Sistem Böwö Perkawinan: Salah Satu Penyebab Kemiskinan Masyarakat Nias Barat?
Posted by postinus pada Agustus 14, 2011
Oleh Postinus Gulö*
Pengantar
Böwö adalah sebutan mahar dalam sistem adat perkawinan di Nias. Tetapi Böwö ini telah melahirkan problem baru yang tidak selalu disadari oleh masyarakat Nias sendiri. Keganjilan penerapan böwö ini juga dirasakan oleh mereka yang pernah tinggal (berkunjung) di Pulau Nias. Tidak heran jika kebanyakan orang dari luar Nias yang pernah ke Pulau Nias selalu memiliki kesan: mahar, jujuran (böwö, gogoila) perkawinan Nias mahal! Oleh karenanya ketika mereka mau (baca: akan) menikah dengan gadis Nias ada semacam ketakutan, keengganan, dan keragu-raguan. Hal ini tentu merupakan kesan buruk! Ada apa dengan sistem adat perkawinan Nias? Yang salah “sistem prakteknya” atau “masyarakat Niasnya”? Jawabannya: dua-duanya!
Arti Böwö
Etimologi böwö adalah masi-masi, nibe’e si’oroi dödö tenga ni’andrö ba tenga siso sulö (pemberian dengan kasih, pemberian yang tulus bukan karena diminta dan tanpa menuntut balas-jasa). Dari segi etimologi, böwö itu sangat baik, mengedepankan dimensi edukatif-etis dan formatif. Makna terdalam dari böwö, yakni pemberian yang dilandaskan cinta kasih, bukan material dan bukan pula tindakan memberi agar menerima! Jadi arti sejati böwö mengandung dimensi aktualisasi kasih sayang orangtua kepada anaknya: bukti perhatian orangtua kepada anaknya!
Böwö dapat juga diartikan sebagai hadiah, pemberian yang cuma-cuma. Sama halnya kalau kita memiliki hajatan, entah karena ada tamu atau ada pesta keluarga, dsb., lalu kita beri fegero kepada tetangga kita. Fegero adalah suatu tindakan yang mengandung kesadaran untuk saling memperhitungkan tetangga melalui pemberian makanan – baik nasi maupun lauk-pauk yang kita makan saat hajatan/acara tertentu – kepada tetangga kita secara cuma-cuma. Tindakan memberi fegero merupakan aktualisasi kepekaan untuk selalu berbagi, tidak egois dan untuk mempererat persaudaraan. Oleh karenanya tak heran jika masyarakat Nias menyebut orang yang ringan tangan sebagai niha soböwö sibai (orang penderma).
Lantas kenapa böwö itu seperti dikomersialkan? Indikasi pengomersialan böwö sebenarnya gampang kita lihat. Misalnya, istilah böwö sering direduksi menjadi gogoila (goi-goila: ketentuan). Malah kata gogoila yang lebih familiar di kalangan tokoh adat Nias saat ini. Untuk mencapai “ketentuan” tentu ditempuh cara “musyawarah”(yang dimediasi oleh siso bahuhuo/juru runding). Berdasarkan pengalaman saya, dalam musyawah itu terjadi “tawar-menawar” berapa gogoila yang harus dibayar oleh pihak mempelai laki-laki. Dalam menegosiasi jumlah böwö, kadang terjadi percekcokan antartokoh adat, keluarga pihak perempuan dan pihak mempelai laki-laki. Percekcokan itu sering dipicu oleh saratnya kepentingan mendapatkan bagian böwö.
Dari fenomena ini, böwö semakin direduksi maknanya: lebih dekat pada konotasi ekonomis (ibarat aktivitas jual-beli) dan bukan pada konotasi budaya yang memanusiawikan manusia, tenga sangehaogö fa’auri niha mbanua (bukan untuk menyejahterakan warga masyarakat). Jika kita melihat ke belakang, praktek böwö sebagai aktivitas jual-beli sudah ditangkap oleh tokoh terpelar Nias, Sökhi’aro Mendröfa, SH: “makna asli dari böwö, yakni kasih-mengasihi, hormat-menghormati, rangkai-merangkaikan tali persaudaraan dan kekerabatan, telah menjadi seakan-akan perdagangan manusia atau jual beli manusia (Fondrakö Ono Niha, 1981, hlm. 6).
Saya percaya, jika pernyataan ini kita lemparkan ke orangtua kita atau ke “orang zaman dahulu”, pasti salah satu jawabannya adalah: da’ana hada Nono Niha (ini adalah adat Nias). Pernyataan semacam itu tentu mengokohkan dimensi statis budaya Nias; juga mereduksi nilai-nilai sakral budaya Nias! Padahal seharusnya, budaya itu dinamis sesuai perkembangan zaman. Bahkan dalam pernyataan itu seolah adat yang terpenting dan bukan manusianya. Saudaraku, adat dibuat untuk manusia dan bukan manusia untuk adat. Ariflah menerapkan praktek adat yang tidak membangun.
Tidaklah berlebihan jika kita mengklaim bahwa banyak masyarakat Nias tidak sungguh memahami apa makna sejati dari böwö tersebut. Argumen ini didasarkan pada kenyataan bahwa orangtua Nias sering mengeluarkan kata-kata kontradiktif: “da’ö wa’ebua u andrö mböwö börö me’omasido sibai nonogu alawe” (‘Itulah sebabnya saya meminta böwö yang besar atas putriku karena saya sangat mencintainya’). Orangtua yang mengungkapkan itu sebenarnya tidak mencintai anaknya melainkan menjebloskannya ke dalam perangkap utang dan lumpur penderitaan. Kata-kata tersebut tidak mengandung cinta melainkan manipulasi! Orangtua itu seolah-olah tidak sadar bahwa yang membayar utang böwö itu nantinya adalah anak perempuannya bersama suaminya.
Dulu böwö itu masih masuk akal. Mengapa? Karena sistem perekonomian Nias masih tradisional, böwö dihitung berdasarkan jumlah babi dan bukan uang. Pada zaman dahulu, beternak babi merupakan pencaraharian yang menjanjikan. Babi mudah berkmebang biak, tidak terserang penyakit. Babi-babi itu juga boleh berkeliaran di perkampungan. Pada za,an itu, banyak masyarakat adat yang memiliki ratusan ekor babi di dalam pagar atau kandang. Jadi, biarpun puluhan ekor babi diberikan sebagai böwö, tidak menjadi masalah, karena ada puluhan ekor babi di dalam pagar.
Sekarang, beternak babi bukanlah hal yang gampang. Biaya pengobatan babi perlu disiapkan. Jika tidak, babi rentan penyakit dan mati! Tidak hanya itu, kalau böwö (dalam wujud babi) itu dikonversikan menjadi uang berdasarkan nilai tukar babi sekarang, maka menjadi beban kehidupan berlapis generasi, karena pada zaman ini babi tidaklah murah (misalnya, seekor babi yang diameternya 8 alisi harganya bisa mencapai Rp 3. 000. 000).
Kalau dalam gogoila (böwö) terdapat 25 ekor babi, coba Anda bayangkan berapa juta. Belum lagi beras, dan emas (balaki, firö famokai danga). Padahal mencari uang di Nias sangat susah. Mata pencaharian mayoritas masyarakat Nias adalah menyadap karet/bersawah/berladang. Seperti kita tahu bahwa sawah di Nias tidak seperti Di Pulau Jawa yang dikelola dengan baik: ada irigasi, lengkap obat pembasmi hama padi. Setahu saya, rata-rata sawah di Nias tidak ada irigasi yang dibangun oleh pemerintah atau yang dibangun oleh swasta. Pengairan sawah di Nias cuma mengandalkan hujan! Sedangkan menyadap karet juga ada masalah. Karet bisa diharapkan menjadi duit jika tidak ada hujan. Coba kita bayangkan jika musim hujan tiba, mau makan apa masyarakat Nias? Singkatnya, mengumpulkan dan mencari uang di Nias yang puluhan juta, bisa bertahun-tahun.
Kebiasaan masyarakat Nias jika pesta perkawinan banyak sekali yang harus di-folaya (dihormati dengan cara memberi babi). Selain itu, babi pun banyak yang disembelih dengan berbagai macam fungsional adatnya, misalnya: tiga ekor bawi wangowalu (babi pernikahan), seekor babi khusus untuk fabanuasa (babi yang disembelih untuk dibagikan ke warga kampung dari pihak mempelai perempuan) , seekor bawi ö ndra’alawe (babi untuk kaum ibu-ibu) yang memberikan nasehat kepada kedua mempelai, seekor untuk solu’i (yang menghantar mempelai wanita ke rumah mempelai laki-laki), dan masih banyak lagi babi-babi yang disembelih.
Selain yang disembelih, ada juga babi yang dipergunakan untuk “famolaya sitenga bö’ö” (penghormatan pihak mempelai perempuan). Di sini saya sebut beberapa saja: sekurang-kurangnya seekor untuk “nga’ötö nuwu” (paman dari ibu mempelai perempuan), sekurang-kurangnya seekor sampai tiga ekor untuk “uwu” (paman mempelai perempuan), seekor untuk talifusö sia’a (anak sulung dari keluarga mempelai perempuan), seekor untuk “sirege” (saudara dari orangtua mempelai perempuan), seekor untuk “mbolo’mbolo” (masyakat kampung dari pihak mempelai perempuan, biasanya babi ini di-uang-kan dan uang itu dibagikan kepada masyarakat kampung), seekor untuk ono siakhi (saudara bungsu mempelai perempuan), seekor untuk balö ndela yang diberikan kepada siso bahuhuo, dsb.
Jika pada hari “H” perkawinan, ibu atau ayah atau paman, talifusö atau sirege dari pihak mempelai perempuan menghadiri pesta perkawinan, khususnya famasao (pesta penghantaran mempelai perempuan ke rumah mempelai laki-laki), maka mereka ini secara budaya wajib di-folaya, biasanya seekor hingga tiga ekor babi.
Dalam prosesn perkawinan Nias, ada banyak ritual adat yang perlu disanggupi, antara lain, fame’e balaki atau ana’a (ritual memberi berlian atau emas), berupa famokai danga (permintaan restu) kepada nenek dan ibu mempelai perempuan; juga fame’e laeduru ana’a khö ni’owalu (pemberian cincin kepada mempelai perempuan, cincin itu diharuskan emas). Singkatnya, jika adat itu diterapkan pada zaman sekarang, maka Anda harus menyediakan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah hanya untuk membeli babi dan emas, belum lagi biaya pada hari “H” perkawiannya. Setelah pihak mempelai laki-laki menyerahkan böwö kepada pihak mempelai perempuan, lalu böwö itu dibagi-bagi. Kadangkala dalam pembagian böwö itu muncul berbagai macam perseteruan, permasalahan atau percekcokan antarpihak-pihak yang secara adat berhak mendapat bagian böwö.
Dalam uraian di atas, kita dapat menyatakan bahwa dalam tataran makna, arti böwö sebenarnya sangat baik dan manusiawi, yakni pemberian karena kasih/pemberian dari hati; bukan diminta dan tanpa menuntut balasan, dan bukti kasih (masi-masi). Dalam tataran etis, böwö adalah sikap saling menghormati melalui kata dan perbuatan dan bukanlah nilai material; böwö merupakan perwujudan tindakan saling memberi dan saling menghormati. Akan tetapi, dalam kenyataan praktis, praktek penerapan böwö tidak dialami sebagai bukti kasih, tetapi justru membebani hidup.
Akibat Böwö yang Mahal
a. Akibat Negatif
Ada berbagai macam problem sosial dan juga ekonomi yang disebabkan oleh mahalnya böwö di Nias. Di bawah ini saya akan menguraikan beberapa argumen berdasarkan fakta yang memang saya dengar dan alami (terutama di Kecamatan Mandrehe, Nias Barat).
Pertama, akibat negatif dari böwö yang mahal adalah kemiskinan dan pemiskinan. Alasannya boleh dilihat dalam uraian akibat negatif berikutnya.
Kedua, akibat mahalnya böwö, orangtua si anak bukan lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan anaknya, melainkan mereka bekerja untuk membayar utangnya, membayar böwö yang dibebankan kepadanya. Bahkan utang böwö yang belum sempat terbayarkan oleh orangtua, si anak harus bersedia membayarnya. Sejak masyarakat Nias mengenal uang, böwö juga diuangkan. Mempelai laki-laki yang tidak mampu mencukupi nilai böwö yang harus ia bayar, tidak ada pilihan lain baginya selain meminjam uang. Anda tahu yang namanya uang pinjaman pasti ada bunganya perbulan. Lingkaran semacam inilah yang menyebabkan banyak keluarga Nias hanya bekerja untuk membayar bunga utangnya.
Ketiga, mungkin kita pernah mendengar cerita Nono Niha (Warga Nias) yang berani melakukan pembunuhan hanya karena tidak dibayarkan kepadanya böwö yang sudah dijanjikan. Ini adalah akibat sosial yang sangat fatal dari böwö yang mahal. Hanya demi seekor babi atau berapalah itu, ia berani menghabiskan nyawa orang lain dan harus mendekam di penjara. Ini sungguh memilukan sekaligus memalukan. Kita juga sering mendengar perkelahian dan percekcokan yang dilatar-belakangi oleh pembagian böwö.
Keempat, akibat keempat ini masih ada kaitannya dengan akibat kedua di atas tadi. Kerapkali mempelai laki-laki jika menikah, apalagi dari keluarga yang pas-pasan (tidak mampu), terpaksa menjual tanahnya, menjual sawah-ladangnya, bahkan bila kepepet ia juga meminjam sejumlah uang atau menyusun kongsi. Kalau di Mandrehe, pas acara femanga ladegö, pihak mempelai laki-laki mengajak semua pihak untuk membantunya dan pada saat itu babi mesti disembelih sebagai tanda pemberitahuan kepada orang-orang yang akan menolongnya/yang mau memberikan kongsi. Jangan salah, jika meminjam uang, bunga bukan main bung. Itu tradisi buruk Nias selama ini. Masyarakat Nias seolah melingkarkan tali di lehernya sendiri. Atau seperti seorang yang menggali lubang, ia sendiri yang jatuh ke dalamnya. Atau orang yang sedang minum racun untuk membunuh dirinya sendiri. Coba kita bayangkan, tanah habis dijual, masih ngutang lagi. Lalu di mana keluarga baru ini mengadu nasib dan mencari nafkah sehari-hari? Mungkin ada yang masih rendah hati : menjadi kuli kepada orang lain. Akan tetapi, tindakan ini sama halnya “perbudakan” yang disengaja, yang kita buat sendiri walaupun sebenarnya bisa kita hilangkan, bisa kita atasi dengan tidak menerapkan sistem böwö yang mahal itu.
Kelima, jika orangtua masih berada dalam lingakaran utang sudah bisa dipastikan bahwa para orangtua terkendala untuk mewujudkan salah satu tanggung jawabnya dalam menyekolahkan anaknya. Lantas kapan pola pikir Nias bisa ber-evolusi, berkembang, dinamis jika terjadi ke-vakum-an seperti ini, hanya karena böwö yang mahal itu anak-anak terkendala mengeyam pendidikan. Melihat penerapan böwö yang tidak menyejahterakan itu, sebaiknya para orangtua di Nias (apalagi mereka yang masih menerapkan böwö yang mahal) mesti menyadari apa tugas pokok seseorang jika sudah membentuk keluarga. Selain itu, mesti disadari: apa arti böwö yang sebenarnya. Saya yakin bahwa ada benarnya jika böwö adalah salah satu faktor utama kemiskinan di Nias secara turun-temurun. Boro-boro orangtua dapat menyekolahkan anaknya, utang böwö-nya saja belum lunas. Hal ini menjadi kendala bagi orang Nias sendiri untuk mencetak generasi penerus yang berpendidikan. Jika terjadi demikian, jangan kaget jika berapa puluh tahun lagi Nias tidak akan mungkin membenahi kekurangan sumber daya manusianya.
Keenam, apakah Anda bahagia jika memiliki utang? Pasti tidak. Bagaimana suasana hati Anda jika memiliki utang? Pasti tidak tenteram, apalagi kalau setiap minggu dan bulan Anda didatangi penagih utang. Jika demikian, orang yang memiliki utang, juga pasti selalu tenggelam dalam kegelapan hati, bukan lagi kebahagiaan (tenga fa’owua-wua dödö ni rasoira ero ma’ökhö bahiza fa’ogömi-gömi dödö). Ketidak-tenteraman hati seperti ini bisa merembes ke sasaran lain: suami-istri sering bertengkar, suami menyalahkan istrinya yang memang pihak penuntut böwö; orangtua dan anak saling bertengkar, berkelahi; orangtua sering memarahi anaknya. Maka, jangan heran jika banyak keluarga di Nias yang “makanan” sehari-harinya adalah “broken home”, perseteruan. Lalu kapan sebuah keluarga mempraktekkan cinta sebagai suami-istri, jika situasinya seperti ini? Marilah kita menjawabnya sendiri-sendiri!
Ketujuh, böwö identik dengan pemberian sejumlah harta benda, sejumlah uang, sejumlah babi yang harus ditanggung oleh pihak mempelai laki-laki. Nah, jika demikian, apa bedanya sistem böwö Nias ini dengan perdagangan perempuan dan perdagangan anak? Menurut saya, jika para orangtua memiliki motif bahwa böwö (gogoila) dijadikan sebagai modalnya, maka pada saat itu mereka termasuk dalam lingkaran perdagangan anak mereka sendiri. Hal ini bertentangan dengan hak azasi manusia! Tendensi perdagangan anak dalam sistem perkawinan Nias sebenarnya sudah mulai kelihatan. Misalnya, mempelai perempuan sering disebut sebagai böli gana’a (pengganti emas). Jadi, dari segi makna konotatif seolah-olah perempuan itu sama dengan barang!
b. Akibat Positif
Pihak mempelai laki-laki, sebelum hari “H” perkawinan selalu mengumpulkan semua kerabatnya (seperti fadono, sirege, fabanuasa); tujuannya adalah agar mereka bersedia menolongnya dan bahu-membahu menanggung böwö. Dari sisi ini ada juga beberapa hal positif.
Pertama, kekerabatan (fambambatösa, fasitenga bö’ösa) semakin terjalin, semakin harmoni dan semakin nyata. Menurut kepercayaan Nias, semua “fadono” yang taat kepada matua nia (mertuanya) akan diberkati (tefahowu’ö) dan mendapat rezeki.
Kedua, fadono selalu diingatkan akan kewajibannya. Hal ini bisa jadi menumbuhkan kesadaran akan “tanggung jawab” yang sejati dari para fadono. Dalam sistem adat perkawianan Nias, fasitengabö’ösa, fadonosa atau fambambatösa terjadi selama 3 generasi. Dalam sistem adat Nias mempelai laki-laki memiliki kewajiban untuk selalau menjadi soko guru bagi saudara mempelai perempuan (saudara dari istrinya yang dalam bahasa Nias disebut la’o). Misalnya, jika salah seorang saudara dari mempelai perempuan menikah, si mempelai laki-laki mesti membantunya. Di satu sisi ini baik. Tetapi di sisi lain, hal ini membebankan.
Ketiga, dengan böwö yang mahal, setahu saya para orangtua di Nias tidak mudah cerai (tetapi jangan-jangan karena orang Nias sendiri memang tidak biasa bercerai).
Melihat ambivalensi (negatif dan positif) böwö seperti yang terurai di atas, maka sebanarnya penerapan böwö yang mahal lebih banyak sisi buruknya atau sisi negatifnya daripada sisi positifnya. Oleh karena itu, di bawah ini saya menguraikan bagaimana “problem solving”-nya.
Problem Solving
Pada bagian terakhir ini, saya juga mencoba mencari solusi yang perlu direfleksikan, diinternalisasikan dan diusahakan oleh semua masyarakat Nias.
Tesis Pertama, lalu bagaimana adat ini, apakah harus tetap diterapkan? Kalau menurut saya secara ritual adat Nias tidak boleh ditinggalkan begitu saja, karena ini warisan berharga dari leluhur Nias. Ritual dalam arti: penghormatan kepada paman, kepada saudara, kepada ibu mertua, kepada nenek, kepada penatua adat, dst.. Jadi, dimensi kultik dan etis budaya Nias tidak boleh ditinggalkan begitu saja, malah seharusnya kita dilestarikan. Tradisi lokal yang mengandung local wisdom masyarakat Nias perlu dipelihara.
Namun yang perlu diperhatikan adalah bentuk penghormatan itu bukan semata-mata dengan material atau pemberian babi yang sekarang tergolong mahal di Nias. Namun demikian, jika ada keluarga yang mampu dengan penghormatan secara material tersebut, silahkan saja yang penting jangan sampai pemberian itu adalah hasil pinjaman yang justru menjadi utang berlapis generasi. Bentuk penghormatan itu bisa melalui perhatian, menolong kerabat, mertua dikala mengalami situasi yang memang memerlukan bantuan tenaga manusia. Jadi, penghormatan itu lebih pada hal spiritual, afeksional, sosial dan bukan material-ekonomis. Yang harus selalu dilestarikan oleh orang Nias adalah budaya, seperti: maena, tarian (tarian baluse, tari moyo, hoho, dst.), fame’e afo, ni’oköli’ö manu, dst. Sangat disayangkan, akhir-akhir ini justru tarian maena semakin hari semakin tidak dikenal lagi oleh generasi muda Nias. Padahal, tarian maena adalah salah satu tarian rakyat Nias yang kalau dilestarikan secara benar menjadi ciri khas dan kebanggaan Nias.
Setiap orangtua pasti bahagia jika anaknya menjadi “orang” (tobali niha). Namun, jika para orangtua Nias belum menyadari bahwa böwö itu sangat membebani masyarakat Nias, maka saya kurang tahu sampai kapan masyarakat Nias akan menyadari bahwa praktek adat semacam tu justru menenggelamkan orang ke lembah kemiskinan. Pengalaman saya sendiri, kadang-kadang böwö itu diperebutkan antara pihak paman, talifuso, dan juga so’ono (dari pihak saudara dan juga orangtua mempelai perempuan). Ironisnya (masih terjadi) babi-babi yang mereka terima itu dijadikan sebagai modal. Ini komersial bung dan apa bedanya dengan “perdagangan anak”? Ini bukan melebih-lebihkan, hal ini sungguh terjadi sejak zaman dahulu kala hingga zaman sekarang, walaupun tidak sebanyak dulu.
Tesis kedua, setiap orangtua yang berpendidikan perlu mencoba menjadi agen dan corong untuk mereformasi tradisi Nias yang justru membebani masyarakat Nias itu. Mula-mula para orangtua itu mesti melakukan penyuluhan kepada anaknya. Oleh karena itu juga, janganlah mereka menerapkan böwö yang mahal kepada anak mereka sendiri. Kita mestinya sadari bahwa tidak selamanya praktek budaya itu positif dan manusiawi.
Tesis ketiga, tokoh agama harus terlibat dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat Nias yang masih menerapkan böwö yang mahal. Sebagai orang Nias, saya berterima kasih (juga salut) kepada Pastor Mathias Kuppens, OSC (misionaris Ordo Sanctae Crucis, berkewarganegaraan Belanda), yang cukup antusias untuk memberikan pemahaman kepada orang Nias Barat bahwa böwö yang mahal tidak membangun. Beliau adalah salah satu tokoh agama Katolik yang cukup berhasil menurunkan jumlah besarnya böwö dengan cara-cara yang persuasif. Namun, perjuangan beliau bukan tanpa hambatan. Ada beberapa orang Nias yang pernah melontarkan kata-kata pedas, mencoba menentang kebijakan Pastor Mathias, sang pencinta Nias itu. Tetapi Pastor Mathias menanggapi dengan tindakan yang diwarnai kerendahan hati: ia tidak pernah berprasangka negatif (tidak su’udzon) walau ia dicerca. Ini luar biasa!
Tesis keempat, Dinas Pendidikan Kabupaten Nias, Nias Selatan, Nias Barat, Nias Utara dan Kota Gunungsitoli seharusnya memikirkan bagaimana jika penyuluhan tentang böwö diajarkan di sekolah sebagai pelajaran “muatan lokal” atau semacam pelajaran “ektra kurikuler”. Menurut saya, böwö dan juga adat Nias yang lain perlu dijelaskan kepada generasi muda Nias agar mereka kelak mengerti dampak ambivelensi adat Nias itu sendiri. Oleh karena itu, mereka kelak bisa menegasi dan mengafirmasi praktek adat Nias itu sendiri; sehingga budaya Nias tidak mandeg pada ke-statis-an melainkan berkembang (dinamis). Tugas ini pertama-tama didelegasikan kepada para guru yang mengajar: mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Semoga!
* Postinus Gulö mendalami ilmu filsafat jenjang S-1 di Fakultas Filsafat dan ilmu teologi jenjang S-2 di Unpar, Bandung. Tulisan ini pertama kali ditayangkan di media www.NiasIsland.com, 26 Desember 2006. Kemudian dimuat di beberapa Media Online lainnya, antara lain: www.NiasOnline.Net & museum.pusaka-nias.org. Berdasarkan kritik dan masukan dari pembaca, tulisan ini sudah beberapa kali direvisi oleh penulis.
