SIMAK

Gagasan, ide, opini, refleksi, resensi-tinjauan, dan sharing dari Postinus Gulö

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..



    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 57,734 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Juni 2012
    S S R K J S M
    « Jan    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    252627282930  

Arsip untuk ‘Teropong Film’ Kategori

Film “Conversations With God”: Melampaui Nalar Konvensional Manusia

Posted by postinus pada Januari 8, 2011

Oleh Postinus Gulö

 Film “Conversations With God” (CWG) mencerahkan. Mencerahkan karena di dalamnya banyak pemikiran kreatif yang melampaui nalar konvensional manusia. Sebenarnya film ini merupakan penuturan ulang atas buku Neale Donald Walsch yang berjudul: Conversations With God yang dipublikasikan kali pertama pada tahun 1995. Dalam film dan buku ini, Neale bercakap-cakap dengan Tuhan ibarat anak dengan ayahnya. Neale bertanya, Tuhan menjawab! Prof. Dr. Igantius Bambang Sugiharto pernah mengatakan bahwa gagasan-gagasan yang terkisahkan dalam buku ini mustahil keluar dari seorang manusia macam Neale. Sebab Neale adalah orang sederhana dan tidak pintar-pintar amat. Masuk akal jika buku ini menjadi buku terlaris! Argumen-argumen yang dikemukakan dalam buku ini sangat masuk akal.  

CWG telah mengubah jutaan hidup manusia karena ia mampu membentangkan dan menjawabi permasalahan mutakhir manusia. Mengikuti percakapan-percakapan Neale-Tuhan pasti kita mengalami peristiwa ketersingkapan berpikir. Kata demi kata memiliki logika bahasa yang cepat ditangkap daya nalar manusiawi kita.

Film CWG pertama kali diputar di bioskop Amerika Serikat pada tanggal 27 Oktober 2006. Neale Donald Walsch diperankan oleh aktor Henry Czerny. Pantulan-pantulan gagasan inspiratif yang meluap dan timbul dalam film ini bisa menjadi nutrisi bagi siapapun yang ingin memaknai hidup lebih istimewa.  

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Teropong Film | Bertanda: , | 2 Komentar »

Perjuangan Menyelamatkan Bahtera Keluarga dalam Film Fireproof

Posted by postinus pada Desember 17, 2010

Oleh Postinus Gulö

Film ini menarik dan reflektif. Menarik karena di dalamnya diungkap secara dramatis penyebab karamnya bahtera keluarga Kapten Caleb Holt dan Catherine Holt yang telah menikah selama tujuh tahun. Caleb adalah seorang pemadam kebakaran di daerah Albania, Georgia. Catherine memiliki profesi karyawati di sebuah rumah sakit. Bahtera keluarga Caleb-Catherine hampir karam karena mereka terbenam dalam ketidaksalingan menghargai, tidak saling mempercayai, tidak saling terbuka dan saling menolak. Mereka mengalami kesulitan berkomunikasi dengan baik. Caleb-Catherine, awalnya tidak memahami bahwa perkawinan adalah consortium totius vitae (kebersamaan seluruh hidup). Perkawinan membuat dua pribadi menjadi satu daging. Dengan demikian, suka-duka, untung-malang, sehat-sakit menjadi tanggungan bersama. Kesetiaan seseorang diuji dikala mengalami kemalangan atau dukacita. Situasi ini janganlah dijadikan sebagai alasan untuk menolak pasangan! Ingat, egoisme salah satu dari pasangan pasti berefek pada pasangannya sendiri. Penyebab karamnya bahtera keluarga Caleb-Catherina akan saya ulas lebih mendalam lagi dalam paparan berikut. Selamat membaca!

  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Teropong Film | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Kingdom of Heaven:Perang Menghadirkan Kerajaan Allah?

Posted by postinus pada Mei 29, 2010

Perang Demi Kerajaan Surga

Film “Kingdom of Heaven” menarik. Menarik karena di dalamnya diceritakan “Kerajaan Surga” yang diperjuangkan dengan perang, kebrutalan atau kebiadaban. Film ini mengokohkan adagium Latin kuno: “Si vis pacem para bellum” (=jika menginginkan perdamaian siapkanlah perang). Ini paradoks: tindakan meraih kedamaian adalah kekejaman. Demi “Kerajaan Surga” perang pun seolah legal. Seolah-olah Kerajaan Allah (=Kerajaan Surga) itu adalah produk dari peperangan. Seolah-olah Kerajaan Allah itu adalah “ciptaan manusia” atau atas kehendak manusia. Bahkan seolah-olah tanpa perang, Kerajaan Allah tak akan datang. Saya jadi teringat kata-kata Karl Raimund Popper dalam bukunya The Open Society and Its Enemies: “banyak tokoh intelektual yang berusaha menciptakan “surga” di bumi dengan tindakan yang justru melahirkan “neraka”. Manusia zaman kiwari lebih suka “sword” ketimbang “word”. Bagi Popper, sword berarti perang, kekejaman dan kebiadaban. Word adalah dialog, negosiasi tanpa berlumuran darah. Dalam proses “word” diharapkan terjadi kesatuan prinsip yakni perdamaian. Dalam film ini tampak bahwa kubu Saladin dan kubu Kristen justru lebih suka membawa pedang (sword) ketimbang berdamai tanpa kekerasan (word). Wajah agama penuh mozaik kekejaman dan jauh dari kemanusiaan. Paradoks itu tampak dalam film ini. Demi “Kerajaan Allah”  lantas kubu Saladin dan kubu Kristen terlibat perang membabi buta.

  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Teropong Film | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Jesus Camp:Wajah Pendidikan Fanatik Berbasis Agama

Posted by postinus pada Mei 29, 2010

Komentar Kritis & Reflektif

Film Jesus Camp banal! Banal karena film ini menggambarkan gunung es kedangkalan beragama yang fenomenal di Amerika Serikat. Tidak hanya itu, film ini adalah wajah pendidikan fanatik berbasis agama. Film ini hendak mempertontonkan usaha menyempitkan dan mendangkalkan kebenaran isi Kitab Suci. Film ini tidak lebih dari sekadar usaha pencucian otak anak-anak ingusan yang seharusnya bertumbuh semakin dewasa dalam spiritualitas yang benar. Dalam film ini, anak-anak yang innocent itu digiring ke cara berpikir fanatik yang hanya membenarkan diri dan agamanya. Maka sudah bisa dibayangkan bahwa anak-anak ini kelak pasti susah menerima kehadiran orang lain yang berbeda agama dengan mereka. Otak mereka dijejali pikiran kebencian. Mata mereka diselubungi kaca mata yang selalu melihat yang lain itu jelek. Dalam film ini, the other is enemy!

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Teropong Film | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Film Doubt: Potret Kepemimpinan yang Salah

Posted by postinus pada September 15, 2009

 Judul Film: Doubt (tahun 2008)

Penulis naskah: John Patrick Shanley

Bintang Film: Philip Seymour Hoffman (Father Flynn), Meryl Streep (Sister Aloysius), Adams (Sister James), Joseph Foster (Donald Miller), Viola Davis (Mrs. Miller)

Peneropong: Postinus Gulö

 

Film ini tidak hanya sebatas kritik atas kepemimpinan. Film ini mengungkap fakta yang sering terjadi di kalangan pemimpin. Seringkali kepemimpinan direduksi menjadi sebatas kekuasaan yang kaku, mencurigai, mengawasi (berlaku sebagai pan-optik), menentukan dan “menghancurkan” nasib orang. Pemimpin melupakan tanggung jawab besar yakni menumbuhkembangkan rekan kerjanya serta bawahannya. Ucapan Father Flynn kepada Sr. Aloysius (kepala sekolah) begitu menarik. “Emosi bukanlah fakta. Kecurigaan bukanlah fakta.” Kalimat ini menarik. Betapa tidak, suster begitu yakin bahwa Flynn memiliki hubungan khusus dengan seorang muridnya, Donald Miller. Memang ada pihak ketiga di antara mereka, Sister James. Ia bertipe selalu mencurigai seseorang. Maka ia suka memata-matai rekan kerjanya. Tidak heran jika kabar darinya sebatas gosip!

Saya “menangis” dalam hati melihat keegoisan Sr. Aloysius. Mrs.Miller bersujud minta agar anaknya, Donald Miller tidak dikeluarkan dari sekolah. Kalau dikeluarkan, maka Donald Miller akan dibunuh ayahnya. Apa yang terjadi, Sr. Aloysius tidak mau peduli.

Bagi saya, film ini berbicara mengenai realitas kehidupan kepemimpinan. Manakala, seorang pemimpin lebih mempercayai tukang gosip, pada saat itu pula ia telah melakukan beberapa kesalahan:

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Teropong Film | 1 Komentar »

Isu Diskriminasi Jender dalam Film “The Hours”

Posted by postinus pada Mei 2, 2008

Peneropong: Postinus Gulö. Judul film: The Hours. Pemain film: Virginia Woolf, Julianne Moore, Meryl Streep, Richard, Cs.


* * *

Perempuan, sosok lembut penuh kerahiman. Ia ibu semua manusia. Semua manusia pernah bersemayam dalam rahim perempuan, sang ibu. Di rahim, kita berenang dalam kenyamanan. Sembilan bulan lamanya. Tiada derita. Yang ada serba ada. Yang ada serba senang. Jika dunia ini ibarat rahim, dunia ini begitu nyaman.


Akan tetapi…..ketika jabang bayin lahir. Ia bukan senang. Ia gelisah. Kenyamanan tiada lagi. Lantas ia menangis. Ia mampu merasa: dunia begitu tidak jelas. Penuh perjuangan. Rasa mesti diolah. Pikiran mesti dipelihara. Sikap mesti dikontrol. Kalau tidak, segalanya chaos. Di dunia, senang adalah produk design manusia. Ia bukan seperti rahim yang tinggal “dinikmati” jabang bayi.


Peranan perempuan begitu berharga. Tetapi, mengapa mereka terus ditindas, dipandang kelas dua, laki-laki yang salah jadi? Ketertindasan perempuan itulah yang diangkat dalam film ini. Selamat membaca dan berenung……….! Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Teropong Film | 3 Komentar »

Film: La Belle Noiseuse

Posted by postinus pada Maret 3, 2008

Peneropong : Postinus Gulö. Judul Film : La  Belle  Noiseuse. Tahun diteropong : Tahun 2006.  

Dari film ini, melukis adalah membahasakan yang tak terbahasakan, mengungkapkan yang tak terungkapkan, memperlihatkan yang tak terlihat, yang tak terukur (rumit, ambigu). Melukis juga merupakan ungkapan terdalam seseorang untuk mengekspresikan pergulatan dan hasil sensibilitas dan tangkapan – refleksi – kontemplasinya dari suatu objek, dan untuk mengungkapkan : bagaimana, siapa – apa, untuk apa, sedang apa objek lukisan itu dan ada apa di balik objek itu (Baca: kedalaman/intensifikasi). Pelukis, ingin melukiskan yang tak terlukiskan dan ingin melukiskan totalitas kehidupan Si Marianne (Emmanuelle Beart), bukan hanya soal luaran (surface) saja. Michel Piccoli (Frenhofer) sebagai pelukis, ingin melukiskan dan menunjukkan significant form (bentuk yang berarti) dari sebuah lukisan dengan cara mencari model natural-ekspresif (sifat ekspresi yang alami) dari objek lukisan sesuai dengan persepsinya. Dan karena lukisan merupakan hasil sensibilitas-refleksi-kontemplasi dan imajinasi terdalam dari seorang pelukis, dari sana tersirat makna sakralisasi dan spiritual dari sebuah lukisan.  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Teropong Film | Tinggalkan sebuah Komentar »

Film “Odd Girl Out”

Posted by postinus pada Februari 28, 2008

Adalah menarik adegan-adegan yang ditampilkan dalam film ini. Menyaksikannya, saya teringat pada rangkaian kalimat adagium Latin “Non sibi vivere, sed et aliis proficere” (hidup bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk menjadi berkat bagi orang lain). Yang terjadi dalam fim ini justru sebaliknya, seseorang yang tadinya seorang teman, sahabat, berubah wujud: menjadi musuh, penghancur segala jalinan persahabatan yang telah dibina sejak sekian lama. Dan oleh karenanya, (dalam konteks film ini) seorang teman tidak selamanya menjadi pembawa berkat bagi orang lain.            

Nicky, Staccey, cs.  yang tadinya teman Venessa, hanya karena masalah afektif, percintaan (memperebutkan seorang cowok: Tony), persahabatan renggang, suara hati pun tak berbicara, tumpul. Sensibilitas menjadi hampa, yang terlihat hanya rasa benci, kegalauan, dan terror. Ada hal khusus yang  ditampilkan dalam film ini: Staccey dan Venessa sejak kecil sudah saling kenal. Orangtua mereka pun sangat akrab. Tetapi hanya karena Venessa dekat dengan seorang lelaki, Tony (yang notabene dicintai juga oleh Staccey) persahabatan yang telah terbina sejak sekian lama pupus di tengah jalan. Saya melihat bahwa ada  faktor lain yang membuat hati Staccey begitu bebal, sadis dan bersikap seperti teroris. Pertama-tama karena Nicky selalu menjadi provokator. Nicky selalu membakar hati Staccey untuk membenci, mempermainkan Venessa. Nickylah yang membuat api semakin menyala, dialah yang membuat Staccey semakin bejat terhadap kawan, temannya sendiri: Venessa.            

Dalam kasus ini pun terlihat bahwa anak muda, selalu rindu pada jati diri, identitas, pengakuan dari orang lain. Venessa ketika dijauhi oleh teman-temanya (apalagi karena selalu diejek) merasa tidak aman, tidak at home, tidak menyenangkan. Sebaliknya, dari pihak Staccey, ia berlindung pada kelompoknya sendiri, ia merasa senang mempermainkan Venessa karena ada ‘dukungan’ dari teman-temannya. Teman dalam tataran kasus itu ada dua gendang : teman bisa membuat kita senang, happy, tetapi kenyataan yang dialami oleh Venessa, teman justru tidak menyenangkan, membuat dirinnya tertekan, aktivitas sekolahannya sempat berhenti, kacau balau.              

Secara moral, kelakuan Nicky, Staccey, cs. tidak dapat dibenarkan. Karena sikap mereka lebih sadis dibandingkan tindakan seorang pembunuh fisik. Nicky dan Staccey, cs. melakukan penekanan secara mental, yang membawa Venessa pada kegilaan, ketidaknyaman seumur hidup, traumatik dan luka batin. Jadi, Nicky cs melakukan pembunuhan metafisik : pembunuhan secara psikologis.            

 Venessa adalah sosok yang berpendirian ‘positive thinkingg’ sekaligus lugu, polos, menampilkan dirinya apa adanya. Bahkan Venessa berusaha untuk mempercayai, memaafkan temannya, walaupun sudah beberapa kali menyakitinya. Ini luar biasa. Ketika dia bertemu dengan Staccey, ia masih mengharapkan agar Staccey masih menjadi temannya seperti dulu. Tetapi dasar pembohong, Staccey rupanya bermanis muka. Dia malah mengerjain Venessa.

Adegan ini, menghantar saya pada sebuah refleksi aktual: bagaimana jika sikap seperti Staccey, Nicky, cs., ada di komunitas, di keluarga, di tempat kita bekerja. Tentu, menjadi batu sandungan. Hanya karena sikap sembrono seseorang, lantas semangat kita beurbah menjadi amarah dan kekesalan. Maka, yang perlu diperhatikan adalah sikap komunikatif, tidak perlu dipendam semua masalah. Saya melihat bahwa Venessa agak terlambat mengkomunikasikan ketidaksetujuannya ke Staccey. Dia masih lugu. Oleh karena itu, sangat perlu dibedakan antara polos dan jujur, antara rendah diri dan rendah hati. Jika ada sikap yang kurang berkenan di hati, seharusnya dibicarakan secara baik-baik. ‘’Tidak perlu lama-lama di tepi sungai, karena bau Anda akan dicium buaya, kata pepatah orang bijak’’. Dalam menghadapi masalah tak perlu (semuanya) dimasukkan ke dalam wilayah perasaan, tetapi mesti dirasionalisasikan, dicari jalan keluar yang tepat dan bijaksana.            

 Kadangkala anak muda tidak menyadari dirinya ketika terkontaminasi  dan tenggelam ke dalam keegoisan, ketidaktahuan. Di sini, adalah penting ‘suara hati’ ketika seseorang bersinggungan dengan dunia, di luar dirinya bahkan dengan dirinya sendiri. Menurut Irene Yosselyn, dalam dunia remaja: orangtua adalah simbolisasi dari suara hati, dalam arti, para orangtua mengambil peran sebagai suara hati bagi anaknya[1]. Orangtua menjadi figur, penuntun bagi anaknya. Dalam film ini, orangtua Venessa telah berperan sebagai suara hati bagi anaknya. Dia berusaha menenangkan anaknya, bahkan dia juga ikut berempati dan berusaha menyelesaikan masalah anaknya (baik terhadap orangtua Staccey maupun  ke pihak sekolah, guru). Komunikasi adalah perlu, itulah nasihat sang ibu Venessa. Walaupun gagal beberapa kali, namun pada akhirnya, ketika dialog, curahan kekesalan, luapan amarah, luapan ketidaksetujuan yang terjadi antara Venessa dan Staccey permasalah semakin dapat dikendalikan.           

 Selanjutnya, bagi Irene Yosselyn, teman (bagi anak muda) adalah simbol suara hati, peneguh dan bahkan seorang teman yang sangat berperan dalam hidup seseorang: sebagai pelipur lara, sarana kontrol, teman sharing. Seorang teman yang baik adalah teman dialog, yang bisa mendengarkan keluhan kita. Seorang teman yang baik menaruh perhatian kepada sesamanya, kepada temannya. Dalam film ini wanita yang berkulit hitam (saya lupa namanya) adalah menjadi “teman’ Venessa, ia menjadi teman dialog, penaruh perhatian, penghibur dan orang yang memberi peneguhan. “Venessa kamu itu cantik, kamu itu pintar dibanding mereka, ketika kamu merusak dirimu sendiri, itu adalah tindakan bodoh” itulah katanya, nasihatnya, ketika Venessa mengalami depresi, putus asa karena dibenci oleh temannya sendiri. Saya melihat bahwa ketika kesadaran terbersit dalam hati seseorang (walaupun secara umur ia belum dewasa) tetapi karena ilham ‘kesadaran’, kata-katanya sungguh menampilkan kedewasaan; dan itulah yang ada dalam perempuan berkulit hitam itu.   

Menutup diri tak ada gunanya ketika kita menghadapi masalah. Inilah pesan moral yang saya dapatkan dalam film ini. Ketika manusia, semakin menutup diri, masalah yang ia hadapi semakin menggerogoti kehidupannya. Pada zaman sekarang, ada banyak manusia yang sulit berkomunikasi dengan orang lain, manusia zaman modern (sebagian) ibarat seorang autis yang sibuk dengan dirinya sendiri: tidak mau tahu dan tidak mau diketahui orang lain, segalanya dijadikan rahasia pribadi.[2]

Dimensi persahabatan itu sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena melalui persahabatan terwujud suatu dimensi relasional . Teolog Curran menyatakan bahwa seseorang perlu menyadari komitmen relasionalnya terhadap orang lain, karena hal itu merupakan wujud dari komitmen relasionalnya dengan Tuhan [3]. Relasi terhadap sesama adalah manisfestasi dari relasi seseorang dengan Tuhan. Tentu, sebagai orang Kristiani antara visi dan misi, gagasan dan tindakan, teori dan aksi tidak bisa dipisahkan satu sama lain « iman tanpa perbuatan adalah ma


[1] Lihat Charles M. Shelton, SJ, Moralitas Kaum Muda, Bagaimana Menanamkan Tanggung Jawab Kristiani,(Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm. 21

[2] Pernyataan ini adalah pernyataan Bapak Dr. Ignatius Bambang Sugiharto dalam seminar “Bedah Naskah Eugene Iunesco tentang The Lesson”, 29 April 2006 silam di G.K. Sunan Ambu STSI, Bandung

[3] Charles M. Shelton, SJ, Op.Cit,  hlm 21

     

Ditulis dalam Teropong Film | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.