Oleh Postinus Gulö
Saya bisa bayangkan keraguan masyarakat Yahudi tentang Yesus. Bisa jadi, kalau Yesus itu hidup di zaman kita mungkin kita juga punya penilaian dan penolakan yang sama terhadap Yesus. Orang Yahudi ragu, bagaimana mungkin Yesus itu seorang raja dan bisa menjadi raja. Padahal, Ia anak tukang kayu, anak dari keluarga miskin, tidak punya pengaruh. Ia juga dikandung bukan dari hubungan seksual. Ibu-Nya mengandung tanpa suami, suatu aib besar di masyarakat Yahudi. Hukuman rajam batu yang tepat untuk Maria, ibuNya. Walaupun dikatakan Maria mengandung dari Roh Kudus tetapi “kisah”itu belum dipahami benar oleh orang Yahudi. Bayangkanlah, kalau pada zaman kita ini, Maria mengandung sebelum ia dinikahi seorang lelaki. Apa kata kita? Mungkin kita juga sulit mempercayai jika Maria berkata: “Saya dikandung Roh Kudus. Malaikat Gabriel datang pada saya pada suatu malam bahwa saya akan mengandung dari Roh Kudus.” Rasa-rasanya, sulit kita terima. Hampir pasti, Maria dianggap sakit jiwa atau mengada-ada!
Orang Yahudi semakin ragu ketika Yesus ke mana-mana mengajarkan Kerajaan Allah. Bahkan menyebut diri Anak Allah. Orang Yahudi semakin berang, karena Yesus anak si tukang kayu itu berani-beraninya mengkritik sikap kaum Farisi, suatu golongan terdidik dalam masyarakat Yahudi. Bayangkanlah orang Farisi itu adalah kaum terdidik, punya kedudukan terhormat, punya pengaruh. Masuk akal kalau mereka sulit mendengarkan pengajaran Yesus si anak tukang kayu itu.
Tahun 2010 ini, gereja merayakan Hari Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam tepat Minggu ke-3 bulan November . Ini aneh, bukan? Bagaimana kita menjelaskan hal ini? Ada 3 teks bacaan pada Minggu ini membantu kita untuk memahami Yesus sebagai raja semesta alam. Dalam bacaan kedua Minggu ini, Yesus kita yakini sebagai raja semesta alam karena Ia adalah Anak sulung. Segala sesuatu diciptakan di dalam Yesus. Singgasana, kerajaan dan penguasa diciptakan oleh Dia dan untuk Dia (Kol 1: 12-20). Jadi, Yesus adalah Raja dari segalanya, bukan? Yesus merajai segalanya, bukan?
Bacaan pertama, mengurai pola pikir orang Israel. Awalnya Raja orang Israel itu adalah “Yahweh”. Tabut Perjanjian mereka bawa jika berperang karena mereka meyaini bahwa dengan begitu Allah berpihak pada mereka. Sekelompok dari mereka memerlukan raja yang tampak. Kelompok lain menolak usulan itu. Kelompok yang kontra ragu, jangan-jangan kalau sudah ada raja dari manusia lalu kita menyingkirkan Allah. Kelompok yang pro meminta restu Nabi Samuel agar Saul menjadi raja pertama mereka. Kedua Raja Daud dan berikutnya adalah Salomo. Ketiga raja ini awalnya pribadi yang baik dan benar. Awalnya mereka takut akan Allah. Kata Mazmur mereka Anak Allah! Tetapi, ketika mereka berkuasa mereka hidup dalam kemewahan, egois, tunduk pada nafsu birahi dan haus hormat serta kekayaan. Mereka menjauh dari kehendak Allah.
Bacaan kedua ini mau mengingatkan kepada kita bahwa Yesus bukan raja seperti Saul, Daud atau Salomo itu. Yesus bukan raja politis seperti Raja Daud di dalam Kitab 2 Samuel 5: 1-3. Yesus raja rohani yang merajai hati manusia sehingga terarah kepada Allah. Yesus adalah raja yang mewartakan Kerajaan Allah bukan kerajaan kekuasaan. Yesus yang mendamaikan kita kepada Allah. Ia penebus dosa kita. Injil Lukas menegaskan bahwa Yesus adalah raja yang mau berkorban demi manusia. Yesus adalah raja yang berani menderita (Luk. 23: 35-43). Yesus adalah raja penegak kebenaran bukan memanipulasinya.
Sejak dibaptis, semua orang Katolik memiliki tanggungjawab dan hak untuk ikut serta dalam 3 tugas perutusan Yesus. Sejak kita dibaptis, kita mengambil bagian dalam (1) imamat Kristus: kita ikut dalam kegiatan pengudusan. Kita dipanggil untuk membawa semua orang pada kekudusan; (2) ambil bagian dalam tugas kenabian Kristus: kita dipanggil untuk mengajarkan dan mewartakan kehendak dan pengajaran-Nya; (3) ambil bagian dalam tugas rajawi Kristus: melayani dan menuntun semua orang pada kebaikan dan kebenaran. Sudahkan kita ambil bagian dalam tugas perutusan Yesus tersebut? Kalau belum, kita belum terlambat. Marilah melibatkan diri mengemban tugas perutusan Yesus itu.