SIMAK

Gagasan, ide, opini, refleksi, resensi-tinjauan, dan sharing dari Postinus Gulö

  • ..



    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    widget

  • Blog Stats

    • 25,108 hits
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Kategori Tulisan

  • Arsip

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    November 2009
    S S R K J S M
    « Okt    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • .

  • Mempermainkan Keadilan-Sejarah Indonesia Tak Terlupakan

    Selasa, 3 November 2009. Itulah sejarah Mahkamah Konstitusi yang diketuai Mahfud MD mengukir sejarah baru. Membuka rekaman upaya kriminalisasi terhadap pimpinan KPK Bapak Bibit dan Candra. Rekaman itu diperdengar kepada khalayak umum. Saya termasuk yang penasaran sehingga betah mendengarkan rekaman itu via stasiun TVOne dari jam 11 s/d 16. 05 sore. Sakit..sakit....rekaman itu sungguh merobek-robek rasa keadilan. Ternyata di negeri Indonesia, mafia peradilan masih berkuasa. Aparat penegak hukum seolah sudah diborgol oleh para koruptor! Sejarah ini sejarah Indonesia. Jangan dilupakan.

  • Komentar Pengunjung

    wahyuindrawan di Apa Itu Hidup?
    dede fadillah di Istilah dan Sejarah Meditasi d…
    Postinus di Sikap Positif
    Postinus di “Terima Kasih, Penghinaan…
    OBERLIN ZEBUA di “Terima Kasih, Penghinaan…
    adi di Sikap Positif
    norman di Apa Itu Hidup?
    anto di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
    link di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
    Yohanes AD Purnomo di What is the Meaning of Li…
    Postinus di Karakter Kepemimpinan Kri…
    Yohanes AD Purnomo di Karakter Kepemimpinan Kri…
    yoshimori di Apa Itu Neoliberalisme?
    bambang di Sikap Positif
    michail huda di Apa Itu Neoliberalisme?
  • Top Klik

  • So funny

    zwani.com myspace graphic comments

  • ….

    Saudara Anda, Postinus Gulö, adalah pembuat blog ini. Ia lahir di kampung terpencil, Dangagari, Kecamatan Moro’ö, Pulau Nias. Dalam suka-duka terpaan kesengsaraan ia mampu menyelesaikan Sekolah Dasar-nya di SD Negeri 071084 Dangagari, Pulau Nias. Perjuanganlah yang menghantarnya menyelesaikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Negeri 1 Mandrehe, Pulau Nias. Berlayar ke negeri orang bukanlah cita-citanya. Namun, realita menghantarnya ke Sibolga. Di sana ia menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di SMU Swasta Santo Fransisukus Aek Tolang, Pandan dan Seminari Menengah St. Petrus Sibolga. Hidup memang bukanlah kebetulan. Tangan Allah selalu menjamah. Tidak pernah terbayangkan. Ia, lalu, menjawab "panggilan" Allah di Pulau Jawa. Tepatnya di Bandung, Jawa Barat. Bergabung ke Ordo Sanctae Crucis Sang Kristus Indonesia. Tahun 2004 s/d 2008 mendalami ilmu filsafat di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Sejak bulan Agustus 2009 mendalami ilmu teologi dan humaniora di Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan. Bapak-Ibu, Saudara-Saudari, salam dalam kasih Tuhan. Ya'ahowu

Arsip untuk ‘Kumpulan Tulisan-Opini’ Kategori

The Open Society Theory in the Plural Society Context

Ditulis oleh postinus di/pada September 18, 2009

By Postinus Gulö

My topic is taken from Karl Raimund Popper’s thesis and Henri Bergson’s opinion. Karl Raimund Popper is a politic philosopher who was born in Austria, while Henri Bergson is a philosopher who was born in French. Popper is a student from Bergson. In Bergson’s opinion, the open society is the society which is deemed in principle to embrace all humanity. A dream dreamt, now and again, by chosen souls, it embodies on every occasion something of itself in creation, each of which, through a more or less far-reaching transformation of man, conquers difficulties hitherto unconquerable. While according to Popper, the open society is the society in which individuals are confronted with personal decisions or individual freedom, and belief for critical attitude, critical thinking, creative thinking, hypothesis thinking and denies: the dogmatic thinking, magical thinking, tribalism attitude, fanaticism, violence and inevitable laws. The most important characteristics of the open society, competition for status among its members.

In my opinion, the open society theory is very important and its relevance in the plural society context like Indonesian society. Why? Because the principles of the open society theory are:

  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Leave a Comment »

“Kegiatan Ekonomi Harus Mengarah Pada Usaha Memanusiawikan Manusia”

Ditulis oleh postinus di/pada September 18, 2009

Oleh Postinus Gulő*

Mestinya, kegiatan ekonomi adalah proses realisasi manusia untuk memanusiawikan dirinya dan sesamanya. Jadi, kegiatan ekonomi bukan sekedar untuk mendesain manusia menjadi homo oeconomicus (manusia ekonomi) melainkan juga homo socius (makhluk sosial). Oleh karena itu, kegiatan ekonomi seharusnya di arahkan untuk menjawab kebutuhan individual sekaligus kebutuhan rakyat secara keseluruhan. Jika arah kegiatan ekonomi dijalankan seperti ini maka, visi-misi kegiatan ekonomi berada pada jalur memanusiawikan manusia.

Saya sangat terinspirasi dengan tulisan tokoh ekonomi kondang: Michael Novak menyangkut gagasannya dalam aktivitas ekonomi. Tokoh ini mengidealkan manusia sebagai makhluk yang harus menghasilkan sesuatu (homo faber), harus mampu mendesain dan merekayasa hidupnya. Dalam dunia dewasa ini, agaknya benar arah pemikiran Novak bahwa manusia dewasa ini dilihat oleh pelaku ekonomi sebagai modal (capital), investasi, dan komoditi.

Memang saya tidak begitu setuju dengan pendapat ini. Sebab, jika demikian, kegiatan ekonomi justru menjadikan manusia bukan manusia lagi. Manusia menjadi sama seperti barang yang layak diperdagangkan dan dipertukarkan dengan barang.

  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Leave a Comment »

Karakter Kepemimpinan Kristiani

Ditulis oleh postinus di/pada Desember 12, 2008

Oleh   Postinus Gulő  (1)


Pengantar

Berbicara mengenai kepemimpinan, yang terpikirkan oleh saya bukan hanya menyangkut pemimpin melainkan juga yang dipimpin. Kedua pihak ini mesti saling pro-aktif. Walaupun pemimpin begitu ideal, namun jika orang yang dipimpin tidak pro-aktif, sia-sialah sebuah organisasi: tidak lancar/tidak hidup. Namun, dalam artikel ini, saya hanya memfokuskan diri pada karakter seorang pemimpin.

Menurut Max de Pree(2) (tokoh manajemen kepemimpinan), pemimpin pertama-tama dipahami bukan sebagai jabatan (privilege) (3) melainkan sebagai pekerjaan/tanggung jawab/responsibility (dan menurut saya sebagai pelayanan). Artinya, tugas seorang pemimpin adalah berusaha memberdayakan orang untuk melakukan apa yang seharusnya mereka kerjakan dengan cara yang paling efektif dan manusiawi.(4) Pekerjaan menjadi efektif jika ada framework (kerangka kerja) yang akan dikerjakan.(5) Seseorang melakukan hal yang manusiawi jika apa yang mereka lakukan selalu dalam koridor moral dan ajaran iman.

Bahan inspirasi utama penulis saat menulis artikel ini adalah kepemimpinan Yesus. Saya tidak mau lari dari situ. Sebab, kepemimpinan Kristiani selalu berpegang teguh pada ajaran dan keteladanan Yesus. Dan kita sebagai pengikut-Nya mesti menempatkan diri sebagai pengikut Kristus sejati (imitatio christi). Ada beberapa karakter kepemimpinan yang mestinya kita, sebagai umat Kristen, mempraktekkannya dalam hidup keseharian kita, antara lain:

 

1. Pendoa

Sebelum membuat keputusan penting, Yesus berdoa terlebih dahulu. “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana (Mrk. 1: 35). Yesus pergi ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul (Luk. 6: 12-13).

 

Yesus begitu intim dengan Allah. Maka, apapun yang Ia lakukan selalu sesuai dengan kehendak Bapa-Nya. Seorang pemimpin mesti beguru pada sikap Yesus. Modal utama pemimpin dalam merealisasikan (mewujudkan) tanggung jawabnya serta visi dan misinya adalah kekuatan doa (daya spiritual). Kesatuan pemimpin dengan Allah, menjadi semangat yang berkobar untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Bahkan menjadi sumber kebijaksanaan pemimpin dalam mengemban tugasnya.(6)


 

2. Pelayan

Yesus pernah bersabda: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mrk. 10: 42-45). Pemimpin yang memiliki jiwa pelayan selalu berusaha mengambil keputusan yang mengarah pada bonum commune (kebaikan/keuntungan bersama) dan bukan semata-mata demi mencapai bonum private (keuntungan pribadi).(7) Yesus menggunakan istilah pelayan itu berarti pemimpin adalah bukan tipe Nato (no action talk only). Pemimpin adalah orang yang mau bertindak dan menyadari tanggung jawabnya.

 

Dan, yang patut diperhatikan oleh pemimpin adalah kata-kata bijak dari Ken Blanchard: “Semua pemimpin yang berjuang untuk menghasilkan hal-hal baik harus dapat mengeluarkan yang terbaik dari dalam dirinya dan orang lain. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam diri, yakni melalui hati yang mau melayani, lalu keluar untuk melayani orang lain.”(8)

 

3. Memiliki responsibility (bertanggung jawab)

Responsibility berasal dari dua kata. Response: tanggapan, tindakan, jawaban. Ability: kemampuan, kesanggupan. Jadi, responsibility adalah kemampuan bertindak, kesanggupan menanggapi. Seorang pemimpin harus memiliki kepekaan pada tanggung jawabnya. Tanggung jawab adalah semangat hidup seorang pemimpin. Dalam Kitab Suci, kita sering mendengar: jika kita bisa menyelesaikan perkara kecil maka kepada kita akan dipercayakan untuk melakukan pekerjaan besar (minora servabis, mayora te servabit). Lancar atau tidaknya sebuah organisasi tergantung pada kesadaran pemimpin akan tanggung-jawabnya. Oleh karena itulah, dalam mengemban dan merealisasikan tanggung-jawabnya, seorang pemimpin mesti bersikap persuasif. Pemimpin berusaha untuk tidak meluki hati siapapun. 

  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | 2 Komentar »

Arah Pendidikan

Ditulis oleh postinus di/pada Desember 10, 2008

Oleh Postinus Gulő*

Ada pemeo Latin yang menyinggung tujuan utama persekolahan/pendidikan. Pemeo Latin itu berbunyi: Non scholae sed vitae discimus (hendaknya sekolah bukan hanya untuk nilai melainkan untuk hidup). Artinya – meminjam kata-kata Fidelis Waruwu – kita belajar bukan hanya untuk sekolah (ujian/nilai dan kepintaran) melainkan untuk hidup (we learn no for school, but for life). Pendeknya, ilmu dan pendidikan yang didapat di bangku sekolah hendaknya membentuk karakter sang pelajar/sajana untuk lebih berakhlak baik, mampu hidup sebagai manusia. Pemeo Latin itu hendak menegaskan bahwa peserta didik tidak hanya dibekali daya “mengetahui” melainkan mereka juga disadarkan pada bagaimana “mempraktekkan dan menemukan”. Tujuannya agar peserta didik tidak hanya pintar “berteori” tetapi sekaligus ahli “bertindak baik dan benar”.

Akhir-akhir ini, pemeo Latin itu telah digeser – salah satunya – oleh pelaku ekonomi/pebisnis: sekolah bukan untuk menimba ilmu hidup melainkan untuk menimba keahlian bekerja. Sekolah bukan untuk belajar berempati melainkan untuk berkompetisi. Maka, tidak heran jika kaum kaya-pebisnis jarang tersentuh hatinya oleh realitas kehidupan kaum miskin.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Leave a Comment »

Sikap Positif

Ditulis oleh postinus di/pada Mei 12, 2008

Oleh Postinus Gulö

Saya sangat bersyukur pada Allah. Melalui peristiwa kecil Ia menyapaku: memberikan pencerahan reflektif. Ketika saya sedang membaca sebuah buku yang berjudul: “Developing the Leaders Around You”, yang ditulis John C. Maxwell, saya menemukan pencerahan. Dan, saya yakin bahwa ini adalah suara Tuhan, nasehat Allah. Inspirasi yang muncul pun saya rangkai dalam kalimat. Saya tidak menyia-nyiakan pengalaman tersingkap itu. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Motivasi | 6 Komentar »

The End of Intelligence Quotient?

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 16, 2008

Postinus Gulö *

        Dalam buku If Aristotle Ran General Motors: The New Soul Business, Tom Morris mengindikasikan (secara implisit) bahwa wisdom adalah gejala baru dalam kultur postmodern. Tren ini mengindikasikan terjadinya konvergensi (titik temu)  antara dua gagasan yang berbeda (misalnya spiritualitas vs bisnis, Allah vs Mamon) yang notabene tidak bisa digabungkan oleh Yesus.

         Bagi Tom Morris, making money bukanlah kegiatan yang haram seperti yang difatwakan oleh institusi religius. Making money (cari uang) adalah kegiatan sakral: kesempatan untuk memuliakan nama Allah, lahan untuk melayani Allah dan manusia sebagaimana tuntutan Yesus. Lantas, bagaimana caranya? Caranya adalah mesti membawa spiritualitas ke dalam bisnis. Mesti membawa hati nurani ke dalam dunia usaha sehingga tidak terjadi korupsi. Jadi, making money menjadi kegiatan sacral manakala bertujuan memuliakan Allah. Hal inilah yang disebut dengan manajemen berbasis hati nurani. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Philosophy | 1 Komentar »

Syarat Menjalin Relasi Harmonis

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 6, 2008

Dalam bukunya “The Seven Habits of Highly Effective People”, Stephen R. Covey pernah mengusung landasan utama yang harus dimiliki oleh setiap manusia (jika ia mau berhasil dalam berelasi dengan orang lain), yaitu “personality ethics” (etika kepribadian). Menurut beliau personality ethics (PE) pada dasarnya mengambil dua jalan:

Pertama, teknik berhubungan dengan manusia atau masyarakat. Kedua, sikap mental positif (SMP) atau positive thinking (husnu-dzon). Nah, bagaimana mengaktualisasikan kedua “jalan” ini? Langkah pertama dan utama yang harus kita lakukan adalah: memperhatikan (mengevaluasi dan mengoreksi) persepsi kita sendiri. Mengapa? Karena persepsi itu bagai “lensa”: jika lensa yang kita pakai berwarna merah maka apapun yang kita lihat menjadi merah. Jadi, ketika kita “berpikir” tentang sesuatu jangan-jangan lensa yang kita pakai justru lensa yang tidak benar, bukan lensa yang seharusnya. Itu sebabnya perlu mengoreksi lensa berpikir kita.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Motivasi | Leave a Comment »

FIKSI, IDE, DAN IDEOLOGI

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 6, 2008

Tulisan ini saya awali dengan pertanyaan: apa arti sebuah ide, seperti ide tentang Allah, ide tentang keadilan, dan ide tentang kebahagiaan? Bagi William James, ideas are not solely determined by the social conditions of their time, but also by earlier ideas, or by ideas transferred from different ideological field and different social-economic contexts”, ‘ide-ide itu tidak hanya ditentukan oleh kondisi-kondisi zamannya, tetapi oleh ide-ide sebelumnya atau ide yang berbeda dalam sosial-ekonomi dalam konteks yang berbeda-beda’.  

Saya yakin bahwa ide-ide itu ditentukan oleh status atau kedudukan dan golongan sosial (terpelajar atau tidak) dari orang yang mencetuskan dan memperjuangkannya. Misalnya, ide orang kaya dengan ide orang miskin sangat berbeda. Orang kaya cenderung anti Pedagang Kaki Lima (PKL). Dengan alasan: mengakibatkan jalan macet dan bahkan mengganggu pejalan kaki. Lain halnya orang miskin. Mereka malah pro PKL. Dengan alasan, barang-barang ada di sekitar mereka, bisa dijangkau, bisa tawar-menawar. Jadi, seni berbicara dengan sendirinya terpraktekkan. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Philosophy | Leave a Comment »

Ketika Manusia (Tak) Berhati Nurani

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 6, 2008

                                               

             Dunia lebur dalam kerakusan, keegoisan, kebohongan. Adalah Hitler pernah berkata “berbohonglah terus-menerus karena suatu saat kebohongan Anda akan dianggap sebagai kebenaran”. Tesisnya ini terbukti. Tatkala ia menghasut rakyat Jerman bahwa Yahudi: manusia tak berguna, harus dibasmi, seolah diafirmasi begitu saja. Ternyata, kerakusan dan kebohongan membentuk manusia dalam wajah yang licik dan picik. Kata-kata Hitler ini bukan hanya terjadi di masa lalu. Kini, kelicikan semakin menjadi tindakan spektakuler pejabat, kaum intelektualis, dan kaum cerdik. Akhir-akhir ini, kelicikan adalah jurus instan-manjur mencapai kejayaan. KKN semakin terpelihara karena keegoisan dan kebohongan itu. Bahkan lembaga pengusung kedamaian, “agama” menjadi tempat membangun tembok kebencian karena keegoisan. Maka, dewasa ini kita mendengar ada perang religius. Mereka ingin mewujudkan surga di bumi, tetapi sebenarnya tindakan mereka justru menciptakan neraka, kata Karl R. Popper.   

Kebencian manusia zaman kiwari tidak hanya sebatas wacana tapi diaktualisasikan menjadi kenyataan yang membabi buta. Maka, John Naisbitt dan Patricia Aburdence menjadi frustrasai. Spirituality  Yes, Religion No, kata mereka.  Mereka menggugat kebenaran yang ditawarkan lembaga agama. Namun, sebenarnya ingin mereposisi agama, bukan membenci agama secara ontologis.

 

            Ketika dunia lebur dalam kekacauan, banyak pengagum kebenaran menjadi frustrasi dan ragu pada kebenaran: jangan-jangan kebenaran hanya pembenaran atau kebenaran diidentikkan dengan pembenaran. Agama yang tadinya sebagai sarana keselamatan; sekarang malah pembawa ketakutan, kehancuran. Agama harus digugat, kata A. Wilson. Gagasannya itu bukan hanya kritikan mengawang-ngawang. Againts Religion: Why We Shouldn’t Try to Live Without It, itu adalah bukunya yang sangat menohok dan mungkin menggemparkan dunia. Ia mengganggap bahwa agama adalah pembawa tragedi. Jauh sebelum itu, klaim yang lebih menohok datang dari Marx: agama adalah candu. Bahkan Feurbach. Pernah berkata, agama hanya sebatas tempat memproyeksikan Allah, tidak lebih dari itu. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Leave a Comment »

Moral dan Politik

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008

Paper ini pertama-tama ingin menjawab satu pertanyaan: bagaimana jika politik dan moral terpisah? Jawaban pertanyaan ini saya paparkan dalam uraian berikut.

 

Politik berkaitan erat dengan kekuasaan dan ketatanegaraan. Hal itu sesuai dengan etimologi politik: politeia (negara), dan politikos (negarawan). Jika kita kembali melihat hakikat filsafat politik, semakin jelas bahwa politik dan moral saling interpendensi. Plato misalnya, mendefenisikan filsafat politik sebagai salah satu cabang etika (filsafat moral) sosial atau kemasyarakatan. Baginya, manusia sudah selalu berpolitik karena manusia tidak pernah terlepas dari negara (politeia).[1]

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Leave a Comment »

Tragedi Dunia Intelektual

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008

Oleh Postinus Gulö * 

“Ia bergelar doktor, tetapi ia seorang koruptor.” Kalimat itu saya ucapkan dalam suatu diskusi empat mata. Saat itu, kami membahas fenomena Indonesia yang sedang dilanda tragedi dan ‘perselingkuhan’ intelektual. Banyak pejabat dan politikus (yang adalah kaum intelektual), justru mengkhianati bangsa. Mereka mengangkangi kepentingan umum dengan berlaku tidak jujur: korupsi. Dari fenomena ini, maka yang penting bukan kadar intelektual setiap pejabat, melainkan etos atau kecenderungan etis setiap pejabat. Etos adalah arête atau keutamaan (istilah dari Socrates) yang memampukan seseorang memiliki kekuatan moral, berkarakter baik. Dan jika pejabat kita memiliki etos atau arête, saya percaya, mereka dapat mengontrol diri dari keinginan jahat: korupsi. Korupsi adalah tindakan mencuri terencana.  

 Motivasi mencuri bermacam-macam. Seseorang mencuri karena ia lapar atau untuk bertahan hidup, untuk mengisi perut. Motivasi semacam ini sering kita baca di surat kabar. Umumnya, mereka adalah kalangan akar rumput, tidak mampu, berpendidikan rendah. Ada juga yang mencuri karena terpengaruh teman, lingkungan. Bahkan ada yang mencuri karena ingin memiliki seperti yang orang lain miliki tetapi ia tidak mau bekerja seperti orang lain. Ia pingin yang cepat, instan. Ia tidak mau keluar keringat, cukup jalan pintas saja. Model motivasi terakhir ini, itulah yang terjadi dalam diri pencuri sepeda motor, mobil, perampok bank, dll. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Leave a Comment »

Merawat Pikiran

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008

Postinus Gulö* 

Dalam bukunya “How to Have a Beautiful Mind”, Edward de Bono dengan percaya menguraikan: hampir semua manusia tidak pernah memperhatikan “kesehatan” pikirannya. Manusia hanya sibuk memperhatikan kesehatan fisiknya. Kecenderungan manusia semacam ini kian melilit pikiran manusia zaman kiwari. Kalau tidak percaya, cobalah Anda amati perilaku generasi global. Adalah seorang pendukung berat gejala semacam ini berkata: “darker skin means healthier body, it’s sexier”.  

Tetapi jangan heran. Gejala ini bukan barang yang jatuh dari langit. Di belakang fenomena itu, biopolitical sympton yang mempropagandakannya dengan kampanye nilai: cantik, wellness, healthy, kurus, ganteng. Kampanye ini ternyata sukses: produk industri “diet” sangat laris. Propaganda “values” semacam ini adalah barang dagangan industri hiburan dan informasi yang kian menghipnotis siapa saja yang memang tak selektif. Melihat gejala semacam itu, mungkin ada benarnya apa yang pernah dilontarkan oleh Michel Foucault: jika dulu, yang menjadi pan-optikon atau control bagi manusia adalah institusi disiplin seperti sekolah, penjara, polisi, sekarang yang menjadi pan-optikon adalah industri iklan dan informasi.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, My Reflection | 4 Komentar »

Kunci Berfilsafat

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008

Oleh Postinus Gulö *

  

Konon, filsafat pertama kali dicetuskan oleh Pythagoras (582-496 BC). Kala itu, Pythagoras menyebut dirinya sebagai philosophos, “kawan kebijaksanaan”. Itu sebabnya, etimologi filsafat adalah philos berarti cinta, sahabat, kawan. Dan, Sophos (sophia) berarti kebijaksanaan, hikmat, pengetahuan. Jadi, seorang filsuf adalah sahabat, pencinta dan pencari kebijaksanaan. Konsep Pythagoras tentang filsafat perlu kita ketahui bersama. Tujuannya adalah agar kita jangan dan tidak rancu serta salah kaprah memahami apa itu filsafat dan bagaimana kita berfilsafat. Pythagoras mengatakan bahwa hanya Tuhanlah yang memiliki kebijaksanaan sempurna. Dan, Tuhan adalah sumber kebijaksanaan. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Philosophy | Leave a Comment »

What is the Meaning of Life?

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008

Oleh Postinus Gulö *       

Pertanyaan what is the meaning of life (apa makna ke-hidup-an) adalah salah satu persoalan pokok filsafat. Pertanyaan ini seolah gampang tetapi sulit dijawab. Pertanyaan macam ini bersinggungan dengan hal yang sublime, beyond (yang melampaui, yang tidak gampangan). Oleh karenanya, tidak berlebihan jika what is the meaning of life saya masukkan dalam kategori “the unthinkable, yet inevitable” (istilah Immanuel Kant), tak terpikirkan atau tidak dimengerti tetapi tidak terelakkan.

Singkat kata, pertanyaan what is the meaning of life sejajar dengan pertanyaan: hidup itu apa, mati itu apa, mengapa ada penderitaan, mengapa Allah membiarkan penderitaan, apakah Allah tidak mampu meniadakan penderitaan manusia, apakah penderitaan itu bermakna, apakah mati itu bermakna? Jika kematian saja bermakna, apalagi hidup pasti bermakna. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Philosophy | 1 Komentar »

Apa Itu Neoliberalisme?

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008

Oleh Postinus Gulö

Neoliberalisme merupakan sebuah fenomena sosial-politik yang biasanya dialamatkan kepada sekelompok penguasa dan intelektual di Barat yang mendukung dan ingin menghidupkan kembali gagasan-gagasan liberalisme klasik[1]. Neoliberalisme adalah kata lain dari “liberalisme baru”. Neoliberalisme kerap dianggap sebagai pendukung pasar bebas, ekspansi modal dan globalisasi.[2]

Istilah neoliberalisme sering disalah-artikan. Misalnya, ada sebagian yang menganggap bahwa ekonomi pasar identik dengan neoliberalisme. Menurut B. Herry Priyono, neoliberalisme memang melibatkan aplikasi ekonomi pasar, tetapi tidak semua ekonomi pasar bersifat neoliberal: ekonomi pasar sosial tidak bersifat neoliberal. Awalan neo (baru) pada istilah neoliberalisme menunjuk pada gejala yang mirip dengan tata ekonomi 30 tahun terakhir dengan masa kejayaan liberalisme ekonomi di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang ditandai dominasi financial capital dalam proses ekonomi. Namun, yang terjadi dalam 30 tahun terakhir tersebut (akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20) bercorak lebih ekstrem dan gejala ini berlangsung dengan berakhirnya era besar yang disebut embedded lberalism.[3] Neoliberalisme berisi kecenderungan lepasnya kinerja pemodal dari kawalan, tetapi dalam bentuk yang lebih ekstrem. Neoliberalisme kadangkala dianggap sebagai cara para tuan besar pemodal untuk merebut kembali kekuasaan, sesudah mereka terkekang dalam periode setelah Perang Dunia II sampai dasawarsa 1970-an.

Walaupun neoliberalisme selalu dikaitkan dengan ekonomi, namun sebenarnya neoliberalisme bukan hanya sekedar ekonomi. Neoliberalisme bervisi tentang manusia dan masyarakat dengan cara pikir ekonomi yang khas sebagai perangkat utama. Visi neoliberalisme tersebut dapat kita lihat dalam uraian berikut: Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | 14 Komentar »