SIMAK

Gagasan, ide, opini, refleksi, resensi-tinjauan, dan sharing dari Postinus Gulö

  • ..



    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    widget

  • Blog Stats

    • 26,476 hits
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Kategori Tulisan

  • Arsip

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Januari 2010
    S S R K J S M
    « Okt    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • .

  • Mempermainkan Keadilan-Sejarah Indonesia Tak Terlupakan

    Selasa, 3 November 2009. Itulah sejarah Mahkamah Konstitusi yang diketuai Mahfud MD mengukir sejarah baru. Membuka rekaman upaya kriminalisasi terhadap pimpinan KPK Bapak Bibit dan Candra. Rekaman itu diperdengar kepada khalayak umum. Saya termasuk yang penasaran sehingga betah mendengarkan rekaman itu via stasiun TVOne dari jam 11 s/d 16. 05 sore. Sakit..sakit....rekaman itu sungguh merobek-robek rasa keadilan. Ternyata di negeri Indonesia, mafia peradilan masih berkuasa. Aparat penegak hukum seolah sudah diborgol oleh para koruptor! Sejarah ini sejarah Indonesia. Jangan dilupakan.

  • Komentar Pengunjung

    day di Kerusakan Lingkungan dan Antro…
    anton zaelani di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
    q-mbal di Apa Itu Hidup?
    Ferry di Apa Itu Neoliberalisme?
    Postinus di Apa Itu Neoliberalisme?
    frans lubis ,SE. di Apa Itu Neoliberalisme?
    bang sat ria di Apa Itu Hidup?
    wahyuindrawan di Apa Itu Hidup?
    dede fadillah di Istilah dan Sejarah Meditasi d…
    Postinus di Sikap Positif
    Postinus di “Terima Kasih, Penghinaan…
    OBERLIN ZEBUA di “Terima Kasih, Penghinaan…
    adi di Sikap Positif
    norman di Apa Itu Hidup?
    anto di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
  • Top Klik

  • So funny

    zwani.com myspace graphic comments

  • ….

    Saudara Anda, Postinus Gulö, adalah pembuat blog ini. Ia lahir di kampung terpencil, Dangagari, Kecamatan Moro’ö, Pulau Nias. Dalam suka-duka terpaan kesengsaraan ia mampu menyelesaikan Sekolah Dasar-nya di SD Negeri 071084 Dangagari, Pulau Nias. Perjuanganlah yang menghantarnya menyelesaikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Negeri 1 Mandrehe, Pulau Nias. Berlayar ke negeri orang bukanlah cita-citanya. Namun, realita menghantarnya ke Sibolga. Di sana ia menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di SMU Swasta Santo Fransisukus Aek Tolang, Pandan dan Seminari Menengah St. Petrus Sibolga. Hidup memang bukanlah kebetulan. Tangan Allah selalu menjamah. Tidak pernah terbayangkan. Ia, lalu, menjawab "panggilan" Allah di Pulau Jawa. Tepatnya di Bandung, Jawa Barat. Bergabung ke Ordo Sanctae Crucis Sang Kristus Indonesia. Tahun 2004 s/d 2008 mendalami ilmu filsafat di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Sejak bulan Agustus 2009 mendalami ilmu teologi dan humaniora di Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan. Bapak-Ibu, Saudara-Saudari, salam dalam kasih Tuhan. Ya'ahowu

Arsip untuk ‘My Reflection’ Kategori

“Terima Kasih, Penghinaan”

Ditulis oleh postinus di/pada September 24, 2009

 Sebuah negeri hanya dihuni puluhan orang. Negeri itu indah dan makmur. Negeri suci. Negeri panggilan. Hidup tertata. Aturan hidup ada. “Hospitalitas” adalah semangat hidup mereka. Entah apa arti kata itu. Seolah tak berarti karena tak pernah dilakoni oleh penghuni yang sering mencetuskannya. Kata orang, jika kata itu dihayati oleh seseorang maka ia begitu ramah. Wajahnya berseri tidak menakutkan. Seseorang yang menghidupi “hospitalitas” berhati indah. Ia berpikiran jernih. Kata-katanya menyembuhkan. Tutur katanya enak didengar. Tidak bernada interogatif!

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Life Diary, My Reflection | 2 Komentar »

Merawat Pikiran

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008

Postinus Gulö* 

Dalam bukunya “How to Have a Beautiful Mind”, Edward de Bono dengan percaya menguraikan: hampir semua manusia tidak pernah memperhatikan “kesehatan” pikirannya. Manusia hanya sibuk memperhatikan kesehatan fisiknya. Kecenderungan manusia semacam ini kian melilit pikiran manusia zaman kiwari. Kalau tidak percaya, cobalah Anda amati perilaku generasi global. Adalah seorang pendukung berat gejala semacam ini berkata: “darker skin means healthier body, it’s sexier”.  

Tetapi jangan heran. Gejala ini bukan barang yang jatuh dari langit. Di belakang fenomena itu, biopolitical sympton yang mempropagandakannya dengan kampanye nilai: cantik, wellness, healthy, kurus, ganteng. Kampanye ini ternyata sukses: produk industri “diet” sangat laris. Propaganda “values” semacam ini adalah barang dagangan industri hiburan dan informasi yang kian menghipnotis siapa saja yang memang tak selektif. Melihat gejala semacam itu, mungkin ada benarnya apa yang pernah dilontarkan oleh Michel Foucault: jika dulu, yang menjadi pan-optikon atau control bagi manusia adalah institusi disiplin seperti sekolah, penjara, polisi, sekarang yang menjadi pan-optikon adalah industri iklan dan informasi.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, My Reflection | 4 Komentar »

Apresiasi Puisi

Ditulis oleh postinus di/pada Februari 28, 2008

Gempa yang mencabik-cabik Jogya dan daerah sekitarnya pada tgl 27 Mei lalu, membuat diri ini berefleksi. Untaian refleksi itu saya goreskan dalam bentuk puisi. Pertama, berjudul: “Tersembunyi. Kedua, berjudul: “Dikala Bencana Mengungkap Makna”. Puisi ini merupakan ungkapan interior mendalam saya menuai pengalaman merasa yang memilukan ketika menjadi relawan di Klaten, Ganjuran dan Baciro tanggal 1 s/d 17 Juni 2006 silam. Saya dan teman saya para frater OSC lainnya mengalami hal serupa. Pengalaman menjadi relawan memang tak dapat dibayar dengan uang. Pengalaman itu begitu berharga. Ia salah satu mozaik hidup yang memperindah kepribadian saya.

 Di daerah bencana,  kami banyak menjumpai orang-orang yang putus asa. Seolah tak ada harapan yang harus mereka gapai. Hanya ada satu kata yang selalu keluar dari mulut mereka, pasrah. Namun, ternyata kepasrahan yang mereka maksud adalah tak mampu berbuat apa, pasif. Saya melihat bahwa sebenarnya yang sedang mereka alami bukan kepasrahan tetapi kefrustrasian, apatis dan tak mau bangkit. Saya meminjam kata-kata Meister Ekkerhart (mistikus) bahwa pasrah berarti membiarkan diri larut dalam tangan Tuhan. Dengan pasrah, ia memberikan egonya, agar terjalin dalam jaring-jaring Tuhan. Berada dalam pelukan Tuhan membuat hatinya tenang, karena bukan dia lagi tetapi Tuhan sendiri yang menjadi dasar hidupnya.  

Gempa dahsyat yang tak henti melanda Indonesia tentu menambah berbagai masalah. Namun, kita tak perlu pesimis. Norman Vincent Peale pernah berkata bahwa masalah itu tanda kehidupan. Tempat yang tak ada masalah hanyalah kuburan. Sekarang, tergantung pada kita (yang mengalami masalah), apakah masalah itu kita bikin tambah baik atau tambah pahit hidup kita sendiri. Dikala mengalami masalah seharusnya kita sadari bahwa itu merupakan kesempatan untuk berefleksi, sehingga ia menjadi batu loncatan untuk naik kelas. Kurang lebih itulah apresiasi kedua puisi saya ini.                                                                         

Ditulis dalam My Reflection, Puisi | 4 Komentar »

Dikala Bencana Mengungkap Makna

Ditulis oleh postinus di/pada Februari 28, 2008

Seolah utopia sirna saat bencana merenggut berlaksa nyawa onggokkan daging tak berdaya Bumi seolah ganas dan bungkam membiarkan mereka mati konyol tercabik bencanaSeolah kematian dan kehidupan tak bermakna Seolah penderitaan dan kebahagiaan tak berbeda Suatu peristiwa seolah tak dimengerti sang berakal budiKata-kata antagonistik-dualistik pun seolah tak termaknai.  

Adalah pertanyaan dan permasalahan klasik: mengapa Allah yang katanya Mahabaik, Mahakasih, Maha dan Maha…membiarkan penderitaan mencabik manusia citraNya? Memang, masalah itu klasik namun sangat aktual hingga zaman kiwari.   

Mereka dangkuk tuk merenung coba berefleksi dikala nyata mengungkap maknaTapi, insaflah ‘kan hidupLiang lahat tak masalahMasalah menghadang hidupBahkan masalah tanda kehidupan di atas jagadSang insan berkuasa atas masalah tuk bikin hidup tambah baik atau tambah pahitEmosi sentimental dangkal merogoh makna merosotTapi emosi pasrah membangkit menuai harapan.

Adalah banyak derita berserak di bumi Namun, peristiwa itu yang menyapa dan menyentuh jutaan manusia coba berbelarasa Sekat-sekat pemisah disingkap demi suatu komitmen: berbelaskasih Insan sejagad bahu-membahu mengambal mereka yang seolah mati sia-sia dan tragis Manusia memaknai hidupnya: menjadi berkat bagi orang lain Derita bencana mengundang berefleksiItu bahasa iman, bahasa dikala rasa menyentuh batas.           

Adalah penderitaan yang melahirkan kaum ateis Mereka  frustrasi akan bencana derita yang tak berujung berlaksa Dan penderitaan dan kejahatanlah yang mendorong kaum ateis menemukan jati diri Barangkali pelipur lara semata: hidup terperangkap dalam jaring-jaring misteri? Walaupun fakta mampu mengungkap makna, namun tak henti bertanya seolah tak pasti.            

Bencana bebas melanda IndonesiaPilu tangis  serempak memekik jagad Berapa ribu nyawa yang tak sempat menata diri harus pamit selamanya Seolah selepas lahir tertata, kehidupan pun dihembus ketiadaan.

 Bencana garang yang tak  berbelaskasih terus bebas membantai Mayat-mayat berserak tak ubahnya seonggok daging tak berarti Kini mereka telah tiada dan menjadi cerita Kepergian mereka bukan melodrama picik yang diikat romantisme sukacita tetapi air mata duka cita. Marilah kita mendoakan mereka!  

Klaten, 15 Juni 2006 

Ditulis dalam My Reflection, Puisi | Leave a Comment »

Tersembunyi

Ditulis oleh postinus di/pada Februari 28, 2008

 Nyata menyapa mereka….           

 Pilu terbungkus duka isak tangis bersimbah           

 Beribu tanya dan….           

Selaksa rasa bersarang mengusik tenangnya kalbu  

Ini ada dan nyata                       

Menebas kesunyataan usia                       

Sekejap berderap sembari lunglai                       

 Ternista kekriyaan ekstasi                       

Membara menyulut sanubari                       

Tak tersentuh, merana terurai                       

Tak henti berujung lara belaksa            

Nyata menyapa mencari makna          

Seuntai harapan bersembunyi           

Ia menyapa, melebur daksa seolah tak karuan           

Itulah kemisterian?                        

Mereka bak meniti tangga derita                       

Terhempas ke lembah ketiadaan serba nista                     

  Pekik rintihan kebingungan                     

  Membara mempesona, kagum terpana                       

 Tak mengerti kedalaman nestapa yang membidik tak henti           

 Usai lahir tertata           

Sibuk mengisi hari tanpa mencari           

 Ya, hidup tak tergapai           

Akhirat….. ‘ku menyesal menjemput           

Terdiam merasuk hening           

Bak dedaunan ditiup sang semesta                        

Segumpal jagad terhentak                       

Penghuni merintih terasing lunglai                        Membisu….            

Oh…tersembunyi makna mengungkap sabda           

Misteri Ilahi menusuk jantung semesta membalik fakta            Tak ‘ku mengerti jejak langkah laku           

Penghuni bersembunyi di ruas-ruas perhentian          

Pengaliran nafas hidup isak dan derita     

Oh, misteri….misteri dikau sarang tersembunyi

Klaten, 10 Juni 2006

Puisi ini pernah dimuat di Menjemaat, edisi Februari 2008                                                                                                                        

Ditulis dalam My Reflection, Puisi | Leave a Comment »

Apa Itu Hidup?

Ditulis oleh postinus di/pada November 28, 2007

Saya sudah kepala dua, umurnya. Saat ini barulah saya bertanya: apa itu hidup? Bagaimana saya menghidupi hidupku? Mengapa saya hidup? Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan retoris, melainkan pertanyaan reflektif yang menghantar saya ke kedalaman hidup. Ketika saya tahu dan sadar apa, bagaimana, dan mengapa saya hidup, saya semakin sadar: apa yang harus saya perbuat, bagaimana saya harus berbuat, dan mengapa saya berbuat sesuatu (misalnya, perhatian terhadap orang lain, menolong orang lain, mendoakan orang lain, etc). Hidupku adalah sebuah bangunan, yang mesti saya jaga, bersihkan, dan rawat

Ditulis dalam My Reflection | 5 Komentar »

Gejolak Kebencian, Panggilan Memaafkan

Ditulis oleh postinus di/pada November 28, 2007

Pernah aku ditanya teman: siapa yang paling Anda cintai? saya jawab: si dia….teman itu langsung protes: bukan, diri Anda sendiri! Anda itu sering kesal, marah, ngomel, terluka, tetapi Anda tetap mencintai hidup Anda, bukan? Coba, ketika Anda melihat foto-foto kenangan Anda bersama teman-teman Anda, pastilah foto yang pertama Anda cari adalah foto Anda, bukan? Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam My Reflection | Leave a Comment »