totius vitae (kebersamaan seluruh hidup). Perkawinan membuat dua pribadi menjadi satu daging. Dengan demikian, suka-duka, untung-malang, sehat-sakit menjadi tanggungan bersama. Kesetiaan seseorang diuji dikala mengalami kemalangan atau dukacita. Situasi ini janganlah dijadikan sebagai alasan untuk menolak pasangan! Ingat, egoisme salah satu dari pasangan pasti berefek pada pasangannya sendiri. Penyebab karamnya bahtera keluarga Caleb-Catherina akan saya ulas lebih mendalam lagi dalam paparan berikut. Selamat membaca!

 

Penyebab Karamnya Bahtera Keluarga

Ada beberapa penyebab menyalanya api percekcokkan antara Caleb dan Catherine. Hal itu terungkap dalam film dahsyat ini.  

Pertama, mis-komunikasi dan egoisme. Caleb awalnya kurang mendengarkan istrinya. Sebaliknya, Catherine berusaha berkomunikasi sarkasme dan menolak suaminya sendiri. Mis-komunikasi di antara mereka berujung pada sikap saling menyalahkan. Caleb menganggap bahwa istrinya sangat sensitif, dan tidak respek padanya (disrespectful). Sebaliknya, Catherine merasa bahwa suaminya tidak peka terhadap kebutuhannya dan bahkan tidak mau mendengarkan dia. Parahnya, perasaan saling menyalahkan ini mereka curhatkan kepada orang lain. Orang lain itu pun ada yang memberi solusi tetapi ada juga yang justru memperkeruh suasana. Menggosipkan ke sana ke mari.

Kedua, hadirnya pihak ketiga. Di dalam film ini, ada dua subjek pihak ketiga yang memperkeruh hubungan Caleb-Catherine. Pihak ketiga yang pertama adalah orangtua Catherine. Ibu Catherine sedang sakit dan membutuhkan biaya besar untuk membeli peralatan medis. Akan tetapi, Caleb justru ingin membeli perahu nelayan senilai  $24. 000. Sebenarnya, Caleb bukan tidak mau membantu keluarga istrinya. Persoalaannya terletak pada Catherine yang tidak mau terbuka pada suaminya permasalahan yang sedang ia hadapi. Caleb tidak tahu-menahu bahwa ibu Catherine membutuhkan banyak uang untuk membiayai peralatan medisnya. Caleb mengetahui kebutuhan ibu Catherine itu dari omongan teman dekatnya, Michael Simmons. Catherine pernah mengeluh kepada Michael bahwa ibunya sedang sakit dan butuh biaya. Dari peristiwa ini kita bisa melihat bahwa keterbukaan di antara mereka tak terbangun dengan baik. Di dalam membangun keluarga atau hidup komunitas seringkali bara percekcokan itu berkobar hanya karena tiadanya keterbukaan.

Kita masih ingat makna hubungan seksualitas perkawinan Katolik yang unitif, relasional dan prokreatif. Ketiga hal ini membuat pasangan suami-istri menjadi satu daging yang disempurnakan di dalam consumatum. Artinya, saling terbuka seharusnya merupakan kesadaran kedua belah pihak, baik suami maupun istri. Ingat pasangan suami-istri telah menjadi satu daging, seharusnya mereka sepikiran, seperasaan. Salah satu cara membangun kesatuan hati, pikiran dan tindakan adalah keterbukaan. Keterbukaan ini akan membantu pasangan suami-istri untuk saling memahami, saling mengerti dan saling mencintai.

Pihak ketiga yang kedua adalah Dr. Gavin Keller. Catherine jatuh hati pada Dr. Keller, seorang sejawatnya di tempat kerjanya. Bak gayung bersambung, Dr. Keller dan Catherine saling jatuh hati. Peristiwa ini mengindikasikan bahwa Catherine mulai melupakan janji pernikahannya di depan pendeta yang menyatakan bahwa ia setia menjadi istri Caleb. Catherine mulai berbohong. Ia mengaku ke Keller bahwa ia belum menikah. Cincin pernikahan di jarinya memang sudah dilepas agar lelaki menduga dia belum menikah. Keller sebenarnya sudah punya istri. Dia juga berbohong bahwa ia belum menikah.

Aneh bin ajaib. Catherine justru lebih terbuka pada Keller. Kesusahan hatinya memikirkan biaya ibunya dia curhatkan kepada Keller. Syukulah, suatu ketika Caleb berobat ke rumah sakit tempat Catherine bekerja. Caleb terluka gara-gara menyelamatkan seorang gadis kecil yang rumah orangtuanya terbakar. Kebetulan, dokter yang menangani Caleb adalah Keller. Tiba-tiba Catherine muncul menjenguk Caleb. Sontak Keller berkaca-kaca ketika Catherine mengakui bahwa Caleb adalah suaminya. Kebohongan Catherine mulai terbongkar.  

Ketiga, Pornografi. Salah satu alasan Catherine berniat menceraikan suaminya adalah karena suaminya kecanduan pornografi di internet. Barangkali itulah penyebabnya mengapa Catherine sensitif. Seolah-olah dia tidak mampu memberi kepuasan batin dan seksual kepada suaminya sehingga suaminya mencari-cari tempat pelampiasan. Jika kita dengar cerita keluarga broken home, banyak istri yang mengeluhkan karena suaminya kecanduan pornografi bahkan ingin bersetubuh dengan istrinya seperti di dalam film porno itu. Kecenderungan dan mentalitas semacam ini telah mereduksi nilai perkawinan dan tindakan consumatum hanya sebatas mencari kepuasan diri dan sarana rekreasi serta relaksasi. Pasangan hidup dijadikan sebagai alat pemuas nafsu.

Perjuangan Mempertahankan Komitmen

Film ini reflektif dan mendidik. Sangat baik jika pasangan suami-istri menontonnya. Di dalamnya diulas tidak hanya penyebab hancurnya bahtera keluarga tetapi sekaligus usaha bagaimana mempertahankan kelanggengan perkawinan walau sedang dilanda badai percekcokan.

Kehadiran ayah Caleb yakni John Holt sangat membantu Caleb merebut kembali hati sang istri tercintanya. Dalam kelelahan rohani memikirkan istrinya, Caleb memberitahu sang ayah rencana perceraiannya dengan istrinya. Akan tetapi, John Holt meminta anaknya memikirkan kembali komitmen dan janji perkawinannya. Sebagai ayah, John berusaha agar Caleb – anaknya – mau bertahan dalam keluarga sakinah yang setia. Itu sebabnya John menawarkan hari-hari penuh tantangan untuk kembali ke komitmen perkawinan selama 40 hari yang disebutnya, ”The Love Dare”. Awalnya, Caleb menolak. Tetapi, setelah ayahnya menyadarkannya, diapun menerima tawaran ayahnya itu. Setiap hari, ayahnya memberi nasehat praktis dan reflektif pada Caleb. Nasehat-nasehat itu dituliskan John dalam sebuah buku. Caleb diajak untuk berusaha mengerti istrinya, memberi yang terbaik, melayani dan memperhatikan istrinya. Caleb diajak untuk memberi peristiwa yang memorable pada sang istrinya.

Usaha demi usaha dilakukan Caleb. Mulai dari usaha mencoba untuk tidak sarkasme terhadap istrinya, menyiapkan kopi untuk istri, menata bunga romantis di ruang makan, meninggalkan kebiasaan menonton film porno, menata ruang makan menjadi semacam candle night dinner nan romantis hingga menuliskan kalimat pernyataan cinta terhadap istrinya. Tidak hanya itu, Caleb pun mulai mengurus rumah: mencuci piring, menyapu, memasak. Tetapi, apa yang terjadi Catherine tetap menolak Caleb.

Caleb hampir putus asa. Terlebih ketika ia menerima sebuah amplop yang isinya adalah surat minta cerai dari istrinya. Caleb sontak menangis. Ia berjanji bahwa ia mencintai Catherine. Caleb sudah berusaha untuk berubah: mau mengerti istri. Tetapi respek istrinya justru semakin menjadi-jadi! Caleb memberitahu ayahnya. Bahwa ia semakin putus asa. Caleb berkata pada ayahnya: “Bagaimana aku harus menunjukkan kasih kepada seseorang yang terus-menerus menolak saya?” Namun, ayahnya menjelaskan bahwa Alah pasti menunjukkan kasih-Nya kepada Caleb. Dalam keragu-raguan, Caleb membuat komitmen mengubah hidupnya untuk mencintai Allah. Dan – dengan bantuan Tuhan – ia mulai memahami apa artinya untuk benar-benar mengasihi istrinya. Di dalam kegundahannya, Caleb berani mendatangi Keller sang tambatan hati baru istrinya. Caleb menyatakan bahwa Catherine adalah istrinya. Jangan diganggu!

Hubungan perkawinan mereka mulai berkuncup dan bersemi kembali. Sejak kedatangan Caleb itu, Keller mulai mengambil jarak pada Catherine. Perubahan sikap Keller ini membuat heran Catherine. Ia mulai curiga, menduga-duga. Hatinya tidak tenang. Sampai-sampai ia jatuh sakit dan tidak masuk kerja. Catherine berbaring di rumah. Kamarnya pisah dengan suaminya. Caleb tak segan-segan mendatangi Catherine. Ia menanyakan keadaan Catherine, istrinya. Caleb membawakan obat. Lagi-lagi, Catherine terus bertanya perubahan sikap Caleb ini. Ia masih curiga dan tidak percaya bahwa Caleb setia dan memperhatikannya.

Catherine: “Suamiku Ternyata Baik!”

Prasangka demi prasangka menghiasi isi kepala Catherine. Apapun yang dilakukan suaminya agar hubungan mereka kembali harmonis tidak digubrisnya. Ada peristiwa yang menarik. Suatu saat Catherine pergi ke rumah sakit menanyakan biaya peralatan medis ibunya. Ia bergembira karena pegawai rumah sakit menyatakan bahwa biaya peralatan medis ibunya telah dibayar sebesar 24. 300 dollar. Catherine menyangka bahwa biaya peralatan medis ibunya itu dibayar Keller. Iapun berterima kasih padanya dan mengajak Keller kencan makan siang.

Akan tetapi, Catherine baru sadar bahwa ia salah sangka. Suaminya ternyata baik, mencintai dia, mengerti kebutuhannya. Hal itu terbukti ketika Catherine menanyakan kembali kepada pegawai rumah sakit siapa yang membayar biaya peralatan medis ibunya. Catherine sangat kaget penuh rasa bersalah. Ternyata suaminya, Caleb, yang membayar sebesar 24. 000 dollar. Keller hanya membayar 300 dollar.

Catherine berurai air mata. Ia selama ini berprasangka salah. Ia gagap mau bilang apa pada suaminya. Cepat-cepat ia kembali ke rumah untuk mencarai dan mengenakan cincin perkawinannya. Catherine dengan dandanan yang romantis mengunjugi Caleb di tempat kerjanya. Ia mencintai Caleb. Catherine sungguh-sungguh baru sadar bahwa ia selama ini berprasangka buruk pada suaminya. Catherine dengan penuh kesadaran dan penyesalan meminta maaf pada Caleb sang suaminya. Caleb dengan mata berkaca-kaca terheran-heran. Seolah tak yakin istrinya kembali ke pangkuannya. Mereka pun saling berangkulan. Mereka membaharui komitmen dan janji perkawinan mereka.

Ungkapan Refleksi

Bahtera keluarga akan langgeng jika dibangun di atas fondasi yang kuat. Fondasi itu antara lain adalah komunikasi yang baik, kesalingpercayaan (mutual trust), keterbukaan dan kerelaan untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan pasangan dalam suka-duka, dalam untung-malang, dan dalam sakit-sehat.  Mengingat terus-menerus janji perkwainan penting sebagai kipas yang menyalakan terus komitmen sehingga terjalin hubungan yang semakin intim antara suami istri. Di dalam film ini tampak jelas bahwa melupakan komitmen, mis-komunikasi, tidak saling percaya, tidak saling terbuka menjadi pintu bagi setan untuk mendatangkan badai perselisihan antara Caleb-Catherine.

Film yang pertama kali dirilis 26 September 2008 kemudian 14 Juli 2009 ini sangat reflektif. Ia bukan hanya menyadarkan pasutri tetapi ingin menegaskan kompleksnya membangun sebuah keluarga yang tidak didasari komitmen yang kuat. Masalah kecil menjadi masalah besar jika ditanggapi ”diam-diam saja”. Ada baiknya jika mulai disadari bahwa mengungkapkan apa yang ada di dalam hati itu kepada pasangan lebih baik ketimbang hanya menyimpannya dalam hati. Semakin membenci pasangan hidup semakin terasa luka batin itu seperti luka yang teroles cabe dan garam: perih!

Di dalam film ini, terungkap bahwa Catherine selalu curiga pada suaminya. Sikap curiga itu bukan meredam konflik melainkan menjadi bara konflik. Betapa hebatnya Caleb berjuang merebut kembali hati istrinya. Walau perubahan baiknya selalu dianggap sinis istrinya, ia tetap berjuang.  Di dalam hidup komunitas, agaknya sikap saling curiga dan negative thinking itu menjadi bara konflik. Ada orang berniat baik menegur sesama komunitasnya, tetapi ditanggapi negatif. Di saat seseorang tidak mau menegur sesama komunitasnya, dipersalahkan juga sebagai orang yang membiarkan orang jatuh dalam kesalahannya. Hidup komunitas itu, tidak seindah idealisme. Akan tetapi, seperti Caleb, hidup dalam komunitas pun perlu kesabaran dan jangan pernah mengalami ”the crisis of survival”. Spirit ”tetap berharap dalam kesulitan hidup” menjadi kartu truf ayah Caleb yang ia tularkan pada anaknya. Ini saya simpan dalam hatiku! * * *

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: