“Dikala Hidup Penuh Liku Berkat Berlimpah Ruah Atasku”
Posted by postinus pada November 8, 2011
“Life is difficult. Life is a series of problems,” demikian tulis M. Scott Peck dalam bukunya, The Road Less Travelled. Yah…benar, hidup itu sulit. Hidup merupakan deretan masalah. Tetapi, jangan takut. Kata-kata Peck bukan seruan negatif. Bukan juga seruan pesimistis, tetapi seruan kesadaran. Manusia mesti sadar bahwa hidup penuh perjuangan. Seperti filosofi perang Sun Tzu, jika Anda ingin menang dalam perang, maka Anda mesti mengenali kekuatan Anda dan medan serta kekuatan lawan Anda. Jika hanya mengenali salah satunya, kekalahan menanti Anda. Saudara-saudari, itu sebabnya, saya setuju pada lanjutan pemikiran M. Scott Peck, “problems call forth our courage and our wisdom; It’s only because of problems we grow mentally and spiritually.”Saudara-saudara, semua masalah hidup memacu kita untuk memiliki keberanian dan kebijaksanaan; justru berbagai masalah hidup itu, kita semakin bertumbuh secara spiritual-rohaniah. Anda masih ingat Raja Daud, tokoh legendaris itu? Dikala ia menghadapi masalah, ia bukan minta kepada Allah agar masalah itu tidak ditimpakan padanya. Daud, memohon pada Allah agar ia diberi kekuatan dan kebijaksanaan menghadapi masalah itu. Raja Daud pun sungguh bijaksana! Kisah hidup Postinus Gulö berikut, menggambarkan betapa hidup itu sulit. Namun perlu diingat, tiada masalah tanpa solusi. Selamat membaca!
Postinus Gulö adalah Putra Nias Barat. Ia lahir, 20 Februari 1983 di sebuah kampung kecil dan terpencil. Kampung itu bernama Dangagari. Hingga kini, kampung itu belum ada aliran listrik; gelap gulita pada malam hari. Postinus Gulö bersyukur dilahirkan oleh orangtua yang penuh cinta. Ayahnya bernama Tageli Gulö; dan Ibu bernama Somasi Gulö. Keduanya hanyalah petani, tetapi punya iman dan ketekunan agar anak-anaknya menjadi orang. Walau hujan mengguyur, orangtuanya bekerja keras di sawah agar anak-anaknya bisa makan. Walau penyakit mendera, orangtuanya berusaha agar anak-anak mereka tidak kelaparan. Dengan sedih, Postinus Gulö mesti menyatakan bahwa Ibunya telah pergi menghadap Bapa di surga 19 Juli 2011 silam. Semasa hidupnya, Ibunya tiada henti mendoakan anak-anaknya agar dapat mengenyam pendidikan dan menjadi orang!
Namanya Muncul dari Mimpi Ayahnya
Postinus Gulö, itulah nama yang diberi oleh orangtuanya. Nama itu, entah apa artinya. Penuh misteri. Ayahnya hanya pernah berkisah, nama itu merupakan nama yang muncul dari mimpinya. Setelah Postinus Gulö lahir, pada malam harinya, Ayahnya bermimpi. Dalam mimpi ayahnya itu, kakeknya yang telah meninggal puluhan tahun silam berpesan kepada ayahnya agar anak yang baru lahir itu diberi nama: Postinus. Kala itu, keluarga Tageli-Somasi belum menjadi Katolik, masih penganut agama Orahua Niha Keriso Protestan (ONKP). Mereka sekeluarga baru menjadi Katolik, sekitar tahun 1990, ketika Postinus Gulö masih kelas 1 SD. Jadi nama itu, tak ada kaitannya dengan nama orang Katolik macam Faustinus, seorang Roma penganut Kristen Katolik.
Seperti kita tahu, Faustinus itu memiliki saudara, Santo Simplisius dan Santa Beatriks, ketiganya wafat sebagai martir. Ketiga bersaudara ini dibunuh karena imannya pada Kristus sekitar tahun 303-304. Faustinus dan Simplisitus dipancung kepalanya. Mayat keduanya dibuang di sungai Tiber. Banyak orang juga menduga bahwa nama Postinus Gulö itu ada kaitannya dengan Santa Faustina, salah seorang santa pujaan mendiang Paus Yohanes Paulus II itu. Padahal tidak sama sekali. Tidak heran jika orang cenderung menuliskan namanya, Faustinus.
Hidup Sulit Tetap Berprestasi
Postinus Gulö merupakan anak kedua dari delapan bersaudara; lima laki-laki dan tiga perempuan. Dia bersyukur dilahirkan dalam keluarga miskin. Dengan begitu Postinus Gulö terlatih berjuang keras. Pengalaman itu lebih dari suatu pendidikan formal. Masa kecil, dia hidup penuh perjuangan. Hidupnya penuh liku berbatu dan berduri nan sulit dilalui. Hari-hari masa kecilnya banyak tersita oleh penderitaan dan kemiskinan. Saat bermain tak dinikmatinya. Orangtuanya bukanlah orang berpunya. Hal itu masuk akal karena, ayah Postinus Gulö adalah anak yang ditinggal orangtua pada masa kecil. Kakek-neneknya meninggal di saat usia ayahnya masih sekitar 4 tahun. Maka, Ayah Postinus Gulö dan dua saudara ayahnya lain, hengkang dari kampung; hidup di rumah paman mereka. Harta berupa tanah, tanaman pohon kelapa, durian, sagu, pohon karet habis diambil oleh saudara sepupu ayahnya. Ketika ayah dan saudara ayahnya kembali ke kampung, mereka bertiga seperti orang asing di kampung halaman sendiri. Mereka pun banting tulang bekerja demi sesuap nasi. Kalau ada rezeki yang lebih, mereka membeli sepetak tanah. Di atas tanah itu mereka membangun sebuah pondok kecil seadanya. Di atas pondok mereka tidur pada malam hari, tetapi kolong pondok dijadikan kandang babi. Postinus Gulö sempat mengalami hidup orangtua semacam ini. Menyedihkan memang tetapi itulah realitas.
Postinus Gulö masih ingat. Pada saat ia mengenyam pendidikan tingkat Sekolah Dasar (1990-1996) di SD Negeri 07084 Dangagari, setiap pagi Postinus Gulö mesti bangun pukul 5. 00 WIB. Postinus Gulö bangun bukan untuk mandi, bukan pula untuk berolahraga demi kebugaran tubuh. Postinus Gulö bangun untuk segera menyalakan obor dan pergi menyadap karet agar dapat menyambung hidup. Postinus Gulö masih mengantuk, tetapi harus bangkit dan bekerja menyadap karet. Anda bisa bayangkan, di kebun karet, Postinus Gulö disambut ribuan nyamuk, binatang penghisap darah itu. Apa daya, keadaan memaksanya banting tulang. Postinus Gulö mesti melakukan aktivitas itu. Sebab orangtuanya tak sanggup membiayai sekolah anak-anaknya. Postinus Gulö juga tak tega membiarkan kedua orangtuanya bekerja keras. Postinus Gulö berusaha membantu orangtuanya, kadang di luar kemampuan Postinus Gulö sendiri. Kala itu, bila menanam padi sering gagal panen. Banyak hama dan tikus yang membuat padi tak berhasil baik. Pendidikan orangtuanya belum tamat SD. Wajarlah apabila mereka tidak kreatif mencari kebutuhan kami sehari-hari. Mereka hanyalah petani biasa, apa yang dicari cukup untuk sehari.
Biasanya, tepat pukul 7. 00 WIB, abangnya Sohahau Gulö dan Postinus Gulö berhenti menyadap karet. Lalu mereka pergi mandi, dengan sangat cepat. Tiada lagi waktu untuk sarapan pagi dengan tenang. Syukurlah Ibunya, kala itu, selalu menyediakan makanan, ”godo-godo” (singkong gorengan, bentuknya bulat). Kalau ada nasi, Ibunya telah membungkusnya. Sambil pergi menuju sekolah, Postinus Gulö dan abangnya ”sarapan” ”godo-godo” di tengah jalan.
Janganlah bayangkan bahwa mereka sekolah seperti di kota besar. Pada saat masih SD, Postinus Gulö pergi sekolah tanpa sepatu. Tidak ada gunanya pakai sepatu, lumpur ada sepanjang jalan. Kala itu jalan dari rumahnya menuju sekolah belum semuanya pakai batu onderlach.
Pulang sekolah, pekerjaan sudah menanti. Tidak ada lagi waktu istirahat siang, layaknya kaum biarawan atau biarawati di biara. Postinus Gulö mesti cepat makan siang dan pergi membantu orangtuanya ke sawah atau ke ladang. Lauk untuk makan siang kadang hanyalah garam, dan daun singkong. Makan daging hanyalah mimpi. Palingan sekali setahun, pas tahun baru! Baru pulang dari kerja setelah hampir gelap sore harinya. Yah…permainannya saat kecil adalah lumpur di sawah. Karena sudah terbiasa, keadaan itu ia nikmati saja. Postinus Gulö berpikir dunia ini memang seperti itu adanya. Postinus Gulö berpikir bahwa kebahagiaan adalah bekerja di sawah atau di ladang. Postinus Gulö berpikir, kebahagiaan adalah berjemur di bawah panas terik matahari bersama lumpur sawah.
”Deo Gratias”, syukur kepada Allah. Walaupun setiap pagi menyadap karet, bekerja di sawah-ladang dan makan ”godo-godo”, Postinus Gulö hampir selalu mendapat berkat melimpah. Selama Sekolah Dasar, Postinus Gulö tetap juara satu. Tidak hanya itu, Postinus Gulö juga pernah beberapa kali mengharumkan nama sekolahnya pada ajang Lomba Cerdas Tangkas (LCT) tingkat Rayon bahkan sampai tingkat kecamatan, bidang IPA dan Matematika. LCT itu mirip olimpiade pada zaman sekarang. Postinus Gulö berkata dalam hati: “dikala hidup penuh liku berkat berlimpah ruah atasku.” Atas prestasi itu, baik di sekolah maupun di LCT, maka Kepala Sekolah Ama Eferoni Waruwu almarhum pernah menawarkan agar Postinus Gulö langsung dinaikkan saja ke kelas enam SD. Saat itu, Postinus Gulö masih kelas 4 SD. Namun, Postinus Gulö setia pada proses, bukan pada hasil instan. Postinus Gulö tetap melalui kelas 5 SD.
Hidup keluarga terseot-seot. Adik-adik Postinus Gulö semakin banyak. Tanggungan orangtuanya semakin besar pula. Setamat SD, Postinus Gulö tetap berharap agar orangtuanya merestui jika Postinus Gulö melanjutkan SMP. Awalnya, Postinus Gulö hampir putus harapan. Ayahnya bersikukuh agar Postinus Gulö tinggal di rumah saja membantu kedua orangtuanya. Tetapi, Postinus Gulö berusaha membujuk Ibunya supaya dia tetap sekolah. Alhasil, Ibunya berhasil membujuk ayahnya sehingga Postinus Gulö didaftarkan di SLTP Negeri 1 Mandrehe. Postinus Gulö mengenyam pendidikan di SLTP dari tahun 1996 hingga tahun 1999. Sekolah tersebut jauh dari rumah. Terpaksalah Postinus Gulö berpisah dari orangtua. Namun, jika Postinus Gulö tinggal di rumah kost, orangtua tak sanggup membayar sewa rumah kostnya. Tak ada pilihan lain, Postinus Gulö mesti tinggal di rumah saudara Ibunya, di rumah pamannya sendiri. Di rumah pamannya itu, Postinus Gulö tidak bayar apa-apa. Malah pamannya membayar uang sekolahnya dan pungutan lainnya. Namun demikian, rumah pamannya jauh juga dari sekolah, sekitar 4 km berjalan kaki. Kalau hujan tiba, Sungai Moro’ö sering banjir, Postinus Gulö pun berjuang keras menyemberang sungai yang arusnya cukup deras itu. Seragam sekolahnya sering basah kuyup diguyur hujan dan banjir. Seragam itu kering sendiri selama Postinus Gulö mengikuti pelajaran di kelas. Bagi Postinus Gulö, semuanya itu tak menjadi masalah, yang penting dia tetap sekolah. Titik.
Sepulang sekolah, Postinus Gulö istirahat sejenak. Paling banter 10 menit! Habis itu Postinus Gulö pergi menyadap karet, punya pamannya. Sore harinya, Postinus Gulö pergi menimba air dari sumur untuk keperluan masak-memasak. Usai mandi, Postinus Gulö pun memasak makan malam. Anda pasti tahu bahwa waktu belajar Postinus Gulö sudah habis tersita oleh kesibukan pekerjaan rumah. Tetapi, Postinus Gulö belum habis akal. Postinus Gulö tidak cengeng. Postinus Gulö tidak meratapi nasib sambil frustrasi. Sambil memasak, Postinus Gulö bawa buku dan dia baca. Begitu juga pada pagi harinya, Postinus Gulö bangun pukul 4. 00 untuk menyiapkan sarapan pagi, sambil baca buku pelajaran. Hasilnya, wah luar biasa. Kerja keras tak sia-sia. Selama mengeyam pendidikan di SLTP, Postinus Gulö tetap juara! Tidak percuma Postinus Gulö belajar hingga larut malam, siang hari sibuk menyadap karet. Itulah desahnya kala itu.
Ada Masalah, Ada Solusi
Postinus Gulö termasuk orang yang memiliki cita-cita besar. Ingin sukses, berpendidikan tinggi! Namun, manakala Postinus Gulö melihat realitas hidupnya, cita-cita itu seolah hanyalah mimpi hampa. Akan tetapi, walaupun hidupnya penuh derita, dibelenggu kemiskinan, Postinus Gulö tetap optimis ada jalan terbaik. Ada masalah, ada solusi. Tidak pernah ada masalah tanpa ada solusi!
Optimisitas itulah yang membuat Postinus Gulö nekat melanjutkan sekolah di jenjang SMA. Seorang gurunya namanya Yemima Waruwu menyarankan supaya Postinus Gulö melanjutkan sekolah di Seminari Menengah St. Petrus Aek Tolang. Biasanya, siswa Seminari St. Petrus mengenyam pendidikan di SMA St. Fransiskus Aek Tolang. Postinus Gulö pun mengikuti saran Ibu guru itu. Sekitar bulan Mei 1996, Postinus Gulö dan 13 teman-teman lainnya dari Nias Barat pergi ke Gunungsitoli mengikuti test masuk seminari. Alhasil, Postinus Gulö termasuk beruntung: dinyatakan lulus! Persisnya, mereka bertujuh saja yang dinyatakan lulus.
Akan tetapi, lulus test bukan berarti jalan Postinus Gulö mulus mengenyam pendidikan di negeri orang, Sibolga! Orangtuanya bertambah beban menanggung uang sekolah dan juga uang asramanya di seminari. Hmmmm….orangtua angkat tangan. Merekapun tidak mau jika Postinus Gulö melanjutkan sekolah di Sibolga, karena alasan finansial itu.
Postinus Gulö teringat kata-kata bijak, niat tidak cukup, kita mesti mewujudkannya. Postinus Gulö punya niat besar untuk melanjutkan SMA di Sibolga, tetapi apa dikata biaya tidak ada. Orangtuanya merasa tak cukup uang untuk membiayai sekolah Postinus Gulö. Bagaimana mewujudkan niat itu? Yah…banyak jalan menuju Roma. Kala itu pas ada pembagunan infrastruktur jalan yang membutuhkan bahan material batu. Postinus Gulö pun memanfaatkan waktu senggang itu, karena dia sudah lulus SLTP, untuk mengumpulkan batu. Setelah berhasil mengumpulkan batu berkubik-kubik, ia jual. Postinus Gulö dapat uang sekitar Rp 500. 000 (lima ratus ribu rupiah), kala itu. Betapa senang hatinya. Uang itu lalu dia serahkan ke Ibunya. Tetapi Postinus Gulö bilang, “Bu ini untuk biaya sekolah saya ya….sekaligus ongkos saya ke Sibolga.” Ibunya setuju. Tetapi, ayahnya tetap tidak mau jika Postinus Gulö melanjutkan sekolah ke Sibolga.
Postinus Gulö sudah berusaha berkomunikasi secara personal kepada ayahnya mengenai niatnya melanjutkan sekolah. Apa daya, ayahnya tidak sanggup menyekolahkan Postinus Gulö. Ayahnya berpikir realistis: “darimana uang biaya sekolahmu, nak?” Benar juga sih kata ayahnya. Cuma itu bukan solusi. Dikala hanya memikirkan kesulitan tanpa menyelesaikannya, itu membuat langkah macet; urung niat bertindak. Akibatnya, dihantui oleh kesulitan; kesulitan tetap kesulitan.
Biar hanya satu hari menduduki bangku SMA, Postinus Gulö sudah senang. Prinsip itu membuat Postinus Gulö mencari siasat agar ayahnya mengizinkan Postinus Gulö melanjutkan studi di Sibolga. Postinus Gulö hanya berpikir, yang penting ayahnya memberi izin dulu, uang sekolah nanti saja. Dalam perjalanan pasti ada-ada saja ide untuk mendapatkan duit halal. Di kampung Postinus Gulö ada orang yang patut dipercaya dan berwibawa. Namanya Yoakim Gulö alias Ama Sasu. Kata-katanya didengarkan oleh warga. Postinus Gulö memberanikan diri pergi kepada Ama Sasu membicarakan segala niat dan cita-citanya. Intinya, Postinus Gulö minta pertolongannya agar beliau meyakinkan orangtuanya bahwa pilihan Postinus Gulö untuk sekolah sudah tepat adanya. Ama Sasu adalah Lektor atau Ketua Stasi Gereja Katolik di Dangagari kala itu. Bapak Yoakim bersedia. Ia pun berusaha meyakinkan kedua orangtua Postinus Gulö sehingga mereka mengizinkan Postinus Gulö melanjutkan sekolah di Sibolga.
Benar kata orang bijak, janganlah jadi kodok dalam tempurung yang hanya mengenal dunia sejengkal jari. Inspirasi hidup muncul dari pengalaman hidup pula. Sesampainya di Sibolga, Postinus Gulö mengalami “shock culture.” Itu masuk akal, karena Postinus Gulö orang kampung bahkan mental kampungan, sekarang pergi ke Sibolga, yang bagi Postinus Gulö waktu itu, sudah termasuk kota terbaik yang pernah ia lihat. Dibandingkan kampungnya, yang jalannya masih tanah, Sibolga sudah berjalan aspal. Tidak hanya itu, Sibolga sudah banyak angkutan kota, mobil, truk dan becak. Semua jenis benda ini tak dia temukan di kampung halamannya.
Postinus Gulö mulai membanding-bandingkan masyarakat Sibolga dengan masyarakat kampungnya. Yeah..sangat jauh, seperti langit dan bumi. Warga Sibolga jauh sejahtera dibanding warga kampungnya. Di Sibolga sudah banyak warga yang punya televisi. Rumah-rumah mereka ada yang permanen dan ada yang semi permanen. Sementara kampung Postinus Gulö, hidup tanpa listrik, bagaimana ada ”channel” televisi. Pengalaman ini membangkitkan semangat juang Postinus Gulö. Lalu ia tidak mau santai-santai saja. Postinus Gulö belajar dengan sungguh-sungguh, tidak menyia-nyiakan waktu. Hasilnya, Postinus Gulö mampu meraih juara: beberapa kali juara dua. Itu sudah hebat, orang kampungan menjadi juara di negeri orang!
Berkat Allah memang nyata adanya. Selama Postinus Gulö mengenyam pendidikan di Sibolga ternyata ada-ada saja cara orangtuanya mendapatkan uang. Lalu kedua orangtuanya mengirimkan sebagian uang itu sebagai biaya sekolah Postinus Gulö di Sibolga. Coba jika Postinus Gulö tidak ”keras kepala” untuk keluar dari kesulitan yang menjadi hambatan orangtuanya sempat tak mau menyekolahkannya. Jika Postinus Gulö hanya mengikuti saran orangtuanya untuk tidak sekolah, yah…hidup Postinus Gulö bisa tamat!
Ketika Menuntut Ilmu di Perguruan Tinggi
SD hingga SLTP Postinus Gulö selesaikan di Pulau Nias. Jenjang SMA Postinus Gulö tuntut di Sibolga, Pulau Sumatera. Sementara jenjang S-1 dan S-2 Postinus Gulö lalui di Bandung, Jawa Barat. Semakin tinggi jenjang pendidikannya, Postinus Gulö semakin jauh dari orangtuanya; melewati tiga Pulau. Menuntut ilmu di Bandung, bukanlah perkara mudah. Postinus Gulö mesti menyesuaikan diri dengan kultur baru. Awalnya, Postinus Gulö merasa pengetahuan umumnya kurang meyakinkan. Sepertinya, Postinus Gulö kurang ”nyambung” jika mendengarkan obrolan teman-temanku. Banyak informasi yang belum kuketahui. Banyak ilmu yang belum kugapai. Realitas itu membuatku ingin menggenggam semuanya itu.
Postinus Gulö masih ingat, kali pertama dia masuk kuliah fisafat, Postinus Gulö hanya bengong saja. Sepertinya Postinus Gulö ibarat kertas kosong. Maka, Postinus Gulö berjuang agar kertas kosong hidup itu terisi dengan goresan ilmu. Buku-buku filsafat dan teologi dia lahap. Informasi dan ilmu dari dosen Postinus Gulö serap penuh semangat. Sepulang kuliah, Postinus Gulö berusaha belajar lagi. Postinus Gulö mengingat pelajaran yang baru saja dia terima dari sang dosen. Selama menempuh pendidikan S-1, semangat Postinus Gulö seperti para pejuang kemerdekaan. Buah ketekunan akhirnya Postinus Gulö panen. Postinus Gulö adalah lulusan terbaik, Program Studi Filsafat Unpar tahun 2008, dengan Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi: 3, 78. Rektor Unpar, waktu itu dijabat Ibu Dr. Cecilia Lauw, menganugerahkan kepada Postinus Gulö sertifikat sebagai lulusan terbaik. Postinus Gulö menulis skripsi berjudul: “RELEVANSI PEMIKIRAN KARL RAIMUND POPPER TENTANG MASYARAKAT TERBUKA UNTUK KONTEKS MASYARAKAT INDONESIA.” Pada tanggal 7 Juli 2008, Postinus Gulö berhasil mempertahankan skripsi itu dan dinyatakan lulus. Dengan demikian, Postinus Gulö berhak menyandang gelar Sarjana Sastra (S. S) di bidang ilmu filsafat.
Usai lulus S-1, Postinus Gulö ditugaskan di almamaternya, Seminari Menengah St. Petrus Sibolga. Selama setahun Postinus Gulö menjalani Tahun Orientasi Pastoral di sana. Selain mengajar di Seminari, Postinus Gulö juga sempat beberapa bulan mengajar Pendidikan Agama Katolik di SMA St. Fransiskus Aek Tolang, tempatnya menimba ilmu dulunya. Pengalaman itu seolah saat nostalgia baginya. Postinus Gulö bertemu kembali para guru SMAnya. Postinus Gulö bangga juga pernah mengajar di almamaternya, suatu pengalaman langka.
Tahun 2009, Postinus Gulö kembali ke Bandung. Sambil mengajar di SMA St. Aloysius Bandung, Postinus Gulö melanjutkan studi jenjang S-2 di Program Magister Ilmu Teologi Universitas Katolik Parahyangan. Menurutnya, menjadi mahasiswa pascasarjana ada perasaan bangga sekaligus kesadaran akan tanggung jawab. Sekolah tinggi mesti pengetahuan tinggi. Syukur, setelah lulus S-1, semangat belajar Postinus Gulö tak pernah berhenti. Postinus Gulö tetap berusaha membaca buku. Waktu S-1, Postinus Gulö lebih banyak bergelut dengan ilmu filsafat yang kadang ”liar” demi mencari kebijaksanaan. Ilmu fisafat telah mengajarinya untuk berpikir kritis sekaligus konstruktif. Dunia filsafat telah membawa Postinus Gulö memendang kebenaran majemuk, bukan kebenaran tunggal. Ilmu filsafat telah mengajarinya tidak hanya mengafirmasi tetapi sekaligus terbiasa berpikir falsifikasif ala Karl Popper itu. Dunia filsafat membawa Postinus Gulö memahami hidup ini tidak sebatas linier atau sekuentif. Dunia filsadat telah membawa Postinus Gulö mempertanyakan segala hal, termasuk imannya akan Allah. Ilmu filsafat kadang membuat Postinus Gulö ragu pada identitasnya, sekaligus menerbitkan gambaran siapa dirinya. Bergelut dengan filsafat, membuat Postinus Gulö keluar dari dirinya, keluar dari dunia sempit dan berlayar ke samudra luas berpikir. Filsafat telah mempertajam daya intelektual, afeksi, dan spiritualnya. Pendeknya, dunia filsafat telah membuka horizon berpikir, bertindak dan bereflektif di dalam diri Postinus Gulö.
Akan tetapi, memasuki Program Magister Ilmu Teologi, Postinus Gulö dihantar untuk lebih menata kembali pola bertindak, berpikir dan berfleksi. Kebenaran itu tidak hanya kebenaran filosofis, tetapi ada kebenaran teologis. Menjadi mahasiswa S-2, Postinus Gulö lebih berpikir ke arah transformasi hidup. Ilmu teologi telah menghantarnya memahami Allah lebih dekat. Ilmu teologi membawa Postinus Gulö menghayati iman yang hidup, bukan sekadar ortodoksi, bukan pula sebatas dogma. Ilmu teologi telah membawaku menghayati hidup ini sebagai simbol kehadiran Allah. Oleh karena itu, tindakan sehari-hari mestinya tampak sebagai kehadiran Ilahi. Ilmu teologi bukan sekadar refleksi vertikal: manusia-Allah, tetapi sekaligus pengalaman iman yang dihidupi bersama manusia lain. Teologi bukan hanya perkara beriman tetapi sekaligus mencinta. Teologi bukan hanya sekadar keyakinan, tetapi penuh nalar. Ilmu teologi bukan cuma teori tetapi ia juga mesti terwujud dalam tindakan nyata!
Tidak terasa, dua tahun berlalu. Postinus Gulö pun lulus dari jenjang pendidikan S-2. Postinus Gulö menulis tesis: BÖWÖ DALAM TRADISI PERKAWINAN ÖRI MORO’Ö-NIAS BARAT: PERMASALAHAN DAN SOLUSINYA DALAM TERANG AJARAN GEREJA KATOLIK.”Tidak gampang menuliskan tesis itu. Sebab, Postinus Gulö menulisnya dengan metode penelitian lapangan. Postinus Gulö ibarat penyambung potongan ”puzzle” yang berserakkan di mana-mana. Buku ilmiah yang mendukung penulisan tesis itu, sangat minim. Tetapi, kerja keras membuat Postinus Gulö melewati rintangan itu. Tepat tanggal 30 September 2011 silam, Postinus Gulö dinyatakan lulus dari program Magister Ilmu Teologi. Sejak itu, saya berhak menyandang gelar akademik yang tak pernah kubayangkan: M. Hum (Magister Humaniora) dalam konsentrasi ilmu teologi transformatif. Berkat Allah memang selalu menyertai Postinus Gulö. Nilainya sangat mencengangkan. Postinus Gulö lulus dengan predikat “cum laude”. Postinus Gulö pun berhasil meraih IPK 3, 85. “Terima kasih Tuhan atas anugerah besarMu”, begitu kalimat pendeknya. Postinus Gulö tetap yakin, dikala hidup penuh liku berkat berlimpah ruah atasnya.
Dipilih Memimpin
Ada pengalaman yang patut Postinus Gulö bagikan kepada Anda. Sejak SD hingga SMP Postinus Gulö selalu dipilih menjadi ketua kelas. Postinus Gulö hampir tidak mengerti mengapa dia dipilih menjadi pemimpin. Padahal, Postinus Gulö merasa bahwa dia bukanlah anak yang hebat kala itu. Bahkan Postinus Gulö sebenarnya cenderung minder. Kalau berbicara cenderung meledak-ledak dan bahkan grogi. Pengalaman sebagai pemimpin semakin menjadi bagian dari dari hidupnya. Waktu dia SMA, Postinus Gulö juga dipilih menjadi wakil ketua OSIS periode tahun 2000-2001. Bahkan di Seminari Menengah St. Petrus Aek Tolang, Postinus Gulö dipercaya sebagai Presidium (2000-2001).
Postinus Gulö pikir, pengalaman dipilih menjadi pemimpin hanya sampai di sini saja. Ehm……ternyata prediksinya meleset. Waktu Postinus Gulö menimba ilmu di Bandung-Jawa Barat, Postinus Gulö malah semakin bergelut sebagai leader!. Pada tahun 2010 silam, Postinus Gulö dipercaya sebagai Koordinator Panitia Grand Rencontre. Acara ini merupakan temu siswa Katolik se-Bandung Raya yang diadakan tepat tanggal 14-16 Juni. Bersama teman-teman, Postinus Gulö mempersiapkan acara ini selama berbulan-bulan.
Mahasiswa idealnya, tidak pasif saja. Perlu kreatif dan mengasah kemampuan “soft skill” melalui, salah satunya, keterlibatan dalam organisasi. Hal semacam itu dia tekuni. Postinus Gulö awali pengalaman berorganisasi menjadi Sekretaris Jenderal Himpunan Program Studi Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung (2005-2006). Postinus Gulö juga pernah menjadi panitia OSEKKA Fakultas Filsafat Unpar (2006). Selama menjadi mahasiswa, jabatan organisasi yang bergengsi yang pernah Postinus Gulö jabat adalah menjadi Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM), Unpar (2007-2008). Postinus Gulö dipercaya menduduki jabatan Internal Inspekor, suatu badan yang memantau keaktivan dan kinerja MPM, Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) bahkan kinerja Himpunan Program Studi.
Aktif di organisasi mahasiswa ternyata Postinus Gulö tidak berhenti di situ. Di dalam komunitas Skolastikat Krosier, Postinus Gulö juga dipilih menjadi Dewan Frater tiga tahun berturut-turut. Dan pada tahun 2009-2010 lalu Postinus Gulö dipercaya menjadi Dekan Frater Skolastikat Krosier. Itulah hidup Postinus Gulö. Tidak pernah terlepas dari pengalaman dipilih sebagai pelayan dalam kepemimpinan. Deo Gratias! Syukur kepada Allah.






postinus berkata
“Mengatasi kesulitan adalah pengalaman paling menyenangkan dalam hidup,” demikian kata Arthur Schopenhauer (dikutip KOMPAS, 23/12/2011, hlm. 16). Apakah Anda setuju?