SIMAK

Berbagai Tulisan Postinus Gulö

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..


    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 110,127 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Agustus 2016
    S S R K J S M
    « Feb    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  

Berdoa, Bukan Mengadukan Orang Lain Kepada Allah

Posted by postinus pada Februari 10, 2016


Salah satu khas Injil Lukas adalah mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Pada zaman Yesus, seringkali, mereka yang “berdosa” direndahkan dan dikucilkan. Banyak juga yang menganggap diri paling benar karena menaati semua aturan hukum Taurat. “Perasaan” paling benar itu, lalu menjadi dasar untuk merendahkan yang lain: Tuhan, aku bukan seperti orang berdosa itu, aku taat hukum Taurat!

Cara berpikir “membanggakan” diri di hadapan Allah, sebenarnya adalah kesombongan. Menurut teolog Thomas Aquinas, salah satu penyebab utama dari dosa adalah kesombongan itu sendiri. Kesombongan merupakan sumber dosa!

Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Tidak hanya itu, mereka merasa diri paling taat hukum, maka percaya diri bahwa mereka pula paling benar. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa di hadapan umum. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka.

Baca entri selengkapnya »

Posted in My Reflection, RENUNGAN | Leave a Comment »

Waspadalah, Korupsi Menghampirimu!

Posted by postinus pada Desember 22, 2015


Oleh Postinus Gulö

 

Prihatin! Itulah yang bergejolak dalam hati saya menjelang Pemilu Legislatif (Pileg) 9 April 2014. Betapa tidak, ada banyak warga Nias cenderung memahami dan mempraktekkan politik secara negatif, koruptif dan tak etis. Kecenderungan itu kadang-kadang saya baca dari komentar yang ditulis dalam sosial media, koran, dan pembicaraan sehari-hari. Tidak hanya di Nias, sikap semacam itu masih kita temukan hampir merata di negeri ini.

Ketika kita berbicara mengenai ‘pesta politik’ Pileg 9 April tahun 2014 dan juga membicarakan tentang Calon Legislatif (Caleg) dan calon DPD, lantas banyak orang pula yang menaruh curiga: sekarang dia banyak janji dan ramah, tapi nanti dia lupakan kita. Kecurigaan itu ada benarnya; tidak sedikit Caleg ketika sudah duduk di kursi empuk lalu melupakan konstituennya. Bahkan ada banyak oknum dewan yang sering terlibat konflik dengan eksekutif didorong kepentingan pribadi, bukan kepentingan rakyat! Akibatnya, kinerja pemerintah tersendat, rakyatpun lamban menikmati pembangunan. Sekarang pun, ada banyak Caleg yang kita ragukan integritas dan konsistensinya. Kita harapkan para Caleg memiliki motivasi yang baik dan benar bukan memburu proyek dan memperkarya diri kelak jika memenangkan Pileg.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Arsip, Pemilu, Politik, Seminar | Leave a Comment »

Bangun Sikap Saling Memiliki di Nias Barat

Posted by postinus pada Desember 22, 2015


Oleh Postinus Gulӧ

 

“My country, right or wrong; if right, to be kept; and if wrong to be set right” (Negeriku, benar atau salah; jika benar, untuk dijaga tetap benar; jika salah, untuk diperbaiki) . Demikian kata-kata bijak Carl Schurz yang semestinya menjadi sikap warga negara yang hidup dalam sistem demokrasi. Bagi Schurz, di saat negerinya melakukan kesalahan bukan untuk dijadikan bahan olok-olokan; bukan pula untuk dibiarkan hancur atau dihancurkan! Siapapun yang tulus membangun kampung halamannya sekuat tenaga berjuang memperbaiki kesalahan negerinya itu. Schurz hendak menanamkan rasa saling memiliki dan bertanggungjawab pada warga negara. Schurz sangat paham bahwa kritik yang bermakna adalah kritik yang memberi solusi, bukan kritik sebatas olok-olokkan, bukan pula kritik provokatif yang mengarah pada dekonstruktif semata.

 

Kritik Nihil Solusi

Semangat Schurz di atas ternyata berbanding terbalik dengan kecenderungan beberapa masyarakat Nias Barat. Lihatlah dan bacalah komentar-komentar sinis ketika majalah Tempo online mengutip pernyataan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi yang menyatakan bahwa Nias Barat dan 3 kabupaten lainnya di Papua terancam dihapus status DOB-nya karena tidak memenuhi syarat nilai minimal yakni 70 poin. Nilai Kabupaten Nias Barat hanya 68 poin, kurang dua poin lagi. Pernyataan Gamawan itu sebenarnya termuat di dalam Buku Laporan Hasil Evaluasi Perkembangan 57 Daerah Otonomi Baru tahun 2012. Mesti disadari bahwa hasil evaluasi itu sudah dipublikasikan pada bulan Mei tahun 2013, akan tetapi baru diberitakan majalah Tempo online pada tanggal 13 September 2013. Dalam berita Tempo itu tak satupun dikutip hal-hal apa saja yang menjadi fokus evaluasi Kementerian Dalam Negeri atas Kabupaten hasil pemekaran DOB.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Arsip, Politik | Leave a Comment »

Mengkritik Kesepakatan DPRD Nias Barat Atas APBD Kabupaten Nias Barat Tahun 2013

Posted by postinus pada Desember 22, 2015


Oleh Postinus Gulӧ

Kita sudah mafhum bahwa fungsi dan kewenangan DPRD Nias Barat, antara lain melakukan pengawasan atas kinerja dan anggaran (budgeting) yang digunakan Pemkab Nias Barat. Akan tetapi, DPRD tidak boleh seenaknya merubah dan mengganti mata proyek SKPD. Selain itu, DPRD dilarang main proyek yang berasal dari APBD sebagaimana diatur dalam UU No 27 tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD.

DPRD hanya berhak membahas dan mengesahkan RAPBD menjadi APBD dengan segala macam koreksi dan masukan solutif. Sebenarnya proses pengesahan APBD semacam ini, salah satu bukti bahwa DPRD adalah mitra Pemkab untuk mengusahakan agar tercapai tata kelola pemerintah yang benar, baik dan bersih sesuai undang-undang yang berlaku; bukan agar ada ruang bagi DPRD menjegal program Pemkab!

Logisnya, APBD setiap SKPD perlu disesuaikan dengan tujuan otonomi daerah, konteks dan kebutuhan daerah, kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) setiap SKPD serta sesuai visi-misi kepala daerah. Kalau tidak, APBD tidak mampu terserap semuanya dan kurang tepat sasaran. Sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB), Kabupaten Nias Barat masih sangat kekurangan SDM. Sepatutnya antar-Pemkab dengan DPRD dalam menyepakati APBD seharusnya mempertimbangkan agar SDM Nias Barat semakin terpenuhi dari tahun ke tahun.

  Baca entri selengkapnya »

Posted in Arsip, Kumpulan Tulisan-Opini, Politik | Leave a Comment »

Seminar Penyederhanaan Biaya Pesta Adat Nias dan Pesta Gerejawi di Nias Barat

Posted by postinus pada April 23, 2014


Paroki Salib Suci Nias Barat menggelar seminar bertajuk “Famalua Böwö ba Hada Same’e Faohahau Dödö”, di Aula Paroki (22-23/4/2014). Seminar ini dihadiri umat Gereja Banua Niha Keriso Protestan (BNKP), Gereja Orahua Niha Keriso Protestan (ONKP) dan Katolik. Ketika membuka secara resmi seminar ini, Vikjen yang sekaligus sebagai Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Sibolga Pastor Dominikus Doni Ola, Pr berpesan agar kegiatan yang melibatkan umat lintas agama ini terus digalakkan ke depan. Menurut Pastor Doni, komitmen untuk menyederhanakan pesta adat Nias dan pesta gerejawi menjadi terwujud jika ada kerja sama yang baik dan berkesinambungan dari umat lintas agama, tokoh adat dan pemerintah.

IMG_2810

Foto kiri-kanan: Pastor Matias Kuppens OSC (sedang menyampaikan kata sambutan), Vikjend Keuskupan Sibolga P. Dominikus Doni Ola, Pr, P. Postinus Gulö, OSC dan Bpk Simesono Hia mewakili Bupati Nias Barat (Mandrehe, 23/4/2014).

 

Baca entri selengkapnya »

Posted in Budaya, Seminar | Dengan kaitkata: | 4 Comments »

Meningkatkan Keharmonisan Keluarga

Posted by postinus pada Maret 28, 2014


Paroki Salib Suci Nias Barat mengadakan pelatihan “Pendalaman Kitab Suci untuk meningkatkan keharmonisan dalam keluarga.” Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan ini. Tadinya, peserta diperkirakan cukup 100 orang saja. Akan tetapi, ternyata peserta yang datang mencapai 150 orang yang berasal dari 19 Gereja Stasi Rayon I. Kegiatan ini diadakan di Stasi St. Andreas Hiliwaito (10-11/3/2014), Stasi Sta. Helena Onolimbu (19-20/3/2014) dan Stasi St. Ferdinandus Fulölö Sibohou (26-27/3/2014).

Dalam kata sambutannya, Ketua Rayon I Ama Rince Hia mengungkapkan latar belakang diadakannya kegiatan ini. Menurutnya, pelatihan ini diadakan berdasarkan hasil analisis sosial (ansos) yang diadakan pengurus stasi dan rayon bersama DPPI. Menurut hasil ansos itu, keluarga Katolik sangat penting agar selalu menghidupi semangat dan nasehat Kitab Suci dalam keluarga. Mereka yang menghidupi dan melaksanakan Kitab Suci dalam keluarga semestinya berjuang mengedepankan kedamaian, keharmonisan dan menjadi Sabda hidup (Taroma Li sauri). “Kita yakin, jika dihidupi sungguh nasehat Kitab Suci maka terwujud keharmonisan dalam keluarga dan gereja stasi”, pungkas beliau.

20140311_144230

Para peserta yang menghadiri pelatihan di Stasi St. Andreas Hiliwaito (10-11/3/2014)

Baca entri selengkapnya »

Posted in Arsip, Pemberdayaan Pasutri, Seminar | Leave a Comment »

Berpolitik Cerdas, Tolak Politik Uang

Posted by postinus pada Maret 22, 2014


“Umat beriman sudah menciptakan politik bersih dan cerdas jika tidak memilih calon legislatif (caleg) tertentu hanya karena uang. Kita umat beriman mesti berani dan dengan sadar memilih caleg yang selama ini berkelakuan baik, memiliki integritas dan konsisten menjalankan iman dengan setia serta tetap menjaga kondusivitas di tengah masyarakat.”Demikian arahan dan bimbingan P. Ignatius Purwo Suranto, OSC dalam seminar bertajuk “Politik Cerdas Umat Katolik”, yang diselenggarakan Paroki Salib Suci Nias Barat di Aula Paroki, Sabtu (22/3/2014). Acara ini merupakan pemberdayaan politik umat berdasarkan matriks kegiatan Paroki Nias Barat yang telah direncanakan sejak tahun 2013 silam.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Pemilu, Politik, Seminar | Leave a Comment »

Datanglah Ya Raja Damai, Aku Berjuang Setia MengabdiMu

Posted by postinus pada Januari 27, 2014


20151027_094628

Oleh Pastor Postinus Gulö, OSC

Berbagai renungan telah terangkai merefleksikan Natal. Ribuan buku telah terbit. Lagu pujian telah ribuan judul. Semua itu untuk menyingkapkan dan memahami misteri agung kelahiran Yesus. Kisah-kisah sederhana pun ditulis untuk menangkap misteri kelahiran Yesus itu. Kisah dan renungan berikut salah satu di antaranya.

Ama Bonus, seorang pemimpin jujur-tulus, dan anti korupsi. Suatu ketika Ama Bonus mengadakan Lomba Memacu Kuda. Ama Bonus memanggil semua bawahannya dan menyampaikan rencananya. Ama Bonus lalu mulai berbicara: Bapak/Ibu dan hadirin semua, di samping kanan panggung ini ada 10 ekor kuda yang tangguh memberi peluang bagi Anda untuk berlari pergi jauh. Siapa di antara kalian yang mau berlomba memacu kuda? Sontak banyak yang berdiri tanda bersedia.

 

Kemudian Ama Bonus menyampaikan pesannya: terima kasih, saya pilih 10 orang dari sekian banyak orang. Sekarang, saya mau bertanya kepada Anda yang 10 orang ini: apakah Anda setia kepada saya? Kalau tidak bersedia setia, saya bisa mengganti`Anda dengan orang lain. Apakah Anda ingin berjuang bersama saya membangun kampung kita ini? Apakah Anda mau berjuang bersama saya untuk memberi yang terbaik pada rakyat? Apakah Anda tidak mementingkan diri sendiri, harta dan kedudukan manakala Anda melayani rakyat? Semua berteriak: kami setia, saya berjuang?

Baiklah, kata Ama Bonus, silahkan berlomba memacu kuda ini, dan ingatlah sejauh kuda berlari, seluas dan selebar itulah tanahmu. Ama Bonus menghitung: satu, dua, tiga…..semua memacu kuda! Dan berlari sekencang-kencangnya.

Baca entri selengkapnya »

Posted in RENUNGAN | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Iman dan Perbuatan

Posted by postinus pada Januari 16, 2014


Bapak Sesa sungguh saleh menurut warga desanya. Dia rajin ke gereja berdoa kepada Allah. Suatu hari ketika dia hendak ke gereja, si Bapak Sesa bertemu dengan seorang lelaki  tua, kumal dan tampak kelaparan. Sebut saja namanya Bapak Kumal. Sambil memelas Bapak Kumal meminta belas-kasihan Bapak Sesa. Apa yang terjadi, Bapak Sesa setengah membentak lalu dia bilang: “hah…kau ini mengganggu orang ke gereja saja. Saya ini buru-buru ke gereja berdoa kepada Allah, saya tidak sempat melayanimu.” Saat berdoa di gereja, yang hadir di depan Bapak Sesa justru wajah si Bapak Kumal tadi. Bapak Kumal berkata kepadanya: “Akulah Allah yang engkau cari di gereja tapi engkau tidak melayaniKu tadi di pinggir jalan.”

Seseorang yang beriman cukup dalam, pasti memiliki kepekaan yang sangat luar biasa mengenai kemanusiaan dan penderitaan orang lain. Iman itu, bukan sekadar diketahui artinya, tapi dilakukan. Iman tidak sama dengan pengetahuan. Iman itu, bukan sekadar kesalehan berdoa saja tapi perlu beramal, punya wujud dalanm tindakan nyata.

 

Dalam Lukas 10: 25-37, tampak di situ bahwa Ahli Taurat hanya ingin mencobai Yesus, dia pura-pura bertanya saja. Yesus itu hebat. Dia lalu memberi ilustrasi yang mendalam tentang “orang Samaria yang baik hati”. Yesus menunjukkan perilaku Kaum Imam dan Lewi yang notabene sering ke Bait Allah, tidak memiliki kepekaan, tidak gampang tergerak memberi pertolongan kepada sesama. Padahal, pasti mereka itu mengetahui bahwa jalan menuju kesalehan adalah beriman dan berbuat. Tetapi ternyata, kaum imam dan Lewi itu hanya sebatas mengetahui, nihil tindakan. Orang yang tampak dekat dengan Allah (Imam & Lewi) kok tak tergerak hatinya menolong korban penyamun itu? Apa yang terjadi dengan mereka? Pertantaan untuk kita: seandainya aku hadir pada saat itu, kira-kira aku termasuk Imam-Lewi atau Orang Samaria?

Kaum Imam dan Lewi pasti beriman kepada Allah. Akan tetapi, mereka tak sampai mempraktekkan apa yang pernah dikatakan oleh Yesus: segala sesuatu yang engkau perbuat untuk salah seorang saudaraKu yang paling hina ini, engkau telah melakukannya untukKu. Orang Samaria itu menolong tidak tanggung-tanggung. Dia menolong dengan tenaganya, waktunya, cintanya, dan hartanya. Padahal, menurut orang Farisi, orang Samaria termasuk kafir karena mereka memiliki tempat doa sendiri. Orang Samaria tak diperhitungkan bahkan terpinggirkan.

Sama seperti Injil Lukas 10: 25-37, Yakobus 2 menegaskan kepada kita bahwa iman mesti diwujudkan dalam tindakan nyata. Iman itu jangan hanya di bibir, jangan seolah-olah hanyalah asesoris agar tampak saleh. Allah tidak menyukai iman yang kosong tanpa disertai perbuatan. Iman sejati akan menghasilkan perbuatan yang sejati pula. Jangan sampai kesalehan dan keimanan hanya ketika kita berada di gereja, di kapel, di ruang doa, keluar dari sana lalu perbuatan-perbuatan kita tak mewujudkan orang beriman tapi orang beringas, kita tak tampak sebagai orang yang sabar.

Saya kira, para murid mau mengikuti Yesus oleh karena sosok Yesus itu meyakinkan, memberi harapan, dan penuh ketulusan. Yesus tidak hanya berkata-kata penuh wibawa tetapi melakukannya dengan tulus. Alangkah indahnya hidup ini jika orang lain melihat kita lalu terpanggil menjadi Abdi Allah. Apakah kita sadar, bahwa pengajaran yang dalam adalah perbuatan? Anda tidak perlu berkata banyak, Anda tidak perlu meyakinkan orang dengan kata-kata yang indah memikat jika sikap dan perbuatan kita sungguh berjuang meraih kesucian, sungguh berjuang melayani penuh ketulusan. Pengajaran dan khotbah yang mendalam adalah perbuatan-perbuatan baik, tindakan memperjuangkan kebenaran dan kelemah-lembutan kepada siapapun. Ibu Teresa sudah melakukan itu. Dia pun dikenang semua kalangan entah sampai kapan. “Kulihat wajah Yesus dalam wajah orang-orang yang menderita”, begitu ungkapan Ibu Teresa.

Perubahan Hidup

Yakobus menekankan bahwa iman sejati kepada Kristus akan menghasilkan perubahan hidup dan perbuatan-perbuatan baik (Yakobus 2:20-26). Yakobus tidak mengatakan bahwa pembenaran adalah oleh iman ditambah perbuatan, namun mengatakan bahwa seseorang yang sudah betul-betul dibenarkan melalui iman akan menghasilkan perbuatan baik dalam hidupnya. Jika seseorang mengaku sebagai orang percaya, namun tidak menyatakan perbuatan baik dalam hidupnya, maka kemungkinan dia tidak memiliki iman yang sejati kepada Kristus (Yakobus 2:14, 17, 20, 26).

Apakah ritme hidup kita yang sering pergi ke ruang sembahyang, ruang doa, ruang kudus, punya buahnya dalam perbuatan-perbuatan kita kepada sesama dan musuh? Apakah kita pernah seperti Ibu Teresa yang melihat Yesus melalui orang-orang yang dia layani? Apakah wajah Yesus bisa kita lihat dalam wajah sesama, hingga musuh? Lalu bagaimana kita perlakukan mereka selama ini?

Posted in My Reflection, RENUNGAN | Leave a Comment »

OMK Penting Mempersiapkan Perkawinannya Sebelum Menikah

Posted by postinus pada Desember 30, 2013


“Kami beruntung mendapatkan pembekalan persiapan perkawinan Katolik. Kami sadar bahwa persiapan perkawinan membantu kami membentuk keluarga yang baik dan bertanggung jawab, yang merupakan wajah gereja masa depan.” Demikian kata Amurisi Zendratö, salah seorang peserta Temu Akbar Orang Muda Katolik (OMK) se-Paroki St. Fransiskus Asisi Tuhemberua Kabupaten Nias Utara (26-29/12/2013).

Temu Akbar OMK yang diadakan di aula paroki ini diikuti 240 orang peserta dari 6 rayon di Paroki Tuhemberua. Dalam kata sambutannya, Ketua Umum Panitia Kristianus Agustinus Telaumbanua menegaskan bahwa temu akbar ini dilakukan berdasarkan hasil analisis sosial (ansos) yang telah dilakukan Dewan Pastoral Paroki Inti (DPPI) Tuhemberua. Dalam ansos itu diketahui bahwa sebagian besar umat Katolik tidak mempersiapkan perkawinannya dengan baik, benar dan terencana. Oleh karena itu, keluarga tidak sungguh menghidupi nilai-nilai iman kekatolikan.

Camera 360

Sebanyak 240 peserta mengikuti acara pembukaan Temu Akbar OMK Paroki Tuhemberua, Nias Utara (26/12/2013)

Baca entri selengkapnya »

Posted in Budaya, Kegiatan OMK, Postinus Gulo, Seminar | Leave a Comment »

Rekoleksi OMK Stasi St. Andreas Hiliwaito

Posted by postinus pada Desember 2, 2013


“Kita yakin jika OMK semakin beriman, maka semakin bersemangat melayani.” Demikian kata-kata pendamping OMK Stasi Sr. Elisabet Hia, ALMA di hadapan peserta rekoleksi dari Stasi St. Andreas Hiliwaito Paroki Salib Suci Nias Barat (30/11 – 1/12/2013). Rekoleksi yang bertemakan “OMK Beriman, OMK Melayani”, dihadiri sebanyak 38 orang. Acara yang dipimpin Pst. Postinus Gulö, OSC itu diadakan di komplek Pastoran Sirombu.

Camera 360

OMK Stasi Hiliwaito foto bersama usai rekoleksi di depan Kapel Paroki Nias Barat, Sirombu (1/12/2012 

Melalui rekoleksi ini, OMK diajak untuk semakin bersemangat terlibat di dalam pelayanan kegerejaan. Selain itu, OMK diajak untuk semakin mengokohkan fondasi imannya. Berjuang terus setia pada imannya dan mempelajari iman secara mendalam. Dalam sesi-sesi rekoleksi, P. Postinus berulangkali menegaskan bahwa OMK adalah masa depan gereja. Jika OMK terlibat dalam pelayanan, gereja stasi akan hidup. Jika kuat fondasi iman OMK maka tidak gampang pindah agama, tahan atas badai apapun, memberi kesaksian penuh perjuangan dan ketulusan. (Pst. Postinus Gulö, OSC).

Posted in Kegiatan OMK | Leave a Comment »

KEPEMIMPINAN

Posted by postinus pada Juli 31, 2013


Oleh   Pst. Postinus Gulö OSC [1]

 

Pengantar

Berbicara mengenai kepemimpinan, yang terpikirkan oleh saya bukan hanya menyangkut seseorang memimpin orang lain, melainkan seseorang memimpin dirinya sendiri. Dalam paper kecil ini, arah pembahasan penulis mengenai kepemimpinan adalah kepemimpinan Kristiani. Bagi penulis, kepemimpinan tidak hanya usaha manusia melainkan juga Allah terlibat dan dilibatkan di dalamnya. Selamat membaca!

Sekilas Definisi Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai suatu tujuan. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah melakukannya dalam praktek nyata[2]. Ordway Tead (1891-1973) dalam The Art of Leadership, mengatakan: “kepemimpinan sebagai kegiatan (usaha) mempengaruhi orang-orang untuk bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan yang dikehendaki. Sedangkan menurut R.C.Davis dalam The Fundamentals of Top Management, kepemimpinan sebagai kekuatan dinamika yang pokok untuk memotivasi dan mengkoordinasikan organisasi dalam pencapaian tujuan-tujuannya.

Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan sehingga mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan (Kartono, 1994: 181). Menurut Max de Pree[3] – tokoh manajemen kepemimpinan –  pemimpin pertama-tama dipahami bukan sebagai jabatan (privilege)[4] melainkan sebagai tanggung jawab (responsibility) dan menurut saya sebagai pelayanan. Tugas seorang pemimpin adalah berusaha memberdayakan orang untuk melakukan apa yang seharusnya mereka kerjakan dengan cara yang paling efektif dan manusiawi[5]. Pekerjaan menjadi efektif jika ada framework (kerangka kerja) yang akan dikerjakan. Itu sebabnya, seorang pemimpin mesti memiliki visi dan misi yang jelas, operasional dan dapat dipertanggung-jawabkan. Seseorang melakukan hal yang manusiawi jika apa yang mereka lakukan selalu dalam koridor moral dan ajaran iman.

Inspirasi utama penulis saat menulis artikel ini adalah kepemimpinan Yesus. Kepemimpinan Kristiani selalu berpegang teguh pada ajaran dan keteladanan Yesus. Kita sebagai pengikut-Nya mesti menempatkan diri sebagai pengikut Kristus sejati (imitatio christi). Ada beberapa karakter kepemimpinan yang mestinya kita, sebagai umat Kristen, mempraktekkannya dalam hidup keseharian kita, antara lain:

1. Pendoa

Sebelum membuat keputusan penting, Yesus berdoa terlebih dahulu. “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana (Mrk. 1: 35). Yesus pergi ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul (Luk. 6: 12-13).

 

Yesus begitu intim dengan Allah. Maka, apapun yang Ia lakukan selalu sesuai dengan kehendak Bapa-Nya. Seorang pemimpin mesti beguru pada sikap Yesus itu. Modal utama pemimpin dalam merealisasikan tanggung jawabnya serta visi dan misinya adalah kekuatan doa, daya spiritual. Kesatuan pemimpin dengan Allah, menjadi semangat yang berkobar untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Bahkan menjadi sumber kebijaksanaan pemimpin dalam mengemban tugasnya.[6]

2. Pelayan

Yesus pernah bersabda: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mrk. 10: 42-45; Mat 20:20-28).

Pemimpin yang memiliki jiwa pelayan selalu berusaha mengambil keputusan yang mengarah pada bonum commune (kebaikan/keuntungan bersama) dan bukan semata-mata demi mencapai bonum private (keuntungan pribadi)[7] Yesus menggunakan istilah pelayan itu berarti pemimpin adalah bukan tipe Nato (no action talk only). Pemimpin adalah orang yang mau bertindak dan menyadari tanggung jawabnya.

Dan, yang patut diperhatikan oleh pemimpin adalah kata-kata bijak dari Ken Blanchard: “Semua pemimpin yang berjuang untuk menghasilkan hal-hal baik harus dapat mengeluarkan yang terbaik dari dalam dirinya dan orang lain. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam diri, yakni melalui hati yang mau melayani, lalu keluar untuk melayani orang lain.”[8]

3. Konsisten Mendengarkan dan Memiliki responsibility (bertanggung jawab)

Banyak pemimpin yang “tuli”, tidak cepat mendengarkan apa yang disuarakan rakyatnya. Lamban tanggap pada kondisi rakyat/umat. Apa penyebabnya? Penyebabnya adalah karena tidak punya kerelaan untuk melayani, tidak sadar pada tanggung jawabnya, enggan terlibat langsung, hitung-hitungan untung-rugi!

Responsibility berasal dari dua kata. Response: tanggapan, tindakan, jawaban. Ability: kemampuan, kesanggupan. Jadi, responsibility adalah kemampuan bertindak, kesanggupan menanggapi. Seorang pemimpin harus memiliki kepekaan pada tanggung jawabnya. Tanggung jawab adalah semangat hidup seorang pemimpin. Dalam Kitab Suci, kita sering mendengar: jika kita bisa menyelesaikan perkara kecil maka kepada kita akan dipercayakan untuk melakukan pekerjaan besar (minora servabis, mayora te servabit). Pemimpin berusaha untuk tidak meluki hati siapapun.[9]

4. Teladan

Yesus adalah teladan yang baik, benar dan bijaksana. Maka Ia disegani. Pengaruh-Nya luar biasa sehingga orang Farisi “membenci Yesus”. Mengapa, kata-kata Yesus “berpengaruh”? Karena Dia selalu menerapkan semangat Truth-telling[10]: mengatakan benar jika benar, mengatakan salah jika salah. Mengatakan baik jika baik dan mengatakan tidak baik jika tidak baik. Sikap tulus Yesus inilah yang menjadikan Dia memiliki pengaruh dan pengikut[11]. Artinya, Yesus memiliki kualitas hidup yang baik yang patut diteladani. Kelebihan Yesus bukan sebatas berkata melainkan bertindak. Ia bukan sebatas bersabda Ia memberi kesaksian dalam diri-Nya.

Seorang pemimpin harus menunjukkan dirinya secara positif (show up bukan show off) sebagai pribadi yang patut diteladani melalui: tutur kata, sikap, tindakan, dan cara hidup. Seorang pemimpin mampu bertahan lama karena kata-katanya berharga dan bisa dipercaya.[12] Yesus menunjukkan keteladanan kepemimpinan-Nya dengan jalan: pertama, menjadi panutan, memberikan teladan kehidupan (yakni semangat pelayanan) ketimbang memberikan perintah dan aturan-aturan yang memaksa. Kedua, menjadikan diri dan kehidupan-Nya sebagai teladan moralitas. Tidak ada kesalahan dan kejahatan dalam hidup/diri-Nya. Ketiga, transparan: semua orang dapat menilai dan mengalisis diri-Nya. Yesus juga tidak berbicara dengan sembunyi-sembunyi melainkan dengan lantang menyuarakan kebenaran dan kebaikan berdasarkan iman akan Bapa-Nya[13].

Seorang pemimpin harus menunjukkan teladan yan baik-benar dan kemudian melatih orang lain untuk mengikutinya. Itulah yang diterapkan oleh Yesus kepada para muridNya. Maka, mereka yang mendapat anugerah sebagai pemimpin harus mampu melatih orang lain untuk menjadi pemimpin yang handal dan yang sadar akan tanggung jawabnya.

5. Pemersatu

Yesus mencari dombanya yang hilang, walau hanya seekor. Ini adalah jiwa kepemimpinan: mencari orang yang menarik diri dari komunitasnya. Yesus mempersatukan domba yang terpisah dari komunitasnya. Sebagai seorang pemimpin harus berusaha mempersatukan orang-orang yang ia pimpin/tuntun. Pemimpin adalah pribadi yang berperan sebagai mediator, navigator dan problem solver (pemecah masalah). Pemimpin berusaha mengurangi masalah yang membuat orang tidak bersatu dan bukan menambah masalah (trouble/problem maker).

 

6. Rendah hati

Pemimpin yang menempatkan dirinya sebagai pelayan berarti dia memiliki semangat yang rendah hati. Ia juga tidak hanya berkata: sungai itu kotor melainkan ia mau membersihkan sungai tersebut[14]. Orang yang rendah hati adalah orang yang mau “turun” langsung melihat realitas/kenyataan hidup. Dalam Flp. 2: 5-11, di situ ditampilkan semangat Yesus yang sangat rendah hati. Yesus tidak sombong dengan kesalehan hidup-Nya atau karena Dia Allah. Kerendahan hati seorang pemimpin tampak juga dalam sikapnya yang mau mendengar kritik dari orang lain, seperti kata Karl Raimund Popper. Mau memperbaharui diri. Dia tidak menempatkan diri semata-mata sebagai superior/senior  tetapi sebagai socius (teman/sahabat) yang solider.

7. Self-critical (introspeksi)

zaman sekarang yang diharapkan dari setiap pemimpin adalah kemampuan dan kesediaannya untuk melakukan pemeriksaan batin: apakah kepemimpinannya mengarah pada jalur yang baik dan benar. Seorang pemimpin berusaha proaktif mengoreksi dirinya sendiri[15]. Ia mesti memeriksa batinnya apakah semangat kepemimpinannya sesuai dengan semangat kepemimpinan Yesus atau jangan-jangan hanya didasari oleh semangat egoisme dirinya sendiri.

8. Visioner dan inisiator

Seorang pemimpin idealnya adalah pribadi yang visioner, bukan reaksioner. Dalam arti, mampu membaca dan merespons tanda-tanda zaman secara bijaksana. Selain itu, ia mampu melihat yang lebih baik dan penting bagi kelancaran organisasinya. Hal ini memang membutuhkan daya kepekaan. Tanpa kepekaan seorang pemimpin tidak mampu bertindak sebagai inisiator. Pemimpin tidak semata-mata berfungsi sebagai to lead (memimpin) tetapi sekaligus to manage (mengatur/mengurus) dalam arti ia bersedia mendelegasikan kepemimpinan kepada bawahannya.

 9. Profesional

Seorang pemimpin dianggap professional jika ia membatinkan 8 etos kerja professional[16]. Etos adalah suatu spirit (semangat/daya) yang mewujud menjadi seperangkat tindakan dan perilaku khas yang berpangkal pada kesadaran yang jernih, keyakinan yang mantap, dan komitmen yang teguh pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu: pertama, menjalankan kepemimpinannya penuh syukur dan ketulusan/keikhlasan hati. Kedua, menjalankan kepemimpinannya dengan benar, penuh tanggung jawab dan akuntabilitas. Ketiga, bekerja sampai tuntas, penuh kejujuran dan keterbukaan. Keempat, menjalankan kepemimpinannya penuh daya optimisme dan antusiasme. Kelima, bekerja serius penuh kecintaan dan sukacita. Keenam, kreatif serta inovatif dalam menjalankan tugasnya. Ketujuh, bekerja secara tekun, berkualitas dan unggul. Dan kedelapan, bekerja dengan dilandasi kebajikan dan kerendahan hati.

10. Tegas (tetapi bukan keras)

Seorang pemimpin tidak boleh plin-plan. Dia harus tegas sekaligus bijak dalam mengambil keputusan. Seorang pemimpin mesti berani memutuskan apapun risikonya. Figur pemimpin semacam ini idealnya mesti memiliki self-confidence (kepercayaan diri) yang tinggi. Pemimpin yang tak memiliki self-confidence akan ragu-ragu memutuskan hal-hal yang mendesak. Ini bahaya. Yesus, berani memutuskan untuk berpihak pada kaum pendosa, sakit, dan miskin walaupun nyawa-Nya melayang. Yesus sadar, setiap keputusan pasti ada konsekuensi, entah negatif atau positif. Artinya, Yesus mampu menguasai keadaan dan tidak dikuasai oleh keadaan. Nah, seorang pemimpin jangan sampai berani memberi keputusan setelah ada desakan/paksaan. Itu berarti pemimpin tersebut dikuasai oleh keadaan.

Penutup

Kepemimpinan tak terlepas dari usaha mempengaruhi diri sendiri dan orang lain untuk mencapai tujuan yang visioner dengan tindakan yang baik, benar dan bijaksana. Seorang pemimpin adalah seorang pelayan yang memiliki pengaruh positif. Pengaruhnya terpancar dari karakter-karakter yang ia miliki. Pemimpin yang memiliki karakter seperti di atas, saya yakin, kepemimpinannya akan bermuara pada bonum commune dan semangat iman akan kepemimpinan Kristus.

Endnotes:

  1. [1] Penulis adalah pastor rekan di Paroki Salib Suci Nias Barat. Dia menyelesaikan S-1 (Filsafat) dan S-2 (Teologi) di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Makalah ini disampaikan pada acara inisiasi dan integrasi calon mahasiswa STP Dian Mandala Gunungsitoli, 31 Juli 2013.
  2. [2] Lihat www.wikipedia.org/wiki/kepemimpinan, diakses 29 Juli 2013.
  3. [3] Lihat http://www.depree.org/html/maxdepree.html, diakses 6 Desember 2008. Max pernah mengatakan: kepemimpinan berkaitan erat dengan a belief and a condition of the heart (jujur, terbuka, ikhlas, beriman, dan optimis).
  4. [4]Oleh karena itu, seorang pemimpin tidak harus memiliki jabatan sentral-struktural. Seorang pemimpin bisa saja dari antara umat biasa atau rakyat biasa.
  5. [5] Seperti dijelaskan oleh A.M.Lilik Agung, “Berburu (Calon) Pemimpin,” dalam HIDUP Edisi 28 September 2008, hlm. 50.
  6. [6] Lihat Gusti Faran, Pr dalam http://www.neracakehidupan.blogspot.com, diakses 6 Desember 2008.
  7. [7] Bdk., Paulus Winarto, Paulus Winarto, The Leadershp Wisdom (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2005), hlm. 34.
  8. [8] Sebagaimana dikutip Paulus Winarto, Ibid., hlm. 48.
  9. [9] Bdk. C.V.Cleeton dan C.W.Mason dalam Executive Ability its Discovery and Development: “Kepemimpinan menunjukkan kemampuan mempengaruhi orang-orang dalam mencapai hasil melalui himbauan emosional dan bukannya melalui penggunaan kekerasan.
  10. [10] Kata-kata bijak dari teolog kondang, Robert J. Schreiter.
  11. [11] Leadership is influence (Kepemimpinan adalah pengaruh), kata J. Oswald Sanders, sebagaimana dikutip Paulus Winarto, Op.Cit., hlm. 4. Orang yang mengklaim dirinya sebagai pemimpin tetapi dia tidak memiliki pengikut, ia bukanlah pemimpin.
  12. [12] Lihat  Andri Wang, The Wisdom of Lao Zi, (Jakarta: Gramedia, 2009), hlm. 66.
  13. [13] Lihat http://bobbybutarbutar.wordpress.com/2008/04/24/menjadi-pemimpin-kristen, diakses 10/11/2008.
  14. [14] Bandingkan dengan kata-kata Ross Perot: The activist is not the man who says the river is duty. The activist is the man who cleans up the river (Aktivis bukanlah seorang yang hanya bisa mengatakan sungai itu kotor. Aktivis adalah orang yang membersihkan sungai tersebut). Kata-kata Ross Perot ini dikutip oleh Paulus Winarto, Op.Cit., hlm. 30.
  15. [15] Karl R. Popper, Open Society Vol. I (New Jersey: Princeton University Press, 1996).
  16. [16] 8 Etos kerja ini saya intisarikan dari pendapat Jansen Sinamo, seorang motivator terbaik Indonesia.

Posted in Budaya, Kumpulan Tulisan-Opini, Seminar | Dengan kaitkata: , , | 4 Comments »

Pembinaan Rohani Pasutri Muda Paroki Salib Suci Nias Barat

Posted by postinus pada Juli 17, 2013


“Keluarga merupakan gereja kecil dan wajah gereja. Jika keluarga berkualitas maka gereja juga berkualitas. Keluarga ibarat sel utama gereja.” Demikian pernyataan Pastor Ignatius Purwo Suranto OSC mewakili Pastor Paroki Salib Suci Nias Barat dalam acara pembukaan retret pasangan suami-istri (pasutri) di Aula Paroki Salib Suci Nias Barat di Mandrehe (13-16/7/2013). Pembinaan rohani (retret) yang bertemakan “Kasih Sayang dalam Keluarga” diikuti oleh 22 pasangan suami istri muda. Acara ini diprakarsai Paroki Salib Suci Nias Barat dan Wanita Katolik (WK).

DSC02206

Sr. Naomi, SdC sedang memandu ice breaking agar peserta semakin semangat mengikuti retret pasutri (15/7/2013).

Ketua WK Cabang Nias Barat Yustina Waruwu, mengatakan bahwa retret pasutri tersebut bertujuan antara lain, pertama, untuk menyadarkan kembali pasutri Katolik pada kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai suami-istri. Kedua, agar peserta berjuang mensejahterakan keluarga secara rohani-jasmani. Ketiga, agar suami-istri semakin membina kasih sayang dalam keluarga, keterbukaan dan komunikasi yang baik dan benar dalam keluarga.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Arsip, Pemberdayaan Pasutri | Leave a Comment »

OMK Paroki Salib Suci Nias Barat Dipanggil Selalu Setia Pada Imannya

Posted by postinus pada Juni 30, 2013


“Seluruh kisah hidupku kuingat kembali. Kesediahan yang mendera karena ditinggal kedua orangtua saat masih kecil, tak membuatku minder dan takut. Kuyakin Tuhan selalu bersamaku. Dalam acara inilah semakin kuyakini itu.”Demikian kata salah seorang peserta, Fenny Zebua menuturkan kesannya seusai Temu Akbar Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Salib Suci Nias Barat.

Temu Akbar ini diadakan di Aula Paroki Salib Suci Nias Barat (27-30/6/2013), dengan tema “Tabohouni Wa’aurida” (Baharuilah Hidupmu). Temu Akbar ini diisi dengan pendalaman iman yang bernuansa karismatik Katolik. Narasumber didatangkan dari Seksi Kepemudaan Badan Pelayanan Keuskupan Pembaharuan Karismatik Katolik (BPK PKK) Keuskupan Bandung sebanyak 11 orang yang diketuai Johanes Widiadi. Kegiatan ini diprakarsai Pst. Postinus Gulö OSC sebagai moderator OMK Paroki Salib Suci Nias Barat dan Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Sibolga.

DSC09522

Peserta Temu Akbar OMK dari Rayon 3 yang sebagian besar dari Mandrehe Utara (Mandrehe, 30/6/2013)

Baca entri selengkapnya »

Posted in Arsip, Kegiatan OMK, Seminar | Leave a Comment »

Budaya “Böwö” Perkawinan Öri Moro’ö dan Warta Injil

Posted by postinus pada Oktober 1, 2012


Oleh Pastor Postinus Gulö, OSC., S.S., M.Hum[1]

Abstract

In West Nias, particularly in Öri (sub tribe) Moro’ö, the social or the group’s interest is superior to the individual one. Consequently, the parents and relatives of bridegroom have authority upon their son and daughter. They are the one who decide to whom his son or daughter to marry with. Practically, böwö (bride-wealth) implementation in Öri Moro’ö ignores the husband-wife’s well being.  Research data, held in March 2011, shows that böwö implementation becomes  the root causes family’s burden in West Nias (97,1%). Moreover, böwö in Öri Moro’ö is a source of community’s hardship (88,5%) and poverty (86,2%). Therefore,  after having celebrated the wedding, the new couple becomes poor and has a lot of debts such as money interest (94,8%), pigs (94,1%), and traditional commercial association (92,8%). Therefore, in dealing with it, it is the favorable time for both local Church and the local government of West Nias to conduct such a systematic  and continuous pastoral plans to give rise  consciousness,  encourage, and empower the Moro’ö’s people to understand the essence and the purpose of marriage. Moreover, pastoral ministers must open themselves so that they can understand the Nias culture as locus au-aggelion or god news and overcome various  problems  regarding the implication of  böwö.

Keywords: Böwö, warta-injil, kemiskinan, utang, kesepakatan, “kawin-paksa”, kebebasan, persiapan perkawinan.

Introduksi

“Consuetudinis vis magna est”(pengaruh sebuah kebiasaan sungguh luar biasa’). “Consuetudo altera natura est” (kebiasaan adalah kodrat kedua). Budaya itu termasuk lingkup “kebiasaan”. Oleh karena itu, pengaruhnya pasti luar biasa terhadap sendi kehidupan masyarakat secara rohani-jasmani. Berdasarkan pandangan ini, maka budaya yang cenderung tidak humanis menggerogoti pewartaan Injil. Akibatnya menghambat perkembangan keimanan umat Allah itu sendiri. Budaya semestinya hadir sebagai bagian dari media pewartaan Injil, yakni kabar baik (god news) yang menghadirkan Kerajaan Allah-antropologis sebagaimana muara pandangan teolog termasyhur Edward Schillebeeckx (ES) dalam Anthropological Constant-nya. Bagi ES, keselamatan tidak hanya di Kerajaan Allah di sana, tetapi keselamatan sekarang yang hadir dalam konteks umat. Jika budaya sebagai konteks umat Allah, maka sebenarnya ia mesti menjadi sarana pencapaian keselamatan itu.

Tetapi seringkali budaya itu dimanipulasi oleh manusia itu sendiri. Akibatnya budaya ibarat pagar makan tanaman. Seolah-olah wajar saja budaya mengendalikan manusia dan tidak wajar jika manusia yang mengendalikan budayanya. Ini logika terbalik! Budaya yang notabene sebagai hasil ciptaan manusia, kadang membelenggu manusia itu sendiri. Ada solusi yang pantas direnungkan agar tidak terjadi hal ini, yakni otorefleksi dan otokritik terhadap budaya sendiri. Seperti kata Prof. Dr. Bambang Sugiharto,[2] budaya yang anti kritik akan menghancurkan manusia. Namun, budaya yang terbuka pada kritik akan membawa nilai-nilai humanitas, prinsip  kebenaran, keindahan-harmonis, dan kebaikan.

Dalam paper ini, marilah kita membahas salah satu bagian dari budaya Nias, yakni pelaksanaan böwö. Marilah kita melihat apakah pelaksanaan böwö tersebut sejalan dengan nilai-nilai dan semangat injili (au-aggelion) atau tidak. Kalau tidak, lalu apa efeknya kepada umat Allah di Nias yang merupakan penganut Kristiani. Selamat membaca!

 

APA ITU KE-BUDAYA-AN DAN INJIL?

Budaya dapat didefenisikan sebagai suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.[3] Sedangkan ke-budaya-an merupakan hasil cipta manusia yang berwujud ide/gagasan, kebiasaan, nilai-nilai, norma, peraturan, aktivitas, tindakan berpola masyarakat, dan benda-benda.[4]Dari pengertian ini, tampak jelas bahwa adanya budaya karena ada manusia. Manusialah sebagai subjek dari budaya itu. Budaya itu ada sebagai manifestasi dari local widom dan sekaligus local morality suatu suku-bangsa. Sejatinya budaya itu semacam “kabar gembira” bagi warga adat. Adat merupakan wujud ide-ide dari kebudayaan yang mencakup empat tingkatan: (1) tingkat nilai budaya, (2) tingkat norma-norma, (3) tingkat hukum, (4) dan tingkat aturan khusus.[5]

Adat perkawinan Nias yang termanifestasikan di dalam praktek böwö merupakan salah satu wujud kebudayaan yang dijiwai oleh ide-ide, norma-norma dan tata nilai sebagaimana diatur dalam fondrakö (aturan adat). Sejatinya böwö termasuk kabar “gembira” (god news) dan bukan kabar “dukacita” (bad news). Tindakan dan aktivitas masyarakat dalam pelaksanaan böwö merupakan saat mempraktekkan gagasan-gagasan, norma-norma dan nilai-nilai yang terkandung di dalam sistem perkawinan itu sendiri sebagaimana diatur dalam hukum adat Nias di setiap Öri.

Sementara Injil dapat dipahami sebagai kabar gembira (au-aggelion). Kabar gembira yang dimaksud, yakni Kerajaan Allah; atau segala sesuatu yang melegakan dan mengarahkan umat mengharapkan, mengalami pembebasan dan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah dialami oleh mereka yang berada dalam kedamaian, kebebasan dan keselamatan. Di dalam teologi kristiani, paham Kerajaan Allah tidak hanya dipahami “nanti” tetapi sekaligus “sekarang” (bdk. Luk. 17: 20-22). Kabar gembira injili –  “Kerajaan Allah” – sesungguhnya memberi harapan, mengangkat orang kecil (bdk. Mat 5: 3-12). Dengan kata lain, Kerajaan Allah yang merupakan pusat pewartaan Yesus berarti transformasi semua struktur manusia demi keadilan dan hak-hak orang miskin.  Kerajaan Allah itu pun sudah terjadi kini tetapi juga nanti/belum[6] (gia e non ancora atau already but not yet).

Pantas kita renungkan: apakah dengan hutang, kita memberi harapan pada orang Nias? Tidak! Kita malah memberi belenggu kepada orang Nias. Apakah dengan memberi sumange (penghormatan adat) dan menerima sinema (bagian), yang “kadang” melahirkan utang, kita mempraktekan kasih? Janganlah kasih kita percuma dan pura-pura (bdk. Rom 12:9-10). Kasih yang sesungguhnya adalah kasih yang diberi penuh ketulusan, tanpa paksaan, tanpa terbebani. Kasih yang sesungguhnya membawa kedamaian batin, kesejahteraan holistik, dan tidak menjerumuskan manusia terhadap belenggu utang kesengsaraan. Antara budaya dan Injil mestinya saling “membutuhkan” bukan saling merendahkan! Budaya mesti berwujud “kabar gembira” bagi warga adat, dan Injil mesti diwartakan dengan media budaya setempat.

Kita warga Nias, perlu memahami bahwa ketika seseorang dibaptis, ia memiliki kewajiban bersatu jiwa-raganya dengan ajaran dan semangat Kristianitas; tetapi juga jangan sampai melupakan identitas lokalnya. Nilai-nilai Injili/kabar gembira/kabar sukacita menjadi bagian dari kehidupan nyatanya. Jangan sampai kita mengaku pengikut Kristus tetapi kita lebih hidup sesuai adat nenek moyang kita; kita jangan sampai lebih mencintai kebiasaan adat daripada firman Allah; jangan sampai kita lebih tunduk pada adat kebiasaan daripada firman Allah. Bukankah Yesus pernah menegur orang Farisi: “Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia…Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri”(Mrk 7:8-9).

Kita bisa bercermin dari Yesus itu. Dia, seseorang yang berbudaya Yahudi. Tetapi ia juga melakukan otokritik, reposisi dan otorefleksi serta penyempurnaan terhadap budaya-Nya yang cenderung kaku/legalistik dan bahkan membelenggu rakyat-Nya (bdk. Mat 15: 1-20). Bagi, Yesus “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk Hari Sabat (Mark. 2: 27). Jadi, budaya mestinya dibuat untuk manusia bukan manusia untuk budaya. Böwö dibuat untuk Ono Niha dan bukan Ono Niha untuk böwö. Dengan demikian, budaya “böwö” mestinya mengangkat-membebaskan Ono Niha dan bukan sebaliknya menenggelamkan Ono Niha dalam belenggu-belenggu (dominasi, kawin paksa, kemiskinan, utang).

Permasalahan yang sering muncul, yakni para penganut adat Nias (böwö) kurang mampu menyelaraskan semangat Injil ke dalam praktek budaya. Para penganut böwö, seringkali tidak memiliki iman kristiani, sehingga berlaku seperti orang Farisi-munafik yang menerapkan “kebiasaan”, adat-istiadat secara kaku dan membelenggu, bukan lagi membebaskan dan menggembirakan. Akibatnya, nilai-nilai kristiani tergusur oleh pengaruh “kebisaan” yang sebenarnya tidak selalu sejalan dengan makna böwö itu sendiri. Kecenderungan yang muncul dalam pesta-pesta budaya adalah “höngö owasa, awö döi fayawasa” (pesta besar demi gengsi). Demi gengsi, mereka melupakan situasi ekonomi kini dan masa depan. Saya sering merasa bahwa di dalam pesta-pesta adat Nias, kita jauh dari semangat Kristianitas (bdk. Kis 4: 32-37). Sebab kita cenderung memikirkan gengsi dan diri kita serta kelompok kita.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Seminar | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: