SIMAK

Gagasan, ide, opini, refleksi, resensi-tinjauan, dan sharing dari Postinus Gulö

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..



    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 57,734 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Juni 2012
    S S R K J S M
    « Jan    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    252627282930  

Arsip untuk ‘Kumpulan Tulisan-Opini’ Kategori

Non Scholae, Sed Vitae Discimus

Posted by postinus pada Januari 5, 2012

Oleh Postinus Gulö, S.S., M.Hum

(Tulisan ini pernah dimuat di Harian INILAHKORAN, 5 Januari 2012)

Sangatlah menarik analisis Marinus Waruwu menguraikan gagasan disceo ergo sum: saya belajar maka saya ada. Bagi Marinus, peserta didik merasa dirinya ada, dan ber-ada hanya ketika mereka belajar dan mengalami secara langsung proses belajar itu. Hanya melalui belajarlah mereka bisa meraih cita-cita setinggi langit (INILAHKORAN 13/12/2011).

Akan tetapi, apakah para teroris tidak sungguh-sungguh mempraktekkan slogan disceo ergo sum itu? Apakah penganut radikalisme tidak mempelajari sungguh-sungguh ilmu-ilmu yang radikal? Ada banyak teroris belajar secara tekun bagaimana merakit bom. Informasi merakit bom mereka cari di internet secara tekun untuk dipelajari sungguh-sungguh. Mereka membaca dan mempelajari berbagai buku yang membekali mereka merakit bom dan semakin radikal menjadi teroris. Jadi, teroris dan penganut radikalisme sungguh mempraktekkan disceo ergo sum itu. Bagi teroris, belajar merakit bom membuat mereka semakin eksis sebagai teroris yang handal. Dengan demikian, ilmu yang mereka pelajari bukan untuk kehidupan melainkan untuk kebencian dan kematian.

Sebenarnya, peserta didik tidak hanya kita dorong untuk mempraktekkan disceo ergo sum, tetapi kita juga mengajak mereka untuk menyadari kalimat bijak filsuf Lucius Annaeus Seneca (4 SM-65 SM): “Non scholae, sed vitae discimus”. Kalimat itu berarti kita belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup. Di balik kalimat bijak Seneca itu, peserta didik belajar bukan hanya mengejar nilai, melainkan belajar untuk hidup. Jadi Seneca hendak mengatakan:“non ut discam vivo, sed ut vivam disceo” (bukan saya hidup untuk belajar, melainkan saya belajar untuk hidup). Dalam konteks ini sangat benar pendapat Marinus, “belajar bukan lagi soal mendapatkan nilai dengan angka-angka yang besar, sebaliknya belajar adalah bagaimana peserta didik dibentuk menjadi manusia seutuhnya, menjadi pribadi yang jujur, dan berkarakter serta beriman kepada Yang Maha Kuasa.”

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Pendidikan Anak | Bertanda: , | 1 Komentar »

Korupsi dan Kekerasan (Catatan Akhir Tahun 2011)

Posted by postinus pada Desember 31, 2011

Oleh Postinus Gulö *

Waduh! Sepanjang tahun 2011 ini korupsi dan kekerasan dominan dalam pemberitaan media massa. Kita masih ingat kasus Muhammad Nazaruddin, bekas bendahara umum Partai Demokrat itu. Kasus itu ibarat bom yang mengguncang bangsa kita. Betapa tidak, kasus itu diduga melibatkan orang-orang penting, bahkan “ketua besar.” Kasus Nazar memperlihatkan korupsi begitu sistematis di negeri ini. Hingga kini mega skandal korupsi itu sedang ditangani KPK, semoga menyentuh aktor utamanya.

Tertangkapnya Nunun Nurbaeti, (9/12/2011) semakin semarak pemberitaan korupsi di negeri ini. Seperti kita tahu, Ibu Nunun menjadi tersangka kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI), Miranda Goeltom. Kasus tersebut telah menyeret puluhan anggota Dewan Perwakilan Rakyat menginap di hotel prodeo. Kasus-kasus yang diurai ini, hanyalah contoh dari sekian skandal korupsi di negeri ini. Masih banyak skandal korupsi lain yang melibatkan aparat penegak hukum dan pengusaha.

Penanganan kasus yang mencabik-cabik rasa keadilan adalah manakala tersangka korupsi miliaran rupiah justru dihukum ringan, mendapat remisi bahkan dibebaskan. Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat, ada 45 koruptor yang dibebaskan pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sepanjang tahun 2011. Pembebasan koruptor ini melawan semangat pemberantasan korupsi di negeri ini.

Kasus-kasus korupsi di negeri ini sangat sistematis. Pegawai negeri muda yang rata-rata baru bergolongan IIIA sudah memiliki rekening gendut miliaran rupiah. Ada beberapa kasus korupsi yang melibatkan legislatif, eksektuif, yudikatif dan para pengusaha. Kalau begitu, siapa lagi yang membersihkan negeri ini dari korupsi? Tukang bersih ada yang tidak bersih. Ibarat menyapu lantai kotor dengan sapu kotor, tetap kotor! DPR, pejabat dan aparat Negara sibuk dengan kasus korupsi, kapan mereka memikirkan rakyat kecil?

Bangsa ini seolah tak sepi dari skandal kasus. Kasus korupsi setengah hati ditangani, semakin lengkap dengan merebaknya kekerasan di mana-mana. Sepanjang tahun 2011 ini, kekerasan yang dominan di negeri ini ada tiga kategori.

Pertama, kekerasan terhadap penganut agama minoritas. Dalam hal ini kita masih ingat kasus sadis di Cikeusik. Beberapa penganut Ahmadiyah tewas dihajar massa. Tetapi, 12 terdakwa atas kasus tersebut hanya dihukum 3 bulan hingga 6 bulan penjara. Kasus paling anyar adalah penyerangan dan pembakaran pesantren Islam Syiah di Sampang, Madura (29/21/2011). Kasus penyerangan ini, seolah melengkapi kasus GKI Yasmin Bogor. Di Negeri yang berlandaskan Pancasila, menyanjung demokrasi dan toleransi, justru kebebasan beragama dikebiri oleh kelompok massa tertentu. Lihatlah kasus penolakan atas pembangunan Gereja St. Theresia Cikarang itu (28/12/2011). Gereja ini ditolak karena dianggap sebagai Gereja terbesar se-Asia Tenggara dan menjadi pusat misionaris. Gereja ini dituduh sebagai sarana kristenisasi.

Kedua, kekerasan terhadap rakyat oleh aparat polisi. Kasus Mesuji dan Sape-Bima mewakili kategori kekerasan ini. Brimob cenderung respresif ketimbang bertindak persuasif. Brimob terkesan membela kepentingan penguasa dan pengusaha daripada kepentingan rakyat banyak. Warga pun menjadi korban kekerasan brimob, yang sejatinya pengayom dan pelindung rakyat. Polisi hanya menyelesaikan pucuk kasus, tanpa menyelesaikan akar kasus. Akar kasus Sape-Bima adalah SK Bupati Bima Nomor 188 Tahun 2010 tentang izin pertambangan PT Sumber Mineral Nusantara (SMN) yang merugikan rakyat Bima. Dalam kasus pertambangan dan pertanahan semacam ini, melibatkan kepala daerah dan pengusaha. Akar masalah ini yang semestinya diselesaikan aparat terkait.

                        Keterangan foto: Brimob membubarkan paksa massa di Pelabuhan Sape, Bima-NTB, hingga menewaskan tiga warga.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Bertanda: , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Polisi dan Natal

Posted by postinus pada Desember 25, 2011

Tulisan “Selamat Hari Natal,” menghisasi hampir semua sudut kota di negeri ini. Melalui spanduk, kartu Natal, baliho, radio, channel TV, media online, banyak yang menyampaikan kalimat itu. Sepintas, negeri ini saling menyapa. Sepintas, anak bangsa negeri ini saling menghargai, menjunjung tinggi demokrasi dan toleransi. Sepintas, negeri ini ibarat surga, tiada permusuhan. Yang ada saling bersaudara.

sumber foto: http://www.seruu.com

Kenyataannya, polisi berjaga-jaga. Polisi disiagakan. Polisi menyisir Gereja, memeriksa umat yang datang dan barang-barang Gereja, termasuk ornamennya. Altar, yang dulu, hanya boleh diinjak oleh para pelayan Gereja, sekarang ibarat ruang profan. Polisi lalu-lalang di Altar! Tabernakel, diperiksa memakai alat pendeteksi logam. Bagi saya, seolah kesucian ruang itu telah hilang. Melihat penyisiran itu di channel TV, hati kecilku, terganggu.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Tinggalkan sebuah Komentar »

Ketemu Uang, Mental Tidak Kuat

Posted by postinus pada September 18, 2011

Oleh Postinus Gulö

Itulah judul artikel ini, tampak nyeleneh tapi nyata. Para pejabat negeri ini, mereka yang punya kekuasaan, semakin dilanda penyakit laten korupsi.  Korupsi sudah sedemikian sistematis, hampir tak ada jabatan publik bersih korupsi.  Ya…..mereka yang punya kuasa dan jabatan itu amoral. Nyatanya, ketemu uang, mental mereka tak kuat. Terjadilah tindakan sistematis korupsi antara DPR-Pemerintah-Penegak Hukum dan pengusaha. Mereka menjalin kerja sama untuk bertindak haram. Mereka sedang membuktikan: bersama kita bisa korupsi, bersama kita bisa mengebiri hukum. Lanjutkan korupsi, stop tindakan bersih korupsi!

Anda masih ingat kasus Bank Century? Kasus itu sulit terkuak karena pihak yang terlibat begitu kuat. Anda masih ingat kasus Gayus tambunan? Dalam kasus itu, ada penegak hukum yang menjadi pesakitan. Kasus mencengangkan adalah kasus Nararuddin. Kasus itu tampak jalan di tempat. Kasus itu melibatkan banyak pihak. Ehmmm…..episode kasus Nazaruddin belum selesai, kita disodori kasus korupsi di Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Aha…eureka! Negeri ini negeri korupsi. Perhatikan syair laguku berikut:

 

Padamu negri, aku hamba duit

Padamu negri, aku mencuri  duit

Padamu negri, aku korupsi

Padamu negri, jiwa ragaku demi korupsi

 

Aneh bin ajaib, Presiden SBY hampir selalu menyuarakan bahwa pemerintahannya anti-korupsi. Presiden pernah berjanji untuk menjadi pribadi yang terdepan memberantas korupsi. Nyatanya, rumput yang tak punya akal pun dapat berkata: toh nihil tindakan! Tiada sinkronisasi antara kata dan tindakan. Tolong buktikan janji itu, segera! Sekadar pelipur lara, kuteruskan syair nyanyianku:

 

Aku rakyat, tak punya duit

Aku rakyat, biasa hidup terjepit

Aku rakyat, muak  kasus korupsi

Aku rakyat, go to hell korupsi!

 

Rakyat tak perlu lupa isi kampanye Partai Demokrat: “Katakan tidak pada korupsi”. Kita mesti tetap ingat janji kampanye yang tampak hanya sebatas slogan nihil pembuktian itu. Dengan tangan bergetar, kutuliskan apa yang terlintas dari dalam hatiku itu:

 

Saat kampanye, kuserukan: katakan tidak pada korupsi

Sebenarnya maksudku, bersama kita bisa korupsi

Saat kampanye, kuumbar janji anti-korupsi

Nyatanya, ada kader partaiku suka korupsi

 

Kasus korupsi semakin terbongkar gamblang. Tetapi,  penegak hukum seperti mandul menyelesaikannya. Hingga kini belum ada kasus yang tuntas sempurna. Semuanya serabutan tanpa menyentuh aktor intelektual. Ada banyak kasus hukum dibiarkan vakum. Ada banyak kasus korupsi diselesaikan dengan deal politik. Yah….itulah negeriku ini. Simaklah ungkapan hatiku berikut ini:

 

Saat kampanye kusuarakan: lanjutkan melayani

Sebenarnya maksudku, lanjutkan korupsi, stop tindakan bersih korupsi!

Saat ini kuserukan: untuk koruptor tak ada remisi

Sebenarnya maksudku, politik pencitraan diri

 

Kita akui, negeri ini adalah bangsa besar. Para pejabat semestinya sadar punya tanggung jawab besar. Nyatanya, mereka hanya punya nafsu besar mengorupsi uang Negara. Mereka punya nyali besar mencuri uang rakyat. Mereka itu, DPR, Pemerintah, Penegak hukum, bahkan penguasa. Nyatanya, mereka itu bersekongkol pengusaha. Mereka itu bertanggung jawab menyejahterakan rakyat. Nyatanya, mereka berlomba mengorupsi uang rakyat

Kita akui, negeri ini adalah pemeluk agama, umat beriman. Nyatanya, berita tindakan amoral, korupsi di segala lini, sepertinya sudah menjadi tontonan hampir setiap saat. Nyatanya, banyak yang beriman hanya ketika berada di Gereja, Mesjid, Vihara, atau tempat ibadat lainnya. Keluar dari sana, Tuhan mereka adalah uang. Uang memang Maha Kuasa bagi mereka.

Kita tidak rela negeri ini dihancurkan oleh para koruptor. Kita tidak sudi negeri ini porak-poranda oleh tindakan koruptif segelintir orang. Tetapi harapan itu menjadi kenyatan, jika DPR, Pemerintah, Penegak Hukum dan Pengusaha tidak tunduk pada uang. Semoga!

 

 Postinus Gulö adalah lulusan S-1 Ilmu Filsafat dan S-2 Ilmu Teologi Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Moral Masalah Dunia | Bertanda: , , | 1 Komentar »

Orangtua Wajib Memberi Kebutuhan yang Seimbang Kepada Anaknya

Posted by postinus pada Januari 14, 2011

Oleh Postinus Gulö*

 Orangtua memiliki kewajiban yang BERAT terhadap anak-anaknya. Hal itu ditegaskan dalam Kitab Hukum Kanonik 1983 Kanon 226 § 2. “Orangtua, karena telah memberi hidup kepada anak-anaknya, terikat kewajiban yang sangat BERAT dan mempunyai hak untuk mendidik mereka…”. Kewajiban orangtua BERAT karena orangtua adalah figur yang berada di garda terdepan untuk memenuhi kebutuhan materi, afeksi, rohani dan intelektual anak-anaknya. Orangtua adalah rekan Allah dalam memberi hidup kepada anak-anaknya. Tetapi dalam kenyataannya, ada  beberapa orangtua yang belum semua menyadari bahwa kewajiban mereka BERAT. Ada beberapa orangtua yang memberi kebutuhan yang timpang kepada anak-anaknya. Bahkan ada orangtua yang melupakan kewajiban mereka untuk mendidik anak-anak mereka secara baik dan benar berdasarkan ajaran yang diwariskan gereja. Apa yang mereka terima selama persiapan perkawinan seolah tak teringat lagi.

Ada satu cerita yang sebenarnya kisahnya nyata. Nama tokoh dalam cerita ini sengaja disamarkan. Modestus dan Modesta dianugrahkan seorang gadis mungil dan cantik. Mereka memberi nama kepada gadis itu Modestia. Modestus dan Modesta tergolong pasangan suami istri (pasutri) yang memikirkan jauh-jauh hari kelangsungan hidup anak mereka. Modestus dan Modesta paling khawatir kalau Modestia hidup menderita kelak. Mereka juga sudah memikirkan bagaimana hidup Modestia jika suatu saat mereka yang lebih duluan meninggal daripada Modestia. Oleh karena itu, pasutri ini banting tulang untuk mengumpulkan uang demi masa depan Modestia. Mereka punya impian bahwa kelak Modestia tidak akan menderita miskin walau mereka sudah tiada. Setiap hari bahkan hari-hari libur mereka isi dengan kegiatan yang mendatangkan uang. Setiap hari mereka sibuk bekerja. Modestia mereka titipkan ke pembantu. Hampir setiap hari mereka tidak punya waktu lagi untuk menggendong dan memeluk Modestia. Mereka berdua rata-rata pulang pada malam hari pada saat Modestia sudah terlelap tidur. Modestia tidak merasakan hangatnya pelukan sang Papa dan Mama. Modestia tidak merasakan sentuhan kasih Papa dan Mamanya.

  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Pendidikan Anak | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Perbuatan Orangtua Membentuk Karakter Pribadi Seorang Anak

Posted by postinus pada Januari 14, 2011

Oleh  Postinus Gulö*

Anak-anak dianugrahkan oleh Allah melalui pasangan suami-istri (pasutri). Pasutri berperan sebagai mitra Allah (co-creator) dalam melahirkan anak (manusia). Anak-anak yang lahir dalam keluarga merupakan buah cinta Allah kepada pasutri. Dalam pandangan Agustinus, anak merupakan salah satu bona (kebaikan) dari perkawinan. Melalui perkawinan, pasutri melahirkan umat manusia dan anggota-anggota Kristus. Oleh karenanya, pasutri bertanggungjawab untuk menumbuh-kembangkan anak-anak yang dipercayakan Allah kepada mereka. Sebagai rekan kerja Allah, orangtua mesti selalu berusaha menuju kesucian dan penyempurnaan hidup. Hal itu dapat dilakukan melalui pertobatan setiap saat dan kesadaran akan tanggung jawab besar terhadap anak-anaknya.

Tanggung jawab utama orangtua  adalah membangun keyakinan nilai dan meneguhkan tekad moral anaknya. Orangtua berperan aktif agar anak-anaknya memperoleh segala yang membuat hidup mereka menjadi bermakna dan bahagia. Pendidikan religius (keimanan) hendaknya dapat berlangsung terutama dalam keluarga (Iman Katolik: 56). Anak merasakan cinta kasih Allah melalui cinta kasih orangtua. Perbuatan keseharian orangtua ikut membentuk karakter pribadi seorang anak. Jika perbuatan keseharian orangtua berisi  nilai-nilai religius dan moral, maka anak-anak mereka kemungkinan besar akan tumbuh-berkembang dengan baik dan benar. Akan tetapi, jika perbuatan keseharian orangtua dipenuhi dengan percekcokan atau perselingkuhan, perbuatan semacam ini akan berdampak negatif terhadap anak-anak mereka kelak.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Pendidikan Anak | Bertanda: , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Tanggapan Gereja Katolik Terhadap Teknologi Kontrasepsi dan Teknologi Reproduksi

Posted by postinus pada Oktober 5, 2010

       Oleh Postinus Gulö

 1. Pengantar

Dahsyat dan mencengangkan! Itulah kata yang cocok untuk melukiskan bagaimana manusia merekayasa proses kehidupan. Pada zaman ini sudah begitu gencar perkembangan kecanggihan teknologi kontrasepsi dan reproduksi. Akan tetapi, teknologi tersebut telah menampilkan dua wajah: memberi solusi sekaligus berpotensi manipulatif. Hasil penemuan tersebut dipandang positif dan menawarkan solusi jika dipergunakan untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan fungsi normal dan alami proses prokreasi manusia. Akan tetapi, teknologi itu dipandang negatif-manipulatif jika digunakan untuk menghancurkan dan mengobjekkan manusia atau dipakai untuk tindakan yang berlawanan dengan kebaikan integral umat manusia.[1] Realitas menunjukkan bahwa para ahli biomedis milenium ketiga ini bisa melakukan intervensi-determinatif terhadap siklus alami biologis. Para ilmuwan biomedis mampu mengintervensi, mencegah, dan memanipulasi proses terjadinya pembuahan.

Kemajuan teknologi sekarang memungkinkan manusia untuk berkembang biak terpisah dari seksual sesuatu yang tidak bisa diterima secara moral. Umat Allah perlu mengingat bahwa apa yang mungkin secara teknologi belum tentu dapat diterima dalam moral Katolik.[2] Paus Yohanes Paulus II pernah menyadarkan umat Allah agar jangan terjebak dalam lingkaran sikap permissif (memperbolehkan segalanya) yang bertentangan dengan hakekat perkawinan dan keluarga.[3]

Dalam paper ini, penulis[4] akan membentangkan deskripsi-analitik mengenai tanggapan moral Gereja Katolik terhadap teknologi kontrasepsi dan teknologi reproduksi itu. Namun sebelumnya, penulis berusaha untuk mendeskripsikan teknologi kontrasepsi dan teknologi reproduksi. Penulis berusaha menganalisis alasan-alasan penggunaan alat-alat kontrasepsi dan teknologi reproduksi serta persoalan-persoalan yang muncul dari kecanggihan teknologi tersebut. Berdasarkan deskripsi dan analisis inilah penulis mengeksplorasi penilaian moral atas masalah berdasarkan dokumen Gereja. Di bagian akhir paper ini, penulis berusaha menjabarkan tawaran solusi berdasarkan ajaran Gereja. Selamat membaca!

2. Teknologi Kontrasepsi

Kontrasepsi adalah suatu tindakan mencegah terjadinya pembuahan (konsepsi). Alat kontrasepsi bisa mengacaukan siklus dan masa reproduksi pada wanita dan pria.  Ada beberapa cara mencegah terjadinya pembuahan, antara lain:

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Moral Masalah Dunia, Teologi | Bertanda: , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Perspektif dan Warna Pastoral Berdasarkan Hasil Penelusuran di Google

Posted by postinus pada September 11, 2010

Tepat hari Senin, (6/9/2010), saya mencari kata “pastoral” di mesin pencarian Google. Tidak lama, hanya memelurkan waktu 0.09 detik keluarlah hasil penelusuran  sekitar 71,800,000 kata dari hampir ribuan situs. Situs yang pertama muncul adalah Wikpedia yang mengulas istilah pastoral secara historis. Istilah Pastoral dalam bahasa Latin Kuno adalah  pastoralis, yang berarti penggembala. Kata sifat ‘pastoralis’ berasalh dari kata benda ‘pastor’ yang berarti gembala (shepherd). Setelah menelusuri situs-situs yang memuat dan membahas pastoral selama kurang lebih 5 jam, saya menarik beberapa kesimpulan.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Teologi | Bertanda: , | 3 Komentar »

Merefleksikan Spiritualitas Salib Dalam Kristologi Kosuke Koyama

Posted by postinus pada Maret 30, 2010

Oleh Postinus Gulö

Pengantar

Dalam paper ini, penulis hendak mengeksplorasi gagasan Kosuke Koyama mengenai spiritualitas salib. Spiritualitas salib Kosuke Koyama tampak dalam artikelnya: “The Crucified Christ Challenges Human Power”.[1] Artikel ini menarik. Menarik karena di dalamnya terurai secara “implisit” benih dan elemen-elemen penting spiritualitas salib: via crucis, faithfulness (via oblatia), gratuitus, kenosis, miseri-cordia, fiducia, dan via veritatis..[2]

Koyama dilahirkan di Tokyo 10 Desember 1929. Beliau meninggal pada 25 Maret 2009. Koyama adalah seorang teolog Protestan Jepang ternama. Bahkan bisa dikategorikan sebagai seorang teolog cerdas yang menyelesaikan Ph.D-nya di Seminari Teologis Princeton.[3] Tulisan Koyama sering bernuansa puitis sehingga membutuhkan daya nalar ekstra untuk memahami gagasan-gagasannya.

Peristiwa penyaliban Yesus menjadi peristiwa besar yang hingga kini terus direfleksikan. Salib, tidak hanya dipandang sebagai saat kegagalan, saat menderita. Salib adalah saat keluar dari  diri, keberanian mempersembahkan diri demi orang lain (solider). Peristiwa penyaliban Yesus justru menginspirasikan dan menyemangati banyak orang di muka bumi ini. Kerelaan disalibkan sampai mati demi orang lain, sangat berharga. Seperti kutipan Injil Yohanes: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15: 13). Pemberian nyawa merupakan pengorbanan ultim dan tindakan kasih paling tinggi.

  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Secret of Success

Posted by postinus pada Januari 24, 2010

Bagi Ralp Waldo Emerson rahasia utama kesuksesan adalah kepercayaan diri. Self-trust is the first secret of success.  Rasa-rasanya benar. Kepercayaan dirilah yang mendorong kita berinisiatif, melangkah, berani berjuang, berani memilih dan memutuskan untuk bertindak. Artinya, kepercayaan diri inilah yang menggerakkan, mendorong, meneguhkan, meyakinkan kita bertindak.

Sebaliknya adalah keragu-raguan. Keragu-raguan menghambat kita bertindak. Tidak berani memutuskan. Tidak berani memilih. Kalau memilih pun pasti lamban. Maka orang yang ingin sukses adalah orang yang berani memilih dan membuat keputusan. Orang yang berani memilih adalah orang yang memiliki kepercayaan diri, tidak ragu-ragu, dan tidak rendah diri. Ia melihat dirinya mampu meraih kesuksesan walau melewati tantangan berat. Positif melihat kemampuannya. Optimis! Saya bisa! Saya harus bisa! Saya pasti bisa! Yes, I can!

Setiap manusia telah dianugrahi keistimewaan oleh Allah. Rahmat keistimewaan itu antara lain akal budi dan kehendak bebas. Akal budilah yang memampukan manusia kreatif, mampu memecahkan masalah, mampu memanfaatkan peluang meraih kesuksesan. Orang yang tidak kreatif berarti tidak menggunakan akal budinya. Kehendak bebas adalah rahmat berharga. Berkat rahmat ini manusia menjadi makhluk yang mampu memilih, dan berani memutuskan, sekaligus sadar akan konsekuensi atas pilihan dan keputusannya.

Apa yang telah dipilih diperjuangkan. Konsisten dijalankan. Menerima konsekuensi yang ditimbulkannya. Harus disadari bahwa pilihan tidak selalu sesuai dengan idealisme atau harapan awal. Harus disadari bahwa kadang kita mengalami kegagalan pada pilihan kita. Tapi jangan kendor semangat. Orang yang tak pernah gagal adalah orang yang tak pernah mencoba. Orang yang tak pernah salah adalah orang yang tak pernah berusaha. Kalau tidak pernah mengalami kegagalan, kita tak merasakan begitu berharganya kesuksesan itu.

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Motivasi | Tinggalkan sebuah Komentar »

Mengalami Sakramen dalam Terang Estetika Teologis

Posted by postinus pada Januari 22, 2010

Oleh Postinus Gulö*

Pengantar

Dalam makalah ini, penulis secara khusus membahas sakramen dalam terang estetika teologis. Penulis menyadari bahwa sangat perlu memahami sakramen dalam terang estetika teologis. Selama ini banyak umat hanya memahami sakramen secara kognitif. Seolah-olah sakramen itu hanyalah kegiatan kognitif bahkan dipandang hanya sebagai tindakan etis/tindakan kesalehan. Sakramen tidak disadari sebagai pengalaman estetis. Tak jarang sakramen itu dipandang sebagai formalitas dan utilitas belaka, sepanjang ada gunanya. Melihat fenomena ini secara tidak sadar umat kita diam-diam menggugat sakramen. Diam-diam umat kita memposisikan diri sebagai penonton dalam perayaan sakramen. Mereka tidak partisipatif-aktif, mereka tidak memposisikan diri sebagai aktor tetapi sebagai penilai. Akibatnya, mereka cepat bosan dan kecewa melihat perayaan sakramen Katolik itu.

Dalam estetika teologis, yang ditekankan adalah pengalaman bukan pengetahuan. Oleh karena itu, dalam terang estetika teologis, sakramen itu bukan untuk diketahui, bukan untuk dipahami melainkan untuk dialami. Melalui sakramen kita bersedia dialami oleh Allah sekaligus kita secara aktif nyemplung untuk mengalami kehadiran dan sentuhan Allah. Oleh karenanya, yang kita alami bukan kepuasan kognitif melainkan afektif (daya rasa dan cinta). Jika sakramen dihayati sebagai pengalaman estetis maka umat akan mengalami pertumbuhan jiwa.

Sakramen adalah tanda yang terlihat, yang dapat ditangkap oleh panca indera, yang dilembagakan oleh Yesus dan dipercayakan kepada Gereja, sebagai sarana yang dengannya rahmat ilahi diindikasikan oleh tanda yang diterimakan, yang membantu pribadi penerimanya untuk berkembang dalam kekudusan, dan berkontribusi kepada pertumbuhan Gereja dalam amal-kasih dan kesaksian. Sakramen-sakramen secara keseluruhan dipandang sebagai sarana penting bagi keselamatan umat beriman, yang menganugerahkan rahmat tertentu dari tiap sakramen tersebut, misalnya dipersatukan dengan Kristus dan Gereja, pengampunan dosa-dosa, atau pun pengkhususan (konsekrasi) untuk suatu pelayanan tertentu.

  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, Teologi | Tinggalkan sebuah Komentar »

The Open Society Theory in the Plural Society Context

Posted by postinus pada September 18, 2009

By Postinus Gulö

My topic is taken from Karl Raimund Popper’s thesis and Henri Bergson’s opinion. Karl Raimund Popper is a politic philosopher who was born in Austria, while Henri Bergson is a philosopher who was born in French. Popper is a student from Bergson. In Bergson’s opinion, the open society is the society which is deemed in principle to embrace all humanity. A dream dreamt, now and again, by chosen souls, it embodies on every occasion something of itself in creation, each of which, through a more or less far-reaching transformation of man, conquers difficulties hitherto unconquerable. While according to Popper, the open society is the society in which individuals are confronted with personal decisions or individual freedom, and belief for critical attitude, critical thinking, creative thinking, hypothesis thinking and denies: the dogmatic thinking, magical thinking, tribalism attitude, fanaticism, violence and inevitable laws. The most important characteristics of the open society, competition for status among its members.

In my opinion, the open society theory is very important and its relevance in the plural society context like Indonesian society. Why? Because the principles of the open society theory are:

  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Tinggalkan sebuah Komentar »

“Kegiatan Ekonomi Harus Mengarah Pada Usaha Memanusiawikan Manusia”

Posted by postinus pada September 18, 2009

Oleh Postinus Gulő*

Mestinya, kegiatan ekonomi adalah proses realisasi manusia untuk memanusiawikan dirinya dan sesamanya. Jadi, kegiatan ekonomi bukan sekedar untuk mendesain manusia menjadi homo oeconomicus (manusia ekonomi) melainkan juga homo socius (makhluk sosial). Oleh karena itu, kegiatan ekonomi seharusnya di arahkan untuk menjawab kebutuhan individual sekaligus kebutuhan rakyat secara keseluruhan. Jika arah kegiatan ekonomi dijalankan seperti ini maka, visi-misi kegiatan ekonomi berada pada jalur memanusiawikan manusia.

Saya sangat terinspirasi dengan tulisan tokoh ekonomi kondang: Michael Novak menyangkut gagasannya dalam aktivitas ekonomi. Tokoh ini mengidealkan manusia sebagai makhluk yang harus menghasilkan sesuatu (homo faber), harus mampu mendesain dan merekayasa hidupnya. Dalam dunia dewasa ini, agaknya benar arah pemikiran Novak bahwa manusia dewasa ini dilihat oleh pelaku ekonomi sebagai modal (capital), investasi, dan komoditi.

Memang saya tidak begitu setuju dengan pendapat ini. Sebab, jika demikian, kegiatan ekonomi justru menjadikan manusia bukan manusia lagi. Manusia menjadi sama seperti barang yang layak diperdagangkan dan dipertukarkan dengan barang.

  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Tinggalkan sebuah Komentar »

Karakter Kepemimpinan Kristiani

Posted by postinus pada Desember 12, 2008

Oleh   Postinus Gulő  (1)


Pengantar

Berbicara mengenai kepemimpinan, yang terpikirkan oleh saya bukan hanya menyangkut pemimpin melainkan juga yang dipimpin. Kedua pihak ini mesti saling pro-aktif. Walaupun pemimpin begitu ideal, namun jika orang yang dipimpin tidak pro-aktif, sia-sialah sebuah organisasi: tidak lancar/tidak hidup. Namun, dalam artikel ini, saya hanya memfokuskan diri pada karakter seorang pemimpin.

Menurut Max de Pree(2) (tokoh manajemen kepemimpinan), pemimpin pertama-tama dipahami bukan sebagai jabatan (privilege) (3) melainkan sebagai pekerjaan/tanggung jawab/responsibility (dan menurut saya sebagai pelayanan). Artinya, tugas seorang pemimpin adalah berusaha memberdayakan orang untuk melakukan apa yang seharusnya mereka kerjakan dengan cara yang paling efektif dan manusiawi.(4) Pekerjaan menjadi efektif jika ada framework (kerangka kerja) yang akan dikerjakan.(5) Seseorang melakukan hal yang manusiawi jika apa yang mereka lakukan selalu dalam koridor moral dan ajaran iman.

Bahan inspirasi utama penulis saat menulis artikel ini adalah kepemimpinan Yesus. Saya tidak mau lari dari situ. Sebab, kepemimpinan Kristiani selalu berpegang teguh pada ajaran dan keteladanan Yesus. Dan kita sebagai pengikut-Nya mesti menempatkan diri sebagai pengikut Kristus sejati (imitatio christi). Ada beberapa karakter kepemimpinan yang mestinya kita, sebagai umat Kristen, mempraktekkannya dalam hidup keseharian kita, antara lain:

 

1. Pendoa

Sebelum membuat keputusan penting, Yesus berdoa terlebih dahulu. “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana (Mrk. 1: 35). Yesus pergi ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul (Luk. 6: 12-13).

 

Yesus begitu intim dengan Allah. Maka, apapun yang Ia lakukan selalu sesuai dengan kehendak Bapa-Nya. Seorang pemimpin mesti beguru pada sikap Yesus. Modal utama pemimpin dalam merealisasikan (mewujudkan) tanggung jawabnya serta visi dan misinya adalah kekuatan doa (daya spiritual). Kesatuan pemimpin dengan Allah, menjadi semangat yang berkobar untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Bahkan menjadi sumber kebijaksanaan pemimpin dalam mengemban tugasnya.(6)


 

2. Pelayan

Yesus pernah bersabda: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mrk. 10: 42-45). Pemimpin yang memiliki jiwa pelayan selalu berusaha mengambil keputusan yang mengarah pada bonum commune (kebaikan/keuntungan bersama) dan bukan semata-mata demi mencapai bonum private (keuntungan pribadi).(7) Yesus menggunakan istilah pelayan itu berarti pemimpin adalah bukan tipe Nato (no action talk only). Pemimpin adalah orang yang mau bertindak dan menyadari tanggung jawabnya.

 

Dan, yang patut diperhatikan oleh pemimpin adalah kata-kata bijak dari Ken Blanchard: “Semua pemimpin yang berjuang untuk menghasilkan hal-hal baik harus dapat mengeluarkan yang terbaik dari dalam dirinya dan orang lain. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam diri, yakni melalui hati yang mau melayani, lalu keluar untuk melayani orang lain.”(8)

 

3. Memiliki responsibility (bertanggung jawab)

Responsibility berasal dari dua kata. Response: tanggapan, tindakan, jawaban. Ability: kemampuan, kesanggupan. Jadi, responsibility adalah kemampuan bertindak, kesanggupan menanggapi. Seorang pemimpin harus memiliki kepekaan pada tanggung jawabnya. Tanggung jawab adalah semangat hidup seorang pemimpin. Dalam Kitab Suci, kita sering mendengar: jika kita bisa menyelesaikan perkara kecil maka kepada kita akan dipercayakan untuk melakukan pekerjaan besar (minora servabis, mayora te servabit). Lancar atau tidaknya sebuah organisasi tergantung pada kesadaran pemimpin akan tanggung-jawabnya. Oleh karena itulah, dalam mengemban dan merealisasikan tanggung-jawabnya, seorang pemimpin mesti bersikap persuasif. Pemimpin berusaha untuk tidak meluki hati siapapun. 

  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Bertanda: | 2 Komentar »

Arah Pendidikan

Posted by postinus pada Desember 10, 2008

Oleh Postinus Gulő*

Ada pemeo Latin yang menyinggung tujuan utama persekolahan/pendidikan. Pemeo Latin itu berbunyi: Non scholae sed vitae discimus (hendaknya sekolah bukan hanya untuk nilai melainkan untuk hidup). Artinya – meminjam kata-kata Fidelis Waruwu – kita belajar bukan hanya untuk sekolah (ujian/nilai dan kepintaran) melainkan untuk hidup (we learn no for school, but for life). Pendeknya, ilmu dan pendidikan yang didapat di bangku sekolah hendaknya membentuk karakter sang pelajar/sajana untuk lebih berakhlak baik, mampu hidup sebagai manusia. Pemeo Latin itu hendak menegaskan bahwa peserta didik tidak hanya dibekali daya “mengetahui” melainkan mereka juga disadarkan pada bagaimana “mempraktekkan dan menemukan”. Tujuannya agar peserta didik tidak hanya pintar “berteori” tetapi sekaligus ahli “bertindak baik dan benar”.

Akhir-akhir ini, pemeo Latin itu telah digeser – salah satunya – oleh pelaku ekonomi/pebisnis: sekolah bukan untuk menimba ilmu hidup melainkan untuk menimba keahlian bekerja. Sekolah bukan untuk belajar berempati melainkan untuk berkompetisi. Maka, tidak heran jika kaum kaya-pebisnis jarang tersentuh hatinya oleh realitas kehidupan kaum miskin.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.