<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SIMAK</title>
	<atom:link href="http://postinus.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://postinus.wordpress.com</link>
	<description>Gagasan, ide, opini, refleksi, resensi-tinjauan, dan sharing dari Postinus Gulö</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Oct 2009 02:59:55 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='postinus.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/3c96fd860fffa33359b35f6affc875a6?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>SIMAK</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Kunci untuk Sukses</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com/2009/10/27/kunci-untuk-sukses/</link>
		<comments>http://postinus.wordpress.com/2009/10/27/kunci-untuk-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 02:59:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>postinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://postinus.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[ Semua orang ingin sukses. Tetapi mereka kurang mengetahui kunci-kuncinya. Saya menemukan beberapa kunci untuk sukses.
Pertama, kepercayaan diri (self-confidence), saya singkat SC saja. SC inilah yang mendorong orang untuk eksploratif, kreatif dan inovatif. Jika seseorang memilki SC yang kuat ia tidak minder akan apa yang ia miliki. Efeknya, ia berani mengonfrontasikan pengetahuan dan tindakannya dengan pengetahuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=85&subd=postinus&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> Semua orang ingin sukses. Tetapi mereka kurang mengetahui kunci-kuncinya. Saya menemukan beberapa kunci untuk sukses.</p>
<p><em>Pertama</em>, kepercayaan diri (self-confidence), saya singkat SC saja. SC inilah yang mendorong orang untuk eksploratif, kreatif dan inovatif. Jika seseorang memilki SC yang kuat ia tidak minder akan apa yang ia miliki. Efeknya, ia berani mengonfrontasikan pengetahuan dan tindakannya dengan pengetahuan dan tindakan orang lain. Fenomena yang sering terjadi: kalah sebelum bertanding. Artinya, tidak mau mencoba, malu sama orang lain. Ia melihat orang lain lebih hebat darinya. Ia melihat dirinya tidak punya apa-apa alias rendah diri.</p>
<p><em>Kedua</em>, inisiatif (sisi psiko-motorik). Inisiatif adalah pintu untuk melangkah. Jika tidak punya inisiatif, maka orang tidak akan berbuat apa-apa untuk masa depannya. Coba perhatikan fenomena dewasa ini, banyak orang yang tidak punya inisiatif. Mereka lebih suka diperintahkan daripada sadar sendiri. Maka, mungkin benar apa yang dikatakan oleh mantan Wakil Presiden, M. Jusuf Kalla: orang Indonesia jangan hanya diajak tapi diperintahkan. Tumpulnya inisiatif bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, pikiran-pikiran yang belum tentu nyata. Misalnya, sebelum bertindak sudah memikirkan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi. Coba, seandainya yang dipikirkan adalah peluang. Saya rasa kita semakin berinisiatif untuk bertindak banyak hal. Kedua, takut menghadapi tantangan. Menghindar dari tantangan. Bukan mencari kiat menghadapi tantangan. Tantangan-tantangan hidup dibayangkan seperti gunung yang menimpa dirinya. Daud adalah tokoh legendaris yang patut kita contoh. Ketika dia berdoa yang ia minta pada Tuhan bukan agar Tuhan menjauhi tantangan darinya. Akan tetapi, ia minta kearifan, kebijaksanaan agar ia mampu mencari solusi secara bijaksana juga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Ketiga</em>, persiapan. Jika kita memiliki self-confidence dan inisiatif, maka kunci berikutnya adalah persiapan. Persiapan-persiapan sangat dibutuhkan sehingga jika ada &#8220;peluang karir&#8221; kita sudah punya modal. Persiapan bisa dilakukan melalui latihan, menyerap berbagai macam informasi. Memiliki daya kuriositas (ingin mengetahui banyak hal). Jangan salah, persiapan-persiapan semacam inilah yang membuat kita memiliki SKILL (keahlian), CAPABILITY (kemampuan). Kedua hal ini saya singkat SCA. SCA mendorong kita untuk mencapai keberhasilan-keberhasilan tertentu (achievement). Artinya, Anda tidak pernah bisa mencapai sesuatu tanpa ada usaha untuk mempersiapkan diri. Coba Anda tanya kepada siswa SMA apa cita-cita mereka. Banyak yang menjawab: ingin sukses. Cita-citanya kabur. Setelah itu tanya lagi, apa yang kamu perbuat sehingga kamu sukses. Mereka banyak yang bingung. Artinya, mereka ingin sukses tapi tidak memikirkan bagaimana caranya meraih kesuksesan itu. Hidup adalah ibarat sebuat bangunan. Jika bangunan dirancang dan direncanakan secara matang maka akan kokoh. Biar diterpa badai tantangan tetap berdiri tegak. Sebaliknya, jika sebuah bangunan dirancang dan direncanakan serampangan maka hasilnya gampang lapuk, roboh dan hancur.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Keempat</em>, kesempatan (chance). Kesempatan itu ada. Cuma kita kadang sulit menemukannya. Barangkali kalau sudah menemukan, tetapi kita belum siap. Maka kesempatan itu diambil orang lain. Oleh karena itu, jika Anda ingin agar kesempatan tidak raib di depan Anda, persiapkanlah dirimu. Benahilah dirimu dengan berbagai keahlian dan kemampuan, yang tidak didapat di bangku sekolah atau kuliah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Kelima</em>, relasi (relationship). Kunci kelima ini menentukan juga. Kadangkala kita punya keahlian. Akan tetapi, karena kita tidak punya relasi yang baik maka kesempatan itu raib di hadapan kita. Prinsipnya, kita tidak mungkin hidup jika sendiri. Kita membutuhkan peran orang lain. Maka, memperluas jaringan itu akan menggampangkan kita meraih kesempatan emas. Selamat mempraktekkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>By Postinus Gulö</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/postinus.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/postinus.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/postinus.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/postinus.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/postinus.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/postinus.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/postinus.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/postinus.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/postinus.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/postinus.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=85&subd=postinus&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://postinus.wordpress.com/2009/10/27/kunci-untuk-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee5e8d76c208a732ba154318ec768169?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">postinus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Terima Kasih, Penghinaan”</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com/2009/09/24/%e2%80%9cterima-kasih-penghinaan%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://postinus.wordpress.com/2009/09/24/%e2%80%9cterima-kasih-penghinaan%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 04:57:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>postinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Diary]]></category>
		<category><![CDATA[My Reflection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://postinus.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[ Sebuah negeri hanya dihuni puluhan orang. Negeri itu indah dan makmur. Negeri suci. Negeri panggilan. Hidup tertata. Aturan hidup ada. “Hospitalitas” adalah semangat hidup mereka. Entah apa arti kata itu. Seolah tak berarti karena tak pernah dilakoni oleh penghuni yang sering mencetuskannya. Kata orang, jika kata itu dihayati oleh seseorang maka ia begitu ramah. Wajahnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=82&subd=postinus&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> Sebuah negeri hanya dihuni puluhan orang. Negeri itu indah dan makmur. Negeri suci. Negeri panggilan. Hidup tertata. Aturan hidup ada. “Hospitalitas” adalah semangat hidup mereka. Entah apa arti kata itu. Seolah tak berarti karena tak pernah dilakoni oleh penghuni yang sering mencetuskannya. Kata orang, jika kata itu dihayati oleh seseorang maka ia begitu ramah. Wajahnya berseri tidak menakutkan. Seseorang yang menghidupi “hospitalitas” berhati indah. Ia berpikiran jernih. Kata-katanya menyembuhkan. Tutur katanya enak didengar. Tidak bernada interogatif!</p>
<p><span id="more-82"></span></p>
<p>Di negeri itu dihuni sang guru berbagai karakter. Seorang guru memiliki karakter “luar biasa”. Ia simbol keketusan, kesombongan dan kebohongan. Kata-katanya penuh pembenaran dan penghinaan. Tutur bicaranya hampir selalu menyudutkan. Seolah semua ia tahu. Ia barangkali seperti pengidap psikopat. Seorang guru lain tampak bijak. Bicara begitu pelan. Sering unjuk gigi menunjukkan kehebatannya. Tapi ia sering melupakan tanggung jawabnya. Guru lainnya lagi aneh. Ia simbol kebodohan. Tak punya wibawa. Entah kenapa.</p>
<p>Negeri itu kaya pengalaman menarik. Menarik karena aneh bin ajaib. Pemikir sekaliber Sunitsop Őlug punya cerita mengenai negeri itu. Di suatu siang, penghuni negeri berjamu bersama. Canda tawa mengawali perjamuan. Persahabatan itu yang terlihat. Mereka saling cerita. Melucu. Tapi berakhir menghina. Peristiwa itu ibarat panggung teater komedi-tragedi.</p>
<p>Seorang guru bertanya kepada muridnya. “Apakah kamu bahagia di tempat di mana kami mengutusmu?”. Sang murid menjawab. “Ya bahagia”. Murid itu agak jengkel setiap mendengar pertanyaan itu. Sebab sang murid tahu persis dari siapa pertanyaan itu. Bukan dari sang guru yang sering menghina itu.</p>
<p>Biasanya sang guru itu bertanya pura-pura tidak mengerti. Ia bertanya apa saja sampai teman bicaranya kapok di depan matanya. Itulah karakternya. Maka sesungguhnya ia bukan guru. Bagi Sunitsop, seorang guru adalah sahabat bagi muridnya. Bahkan kata, Konfusius, guru sejati adalah pribadi yang membawa muridnya untuk mengetahui talentanya. Sunitsop dan Konfusius memahami peran guru sebagai pribadi yang menumbuhkan, menuntun dan mengayomi sang murid.</p>
<p>Dalam jamuan siang itu terjadi peristiwa menggelikan. Dari dua arah, tiba-tiba terdengar pernyataan yang berbeda dari dua guru. Isinya menghina murid yang sedang duduk makan di depan sang guru. Sang murid terdiam sejenak. Ia merenungkan pernyataan yang baru terlempar bagai peluru mengena di ulu hatinya. Logisnya sang murid marah, jengkel walau sebatas di hati. Raut wajah sang murid menjadi berubah. Kadang merah kadang pucat. Kekecewaan menghantui hatinya. Ia kecewa karena gurunya sendiri menghinanya. Perjamuan makan berakhir tanpa ada lagi canda ria. Berakhir begitu saja sejuta kesan.</p>
<p> Aneh bin ajaib. Sang guru rupanya marah. Ia marah pada sang murid yang berubah raut wajah. Pokoknya ia menganggap sang murid salah. Lantas peristiwa itu menjadi peristiwa keretakan. Relasi sang murid dan sang guru menjadi retak. Tidak saling sapa. Sunitsop heran. Ia bertanya-tanya lho siapa yang salah? Siapa yang menghina? Siapa yang seharusnya marah? Kok fakta diputarbalikan? Pimpinan negeri mendadak mengadakan rapat khusus. Sebagian penghuni negeri menghadirinya. Rapat itu rupanya bukan rapat sesungguhnya. Obrolan rapat itu ibarat obrolan di warung judi. Para murid terbuka. Bagi mereka keterbukaan adalah kejujuran. Apa yang dialami diungkapkan. Itu bukan kritik. Tapi evaluasi. Tindakan ini penting. Penting terutama agar saling memahami.</p>
<p>Sunitsop berpendapat understanding rather than judgment, memahami daripada menghakimi. Tapi ini kenyataan. Yang baik tidak selalu dianggap baik. Yang benar tidak selalu dianggap benar. Bagi seorang guru, sharing sang murid rupanya dipahami sebagai tindakan agresif. Bahkan pertanda bahwa murid inferior. Artinya, sang guru itu judgment rather than understanding, menghakimi daripada memahami.</p>
<p>Lagi-lagi Sunitsop heran setengah tidak percaya. Kok itu yang terjadi. Sunitsop kalang kabut. Pusing bercampur kecewa. Ternyata niat baik tidak selalu dianggap baik. Sunitsop tertunduk sambil bertanya dalam hati. “Apakah gara-gara murid itu mengungkapkan rasa amarahnya, lantas layak disebut agresif dan inferior? Siapa sebenarnya yang agresif dan inferior? Jangan-jangan sang guru itu! Pertanyaan Sunitsop cukup beralasan. Apapun yang dikatakan sang murid itu selalu ditangkis oleh sang guru pengidap psikopat itu. Bukan sekedar ditangkis tapi disalahkan. Maka, masuk akal jika Sunitsop terus merenungkan apa itu kebenaran. Jangan-jangan kebenaran ada kaitannya dengan otoritas.</p>
<p>Dalam peristiwa ini, sang guru merasa selalu benar walau ia salah. Maka,. kebenaran sebenarnya adalah kesalahan. Sunitsop menyadari diri sebagai pemikir, pencinta dan pencari kebijaksaan. Maka ia tidak frustrasi. Dalam hatinya terlintas kata-kata filsuf Karl Raimud Popper: seseorang layak disebut sebagai pimpinan jika ia mau dievaluasi dan mengevaluasi diri. Bagi Popper self-critical itu penting. Rapat khusus itu tidak menghasilkan niat-niat baik. Terutama bagi sang guru. Apa yang diungkapkan sang murid lantas menjadi buah bibir sang guru. Ia ceritakan kepada siapun tapi hanya sepotong saja: murid marah-marah melulu. Sang guru berusaha agar pendengarnya menyalahkan sang murid. Tidak hanya itu, sang guru seolah mencari massa bahwa ia tidak salah.</p>
<p>Sunitsop tentu merasa kasihan sama sang murid. Sudah dihina dipersalahkan pula. Di setiap kesempatan sang guru itu hampir selalu menyinggung peristiwa sharing itu. Intinya, sang murid itu layak sebagai orang yang salah. Di panggung suci pun ia wartakan peristiwa itu. Mungkin hingga kini sang guru itu belum sadar bahwa apa yang ia katakan adalah kebohongan. Ia tidak tahu bahwa para murid tertawa dalam hati mendengar kata-katanya. Bukan hanya tertawa tapi gerah dan heran kok guru ini masih mau tinggal di negeri suci ini. Sebab, ia menodai kesucian dan panggilan sang murid. Ia menjadi gangguan dan pembuat masalah. Mungkin Tuhan Allah juga menutup telinga ketika mendengar kata-kata sang guru itu.</p>
<p>Tapi patutlah kita meniru sikap Sunitsop. Walau ia terluka. Kecewa. Terheran-heran. Sunitsop tetap bersyukur: “terima kasih, penghinaan”. Sunitsop sadar betul bahwa peristiwa ini adalah berharga.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/postinus.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/postinus.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/postinus.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/postinus.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/postinus.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/postinus.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/postinus.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/postinus.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/postinus.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/postinus.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=82&subd=postinus&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://postinus.wordpress.com/2009/09/24/%e2%80%9cterima-kasih-penghinaan%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee5e8d76c208a732ba154318ec768169?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">postinus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Open Society Theory in the Plural Society Context</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com/2009/09/18/the-open-society-theory-in-the-plural-society-context/</link>
		<comments>http://postinus.wordpress.com/2009/09/18/the-open-society-theory-in-the-plural-society-context/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 05:01:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>postinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan Tulisan-Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://postinus.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[By Postinus Gulö
My topic is taken from Karl Raimund Popper’s thesis and Henri Bergson’s opinion. Karl Raimund Popper is a politic philosopher who was born in Austria, while Henri Bergson is a philosopher who was born in French. Popper is a student from Bergson. In Bergson’s opinion, the open society is the society which is [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=80&subd=postinus&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>By Postinus Gulö</em></p>
<p>My topic is taken from Karl Raimund Popper’s thesis and Henri Bergson’s opinion. Karl Raimund Popper is a politic philosopher who was born in Austria, while Henri Bergson is a philosopher who was born in French. Popper is a student from Bergson. In Bergson’s opinion, the open society is the society which is deemed in principle to embrace all humanity. A dream dreamt, now and again, by chosen souls, it embodies on every occasion something of itself in creation, each of which, through a more or less far-reaching transformation of man, conquers difficulties hitherto unconquerable. While according to Popper, the open society is the society in which individuals are confronted with personal decisions or individual freedom, and belief for critical attitude, critical thinking, creative thinking, hypothesis thinking and denies: the dogmatic thinking, magical thinking, tribalism attitude, fanaticism, violence and inevitable laws. The most important characteristics of the open society, competition for status among its members.</p>
<p>In my opinion, the open society theory is very important and its relevance in the plural society context like Indonesian society. Why? Because the principles of the open society theory are:</p>
<p> <span id="more-80"></span></p>
<p>The first, tolerance: every man must respect to pluralistic society and all people are brothers. Since Indonesian society context is pluralistic, so, the people of Indonesia must respect the articulation or practice the characteristic of open society: being tolerant. Indonesian people must respect each others: Muslim must be tolerant with Christian; and Christian must be tolerant with Muslim or majority must be tolerant with minority (like Ahmadiyah, and Crhistian) and minority must be tolerant with majority.</p>
<p>Second, dialog and the freedom to express criticisms (evaluation) to all people. The criticisms and dialog and evaluation will build social trust because we understand what ideology (and idea or opinion) of other people.</p>
<p> </p>
<p>Third, free critical thought or creative thinking. Fourth, brotherhood, or, philanthropy: an appeal to men to respect one another and themselves. Fifth, democracy. In Popper’s opinion, democracy is the rule of the general will, or the rule of the spirit of the people. Only democracy provides an institutional framework that permits reformation without violence, and so the use of reason in political matters. Sixth, humanity. Everyone who are respectful to the others people, respect life or pro life and deny violence is a humanist.</p>
<p> </p>
<p>In the Indonesian context &#8211; according to Roy Voragen &#8211; FPI (The Front for the Defense of Islam) is a good example of an intolerant (anti-humanity) organization. FPI is an uncivilized civil society organization. Why? Because FPI used violence (sword) but not dialogue (word) and FPI tends intolerant. FPI would like to make “heaven” on earth but they invariably produce “hell”. Therefore, FPI is an enemy of Open Society. Seventh, hypothesis thinking. Hypothesis thinking can explain like this: I may be wrong and you may be right, and by an effort, we may get nearer to the truth.</p>
<p> </p>
<p>Conclusion, the principles Indonesian people must have who live in plural society context are: tolerant, brotherhood, philanthropy, and respect for all people and humanity: no violence, and pro life.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Bibliography</p>
<p> 1. Bergson, Henri, The Two Sources of Morality and Religion, Paris: Henry Holt and Company, Inc., 1935.</p>
<p> 2. Popper, Karl R., The Open Society and Its Enemies, Volume I, Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 1966.</p>
<p> 3. Voragen, Roy, Civil Society and Democracy in Post-Soeharto Indonesia, in Melintas, Volume 22, December-March 2007.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/postinus.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/postinus.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/postinus.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/postinus.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/postinus.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/postinus.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/postinus.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/postinus.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/postinus.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/postinus.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=80&subd=postinus&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://postinus.wordpress.com/2009/09/18/the-open-society-theory-in-the-plural-society-context/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee5e8d76c208a732ba154318ec768169?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">postinus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Kegiatan Ekonomi Harus Mengarah Pada Usaha Memanusiawikan Manusia&#8221;</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com/2009/09/18/kegiatan-ekonomi-harus-mengarah-pada-usaha-memanusiawikan-manusia/</link>
		<comments>http://postinus.wordpress.com/2009/09/18/kegiatan-ekonomi-harus-mengarah-pada-usaha-memanusiawikan-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 04:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>postinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan Tulisan-Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://postinus.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Postinus Gulő*
Mestinya, kegiatan ekonomi adalah proses realisasi manusia untuk memanusiawikan dirinya dan sesamanya. Jadi, kegiatan ekonomi bukan sekedar untuk mendesain manusia menjadi homo oeconomicus (manusia ekonomi) melainkan juga homo socius (makhluk sosial). Oleh karena itu, kegiatan ekonomi seharusnya di arahkan untuk menjawab kebutuhan individual sekaligus kebutuhan rakyat secara keseluruhan. Jika arah kegiatan ekonomi dijalankan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=78&subd=postinus&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh Postinus Gulő*</p>
<p>Mestinya, kegiatan ekonomi adalah proses realisasi manusia untuk memanusiawikan dirinya dan sesamanya. Jadi, kegiatan ekonomi bukan sekedar untuk mendesain manusia menjadi homo oeconomicus (manusia ekonomi) melainkan juga homo socius (makhluk sosial). Oleh karena itu, kegiatan ekonomi seharusnya di arahkan untuk menjawab kebutuhan individual sekaligus kebutuhan rakyat secara keseluruhan. Jika arah kegiatan ekonomi dijalankan seperti ini maka, visi-misi kegiatan ekonomi berada pada jalur memanusiawikan manusia.</p>
<p>Saya sangat terinspirasi dengan tulisan tokoh ekonomi kondang: Michael Novak menyangkut gagasannya dalam aktivitas ekonomi. Tokoh ini mengidealkan manusia sebagai makhluk yang harus menghasilkan sesuatu (homo faber), harus mampu mendesain dan merekayasa hidupnya. Dalam dunia dewasa ini, agaknya benar arah pemikiran Novak bahwa manusia dewasa ini dilihat oleh pelaku ekonomi sebagai modal (capital), investasi, dan komoditi.</p>
<p>Memang saya tidak begitu setuju dengan pendapat ini. Sebab, jika demikian, kegiatan ekonomi justru menjadikan manusia bukan manusia lagi. Manusia menjadi sama seperti barang yang layak diperdagangkan dan dipertukarkan dengan barang.</p>
<p> <span id="more-78"></span></p>
<p>Novak mengatakan bahwa manusia dewasa ini mestinya memiliki daya efisiensi dan keberanian berusaha. Manusia harus selalu kreatif dan produktif (harus menghasilkan sesuatu). Semua idealisme ini terealisasi jika manusia memiliki “human capital”. Lantas, apa saja human capital itu? Novak menjawab: human capital itu adalah keterampilan, intellectual skills dan bukan sekedar physical capital. Saya melihat bahwa ada human capital yang dilupakan oleh Novak, yakni: kesempatan (chance) dan popularitas (popularity). Orang kaya yang memiliki relasi bisnis yang baik (networking) akan mudah mendapat pekerjaan. Anak pejabat tentu lebih banyak kesempatan mereka, terutama jika mereka memanfaatkan popularitas orangtua mereka. Sedangkan orang miskin tidak demikian.</p>
<p>Bagi Novak, manusia adalah makhluk produktif. Dengan kata lain, yang dianggap oleh Novak sebagai manusia adalah hanya orang yang produktif. Manusia adalah subjek yang terpilih dan memiliki pikiran dan daya untuk mencipta. Novak, dalam tulisannya: “Economics as Humanism”(lihat www.leaderu.com/ftissues/ft9710/opinion/novak.html) mengidealkan seorang individu harus mampu mengeluarkan dirinya dari jurang kemiskinan, sebab ia memiliki kebebasan untuk memilih. Sangat disayangkan, memang, sebab dalam artikel tersebut, Novak tidak menawarkan solusi bagaimana agar kegiatan ekonomi mampu memanusiawikan rakyat miskin. Seperti kita ketahui, warga miskin tidak mampu memilih, tidak bebas dan tidak memiliki keahlian. Orang miskin, tidak mampu memilih mau kerja di mana dan kapan karena mereka tidak memiliki skill yang sesuai kebutuhan kegiatan ekonomi. Warga miskin tidak bebas memilih kebutuhan apa yang ia perlukan karena mereka tidak memiliki modal yang cukup. Warga miskin hidup dengan paksaan keadaan sosial. Warga miskin tidak mampu menguasai keadaan sosial-ekonomi!</p>
<p> </p>
<p>Pada era globalisasi ini, warga miskin selalu berada di bawah tekanan kaum “kuat” yang mengeksploitasi mereka. Ada alasan yang sangat pelik mengapa warga miskin gampang dieksploitasi: warga miskin tidak memiliki human capital, yang mereka miliki hanyalah physical capital (kekuatan fisikal). Inilah yang dilupakan oleh Novak. Novak memukul rata bahwa manusia memiliki human capital padahal realitanya, tidak. Nah, seharusnya pelaku ekonomi harus mampu memikirkan bagaimana agar warga miskin ini mengalami dirinya sebagai manusia yang manusiawi. Pelaku ekonomi seharusnya memikirkan bagaimana agar warga miskin ini mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, mampu menikmati sekolah yang layak, hidup layak dan pekerjaan yang layak.</p>
<p> </p>
<p>Mari kita kembali pada gagasan Novak. Judul artikelnya menarik: “Economics as Humanism”. Sejauh yang saya tangkap, humanisme yang dimaksud oleh Novak di bidang ekonomi bukan humanisme yang diarahkan ke luar (bukan untuk menyejahterakan orang lain) melainkan bagaimana setiap individu memajukan kesejahteraan hidupnya. Nampaknya, Novak mengkritik efek ambivalensi dari aliran sosialisme dan juga kapitalisme. Ketika sosialisme bangkit, dan menekankan tanggung jawab serta milik umum, justru individu tak punya greget untuk berdikari dan mandiri. Novak ingin mematahkan (meng-counter) ide sosialisme.</p>
<p>Dari artikel ini, sepertinya Novak adalah pengagum kapialisme. Kaum kapitalisme melihat segalanya sebagai “commodity and capital” dan mengizinkan setiap individu menumpuk kekayaan. Artinya, individu berhak menikmati kekayaan di antara kaum miskin yang mati kelaparan. Visi-misi kapitalisme semakin parah sebab tanggung jawab diserahkan dalam wilayah privat dan segalanya harus diswastanisasikan. Peran pemerintah untuk menentukan arah kebijakan ekonomi tidak berlaku lagi.</p>
<p> </p>
<p>Menurut saya, kegiatan ekonomi mampu berperan sebagai gerakan humanisme jika aktivitas ekonomi dijadikan salah satu cara untuk melihat kenyataan dan juga untuk memikirkan generasi berikutnya. Aktivitas ekonomi layak sebagai gerakan humanisme jika para pelaku ekonomi tidak hanya memikirkan kesejahteraan dirinya tetapi juga mau mengangkat kehidupan masyarakat miskin yang memang lemah dari segi “human capital”. Sekurang-kurangnya, masyarakat miskin ini dilatih, diberi penyuluhan serta diberi kesempatan untuk sekolah, menikmati pendidikan yang layak.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Postinus Gulő adalah alumnus Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung. Kini, mahasiswa Magister Teologi di Pascasarjana Unpar.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/postinus.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/postinus.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/postinus.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/postinus.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/postinus.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/postinus.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/postinus.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/postinus.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/postinus.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/postinus.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=78&subd=postinus&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://postinus.wordpress.com/2009/09/18/kegiatan-ekonomi-harus-mengarah-pada-usaha-memanusiawikan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee5e8d76c208a732ba154318ec768169?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">postinus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Film Doubt: Potret Kepemimpinan yang Salah</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com/2009/09/15/film-doubt-potret-kepemimpinan-yang-salah/</link>
		<comments>http://postinus.wordpress.com/2009/09/15/film-doubt-potret-kepemimpinan-yang-salah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 05:30:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>postinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://postinus.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[ Judul Film: Doubt (tahun 2008)
Penulis naskah: John Patrick Shanley
Bintang Film: Philip Seymour Hoffman (Father Flynn), Meryl Streep (Sister Aloysius), Adams (Sister James), Joseph Foster (Donald Miller), Viola Davis (Mrs. Miller)
Peneropong: Postinus Gulö
 
Film ini tidak hanya sebatas kritik atas kepemimpinan. Film ini mengungkap fakta yang sering terjadi di kalangan pemimpin. Seringkali kepemimpinan direduksi menjadi sebatas kekuasaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=74&subd=postinus&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> <em>Judul Film: Doubt (tahun 2008)</em></p>
<p><em>Penulis naskah: John Patrick Shanley</em></p>
<p><em>Bintang Film: Philip Seymour Hoffman (Father Flynn), Meryl Streep (Sister Aloysius), Adams (Sister James), Joseph Foster (Donald Miller), Viola Davis (Mrs. Miller)</em></p>
<p><em>Peneropong: Postinus Gulö</em></p>
<p> </p>
<p><strong>Film ini tidak hanya sebatas kritik atas kepemimpinan. Film ini mengungkap fakta yang sering terjadi di kalangan pemimpin. Seringkali kepemimpinan direduksi menjadi sebatas kekuasaan yang kaku, mencurigai, mengawasi (berlaku sebagai pan-optik), menentukan dan “menghancurkan” nasib orang. Pemimpin melupakan tanggung jawab besar yakni menumbuhkembangkan rekan kerjanya serta bawahannya. Ucapan Father Flynn kepada Sr. Aloysius (kepala sekolah) begitu menarik. “Emosi bukanlah fakta. Kecurigaan bukanlah fakta.” Kalimat ini menarik. Betapa tidak, suster begitu yakin bahwa Flynn memiliki hubungan khusus dengan seorang muridnya, Donald Miller. Memang ada pihak ketiga di antara mereka, Sister James. Ia bertipe selalu mencurigai seseorang. Maka ia suka memata-matai rekan kerjanya. Tidak heran jika kabar darinya sebatas gosip!</strong></p>
<p><strong>Saya “menangis” dalam hati melihat keegoisan Sr. Aloysius. Mrs.Miller bersujud minta agar anaknya, Donald Miller tidak dikeluarkan dari sekolah. Kalau dikeluarkan, maka Donald Miller akan dibunuh ayahnya. Apa yang terjadi, Sr. Aloysius tidak mau peduli. </strong></p>
<p><strong>Bagi saya, film ini berbicara mengenai realitas kehidupan kepemimpinan. Manakala, seorang pemimpin lebih mempercayai tukang gosip, pada saat itu pula ia telah melakukan beberapa kesalahan: </strong></p>
<p><span id="more-74"></span></p>
<p><strong>Pertama, asal menuduh tanpa fakta. Dalam film ini, Sr. Aloysius dan Sr. James menuduh sekaligus menghakimi bahwa Flynn dan Donald Miller adalah homoseksual. Sr. Aloysius dan Sr. James sering menuduh tanpa harus membuktikan kebenarannya. Karena sipenuduh memiliki otoritas maka ia berpikir ia paling benar, mother knows best. Tidak heran jika ada sebuah adagium: the boss is always right. </strong></p>
<p><strong>Kedua, tidak mempercayai rekan. Flynn adalah partner Sr.Aloysius dan Sr.James, rekan kerja sebagai guru. Relasi ideal di antara mereka seharusnya adalah saling mempercayai. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Sr. Aloysius lebih mempercayai omongan gosip. Saya berpikir-pikir begini: di komunitas manapun terjadi demikian. Manakala seorang pemimpin jarang di komunitas tetapi seolah-olah lebih tahu keadaan komunitas, di sinilah terjadi bahwa ia mengandalkan tukang gosip. Dalam situasi seperti ini, tentu anggota komunitas tidak nyaman dengan sikap kepemimpinan semacam itu. Akan tetapi, realitas ini sering terjadi. Entah kapan disadari. </strong></p>
<p>Ketiga, membenarkan dirinya yang salah. The boss is always right. Cukup fenomenal realitas ini. Sikap ini sering kita alami di komunitas-komunitas manapun. Bawahan di tempatkan di  posisi no body, pihak yang hampir selalu dilihat salah, perlu berefleksi, perlu berendah hati, perlu taat. Pada saat yang sama sang pemimpin kurang (saya sebenarnya mau mengatakan tidak) menerapkan dalam dirinya apa yang baru saja ia katakan. Ini realitas. Atasan anti kritik. Maka, mereka begitu terlihat defensif. Membentengi diri dengan berbagai pembenaran yang sebenarnya tidak selalu masuk akal. Aneh! Begitu sering saya gambarkan. Argumen pembenaran itu sebenarnya aktualisasi dari kegagapan karena defensifitas yang berlebihan.</p>
<p>Bagi saya, kualitas seseorang tidak ditentukan oleh jabatan dan statusnya. Keyakinan saya ini terbukti dalam film Doubt tersebut. Sr. Aloysius menjabat sebagai kepala sekolah. Ia seorang biarawati. Tetapi ia tidak memiliki kualitas dalam hal meyakini mana yang lebih benar. Suster itu begitu egois karena ia begitu yakin pada gosip dan emosionalya (sensivitasnya). Di tempat pendidikan-formasi pun terjadi sikap-sikap semacam ini. Ada yang berwajah angkuh. Pola pikirnya “sakit”. Sikap dan tindakan tak bersahabat. Kata-katanya sering melukai. Ia selalu mencurigai. Tidak percaya pada rekannya. Hidupnya membuat konflik (problem maker). Di mana-mana ia dibenci. Tegas tapi dangkal. Seolah-olah hebat tapi “bodoh”. Menegur yang lain selalu ketus dan marah. Pertanda hatinya penuh ketidakberesan, tidak tenteram. Pendeknya hidupnya kaku, tidak mendalam. Tapi ia berani berkata: why you so seriously. Ia hanya mempertanyakan diri orang lain akan tetapi ia mungkin tak pernah melihat dirinya sendiri. Ia hanya melihat balok pada mata orang lain. Ia mungkin berpikir begini: I am the boss, so, I’m always right. Bukan hanya dangkal tapi banal.</p>
<p>Seorang pemimpin idealnya menyadari tanggung jawabnya yang bukan hanya besar tetapi berpengaruh bahkan menentukan. Dalam memikul tanggung jawabnya seharusnya ia mesti memiliki hati yang bersih sehingga ia mampu berpikir positif. Ia mestinya selalu berefleksi agar ia mampu mendengarkan suara Allah sehingga keputusan-keputusan yang ia berikan sangat bijak dan tepat. Ia juga mesti menyadari kelemahannya agar kelemahannya tidak mendominasi perilaku dan keputusan-keputusannya. Dan yang paling penting ia mesti ber-discernment agar keputusannya benar-benar objektif dan bijaksana.</p>
<p> Film ini, menyampaikan pesan yang sangat dalam terhadap saya. Pesan itu bukan sekedar pesan melainkan teguran agar saya tidak berlaku seperti Sr. Aloysius dan Sr. James. Dalam menjalani hidup ini saya diajak untuk melihat orang sebagai yang layak dipercayai dan mempercayai. Ada harapan besar saya dalam menjalani kehidupan ini yakni mempraktekkan hospitalitas yang nyata. Melalui komunikasi yang penuh persaudaraan tanpa seperti komunikasi interogatif dan komunikasi sindiran. Sesama anggota komunitas mesti dianggap sebagai teman bicara, teman bercanda, teman bertumbuh, teman terbuka dan bukan sebagai teman untuk kita interogasi, bukan pula teman yang kita pojokan dengan menunjukkan kesahan-kesahannya di depan publik agar ia malu.</p>
<p> Memang saya juga menyadari, antara idealisme (harapan) saya dengan realitas pasti berbeda. Saya menyadari bahwa tidaklah bijak juga jika saya memaksakan idealisme saya menjadi realitas. Saya mesti berjuang untuk beradaptasi dengan realitas walau saya pasti terluka, marah dan kecewa. Kekecewaan itu pun bukan berarti saya menjadi layu. Saya harus mampu menguasai situasi dan jangan sampai situasilah yang menguasai saya. We first make our habit than habit makes us, meminjam kata Stephen Covey.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/postinus.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/postinus.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/postinus.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/postinus.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/postinus.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/postinus.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/postinus.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/postinus.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/postinus.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/postinus.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=74&subd=postinus&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://postinus.wordpress.com/2009/09/15/film-doubt-potret-kepemimpinan-yang-salah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee5e8d76c208a732ba154318ec768169?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">postinus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Karakter Kepemimpinan Kristiani</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com/2008/12/12/karakter-kepemimpinan-kristiani/</link>
		<comments>http://postinus.wordpress.com/2008/12/12/karakter-kepemimpinan-kristiani/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 02:39:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>postinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan Tulisan-Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://postinus.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Oleh   Postinus Gulő  (1)



Pengantar
Berbicara mengenai kepemimpinan, yang terpikirkan oleh saya bukan hanya menyangkut pemimpin melainkan juga yang dipimpin. Kedua pihak ini mesti saling pro-aktif. Walaupun pemimpin begitu ideal, namun jika orang yang dipimpin tidak pro-aktif, sia-sialah sebuah organisasi: tidak lancar/tidak hidup. Namun, dalam artikel ini, saya hanya memfokuskan diri pada karakter seorang pemimpin.
Menurut Max de [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=60&subd=postinus&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Oleh   Postinus Gulő  </em><strong><span style="color:blue;">(1)</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:blue;"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:15pt;">Pengantar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Berbicara mengenai kepemimpinan, yang terpikirkan oleh saya bukan hanya menyangkut pemimpin melainkan juga yang dipimpin. Kedua pihak ini mesti saling pro-aktif. Walaupun pemimpin begitu ideal, namun jika orang yang dipimpin tidak pro-aktif, sia-sialah sebuah organisasi: tidak lancar/tidak hidup. Namun, dalam artikel ini, saya hanya memfokuskan diri pada karakter seorang pemimpin.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Menurut Max de Pree<strong><span style="color:blue;">(2)</span></strong> (tokoh manajemen kepemimpinan), pemimpin pertama-tama dipahami bukan sebagai <em>jabatan</em> (<em>privilege</em>) <strong><span style="color:blue;">(3)</span></strong> melainkan sebagai pekerjaan/tanggung jawab/<em>responsibility</em> (dan menurut saya sebagai pelayanan). Artinya, tugas seorang pemimpin adalah berusaha memberdayakan orang untuk melakukan apa yang seharusnya mereka kerjakan dengan cara yang paling efektif dan manusiawi.<strong><span style="color:blue;">(4)</span></strong> Pekerjaan menjadi efektif jika ada <em>framework </em>(kerangka kerja) yang akan dikerjakan.<strong><span style="color:blue;">(5)</span></strong> Seseorang melakukan hal yang manusiawi jika apa yang mereka lakukan selalu dalam koridor moral dan ajaran iman.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Bahan inspirasi utama penulis saat menulis artikel ini adalah kepemimpinan Yesus. Saya tidak mau lari dari situ. Sebab, kepemimpinan Kristiani selalu berpegang teguh pada ajaran dan keteladanan Yesus. Dan kita sebagai pengikut-Nya mesti menempatkan diri sebagai pengikut Kristus sejati (<em>imitatio christi). </em>Ada beberapa karakter kepemimpinan yang mestinya kita, sebagai umat Kristen, mempraktekkannya dalam hidup keseharian kita, antara lain:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><strong><span style="font-size:13pt;" lang="ES">1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><strong><span style="font-size:13pt;" lang="ES">Pendoa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">Sebelum membuat keputusan penting, Yesus berdoa terlebih dahulu. “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana (Mrk. 1: 35). Yesus pergi ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul (Luk. 6: 12-13).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">Yesus begitu intim dengan Allah. Maka, apapun yang Ia lakukan selalu sesuai dengan kehendak Bapa-Nya. Seorang pemimpin mesti beguru pada sikap Yesus. Modal utama pemimpin dalam merealisasikan (mewujudkan) tanggung jawabnya serta visi dan misinya adalah kekuatan doa (daya spiritual). Kesatuan pemimpin dengan Allah, menjadi semangat yang berkobar untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Bahkan menjadi sumber kebijaksanaan pemimpin dalam mengemban tugasnya.<strong><span style="color:blue;">(6)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><strong><span style="color:blue;"><br />
</span></strong>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><strong><span style="font-size:13pt;" lang="ES">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><strong><span style="font-size:13pt;" lang="ES">Pelayan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">Yesus pernah bersabda: &#8220;Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.&#8221; (Mrk. 10: 42-45). Pemimpin yang memiliki jiwa pelayan selalu berusaha mengambil keputusan yang mengarah pada <em>bonum commune</em> (kebaikan/keuntungan bersama) dan bukan semata-mata demi mencapai <em>bonum private </em>(keuntungan pribadi).<strong><span style="color:blue;">(7)</span></strong> Yesus menggunakan istilah pelayan itu berarti pemimpin adalah bukan tipe Nato (<em>no action talk only</em>). Pemimpin adalah orang yang mau bertindak dan menyadari tanggung jawabnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">Dan, yang patut diperhatikan oleh pemimpin adalah kata-kata bijak dari Ken Blanchard: “<em>Semua pemimpin yang berjuang untuk menghasilkan hal-hal baik harus dapat mengeluarkan yang terbaik dari dalam dirinya dan orang lain. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam diri, yakni melalui hati yang mau melayani, lalu keluar untuk melayani orang lain</em>.”<strong><span style="color:blue;">(8)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><strong>3. </strong><strong>Memiliki <em>responsibility</em> (bertanggung jawab)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><em>Responsibility</em> berasal dari dua kata. <em>Response</em>: tanggapan, tindakan, jawaban. <em>Ability</em>: kemampuan, kesanggupan. Jadi, <em>responsibility</em> adalah kemampuan bertindak, kesanggupan menanggapi. Seorang pemimpin harus memiliki kepekaan pada tanggung jawabnya. Tanggung jawab adalah semangat hidup seorang pemimpin. Dalam Kitab Suci, kita sering mendengar: jika kita bisa menyelesaikan perkara kecil maka kepada kita akan dipercayakan untuk melakukan pekerjaan besar (<em>minora servabis, mayora te servabit</em>). Lancar atau tidaknya sebuah organisasi tergantung pada kesadaran pemimpin akan tanggung-jawabnya. Oleh karena itulah, dalam mengemban dan merealisasikan tanggung-jawabnya, seorang pemimpin mesti bersikap persuasif. Pemimpin berusaha untuk tidak meluki hati siapapun.<strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><strong> <span id="more-60"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><strong>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><strong>Teladan</strong><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">Yesus adalah teladan yang baik. Maka Ia disegani. Pengaruh-Nya luar biasa sehingga orang Farisi “membenci Yesus”. Kata-kata Yesus banyak yang mendengarkan ketimbang kata-kata orang Farisi. Mengapa, kata-kata Yesus “berbisa”? Karena Dia selalu menerapkan semangat <em>Truth-telling </em><strong><span style="color:blue;">(9)</span></strong><em>: </em>mengatakan benar jika benar, mengatakan salah jika salah. Mengatakan baik jika baik dan mengatakan tidak baik jika tidak baik. Sikap radikal Yesus inilah yang menjadikan Dia memiliki pengaruh dan pengikut.<strong><span style="color:blue;">(10)</span></strong> Artinya, Yesus memiliki kualitas hidup yang baik yang patut diteladani. Kelebihan Yesus bukan sebatas berkata melainkan bertindak. Ia bukan sebatas bersabda Ia memberi kesaksian dalam diri-Nya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Seorang pemimpin harus menunjukkan dirinya (<em>show up</em> bukan <em>show off</em>) sebagai pribadi yang patut diteladani melalui: tutur kata, sikap, tindakan, dan cara hidup.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">Yesus menunjukkan keteladanan kepemimpinan-Nya dengan jalan:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:48.75pt;text-align:justify;text-indent:-30.75pt;">a.  Menjadi panutan, memberikan teladan kehidupan (yakni semangat pelayanan) ketimbang memberikan perintah dan aturan-aturan yang memaksa.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:48.75pt;text-align:justify;text-indent:-30.75pt;">b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Menjadikan diri dan kehidupan-Nya sebagai teladan moralitas. Tidak ada kesalahan dan kejahatan dalam hidup/diri-Nya</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:48.75pt;text-align:justify;text-indent:-30.75pt;">c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Transparan: semua orang dapat menilai dan mengalisis diri-Nya. Yesus juga tidak berbicara dengan sembunyi-sembunyi melainkan dengan lantang menyuarakan kebenaran dan kebaikan berdasarkan iman akan Bapa-Nya.<strong><span style="color:blue;">(11)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:48.75pt;text-align:justify;text-indent:-30.75pt;"><strong><span style="color:blue;"><br />
</span></strong>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><em><span style="text-decoration:underline;">Seorang pemimpin harus menunjukkan teladan yan baik dan kemudian melatih orang lain untuk mengikutinya</span></em>. Itulah yang diterapkan oleh Yesus kepada para muridNya. Maka, kita yang berprofesi sebagai pemimpin harus mampu melatih orang lain untuk menjadi pemimpin yang handal dan yang sadar akan tanggung jawabnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:9pt;" lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><strong><span style="font-size:13pt;">5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><strong><span style="font-size:13pt;">Pemersatu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">Yesus mencari dombanya yang hilang, walau hanya seekor. Ini adalah jiwa kepemimpinan: mencari orang yang menarik diri dari komunitasnya. Yesus mempersatukan domba yang terpisah dari komunitasnya. Sebagai seorang pemimpin harus berusaha mempersatukan orang-orang yang ia pimpin/tuntun. Pemimpin adalah pribadi yang berperan sebagai <em>mediator, navigator</em> dan <em>problem solver</em> (pemecah masalah). Pemimpin berusaha mengurangi masalah (yang membuat orang tidak bersatu) dan bukan menambah masalah ( trouble/problem maker).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><strong><span style="font-size:13pt;">6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><strong><span style="font-size:13pt;">Rendah hati</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">Pemimpin yang menempatkan dirinya sebagai pelayan berarti dia memiliki semangat yang rendah hati. Ia juga tidak hanya berkata: sungai itu kotor melainkan ia mau membersihkan sungai tersebut.<strong><span style="color:blue;">(12)</span></strong> Orang yang rendah hati adalah orang yang mau “turun” langsung melihat realitas/kenyataan hidup. Dalam Flp. 2: 5-11, di situ ditampilkan semangat Yesus yang sangat rendah hati. Yesus tidak sombong dengan kesalehan hidup-Nya atau karena Dia Allah. Kerendahan hati seorang pemimpin tampak juga dalam sikapnya yang mau mendengar kritik dari orang lain. Mau memperbaharui diri. Dia tidak menempatkan diri sebagai <em>superior</em> tetapi sebagai <em>socius </em>(teman/sahabat) yang solider.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><strong>7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><strong><em>Self-critical</em> (introspeksi)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">zaman sekarang yang diharapkan dari setiap pemimpin adalah kemampuan dan kesediaannya untuk melakukan pemeriksaan batin: apakah kepemimpinannya mengarah pada jalur yang baik dan benar. Seorang pemimpin haru bersedia mengoreksi dirinya sendiri.<strong><span style="color:blue;">(13)</span></strong> Ia mesti memeriksa batinnya apakah semangat kepemimpinannya sesuai dengan semangat kepemimpinan Yesus atau jangan-jangan hanya didasari oleh semangat egoisme dirinya sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><strong>8.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><strong>Visioner dan inisiator</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">Pemimpin harus memiliki kepekaan untuk melihat visi yang tepat demi kelancaran kepemimpinannya. Seorang pemimpin mesti idealnya adalah pribadi yang visioner. Dalam arti, mampu membaca dan merespons tanda-tanda zaman secara bijaksana. Selain itu, ia mampu melihat yang lebih baik dan penting bagi kelancaran organisasinya. Hal ini memang membutuhkan daya kepekaan. Tanpa kepekaan seorang pemimpin tidak mampu bertindak sebagai inisiator. Pemimpin tidak semata-mata berfungsi sebagai <em>to lead </em>(memimpin) tetapi sekaligus <em>to manage </em>(mengatur/mengurus) dalam arti ia bersedia mendelegasikan kepemimpinan kepada bawahannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><strong>9. </strong><strong>Profesional</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Seorang pemimpin dianggap professional jika ia membatinkan 8 etos kerja professional.<strong><span style="color:blue;">(14)</span></strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Menjalankan kepemimpinannya penuh syukur dan ketulusan/keikhlasan hati.</li>
<li class="MsoNormal">Menjalankan kepemimpinannya dengan benar, penuh tanggung jawab dan akuntabilitas</li>
<li class="MsoNormal">Bekerja sampai tuntas, penuh kejujuran dan keterbukaan</li>
<li class="MsoNormal">Menjalankan kepemimpinannya penuh daya optimisme dan antusiasme.</li>
<li class="MsoNormal">Bekerja serius penuh kecintaan dan sukacita</li>
<li class="MsoNormal">Kreatif serta inovatif dalam menjalankan tugasnya.</li>
<li class="MsoNormal">Bekerja secara tekun, berkualitas dan unggul</li>
<li class="MsoNormal">Bekerja dengan dilandasi kebajikan dan kerendahan hati.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><strong>10.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><strong>Tegas</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">Seorang pemimpin tidak boleh plin-plan. Dia harus tegas sekaligus bijak dalam mengambil keputusan. Seorang pemimpin mesti berani memutuskan apapun resikonya. Figur pemimpin semacam ini idealnya mesti memiliki <em>self-confidence</em> (kepercayaan diri) yang tinggi. Pemimpin yang tak memiliki <em>self-confidence</em> akan ragu-ragu memutuskan hal-hal yang urgen. Ini bahaya. Yesus, berani memutuslan untuk berpihak pada kaum pendosa, sakit, dan miskin walaupun nyawa-Nya melayang. Yesus sadar, setiap keputusan pasti ada konsekuensi, entah negatif atau positif. Artinya, Yesus mampu menguasai keadaan dan tidak dikuasai oleh keadaan. Nah, seorang pemimpin jangan sampai berani memberi keputusan setelah ada desakan/paksaan. Itu berarti pemimpin tersebut dikuasai oleh keadaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;" lang="PT-BR">Penutup</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Seorang pemimpin adalah seorang pelayan yang memiliki pengaruh. Pengaruhnya terpancar dari karakter-karakter yang ia miliki. Pemimpin yang memiliki karakter seperti di atas, saya yakin, kepemimpinannya akan bermuara pada <em>bonum commune</em> dan semangat iman akan kepemimpinan Kristus.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;">Pertanyaan Reflektif</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;">1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Apa kendala yang paling sering Anda alami ketika Anda menjadi seorang pemimpin?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>apa yang sering terjadi dalam kepengurusan kepemimpinan?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;">3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Apa saja karakter/sifat/cara hidup Anda yang telah Anda terapkan dalam kepemimpinan Anda selama ini?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;">4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Seberapa sering Anda meminta pertolongan Allah dalam kepemimpinan Anda?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;">5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Mengapa sulit sekali kita menemukan seorang pemimpin yang memiliki karakter semacam ini?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;" lang="PT-BR">Catatan kaki:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;">1. <span style="font-size:10pt;" lang="PT-BR">Postinus Gulő, lulusan Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Artikel ini didiskusikan pada acara “Pembinaan Pengurus Mudika Paroki Tarutung Bolak, di Pangaribuan, tgl. 8 Desember 2008. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:10pt;">Lihat <a href="http://www.depree.org/html/maxdepree.html">www.depree.org/html/maxdepree.html</a>, diakses 6 Desember 2008. Max pernah mengatakan: kepemimpinan berkaitan erat dengan <em>a belief and a condition of the heart</em> (jujur, terbuka, ikhlas, beriman, dan optimis).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;">3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:10pt;">Oleh karena itu, seorang pemimpin tidak harus memiliki jabatan sentral-struktural. Seorang pemimpin bisa saja dari antara umat biasa atau rakyat biasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;">4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:10pt;">Seperti dijelaskan oleh A.M.Lilik Agung, <em>Berburu (Calon) Pemimpin, </em>dalam <em>Hidup</em> Edisi 28 September 2008, hlm. 50.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES">5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:10pt;" lang="ES">Itu sebabnya, seorang pemimpin mesti memiliki visi dan misi yang jelas dan terpercaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="PT-BR">6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:10pt;" lang="PT-BR">Lihat Gusti Faran, Pr dalam </span><span style="font-size:10pt;"><a href="http://www.neracakehidupan.blogspot.com/">www.neracakehidupan.blogspot.com</a></span><span style="font-size:10pt;" lang="PT-BR">, diakses 6 Desember 2008. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><em><span style="font-size:11pt;" lang="PT-BR">7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><em><span style="font-size:10pt;" lang="PT-BR">Bdk., </span></em><span style="font-size:10pt;" lang="PT-BR">Paulus Winarto, Paulus Winarto, <em>The Leadershp Wisdom </em>(Jakarta: Elex Media Komputindo, 2005), hlm. 34.<em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;">8. </span><span style="font-size:10pt;"> Sebagaimana dikutip Paulus Winarto, <em>Ibid., </em>hlm. 48.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;">9.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:10pt;">Kata-kata bijak dari teolog kondang, Robert J. Schreiter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;">10. </span><span style="font-size:10pt;">Leadership is influence (Kepemimpinan adalah pengaruh), kata J. Oswald Sanders, sebagaimana dikutip Paulus Winarto, <em>Op.Cit., </em>hlm. 4. Orang yang mengklaim dirinya sebagai pemimpin tetapi dia tidak memiliki pengikut, ia bukanlah pemimpin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;">11. </span><span style="font-size:10pt;">Lihat http://bobbybutarbutar.wordpress.com/2008/04/24/menjadi-pemimpin-kristen, diakses 10/11/2008.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;">12.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:10pt;">Bandingkan dengan kata-kata Ross Perot: <em>The activist is not the man who says the river is duty. The activist is the man who cleans up the river</em> (Aktivis bukanlah seorang yang hanya bisa mengatakan sungai itu kotor. Aktivis adalah orang yang membersihkan sungai tersebut). Kata-kata Ross Perot ini dikutip oleh Paulus Winarto, <em>Op.Cit., </em>hlm. 30.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;">13.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:10pt;"> Karl R. Popper, <em>Open Society Vol. I </em>(New Jersey: Princeton University Press, 1996).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;">14.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:10pt;">Etos adalah suatu spirit (semangat/daya) yang mewujud menjadi seperangkat tindakan dan perilaku khas yang berpangkal pada kesadaran yang jernih, keyakinan yang mantap, dan komitmen yang teguh pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu. 8 Etos kerja ini saya intisarikan dari pendapat Jansen Sinamo, seorang motivator terbaik Indonesia.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/postinus.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/postinus.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/postinus.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/postinus.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/postinus.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/postinus.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/postinus.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/postinus.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/postinus.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/postinus.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=60&subd=postinus&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://postinus.wordpress.com/2008/12/12/karakter-kepemimpinan-kristiani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee5e8d76c208a732ba154318ec768169?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">postinus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Arah Pendidikan</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com/2008/12/10/arah-pendidikan/</link>
		<comments>http://postinus.wordpress.com/2008/12/10/arah-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 12:02:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>postinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan Tulisan-Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://postinus.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Postinus Gulő*
 
Ada pemeo Latin yang menyinggung tujuan utama persekolahan/pendidikan. Pemeo Latin itu berbunyi: Non scholae sed vitae discimus (hendaknya sekolah bukan hanya untuk nilai melainkan untuk hidup). Artinya &#8211; meminjam kata-kata Fidelis Waruwu &#8211; kita belajar bukan hanya untuk sekolah (ujian/nilai dan kepintaran) melainkan untuk hidup (we learn no for school, but for [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=57&subd=postinus&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span lang="ES">Oleh Postinus Gulő*</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="ES">Ada pemeo Latin yang menyinggung tujuan utama persekolahan/pendidikan. Pemeo Latin itu berbunyi:<em><span style="text-decoration:underline;"> Non scholae sed vitae discimus</span></em> (hendaknya sekolah bukan hanya untuk nilai melainkan untuk hidup). </span>Artinya &#8211; meminjam kata-kata Fidelis Waruwu &#8211; kita belajar bukan hanya untuk sekolah (ujian/nilai dan kepintaran) melainkan untuk hidup (<span style="text-decoration:underline;">we learn no for school, but for life</span>). Pendeknya, ilmu dan pendidikan yang didapat di bangku sekolah hendaknya membentuk karakter sang pelajar/sajana untuk lebih berakhlak baik, mampu hidup sebagai manusia. Pemeo Latin itu hendak menegaskan bahwa peserta didik tidak hanya dibekali daya “mengetahui” melainkan mereka juga disadarkan pada bagaimana “mempraktekkan dan menemukan”. Tujuannya agar peserta didik tidak hanya pintar “berteori” tetapi sekaligus ahli “bertindak baik dan benar”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;">Akhir-akhir ini, pemeo Latin itu telah digeser &#8211; salah satunya &#8211; oleh pelaku ekonomi/pebisnis: sekolah bukan untuk menimba ilmu hidup melainkan untuk menimba keahlian bekerja. Sekolah bukan untuk belajar berempati melainkan untuk berkompetisi. Maka, tidak heran jika kaum kaya-pebisnis jarang tersentuh hatinya oleh realitas kehidupan kaum miskin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;"><span id="more-57"></span><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;">Yang terkandung dalam ilmu hidup adalah <span style="text-decoration:underline;">logos (intellectual skills), eros (emotion skills), ethos (affective and spiritual skills) dan pathos (sympathy skills or solidarity skills).</span> Artinya, ilmu hidup mampu mengintegrasikan dan mengolah tiga elemen yang mesti dibekali pada setiap peserta didik: <em>hands (kemampuan bertindak/psikomotorik), heart (kemampuan menghidupi) dan head (kemampuan berpikir)</em>. Nah, pelaku ekonomi hanya menekankan kemampuan di tingkat <span style="text-decoration:underline;">hands dan head</span>, tetapi melupakan elemen “heart skills”: kemampuan untuk memperhatikan nasib orang miskin dan tak berdaya bersaing di pasar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;">Pergeseran arah pendidikan itu tampak, misalnya, dalam pandangan Murphy. Kevin M. Murphy (dalam artikel: “Education and Work”) berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan adalah untuk mencari keahlian bekerja. </span><span style="color:black;" lang="ES">Maka, bagi Murphy pendidikan ibarat investasi dan modal dalam kegiatan ekonomi. </span><span style="color:black;">Yang menentukan pertumbuhan ekonomi adalah <em>knowledge and skills </em>yang merupakan akumulasi </span>dari <em>human capital. </em>Maka Murphy pernah berkata: <em>“&#8230;markets determine wages and employment, capital refers to human capital, and human capital investment refers first and foremost to investment in education. Human capital, defined as the<span> </span>stock of workers and theirs skills…investment in education alone exceeds investment in all physical assets. From and economic perspective, education is important. The true source of economic growth is the accumulation of knowledge and skills, that is, the accumulation of human capital…One of the main ways of investing in human capital is education…Today, investments in education pay and pay well…”</em> Kata-kata Murphy ini memang benar dan masuk akal. Namun, tujuan pendidikan bukan hanya untuk dunia ekonomi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Menurut Murphy, keterampilan dan keahlian merupakan bagian dari <em>human capital </em>yang bisa didapat dari proses pendidikan. Orang yang sedang menimba ilmu-pendidikan ibarat orang yang sedang melakukan investasi, menanamkan modalnya di sebuah bank. Orang yang berpendidikan memiliki <em>intellectual capital and skill capital </em>dan bukan hanya sekedar <em>physical capital. </em>Jika merujuk pada Murphy, guru berarti hanya pribadi yang melatih anak didiknya untuk ahli bekerja. Padahal, jauh sebelum Murphy, Confusius pernah berkata bahwa pendidik sejati adalah pribadi yang terus berusaha menyadarkan muridnya akan potensi dan talenta yang dimiliki sang murid. Guru tidak hanya berusaha menyadarkan anak didiknya pada kemampuan bekerja!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Menurut hemat saya, sudah saatnya kita kembali membatinkan pemeo Latin: <em><span style="text-decoration:underline;">Non scholae sed vitae discimus</span></em>. Selain itu, kita juga wajib mengakomodir 4 pilar pendidikan dari UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Pertama, <span> </span><span style="text-decoration:underline;">learning to know</span>: belajar untuk mengetahui lebih banyak varietas ilmu. Semakin banyak mengetahui, peserta didik diharapkan mampu bertindak bijaksana, tidak hanya berpikir secara sekuensi-dogmatis (lurus dan kaku), melainkan secara kon-sekuensi-kritis adaptif/tolerantif. Salah satu masalah besar rakyat Indonesia dewasa ini adalah kepicikan berpikir. Dalam arti cenderung sekuensi-dogmatis (fanatik dan intolerantif).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Kedua, <span style="text-decoration:underline;">learning to do: </span>belajar untuk melakukan dalam rangka menyelesaikan masalah dan mengerjakan sesuatu. Di sini yang disasar adalah psikomotorik sang pelajar. Atau kemampuan bertindak dan daya kreativitas. Banyak peserta didik yang lemah daya kreatifnya. Mengapa? Karena kebiasaan berlatih kurang dibudayakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Ketiga, <span style="text-decoration:underline;">learning to be</span>: kemampuan untuk menjadi-berkembang-bertumbuh sebagai manusia yang ideal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Keempat, <span style="text-decoration:underline;">learning to live together</span>: kemampuan untuk hidup berdampingan dengan orang lain. Anak didik mulai disadarkan untuk mencintai orang lain. Seperti kita tahu, manusia kiwari justru menjadikan perbedaan, golongan, suku, agama sebagai penyebab terjadinya konflik. Hal itu terjadi, mungkin karena belum mampu menerima kehadiran yang lain (the others). Selain itu, anak didik diarahkan agar mereka memiliki kesadaran akan nilai empati dan mau solider dengan orang lain. Artinya, UNESCO mengharapkan peserta didik tidak hanya <span style="text-decoration:underline;">“a knower and doer”</span> melainkan sebagai <span style="text-decoration:underline;">“a self-finder and social-care-taker</span>. <span lang="ES">UNESCO sadar bahwa tujuan utama pendidikan adalah untuk memanusiawikan manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Postinus Gulő adalah alumnus Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em> </em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/postinus.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/postinus.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/postinus.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/postinus.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/postinus.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/postinus.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/postinus.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/postinus.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/postinus.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/postinus.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=57&subd=postinus&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://postinus.wordpress.com/2008/12/10/arah-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee5e8d76c208a732ba154318ec768169?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">postinus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sikap Positif</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com/2008/05/12/sikap-positif/</link>
		<comments>http://postinus.wordpress.com/2008/05/12/sikap-positif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 13:21:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>postinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan Tulisan-Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://postinus.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Postinus Gulö
Saya sangat bersyukur pada Allah. Melalui peristiwa kecil Ia menyapaku: memberikan pencerahan reflektif. Ketika saya sedang membaca sebuah buku yang berjudul: “Developing the Leaders Around You”, yang ditulis John C. Maxwell, saya menemukan pencerahan. Dan, saya yakin bahwa ini adalah suara Tuhan, nasehat Allah. Inspirasi yang muncul pun saya rangkai dalam kalimat. Saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=54&subd=postinus&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Oleh Postinus Gulö</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>Saya sangat bersyukur pada Allah. Melalui peristiwa kecil Ia menyapaku: memberikan pencerahan reflektif. Ketika saya sedang membaca sebuah buku yang berjudul: <em><strong>“Developing the Leaders Around You”</strong></em>, yang ditulis John C. Maxwell, saya menemukan pencerahan. Dan, saya yakin bahwa ini adalah suara Tuhan, nasehat Allah. Inspirasi yang muncul pun saya rangkai dalam kalimat. Saya tidak menyia-nyiakan pengalaman tersingkap itu.<span id="more-54"></span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam bukunya tersebut, John C. Maxwell mengatakan, “sikap positif merupakan salah satu modal paling penting yang bisa dimiliki seseorang dalam hidupnya. Orang yang memiliki sikap positif bisa pergi ke tempat yang tidak bisa didatangi orang lain”. Ya, orang yang memiliki sikap positif bisa pergi ke mana saja tanpa batas. Ia pasti diterima di mana saja. Ia tidak dibenci. Ia dicintai. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Anda pernah mendengar nama Teilhard de Chardin? Ia adalah seorang Palaentologi (ahli fosil), ahli filsafat dan teolog besar. Walau dia sangat intelektual tetapi ia tetap murah senyum, mudah menyapa orang lain, ia tidak sombong. Padahal, selama hidupnya, ia mengalami nasib tragis: dibuang ke Cina, dicopot jabatan profesornya, buku-bukunya dilarang terbit oleh Vatikan gara-gara teori evolusinya, ia menyaksikan Perang Dunia II dan menjadi anggota Palang Merah di Jerman, di buang ke Afrika oleh pimpinan Serikatnya. Tetapi ia tidak pernah dendam, semangatnya tidak pernah kendor, ia tetap menulis dan meneliti. Menurutnya, setiap peristiwa hidup adalah sarana melihat dan bersatu dengan Allah dan dengan Kristus, Sang Juruselamat. Sikapnya inilah yang membuatnya bisa menjelajahi dunia (dan sangat diterima, dicintai) dan mampu bertahan di arus lautan pencobaan dan penderitaan. Luar biasa, bukan?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bersikap positif butuh kerendahan hati. Mesti mengesampingkan gengsi diri. Sikap positif terlihat dari keseharian kita, entah itu dalam tutur kata, cara kita menyapa orang lain, sopan santun, dll. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Saat saya pulang kuliah. Saya lewat di depan sebuah rumah. Di depan rumah tersebut ada sebuah poster yang berslogan: “Kata membentuk pribadi bahagia dan mulia.” Slogan itu ditulis melingkar, dan di tengahnya tertera 5 S. Uraian 5 S dijejerkan ke bawah. S pertama, <em><strong><span style="text-decoration:underline;">Senyum:</span></strong></em> bahagiakanlah selalu saudaramu dengan wajah cerah dan senyum tulus, niscaya hidup akan lebih indah dan menyenangkan. S kedua, <em><strong><span style="text-decoration:underline;">Salam</span></strong></em>: ucapkanlah salam sebagai doa keselamatan, limpahan rahmat dan keberkahan bagi saudaramu, niscaya hidup kian lega dan aman. S ketiga, <em><strong><span style="text-decoration:underline;">Sapa</span></strong></em>: sapalah saudaramu dengan lembut, ramah dan hangat, niscaya akan terpancar keakraban dan persaudaraan. S keempat, <em><strong><span style="text-decoration:underline;">Sopan</span></strong></em>: bersikaplah sopan terhadap siapapun sebagai nilai kehormatan, niscaya hidup akan mulia dan terhormat. S kelima, <em><strong><span style="text-decoration:underline;">Santun</span></strong></em>: nikmatilah mengalah dan memberikan hak kita kepada orang lain untuk kemaslahatan bersama sebagai keutamaan kita, niscaya akan lapang dan barokah tiap urusan kita. Slogan 5 S ini ternyata kata-kata sang Ustadz kondang, Aa Gym. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bersikap positif tidak sulit kita lakukan jika memiliki kerendahan hati. Kerendahan hati itu tampak dalam gerak-gerik kita, dalam tutur kata kita, dari sikap kita memandang orang lain. Namun, bersikap positif akan menjadi hal yang amat sulit kita lakukan jika dalam kepala kita telah ada “lensa negatif”, yang selalu meneropong kesalahn orang lain, berdistansi dengan orang lain, menaruh curiga berlebihan ke orang lain. Apakah Anda setuju?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/postinus.wordpress.com/54/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/postinus.wordpress.com/54/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/postinus.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/postinus.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/postinus.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/postinus.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/postinus.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/postinus.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/postinus.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/postinus.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/postinus.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/postinus.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=54&subd=postinus&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://postinus.wordpress.com/2008/05/12/sikap-positif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee5e8d76c208a732ba154318ec768169?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">postinus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Isu Diskriminasi Jender dalam Film &#8220;The Hours&#8221;</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com/2008/05/02/isu-diskriminasi-jender-dalam-film-the-hours-2/</link>
		<comments>http://postinus.wordpress.com/2008/05/02/isu-diskriminasi-jender-dalam-film-the-hours-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 03:43:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>postinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://postinus.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Peneropong: Postinus Gulö. Judul film: The Hours. Pemain film: Virginia Woolf, Julianne Moore, Meryl Streep, Richard, Cs.

* * *
Perempuan, sosok lembut penuh kerahiman. Ia ibu semua manusia. Semua manusia pernah bersemayam dalam rahim perempuan, sang ibu. Di rahim, kita berenang dalam kenyamanan. Sembilan bulan lamanya. Tiada derita. Yang ada serba ada. Yang ada serba senang. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=53&subd=postinus&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#cc0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Peneropong: Postinus Gulö. Judul film: The Hours. Pemain film: Virginia Woolf, Julianne Moore, Meryl Streep, Richard, Cs.</span></span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="color:#cc0000;"><br />
</span></em><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">* * *</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:#000099;">Perempuan, sosok lembut penuh kerahiman. Ia ibu semua manusia. Semua manusia pernah bersemayam dalam rahim perempuan, sang ibu. Di rahim, kita berenang dalam kenyamanan. Sembilan bulan lamanya. Tiada derita. Yang ada serba ada. Yang ada serba senang. Jika dunia ini ibarat rahim, dunia ini begitu nyaman.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><br />
<span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Akan tetapi…..ketika jabang bayin lahir. Ia bukan senang. Ia gelisah. Kenyamanan tiada lagi. Lantas ia menangis. Ia mampu merasa: dunia begitu tidak jelas. Penuh perjuangan. Rasa mesti diolah. Pikiran mesti dipelihara. Sikap mesti dikontrol. Kalau tidak, segalanya chaos. Di dunia, senang adalah produk design manusia. Ia bukan seperti rahim yang tinggal “dinikmati” jabang bayi. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><br />
<span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Peranan perempuan begitu berharga. Tetapi, mengapa mereka terus ditindas, dipandang kelas dua, laki-laki yang salah jadi? Ketertindasan perempuan itulah yang diangkat dalam film ini. Selamat membaca dan berenung……….!<span id="more-53"></span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><br />
<span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">* * * </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><br />
<span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kata pertama dan penting: film ini berbicara tentang diskriminasi-jender. Sutradara mengekspos pengalaman ketertindasan perempuan pada kurun waktu 1920-an sampai Perang Dunia II. Zaman itu penuh kegetiran. Perempuan dilecehkan habis-habisan. Dianggap sampah. Bukan manusia! Mereka hanya objek penderita dan objek kekuasaan. Film ini sungguh melukiskan gejolak ketertindasan itu. Tampilan dan suasana penuh ketegangan merupakan manifestasi pengalaman dari ketiga perempuan yang menjadi actor utama dalam film ini. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Di tengah kerasnya hidup, ketiganya mencari kesejatian dirinya, mencari identitas dirinya atau makna hidupnya. Mereka hidup dalam ruang dan waktu yang berbeda. Dalam pencarian makna hidup itu, ketiganya saling mengalami yearning (kerinduan) akan adanya kebebasan dan keadilan. Dikala mereka berjuang, tekanan yang membabi buta terus meneror mereka. Begitu tragis. Hidup ini seolah bukan milik mereka. Kebebasan seolah bukan milik mereka. Ruang kebebasan itu tiada lagi. Seolah mereka adalah musuh paling jahil. Selevel aktor teroris Osama Bin Laden. Mereka dianggap perlu tiada. Tak berguna. Kalau perlu dibasmi. Seolah dunia ini tidak layak mereka huni. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Virginia Woolf hidup tahun 1920-an di pedalaman kota London. Ia seorang penulis novel terkenal berjudul “Mrs. Dalloway”. Saat masih belia ia pernah mendapat perlakuan semena-semena: diperkosa saudara tirinya sendiri. Ia frustrasi. Hidupnya tak berharga lagi di matanya. Keperawanannya direguk orang yang seharusnya menjaga dan melindunginya. Tiada pilihan selain bunuh diri. Barangkali itulah pertimbangannya saat ia bunuh diri. Maka hati-hatilah di saat anda frustrasi. Hati-hatilah di saat anda mengalami pengalaman kelam. Jangan ambil keputusan saat anda masih marah. Jangan memutuskan sesuatu saat anda frustrasi. Anda tidak berpikir panjang saat itu. Anda lebih memilih jalan pintas, cepat tapi tidak bijak. Jangan tutup ruang hatimu menjadi tak ber-ruang. Jangan jadikan hatimu bagai monad tanpa jendela. Jangan jemput kematian sebelum menjemputmu. Nikmati kehidupan selagi masih hidup. Ia anugerah sekaligus tantangan. Tantangan bukanlah neraka. Cobaan bukanlah petaka. Ia adalah tindakan egois manusia. Jika anda merasa manusia, tugasmu adalah mengubah konflik menjadi harmoni. Konflik jangan diakhiri dengan tindakan tragis: bunuh diri. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<div></div>
<p><span style="color:#333333;"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Laura Brown (nama aslinya: Julianne Moore) adalah seorang wanita yang tinggal di Los Angeles pada saat-saat berakhirnya Perang Dunia II. Ia nyaris bunuh diri. Sebab ia merasa terperangkap dalam kehidupan normal yang dituntut masyarakat kelas menengah tahun 1950-an di kawasan pinggiran kota Los Angeles yang makmur; tetapi sebetulnya bukan kehidupan yang dia kehendaki. Baginya hidup normal adalah hidup tidak normal. Yang normal adalah tidak normal. Baginya, kebebasan adalah ketiadaan aturan. Segalanya suka-sukanya. Mungkin inilah suara yang terbersit dalam hatinya. Namun, setelah dia membaca novel Mrs. Dalloway, Laura Brown mendapat semacam revelatory yang menyadarkan dia bahwa hidupnya sedang terperangkap dalam proses kehancuran: membenarkan yang tidak benar, menolak kenormalan sebagai ketidaknormalan. Kesadaran semacam inilah yang mendorong Laura Brown mencoba mengubah cara hidupnya. Tidak jadi bunuh diri. </span></span></p>
<div></div>
<p><span style="color:#333333;"><font color="#333333"></font><font color="#333333"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p></font></span><font color="#333333"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p></font></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Clarissa Vaughan (Meryl Streep) berperan sebagai Woolf kontemporer (wajah baru Woolf) yang menulis novel Mrs. Dalloway. Ia hidup di kota New York. Lesbian, adalah gaya hidup yang ia pilih. Ia sosok kompleks. Tampaknya ia juga biseks. Sebab, ia terlibat dalam percintaan dengan temannya yang bernama Richard, seorang penulis puisi yang sangat brillian. Gonta-ganti pasangan berakibat buruk. Hal itu dialami Richard: ia mati gara-gara AIDS. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Lebih jauh, inti yang mau diungkapkan dalam film ini adalah tentang simbol. Simbol itu adalah bahasa interior yang setiap orang bisa memiliki arti konotasi tersendiri. Ketika Vaughan dan Richard saling mencintai, tak ada tindakan yang bisa mewakili kata selain pemberian setangkai bunga. Bunga begitu berarti, menyimbolkan betapa dalamnya cinta Vaughan terhadap Richard. Namun, cinta yang bisa menimbulkan kebahagiaan istimewa bagi pelakunya menjadi sirna ketika seseorang dilanda penderitaan, penyakit. Richard adalah sosok yang sangat dikagumi oleh Vaughan. Dunia ini seolah tak berarti tanpa Richard. Namun, dalam perjalanan waktu, setelah Richard dilanda AIDS, Richard menjadi berubah sikap: dunia menjadi terlalu terang, menyilaukan baginya. Oleh karenanya, ia menyimpulkan bahwa anugerah (dicintai, diberi bakat sebagai seorang pengarang puisi yang dikagumi banyak orang) adalah sebuah kecelakaan, pembawa petaka baginya. Tidak hanya itu, Richard sadar, seks bukan sekedar kenikmatan. Seks adalah ungkapan kejujuran. Seks adalah ungkapan cinta. Dan cinta adalah kejujuran itu. Seks bukan jawaban atas nafsu semata. Seks mesti terarah. Jangan gonta-ganti pasangan. Anda mengikuti nasihat ini, silakan. Tidak juga tidak apa-apa. Namun, memilih “tidak” anda mesti siap diserang penyakit mematikan: AIDS. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Karakter yang lebih ekstrim dari ketiganya adalah Virginia. Ia adalah sosok yang tidak mau dikawal, diatur oleh orang lain, oleh siapapun. Baginya, hidup yang selalu diatur orang lain adalah hidup yang kabur, tidak bermakna. Virginia mendobrak dominasi dan menggantinya dengan otonomi. Sikapnya ini sebagai ekspresi pencarian identitas diri. Ia tidak mau kalau hidupnya terus dicekokin oleh orang lain. Singkatnya, ia tidak rela hidupnya selalu berada di bawah payung tekanan. Ia tidak rela membiarkan dirinya seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Ia ingin menjadi manusia. Dan, ia ingin diperlakukan secara manusiawi. Harapan Virginia ini adalah harapan semua perempuan. Mereka bukan kelas dua. Mereka bukan lelaki setengah jadi. Mereka adalah manusia yang mesti diperlakukan secara manusiawi. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/postinus.wordpress.com/53/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/postinus.wordpress.com/53/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/postinus.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/postinus.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/postinus.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/postinus.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/postinus.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/postinus.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/postinus.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/postinus.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/postinus.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/postinus.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=53&subd=postinus&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://postinus.wordpress.com/2008/05/02/isu-diskriminasi-jender-dalam-film-the-hours-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee5e8d76c208a732ba154318ec768169?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">postinus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The End of Intelligence Quotient?</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com/2008/03/16/the-end-of-intelligence-quotient/</link>
		<comments>http://postinus.wordpress.com/2008/03/16/the-end-of-intelligence-quotient/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 06:30:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>postinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan Tulisan-Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Philosophy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://postinus.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[
Postinus Gulö *
        Dalam buku If Aristotle Ran General Motors: The New Soul Business, Tom Morris mengindikasikan (secara implisit) bahwa wisdom adalah gejala baru dalam kultur postmodern. Tren ini mengindikasikan terjadinya konvergensi (titik temu)  antara dua gagasan yang berbeda (misalnya spiritualitas vs bisnis, Allah vs Mamon) yang notabene tidak bisa digabungkan oleh Yesus. 
         Bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=51&subd=postinus&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b><span style="font-size:18pt;"></span></b><b><span></span></b></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Postinus Gulö *</span></p>
<p><span>        Dalam buku <i>If Aristotle Ran General Motors: The New Soul Business</i>, Tom Morris mengindikasikan (secara implisit) bahwa <i>wisdom</i> adalah gejala baru dalam kultur postmodern. Tren ini mengindikasikan terjadinya konvergensi (titik temu)<span>  </span>antara dua gagasan yang berbeda (misalnya spiritualitas vs bisnis, Allah vs Mamon) yang notabene tidak bisa digabungkan oleh Yesus. </span></p>
<p><span> </span><span></span>        <span>Bagi Tom Morris, <i>making money</i> bukanlah kegiatan yang haram seperti yang difatwakan oleh institusi religius. <i>Making money</i> (cari uang) adalah kegiatan sakral: kesempatan untuk memuliakan nama Allah, lahan untuk melayani Allah dan manusia sebagaimana tuntutan Yesus. Lantas, bagaimana caranya? Caranya adalah mesti membawa spiritualitas ke dalam bisnis. Mesti membawa hati nurani ke dalam dunia usaha sehingga tidak terjadi korupsi. Jadi, <i>making money</i> menjadi kegiatan sacral manakala bertujuan memuliakan Allah. Hal inilah yang disebut dengan manajemen berbasis hati nurani. <span id="more-51"></span></span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><i><span>Trend</span></i><span> mempertemukan dua hal yang berbeda (konvergensi) terlihat dari gejala bahwa banyak literatur, tulisan, karangan, ceramah, yang membahas tentang konvergensi. Selain itu, timbul pandangan yang holistik (lengkap) tentang akal budi. Sekitar tahun 1990-an dunia psikologi menekankan IQ (sisi kognitif). Kemampuan seseorang hanya diukur dengan IQ. Tapi sekarang, ada ilmu baru: EQ dan SQ. Pendeknya, terjadi evolusi pengetahuan dan kesadaran. </span></p>
<p><span> </span><span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><span style="font-size:13pt;"></span></b></p>
<p><b><span style="font-size:13pt;">Tahap-Tahap dan pergeseran IQ ke EQ dan ke<span>  </span>SQ</span></b><i><span> </span></i></p>
<p><i><span></span></i><i><span></span></i> <b><i><span><span>a.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span></i></b><b><span>Intelligence Quotient (IQ)</span></b><b><span> </span></b></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;" class="MsoNormal"><i><span>Reason</span></i><span> dalam IQ dianggap sebagai kemampuan menyelesaikan masalah. Menurut test IQ, semakin cerdas seseorang (secara kognitif) semakin tinggi kemampuan seseorang untuk menyelesaikan masalah. <i>Nah</i>, bagaimana mengukur bahwa seseorang itu cerdas? Cara mengukurnya adalah membuat test IQ yang terbagai dalam dua (2) bagian. Pertama, test linguistik. Dan kedua adalah test matematika. Melalui test linguistik, seseorang ditest kemampuannya untuk memahami ide atau kata. Test ini sama dengan <i>textual understanding</i>. </span></p>
<p><span>         Seseorang ditest kemampuannya untuk memperkaya teks dengan pengalamannya sendiri. Konkretnya, yang ditest adalah kemampuan mengarang, kemampuan naratif seseorang. Contoh: bagaimana merangkai kata “matahari terbit, petani, kerbau” menjadi satu karangan logis dan saling berkaitan. Melalui test ini, seseorang ditest kemampunnya bagaimana dia mengolah kata dan data. Singkatnya, yang diharapkan dari test IQ adalah mampu mengetahui kemampuan kognitif seseorang sejauh mana seseorang itu mengetahui banyak hal (<i>to knowing something)</i>. Selain itu, untuk mengetahui psiko-motorik, yakni sejauh mana seseorang mampu melakukan sesuatu (<i>to do something or to operate something</i>).</span></p>
<p><span> </span><span></span> </p>
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;" class="MsoNormal"><b><i><span><span>b.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span></i></b><b><span>Emotional Quotient (EQ)</span></b></p>
<p><span>          Sekitar tahun 1990-an seorang psikolog, Daniel Goleman memunculkan istilah baru dalam dunia psikologi dan istilah ini langsung ditangkap dan ditanggapi publik. Beliau mempromosikan istilah “EQ”. Goleman mengamati bahwa ada bagian hidup yang (ter/di)abaikan padahal paling penting, yakni dimensi <i>“living and working together”.</i> Ini adalah fakta yang terus-menerus dihayati manusia. Manusia mau tidak mau harus bekerjasama. Oleh karena itu EQ sangat dominan di wilayah ini. EQ bisa mengganggu bisa juga mengembangkan pribadi manusia. </span></p>
<p><span>             Dulu, faktor emosional sering dianggap negatif. Lantas, Goleman meneliti EQ apakah emosional bernilai positif. Ternyata emosional sangat positif dan sangat menentukan dalam dunia kerja. Semakin tinggi EQ semakin positif dan semakin turun EQ semakin negatif. Seseorang yang memiliki EQ tinggi akan mampu menyadari <i>“feeling and mood”</i> apa yang terpendam. </span><span>Ada</span><span> dua manfaat dari kemampuan menyadari <i>feeling and<span>  </span>mood</i>. </span></p>
<p><i><span>           Pertama</span></i><span>, memberi kombinasi antara <i>self control</i> (control diri) dan <i>self motivation</i> (motivasi diri) sehingga seseorang mampu mendahulukan mana yang mesti diprioritaskan. <i>Self control</i> sangat penting agar kita tidak <i>“moody</i>” tidak angin-anginan, tidak mudah eksplosif (meledak-ledak, menekan orang, bertengkar melulu). Melalui <i>self control</i>, seseorang diharapkan mengutamakan kewajiban daripada perasaan, kepentingan ego.</span></p>
<p><span><span>             </span><i>Kedua,</i> untuk meningkatkan kemampuan menyadari perasaan orang lain (daya empati). Yang terakhir ini memiliki dua manfaat. <i>Pertama,</i> daya empati memperlancar konsensus ketika terjadi <i>misunderstanding</i>. <i>Kedua,</i> daya empati meningkatkan daya <i>compassion,</i> murah hati: kemampuan untuk merespons suka-duka orang lain. </span></p>
<p><span>          Dengan cara ini (menyadari dimensi EQ), maka seseorang menjadi partner/rekan dan <i>neighbor </i>(sesama). Melalui “bersama” orang lain, EQ berusaha menjawab pertanyaan Kain: apakah aku penjaga adikku? Pertanyaan Kain ini pertanda bahwa ia tidak peka, menghindar dari tanggungjawab dan kewajiban. Dan, dalam uraian di atas, pertanyaan Kain ini sudah terjawab: bahwa Kain adalah penjaga adiknya! </span></p>
<p><span> </span><span> </span><b><i><span><span>c.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">       </span></span></span></i></b><b><span>Spirituality Quotient (SQ)</span></b><b><span> </span></b></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Sekitar tahun 2000-an ketika terjadi peralihan millennium, timbul <i>trend</i> dan istilah baru, yakni <i>Spirituality Quotient</i> (SQ). Pencetusnya adalah Danah Zohar, dan suaminya, Ian Marshall. Sebelumnya sudah saya bahas bahwa IQ mau memecahkan masalah <i>knowing and doing</i>, dalam arti bagaimana mengetahui lebih baik dan mengerjakan lebih baik. Dengan kata lain, IQ memberi kita <i>kompetensi.</i> Sedangkan EQ mau memecahkan dan menjelaskan <i>living and working together, </i>dalam arti bagaimana menciptakan harmoni dan suasana kondusif dalam pergaulan sehari-hari. Singkatnya, EQ membangun <i>ko-eksistensi </i>(eksis/rasa berdampingan bersama orang lain). </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><i><span>Nah,</span></i><span> SQ itu mau memecahkan apa? SQ berurusan dengan masalah <i>being and becoming </i>(berada dan menjadi). SQ mau memecahkan masalah: bagaimana menjadi pribadi yang benar dan baik. Dengan kata lain, SQ mau memberi nasihat tentang otensitas kepada kita. Otensitas adalah keaslian dan kesejatian karakter. Lawannya adalah munafik, seperti orang Farisi. Selain itu, SQ mau memecahkan problem mengapa kita mesti <i>“care”</i> pada orang lain, atau pada ke-hidup-an. Membangun kedalaman SQ, dewasa ini, amatlah penting. Apalagi dunia sedang dilanda budaya kematian: berusaha membunuh yang lain. Mereka yang terjerembab ke budaya ini, semoga menyadari bahwa tindakan tersebut tidaklah baik dan tidak bijaksana. <span> </span><span> </span></span></p>
<p><span> </span><span> </span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span></span></span></p>
<p><i><span>Postinus Gulö adalah Moderator Weblog ini dan Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), </span></i><i><span>Bandung</span></i><i><span>. Artikel ini sangat dipengaruhi oleh kuliah-kuliah yang diberikan Pst. Agustinus Rachmat Widiyanto, OSC., L.Ph dalam matakuliah Seminar Filsafat dan Teologi di Fakultas Filsafat Unpar, </span></i><i><span>Bandung</span></i><i><span>. </span><span></span></i><span> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/postinus.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/postinus.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/postinus.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/postinus.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/postinus.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/postinus.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/postinus.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/postinus.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/postinus.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/postinus.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/postinus.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/postinus.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=51&subd=postinus&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://postinus.wordpress.com/2008/03/16/the-end-of-intelligence-quotient/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee5e8d76c208a732ba154318ec768169?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">postinus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahasa dalam Perspektif Ferdinand de Saussure</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com/2008/03/16/bahasa-dalam-perspektif-ferdinand-de-saussure/</link>
		<comments>http://postinus.wordpress.com/2008/03/16/bahasa-dalam-perspektif-ferdinand-de-saussure/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 06:15:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>postinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[Teropong Artikel & Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://postinus.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar 

Paper ini merupakan hasil analisa dan resume ide-ide Ferdinand Saussure tentang bahasa berdasarkan bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Pengantar Linguistik Umum (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1993). Setelah membaca buku tersebut, saya berkesimpulan bahwa bahasa &#8211; bagi Saussure &#8211; erat-terkait dengan makna. Makna adalah soal relasi differensial. Artinya, makna (dalam tata bahasa) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=50&subd=postinus&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b><span style="font-size:18pt;"></span></b><b><span style="font-size:13pt;"></span></b><b><span>Pengantar</span></b><span> </span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Paper ini merupakan hasil analisa dan resume ide-ide Ferdinand Saussure tentang bahasa berdasarkan bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa </span><span>Indonesia</span><span>: <i>Pengantar Linguistik Umum </i>(Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1993). Setelah membaca buku tersebut, saya berkesimpulan bahwa bahasa &#8211; bagi Saussure &#8211; erat-terkait dengan makna. Makna adalah soal relasi differensial. Artinya, makna (dalam tata bahasa) terkait pada kata sebelum dan sesudahnya. Singkatnya, makna adalah urusan internal kalimat (intra-linguistik); makna tidak ada di luar kalimat. Konsekuensi berpikir seperti<span>  </span>ini adalah, makna extra-linguistik cenderung diabaikan. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Mengenal Saussure berarti kita mesti mengenal beberapa gagasan yang penting dari beliau. <i>Pertama</i>, langage, langue dan parole. <i>Kedua</i>, sintagmatis dan asosiatif. <i>Ketiga,</i> valensi. <i>Keempat</i>, sinkronik dan diakronik. <i>Kelima</i>, tanda, penanda dan petanda. <i>Keenam</i>, arbitrer (kesemenaan) dan mutlak. <i>Ketujuh</i>, sistem aksara. Gagasan-gagasan beliau inilah yang saya uraikan dan jelaskan<span>  </span>dalam paper ini. Selamat membaca!<b> </b></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span id="more-50"></span><strong></strong></span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><span></span></b></p>
<p><b><span>BAB I: </span></b></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><span>RIWAYAT HIDUP DAN KARYA FERDINAND DE SAUSSURE<a name="_ftnref1" href="http://null/#_ftn1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><b><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></b></span></span></span></a></span></b></p>
<p><b><span></span></b> <span> </span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Ferdinand de Saussure lahir di Genewa pada tanggal 26 November 1857 dari keluarga Protestan Perancis (Huguenot) yang ber-emigrasi dari daerah Lorraine ketika perang agama pada akhir<span>  </span>abad ke-16. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Sejak kecil, Saussure memang sudah tertarik dalam bidang bahasa. Pada tahun 1870, ia masuk Institut Martine, di Paris. Dua tahun kemudian (1872), ia menulis <i>“Essai sur les langues”</i> yang ia persembahkan untuk ahli linguistik pujaan hatinya (yang menolong dia untuk masuk ke Institut Martine, </span><span>Paris</span><span>), yakni Pictet. Pada tahun 1874 ia belajar fisika dan kimia di universitas Genewa (sesuai tradisi keluarganya), namun 18 bulan kemudian, ia mulai belajar bahasa sansekerta di </span><span>Berlin</span><span>. Rupanya, Saussure semakin tertarik pada studi bahasa, maka pada 1876-1878 ia belajar bahasa di </span><span>Leipzig</span><span>; dan pada tahun 1878-1879 di </span><span>Berlin</span><span>. Di perguruan tinggi ini, ia belajar dari tokoh besar linguistik, yakni Brugmann dan Hübschmann. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Ketika masih mahasiswa, ia telah membaca karya ahli linguistik Amerika, William Dwight Whitney yang membahas tentang <i>The Life and Growth of Language: and outline of Linguistic Science (1875); </i>buku ini sangat mempengaruhi teori linguistiknya di kemudian hari. Pada tahun 1878, Saussure menulis buku tentang <i>Mémoire sur le systéme primitif des voyelles dans les langues indo-européennes </i>(Catatan Tentang Sistem Vokal Purba Dalam Bahasa-bahasa Indo-Eropa). Pada tahun 1880 ia mendapat gelar doktor (dengan prestasi gemilang: <i>summa cum laude</i>) dari universitas </span><span>Leipzig</span><span> dengan disertasi: <i>De l’emploi du génetif absolu en sanscrit </i>(Kasus Genetivus Dalam Bahasa Sansekerta) dan pada tahun yang sama, ia berangkat ke </span><span>Paris</span><span>. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Tahun 1881 menjadi dosen di salah satu universitas di Paris. Setelah lebih dari sepuluh tahun mengajar </span><span>di Paris</span><span>, </span><span>ia</span><span> dianugrahkan gelar profesor dalam bidang bahasa Sansekerta dan Indo-Eropa dari Universitas Genewa. Berkat ketekunanya mendalami struktur dan filsafat bahasa, Saussure didaulat sebagai bapak strukturalis. Menurut beliau, prinsip dasar strukturalisme adalah bahwa alam semesta terjadi dari relasi (forma) dan bukan benda (substansial).<a name="_ftnref2" href="http://null/#_ftn2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span><span> </span><b><span style="font-size:11pt;">BAB II: </span></b><b><span style="font-size:11pt;">PANDANGAN SAUSSURE MENGENAI LANGAGE, LANGUE DAN PAROLE</span></b><b><span style="font-size:11pt;"> </span></b><b><span style="font-size:11pt;"></span></b> <span> </span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span><b><span><span>2.1<span style="font:7pt 'Times New Roman';">  </span></span></span></b><b><span>Langage</span></b><b><span> </span></b><b><span></span></b> </p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Langage adalah gabungan antara parole dan langue (gabungan antara peristiwa dengan kaidah bahasa atau tata bahasa, atau struktur bahasa). Menurut Saussure, langage tidak memenuhi syarat sebagai fakta sosial karena di dalam langage ada faktor-faktor bahasa individu yang berasal dari pribadi penutur. Bahkan langage tidak memiliki prinsip keutuhan yang memungkinkan kita untuk menelitinya secara ilmiah<b>.</b><a name="_ftnref3" href="http://null/#_ftn3" title="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Langage mencakup apapun yang diungkapkan serta kendala yang mencegahnya dalam mengungkapkan hal-hal yang tak gramatikal. Contohnya, kata materiil. Kata ini memang serta sosial banyak digunakan bahkan seolah-olah dianggap sebagai bahasa konvesional. Padahal, kata “materiil” tidaklah </span><span>baku</span><span>, tidak sesuai dengan ejaan yang telah disempurnakan (EYD). </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Langage memiliki segi individual (parole) dan segi sosial (langue) tetapi kita tidak dapat menelaah yang satu tanpa yang lain. Dengan demikian, langage memiliki multi bentuk dan heteroklit; dan psikis. </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p><span> </span><span> </span><b><span><span>2.2<span style="font:7pt 'Times New Roman';">  </span></span></span></b><b><span>Langue </span></b><b><span> </span></b></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Langue adalah bahasa konvensional, bahasa yang sesuai ejaan yang telah disempurnakan, bahasa yang mengikuti tata aturan </span><span>baku</span><span> bahasa. Lebih jauh Saussure mengatakan bahwa langue merupakan keseluruhan kebiasaan (kata) yang diperoleh secara pasif yang diajarkan dalam masyarakat bahasa, yang memungkinkan para penutur saling memahami dan menghasilkan unsur-unsur yang dipahami penutur dan masyarakat. Langue bersenyawa dengan kehidupan masyarakat secara alami. Jadi, masyarakat merupakan pihak pelestari langue.<a name="_ftnref4" href="http://null/#_ftn4" title="_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Dalam langue terdapat batas-batas negatif (misalnya, tunduk pada kaidah-kaidah bahasa, solidaritas, asosiatif dan sintagmatif) terhadap apa yang harus dikatakannya bila seseorang mempergunakan suatu bahasa secara gramatikal. Langue merupakan sejenis kode, suatu aljabar atau sistem nilai yang murni. Langue adalah perangkat konvensi yang kita terima, siap pakai, dari penutur-penurut terdahulu. Langue telah dan dapat diteliti; langue juga bersifat konkret karena merupakan perangkat tanda bahasa yang disepakati secara kolektif. Nah, tanda bahasa tersebut dapat menjadi lambang tulisan yang konvensional.<a name="_ftnref5" href="http://null/#_ftn5" title="_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Tujuan linguistik adalah mencari sistem (langue) struktur dari kenyataan yang konkret (parole). Ajaran ini menjadi dasar pendekatan strukturalis. Kata struktur pertama kali diucapkan oleh Jean Piaget: struktur adalah suatu tatanan wujud-wujud yang mencakup keutuhan, transformasi (dinamis) dan pengaturan diri<a name="_ftnref6" href="http://null/#_ftn6" title="_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></a>; dikatakan “keutuhan” karena tatanan wujud itu bukan kumpulan semata melainkan karena tiap-tiap komponen struktur itu tunduk pada kaidah-kaidah intrinsik dan tidak mempunyai keberadaan bebas di luar struktur. </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Langue tidak bisa dipisahkan antara bunyi dan gerak mulut. Langue juga dapat berupa lambang-lambang bahasa konkret; tulisan-tulisan yang terindra dan teraba (terutama bagi tuna runggu). Langue adalah suatu sistem tanda yang mengungkapkan gagasan. Contoh: pergi! Dalam kata ini, gagasan kita adalah ingin mengusir, menyuruh, Nah, kata pergi!, dapat juga kita ungkapkan kepada tuna runggu dengan abjad tuna runggu, atau dengan simbol atau dengan tanda-tanda militer. <a name="_ftnref7" href="http://null/#_ftn7" title="_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Langue seperti permainan catur, kalau saya kurangi buah catur, akan berubah dan bahkan permainan akan kacau; demikian halnya dalam langue, jika struktur (sistem) kita ubah, maka akan kacau balau juga. Misalnya: saya makan nasi, jika kalimat ini saya ubah menjadi: makan nasi saya, kelihatannya kalimat tersebut, janggal. Atau dalam bahasa Latin: <i>laudate</i> (terpujilah), tentu jika kita merubahnya tidak sesuai dengan aturan main dalam bahasa Latin, akan kacau balau. Langue tidak tergantung pada aksara.<a name="_ftnref8" href="http://null/#_ftn8" title="_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Misalnya, kata: <i>tōten, fuolen</i> dan <i>stōzen; </i>kata-kata ini di kemudian hari berubah menjadi <i>tölen, füolen</i> dan <i>stōzen</i>. Perubahan itu dari mana, <i>kok</i> bisa. Nah, langue tidak mau tahu dengan perubahan itu, yang penting apa yang telah dipakai secara konvensional, ya itulah langue.<span>  </span></span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Langue perlu agar parole dapat saling dipahami; dan parole perlu agar langue terbentuk. Dengan kata lain, secara historis, fakta parole selalu mendahului langue. Bunyi kata: “pergi!” adalah parole tetapi ia juga termasuk langue karena sistem tanda ada di </span><span>sana</span><span> dan maknanya pun ada. Langue hadir secara utuh dalam bentuk sejumlah guratan yang tersimpan di dalam setiap otak; kira-kira seperti kamus yang eksemplarnya identik (fotocopy), yang akan terbagi di kalangan individu. Jadi, langue adalah sesuatu yang ada pada setiap individu tetapi orang banyak juga mengetahuinya. </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Langue, bersifat kolektif: bersifat homogen, bahasan konvensional. Rumusnya: 1 + 1 + 1 + 1….= 1. Artinya, kata yang diucapkan oleh individu, diucapkan secara sama oleh orang banyak, begitu juga dengan maknanya, semua masyarakat bahasa tahu. Terbentuknya langue juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, misalnya: penjajahan (bahasa Penjajah mempengaruhi bahasa yang dijajah). Lebih jauh Saussure berpendapat bahwa langue diterima dengan pasif, tanpa memperkarakan dari mana langue tersebut berasal. Misalnya, kata <i>“pinjam”</i>: kita tidak perlu mengetahui dari mana kata ini berkembang dan kita tidak perlu tahu dari bangsa (suku) mana asalnya. Kata “pinjam” ini diketahui oleh semua masyarakat bahasa. </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Walaupun kita tidak tahu dari mana asalnya, toh tidak menghambat kita untuk mempelajarinya. Harus diingat bahwa langue berubah tetapi para penutur tidak mungkin mengubahnya; atau langue tertutup bagi interferensi tetapi terbuka bagi perkembangan. </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Tanda-tanda yang membentuk langue bukan benda abstraksi melainkan benda konkret. Contoh: pohon (yang konkret, ada batangnya, bisa kita lihat) dan “pohon” yang lain adalah bahasa yang terbentuk yang kita ucapkan, kita artikulasikan. Wujud bahasa hanya ada karena ada kerjasama antara penanda dan petanda. Dalam langue, sebuah konsep adalah kualitas dari substansi bunyi seperti suara tertentu merupakan kualitas dari konsep. Maka, <i>konsep rumah, putih, melihat</i>, merupakan bagian dari psikologi. Konsep itu hanya menjadi wujud bahasa jika diasosiasikan dengan gambar akustik (bisa dalam bentuk tulisan juga dalam bentuk bunyi). <a name="_ftnref9" href="http://null/#_ftn9" title="_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span></span></span></a> Di bawah ini, kita akan melihat mekanisme langue menurut Saussure.</span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><u><span>Pertama,</span></u></b><span> <b>Solidaritas sintagmatis</b>. Secara keseluruhan, perbedaan bunyi dan konsep yang membentuk langue merupakan hasil dari dua macam perbandingan: <b>asosiatif</b> dan <b>sintagmatis</b>. Pengelompokkan secara asosiatif dan sintagmatis pada umumnya disusun oleh langue. Himpunan-himpunan itulah yang membentuk dan mengarahkan berfungsinya langue. Dalam solidaritas sintagmatis hampir semua satuan bahasa (kata) tergantung dari apa yang melingkunginya dituturan atau dari bagian-bagian ber-urutan yang membentuknya. Contoh: satuan seperti <i>désireux </i>(yang menginginkan) terdiri dari satuan bawahan, yakni <i>désir-eux, </i>namun keduanya bukanlah dua bagian bebas yang ditambahkan satu pada yang lain (bukan desir + eux). </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Satuan itu merupakan suatu hasil, suatu kombinasi dari dua unsur yang solider, yang hanya bervalensi karena keberhubungannya di dalam suatu satuan yang lebih luas. Kata “-e<i>ux”</i> itu adalah sufiks, dan jika sufiks terpisah dari kata dasarnya, tidak ada artinya. Misalnya: satuan, tidak mungkin ditulis: satu-an.<span>  </span>Sama halnya kata dasar, tidak otonom juga. Ia hanya ada dalam kombinasi dengan sufiks (misalnya: roul-is ‘ayunan’; roul tidak bisa diartikan sebagai ayunan tanpa diikuti akhiran –is). </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><u><span>Kedua</span></u></b><span>, dua bentuk pengelompokkan yang berfungsi secara simultan (bersama). Saussure berpendapat bahwa dalam langue, antara asosiatif dan sintagmatif juga terjadi simultan (hadir secara bersama-sama dalam langue). Misalnya, komposisi dé-faire ‘membongkar’, kata ini mengandung dimensi sintagma sekaligus asosiasitif, karena dapat menimbulkan asosiasi-asosiasi pada kata yang lain. Marilah kita lihat bagan berikut: </span></p>
<p><span></span></p>
<table border="1" cellPadding="0" cellSpacing="0" style="border-collapse:collapse;border:medium none;margin:auto auto auto 140.4pt;" class="MsoTableGrid">
<tr>
<td colSpan="2" width="293" vAlign="top" style="width:219.6pt;background-color:transparent;border:windowtext 1pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><i><span style="font-size:20pt;"><font face="Times New Roman"><span>      </span>D é – f a i r e</font></span></i></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="150" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#d4d0c8;border-left:windowtext 1pt solid;width:112.3pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><i><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></i><i><span><font size="3"></font><font face="Times New Roman">Décoller</font></span></i><i><span><font size="3"></font><font face="Times New Roman">Déplacer</font></span></i><i><span><font size="3"></font><font face="Times New Roman">Découdre</font></span></i><i><span><font size="3"></font><font face="Times New Roman">dsb.</font></span></i></td>
<td width="143" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#d4d0c8;border-left:#d4d0c8;width:107.3pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><i><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></i><i><span><font size="3"></font><font face="Times New Roman">Faire</font></span></i><i><span><font size="3"></font><font face="Times New Roman">Relafaire</font></span></i><i><span><font size="3"></font><font face="Times New Roman">Contrefaire</font></span></i><i><span><font size="3"></font><font face="Times New Roman">dsb.</font></span></i></td>
</tr>
</table>
<p><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Selain contoh di atas, kita juga dapat melihat contoh dalam bentuk kalimat: <i>que vous dit-il?</i> ‘apa yang dikatakannya pada Anda?’ bisa diganti dengan kalimat: <i>que te dit-il?</i> ‘apa yang dikatakannya padamu?’ bahkan dapat diganti dengan kalimat: que nous dit-il? ‘apa yang dikatakannya pada kita?’ dsb. Jadi kata “Anda” (vous) dapat kita ganti dengan –mu, kita.<span>  </span></span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span>            </span><b><u>Ketiga,</u></b> kesemenaan mutlak dan kesemenaan relatif. Yang mutlak semena artinya tanpa motif dari apa yang relatif semena. Walaupun demikian, hanya sebagian dari tanda yang sifatnya semena, sedangkan di bagian lain muncul gejala yang memungkinkan untuk mengenali tingkat kesemenaan tanpa harus menghapusnya: ‘tanda’ mungkin bersifat relatif semena. Misalnya: <i>vingt</i> ‘dua puluh’ tidak bermotif, namun <i>dix-neuf</i> ‘sembilan belas’ tidak sama tingkat kesemenaannya dengan <i>vingt</i> karena kata itu dibentuk dari unsur-unsur lain yang dapat digabung dengan unsur lain pula, misalnya:<i> dix-neuf</i> ‘sembilan belas’, <i>vingt-neuf</i> ‘dua puluh sembilan’, <i>dix-huit</i> ‘delapan belas’, <i>soinxante-dix</i> ‘tujuh puluh’, dsb.<span>  </span>Jika dipisahkan <i>dix</i> ‘sepuluh’ dan <i>neuf</i> ‘sembilan’ berkedudukan sama dengan <i>vingt</i> ‘dua puluh’, namun kata <i>dix-neuf</i> merupakan kasus motif relatif. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p><span> </span><span> </span><b><span><span>2.3<span style="font:7pt 'Times New Roman';">  </span></span></span></b><b><span>Parole</span></b><b><span> </span></b></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Parole adalah bahasa tuturan, bahasa sehari-hari. Singkatnya, parole adalah keseluruhan dari apa yang diajarkan orang temasuk konstruksi-konstruksi individu yang muncul dari pilihan penutur, dan pengucapan-pengucapan yang diperlukan untuk menghasilkan konstruksi-konstruksi ini berdasarkan pilihan bebas juga. Parole merupakan manifestasi individu dari bahasa. Bahasa parole misalnya, <i>gue </i></span><i><span>kan</span></i><i><span> ga suka cara kayak gitu, loo emangnya siape?, dst. </span></i><span>Jadi, parole adalah dialek. Parole bukan fakta sosial karena seluruhnya merupakan hasil individu yang sadar <a name="_ftnref10" href="http://null/#_ftn10" title="_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span></span></span></a>, termasuk kata apapun yang diucapkan oleh penutur; ia juga bersifat heterogen dan tak dapat diteliti. Dalam parole harus dibedakan unsur-unsur berikut:</span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><u><span>Pertama</span></u></b><span>, kombinasi-kombinasi kode bahasa (tanda baca) yang dipergunakan penutur untuk mengungkapkan gagasan pribadinya. Misalnya: perang, kataku, perang! Kalimat ini jika diucapkan oleh orang yang sama pun, kata Saussure, ia menyampaikan dua hal yang berbeda pada pelafalan (kata perang pertama dilafalkan secara berbeda dengan kata perang kedua). </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><u><span>Kedua</span></u></b><span>, mekanisme psikis-fisik yang memungkinkan seseorang mengungkapkan kombinasi-kombinasi tersebut. Parolelah yang membuat langue berubah: kesan-kesan yang kita tangkap pada saat kita mendengar orang lainlah yang mengubah kebiasaan bahasa kita. Jadi, antara langue dan parole saling terkait; langue sekaligus alat dan produk parole.<a name="_ftnref11" href="http://null/#_ftn11" title="_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span></span></span></a> Bersifat individu: semua perwujudannya bersifat sesaat dan heterogen dan merupakan perilaku pribadi. </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Parole dapat dirumuskan: (1’ + 1’’ + 1’’’ + 1’’’’…..). artinya, kata yang sama pun dilafalkan secara berbeda, baik orang yang sama maupun oleh orang banyak. </span></p>
<p><span> </span><b><span> </span></b><b><span></span></b> <b><span>BAB III: </span></b><b><span>VALENSI. PENGERTIAN, ISI, IDENTITAS DAN REALITAS LANGUE</span></b><b><span> </span></b><b><span></span></b> </p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><span style="font-size:12pt;">          Melalui hubungan asosiatif dan hubungan sintagmatis, tanda bahasa dapat diuraikan dan hasilnya ialah pemerian tentang valensi. Valensi dapat kita pahami dengan menerima kenyataan bahwa tanda bahasa itu penting bukan sebagai peristiwa bunyi melainkan sebagai pengganti atau wakil dari unsur-unsur luar bahasa. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><span style="font-size:12pt;"></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;"><i>        Tanda</i> kita kenal dengan mendengar tetapi <i>ucapan</i> orang jarang kita perhatikan. Yang kita perhatikan adalah gagasan atau situasi yang menarik perhatian kita melalui ujaran si pembicara. Ciri utama bahasa tak dapat dicari pada bicara tetapi dalam hubungan dengan unsur-unsur luar bahasa melalui sejenis konvensi sosial. Sifat valensi (nilai) menyangkut substitusi (penggantian) suatu benda yang berlainan. Contohnya uang. <a name="_ftnref12" href="http://null/#_ftn12" title="_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span></span></span></a> Uang dapat digantikan dengan barang yang nilainya sama. Misalnya, ada roti yang harganya Rp 200, lantas saya beli dengan mengeluarkan uang Rp 200. Nah, uang yang Rp 200 dengan roti tersebut sama nilainya, asal kita juga menganggapnya demikian.</span><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Valensi linguistik harus didekati dari sudut konseptual dan material dalam arti pikiran tanpa ungkapan dalam kata-kata hanyalah benda yang tak jelas atau tidak punya bentuk. Contoh, dalam pikiran saya mau membeli roti, tetapi saya juga harus “mengartikulasikannya atau mengatakannya kepada penjual, kalau tidak, siapa yang tahu bahwa saya mau membeli roti?”. Contoh lain lagi: kuda dalam permainan catur hilang, tetapi bisa diganti dengan yang lain asal diberi nilai (valensi) yang sama dengan kuda.<a name="_ftnref13" href="http://null/#_ftn13" title="_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[13]</span></span></span></span></a> Langue adalah suatu sistem valensi murni: harus ada gagasan dan bunyi. <a name="_ftnref14" href="http://null/#_ftn14" title="_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[14]</span></span></span></span></a>. Setiap unsur bahasa merupakan anggota kecil, sebuah <i>articulus</i> (artikulasi) di mana suatu gagasan terpateri dalam suatu bunyi atau suatu bunyi menjadi tanda suatu gagasan. Langue tidak terlepas dari pikiran dan bunyi. Ia seperti kertas, kita potong sebelah pasti ikut terpotong juga sebelahnya. Valensi selalu terdiri dari: <i>pertama</i>, suatu hal yang berbeda yang selalu dapat dipertukarkan dengan hal yang valensinya harus ditetapkan. <i>Kedua</i>, oleh hal-hal yang serupa dapat dibandingkan dengan hal yang dicari valensinya. Demikian “kata” dapat dipertukarkan dengan suatu yang berbeda yaitu gagasan, juga dapat dibandingkan dengan kata lain.<a name="_ftnref15" href="http://null/#_ftn15" title="_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[15]</span></span></span></span></a> Lebih jauh Saussure mengatakan bahwa yang penting dalam valensi adalah bunyi, karena perbedaan bunyi itulah yang mengandung makna. </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Dalam valensi harus ada sifat korelatifnya yaitu sifat semena dan sifat diferensial. Misalnya, valensi huruf “t” dapat ditulis secara berbeda setiap kali kita menulisnya, tetapi nilainya tetap “t”; inilah valensi aksara. <a name="_ftnref16" href="http://null/#_ftn16" title="_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[16]</span></span></span></span></a> Sistem bahasa adalah sederet perbedaan bunyi yang dikombinasi dengan sederet perbedaan gagasan. Dalam langage ada tuturan dan ada konsep (ada peristiwa dan ada tata bahasa bahasa). Misalnya, pembentukkan kata jamak Jerman jenis <i>Nacht: Nächte</i>. Setiap unsur yang hadir di dalam peristiwa tata bahasa (tunggal tanpa umlaut dan tanpa “e” final, diposisikan dengan jamak dengan umlaut dan <i>e-</i>) dibentuk oleh sederet oposisi di dalam lingkungan sistem. <a name="_ftnref17" href="http://null/#_ftn17" title="_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[17]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p><b><span>         Pengertian </span></b><span>(Perancis: signification) didefenisikan sebagai asosiasi suatu bunyi dengan suatu konsep. Jadi, pada dasarnya signification sama dengan makna referensial dalam semantik. Sedangkan “isi” (Perancis: contenu) dari sistem bahasa (langue) mencakup pengertian dan valensi.<a name="_ftnref18" href="http://null/#_ftn18" title="_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[18]</span></span></span></span></a></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Apa yang dimaksud dengan identitas sinkronis? Yang dimaksud dengan identitas sinkronis terdapat dalam kalimat Perancis: <i>“Je ne </i></span><i><span>sais</span></i><i><span> pas”</span></i><span>, ‘saya tidak tahu’ dan “<i>ne dites pas cela”</i>, ‘jangan katakan hal itu. Kedua kalimat ini mengandung unsur yang sama (pas) dikenakan makna yang sama. Identitas bahasa adalah unik, karena – misalnya &#8211; setiap saya menyebut kata yang sama, saya memperbaharui materinya sehingga terjadi tindak pembunyian yang baru serta tindak psikologis yang baru. <a name="_ftnref19" href="http://null/#_ftn19" title="_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[19]</span></span></span></span></a> sedangkan yang dimaksud dengan realitas sinkronis langue adalah seperti kata sifat (adjektif) dan kata kerja (substantif). </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p><span> </span><span> </span><b><span>BAB IV: </span></b><b><span>SINKRONIK DAN DIAKRONIK</span></b><b><span> </span></b></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Linguistik sinkronis adalah semua yang berhubungan dengan segi statis dalam ilmu. Sedangkan linguistik diakronis adalah semua yang memiliki ciri evolusi. </span><span>Ada</span><span> berbagai contoh untuk melukiskan dualisme intern (sinkronis dan diakronis). Misalnya, kata Latin <i>“cripus</i>” (berombak, bergelombang, keriting), menimbulkan kata dasar Perancis <i>crép-</i>, yang membentuk kata kerja <i>crépir</i> ‘melepa’, dan <i>décrépir</i>, ‘mengupas lepa’. Pada suatu waktu, bahasa Perancis meminjam kata Latin <i>décrepitus</i>, ‘usang karena usia’, untuk membentuk <i>décrépit</i>; tetapi ternyata orang melupakan asal kata ini. </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Contoh yang lain terdapat dalam bahasa Jerman. Dalam bahasa Jerman tinggi kuno, kata jamak <i>gast</i>, ‘tuan rumah’,<span>  </span>semula adalah <i>gasti</i>, dan jamak <i>hant</i> ‘tangan’ semula adalah <i>hanti</i>, dll. Tetapi di kemudian hari, <i>i-</i> tersebut menjadi umlaut yang mengakibatkan <i>a </i>menjadi <i>e</i> dalam suku kata terdahulu: <i>gasti</i> menjadi <i>gesti</i>, <i>hanti</i> menjadi <i>henti</i>, tetapi kemudian (lagi) <i>i-</i> kehilangan bunyinya dan menghasilkan <i>gesti</i> menjadi <i>geste</i>, dst. Akibatnya, sekarang terdapat kata <i>Gäst: Gaste, Händ: Hande</i>, dan sejumlah besar kelompok kata yang menampilkan bentuk jamak dan tunggal.<a name="_ftnref20" href="http://null/#_ftn20" title="_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[20]</span></span></span></span></a> Ini adalah dimensi diakronis langue. Diakronis tidak mengubah sistem karena kata yang berubah pun adalah sistem dalam bentuk yang lain dengan sistem sebelumnya. <a name="_ftnref21" href="http://null/#_ftn21" title="_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[21]</span></span></span></span></a> Perubahan kata terjadi di luar kemampuan siapapun. </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Sinkronis dapat kita pahami seperti ini: dalam bahasa Perancis, tekanan selalu terletak di suku kata terakhir, kecuali kalau suku kata terakhir mengandung e pepet (seperti “ə”). Ini adalah fakta sinkronis, yakni suatu hubungan antara himpunan kata bahasa Perancis dan tekanan. Tetapi fakta ini juga berasal dari keadaan masa lalu (diakronis). Langue adalah suatu mekanisme yang terus berfungsi meskipun mengalami perusakan. Langue adalah suatu sistem yang bagian-bagiannya dapat dan harus diamati di dalam kesaling-tergantungan sinkronis. Di dalam langue, setiap unsur memiliki nilainya dalam oposisi dengan unsur lain. <b><span> </span></b>Perubahan <i>hände</i> menjadi <i>hanti</i> bersifat spontan atau kebetulan atau tanpa motif, tanpa maksud. </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Ada</span><span> kasus khusus dalam linguistik sinkronis dan diakronis, contohnya: <i>poutre</i> (kuda betina) di kemudian hari pengertiannya berubah menjadi “tiang penunjang” (jadi maknanya berubah). Kata tersebut tetap tetapi pengertian masyarakat akan kata itu yang berubah.<a name="_ftnref22" href="http://null/#_ftn22" title="_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[22]</span></span></span></span></a> Jadi fakta historis atau diakronis mengikuti fakta sinkronis. Menurut Saussure, kata oposisi bukan kata biner, bukan juga dualisme. Oleh karena itulah, sinkronis menganggap <i>gast</i> beroposisi dengan <i>gäste, gebe </i>beroposisi dengan <i>gib, </i>dst. Sedangkan diakronis menganggap <i>gast </i>berubah menjadi <i>gaste. </i>Diakronis hanya hadir dalam parole. Karena segala perubahan pertama kali dilontarkan individu sebelum masuk dalam kelaziman. Misalnya, bahasa Jerman memiliki: <i>ich war, wir waren,</i> sedangkan bahasa Jerman kuno sampai abad XVI menasrifkannya:<i> ich was, wir waren</i> dan dalam bahasa Inggris: <i>I was, we were</i>. Nah, bagaimana terjadinya substitusi dari <i>war </i>ke <i>was? </i>Lantas Saussure mengatakan, pasti ada beberapa orang yang terpengaruh oleh <i>waren</i> kemudian menciptakan <i>war </i>dengan jalan analogi; ini adalah fakta dalam parole. Tetapi karena kata tersebut sering diulang dan diterima oleh masyarakat, maka kata tersebut menjadi fakta dalam langue. </span></p>
<p><span style="font-size:38pt;"></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Jika seseorang hanya melihat sisi diakronis bahasa, maka yang ia lihat bukan lagi langue yang ia lihat melainkan sederet “peristiwa” yang notabene merupakan parole. <a name="_ftnref23" href="http://null/#_ftn23" title="_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[23]</span></span></span></span></a> linguistik diakronis akan menelaah hubungan-hubungan di antara unsur-unsur yang berturutan dan tidak dilihat oleh kesadaran kolektif yang sama, dan yang satu menggantikan yang lain tanpa membentuk sistem di antara mereka. Sebaliknya, linguistik sinkronis akan mengurusi hubungan-hubungan logis dan psikologis yang menghubungkan unsur-unsur yang hadir bersama dan membentuk sistem, seperti dilihat dalam kesadaran kolektif yang sama. <a name="_ftnref24" href="http://null/#_ftn24" title="_ftnref24"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[24]</span></span></span></span></a></span></p>
<p><span> </span><span> </span></p>
<p><span></span><span> </span><b><span>BAB V:  </span></b><b><span>TANDA, PENANDA DAN PETANDA</span></b><b><span> </span></b></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Strukturalisme Perancis tidak bisa dipisahkan dari semiologi Saussure. Bagi beliau, semiologi adalah ilmu pengetahuan umum tentang tanda. Dan, tanda tidak hanya sekedar kata, tetapi tanda mencakup kata dan konsep. Dengan kata lain, tanda adalah kombinasi antara konsep dan gambaran akustik. Misalnya, arbor (artinya pohon) adalah tanda bahasa. Sedangkan “pohon” adalah konsep. </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Linguistik yang ilmiah adalah linguistik yang harus sesuai dengan ujaran-ujaran dan pola-pola yang dipaksakan (diterapkan secara konvensional) oleh masyarakat bahasa<b>.</b> Langue adalah objek linguistik yang konkret dan integral; ia merupakan khasanah tanda karena ia didasarkan pada konvensi sosial. Dengan cara pandang semacam ini, sebenarnya pandangan Saussure sejalan dengan Whitney: tanda bahasa adalah wujud psikis karena ia tidak mempertimbangkan wujud dari <i>parole.</i> Dalam tanda bahasa harus dibedakan: <i>Pertama,</i> citra akustis (image acoustique) yang nobene bersangkutan dengan ingatan atau kesan bunyi yang dapat kita dengar dalam khayal, bukan dalam ujaran yang diucapkan. Salah satu manfaat konsep citra akustis adalah bahwa komponennya jelas batasnya. Citra akustis<span>  </span>dapat digambarkan dengan tulisan secara cermat, sedangkan bunyi tidak (contohnya: bunyi gemuruh, bagaimana menuliskannya dengan kata-kata?). Citra bunyi adalah keseluruhan unsur fonem yang jumlahnya terbatas dan dapat diwujudkan dengan lambang tertulis yang jumlahnya sepadan. <i>Kedua</i>, bagian lain dari tanda bahasa adalah konsep. Konsep lebih abstrak daripada citra akustis. Konsep bersifat pembeda semata-mata, dan secara langsung bergantung pada citra bunyi. Itulah sebabnya Saussure mengatakan bahwa tanda mempunyai dua muka yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain: konsep itu <i>signifie</i> (yang ditandai atau petanda) dan citra akustis itu <i>signifiant</i> (yang menandai atau penanda).<a name="_ftnref25" href="http://null/#_ftn25" title="_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[25]</span></span></span></span></a> Tanda adalah konkret dalam arti tidak ada satupun yang ditinggalkan dari defenisi yang diperlukan oleh sudut pandangnya karena sudut pandangnya itulah yang menciptakan objek: sudut pandang menentukan apa yang dianggap konkret (menyeluruh) sebagai lawan dari abstrak (sebagian).<a name="_ftnref26" href="http://null/#_ftn26" title="_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[26]</span></span></span></span></a> Saussure berpendapat bahwa tanda adalah berupa kalimat, klausa, frasa, morfem (afiks, inflektif, derivatif). </span><span>Ada</span><span> dua jenis tanda: tanda tunggal dan tanda sintagma. Semua tanda tersebut memiliki sifat utama, yakni: </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><u><span>Pertama,</span></u></b><span> prinsip a<b><u>rbitrer </u></b>(kesemenaan). Kesemenaan tanda bahasa dalam arti tidak ada motivasi aspek bunyi dalam benda yang ditandainya dan hanya terdapat dalam tanda tunggal. Sedangkan dalam sintagma, seperti kata majemuk, frasa terdapat motivasi relatif, misalnya bentuk inflektif (perubahan nada suara) diwujudkan secara sama untuk memenuhi hubungan makna yang sama atau konstruksi sintaksis yang dipergunakan dalam situasi yang sama diwujudkan secara sama pula. Kesemenaan merupakan bentuk umum dari kemampuan biologis manusia untuk mengkoordinasikan dan mengasosiasikan (pada waktu yang sama) sehingga melahirkan sistem bahasa yang berbeda bagi setiap masyarakat. Dengan kata lain, kesemenaan adalah tempat manusia membuat sejarah pada dirinya. Tetapi harus diperhatikan bahwa ciri lambang tidak selalu semena, tidak hampa. Sebab, ada suatu dasar dari ikatan alami antara penanda dan petanda. Misalnya, lambang keadilan, timbangan, tidak mungkin diganti dengan sembarang lambang, misalnya dengan lambang kereta. Walaupun demikian, semena bukan berarti penanda tergantung dari pilihan bebas penutur melainkan semena adalah tanpa motif. <a name="_ftnref27" href="http://null/#_ftn27" title="_ftnref27"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[27]</span></span></span></span></a></span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Untuk mengerti bagaimana suatu kata disebut semena, marilah kita ikuti uarian ini: tiba-tiba saya berteriak kepada ayah saya yang kebetulan lewat di depan saya “ayah, tunggu aku!”. Kata ayah di situ bersifat semena atau tanpa motif karena untuk menyebut kata “ayah” tentu saya tidak perlu berpikir terlebih dahulu dan tidak perlu saya mencari-cari kata apa yang harus saya serukan untuk memanggil laki-laki yang lewat di depan saya; dan tidak mungkin saya berkata: ya sudah, saya panggil saja ayah saya sebagai “ibu”, tidak mungkin.<a name="_ftnref28" href="http://null/#_ftn28" title="_ftnref28"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[28]</span></span></span></span></a> Walaupun demikian, jika dalam bentuk kalimat, <i>langue </i>tidak seluruhnya semena karena langue adalah suatu sistem; dan sistem memiliki nalar tertentu. Misalnya: <i>Saya makan nasi</i> (S+P+K), tidak mungkin saya balik: <i>makan nasi saya</i>. Tetapi justru karena alasan inilah masyarakat tak mampu mengubah langue sesuka hatinya. </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><u><span>Kedua,</span></u></b><span> <b>prinsip kelinearan tanda bahasa</b>. Hal ini paling nampak dalam <i>signifiant</i>, yaitu dalam rangkain wicara. Dan, hal ini yang membedakan bahasa dengan tanda lain (entah parole dan juga langage). Penanda akustis hanya ada dalam garis waktu; unsur-unsurnya terungkap satu persatu. Semua itu membentuk suatu rangkain.<a name="_ftnref29" href="http://null/#_ftn29" title="_ftnref29"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[29]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><u><span>Ketiga,</span></u></b><span> <b>prinsip tak tertukarkan (ketakterubahan)</b>. Saussure memberi 4 alasan mengapa tanda tak tertukarkan: 1) karena tanda bersifat arbitrer; 2) walaupun ada kemungkinan orang ingin mengubah sistem tulisan yang sifatnya <i>arbitrer</i> karena unsur-unsurnya terbatas, namun karena tanda bahasa<span>  </span>tak terbatas jumlahnya, maka ketakterbatasan tersebut menghalangi perubahan bahasa; 3) bahasa merupakan sistem yang sangat rumit; 4) bahasa adalah satu-satunya sistem sosial yang dipergunakan semua orang. Oleh sebab itu, di antara penutur terdapat sikap konservatif dalam menghadapi perubahan kebiasaan bahasa. Dengan kata lain, bahasa diwarisi. Dan penerima warisan itu menerima begitu saja (pasif) dan bahkan menjadi bahasa konvensional. Penanda seolah dipisah secara bebas tetapi jika dipandang dari masyarakat bahasa yang memakainya, penanda bahasa tak bebas, ia dipaksakan. Penanda yang dipilih oleh langue tidak mungkin diganti dengan yang lain. Contoh: pilihlah!, tidak mungkin saya ganti tanda bahasa di dalam kata itu menjadi “pilihlah?”. Jadi, masyarakat tidak dapat memaksakan kemauannya pada satu kata, masyarakat terikat pada langue seperti apa adanya. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Singkatnya, langue tidak dapat diikat dengan suatu kontrak dan justru karena itulah tanda bahasa begitu menarik untuk diteliti. Sebab, kalau kita ingin memperlihatkan bahwa hukum yang diterima dalam suatu<span>  </span>masyarakat sebagai sesuatu yang kita turuti dan bukan aturan yang ditetapkan secara bebas oleh individu, langue-lah yang paling cocok sebagai analoginya. Lambang bahasa atau langue tidak tunduk pada kemauan kita; ia adalah warisan dari abad sebelumnya. Misalnya, pemerian nama pada benda atau hal, merupakan warisan dari zaman dahulu. Jadi, langue juga merupakan hasil dari faktor historis, dan itu sebabnya langue tak terubahkan.</span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><span>Keempat</span></b><span>, <b>prinsip tertukarkan (keterubahan</b>): sifat ini terjadi jika kita menggunakan sudut pandang historis yang menimbulkan pergeseran hubungan antara <i>signifiant</i> dan <i>signifié</i> sebagai akibat perubahan bunyi dalam pergeseran analogi. <a name="_ftnref30" href="http://null/#_ftn30" title="_ftnref30"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[30]</span></span></span></span></a> Tanda selalu berganti karena tanda bersifat sinambung. Pergantian tanda selalu mengakibatkan perubahan hubungan antara petanda dan penanda. Misalnya, kata “<i>nēcare</i>” (Latin) dikemudian hari berubah menjadi “<i>necare”</i>. Atau contoh lain adalah kata “<i>dritteil</i>” (kata Jerman klasik) berubah menjadi “<i>drittel”</i> (kata Jerman modern). Jadi, penanda berubah, baik secara material maupun secara gramatikal. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Namun, sebuah langue sama sekali tidak berkekuatan untuk mempertahankan diri terhadap faktor-faktor yang setiap waktu mengubah hubungan antara penanda dan petanda; hal ini adalah salah satu konsekuensi dari kesemenaan lambang. <a name="_ftnref31" href="http://null/#_ftn31" title="_ftnref31"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[31]</span></span></span></span></a> Prinsip dasar bahasa adalah tata nama. Artinya, sebuah kata mewakili “hal” atau “benda”. Prinsip ini mengandaikan adanya “benda” sebelum ada kata. Tetapi kata tak jelas apakah berwujud bunyi atau psikis. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p><span> </span><b><span>BAB VI: </span></b><b><span>HUBUNGAN ASOSIATIF DAN HUBUNGAN SINTAGMATIS </span></b><b><span> </span></b></p>
<p><b><span></span></b></p>
<p><b><span></span></b><b><span><span>6.1<span style="font:7pt 'Times New Roman';">  </span></span></span></b><b><span>Hubungan Asosiatif</span></b></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Setiap mata rantai dalam rangkaian wicara mengingatkan orang pada satuan bahasa lain. Dan, karena satuan itu berbeda dari yang lain dalam bentuk dan makna, inilah yang disebut hubungan asosiatif atau paradigmatis. Hubungan asosiatif juga disebut <i>in absentia</i>, karena butir-butir yang dihubungkan itu ada yang muncul, ada yang tidak dalam ujaran. Asosiataif bersifat psikis: bisa berbicara dengan diri sendiri tanpa<span>  </span>mengamati bibir dan geraknya ketika seseorang berbicara. Contoh hubungan asosiatif dalam kehidupan sehari-hari adalah terdapat dalam kata <i>burung.</i> Kata “burung” ini bisa diasosiasikan sebagai alat kelamin laki-laki. Jadi, asosiasi mengandung makna konotasi.</span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span></span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Asosiasi berarti juga ada unsur yang sama dalam pembentukkannya, misalnya: <i>ships</i> dapat diasosiasikan dengan <i>birds, flags,</i> dst. <i>Dix-neuf</i> (sembilan belas) secara asosiasi solider dengan <i>dix-huit</i> (delapan belas) dan <i>soixante</i> (tujuh puluh), dan sebagainya, dan secara sintagmatis, solider dengan unsur-unsurnya yaitu dix (sepuluh) dan <i>neuf</i> (sembilan). Hubungan ganda itulah yang memberinya sebagian dari valensinya; dan solidaritas inilah yang membatasi kesemenaan. </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Sedangkan hubungan-hubungan <b>sintagmatis</b> adalah hubungan di antara mata rantai dalam suatu rangkaian ujaran. Hubungan sintagmatis disebut juga hubungan <i>in praesentia</i> karena butir-butir yang dihubungkan itu ada bersama wicara. Dalam wacana, kata-kata bersatu demi kesinambungan, hubungan yang didasari oleh sifat langue yang linear, yang meniadakan kemungkinan untuk melafalkan dua unsur sekaligus. Unsur-unsur itu mengatur diri yang satu sesudah yang lain di rangkaian parole. Kombinasi tersebut yang ditunjang oleh keluasan, dapat disebut: <b>sintagma</b>. Jadi, sintagma selalu dibentuk oleh dua atau sejumlah satuan kata ber-urut-an, misalnya: <i>relire</i> (membaca kembali), <i>contre tous</i> (menentang semuanya), <i>la vie humaine</i> (kehidupan manusia): <i>Dieu est bon </i>(Tuhan Maha Pengasih), <i>s’il fait beau temps, nous sortirons</i> (jika cuaca cerah, kami akan keluar), dst. <a name="_ftnref32" href="http://null/#_ftn32" title="_ftnref32"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[32]</span></span></span></span></a> Begitu terletak di dalam suatu sintagma, suatu istilah akan kehilangan valensinya karena istilah itu dipertentangkan dengan istilah yang mendahului dan mengikuti atau dengan keduanya. </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Kata-kata yang mempunyai kesamaan ber-asosiasi di dalam ingatan. Oleh karenanya, membentuk kelompok tempat berbagai hubungan berkuasa. Marilah kita ambil contoh: ketika saya melihat kata <i>“enseignement</i>” (penjajah), secara tidak sadar akan muncul di dalam pikiran saya sekelompok kata lain (misalnya: <i>enseigner </i>‘mengajar’, <i>renseigner</i> ‘menerangkan’, dst. <a name="_ftnref33" href="http://null/#_ftn33" title="_ftnref33"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[33]</span></span></span></span></a> Apa yang Anda pikirkan jika saya mengucapkan kata “belajar”? pasti Anda berpikir tentang pengajar, murid, ada guru, ada ruangan, dst, itu adalah contoh mekanisme asosiasi. Jadi, hubungan asoasi adalah <i>in absentia </i>karena ketika membaca satu kata, dalam pikiran kita bisa muncul sederet kata lain, walaupun tak ada dalam buku bacaan yang kita baca. <a name="_ftnref34" href="http://null/#_ftn34" title="_ftnref34"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[34]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Sedangkan hubungan sintagmatis, menurut Saussure, bersifat <i>in praesentia</i>. Sintagmatis dapat berupa: kata majemuk, kata turunan (misalnya sagen menjadi<span>  </span>sagt) dan kalimat. Contoh: contramaitre (mandor). Kata ini adalah kata majemuk: contre ‘kontra’ dan maitre ‘guru’. Kalimat (sintagma) adalah bagian dari parole bukan langue karena ada proses tutur sehingga terjadi perubahan kata.<a name="_ftnref35" href="http://null/#_ftn35" title="_ftnref35"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[35]</span></span></span></span></a> Walaupun demikian, bukan berarti bahwa semua sintagma adalah parole, karena ada ungkapan (dalam bentuk kalimat) yang menjadi langue; karena ungkapan itu merupakan ungkapan </span><span>baku</span><span> yang tidak dapat diubah oleh adat bahasa (misalnya: <i>allons donc</i>! ‘ayo’, <i>a quo</i> <i>bon</i>? ‘untuk apa?’, <i>prendre la mouche</i> ‘naik pitam’, <i>a force de</i> ‘berkat’, <i>rompre une lance</i> ‘memperjuangkan’, dst. Ungkapan </span><span>baku</span><span> yang telah dikenal umum oleh masyarakat </span><span>Indonesia</span><span>, misalnya, “dalamnya laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu” tidak mungkin saya menggantikannya menjadi “dalam hati dapat diduga, dalam laut siapa tahu. </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p><b><span> </span></b><b><span>BAB VI: </span></b><b><span>SISTEM AKSARA</span></b><b><span> </span></b></p>
<p><b><span></span></b><b><span>6.1 Sistem Aksara</span></b><b><span> </span></b></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span>            </span>Menurut Saussure, ada dua Sistem Aksara, yakni: <i>Pertama,</i> <b>sistem ideografi</b>: kata diungkapkan oleh sebuah lambang tunggal dan tak ada hubungannya dengan bunyi-bunyi yang membentuknya, contoh aksara </span><span>China</span><span>. </span></p>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><i><span>Kedua</span></i><span>, <b>sistem fonetis</b>: mereproduksi urutan bunyi yang berurutan dalam kata (kadang-kadang silabis dan alfabetis) artinya didasari unsur-unsur parole yang tidak teruraikan.</span></p>
<p><span> </span><span>Langue berkembang terus dan aksara cenderung tetap. Akibatnya tidak sesuai lagi dengan apa ayang dilambangkannya, yang logis pada saat tertentu, menjadi tidak logis pada abad kemudian. Suatu saat orang mengubah lambang grafis untuk menyesuaikannya dengan perubahan ucapan<b>.</b><a name="_ftnref36" href="http://null/#_ftn36" title="_ftnref36"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[36]</span></span></span></span></a> </span><span>Misalnya, pada abad XI di Perancis terdapat perbedaan antara cara baca (cara mengungkapkan) dengan cara menulis, seperti bagan berikut:</span><span> </span><span> </span></p>
<table border="1" cellPadding="0" cellSpacing="0" style="border-collapse:collapse;border:medium none;" class="MsoTableGrid">
<tr>
<td width="225" vAlign="top" style="width:168.45pt;background-color:transparent;border:windowtext 1pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><span><font size="3"></font><font face="Times New Roman">Abad</font></span></b></p>
</td>
<td width="225" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:windowtext 1pt solid;border-left:#d4d0c8;width:168.5pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><b><span><font size="3"></font><font face="Times New Roman">Orang mengucapkan</font></span></b></td>
<td width="225" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:windowtext 1pt solid;border-left:#d4d0c8;width:168.5pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><b><span><font size="3"></font><font face="Times New Roman">Orang menulis</font></span></b></td>
</tr>
<tr>
<td width="225" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#d4d0c8;border-left:windowtext 1pt solid;width:168.45pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font size="3" face="Times New Roman">XI</font></span></p>
</td>
<td width="225" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#d4d0c8;border-left:#d4d0c8;width:168.5pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font size="3" face="Times New Roman">Rei, lei</font></span></p>
</td>
<td width="225" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#d4d0c8;border-left:#d4d0c8;width:168.5pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font size="3" face="Times New Roman">Rei, lei</font></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="225" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#d4d0c8;border-left:windowtext 1pt solid;width:168.45pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font size="3" face="Times New Roman">XIII</font></span></p>
</td>
<td width="225" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#d4d0c8;border-left:#d4d0c8;width:168.5pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font size="3" face="Times New Roman">Roi, loi</font></span></p>
</td>
<td width="225" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#d4d0c8;border-left:#d4d0c8;width:168.5pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font size="3" face="Times New Roman">Roi, loi</font></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="225" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#d4d0c8;border-left:windowtext 1pt solid;width:168.45pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font size="3" face="Times New Roman">XIV</font></span></p>
</td>
<td width="225" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#d4d0c8;border-left:#d4d0c8;width:168.5pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font size="3" face="Times New Roman">Roe, loe</font></span></p>
</td>
<td width="225" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#d4d0c8;border-left:#d4d0c8;width:168.5pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font size="3" face="Times New Roman">Roi, loi</font></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="225" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#d4d0c8;border-left:windowtext 1pt solid;width:168.45pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font size="3" face="Times New Roman">XIX</font></span></p>
</td>
<td width="225" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#d4d0c8;border-left:#d4d0c8;width:168.5pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font size="3" face="Times New Roman">Rwa, lwa</font></span></p>
</td>
<td width="225" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#d4d0c8;border-left:#d4d0c8;width:168.5pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font size="3" face="Times New Roman">Roi, loi</font></span></p>
</td>
</tr>
</table>
<p><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Selain contoh di atas, ada juga ketidaksesuaian antara cara baca (lafal) dengan cara tulis (grafik), misalnya, diucapkan ẻveyẻr tetapi kata itu ternyata ditulis “eveiller”. Selain itu juga ada persoalan dalam pelafan misalnya, dalam bahasa Jerman ada huruf yang hanya didasarkan pada sifat mereka-reka.<a name="_ftnref37" href="http://null/#_ftn37" title="_ftnref37"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[37]</span></span></span></span></a></span></p>
<p><span> </span><span> </span><b><span><span>6.2<span style="font:7pt 'Times New Roman';">  </span></span></span></b><b><span>Fonologi</span></b></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Menurut Saussure, fonetik adalah studi evolusi bunyi, ilmu historis, menganalisis peristiwa, perubahan bergerak bersama waktu.<a name="_ftnref38" href="http://null/#_ftn38" title="_ftnref38"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[38]</span></span></span></span></a> </span><span>Walaupun demikian, kata Saussure, fonologi berada di luar waktu karena mekanisme pelafalan selalu serupa. </span><span>Tetapi sebenarnya fonologi hanya suatu disiplin bantu dan<span>  </span>bergerak di tataran parole. Padahal, yang mau ditelusuri oleh Saussure lebih pada langue. Sebab, langue merupakan sistem yang didasari oposisi psikis dari bunyi-bunyi seperti permadani merupakan karya seni yang dihasilkan oleh oposisi visual di antara benang dengan berbagai warna. Tetapi yang terpenting adalah percaturan oposisi dan bukan cara menghasilkan warna-warna. </span></p>
<p><span> </span><span> </span><b><span><span>6.2.1<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span></b><b><span>Aksara fonologis </span></b></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span>            </span>Prinsip aksara fonologis aksara harus dapat dilambangkan dengan suatu tanda, setiap unsur di dalam rangkaian tuturan. Aksara fonologis harus tetap hanya digunakan oleh para ahli linguitik. Aksara berkaitan dengan bentuk tulisan sedangkan fonologi berkaitan dengan ucapan atau fonetik atau cara baca. </span></p>
<p><span> </span><b><span><span>6.2.2<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span></b><b><span>Fonem</span></b></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span>            </span>Pembatasan bunyi-bunyi pertuturan hanya dapat dilakukan atas dasar kesan akustis tetapi deskripsi hanya mungkin dibuat berdasarkan tindak artikulasi karena satuan-satuan akustis tertangkap dalam bentuk rangkaian tak teranalisis. Dalam bunyi ada keseragaman yang sama dalam tugas laring dan rongga hidung; sedangkan keaneka-ragaman yang sama terjadi di dalam tugas rongga mulut. Tetapi yang menghasilkan variasi fonologis yang membuat kita dapat membedakan bunyi bahasa adalah bunyi laring seragam. Menurut Saussure, hidung berperan sebagai resonator bagi getaran berbunyi yang melaluinya; sehingga dengan demikian, hidung juga menrupakan penghasil bunyi. Rongga mulut berperan sebagai genesator dan resonator.<a name="_ftnref39" href="http://null/#_ftn39" title="_ftnref39"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[39]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span><b><span style="font-size:14pt;">Penutup</span></b></p>
<p><b><span style="font-size:14pt;"></span></b><span>Hari-hari ini bahasa dipandang begitu penting oleh kaum strukturalis dan filsuf lainnya. Mengapa? Karena bahasa adalah alat aktualisasi dan artikulasi diri. Kita mampu memaknai pengalaman kita lewat bahasa. Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.</span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi-interaktif dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.</span></p>
<p><span>Walaupun demikian, kita harus mengakui bahwa ada banyak sisi negative dari bahasa. Dewasa ini, bahasa bukan hanya difungsikan sebagai media komunikasi tetapi bahasa juga menjadi </span><span>medan</span><span> persembunyian diri. Bahasa menjadi ranah memperjuangkan ideologi-ideologi tersembunyi yang sering menindas dan mendatangkan neraka bagi yang lain. </span><span> </span><span> </span></p>
<div>
<hr SIZE="1" width="33%" align="left" />
<div><a name="_ftn1" href="http://null/#_ftnref1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> Lihat Ferdinand de Saussure, <i>Pengantar Linguistik Umum </i>(Jogyakarta: Gajah Mada University Press, 1993), hlm. 2-3 dan 374-378</font></span></div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="http://null/#_ftnref2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> <i>Ibid., </i>hlm. 24</font></span></p>
</div>
<div><a name="_ftn3" href="http://null/#_ftnref3" title="_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></span></a><font size="2"><span> Ferdinand de Saussure, Pengantar Linguistik Umum, <i>Ibid., </i>hlm. 6. Lihat juga Christopher John Murray (Editor), <i>Encyclopedia of Modern French Thought</i> (</span><span>New York</span><span>: Taylor &amp; Francis Group), hlm. 574-575.<span>  </span>For Saussure, <i>langue</i> was the linguistic code, the set of conventions one learns when acquiring a language. It is independent of any individual’s conscious attempt to modify the linguistic system. Saussure considered <i>langue</i> to be true object of linguistics. <i>Parole</i> refers to the collectivity of all linguistic utterances made by speakers of a certain language. That is, <i>parole</i> is the dynamic expression of <i>langue</i>. whereas <i>langue</i> is social, <i>parole</i> is individual, and two together comprise what Saussure calls <i>langage. </i></span></font></div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="http://null/#_ftnref4" title="_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> Saussure, hlm. 155</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="http://null/#_ftnref5" title="_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 9</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="http://null/#_ftnref6" title="_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> Maksud dari “pengaturan diri” adalah bahwa struktur tidak pernah meminta bantuan dari luar untuk melaksanakan prosedur tranformasional, jadi struktur itu bersifat tertutup. </font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="http://null/#_ftnref7" title="_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 82-84</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn8" href="http://null/#_ftnref8" title="_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 93</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn9" href="http://null/#_ftnref9" title="_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 193</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn10" href="http://null/#_ftnref10" title="_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 6</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn11" href="http://null/#_ftnref11" title="_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 86</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn12" href="http://null/#_ftnref12" title="_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 17-18</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn13" href="http://null/#_ftnref13" title="_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[13]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 203</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn14" href="http://null/#_ftnref14" title="_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[14]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 204</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn15" href="http://null/#_ftnref15" title="_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[15]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 209-210</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn16" href="http://null/#_ftnref16" title="_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[16]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> Bandingkan hlm. 212-215</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn17" href="http://null/#_ftnref17" title="_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[17]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 217</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn18" href="http://null/#_ftnref18" title="_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[18]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 20</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn19" href="http://null/#_ftnref19" title="_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[19]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 200</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn20" href="http://null/#_ftnref20" title="_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[20]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 167</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn21" href="http://null/#_ftnref21" title="_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[21]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 169</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn22" href="http://null/#_ftnref22" title="_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[22]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 178</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn23" href="http://null/#_ftnref23" title="_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[23]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 175</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn24" href="http://null/#_ftnref24" title="_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[24]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 187</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn25" href="http://null/#_ftnref25" title="_ftn25"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[25]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 13. Petanda<span>  </span>merupakan kelas makna sedangkan penanda merupakan kelas pembunyian</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn26" href="http://null/#_ftnref26" title="_ftn26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[26]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 13</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn27" href="http://null/#_ftnref27" title="_ftn27"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[27]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 149</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn28" href="http://null/#_ftnref28" title="_ftn28"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[28]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 154-155</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn29" href="http://null/#_ftnref29" title="_ftn29"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[29]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 80 dan 150</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn30" href="http://null/#_ftnref30" title="_ftn30"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[30]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 15-16</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn31" href="http://null/#_ftnref31" title="_ftn31"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[31]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 157</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn32" href="http://null/#_ftnref32" title="_ftn32"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[32]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 219</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn33" href="http://null/#_ftnref33" title="_ftn33"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[33]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 79-80 dan 221</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn34" href="http://null/#_ftnref34" title="_ftn34"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[34]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 220</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn35" href="http://null/#_ftnref35" title="_ftn35"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[35]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> </font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn36" href="http://null/#_ftnref36" title="_ftn36"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[36]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 96</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn37" href="http://null/#_ftnref37" title="_ftn37"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[37]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> Lihat hlm. 100-101</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn38" href="http://null/#_ftnref38" title="_ftn38"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[38]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 103</font></span></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn39" href="http://null/#_ftnref39" title="_ftn39"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[39]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> hlm. 115-116</font></span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/postinus.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/postinus.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/postinus.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/postinus.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/postinus.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/postinus.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/postinus.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/postinus.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/postinus.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/postinus.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/postinus.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/postinus.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=50&subd=postinus&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://postinus.wordpress.com/2008/03/16/bahasa-dalam-perspektif-ferdinand-de-saussure/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee5e8d76c208a732ba154318ec768169?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">postinus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syarat Menjalin Relasi Harmonis</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com/2008/03/06/syarat-menjalin-relasi-harmonis/</link>
		<comments>http://postinus.wordpress.com/2008/03/06/syarat-menjalin-relasi-harmonis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 07:15:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>postinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan Tulisan-Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://postinus.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[


Dalam bukunya “The Seven Habits of Highly Effective People”, Stephen R. Covey pernah mengusung landasan utama yang harus dimiliki oleh setiap manusia (jika ia mau berhasil dalam berelasi dengan orang lain), yaitu “personality ethics” (etika kepribadian). Menurut beliau personality ethics (PE) pada dasarnya mengambil dua jalan: 












Pertama, teknik berhubungan dengan manusia atau masyarakat. Kedua, sikap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=46&subd=postinus&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalam bukunya “<em><span style="font-family:Arial;">The Seven Habits of Highly Effective People</span></em>”, Stephen R. Covey pernah mengusung landasan utama yang harus dimiliki oleh setiap manusia (jika ia mau berhasil dalam berelasi dengan orang lain), yaitu “personality ethics” (etika kepribadian). Menurut beliau <em><span style="font-family:Arial;">personality</span></em> ethics (PE) pada dasarnya mengambil dua jalan: </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><em><span style="font-family:Arial;">Pertama,</span></em> teknik berhubungan dengan manusia atau masyarakat. <em><span style="font-family:Arial;"></span><span>Kedua,</span></em> sikap mental positif (SMP) atau <em><span style="font-family:Arial;">positive thinking</span></em> (husnu-dzon). Nah, bagaimana mengaktualisasikan kedua “jalan” ini? Langkah pertama dan utama yang harus kita lakukan adalah: memperhatikan (mengevaluasi dan mengoreksi) persepsi kita sendiri. Mengapa? Karena persepsi itu bagai “lensa”: jika lensa yang kita pakai berwarna merah maka apapun yang kita lihat menjadi merah. Jadi, ketika kita “berpikir” tentang sesuatu jangan-jangan lensa yang kita pakai justru lensa yang tidak benar, bukan lensa yang seharusnya. Itu sebabnya perlu mengoreksi lensa berpikir kita. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span id="more-46"></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Seorang teman bercerita: “saya pernah ditegur oleh atasan saya gara-gara pangkasan rambut terlalu pendek. Dengan nada ketus, beliau bilang, rambut kamu itu, saya tidak suka, kok terlalu pendek. Lain kali jangan seperti itu. Tidak sopan!” Lihat, atasan teman saya ini sedang asyik dengan persepsinya sendiri. Ia yakin bahwa apa yang ia pikirkan, benar. Dan bahkan ia paksa: harus dituruti oleh bawahannya. Ia lupa bahwa apa yang ia pikirkan hanyalah ungkapan egonya yang notabene hanya berdasarkan pada persepsinya. Mana ada patokan bahwa rambut pendek, tidak sopan? Masalah potongan rambut kan urusan pribadi seseorang. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Harusnya beliau bertanya: mengapa saya tidak suka melihat rambut bahawan saya ini? Jangan-jangan saya sedang membencinya, ada apa dengan diri saya? Ingat, gara-gara perbedaan persepsi tak sedikit orang yang terperangkap dalam permusuhan, perseteruan, kebencian, ketidak-haromonian. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari uraian di atas kelihatannya yang mau disasar adalah bahwa kita, manusia mesti “sekali-kali” melihat diri sendiri apakah kita selama ini “merasa benar” atau “mencari yang benar”. Karena jika kita hanya dikompasi oleh ide dan juga persepsi kita sendiri, kita menjadi “buta” melihat bahwa kita sendiri telah berlaku salah dalam melangkahkan kaki untuk berjalan mencoba melepas segala belenggu yang seharusnya bukan belenggu yang datang dari luar melainkan karena kita tak mampu mengelak. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bahkan jika kita hanya merasa benar di hadapan teman kita sendiri, kita akan dijauhi. Tidak disukai. Boro-boro kita diacuhkan, malah dinggap sebagai “duri”. Sikap mental positif (SMP) butuh internalisasi dan aktualisasi bukan hanya teori. Nah, yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita mengaktualisasikan SMP ini jika persepsi kita sendiri masih juga kita “lestarikan” seperti sediakala walaupun seolah kita telah ubah?<em><span style="font-family:Arial;"> </span></em></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><em><span style="font-family:Arial;"></span></em></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><em><span style="font-family:Arial;"></span></em></span><span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Selain <em><span style="font-family:Arial;">personality ethics, </span></em>Covey melihat bahwa seseorang akan berhasil menjalin relasi harmoni dengan orang lain, jika orang bersangkutan memiliki c<em><span style="font-family:Arial;">haracter ethics</span></em> (etika karakter): rendah hati, mampu mengendalikan diri, memiliki keberanian, integritas, rajin, sabar, sederhana, santun, mengusung nilai-nilai keadilan dan selalu mengaktualisasikan Kaidah Emas: memperlakukan orang lain seperti dia memperlakukan dirinya sendiri. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lebih jauh Covey bersabda lagi: “sikap Anda menentukan ketinggian posisi Anda dan senyuman Anda menghasilkan lebih banyak teman daripada jika Anda hanya mengerutkan dahi”. Dengan kata lain, Covey lebih mengedepankan <em><span style="font-family:Arial;">hospitality</span></em> (keramahan) daripada <em><span style="font-family:Arial;">hostility</span></em> (permusuhan). Ide semacam ini membuat diri saya tergugah: adalah lebih penting jika manusia menyadari diri sebagai <em><span style="font-family:Arial;">homo socius</span></em> (sebagai teman) dan bukan hanya <em><span style="font-family:Arial;">homo homini lupus</span></em> (bukan sebagai serigala). Anda setuju?</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;"></span> <span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<h2><em><span style="font-weight:normal;font-size:10pt;">* Postinus Gulö adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung</span></em><span style="font-size:10pt;"></span></h2>
<p><span style="font-size:10pt;"> </span><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/postinus.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/postinus.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/postinus.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/postinus.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/postinus.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/postinus.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/postinus.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/postinus.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/postinus.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/postinus.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/postinus.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/postinus.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=46&subd=postinus&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://postinus.wordpress.com/2008/03/06/syarat-menjalin-relasi-harmonis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee5e8d76c208a732ba154318ec768169?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">postinus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FIKSI, IDE, DAN IDEOLOGI</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com/2008/03/06/fiksi-ide-dan-ideologi/</link>
		<comments>http://postinus.wordpress.com/2008/03/06/fiksi-ide-dan-ideologi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 07:08:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>postinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan Tulisan-Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Philosophy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://postinus.wordpress.com/2008/03/06/fiksi-ide-dan-ideologi/</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini saya awali dengan pertanyaan: apa arti sebuah ide, seperti ide tentang Allah, ide tentang keadilan, dan ide tentang kebahagiaan? Bagi William James, “ideas are not solely determined by the social conditions of their time, but also by earlier ideas, or by ideas transferred from different ideological field and different social-economic contexts”, ‘ide-ide itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=45&subd=postinus&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span>Tulisan ini saya awali dengan pertanyaan: apa arti sebuah ide, seperti ide tentang Allah, ide tentang keadilan, dan ide tentang kebahagiaan? Bagi William James, <strong><span style="color:blue;">“</span></strong><em><b><span style="color:blue;">ideas are not solely determined by the social conditions of their time, but also by earlier ideas, or by ideas transferred from different ideological field and different social-economic contexts”,</span></b> </em>‘ide-ide itu tidak hanya ditentukan oleh kondisi-kondisi zamannya, tetapi oleh ide-ide sebelumnya atau ide yang berbeda dalam sosial-ekonomi dalam konteks yang berbeda-beda’.<span></span> </span><span> </span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span><span>Saya yakin bahwa ide-ide itu ditentukan oleh status atau kedudukan dan golongan sosial (terpelajar atau tidak) dari orang yang mencetuskan dan memperjuangkannya. Misalnya, ide orang kaya dengan ide orang miskin sangat berbeda. Orang kaya cenderung anti Pedagang Kaki Lima (PKL). Dengan alasan: mengakibatkan jalan macet dan bahkan mengganggu pejalan kaki. Lain halnya orang miskin. Mereka malah pro PKL. Dengan alasan, barang-barang ada di sekitar mereka, bisa dijangkau, bisa tawar-menawar. Jadi, seni berbicara dengan sendirinya terpraktekkan. <span id="more-45"></span></span><span> </span></p>
<p><span></span></p>
<p><span> </span><span>Harus diakui bahwa di balik ide ada bisnis, ada proyek politis yang cenderung mencari keuntungan. Misalnya, ide melakukan cacah jiwa semasa Kaisar Agustus di seluruh Imperium Roma. Ide itu sarat kepentingan. Kepentingan untuk menentukan jumlah populasi sehingga dengan demikian bisa ditentukan berapa upeti dan pajak yang harus dibayar ke ibu Kota Roma. </span></p>
<p><span></span></p>
<p><span>Demikian juga di Indonesia. Jika orang Indonesia ke luar negeri diharuskan mengurus surat fiskal, SKKB, surat dokter. Tujuan utama bukan untuk mengamankan tetapi mencari untung. </span><span> </span><span>William James mempunyai konsepsi yang luas dan fleksibel tentang ide. Menurutnya, deretan terminologi : ide, ideologi, teori, proposisi, kurang lebih sama artinya atau yang sering disebut juga <em><b><span style="color:blue;">family resemblance</span></b></em>. </span></p>
<p><span></span></p>
<p><span>Namun, di sini saya hanya memfokuskan pada dua kata saja: ide dan ideologi. Perbedaan antara ide dan ideologi (yang disebut juga sistem) bagi James adalah perbedaan dalam tingkat (<em>in degree</em>) bukan perbedaan dalam jenis (<em>in kind</em>). “Tingkat” yang berbeda yaitu perbedaan dalam “sistematis”. </span></p>
<p><span>Artinya berbeda dalam tingkat keluasan komprehensif dan koherensi. <strong><span style="color:fuchsia;">“</span></strong><em><b><span style="color:fuchsia;">An idea is an implicit system; and a system is an explicit idea”</span></b></em><strong><span style="color:fuchsia;">:</span></strong> sebuah ide adalah sebuah sistem yang masih terselubung, implisit, sedangkan suatu sistem adalah sebuah ide yang sudah eksplisit (terurai), kata James. Dengan kata lain, ide adalah gagasan yang masih kabur dan fragmentaris. </span></p>
<p><span></span></p>
<p><span>Sedangkan ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata <em>ideologi</em> sendiri diciptakan oleh Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu (baca: weltanschauung<span style="color:black;">)</span>, sebagai akal sehat dan beberapa kecenderungan <span style="color:black;"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat" title="Filsafat"><span style="color:black;text-decoration:none;">filosofis</span></a></span>, atau sebagai serangkaian ide yang dikemukakan oleh kelas masyarakat yang dominan kepada seluruh anggota masyarakat (definisi <em>ideologi Marxisme</em><span style="color:black;">). </span></span><span> </span><span style="color:black;">Ada dua syarat gagasan dapat disebut ideologi. </span></p>
<p><span style="color:black;"></span><em><b><u><span style="color:fuchsia;">Pertama,</span></u></b></em><span style="color:black;"> gagasan tersebut dapat dipakai sebagai sarana </span><span>penyelesaian masalah hidup. Jadi, ideologi harus unik karena harus bisa memecahkan problematika kehidupan. </span></p>
<p><span><em><b><u><span style="color:fuchsia;">Kedua,</span></u></b></em> suatu gagasan layak disebut ideologi jika ia meliputi metode penerapan, penjagaan, dan penyebarluasan ideologi. Jadi, ideologi harus khas karena harus disebarluaskan ke luar wilayah lahirnya ideologi itu. Dengan kata lain, suatu ideologi bukan semata-mata berupa pemikiran teoretis seperti filsafat, melainkan dapat dijelmakan secara operasional dalam kehidupan sehari-hari. <span style="color:black;">Dari uraian ini, </span>ideologi adalah gagasan yang terurai secara teratur, “<em>system is well order whole</em>”. </span><span> </span></p>
<p><span></span><span>William James membedakan ide dan fiksi. Bagi dia, keduanya merupakan buah pikiran manusia. Masalahnya, apa perbedaan keduanya dan di mana letak perbedaannya ? Menurut James, perbedaan antara ide dan fiksi terletak pada <em><b><span style="color:blue;">degree of conviction</span></b></em> (perbedaan dari tingkat kepercayaan) kita tentang ide dan fiksi itu sendiri. Ide disebut <em><b><span style="color:blue;">believable</span></b></em>; sedangkan fiksi disebut <em><b><span style="color:blue;">unbelievable</span></b></em><strong><span style="color:blue;">. </span></strong><span style="color:black;">S</span>esuatu itu hanya sebuah ilusi jika kita menganggap sesuatu itu tidak bisa dipercayai. Jadi, ide itu <em><b><span style="color:blue;">believable for me or for people</span></b></em><strong><span style="color:blue;">.</span></strong> </span></p>
<p><span>Antara <em>believable</em> dan <em>unbelievable</em> berbeda dalam hal tindakan. Suatu ide disebut <em>believable</em> jika kita menjadikannya sebagai dasar bagi tindakan kita. Dan disebut fiksi jika kita tidak berani menjadikannya sebagai dasar dari suatu tindakan. Maka banyak ide yang dianggap kelompok tertentu sebagai <em>believable</em> tetapi bagi yang lain tidak (<em><b><span style="color:blue;">unbelievable</span></b></em><strong><span style="color:black;">)</span></strong>. </span><span> </span><span>Yang dipersoalkan oleh James adalah <strong><span style="color:blue;">“</span></strong><em><b><span style="color:blue;">what is the meaning of an idea</span></b></em><strong><span style="color:blue;">?</span></strong><span style="color:blue;">”</span>. </span></p>
<p><span>Misalnya, apa arti kebahagiaan. Bagi James, ide adalah <em><b><span style="color:blue;">plan of action</span></b></em> (rencana tindakan) yang akan kita lakukan guna meraih atau menghindari sesuatu. Maka arti dari ide itu berbeda-beda. Ide kebahagiaan bagi hedonis berbeda bagi kaum religius. Bagi hedonis bisa saja mereka artikan bahwa kebahagiaan adalah rencana untuk memuaskan keinginan sendiri. Sedangkan bagi kaum religius, kebahagiaan adalah rencana untuk menyenangkan dan melakukan kehendak Allah. Ide tentang surga, misalnya, baik Kristen, Islam, Budha maupun Hindu berbeda dalam memaknainya. Bagi Kristen surga itu diibaratkan sebagai tempat di mana orang tidak kawin dan tidak dikawinkan. Pemahaman Islam, tentang surga adalah 1001 malam. </span></p>
<p><span>Sedangkan Budha, memahami surga sebagai situasi pudarnya segala nafsu, dan bagi Hindu, surga adalah sunyata, <em>nothing</em>, lain dari apa yang kita alami. </span><span> </span><span>Menurut kaum Skolastik (Tomistik), makna dari suatu ide identik dengan defenisinya. Karena itu setiap kata, ide, konsep dirumuskan dengan jelas, agar tertangkap maknanya. Contoh, apa makna dari konsep Allah ? Aristoteles dan Thomas mengatakan Allah itu <em><b><span style="color:fuchsia;">actus purus</span></b></em> (aktivitas murni). </span></p>
<p><span>Kata <em>actus</em> harus dimengerti sebagai aktualisasi diri dan dikontraskan dengan potensi, kemungkinan. <em><b><span style="color:fuchsia;">Actus purus</span></b></em> artinya segala kemungkinan sudah terwujud dan tidak ada potensi yang belum terwujud padaNya, semuanya sudah terealisasi di dalam Allah. Pada Allah tidak ada kemungkinan, maka Ia adalah realitas sempurna. Semuanya sudah terungkap padanyaNya (jadi Allah perfek). </span><span> </span><span>Contoh lain, Spinoza mengatakan <em><b><span style="color:fuchsia;">Deus est causa sui et causa omnium</span></b> (</em>Allah<em> </em>menciptakan dirinya sendiri dan semua yang lain). Jadi, “makna” identik dengan defenisi, pengertian dari kata ide, konsep. </span></p>
<p><span>Defenisi sering disebut denotasi yang dibedakan dengan konotasi. Denotasi adalah defenisi. Dengan kata lain defenisi dan denotasi adalah arti utama dan pertama (primer) dari suatu ide. Sedangkan konotasi itu adalah arti sekunder dan tambahan dari suatu ide. <span style="color:fuchsia;">***</span></span><span style="color:fuchsia;"> </span><span> </span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span><span>* <strong><span style="color:fuchsia;">Postinus Gulö adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung </span></strong></span> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/postinus.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/postinus.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/postinus.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/postinus.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/postinus.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/postinus.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/postinus.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/postinus.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/postinus.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/postinus.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/postinus.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/postinus.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=45&subd=postinus&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://postinus.wordpress.com/2008/03/06/fiksi-ide-dan-ideologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee5e8d76c208a732ba154318ec768169?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">postinus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Manusia (Tak) Berhati Nurani</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com/2008/03/06/ketika-manusia-tak-berhati-nurani/</link>
		<comments>http://postinus.wordpress.com/2008/03/06/ketika-manusia-tak-berhati-nurani/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 06:59:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>postinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan Tulisan-Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://postinus.wordpress.com/2008/03/06/ketika-manusia-tak-berhati-nurani/</guid>
		<description><![CDATA[                                                
             Dunia lebur dalam kerakusan, keegoisan, kebohongan. Adalah Hitler pernah berkata “berbohonglah terus-menerus karena suatu saat kebohongan Anda akan dianggap sebagai kebenaran”. Tesisnya ini terbukti. Tatkala ia menghasut rakyat Jerman bahwa Yahudi: manusia tak berguna, harus dibasmi, seolah diafirmasi begitu saja. Ternyata, kerakusan dan kebohongan membentuk manusia dalam wajah yang licik dan picik. Kata-kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=44&subd=postinus&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h1><span><font size="3"><span>                                                </span></font></span></h1>
<p><span> </span><span><span>            </span>Dunia lebur dalam kerakusan, keegoisan, kebohongan. Adalah Hitler pernah berkata “berbohonglah terus-menerus karena suatu saat kebohongan Anda akan dianggap sebagai kebenaran”. Tesisnya ini terbukti. Tatkala ia menghasut rakyat Jerman bahwa Yahudi: manusia tak berguna, harus dibasmi, seolah diafirmasi begitu saja. Ternyata, kerakusan dan kebohongan membentuk manusia dalam wajah yang licik dan picik. Kata-kata Hitler ini bukan hanya terjadi di masa lalu. Kini, kelicikan semakin menjadi tindakan spektakuler pejabat, kaum intelektualis, dan kaum cerdik. Akhir-akhir ini, kelicikan adalah jurus instan-manjur mencapai kejayaan. KKN semakin terpelihara karena keegoisan dan kebohongan itu. Bahkan lembaga pengusung kedamaian, “agama” menjadi tempat membangun tembok kebencian karena keegoisan. Maka, dewasa ini kita mendengar ada perang religius. Mereka ingin mewujudkan surga di bumi, tetapi sebenarnya tindakan mereka justru menciptakan neraka, kata Karl R. Popper. <span> </span></span><span> </span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Kebencian manusia zaman kiwari tidak hanya sebatas wacana tapi diaktualisasikan menjadi kenyataan yang membabi buta. Maka, John Naisbitt dan Patricia Aburdence menjadi frustrasai. <i>Spirituality<span>  </span>Yes, Religion No,</i> kata mereka.<span>  </span>Mereka menggugat kebenaran yang ditawarkan lembaga agama. Namun, sebenarnya ingin mereposisi agama, bukan membenci agama secara ontologis. </span></p>
<p><span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span>            </span>Ketika dunia lebur dalam kekacauan, banyak pengagum kebenaran menjadi frustrasi dan ragu pada kebenaran: jangan-jangan kebenaran hanya pembenaran atau kebenaran diidentikkan dengan pembenaran. Agama yang tadinya sebagai sarana keselamatan; sekarang malah pembawa ketakutan, kehancuran. Agama harus digugat, kata A. Wilson. Gagasannya itu bukan hanya kritikan mengawang-ngawang. <i>Againts Religion: Why We Shouldn’t Try to Live Without It, </i>itu adalah bukunya yang sangat menohok dan mungkin menggemparkan dunia. Ia mengganggap bahwa agama adalah pembawa tragedi. Jauh sebelum itu, klaim yang lebih menohok datang dari Marx: agama adalah candu. Bahkan Feurbach. Pernah berkata, agama hanya sebatas tempat memproyeksikan Allah, tidak lebih dari itu. <span id="more-44"></span></span></p>
<p><span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span>            </span>Dunia<span>  </span>lebur dalam ketakberwajahan, ketidakpastian. Ketakberwajahan itu hanya mewajah jika ada cinta. Cinta yang dimaksud bukan sebatas wacana, namun aktualisasi. Bahkan St. Gregorius Agung pernah berkata, <i>amor ipse notitia est</i>, cinta itu sendiri adalah pengetahuan. Cinta sebagai representasi dari sebuah misteri-gratuitas-tanpa syarat, mencoba merangkai ungkapan dalam bentuk kebijaksanaan. Kebijaksaan itulah yang menghantar seseorang pada kompas surga. Surga, dalam arti kedamaian, kebenaran bukan sebatas lokalitas! </span></p>
<p><span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span>            </span>Ketika dunia lebur dalam arus global, kekacauan, tak sedikit manusia yang mencoba berpaling pada cinta. Cinta adalah mata dan mencinta adalah melihat<i>, amor oculus est et amare videre</i>, kata Richard de Sint Victor. Bahkan Erich Fromm pernah berkata dalam <i>The Art of Loving</i>-nya: “<i>love is the only sane and satisfactory answer to the problem of human existence”.</i> Singkatnya, cinta diusung sebagai lambang kesematan baru. Keselamatan memang dibutuhkan setiap insan. Walaupun<span>  </span>manusia sebagai insan ilahi –sekalipun- tetap berada dalam keterbatasan. Keterbatasan manusia itulah barangkali yang memacu manusia untuk berinteraksi, mencari sesuatu di luar dirinya. Keterbatasan adalah pertanda manusia kaya akan realitas, kata Giordano Bruno. Manusia sadar bahwa yang ada di luar dirinya itu mempengaruhi interiornya, sehingga ia bahkan makhluk apapun selalu terselubung dalam jejaring interaksi kognitif. Interaksi kognitif <i>a la</i> teori </span><span>Santiago</span><span> ber-roh ketika setiap makhluk ingin mengaktualisasikan dirinya di dunia real sekaligus memikirkan dan melakukan segala sesuatu. Dan, karena interaksi kognitif itu pun perubahan seolah tak berujung hanya mandeg pada lini ruang dan waktu. </span></p>
<p><span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span>            </span>Dunia lebur dalam kemarahan. Kemarahan diaktulisasaikan dalam bentuk tindakan membunuh, demonstrasi, saling membenci demi mencapai utopia baru, tapi bukan utopia <i>a la</i> Thomas Moore atau <i>a la</i> Karl Marx. Kemarahan dianggap <i>laku</i> yang tepat membawa hidup. Tapi ingat, Paul Ricoueur dan Derrida pernah menyerukan bahwa yang terpenting adalah hospitalitas bukan hostilitas! Bahkan Mahatma Gandhi pernah berkata <b><i><span style="color:blue;">“if an eye for an eye makes the whole world blind </span></i></b>(<b><span style="color:blue;">jika mata ganti mata maka seluruh dunia akan menjadi buta</span></b>)”. </span></p>
<p><span> </span><span>Lalu, dalam situasi demikian, cinta dilirik. Terutama mereka yang haus akan kedamaian. Kesejatian cinta tercermin dalam tindakan berbuat sesuatu tanpa syarat. Yesus, sang Penyelamat, telah melakukannya, sebelum term itu muncul: siap disiksa, dibenci, bahkan mati di kayu salib tapi tetap mengampuni.<span>  </span>Akhir-akhir ini, arti cinta telah dikaburkan. Cinta diartikan sebagai cinta diri, <i>introvert</i>. Cinta diri itu membentuk diri dalam keegoisan. Keegoisan pun menutup mata manusia melirik dunia di luar dirinya. ‘‘Demi kepentingan-ku apapun aku lakukan; kalau perlu yang lain saya sikat’’. </span><span>Barangkali tendensi semacam itu yang dimaksud Darwin dalam teori <i>“survival of fittest</i>-nya”.<span>  </span></span><span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span>            </span></span><span>Dunia lebur dalam kesenjangan. Kesenjangan seolah itulah wajah keber-ada-an manusia. Maka, banyak filsuf mutakhir mencoba mempertanyakan esensi keberadaan. Keberadaan yang dimaksud bukan hanya terbatas pada kelahiriahan. Adalah Descartes pernah berkata “saya berpikir maka saya ada, <i>cogito ergo sum</i>”. Singkatnya, keber-ada-an diteropong sampai ke batas ambang. Manusia, mempertanyakan diri, mencoba menemukan diri dalam ketidakpastian; bahkan melakukan transgresi <i>a la</i> Michel Foucault. Penemuan diri hanya dapat dikaji ketika manusia terbuka pada diri sendiri. Keterbukaan menghantar manusia pada sebuah kesadaran: keterbatasan. Walau ide seolah tak habis menemukan celah berpikir, tetap saja celah keterbatasan mewajah lagi. Wajahnya tampil dalam sebuah problem, pro dan kontra, bahkan hanya mereka-reka. Ketaksepahaman itu menghantar seseorang pada permenungan mendalam, apa itu kepastian? </span></p>
<p><span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span>            </span>Dunia lebur dalam asumsi, konsep atau konstruksi berpikir. Manusia mencoba mempermainkan bahasa. Seseorang percaya bahwa ia bermain-main dengan bahasa. Kebermainan itu berujung pada sebuah ketidakjelasan. Bahasa –tanpa disadari- akhirnya mempermainkan manusia. Kata berkandungan <i>agitasi</i> cepat menyulut manusia untuk berindak anarkhis, misalnya. Keanarkisan sebagai akibat keberbahasaan, justru membuktikan bahwa yang diobjekkan pun berinteraksi. Keberinteraksiannya mewajah dalam berbagai fenomena: penguasaan, pengacauan, pengekangan dan penyempitan cara berpikir subjek. Eugene Iunesco, dalam <i>The Lesson</i>-nya mencoba menggambarkan kehilangan logika berbahasa manusia itu. </span></p>
<p><span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span>            </span>Dunia lebur dalam kecanggihan teknologi sekaligus membentuk diri dalam kecanggihan berpikir. Berpikir <i>a la</i> zaman kiwari seolah hanya asumsi, apriori-apriori yang mengusung kebenaran dalam tataran bahasa. Bahasa dipermain-mainkan sebagai alat bantu mengoreksi kebenaran sejati. Maka, tatkala seseorang ingin mengaktualisasikan diri tak jarang tersangkut pada langkah hidup yang hanya pada kesibukan diri, seolah tak ada ruang untuk mengkomunikasikan diri ke luar dirinya. </span><span>Ia ibarat autis! Tapi ingat kata Socrates, mengkomunikasikan diri adalah memperdalam relasi. </span><span>Dunia lebur dalam membahasakan dirinya. Seolah bahasa hanya tempelan semata, tak bermakna. Maka, ketika masyarakat misalnya, didefenisikan, sepintas lalu meyakinkan. Namun, arti masyarakat sesungguhnya ternyata tak hanya terletak pada sebuah lokalitas. Masyarakat bagai <i>monad </i>tanpa jendela, kata Leibniz. Ia sulit mengkomunikasikan diri. Ketidakmampuannya itu membatasi arus berpikir ke arah yang positif. Akibatnya, bahasa, bagi sebagian orang berkonotasi sempit, melekat pada pengertian pribadi.<span>   </span></span></p>
<p><span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span>            </span>Dunia lebur dalam berbagai <i>worldview,</i> dan persepsi subjekif. <i>Worldview</i> itu mengokohkan diri dalam afirmasi sebelah luar tatanan refleksi manusia. Refleksi seolah hanya bahasa yang melekat dalam imaji, dalam khalayan yang tak dimengerti: tanpa aktualisasi dan tanpa artikulasi. Ketakmengertian menyeret manusia pada gejala kefrustrasian. Manusia hanya bertanya mengapa dan mengapa. Pertanyaan eksistensial itu mencoba merogoh kedalaman hati demi mensesor jeroan problem yang sebenarnya telah dijawab sendiri.</span></p>
<p><span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span>            </span>Dunia lebur dalam <i>simulacra,</i> dunia kehampaan; itu seruan sinis Baudrillard. Slogan non-referensial seolah itu yang berharga. Pembentukan lembaga dianggap satu-satunya cara menyelesaikan masalah. </span><span>Mereka kira sejatinya pencarian kebenaran mesti berlindung pada lembaga buatan semena-mena itu. Di sisi lain, eksistensi apapun dipertanyakan seolah itu yang perlu, sejati. </span><span>Eksistensi hanya menampakkan diri ketika berkonfrontasi dengan dunia. Kekonfrontasian dengan dunia, pengalaman melukiskan dirinya. Pengalaman adalah pertanda bahwa manusia bukan hanya secarik kertas yang tetap tak berwarna. Manusia bereksistensi, berinteraksi melukis dirinya sendiri!</span></p>
<p><span> </span><span><span>            </span>Dunia lebur dalam khayal dan imaji. Khayalan kadang dianggap sebagai realitas sejati. Kesejatian khayalan itu dalam pandangan mereka, membuat mereka terperangkap dalam kebanalan dan kedangkalan. Kedangkalan berpikir manusia zaman kiwari hampir berujung pada sebuah sikap permisif. Adalah <span>Charles Taylor</span>, pernah berkata “salah satu akibat dari kekaburan horizon moral secara ontologis dan kolektif adalah tindakan <i>anything goes</i> atau sikap <i>permissive</i><span>  </span>itu. </span><span>Gaya</span><span> permisif seolah membuka ruang dan waktu berkreasi dan berpikir. Tatanan moral pun digusur, keugaharian dan keramahan dijadikan barang haram. Dan, itu barangkali yang menjadikan dunia semakin suram dan tenggelam dalam peperangan, permusuhan. Manusia adalah ibarat harimau bagi sesamanya, <i>homo homini lupus, </i>tulis<i> </i>Thomas Hobbes. Dunia lebur dalam keseraman sekaligus mengubur norma tradisonal. Keseraman dunia telah menggiring manusia ke atmosfir ketakutan, pada fobia-fobia. Ketakutan-ketakutan itu, suatu saat &#8211; tanpa sadar &#8211; akan menampilkan wajahnya dalam pribadi yang menyeramkan: memusuhi arang lain yang tak sepaham dengannya. </span><span>Dan, ini telah terbukti, saat ini juga! </span><span><span>    </span><i></i></span><span> </span><span> </span><i><span>Artikel ini pernah dimuat di Lesehan (Majalah Dinding Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, edisi September-November 2006</span><b><span></span></b></i></p>
<h1><span><font size="3"> </font></span></h1>
<p><span> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/postinus.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/postinus.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/postinus.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/postinus.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/postinus.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/postinus.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/postinus.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/postinus.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/postinus.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/postinus.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/postinus.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/postinus.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=44&subd=postinus&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://postinus.wordpress.com/2008/03/06/ketika-manusia-tak-berhati-nurani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee5e8d76c208a732ba154318ec768169?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">postinus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Moral dan Politik</title>
		<link>http://postinus.wordpress.com/2008/03/04/moral-dan-politik/</link>
		<comments>http://postinus.wordpress.com/2008/03/04/moral-dan-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 15:11:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>postinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan Tulisan-Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://postinus.wordpress.com/2008/03/04/moral-dan-politik/</guid>
		<description><![CDATA[
Paper ini pertama-tama ingin menjawab satu pertanyaan: bagaimana jika politik dan moral terpisah? Jawaban pertanyaan ini saya paparkan dalam uraian berikut. 
 
Politik berkaitan erat dengan kekuasaan dan ketatanegaraan. Hal itu sesuai dengan etimologi politik: politeia (negara), dan politikos (negarawan). Jika kita kembali melihat hakikat filsafat politik, semakin jelas bahwa politik dan moral saling interpendensi. Plato [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=43&subd=postinus&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Paper ini pertama-tama ingin menjawab satu pertanyaan: <b><i>bagaimana jika politik dan moral terpisah?</i></b> Jawaban pertanyaan ini saya paparkan dalam uraian berikut. </span></p>
<p><span> </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Politik berkaitan erat dengan kekuasaan dan ketatanegaraan. Hal itu sesuai dengan etimologi politik: politeia (negara), dan politikos (negarawan). Jika kita kembali melihat hakikat filsafat politik, semakin jelas bahwa politik dan moral saling interpendensi. Plato misalnya, mendefenisikan filsafat politik sebagai salah satu cabang etika (filsafat moral) sosial atau kemasyarakatan. Baginya, manusia sudah selalu berpolitik karena manusia tidak pernah terlepas dari negara (politeia).<a name="_ftnref1" href="http://null/#_ftn1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span id="more-43"></span></span></p>
<p><span> </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Dalam negara, hukum, tata aturan, norma pasti dirumuskan, dan kemudian diberlakukan. Tujuannya adalah untuk mengatur aktivitas masyarakat, termasuk aktivitas politiknya. Dari uraian ini, saya setuju pendapat Immanuel Kant yang mengatakan bahwa moralitas dan politik tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Moralitas adalah suatu praksis dalam pengertian objektif: keseluruhan hukum-hukum yang mengikat tanpa syarat, yang seharusnya kita jadikan sebagai acuan bertindak, kewajiban dan tanggung jawab.</span></p>
<p><span> </span><span> </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span> </span>Kebijakan politik harus memperhatikan dimensi moral: apa dampak dari kebijakan politik terutama secara sosial, dan ekonomi. Begitu juga, seseorang yang terjun ke dunia politik seharusnya berlaku moralis. Kalau tidak, para politikus akan terjebak pada kepentingan pribadi, pencurian (korupsi) bahkan melegalkan hukum illegal. Dimensi moral berkaitan erat dengan “boleh atau tidak boleh”, jadi, tekanan moral adalah dimensi etika. </span></p>
<p><span> </span><span> </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Kejujuran (dimensi moral) adalah politik terbaik. Kebijakan politik murni (tanpa ide tersembunyi) menjamin perdamaian lestari karena sang moralis-politik menganggap ide hukum sebagai kewajiban untuk tetap berdamai, bukanlah sebagai tujuan melainkan sebagai sarana demi tujuan-tujuan politik Perdamaian lestari mengandaikan kehendak moral untuk tetap berdamai sehingga mekanisme alam dapat mengarahkan kecenderungan-kecenderungan egois manusia ke penjagaan perdamaian.<a name="_ftnref2" href="http://null/#_ftn2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></a></span></p>
<p><span> </span><span> </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Immanuel Kant, dalam akhir bukunya tentang “Menuju Perdamaian Abadi”, menegaskan harmoni antara politik dan moralitas berdasarkan konsep hukum publik yang transcendental. Hubungan harmoni antara politik dan moralitas, memungkinkan manusia untuk memastikan apakah pertimbangan yang akan mendasari tindakan politik secara moral dapat diterima atau tidak. Tolok ukur itu adalah publisitas. Apabila pertimbangan-pertimbangan itu tidak dapat dibuka terhadap masyarakat luas, pertimbangan-pertimbangan itu secara moral tidak dapat dibenarkan dan tindakan itu secara moral dilarang. Sebaliknya, semua pertimbangan yang hanya dapat mendasari tindakan politis apabila semua pertimbangan dibuka kepada publik, secara moral bersifat benar. Kebijakan politik yang mendasarkan diri pada pertimbangan yang harus menghindar dari sorotan publik, secara moral bersifat jahat.</span></p>
<p><span> </span><span> </span><span> </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Politik yang baik hanya ada dalam pengembangan demokrasi. Dalam menentukan kebijakan mesti menggunakan akal sehat tidak sekadar emosional.<a name="_ftnref3" href="http://null/#_ftn3" title="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></a> Pendeknya, politik harus bersanding dan menyatu dengan dimensi moral atau etika. Politik mesti tunduk pada hukum. Politik dikatakan tidak kotor jika ia mengindahkan dimensi moral.</span></p>
<p><span> </span><span> </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Jadi, jika moral dipisahkan dari politik, maka sudah bisa ditebak bahwa politik yang demikian jatuh dalam politik busuk: KKN, mengeluarkan kebijakan berdasarkan nafsu, uang, kesemena-menaan dan untuk mendukung kecurangan sang penguasa. </span></p>
<p><span> </span><span> </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Kebijakan politik (yang memperhatikan moral) selalu memperhatikan kemajuan dan perkembangan rakyat, tidak semena-semena. Oleh karena itulah kebijakan politik yang bermoral mampu memberikan ketentraman dan memperhatikan Trilogi Van Deventer: irigasi (bagi petani), transmigrasi (untuk pengungsi) dan edukasi. Singkatnya, politik yang bermoral bertujuan untuk mensejahterakan rakyat.<a name="_ftnref4" href="http://null/#_ftn4" title="_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></a> Aristoteles pernah mengatakan bahwa “tujuan politik adalah yang baik bagi manusia” (bukan yang baik bagi pribadi tertentu).<a name="_ftnref5" href="http://null/#_ftn5" title="_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p><span> </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Bahkan, Frans Seda pernah menulis demikian:<span>  </span>kebijakan politik mesti memperhatikan dimensi moral tentang bagaimana menjawab dan menyelesaikan masalah sosial, kultur dan spiritual. Oleh karena itulah, Frans Seda menganjurkan agar Gereja tidak memisahkan diri dari dunia (dan politik). Gereja hadir di dunia, hidup bersama dunia dan bertindak dalam dunia. Gereja hadir sebagai ragi, sebagai penjiwa masyarakat manusia. Kebijakan politik hendaklah tidak bermuara memperlebar dikotomi. Yang diharapkan dan yang semestinya ada dalam kebijakan politik adalah dikotomi diganti dengan pengakuan adanya otonomi manusia sebagai pribadi. Dengan demikian, kebijakan diskrimantif tidak terjadi.<a name="_ftnref6" href="http://null/#_ftn6" title="_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></a><span>   </span></span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span></span></span></p>
<p><span> </span><span> </span><b><span>Daftar Pustaka</span></b><b><span> </span></b><span> </span><span style="font-size:11pt;"><span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span>1.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">       </span></span></span><span style="font-size:11pt;">Aristoteles. 2004. <i>Nicomachean Ethics, Sebuah Kitab Suci Etika,</i> diterjemahkan oleh Embun Kenyowati. </span><span style="font-size:11pt;">Bandung</span><span style="font-size:11pt;">: Mizan</span></p>
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;" class="MsoNormal"><span><span>2.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span>Ensiklopedi Nasional Indonesia, jilid 13. 1990. </span><span>Jakarta</span><span>: Cipta Adi Pustaka.</span></p>
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;" class="MsoNormal"><span><span>3.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span>Kant, Immanuel. 2005. <i>Menuju Perdamaian Abadi</i>. </span><span>Bandung</span><span>: Mizan (bekerjasama dengan Goethe-Institut Jakarta).</span></p>
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;" class="MsoNormal"><span><span>4.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span>Seda, Frans. 1996. Kekuasaan dan Moral: Politik Ekonomi Masyarakat Indonesia Baru. </span><span>Jakarta</span><span>: Grasindo.</span></p>
<p><span><span>5.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span><a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/o401/20/tjk%201.htm"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;text-decoration:none;">http://www.suaramerdeka.com/harian/o401/20/tjk 1.htm</span></a>, diakses 15 Desember 2007</span><span style="font-size:16pt;"> </span><span style="font-size:14pt;"> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span>                                                       </span></span></p>
<p><span> </span></p>
<div></p>
<hr SIZE="1" width="33%" align="left" />
<div><a name="_ftn1" href="http://null/#_ftnref1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span></span></span></span></a><font size="2"><span> </span><span>Lihat Ensiklopedi Nasional Indonesia, jilid 13 (Cipta Adi Pustaka: Jakarta, 1990), hlm. 320</span></font><span style="font-size:1pt;"> </span></div>
<div><a name="_ftn2" href="http://null/#_ftnref2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></span></a><font size="2"><span> Lihat Immanuel Kant, <i>Menuju Perdamaian Abadi </i>Mizan (bekerjasama dengan Goethe-Institut Jakarta): Bandung, 2005), hlm. 94-128. </span><span style="font-size:12pt;"></span></font><span style="font-size:1pt;"> </span></div>
<div><a name="_ftn3" href="http://null/#_ftnref3" title="_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> </font></span><span style="font-size:9pt;">lihat </span><span style="font-size:9pt;"><a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/o401/20/tjk%201.htm"><span style="color:windowtext;">http://www.suaramerdeka.com/harian/o401/20/tjk 1.htm</span></a></span><span style="font-size:9pt;"></span><span style="font-size:1pt;"> </span><span style="font-size:1pt;"> </span><span style="font-size:2pt;"> </span></div>
<div><a name="_ftn4" href="http://null/#_ftnref4" title="_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></span></a><font size="2"><span> </span><span>Lihat Ensiklopedi Nasional Indonesia, jilid 13 (Cipta Adi Pustaka: Jakarta, 1990), hlm. 316-317</span></font></div>
<div><a name="_ftn5" href="http://null/#_ftnref5" title="_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></span></a><font size="2"><span> </span><span>Lihat Aristoteles, <i>Nicomachean Ethics, Sebuah Kitab Suci Etika, </i>diterjemahkan oleh Embun Kenyowati (Mizan: </span><span>Bandung</span><span>, 2004), hlm. 2-3</span></font></div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="http://null/#_ftnref6" title="_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></span></a><span><font size="2"> Lihat Frans Seda, <i>Kekuasaan dan Moral: Politik Ekonomi Masyarakat Indonesia Baru</i> (Grasindo: Jakarta, 1996), hlm. 68-69</font></span></p>
<p><span><font size="2"> </font></span></div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/postinus.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/postinus.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/postinus.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/postinus.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/postinus.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/postinus.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/postinus.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/postinus.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/postinus.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/postinus.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/postinus.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/postinus.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=postinus.wordpress.com&blog=2203079&post=43&subd=postinus&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://postinus.wordpress.com/2008/03/04/moral-dan-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee5e8d76c208a732ba154318ec768169?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">postinus</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>