SIMAK

Gagasan, ide, opini, refleksi, resensi-tinjauan, dan sharing dari Postinus Gulö

  • ..



    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    widget

  • Blog Stats

    • 25,108 hits
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Kategori Tulisan

  • Arsip

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    November 2009
    S S R K J S M
    « Okt    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • .

  • Mempermainkan Keadilan-Sejarah Indonesia Tak Terlupakan

    Selasa, 3 November 2009. Itulah sejarah Mahkamah Konstitusi yang diketuai Mahfud MD mengukir sejarah baru. Membuka rekaman upaya kriminalisasi terhadap pimpinan KPK Bapak Bibit dan Candra. Rekaman itu diperdengar kepada khalayak umum. Saya termasuk yang penasaran sehingga betah mendengarkan rekaman itu via stasiun TVOne dari jam 11 s/d 16. 05 sore. Sakit..sakit....rekaman itu sungguh merobek-robek rasa keadilan. Ternyata di negeri Indonesia, mafia peradilan masih berkuasa. Aparat penegak hukum seolah sudah diborgol oleh para koruptor! Sejarah ini sejarah Indonesia. Jangan dilupakan.

  • Komentar Pengunjung

    wahyuindrawan di Apa Itu Hidup?
    dede fadillah di Istilah dan Sejarah Meditasi d…
    Postinus di Sikap Positif
    Postinus di “Terima Kasih, Penghinaan…
    OBERLIN ZEBUA di “Terima Kasih, Penghinaan…
    adi di Sikap Positif
    norman di Apa Itu Hidup?
    anto di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
    link di Bahasa dalam Perspektif Ferdin…
    Yohanes AD Purnomo di What is the Meaning of Li…
    Postinus di Karakter Kepemimpinan Kri…
    Yohanes AD Purnomo di Karakter Kepemimpinan Kri…
    yoshimori di Apa Itu Neoliberalisme?
    bambang di Sikap Positif
    michail huda di Apa Itu Neoliberalisme?
  • Top Klik

  • So funny

    zwani.com myspace graphic comments

  • ….

    Saudara Anda, Postinus Gulö, adalah pembuat blog ini. Ia lahir di kampung terpencil, Dangagari, Kecamatan Moro’ö, Pulau Nias. Dalam suka-duka terpaan kesengsaraan ia mampu menyelesaikan Sekolah Dasar-nya di SD Negeri 071084 Dangagari, Pulau Nias. Perjuanganlah yang menghantarnya menyelesaikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Negeri 1 Mandrehe, Pulau Nias. Berlayar ke negeri orang bukanlah cita-citanya. Namun, realita menghantarnya ke Sibolga. Di sana ia menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di SMU Swasta Santo Fransisukus Aek Tolang, Pandan dan Seminari Menengah St. Petrus Sibolga. Hidup memang bukanlah kebetulan. Tangan Allah selalu menjamah. Tidak pernah terbayangkan. Ia, lalu, menjawab "panggilan" Allah di Pulau Jawa. Tepatnya di Bandung, Jawa Barat. Bergabung ke Ordo Sanctae Crucis Sang Kristus Indonesia. Tahun 2004 s/d 2008 mendalami ilmu filsafat di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Sejak bulan Agustus 2009 mendalami ilmu teologi dan humaniora di Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan. Bapak-Ibu, Saudara-Saudari, salam dalam kasih Tuhan. Ya'ahowu

Arsip untuk ‘Teropong Film’ Kategori

Film Doubt: Potret Kepemimpinan yang Salah

Ditulis oleh postinus di/pada September 15, 2009

 Judul Film: Doubt (tahun 2008)

Penulis naskah: John Patrick Shanley

Bintang Film: Philip Seymour Hoffman (Father Flynn), Meryl Streep (Sister Aloysius), Adams (Sister James), Joseph Foster (Donald Miller), Viola Davis (Mrs. Miller)

Peneropong: Postinus Gulö

 

Film ini tidak hanya sebatas kritik atas kepemimpinan. Film ini mengungkap fakta yang sering terjadi di kalangan pemimpin. Seringkali kepemimpinan direduksi menjadi sebatas kekuasaan yang kaku, mencurigai, mengawasi (berlaku sebagai pan-optik), menentukan dan “menghancurkan” nasib orang. Pemimpin melupakan tanggung jawab besar yakni menumbuhkembangkan rekan kerjanya serta bawahannya. Ucapan Father Flynn kepada Sr. Aloysius (kepala sekolah) begitu menarik. “Emosi bukanlah fakta. Kecurigaan bukanlah fakta.” Kalimat ini menarik. Betapa tidak, suster begitu yakin bahwa Flynn memiliki hubungan khusus dengan seorang muridnya, Donald Miller. Memang ada pihak ketiga di antara mereka, Sister James. Ia bertipe selalu mencurigai seseorang. Maka ia suka memata-matai rekan kerjanya. Tidak heran jika kabar darinya sebatas gosip!

Saya “menangis” dalam hati melihat keegoisan Sr. Aloysius. Mrs.Miller bersujud minta agar anaknya, Donald Miller tidak dikeluarkan dari sekolah. Kalau dikeluarkan, maka Donald Miller akan dibunuh ayahnya. Apa yang terjadi, Sr. Aloysius tidak mau peduli.

Bagi saya, film ini berbicara mengenai realitas kehidupan kepemimpinan. Manakala, seorang pemimpin lebih mempercayai tukang gosip, pada saat itu pula ia telah melakukan beberapa kesalahan:

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Teropong Film | Leave a Comment »

Isu Diskriminasi Jender dalam Film “The Hours”

Ditulis oleh postinus di/pada Mei 2, 2008

Peneropong: Postinus Gulö. Judul film: The Hours. Pemain film: Virginia Woolf, Julianne Moore, Meryl Streep, Richard, Cs.


* * *

Perempuan, sosok lembut penuh kerahiman. Ia ibu semua manusia. Semua manusia pernah bersemayam dalam rahim perempuan, sang ibu. Di rahim, kita berenang dalam kenyamanan. Sembilan bulan lamanya. Tiada derita. Yang ada serba ada. Yang ada serba senang. Jika dunia ini ibarat rahim, dunia ini begitu nyaman.


Akan tetapi…..ketika jabang bayin lahir. Ia bukan senang. Ia gelisah. Kenyamanan tiada lagi. Lantas ia menangis. Ia mampu merasa: dunia begitu tidak jelas. Penuh perjuangan. Rasa mesti diolah. Pikiran mesti dipelihara. Sikap mesti dikontrol. Kalau tidak, segalanya chaos. Di dunia, senang adalah produk design manusia. Ia bukan seperti rahim yang tinggal “dinikmati” jabang bayi.


Peranan perempuan begitu berharga. Tetapi, mengapa mereka terus ditindas, dipandang kelas dua, laki-laki yang salah jadi? Ketertindasan perempuan itulah yang diangkat dalam film ini. Selamat membaca dan berenung……….! Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Teropong Film | 3 Komentar »

Film: La Belle Noiseuse

Ditulis oleh postinus di/pada Maret 3, 2008

Peneropong : Postinus Gulö. Judul Film : La  Belle  Noiseuse. Tahun diteropong : Tahun 2006.  

Dari film ini, melukis adalah membahasakan yang tak terbahasakan, mengungkapkan yang tak terungkapkan, memperlihatkan yang tak terlihat, yang tak terukur (rumit, ambigu). Melukis juga merupakan ungkapan terdalam seseorang untuk mengekspresikan pergulatan dan hasil sensibilitas dan tangkapan – refleksi – kontemplasinya dari suatu objek, dan untuk mengungkapkan : bagaimana, siapa – apa, untuk apa, sedang apa objek lukisan itu dan ada apa di balik objek itu (Baca: kedalaman/intensifikasi). Pelukis, ingin melukiskan yang tak terlukiskan dan ingin melukiskan totalitas kehidupan Si Marianne (Emmanuelle Beart), bukan hanya soal luaran (surface) saja. Michel Piccoli (Frenhofer) sebagai pelukis, ingin melukiskan dan menunjukkan significant form (bentuk yang berarti) dari sebuah lukisan dengan cara mencari model natural-ekspresif (sifat ekspresi yang alami) dari objek lukisan sesuai dengan persepsinya. Dan karena lukisan merupakan hasil sensibilitas-refleksi-kontemplasi dan imajinasi terdalam dari seorang pelukis, dari sana tersirat makna sakralisasi dan spiritual dari sebuah lukisan.  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Teropong Film | Leave a Comment »

Film “Odd Girl Out”

Ditulis oleh postinus di/pada Februari 28, 2008

Adalah menarik adegan-adegan yang ditampilkan dalam film ini. Menyaksikannya, saya teringat pada rangkaian kalimat adagium Latin “Non sibi vivere, sed et aliis proficere” (hidup bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk menjadi berkat bagi orang lain). Yang terjadi dalam fim ini justru sebaliknya, seseorang yang tadinya seorang teman, sahabat, berubah wujud: menjadi musuh, penghancur segala jalinan persahabatan yang telah dibina sejak sekian lama. Dan oleh karenanya, (dalam konteks film ini) seorang teman tidak selamanya menjadi pembawa berkat bagi orang lain.            

Nicky, Staccey, cs.  yang tadinya teman Venessa, hanya karena masalah afektif, percintaan (memperebutkan seorang cowok: Tony), persahabatan renggang, suara hati pun tak berbicara, tumpul. Sensibilitas menjadi hampa, yang terlihat hanya rasa benci, kegalauan, dan terror. Ada hal khusus yang  ditampilkan dalam film ini: Staccey dan Venessa sejak kecil sudah saling kenal. Orangtua mereka pun sangat akrab. Tetapi hanya karena Venessa dekat dengan seorang lelaki, Tony (yang notabene dicintai juga oleh Staccey) persahabatan yang telah terbina sejak sekian lama pupus di tengah jalan. Saya melihat bahwa ada  faktor lain yang membuat hati Staccey begitu bebal, sadis dan bersikap seperti teroris. Pertama-tama karena Nicky selalu menjadi provokator. Nicky selalu membakar hati Staccey untuk membenci, mempermainkan Venessa. Nickylah yang membuat api semakin menyala, dialah yang membuat Staccey semakin bejat terhadap kawan, temannya sendiri: Venessa.            

Dalam kasus ini pun terlihat bahwa anak muda, selalu rindu pada jati diri, identitas, pengakuan dari orang lain. Venessa ketika dijauhi oleh teman-temanya (apalagi karena selalu diejek) merasa tidak aman, tidak at home, tidak menyenangkan. Sebaliknya, dari pihak Staccey, ia berlindung pada kelompoknya sendiri, ia merasa senang mempermainkan Venessa karena ada ‘dukungan’ dari teman-temannya. Teman dalam tataran kasus itu ada dua gendang : teman bisa membuat kita senang, happy, tetapi kenyataan yang dialami oleh Venessa, teman justru tidak menyenangkan, membuat dirinnya tertekan, aktivitas sekolahannya sempat berhenti, kacau balau.              

Secara moral, kelakuan Nicky, Staccey, cs. tidak dapat dibenarkan. Karena sikap mereka lebih sadis dibandingkan tindakan seorang pembunuh fisik. Nicky dan Staccey, cs. melakukan penekanan secara mental, yang membawa Venessa pada kegilaan, ketidaknyaman seumur hidup, traumatik dan luka batin. Jadi, Nicky cs melakukan pembunuhan metafisik : pembunuhan secara psikologis.            

 Venessa adalah sosok yang berpendirian ‘positive thinkingg’ sekaligus lugu, polos, menampilkan dirinya apa adanya. Bahkan Venessa berusaha untuk mempercayai, memaafkan temannya, walaupun sudah beberapa kali menyakitinya. Ini luar biasa. Ketika dia bertemu dengan Staccey, ia masih mengharapkan agar Staccey masih menjadi temannya seperti dulu. Tetapi dasar pembohong, Staccey rupanya bermanis muka. Dia malah mengerjain Venessa.

Adegan ini, menghantar saya pada sebuah refleksi aktual: bagaimana jika sikap seperti Staccey, Nicky, cs., ada di komunitas, di keluarga, di tempat kita bekerja. Tentu, menjadi batu sandungan. Hanya karena sikap sembrono seseorang, lantas semangat kita beurbah menjadi amarah dan kekesalan. Maka, yang perlu diperhatikan adalah sikap komunikatif, tidak perlu dipendam semua masalah. Saya melihat bahwa Venessa agak terlambat mengkomunikasikan ketidaksetujuannya ke Staccey. Dia masih lugu. Oleh karena itu, sangat perlu dibedakan antara polos dan jujur, antara rendah diri dan rendah hati. Jika ada sikap yang kurang berkenan di hati, seharusnya dibicarakan secara baik-baik. ‘’Tidak perlu lama-lama di tepi sungai, karena bau Anda akan dicium buaya, kata pepatah orang bijak’’. Dalam menghadapi masalah tak perlu (semuanya) dimasukkan ke dalam wilayah perasaan, tetapi mesti dirasionalisasikan, dicari jalan keluar yang tepat dan bijaksana.            

 Kadangkala anak muda tidak menyadari dirinya ketika terkontaminasi  dan tenggelam ke dalam keegoisan, ketidaktahuan. Di sini, adalah penting ‘suara hati’ ketika seseorang bersinggungan dengan dunia, di luar dirinya bahkan dengan dirinya sendiri. Menurut Irene Yosselyn, dalam dunia remaja: orangtua adalah simbolisasi dari suara hati, dalam arti, para orangtua mengambil peran sebagai suara hati bagi anaknya[1]. Orangtua menjadi figur, penuntun bagi anaknya. Dalam film ini, orangtua Venessa telah berperan sebagai suara hati bagi anaknya. Dia berusaha menenangkan anaknya, bahkan dia juga ikut berempati dan berusaha menyelesaikan masalah anaknya (baik terhadap orangtua Staccey maupun  ke pihak sekolah, guru). Komunikasi adalah perlu, itulah nasihat sang ibu Venessa. Walaupun gagal beberapa kali, namun pada akhirnya, ketika dialog, curahan kekesalan, luapan amarah, luapan ketidaksetujuan yang terjadi antara Venessa dan Staccey permasalah semakin dapat dikendalikan.           

 Selanjutnya, bagi Irene Yosselyn, teman (bagi anak muda) adalah simbol suara hati, peneguh dan bahkan seorang teman yang sangat berperan dalam hidup seseorang: sebagai pelipur lara, sarana kontrol, teman sharing. Seorang teman yang baik adalah teman dialog, yang bisa mendengarkan keluhan kita. Seorang teman yang baik menaruh perhatian kepada sesamanya, kepada temannya. Dalam film ini wanita yang berkulit hitam (saya lupa namanya) adalah menjadi “teman’ Venessa, ia menjadi teman dialog, penaruh perhatian, penghibur dan orang yang memberi peneguhan. “Venessa kamu itu cantik, kamu itu pintar dibanding mereka, ketika kamu merusak dirimu sendiri, itu adalah tindakan bodoh” itulah katanya, nasihatnya, ketika Venessa mengalami depresi, putus asa karena dibenci oleh temannya sendiri. Saya melihat bahwa ketika kesadaran terbersit dalam hati seseorang (walaupun secara umur ia belum dewasa) tetapi karena ilham ‘kesadaran’, kata-katanya sungguh menampilkan kedewasaan; dan itulah yang ada dalam perempuan berkulit hitam itu.   

Menutup diri tak ada gunanya ketika kita menghadapi masalah. Inilah pesan moral yang saya dapatkan dalam film ini. Ketika manusia, semakin menutup diri, masalah yang ia hadapi semakin menggerogoti kehidupannya. Pada zaman sekarang, ada banyak manusia yang sulit berkomunikasi dengan orang lain, manusia zaman modern (sebagian) ibarat seorang autis yang sibuk dengan dirinya sendiri: tidak mau tahu dan tidak mau diketahui orang lain, segalanya dijadikan rahasia pribadi.[2]

Dimensi persahabatan itu sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena melalui persahabatan terwujud suatu dimensi relasional . Teolog Curran menyatakan bahwa seseorang perlu menyadari komitmen relasionalnya terhadap orang lain, karena hal itu merupakan wujud dari komitmen relasionalnya dengan Tuhan [3]. Relasi terhadap sesama adalah manisfestasi dari relasi seseorang dengan Tuhan. Tentu, sebagai orang Kristiani antara visi dan misi, gagasan dan tindakan, teori dan aksi tidak bisa dipisahkan satu sama lain « iman tanpa perbuatan adalah ma


[1] Lihat Charles M. Shelton, SJ, Moralitas Kaum Muda, Bagaimana Menanamkan Tanggung Jawab Kristiani,(Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm. 21

[2] Pernyataan ini adalah pernyataan Bapak Dr. Ignatius Bambang Sugiharto dalam seminar “Bedah Naskah Eugene Iunesco tentang The Lesson”, 29 April 2006 silam di G.K. Sunan Ambu STSI, Bandung

[3] Charles M. Shelton, SJ, Op.Cit,  hlm 21

     

Ditulis dalam Teropong Film | Leave a Comment »