Polisi dan Natal
Posted by postinus pada Desember 25, 2011
Tulisan “Selamat Hari Natal,” menghisasi hampir semua sudut kota di negeri ini. Melalui spanduk, kartu Natal, baliho, radio, channel TV, media online, banyak yang menyampaikan kalimat itu. Sepintas, negeri ini saling menyapa. Sepintas, anak bangsa negeri ini saling menghargai, menjunjung tinggi demokrasi dan toleransi. Sepintas, negeri ini ibarat surga, tiada permusuhan. Yang ada saling bersaudara.
sumber foto: http://www.seruu.com
Kenyataannya, polisi berjaga-jaga. Polisi disiagakan. Polisi menyisir Gereja, memeriksa umat yang datang dan barang-barang Gereja, termasuk ornamennya. Altar, yang dulu, hanya boleh diinjak oleh para pelayan Gereja, sekarang ibarat ruang profan. Polisi lalu-lalang di Altar! Tabernakel, diperiksa memakai alat pendeteksi logam. Bagi saya, seolah kesucian ruang itu telah hilang. Melihat penyisiran itu di channel TV, hati kecilku, terganggu.
Kata pejabat terkait, polisi disiagakan untuk memberi kenyamanan kepada umat Kristiani yang mengikuti perayaan Natal. Mendegar alasan itu, kita pun memuji perhatian polisi, aparat negara! Kita manggut-manggut saja. Mengiyakan.
Tetapi, marilah kita melihat sekilas sejarah bangsa ini. Sebelum ada peristiwa bom bunuh diri di Gereja, apakah Gereja dijaga polisi saat perayaan Natal? Jawabnya: TIDAK! Apakah pada zaman pemerintahan RI tegas, apakah Gereja dijaga polisi? Jawabnya: TIDAK!
Sekarang, Anda sudah tahu jawabannya, mengapa Gereja mesti dijaga polisi. Negeri ini, punya Undang-Undang tetapi seolah tak ada penerapannya. Dalam Undang-Undang Dasar, menganut Agama tertentu merupakan HAK yang dilindungi oleh negara. Kenyataannya? Jemaat GKI Yasmin, justru bulan-bulanan. Jemaat pun tidak bisa merayakan Natal tahun ini di gereja mereka sendiri. Walau Mahkamah Agung memperkuat posisi Gereja GKI Yasmin, toh keputusan itu tidak diindahkan oleh Pemkot Bogor. Ormas tertentu lalu, adu kekuatan. Kasus GKI Yasmin itu, tentu selesai jika ditaati keputuasan MA itu. Maka, silakan jawab sendiri: siapa sebenarnya sumber masalah di negeri in: pemegang kekuasaan, pemegang kebijakan, ormas tertentu?
Lihat dan lihatlah Gereja penuh polisi. Gereja seolah tempat perjudian. Gereja seolah tempat maksiat. Gereja seolah tempat yang tak suci. Gereja seolah tempat yang mencurigakan!
Lihat dan lihatlah, di negeri yang berdasar negara PANCASILA, polisi mesti bekerja keras saat Perayaan Natal. Gereja seolah tempat sumber masalah.
Lihat dan lihatlah, di negeri yang menurut UU, menjunjung tinggi DEMOKRASI dan TOLERANSI, kecurigaan atas terjadinya bom masih menghantui kita sesama anak bangsa.
Negeri ini membutuhkan pemimpin yang tegas.
Negeri ini membutuhkan pemimpin yang bertindak bukan berjanji.
Negeri ini membutuhkan negarawan yang berintegritas.
Negeri ini membutuhkan figur yang tidak hanya mengucapkan kata prihatin!
Ribuan polisi disiagakan menjaga Gereja saat Natal. Pasti, ada biaya operasional. Biayanya tidak sedikit!
Coba, kalau negeri ini aman. Biaya operasional pengamanan Natal itu, bisa digunakan untuk membangun negeri ini; menyekolahkan anak keluarga tidak mampu; membantu mereka yang kelaparan.
Stop prihatin! Stop berkata tahu! Stop seolah santun! Stop politik pencitraan diri!
Negeri ini membutuhkan pemimpin yang berjuang demi kemanusiaan.
Negeri ini membutuhkan pemimpin yang sadar tugasnya.
Negeri ini membutuhkan pemimpin jujur melaksanakan tugasnya.
Negeri ini membutuhkan pemimpin yang bijak, bukan suka curhat.
Aku rindu, negeri ini nyaman. Kita saling menyapa penuh persaudaraan. Indah sekali jika ini terjadi.
Aku rindu, negeri ini aman. Gereja tidak perlu dijaga polisi saat Natal.
Aku ingin melihat negeri ini damai . Sesama anak bangsa saling menghargai.
Aku ingin melihat negeri ini tiada permusuhan.
Aku ingin melihat pemimpin negeri ini tegas.
Aku ingin melihat negeri menegakkan supremasi hukum bagi siapapun yang melanggarnya.
Aku ingin warga negeri ini saling bercengkrama, bertegur sapa.
Damailah negeriku. Tataplah terang di depanmu.
Bandung, 25 Desember 2011





