BERBAGI INSPIRASI

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..


    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 145,929 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Mei 2018
    S S R K J S M
    « Mar    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Iklan

Homili Bapa Suci Paus Fransiskus dalam Misa Krisma

Posted by postinus pada Maret 29, 2018


Homili Bapa Suci Paus Fransiskus dalam Misa Krisma

(di Basilika Santo Petrus, Kamis, 29/3/2018)

Saudara-saudaraku terkasih para pastor di wilayah Keuskupan Roma dan di berbagai Keuskupan di dunia!

Membaca bacaan-bacaan liturgi hari ini, muncul dalam pikiran saya, secara terus-menerus, kutipan dari Kitab Ulangan yang mengatakan: «Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang begitu dekat kepadanya seperti Tuhan, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya?» (Ul. 4: 7). Kedekatan Tuhan … kedekatan apostolik kita.

Dalam kitab Nabi Yesaya kita merenungkan utusan Allah yang sudah “diurapi dan dikirim”, di tengah-tengah umatNya, dekat dengan orang miskin, orang sakit, mereka yang dipenjara…; dan Roh yang «besertaNya», yang menyemangati Dia dan menyertaiNya sepanjang jalanNya.

Dalam Mazmur 88 kita melihat bagaimana penyertaan Allah, yang memimpin Raja Daud dengan tanganNya sendiri sejak dia masih muda dan Dia menolongnya pada masa tua, sekarang ia mengambil nama kesetiaan: kedekatan yang dipertahankan sepanjang masa itulah yang disebut kesetiaan.

Papa-Francesco-1

 Foto Bapa Suci Paus Fransiskus ini diambil dari www.artribune.com (3/4/2018).

Kitab Wahyu membawa kita mendekat kepada Allah, yang selalu «datang» – «Erchômenos»– secara personal.  Sabda yang mengatakan bahwa mereka akan melihatnya  «bahkan mereka yang menikamNya» membuat kita sadar bahwa luka-luka Tuhan yang tekah bangkit selalu terlihat, bahwa Tuhan selalu datang untuk menemui kita yang «mendekatiNya»  melalui semua orang yang menderita, terutama anak-anak.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Posted in Arsip, Paus Fransiskus | Leave a Comment »

Sunday Homily of Lent, March 18, 2018 – Year B

Posted by postinus pada Maret 18, 2018


Sunday Homily of Lent, March 18, 2018 – Year B

Readings: Jer.31:31-34; Heb.5:7-9; Jn. 12:20-33


By Cfr. Postinus Gulö, osc

All three Readings are linked by offering us, each in its own way, the underlying theological explanation of the Paschal mystery of Jesus´ suffering, death and resurrection. It is no historical accident, but the key element of God´s great plan of salvation.  By this sacrifice God will create in his people a new heart, free from sin and ready to embrace his law (“a willing spirit”, Psalm) not as something foreign and imposed, but as the law of the heart itself (First Reading and Psalm). Obedience to God´s plan, expressed in his law or otherwise, is a source of suffering for man – even for Christ – but it is simultaneously the source of our salvation, which follows the paradoxical law of life springing from death (Second Reading and Gospel).

IMG_4670

Photo: Crosiers priests and diocesan priests from Indonesia in front of Basilica St. Pietro, Rome (2018)

In today’s Gospel (Jn 12: 20-33), we hear the story of some Greeks who had come to worship at the Passover Feast. It was their wish to see Jesus. These people were ‘Hellenistists’. As we know, the ancient Hellenists were polytheists, wise man, philosophers and intellectuals. Some Bible scholars say that the Hellenists were unbelievers, pagans, they are very different from the Jews and the disciples of Jesus. However, the Greeks who were ‘considered’ as pagans, now, were willing to meet Jesus. They want to understand ‘the mystery of the coming of Jesus in the world’. Father Gian Franco Scarpitta, referred to the Greeks as “repentant infidels”.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Homily | Leave a Comment »

Credit Union as a Model of Microcredit for Helping the Poor and the Needy in Sibolga Diocese, Indonesia

Posted by postinus pada Februari 22, 2018


By R.P. Postinus Gulö, OSC*

 

Introduction

Catholic Church realizes that «le cose temporali sono create da Dio e destinati agli uomini»[1]. This why canon 1254 §2 insists clearly that one of the purposes of the temporal goods of the Church is to exercise works of charity, especially to help the poor and the needy.

Through this paper, we describe and analyze the efforts of the Church of Sibolga Diocese (Indonesia) to help the poor and the needy around them through Credit Union (CU) as a model of microcredit. In this diocese I had served as a Priest for 3,5 years (2012-2015) before coming to Rome for my further study. Therefore, I have seen directly the workings and positive impacts of the microcredit of this CU. The CU as model of microcredit is a real example of “new pastoral way” (PO 13) of Sibolga Diocese.

This paper, therefore, consists of two parts: the first part describes the definition of microcredit. In the second part, will attempts to explain one example of microcredit in Sibolga diocese which is “a new bank” to help the poor and the needy.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Microcredit, Seminar | Leave a Comment »

God leaves the temple to live and fertilize daily life (Homily for Fifth Sunday in Ordinary Time, Year B, February 4, 2018)

Posted by postinus pada Februari 3, 2018


By RP. Postinus Gulö, OSC

Readings: Jb 7: 1-4, 6-7; 1Cor 9: 16-19, 22-23; Mark 1: 29-39

Christ took our infirmities and bore our diseases”. When we reflect on some terrible problems some people have we ask ourselves, why it should be like this. In the first reading, Job describes in dramatic terms the situation of humanity on earth. The gospel reading is a reply to the problems by Job. Jesus sees the sad reality of suffering and disease. He takes it on and exhorts his disciples to engage in bringing about the new World that he has just begun.

In the second reading we have the example of Paul, a man who did not spare himself in his dedication to his mission, giving up his right so as not to be an obstacle to the growth of the Kingdom. The plight of Job is the classic case of the person who suffers and doesn’t deserve to suffer. At the point when he talks to his so-called friends today, he is pretty low. He has been hit with all sorts of misery over and over again. In his own words Job says: «So I have been assigned months of misery” and “troubled nights have been allotted to me”» (Jb 7:3). Like a depressed person he sees “no hope” and in his quickly fleeting life, he doesn’t think he will see anything good again.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Homily, My Reflection, Postinus Gulo, RENUNGAN | Leave a Comment »

Sunday homily, December 17, 2017 (Advent III, Year B)

Posted by postinus pada Desember 17, 2017


By RP. Postinus Gulö OSC

Brothers and sisters, today’s Gospel speaks a lot about John the Baptist. He is described as “a witness to testify to the Light, so that all might believe through him”. We know that the “Light” is Jesus Himself. John did not proclaim himself but he was admired by many peoples around him because of his humility. He was the forbearers Christ’s coming and people belief through his testimony that Jesus is the Light. And through him a new hope is dawn.

photo (1)

Baca entri selengkapnya »

Posted in Homily, My Reflection, Postinus Gulo | Leave a Comment »

Homili Hari Minggu Adven III (17 Desember 2017, Tahun B)

Posted by postinus pada Desember 17, 2017


Oleh Pastor Postinus Gulö OSC*

Saudara-saudara terkasih, Injil hari ini berbicara banyak mengenai Yohanes Pembaptis. Yohanes digambarkan sebagai utusan Allah untuk memberi kesaksian  mengenai sosok “Terang”. Kita tahu, “Terang” yang dimaksud adalah Yesus sendiri. Yohanes tidak mewartakan dirinya yang dikagumi banyak orang. Akan tetapi, dia memberi kesaksian agar orang-orang pada zaman itu percaya pada  Yesus sebagai Terang, pemberi harapan baru bagi mereka.

photo (1)

Foto ilustrasi: Pastor Postinus Gulö OSC sedang memimpin perayaan Ekaristi pada Minggu Adven III di Kapel Komunitas General OSC di Roma, Minggu, 17 Desember 2017 (Foto: Pastor Rosaryanto OSC)

Baca entri selengkapnya »

Posted in Berbagi Inspirasi, Homily, My Reflection, Postinus Gulo, RENUNGAN | Leave a Comment »

Sunday Homily, November 26, 2017 (The Solemnity of Our Lord Jesus Christ, King of the Universe)

Posted by postinus pada November 25, 2017


Foreword:

Pope Pius XI teaches us in Quas Primas (December 11, 1925), the encyclical declaring Christ’s universal kingship, that “Jesus is King by right of nature and by conquest. On this Sunday we contemplate our belief that Jesus is our king.  He is king now and will be seen as king of all the world when he comes again in glory. Jesus is king primarily in the sense that He is the redeemer, offering forgiveness of sins to all.

According to Cyril of Alexandria, “Christ has dominion over all creatures, a dominion not seized by violence nor usurped, but his by essence and by nature” (QP 13). Jesus is king as one who serves, providing for us what we most need – peace with God.

Kristus raja

Homily:

Brothers and sisters, the Gospel of today (Mat 25: 31-46) speak about “The last judgment”, that is when the Son of Man comes in His glory. In that moment, all the nations (or in Greek: panta ta ethne = all peoples) will be gathered before Him, and He will separate people one from another as a shepherd separates the sheep from the goats. He will put the sheep on his right and the goats on his left. Baca entri selengkapnya »

Posted in Homily, Inspirasi Khotbah, Postinus Gulo, RENUNGAN, Teologi | Leave a Comment »

Gambaran Dua Sikap Manusia

Posted by postinus pada November 19, 2017


Dalam bacaan Injil hari ini (Mat 25: 14-30) kita mendengar dua hamba yang dapat dipercaya dan penuh tanggung jawab: satu orang menerima lima talenta dan satu orang lagi menerima dua talenta. Keduanya mampu menangkap maksud pemberi talenta. Merekapun mau memperbanyak talenta yang mereka terima. Tapi ada satu hamba yang menerima sedikit talenta tetapi malah tak mau memperbanyaknya.

Menggambarkan dua sikap manusia

Dua hamba yang mau memperbanyak talenta yang mereka terima menggambarkan manusia yang sadar bersyukur menerima anugerah Allah. Anugerah itu tidak ia sia-siakan. Tidak dikubur. Tidak disembunyikan. Malah mereka memperbanyaknya. Lebih dari itu, keduanya sadar akan tanggung jawab, dan bahkan mau menjadi kolaborator Allah menggandakan talenta. Ya, mereka layak dipercaya!

IMG_2344

Sementara hamba yang menerima hanya satu talenta, bukan malah bersyukur. Ia menuduh Tuannya sangat negatif: “Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah manusia kejam, yang menuai di tempat Tuan tidak menabur, dan memungut di tempat Tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta Tuan di dalam tanah. Ini, terimalah milik Tuan!”.

Hamba yang terakhir ini menggambarkan sifat manusia yang tinggi hati, tidak mau diajak bekerja sama. Tak sadar tanggung jawab. Tak layak dipercaya. Anugerah yag ia terima malah ia kubur, ia sembunyikan. Dia tak menyadari dirinya mitra Tuannya. Sikapnya pun curiga, punya cara berpikir yang negatif. Karena tak mampu menangkap maksud Tuannya, ia malah memfitnah. Hamba ini mewakili sifat manusia yang begitu cepat menilai sesamanya. Ia mudah menghakimi!

Sifat yang mana yang dominan dalam diriku?

Kita manusia, rapuh. Tak ada satupun yang sempurna di antara kita. Kita manusia, ada dosa. Bisa saja kedua sifat hamba-hamba dalam Injil ini pernah ada dan akan ada dalam diri kita.

Maka salah satu cara agar kita tak jatuh dalam sikap yang menolak bekerja sama dengan Allah, adalah setia merenungkan hidup, melakukan refleksi. Kita mengambil waktu memeriksa batin kita: hari ini sikap yang mana yang dominan dalam diriku: mampu menangkap kehendak Allah dan melakukannya atau malah aku cepat menghakimi? Apakah aku hari ini berkembang dalam iman? Bukankah aku sejak dibaptis telah diberi kepercayaan padaku ikut serta dalam tugas pelayanan Kristus? Apakah aku sudah melakukannya? Apa yang aku lakukan di gereja: bersama dengan Allah, atau saat sibuk menilai apa yang terjadi di sana?

Ajakan Memahami Kerajaan Allah

Hari ini penginjil Matius mengajak kita memahami Kerajaan Allah: sudah terjadi kini, tetapi sekaligus belum (già e non ancora). Kerajaan Allah itu bisa kita alami kini dan di sini. Keselamatan itu bisa kita alami kini dan di sini. Tentu kerajaan Allah yang kita alami di sini dan kini, belum selesai, terus kita setia menunggu hingga penyelesaiannya di akhir zaman.

Kerajaan Allah kita alami, jika kita seperti dua hamba yang mampu menggandakan talenta yang mereka terima dari Tuannya. Kesetiaan kita melaksanakan kehendak Allah, tak ada yang bisa mengambilnya dari kita. Itu harta kekal kita. Anda setia memilikinya, niscaya Anda bersama Allah dalam kerajaanNya.

Semua orang beriman dipanggil sempurna seperti Allah maka kita terus berjuang bekerja sama dengan Allah agar talenta yang kita punya berkembang banyak, tentu bertujuan memuliakan Allah dan mengangkat harkat dan martabat manusia ke hadapan Allah.

Posted in Arsip, Homily, Inspirasi Khotbah, Postinus Gulo, RENUNGAN | Leave a Comment »

Homily, September 17, 2017

Posted by postinus pada September 16, 2017


About a year ago, I had read a reflective story about a snake. It entered into a warehouse. The snake unintentionally passes over a very sharp saw. As a result, the snake was injured and felt the pain. It became was very angry.

Consequently, it said: ‘I must take revenge!’ Then the snake was as strong as it was wrapped around the saw. The snake thought that it must beat the saw. But the snake grew more and more around the saw with all its strength, then the snake’s body getting hurt and pain.

FB_IMG_1497424227578

Brothers and sisters, in this story there is one very important lesson we can learn today: revenge only adds to our wounds. Baca entri selengkapnya »

Posted in Homily, Inspirasi Khotbah, RENUNGAN, Teologi | Leave a Comment »

Hospitality: a Deeper Knowledge of Christ

Posted by postinus pada Juni 30, 2017


By R.P. Postinus Gulö, OSC

When I was in the elementary school in Nias Island, every Sunday morning I went to the Church with my friends. In the Church, we had “Sunday School” or “Sekolah Minggu”. In the Sunday School, the catechist teaches us as regard “Lala ba Zorugo” (The Way to Heaven). “Lala ba Zorugo” is the name of the handbook of catechists in Nias language i.e where I come from.

ic-4703

Photo: Bishop of Bandung diocese Mgr. Dr. Antonius Subianto Bunjamin OSC, R.P. Leo van Beurden OSC, R.P. Agustinus Sugiharto OSC with some Muslims in Bandung (June 26, 2017). 

Baca entri selengkapnya »

Posted in Bangga Memilih OSC, Homily, Inspirasi Khotbah, My Reflection, Postinus Gulo, RENUNGAN, Teologi | Leave a Comment »

La situasizione dell’insegnamento scolastico della religione cattolica in Indonesia

Posted by postinus pada Mei 20, 2017


Postinus Gulö, OSC

20141217_091723

Gli studenti indonesiani della Tribú Nias che studiano nella scuola superiore (foto: Postinus Gulö OSC/17.12.2014).

Questo articolo é il mio elaborato breve nel corso di prassi amministrativa di munus docendi nella Facoltà di Diritto Canonico alla Pontificia Università Gregoriana Roma.

In esso vorrei scrivere per dare risposta alla domanda proposta dal docente, cioè: «Descrivere la situasizione dell’insegnamento scolastico della religione cattolica nel proprio Stato, specificando soprattutto le modalitá di affidamento dell’insegnamento e il rapporto con l’Ordinario del luogo».

Libri di insegnare

In generale, nel nostro paese, l’Indonesia, tutti i libri per l’insegnamento scolastico della religione cattolica devono essere approvati dalla Conferenza Episcopale Indonesiana (CEI). Da questo punto di vista, si deve dire che sia il processo dello scrivere libri sia l’attività dell’insegnamento devono seguire il parere della Chiesa, a norma dei cann. 804, 823, 827 §2.

Tutti i libri di religione cattolica indonesiani, sono inoltre riconosciuti dallo Stato Indonesiano secondo le leggi: 1) La legge No. 20 Anno 2003 artt. 12 e 55; e 2) La Legge No. 12 Anno 2012. Baca entri selengkapnya »

Posted in Arsip, Pendidikan Anak, Postinus Gulo, Seminar | Leave a Comment »

Matinya Akal Sehat dalam Pilkada Jakarta

Posted by postinus pada April 21, 2017


FB_IMG_1483708389148Sumber foto: akun twitter@Hajilolong

Ahok-Djarot kalah dari pesaingnya Anies-Sandi 19 April 2017 dalam Pilkada DKI Jakarta putaran kedua. Walau 70 % rakyat DKI puas atas kinerja Ahok-Djarot, bukan jaminan kembali duduk sebagai Gubernur-Wakil Gebernur Jakarta. Isu SARA terbukti mematikan akal sehat: Anda berkinerja baik pun belum tentu dipilih sebagian besar rakyat! Jika begitu, politik Tanah Air mundur.

Pemilih sebagian besar memilih alasan primitif dibanding alasan rasional. Tidak cukup Ahok dituduh kafir tetapi juga keturunan Tionghoa. Ahok terus-menerus mereka tempelkan stigma sebagai penista agama.

Presiden Joko Widodo pernah melontarkan kalimat bernas: “Pilkada harus dilewati dengan gembira, bukan dengan memecah persatuan dan kesatuan.” Bersaing tidak boleh menyebar kebencian. Jangan demi jabatan empuk, kau injak sesamamu!

Seharusnya, Anda memilih yang telah terbukti kerja. Seharusnya Anda memilih mereka yang membangun Bhinneka Tunggal Ika, memperkokoh Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia. Kita masih ingat kalimat bijak Pater Frans Magnis Suseno SJ: “Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa”. Saat Pilkada seharusnya pun demikian.

Kemenangan Kaum Intoleran?

Harapan itu seolah sirna 19 April itu. Kaum intoleran merayakan kemenangannya. Kini preman jalanan semakin lantang bersuara. Seperti kata jurnalis Amerika Serikat Allan Nairn, “they elevate themselves from street killers to theologians”. Mereka berhasil melesatkan reputasi mereka sendiri dari preman jalanan mendadak menjadi ahli agama.

Gayung bersambut. Mereka mampu mendatangkan massa jalanan kapanpun. Demonstrasi mereka laksanakan berjilid-jilid dengan jargon aksi damai dan doa bersama. Mereka berhasil membuktikan: membungkus segalanya dengan agama, ampuh menjungkalkan lawan! Terbukti benar peringatan filsuf Ibnu Rusyd: “Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala sesuatu yang batil dengan kemasan agama”(1126-1198). Kata batil berarti hal-hal palsu, keluar dari kebenaran, sikap munafik dan bahkan perbuatan terlarang. Oleh karena itu, sekali lagi, pemotilisasi agama merupakan peringatan serius untuk politik Tanah Air kita.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Kumpulan Tulisan-Opini, Politik, Seminar | Leave a Comment »

We Should Constantly Examine Our Consciences (Sunday Homily, April 2, 2017)

Posted by postinus pada April 2, 2017


By R.P. Postinus Gulö, OSC

Two days ago, we had a discussion as regard atheists who have no religious affiliations and feel no need of belonging to any religious group and who do not belief in God. For these sets of persons God is not necessary, but far from this erroneous idea of theirs. Because we know that God is necessary.

However, there are some Catholics who belief in their minds but through their actions, they do not only criticize the Church but also stand up in heretic ways (cf. can. 751 CIC 1983).

photo

During this discussion, two questions came to my mind. The first: do I really feel the need of God or is God necessary in my life? The second is, ‘how do I help myself to understand the truth about God that is not based on my own relative view but a view that is objective? This is what Pope St. John Paul II discussed in his encyclical letter ‘Fides et Ratio’ i.e. ‘Faith and Reason’. With a favorable answer to these questions, I will then be better equipped to facilitate and lead others to the belief of God.

In the second reading of today, I find the answer to the above questions: we should constantly   examine our consciences. In the words of a philosopher Socrates who said: “The un-examined life is not worth living”. So, brothers and sisters, the imperative question is: “I am in the flesh or is the spirit of God in me? I am walking in my ways or in God’s way? Do I obey God or satisfy my inclinations? If only the spirit of God dwells in us, we belong to God.

Therefore, Paul teaches us that we should, in fact, “see the time go by”: from life in the flesh to life in the spirit, from the ways of the world to the ways of God.

On against this background therefore, Paul invites us to consecrate ourselves to the truth. We are called to receive the truth, and not to reject it. We are called to the light of goodness, not to the darkness of evil.

In Gospel of today, we see the relevance the presence of Jesus in our lives. As Martha says to the Lord: “Lord, if you had been here, my brother would not have died. But I know that even now God will give you whatever you ask.” And the fruit of Martha faith is Lazarus – her brother – rose again from the death.

A very important lesson today is that we must examine our consciences daily. We should refrain from judging others such as atheists or heretics, but rather let us utilize our time to walk in God’s way. Also, we should try to increase our faith as Martha did.

Perhaps in that way, our brothers and sisters are walking in God’s ways when they see that we are true witnesses, just as Pope Blessed Paul VI says in his ‘Evangelium Nuntiadi’: ‘that modern man is tired of listening to teachers and even if he listens is because they are witnesses’ (EN 41). Thus, we will be able to lead other people such as heretics and atheists to the acceptance of God and even the teachings of the Church.

God wants us to see things afresh, not in our usual ways but rather in His renewing ways. Amen.

Posted in Homily, My Reflection, RENUNGAN | Leave a Comment »

Inspirasi Khotbah, Minggu 12 Februari 2017

Posted by postinus pada Februari 9, 2017


Pembukaan/Ilustrasi

Berbagai paroki di Nias beberapa kali melaksanakan pelatihan untuk memberdayakan umat stasi. Di Paroki Salib Suci Nias Barat, Pastor Mathias berjuang keras mendampingi pasangan suami-istri (pasutri) dan Wanita Katolik, bahkan telah banyak beliau fasilitasi rekoleksi dan retret Pasutri dan Wanita Paroki Nias Barat.

Camera 360

Camera 360

Temu Akbar OMK Paroki Tuhemberua, Keuskupan Sibolga.

Sejak sinode Keuskupan Sibolga 2009, banyak aturan yang disampaikan kepada kita umat Allah. Tujuan utama adalah agar kita sebagai umat “berdaya”, dan kalau sudah berdaya maka kita mampu “membebaskan diri” dari belenggu yang menghambat kedalaman iman kita. Hasil akhir dari itu adalah kita “mandiri” dan setia pada iman kita.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Inspirasi Khotbah, RENUNGAN | 1 Comment »

The Lesson: Ekspresi Dehumanisasi dan Keabsurditasan Bahasa

Posted by postinus pada Februari 3, 2017


”Seorang mahasiswi doktoral, tak berdaya ketika sang profesor menghabisi nyawanya. Profesor begitu kejam. Akal sehatnya sirna. Kecerdasan intelektualnya tak jalan. Sang professor pada akhirnya justru tunduk pada pembantunya sendiri untuk menghabisi mahasiswi yang tampak lemah itu”.

Kita mengira bahwa ini adalah cerita. Namun, bagi Eugene Iunesco penulis naskah  teater “the Lesson”, ini bukan cerita. Iunesco sangat anti cerita, anti teater, anti plot, anti literatur, anti realisme, anti logika. Ini teater absurd! Menurutnya, yang terjadi di panggung adalah peristiwa yang mungkin saja tak pernah terjadi dalam kenyataan hidup.

NPG x31639,EugËne Ionesco,by Ida Kar

Seni tidak pernah nyata dan tidak dapat dikembalikan pada kenyataan. Yang nyata adalah “kata pisau” yang telah membunuh sang mahasisiwi. Dan dari fenomena itu, kata dan bahasa telah menjadi alat kekuasaan, kekejaman. Kekuasaan akan berbahaya jika dijalankan penuh perasaan. Profesor ketika memegang pisau itu, ia dikontrol oleh perasaannya, bukan lagi daya intelektualnya. Baca entri selengkapnya »

Posted in Philosophy, Politik, Teropong Teater | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

 
%d blogger menyukai ini: