SIMAK

Gagasan, ide, opini, refleksi, resensi-tinjauan, dan sharing dari Postinus Gulö

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..



    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 57,734 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Juni 2012
    S S R K J S M
    « Jan    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    252627282930  

Arsip untuk ‘Puisi’ Kategori

Apresiasi Puisi

Posted by postinus pada Februari 28, 2008

Gempa yang mencabik-cabik Jogya dan daerah sekitarnya pada tgl 27 Mei lalu, membuat diri ini berefleksi. Untaian refleksi itu saya goreskan dalam bentuk puisi. Pertama, berjudul: “Tersembunyi. Kedua, berjudul: “Dikala Bencana Mengungkap Makna”. Puisi ini merupakan ungkapan interior mendalam saya menuai pengalaman merasa yang memilukan ketika menjadi relawan di Klaten, Ganjuran dan Baciro tanggal 1 s/d 17 Juni 2006 silam. Saya dan teman saya para frater OSC lainnya mengalami hal serupa. Pengalaman menjadi relawan memang tak dapat dibayar dengan uang. Pengalaman itu begitu berharga. Ia salah satu mozaik hidup yang memperindah kepribadian saya.

 Di daerah bencana,  kami banyak menjumpai orang-orang yang putus asa. Seolah tak ada harapan yang harus mereka gapai. Hanya ada satu kata yang selalu keluar dari mulut mereka, pasrah. Namun, ternyata kepasrahan yang mereka maksud adalah tak mampu berbuat apa, pasif. Saya melihat bahwa sebenarnya yang sedang mereka alami bukan kepasrahan tetapi kefrustrasian, apatis dan tak mau bangkit. Saya meminjam kata-kata Meister Ekkerhart (mistikus) bahwa pasrah berarti membiarkan diri larut dalam tangan Tuhan. Dengan pasrah, ia memberikan egonya, agar terjalin dalam jaring-jaring Tuhan. Berada dalam pelukan Tuhan membuat hatinya tenang, karena bukan dia lagi tetapi Tuhan sendiri yang menjadi dasar hidupnya.  

Gempa dahsyat yang tak henti melanda Indonesia tentu menambah berbagai masalah. Namun, kita tak perlu pesimis. Norman Vincent Peale pernah berkata bahwa masalah itu tanda kehidupan. Tempat yang tak ada masalah hanyalah kuburan. Sekarang, tergantung pada kita (yang mengalami masalah), apakah masalah itu kita bikin tambah baik atau tambah pahit hidup kita sendiri. Dikala mengalami masalah seharusnya kita sadari bahwa itu merupakan kesempatan untuk berefleksi, sehingga ia menjadi batu loncatan untuk naik kelas. Kurang lebih itulah apresiasi kedua puisi saya ini.                                                                         

Ditulis dalam My Reflection, Puisi | 4 Komentar »

Dikala Bencana Mengungkap Makna

Posted by postinus pada Februari 28, 2008

Seolah utopia sirna saat bencana merenggut berlaksa nyawa onggokkan daging tak berdaya Bumi seolah ganas dan bungkam membiarkan mereka mati konyol tercabik bencanaSeolah kematian dan kehidupan tak bermakna Seolah penderitaan dan kebahagiaan tak berbeda Suatu peristiwa seolah tak dimengerti sang berakal budiKata-kata antagonistik-dualistik pun seolah tak termaknai.  

Adalah pertanyaan dan permasalahan klasik: mengapa Allah yang katanya Mahabaik, Mahakasih, Maha dan Maha…membiarkan penderitaan mencabik manusia citraNya? Memang, masalah itu klasik namun sangat aktual hingga zaman kiwari.   

Mereka dangkuk tuk merenung coba berefleksi dikala nyata mengungkap maknaTapi, insaflah ‘kan hidupLiang lahat tak masalahMasalah menghadang hidupBahkan masalah tanda kehidupan di atas jagadSang insan berkuasa atas masalah tuk bikin hidup tambah baik atau tambah pahitEmosi sentimental dangkal merogoh makna merosotTapi emosi pasrah membangkit menuai harapan.

Adalah banyak derita berserak di bumi Namun, peristiwa itu yang menyapa dan menyentuh jutaan manusia coba berbelarasa Sekat-sekat pemisah disingkap demi suatu komitmen: berbelaskasih Insan sejagad bahu-membahu mengambal mereka yang seolah mati sia-sia dan tragis Manusia memaknai hidupnya: menjadi berkat bagi orang lain Derita bencana mengundang berefleksiItu bahasa iman, bahasa dikala rasa menyentuh batas.           

Adalah penderitaan yang melahirkan kaum ateis Mereka  frustrasi akan bencana derita yang tak berujung berlaksa Dan penderitaan dan kejahatanlah yang mendorong kaum ateis menemukan jati diri Barangkali pelipur lara semata: hidup terperangkap dalam jaring-jaring misteri? Walaupun fakta mampu mengungkap makna, namun tak henti bertanya seolah tak pasti.            

Bencana bebas melanda IndonesiaPilu tangis  serempak memekik jagad Berapa ribu nyawa yang tak sempat menata diri harus pamit selamanya Seolah selepas lahir tertata, kehidupan pun dihembus ketiadaan.

 Bencana garang yang tak  berbelaskasih terus bebas membantai Mayat-mayat berserak tak ubahnya seonggok daging tak berarti Kini mereka telah tiada dan menjadi cerita Kepergian mereka bukan melodrama picik yang diikat romantisme sukacita tetapi air mata duka cita. Marilah kita mendoakan mereka!  

Klaten, 15 Juni 2006 

Ditulis dalam My Reflection, Puisi | Tinggalkan sebuah Komentar »

Tersembunyi

Posted by postinus pada Februari 28, 2008

 Nyata menyapa mereka….           

 Pilu terbungkus duka isak tangis bersimbah           

 Beribu tanya dan….           

Selaksa rasa bersarang mengusik tenangnya kalbu  

Ini ada dan nyata                       

Menebas kesunyataan usia                       

Sekejap berderap sembari lunglai                       

 Ternista kekriyaan ekstasi                       

Membara menyulut sanubari                       

Tak tersentuh, merana terurai                       

Tak henti berujung lara belaksa            

Nyata menyapa mencari makna          

Seuntai harapan bersembunyi           

Ia menyapa, melebur daksa seolah tak karuan           

Itulah kemisterian?                        

Mereka bak meniti tangga derita                       

Terhempas ke lembah ketiadaan serba nista                     

  Pekik rintihan kebingungan                     

  Membara mempesona, kagum terpana                       

 Tak mengerti kedalaman nestapa yang membidik tak henti           

 Usai lahir tertata           

Sibuk mengisi hari tanpa mencari           

 Ya, hidup tak tergapai           

Akhirat….. ‘ku menyesal menjemput           

Terdiam merasuk hening           

Bak dedaunan ditiup sang semesta                        

Segumpal jagad terhentak                       

Penghuni merintih terasing lunglai                        Membisu….            

Oh…tersembunyi makna mengungkap sabda           

Misteri Ilahi menusuk jantung semesta membalik fakta            Tak ‘ku mengerti jejak langkah laku           

Penghuni bersembunyi di ruas-ruas perhentian          

Pengaliran nafas hidup isak dan derita     

Oh, misteri….misteri dikau sarang tersembunyi

Klaten, 10 Juni 2006

Puisi ini pernah dimuat di Menjemaat, edisi Februari 2008                                                                                                                        

Ditulis dalam My Reflection, Puisi | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.