Sebuah negeri hanya dihuni puluhan orang. Negeri itu indah dan makmur. Negeri suci. Negeri panggilan. Hidup tertata. Aturan hidup ada. “Hospitalitas” adalah semangat hidup mereka. Entah apa arti kata itu. Seolah tak berarti karena tak pernah dilakoni oleh penghuni yang sering mencetuskannya. Kata orang, jika kata itu dihayati oleh seseorang maka ia begitu ramah. Wajahnya berseri tidak menakutkan. Seseorang yang menghidupi “hospitalitas” berhati indah. Ia berpikiran jernih. Kata-katanya menyembuhkan. Tutur katanya enak didengar. Tidak bernada interogatif!
Arsip untuk ‘My Reflection’ Kategori
“Terima Kasih, Penghinaan”
Ditulis oleh postinus di/pada September 24, 2009
Ditulis dalam Life Diary, My Reflection | 2 Komentar »
Merawat Pikiran
Ditulis oleh postinus di/pada Maret 4, 2008
Postinus Gulö*
Dalam bukunya “How to Have a Beautiful Mind”, Edward de Bono dengan percaya menguraikan: hampir semua manusia tidak pernah memperhatikan “kesehatan” pikirannya. Manusia hanya sibuk memperhatikan kesehatan fisiknya. Kecenderungan manusia semacam ini kian melilit pikiran manusia zaman kiwari. Kalau tidak percaya, cobalah Anda amati perilaku generasi global. Adalah seorang pendukung berat gejala semacam ini berkata: “darker skin means healthier body, it’s sexier”.
Tetapi jangan heran. Gejala ini bukan barang yang jatuh dari langit. Di belakang fenomena itu, biopolitical sympton yang mempropagandakannya dengan kampanye nilai: cantik, wellness, healthy, kurus, ganteng. Kampanye ini ternyata sukses: produk industri “diet” sangat laris. Propaganda “values” semacam ini adalah barang dagangan industri hiburan dan informasi yang kian menghipnotis siapa saja yang memang tak selektif. Melihat gejala semacam itu, mungkin ada benarnya apa yang pernah dilontarkan oleh Michel Foucault: jika dulu, yang menjadi pan-optikon atau control bagi manusia adalah institusi disiplin seperti sekolah, penjara, polisi, sekarang yang menjadi pan-optikon adalah industri iklan dan informasi.
Ditulis dalam Kumpulan Tulisan-Opini, My Reflection | 4 Komentar »
Apresiasi Puisi
Ditulis oleh postinus di/pada Februari 28, 2008
Gempa yang mencabik-cabik Jogya dan daerah sekitarnya pada tgl 27 Mei lalu, membuat diri ini berefleksi. Untaian refleksi itu saya goreskan dalam bentuk puisi. Pertama, berjudul: “Tersembunyi. Kedua, berjudul: “Dikala Bencana Mengungkap Makna”. Puisi ini merupakan ungkapan interior mendalam saya menuai pengalaman merasa yang memilukan ketika menjadi relawan di Klaten, Ganjuran dan Baciro tanggal 1 s/d 17 Juni 2006 silam. Saya dan teman saya para frater OSC lainnya mengalami hal serupa. Pengalaman menjadi relawan memang tak dapat dibayar dengan uang. Pengalaman itu begitu berharga. Ia salah satu mozaik hidup yang memperindah kepribadian saya.
Di daerah bencana, kami banyak menjumpai orang-orang yang putus asa. Seolah tak ada harapan yang harus mereka gapai. Hanya ada satu kata yang selalu keluar dari mulut mereka, pasrah. Namun, ternyata kepasrahan yang mereka maksud adalah tak mampu berbuat apa, pasif. Saya melihat bahwa sebenarnya yang sedang mereka alami bukan kepasrahan tetapi kefrustrasian, apatis dan tak mau bangkit. Saya meminjam kata-kata Meister Ekkerhart (mistikus) bahwa pasrah berarti membiarkan diri larut dalam tangan Tuhan. Dengan pasrah, ia memberikan egonya, agar terjalin dalam jaring-jaring Tuhan. Berada dalam pelukan Tuhan membuat hatinya tenang, karena bukan dia lagi tetapi Tuhan sendiri yang menjadi dasar hidupnya.
Gempa dahsyat yang tak henti melanda Indonesia tentu menambah berbagai masalah. Namun, kita tak perlu pesimis. Norman Vincent Peale pernah berkata bahwa masalah itu tanda kehidupan. Tempat yang tak ada masalah hanyalah kuburan. Sekarang, tergantung pada kita (yang mengalami masalah), apakah masalah itu kita bikin tambah baik atau tambah pahit hidup kita sendiri. Dikala mengalami masalah seharusnya kita sadari bahwa itu merupakan kesempatan untuk berefleksi, sehingga ia menjadi batu loncatan untuk naik kelas. Kurang lebih itulah apresiasi kedua puisi saya ini.
Ditulis dalam My Reflection, Puisi | 4 Komentar »
Dikala Bencana Mengungkap Makna
Ditulis oleh postinus di/pada Februari 28, 2008
Seolah utopia sirna saat bencana merenggut berlaksa nyawa onggokkan daging tak berdaya Bumi seolah ganas dan bungkam membiarkan mereka mati konyol tercabik bencanaSeolah kematian dan kehidupan tak bermakna Seolah penderitaan dan kebahagiaan tak berbeda Suatu peristiwa seolah tak dimengerti sang berakal budiKata-kata antagonistik-dualistik pun seolah tak termaknai.
Adalah pertanyaan dan permasalahan klasik: mengapa Allah yang katanya Mahabaik, Mahakasih, Maha dan Maha…membiarkan penderitaan mencabik manusia citraNya? Memang, masalah itu klasik namun sangat aktual hingga zaman kiwari.
Mereka dangkuk tuk merenung coba berefleksi dikala nyata mengungkap maknaTapi, insaflah ‘kan hidupLiang lahat tak masalahMasalah menghadang hidupBahkan masalah tanda kehidupan di atas jagadSang insan berkuasa atas masalah tuk bikin hidup tambah baik atau tambah pahitEmosi sentimental dangkal merogoh makna merosotTapi emosi pasrah membangkit menuai harapan.
Adalah banyak derita berserak di bumi Namun, peristiwa itu yang menyapa dan menyentuh jutaan manusia coba berbelarasa Sekat-sekat pemisah disingkap demi suatu komitmen: berbelaskasih Insan sejagad bahu-membahu mengambal mereka yang seolah mati sia-sia dan tragis Manusia memaknai hidupnya: menjadi berkat bagi orang lain Derita bencana mengundang berefleksiItu bahasa iman, bahasa dikala rasa menyentuh batas.
Adalah penderitaan yang melahirkan kaum ateis Mereka frustrasi akan bencana derita yang tak berujung berlaksa Dan penderitaan dan kejahatanlah yang mendorong kaum ateis menemukan jati diri Barangkali pelipur lara semata: hidup terperangkap dalam jaring-jaring misteri? Walaupun fakta mampu mengungkap makna, namun tak henti bertanya seolah tak pasti.
Bencana bebas melanda IndonesiaPilu tangis serempak memekik jagad Berapa ribu nyawa yang tak sempat menata diri harus pamit selamanya Seolah selepas lahir tertata, kehidupan pun dihembus ketiadaan.
Bencana garang yang tak berbelaskasih terus bebas membantai Mayat-mayat berserak tak ubahnya seonggok daging tak berarti Kini mereka telah tiada dan menjadi cerita Kepergian mereka bukan melodrama picik yang diikat romantisme sukacita tetapi air mata duka cita. Marilah kita mendoakan mereka!
Klaten, 15 Juni 2006
Ditulis dalam My Reflection, Puisi | Leave a Comment »
Tersembunyi
Ditulis oleh postinus di/pada Februari 28, 2008
Nyata menyapa mereka….
Pilu terbungkus duka isak tangis bersimbah
Beribu tanya dan….
Selaksa rasa bersarang mengusik tenangnya kalbu
Ini ada dan nyata
Menebas kesunyataan usia
Sekejap berderap sembari lunglai
Ternista kekriyaan ekstasi
Membara menyulut sanubari
Tak tersentuh, merana terurai
Tak henti berujung lara belaksa
Nyata menyapa mencari makna
Seuntai harapan bersembunyi
Ia menyapa, melebur daksa seolah tak karuan
Itulah kemisterian?
Mereka bak meniti tangga derita
Terhempas ke lembah ketiadaan serba nista
Pekik rintihan kebingungan
Membara mempesona, kagum terpana
Tak mengerti kedalaman nestapa yang membidik tak henti
Usai lahir tertata
Sibuk mengisi hari tanpa mencari
Ya, hidup tak tergapai
Akhirat….. ‘ku menyesal menjemput
Terdiam merasuk hening
Bak dedaunan ditiup sang semesta
Segumpal jagad terhentak
Penghuni merintih terasing lunglai Membisu….
Oh…tersembunyi makna mengungkap sabda
Misteri Ilahi menusuk jantung semesta membalik fakta Tak ‘ku mengerti jejak langkah laku
Penghuni bersembunyi di ruas-ruas perhentian
Pengaliran nafas hidup isak dan derita
Oh, misteri….misteri dikau sarang tersembunyi
Klaten, 10 Juni 2006
Puisi ini pernah dimuat di Menjemaat, edisi Februari 2008
Ditulis dalam My Reflection, Puisi | Leave a Comment »
Apa Itu Hidup?
Ditulis oleh postinus di/pada November 28, 2007
Saya sudah kepala dua, umurnya. Saat ini barulah saya bertanya: apa itu hidup? Bagaimana saya menghidupi hidupku? Mengapa saya hidup? Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan retoris, melainkan pertanyaan reflektif yang menghantar saya ke kedalaman hidup. Ketika saya tahu dan sadar apa, bagaimana, dan mengapa saya hidup, saya semakin sadar: apa yang harus saya perbuat, bagaimana saya harus berbuat, dan mengapa saya berbuat sesuatu (misalnya, perhatian terhadap orang lain, menolong orang lain, mendoakan orang lain, etc). Hidupku adalah sebuah bangunan, yang mesti saya jaga, bersihkan, dan rawat
Ditulis dalam My Reflection | 5 Komentar »
Gejolak Kebencian, Panggilan Memaafkan
Ditulis oleh postinus di/pada November 28, 2007
Pernah aku ditanya teman: siapa yang paling Anda cintai? saya jawab: si dia….teman itu langsung protes: bukan, diri Anda sendiri! Anda itu sering kesal, marah, ngomel, terluka, tetapi Anda tetap mencintai hidup Anda, bukan? Coba, ketika Anda melihat foto-foto kenangan Anda bersama teman-teman Anda, pastilah foto yang pertama Anda cari adalah foto Anda, bukan? Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam My Reflection | Leave a Comment »
