1. Latar Belakang Geografis Kultural-Religius
Penyembahan kepada banyak dewa merupakan usaha untuk mempersonifikasikan[1] Yahweh yang gaib, yang transenden, yang tak kelihatan ke dalam dunia manusia. Namun, Israel Kuno kurang menyadari bahwa tindakan itu merupakan “buatan” mereka sendiri dan bukan Allah sejati. Dalam tindakan itu Yahweh justru disingkirkan. Di Kanaan, misalnya, dewa utama adalah baal hadad, yakni dewa angin, dewa kilat, dewa guntur, dan dewa hujan yang diberi karakteristik seperti manusia.[2] Di Kanaan, masyarakat yang sangat ambisi untuk mengejar kekayaan menyadari bahwa beribadat kepada Allah secara benar merugikan, karena mereka harus mengikuti ajaran Yahweh untuk menuruti peraturan kesusilaan yang ketat dalam hidup sehari-hari. Peraturan itu tidak membantu mereka untuk cepat menjadi kaya. Sedangkan beribadat kepada baal menguntungkan: baal tidak menuntut kejujuran hidup yang begitu ketat; baal cukup puas dengan perhatian yang diberikan kepadanya melalui ibadat.[3]
