BERBAGI INSPIRASI

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..


    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 122,786 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Juni 2017
    S S R K J S M
    « Mei    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  

La situasizione dell’insegnamento scolastico della religione cattolica in Indonesia

Posted by postinus pada Mei 20, 2017


Postinus Gulö, OSC

20141217_091723

Gli studenti indonesiani della Tribú Nias che studiano nella scuola superiore (foto: Postinus Gulö OSC/17.12.2014).

Questo articolo é il mio elaborato breve nel corco di prassi amministrativa di munus docendi nella Facoltà di Diritto Canonico alla Pontificia Università Gregoriana Roma.

In esso vorrei scrivere per dare risposta alla domanda proposta dal docente, cioè: «Descrivere la situasizione dell’insegnamento scolastico della religione cattolica nel proprio Stato, specificando soprattutto le modalitá di affidamento dell’insegnamento e il rapporto con l’Ordinario del luogo».

Libri di insegnare

In generale, nel nostro paese, l’Indonesia, tutti i libri per l’insegnamento scolastico della religione cattolica devono essere approvati dalla Conferenza Episcopale Indonesiana (CEI). Da questo punto di vista, si deve dire che sia il processo dello scrivere libri sia l’attività dell’insegnamento devono seguire il parere della Chiesa, a norma dei cann. 804, 823, 827 §2.

Tutti i libri di religione cattolica indonesiani, sono inoltre riconosciuti dallo Stato Indonesiano secondo le leggi: 1) La legge No. 20 Anno 2003 artt. 12 e 55; e 2) La Legge No. 12 Anno 2012. Baca entri selengkapnya »

Posted in Arsip, Pendidikan Anak, Postinus Gulo, Seminar | Leave a Comment »

Matinya Akal Sehat dalam Pilkada Jakarta

Posted by postinus pada April 21, 2017


FB_IMG_1483708389148Sumber foto: akun twitter@Hajilolong

Ahok-Djarot kalah dari pesaingnya Anies-Sandi 19 April 2017 dalam Pilkada DKI Jakarta putaran kedua. Walau 70 % rakyat DKI puas atas kinerja Ahok-Djarot, bukan jaminan kembali duduk sebagai Gubernur-Wakil Gebernur Jakarta. Isu SARA terbukti mematikan akal sehat: Anda berkinerja baik pun belum tentu dipilih sebagian besar rakyat! Jika begitu, politik Tanah Air mundur.

Pemilih sebagian besar memilih alasan primitif dibanding alasan rasional. Tidak cukup Ahok dituduh kafir tetapi juga keturunan Tionghoa. Ahok terus-menerus mereka tempelkan stigma sebagai penista agama.

Presiden Joko Widodo pernah melontarkan kalimat bernas: “Pilkada harus dilewati dengan gembira, bukan dengan memecah persatuan dan kesatuan.” Bersaing tidak boleh menyebar kebencian. Jangan demi jabatan empuk, kau injak sesamamu!

Seharusnya, Anda memilih yang telah terbukti kerja. Seharusnya Anda memilih mereka yang membangun Bhinneka Tunggal Ika, memperkokoh Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia. Kita masih ingat kalimat bijak Pater Frans Magnis Suseno SJ: “Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa”. Saat Pilkada seharusnya pun demikian.

Kemenangan Kaum Intoleran?

Harapan itu seolah sirna 19 April itu. Kaum intoleran merayakan kemenangannya. Kini preman jalanan semakin lantang bersuara. Seperti kata jurnalis Amerika Serikat Allan Nairn, “they elevate themselves from street killers to theologians”. Mereka berhasil melesatkan reputasi mereka sendiri dari preman jalanan mendadak menjadi ahli agama.

Gayung bersambut. Mereka mampu mendatangkan massa jalanan kapanpun. Demonstrasi mereka laksanakan berjilid-jilid dengan jargon aksi damai dan doa bersama. Mereka berhasil membuktikan: membungkus segalanya dengan agama, ampuh menjungkalkan lawan! Terbukti benar peringatan filsuf Ibnu Rusyd: “Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala sesuatu yang batil dengan kemasan agama”(1126-1198). Kata batil berarti hal-hal palsu, keluar dari kebenaran, sikap munafik dan bahkan perbuatan terlarang. Oleh karena itu, sekali lagi, pemotilisasi agama merupakan peringatan serius untuk politik Tanah Air kita.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Kumpulan Tulisan-Opini, Politik, Seminar | Leave a Comment »

We Should Constantly Examine Our Consciences (Sunday Homily, April 2, 2017)

Posted by postinus pada April 2, 2017


By R.P. Postinus Gulö, OSC

Two days ago, we had a discussion as regard atheists who have no religious affiliations and feel no need of belonging to any religious group and who do not belief in God. For these sets of persons God is not necessary, but far from this erroneous idea of theirs. Because we know that God is necessary.

However, there are some Catholics who belief in their minds but through their actions, they do not only criticize the Church but also stand up in heretic ways (cf. can. 751 CIC 1983).

photo

During this discussion, two questions came to my mind. The first: do I really feel the need of God or is God necessary in my life? The second is, ‘how do I help myself to understand the truth about God that is not based on my own relative view but a view that is objective? This is what Pope St. John Paul II discussed in his encyclical letter ‘Fides et Ratio’ i.e. ‘Faith and Reason’. With a favorable answer to these questions, I will then be better equipped to facilitate and lead others to the belief of God.

In the second reading of today, I find the answer to the above questions: we should constantly   examine our consciences. In the words of a philosopher Socrates who said: “The un-examined life is not worth living”. So, brothers and sisters, the imperative question is: “I am in the flesh or is the spirit of God in me? I am walking in my ways or in God’s way? Do I obey God or satisfy my inclinations? If only the spirit of God dwells in us, we belong to God.

Therefore, Paul teaches us that we should, in fact, “see the time go by”: from life in the flesh to life in the spirit, from the ways of the world to the ways of God.

On against this background therefore, Paul invites us to consecrate ourselves to the truth. We are called to receive the truth, and not to reject it. We are called to the light of goodness, not to the darkness of evil.

In Gospel of today, we see the relevance the presence of Jesus in our lives. As Martha says to the Lord: “Lord, if you had been here, my brother would not have died. But I know that even now God will give you whatever you ask.” And the fruit of Martha faith is Lazarus – her brother – rose again from the death.

A very important lesson today is that we must examine our consciences daily. We should refrain from judging others such as atheists or heretics, but rather let us utilize our time to walk in God’s way. Also, we should try to increase our faith as Martha did.

Perhaps in that way, our brothers and sisters are walking in God’s ways when they see that we are true witnesses, just as Pope Blessed Paul VI says in his ‘Evangelium Nuntiadi’: ‘that modern man is tired of listening to teachers and even if he listens is because they are witnesses’ (EN 41). Thus, we will be able to lead other people such as heretics and atheists to the acceptance of God and even the teachings of the Church.

God wants us to see things afresh, not in our usual ways but rather in His renewing ways. Amen.

Posted in Homily, My Reflection, RENUNGAN | Leave a Comment »

Inspirasi Khotbah, Minggu 12 Februari 2017

Posted by postinus pada Februari 9, 2017


Pembukaan/Ilustrasi

Berbagai paroki di Nias beberapa kali melaksanakan pelatihan untuk memberdayakan umat stasi. Di Paroki Salib Suci Nias Barat, Pastor Mathias berjuang keras mendampingi pasangan suami-istri (pasutri) dan Wanita Katolik, bahkan telah banyak beliau fasilitasi rekoleksi dan retret Pasutri dan Wanita Paroki Nias Barat.

Camera 360

Camera 360

Temu Akbar OMK Paroki Tuhemberua, Keuskupan Sibolga.

Sejak sinode Keuskupan Sibolga 2009, banyak aturan yang disampaikan kepada kita umat Allah. Tujuan utama adalah agar kita sebagai umat “berdaya”, dan kalau sudah berdaya maka kita mampu “membebaskan diri” dari belenggu yang menghambat kedalaman iman kita. Hasil akhir dari itu adalah kita “mandiri” dan setia pada iman kita.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Inspirasi Khotbah, RENUNGAN | Leave a Comment »

The Lesson: Ekspresi Dehumanisasi dan Keabsurditasan Bahasa

Posted by postinus pada Februari 3, 2017


”Seorang mahasiswi doktoral, tak berdaya ketika sang profesor menghabisi nyawanya. Profesor begitu kejam. Akal sehatnya sirna. Kecerdasan intelektualnya tak jalan. Sang professor pada akhirnya justru tunduk pada pembantunya sendiri untuk menghabisi mahasiswi yang tampak lemah itu”.

Kita mengira bahwa ini adalah cerita. Namun, bagi Eugene Iunesco penulis naskah  teater “the Lesson”, ini bukan cerita. Iunesco sangat anti cerita, anti teater, anti plot, anti literatur, anti realisme, anti logika. Ini teater absurd! Menurutnya, yang terjadi di panggung adalah peristiwa yang mungkin saja tak pernah terjadi dalam kenyataan hidup.

NPG x31639,EugËne Ionesco,by Ida Kar

Seni tidak pernah nyata dan tidak dapat dikembalikan pada kenyataan. Yang nyata adalah “kata pisau” yang telah membunuh sang mahasisiwi. Dan dari fenomena itu, kata dan bahasa telah menjadi alat kekuasaan, kekejaman. Kekuasaan akan berbahaya jika dijalankan penuh perasaan. Profesor ketika memegang pisau itu, ia dikontrol oleh perasaannya, bukan lagi daya intelektualnya. Baca entri selengkapnya »

Posted in Philosophy, Politik, Teropong Teater | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Damailah Jakarta!

Posted by postinus pada November 4, 2016


Ada dua kata dalam bahasa Inggris yang hampir mirip penulisannya tapi sangat berbeda arti: sword (pedang) dan word (kata). Jika kata “Word” ditulis dengan diawali huruf kapital, maka artinya “Sabda”. Akan tetapi, biarpun kita tulis kata “Sword” dengan diawali huruf kapital tetap saja berarti “pedang”.

“Kata” yang mengandung dan disampaikan dengan kebenaran, kebaikan, dan kebijaksanaan menjadi “sabda” yang memberi “rahmat” kepada manusia. Sebaliknya, “kata” yang dipelintir oleh mereka yang punya tujuan mengacaukan, akan menjadi “petaka”, karena menjadi alat provokasi yang melahirkan permusuhan, bahkan pedang.

kata-dan-pedang

Sumber foto: http://intisari-online.com/Inspiration/Tell-Your-Story/Kata-Kata-Bagaikan-Pedang

Baca entri selengkapnya »

Posted in Berbagi Inspirasi, Motivasi | Leave a Comment »

Ziarah ke Clair-Lieu Belgia: Ibarat Pergi ke Kampung Krosier

Posted by postinus pada September 19, 2016


Oleh Kfr. Postinus Gulö, OSC

Dalam Kekristenan, Salib tidaklah selalu dihayati dalam konteks penderitaan. Salib simbol keselamatan. Itu sebabnya, motto Ordo Sanctae Crucis atau Ordo Salib Suci (OSC) adalah “In cruce salus” (dalam salib ada keselamatan). Di kayu Salib, Yesus Kristus menyelamatkan umat manusia. “Salib”, menjadi simbol bahwa mengikuti Kristus pasti melalui berbagai tantangan berat. Tapi, mereka yang setia, walau kehilangan nyawa sekalipun, itulah yang mendapat upah keselamatan.

OSC, yang juga sering disebut “krosier” (para saudara biarawan Salib Suci), awalnya, lahir karena melihat dunia yang semakin “gelap” sehingga kehidupan iman mengalami disorientasi. Melenceng dari misi Allah! Pendiri OSC pun memilih tempat terang “Clair-Lieu” sebagai tempat memancarkan cahaya bagi dunia.

Biara Clair-Lieu berada di Huy, Belgia. Saya sangat bersyukur kepada Allah bahwa saya mendapat kesempatan mengunjungi tempat ini pada hari Rabu (15/9/2016). Biara Clair-Lieu merupakan tempat awal berdirinya OSC sebagai Ordo Kanonik Regulir dengan pimpinan pertama adalah Theodorus de Celles. Kemudian, kita lebih mengenal Theodorus ini sebagai pendiri OSC, walaupun sebenarnya dia mendirikan OSC bersama beberapa imam lainnya.

20160915_164432Gereja sebelah kanan foto ini adalah Basilika La Collegiale Notre-Dame, Huy (Belgia) persis di pinggir Sungai Maas (foto: Kfr. Herry OSC; Rabu, 15/9/2016).

Saya sangat berterima kasih kepada Provinsial Kfr. Hendra OSC dan para konfrater di Generalat OSC di Roma karena mendukung saya untuk memanfaatkan hari-hari libur dengan menimba pengalaman yang tidak saya dapat di bangku kuliah. Saya mengambil kesempatan libur ke Belanda dan Belgia (12 s/d 21 September 2016). Di dua negara ini saya mengunjungi komunitas OSC (di Belanda: komunitas Uden dan Sint Agatha; di Belgia: Komunitas Hannut dan Maaseik).

Baca entri selengkapnya »

Posted in Bangga Memilih OSC, Seminar | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Inspirasi Khotbah, Minggu, 4 September 2016

Posted by postinus pada September 2, 2016


Inti Bacaan:

  • Manusia mengenal kehendak Allah jika ada kebijaksanaan dari Allah. Maka perlu mendekati Allah, membiarkan Allah bersama kita, dituntun olehNya (bacaan I).
  • Hanya orang-orang yang punya kebijaksanaan Ilahi yang mampu bertahan dalam penderitaan karena mengikuti Kristus (contohnya: Rasul Paulus). Bahkan dalam penderitaanpun, Paulus mampu berpikir bijaksana: Terimalah dia, bukan sebagai hamba, melainkan sebagai saudara terkasih.”
  • Mengikuti Kristus kadang tak selalu sejalan dengan logika manusia. Maka, Yesus menekankan agar lebih mencintai Kristus (Allah) daripada teman, keluarga, orangtua, dst. Perhitungan mengikuti Yesus mesti berdasarkan hitungan kebijaksanaan Ilahi, bukan perhitungan manusiawi kita saja (bacaan Injil). 

Dua tipe manusia:

Pertama, suka yang menyenangkan, mengenyangkan, dan mengagumkan.

Kedua, memilih “harta” yang abadi, yakni mencari dan bersama Allah.

Ilustrasi:

Seorang raja membangun dua buah rumah. Ia panggil semua pekerjanya agar membangun dua rumah itu dalam jangka waktu 3 bulan. Di sebelah kiri kerajaan di bangun satu rumah. Rumah ini nanti akan diisi dengan berbagai jenis makanan, perhiasan emas, berbagai jenis Hp canggih, pakaian berbagai model dan berbagai jenis film. Baca entri selengkapnya »

Posted in Inspirasi Khotbah, RENUNGAN | Leave a Comment »

Berdoa, Bukan Mengadukan Orang Lain Kepada Allah

Posted by postinus pada Februari 10, 2016


Salah satu khas Injil Lukas adalah mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Pada zaman Yesus, seringkali, mereka yang “berdosa” direndahkan dan dikucilkan oleh golongan Farisi.

Tak sedikit di antara mereka menganggap diri paling benar. Merasa paling tahu isi Kitab Suci. Bahkan paling menaati semua aturan hukum Taurat. “Perasaan” paling benar itu, lalu menjadi dasar untuk merendahkan yang lain: Tuhan, aku bukan seperti orang berdosa itu, aku taat hukum Taurat! Lihat, ketaatan pada hukum Taurat membuat mereka sombong. Bukan merendahkan diri!

Akhir-akhir ini, ada banyak yang punya sikap seperti orang Farisi itu. Bahkan semakin parah karena tidak saja mengadukan orang lain kepada Allah tetapi mengatur dan memaksa “Allah” mengikuti kehendak mereka. Anda bayangkan jika oknum pemuka agama berdoa agar orang lain celaka. Bagi saya “doa” semacam itu bukanlah doa, melainkan jampi-jampi. Doa yang benar adalah membiarkan kehendak Allah yang terjadi. Kita pemohon mesti jeli mendengarNya agar kita mampu bekerja sama mewujudkan kehendakNya. Maka, dalam doa sekaligus kita mengolah diri agar mampu melakukan “discernment” (pembedaan roh). Roh ke’Allah’an mesti itulah yang menuntun diri kita!

Kita sudah terlalu jenuh melihat kelakukan yang merasa paling benar, pemilik surga, berlaku hakim terhadap sesama, yang meretakkan persaudaraan. Mereka yang telanjur terasah tajam dalam kebencian, pasti tumpul berhadapan dengan kemanusiaan. Radikalisme pun menjadi paham yang setia mereka anut, pluralisme mereka abaikan. Apalagi humanisme mereka buang!

farisi

Lihatlah, semua yang berbeda dengan mereka seolah menjadi ancaman, mereka berjuang melenyapkan! Meminjam istilah filsuf Sartre: seolah orang lain adalah neraka bagi mereka!

Membanggakan diri di hadapan Allah salah satu sikap kesombongan. Menurut teolog Thomas Aquinas, salah satu penyebab utama dari dosa adalah kesombongan itu sendiri. Kesombongan merupakan sumber dosa!

Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain, apalagi yang mereka anggap pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Tidak hanya itu, mereka merasa diri paling taat hukum, maka percaya diri bahwa mereka pula yang pantas masuk surga. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa di hadapan umum. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka.

Baca entri selengkapnya »

Posted in My Reflection, RENUNGAN | Leave a Comment »

Dua Duta Besar Hadiri Perayaan Natal IRRIKA di Roma

Posted by postinus pada Januari 10, 2016


Dua Duta Besar RI menghadiri perayaan Natal Ikatan Rohaniwan-Rohaniwati Indonesia di Kota Abadi (IRRIKA) yang diadakan di Collegio San Paulo Roma, Minggu (10/1/2016). Dalam pesan Natalnya, Duta Besar RI untuk Tahta Suci Budiarman Bahar menyampaikan bahwa “perayaan Natal menjadi kesempatan untuk merefleksikan diri kita sebagai bangsa Indonesia. Kita memiliki Pancasila sebagai dasar Negara, dan pedoman kita untuk saling menghargai sebagai satu keluarga Allah.”

20160110_124410

Suasana ramah tamah perayaan Natal dan tahun baru komunitas IRRIKA di Collegio San Paulo Roma, Minggu, 10/1/2016(foto: P. Postinus OSC). Baca entri selengkapnya »

Posted in Arsip, Natal | Leave a Comment »

Waspadalah, Korupsi Menghampirimu!

Posted by postinus pada Desember 22, 2015


Oleh Postinus Gulö

 

Prihatin! Itulah yang bergejolak dalam hati saya menjelang Pemilu Legislatif (Pileg) 9 April 2014. Betapa tidak, ada banyak warga Nias cenderung memahami dan mempraktekkan politik secara negatif, koruptif dan tak etis. Kecenderungan itu kadang-kadang saya baca dari komentar yang ditulis dalam sosial media, koran, dan pembicaraan sehari-hari. Tidak hanya di Nias, sikap semacam itu masih kita temukan hampir merata di negeri ini.

Ketika kita berbicara mengenai ‘pesta politik’ Pileg 9 April tahun 2014 dan juga membicarakan tentang Calon Legislatif (Caleg) dan calon DPD, lantas banyak orang pula yang menaruh curiga: sekarang dia banyak janji dan ramah, tapi nanti dia lupakan kita. Kecurigaan itu ada benarnya; tidak sedikit Caleg ketika sudah duduk di kursi empuk lalu melupakan konstituennya. Bahkan ada banyak oknum dewan yang sering terlibat konflik dengan eksekutif didorong kepentingan pribadi, bukan kepentingan rakyat! Akibatnya, kinerja pemerintah tersendat, rakyatpun lamban menikmati pembangunan. Sekarang pun, ada banyak Caleg yang kita ragukan integritas dan konsistensinya. Kita harapkan para Caleg memiliki motivasi yang baik dan benar bukan memburu proyek dan memperkarya diri kelak jika memenangkan Pileg.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Arsip, Pemilu, Politik, Seminar | Leave a Comment »

Bangun Sikap Saling Memiliki di Nias Barat

Posted by postinus pada Desember 22, 2015


Oleh Postinus Gulӧ

 

“My country, right or wrong; if right, to be kept; and if wrong to be set right” (Negeriku, benar atau salah; jika benar, untuk dijaga tetap benar; jika salah, untuk diperbaiki) . Demikian kata-kata bijak Carl Schurz yang semestinya menjadi sikap warga negara yang hidup dalam sistem demokrasi. Bagi Schurz, di saat negerinya melakukan kesalahan bukan untuk dijadikan bahan olok-olokan; bukan pula untuk dibiarkan hancur atau dihancurkan! Siapapun yang tulus membangun kampung halamannya sekuat tenaga berjuang memperbaiki kesalahan negerinya itu. Schurz hendak menanamkan rasa saling memiliki dan bertanggungjawab pada warga negara. Schurz sangat paham bahwa kritik yang bermakna adalah kritik yang memberi solusi, bukan kritik sebatas olok-olokkan, bukan pula kritik provokatif yang mengarah pada dekonstruktif semata.

 

Kritik Nihil Solusi

Semangat Schurz di atas ternyata berbanding terbalik dengan kecenderungan beberapa masyarakat Nias Barat. Lihatlah dan bacalah komentar-komentar sinis ketika majalah Tempo online mengutip pernyataan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi yang menyatakan bahwa Nias Barat dan 3 kabupaten lainnya di Papua terancam dihapus status DOB-nya karena tidak memenuhi syarat nilai minimal yakni 70 poin. Nilai Kabupaten Nias Barat hanya 68 poin, kurang dua poin lagi. Pernyataan Gamawan itu sebenarnya termuat di dalam Buku Laporan Hasil Evaluasi Perkembangan 57 Daerah Otonomi Baru tahun 2012. Mesti disadari bahwa hasil evaluasi itu sudah dipublikasikan pada bulan Mei tahun 2013, akan tetapi baru diberitakan majalah Tempo online pada tanggal 13 September 2013. Dalam berita Tempo itu tak satupun dikutip hal-hal apa saja yang menjadi fokus evaluasi Kementerian Dalam Negeri atas Kabupaten hasil pemekaran DOB.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Arsip, Politik | Leave a Comment »

Mengkritik Kesepakatan DPRD Nias Barat Atas APBD Kabupaten Nias Barat Tahun 2013

Posted by postinus pada Desember 22, 2015


Oleh Postinus Gulӧ

Kita sudah mafhum bahwa fungsi dan kewenangan DPRD Nias Barat, antara lain melakukan pengawasan atas kinerja dan anggaran (budgeting) yang digunakan Pemkab Nias Barat. Akan tetapi, DPRD tidak boleh seenaknya merubah dan mengganti mata proyek SKPD. Selain itu, DPRD dilarang main proyek yang berasal dari APBD sebagaimana diatur dalam UU No 27 tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD.

DPRD hanya berhak membahas dan mengesahkan RAPBD menjadi APBD dengan segala macam koreksi dan masukan solutif. Sebenarnya proses pengesahan APBD semacam ini, salah satu bukti bahwa DPRD adalah mitra Pemkab untuk mengusahakan agar tercapai tata kelola pemerintah yang benar, baik dan bersih sesuai undang-undang yang berlaku; bukan agar ada ruang bagi DPRD menjegal program Pemkab!

Logisnya, APBD setiap SKPD perlu disesuaikan dengan tujuan otonomi daerah, konteks dan kebutuhan daerah, kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) setiap SKPD serta sesuai visi-misi kepala daerah. Kalau tidak, APBD tidak mampu terserap semuanya dan kurang tepat sasaran. Sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB), Kabupaten Nias Barat masih sangat kekurangan SDM. Sepatutnya antar-Pemkab dengan DPRD dalam menyepakati APBD seharusnya mempertimbangkan agar SDM Nias Barat semakin terpenuhi dari tahun ke tahun.

  Baca entri selengkapnya »

Posted in Arsip, Kumpulan Tulisan-Opini, Politik | Leave a Comment »

Nias Tidak Butuh Pemimpin Jenis NADO dan NATO

Posted by postinus pada Oktober 6, 2014


pilkada_serentakSumber foto: http://www.radarbanten.co.id

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Kepulauan Nias yang akan dilaksanakan tahun depan (9 Desember 2015), membenihkan perasaan was-was. Kuatir bahwa apa yang saat ini terjadi bisa saja terulang kembali. Berbagai keprihatinan saat ini, akan muncul kembali, entah dengan wajah baru kepala daerah ataupun pejabat yang sama lagi.

Hal itu juga menggelisahkan Pastor Postinus Gulö, OSC., M. Hum. Pria yang pada 18 Juli 2012 ditahbiskan menjadi imam di Gereja St. Maria Ratu Damai Mandrehe, Nias Barat tersebut langsung to the point menyoroti berbagai persoalan klasik di Nias.

“Kondisi Nias saat ini masih sangat terbelakang dalam bidang infrasttukrut jalan. Bukan karena tidak ada anggarannya dalam APBD tetapi karena berbagai intrik. Uangpun habis masuk ke kantong berbagai pihak termasuk kepada oknum anggota DPRD yang main proyek, yang notabene bertentangan dengan tugas dan fungsi pengawasan mereka terhadap anggaran daerah,” jelas dia kepada Nias Online beberapa waktu lalu.

Bidang lain yang masih lemah, kata dia, adalah pelayanan kesehatan. Di sana-sini, terlihat Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmmas), Puskesmas Pembantu (Pustu) yang gedungnya megah namun peralatannya tak terawat dan kebanyakan tanpa dokter yang memadai; paling -paling ada satu atau dua dokter saja di setiap Puskesmas. Para tenaga medis – perawat, bidan, dokter umum dan spesialis – juga masih perlu didorong untuk lebih ramah melayani, memiliki hati dan punya keahlian di bidangnya. Jangan hanya di ijazah mereka perawat, bidan, dan dokter, akan tetapi kinerja mereka tidak menunjukkan hal itu.

“Hampir semua kepala daerah mengeluhkan tentang keterbatasan sumber daya manusia Nias. Akan tetapi ironis bahwa banyak masyarakat Kepulauan Nias tidak berpendidikan. Padahal perubahan yang baik suatu daerah mesti ditopang oleh pelayanan pendidikan yang baik pula. Banyak anak-anak tak mampu sekolah karena tak mampu bayar uang sekolah yang sering dikatakan uang komite. Guru-guru yang ada pun kita ragukan keahlian mereka. Sumber bacaan mereka sangat kurang. Mereka terisolasi dari dunia informasi. Pengetahuan mereka tak berkembang. Mereka juga banyak yang lulus dari perguruan tinggi yang masih harus berjuang meningkatkan kualitas pendidikannya,” jelas dia.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Arsip, Kumpulan Tulisan-Opini, Politik, Postinus Gulo | Leave a Comment »

Seminar Penyederhanaan Biaya Pesta Adat Nias dan Pesta Gerejawi di Nias Barat

Posted by postinus pada April 23, 2014


Paroki Salib Suci Nias Barat menggelar seminar bertajuk “Famalua Böwö ba Hada Same’e Faohahau Dödö”, di Aula Paroki (22-23/4/2014). Seminar ini dihadiri umat Gereja Banua Niha Keriso Protestan (BNKP), Gereja Orahua Niha Keriso Protestan (ONKP) dan Katolik. Ketika membuka secara resmi seminar ini, Vikjen yang sekaligus sebagai Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Sibolga Pastor Dominikus Doni Ola, Pr berpesan agar kegiatan yang melibatkan umat lintas agama ini terus digalakkan ke depan. Menurut Pastor Doni, komitmen untuk menyederhanakan pesta adat Nias dan pesta gerejawi menjadi terwujud jika ada kerja sama yang baik dan berkesinambungan dari umat lintas agama, tokoh adat dan pemerintah.

IMG_2810

Foto kiri-kanan: Pastor Matias Kuppens OSC (sedang menyampaikan kata sambutan), Vikjend Keuskupan Sibolga P. Dominikus Doni Ola, Pr, P. Postinus Gulö, OSC dan Bpk Simesono Hia mewakili Bupati Nias Barat (Mandrehe, 23/4/2014).

 

Baca entri selengkapnya »

Posted in Budaya, Seminar | Dengan kaitkata: | 4 Comments »

 
%d blogger menyukai ini: