BERBAGI INSPIRASI

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..


    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 114,940 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Desember 2007
    S S R K J S M
    « Nov   Jan »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

Ketika Manusia Dirundung Kebengisan

Posted by postinus pada Desember 22, 2007


Peneropong: Postinus Gulö. Kategori: Seni-Teater. Judul Naskah: Krapp’s Last Tape (1958). Penulis Naskah: Samauel Beckett. Pernah dipentaskan secara tunggal oleh Tony Broer, di FF-Unpar (18/11/2006). Tony Broer adalah aktor teater dan dosen STSI, Bandung.    

            Coba Anda bayangkan jika manusia menjadi tidak manusiawi. Ia pantas dilabel- jika ada seseorang yang latah menamparnya – dengan sebuah sinisme: dasar bengis. Teater monolog yang berjudul: Krapp’s Last Tape (Pita Terakhir), karya Samauel Beckett yang lahir pada tanggal 13 April 1906 di Foxrock, County Dublin, Irlandia adalah sebuah deskripsi kebengisan manusia di zaman perang Dunia II. Kala itu, seolah manusia ibarat mesin yang tak punya hati. Jadi, sebenarnya pesan moral teater ini hampir sejalan dengan sindiran Thomas Hobbes: manusia adalah makhluk anti sosial, bagai mesin tak berakal.         

Menurut Beckett, KRAPP’S LAST TAPE is an extraordinary study of mortality, creativity and memory. Beckett hidup di era yang tak jelas, nothing, absurd, karena berjuta-juta manusia yang mati konyol dan yang harus menanggung penderitaan akibat Perang Dunia II.  

Krapp’s Last Tape sebuah catatan memorial mengenang zaman yang brutal Perang Dunia II itu. Penguasa di era Perang Dunia II seolah tak peduli pada penderitaan dan kematian orang-orang tak berdosa (innocent). Sebagai seorang yang memiliki daya compassion, Beckett mampu menangkap roh zaman (zeitgeist) yang dilanda kengerian dan ketakutan. Oleh karenanya, Beckett yang juga dilanda kefrustrasian pernah berkata: “Perhaps my best years are gone. When there was a chance of happiness. But I wouldn’t want them back. Not with the fire in me now. No, I wouldn’t want them back.” Masa lalu beliau sangat suram, sehingga ia tak mau terulang – dalam dirinya – segala kepahitan yang pernah ia alami.

         Perang Dunia II begitu brutal. Bengis. Tak manusiawi. Itu sebabnya Beckett anti perang, anti kekerasan. Walau demikian, Beckett sadar bahwa kefrustrasiannya hanya dapat teratasi jika ia bersedia mengenang masa-masa romantis yang pernah ia alami. Dalam adegan-adegan Krapp’s Last Tape ini, Tony Broer memperlihatkan saat-saat kegagalan yang dialami Beckett yang seolah tak pernah terselesaikan. Walaupun demikian, Beckett tetap bertahan untuk hidup karena ia selalu mendengarkan kembali masa lalu romantisnya yang telah ia rekam sendiri. Jadi, jika Anda termasuk orang yang tertekan, memiliki pengalaman buruk, ingatalah saat romantis, saat yang menyenangkan yang pernah Anda alami. Jadikanlah kenangan indah Anda sebagai teman Anda di saat Anda merasa kesepian. Ini bukan sekedar bernostalgia melainkan mencoba melepaskan tembok keterkungkungan kita.             

           Saat ini kita tidak aman (?). Seolah maut selalu mewajah. Perang terjadi di mana. Pernah, Indonesia panas. Poso bak kota angker bersimbah darah, itu terjadi di masa silam. Papua terus angkat bicara, ingin merdeka. Mereka barangkali tak salah. Pasti ada hal yang menjadi pemicunya. Pemicu itu tak tepat jika didiamkan. Jika dibiarkan api menjalar di sekam, hati-hati, apinya akan membabat habis sekamnya tanpa Anda tahu kapan ia menyambar Anda. Adalah menarik komentar dan apresiasi serta alur pemikiran Tony Broer terhadap naskah yang ditulis pada tahun 1958 ini. Tony Broer mengatakan bahwa naskah ini ditulis oleh Beckett pada dekade keabsurditasan. Zaman yang digeluti Beckett tak jauh berbeda dengan apa yang Indonesia dan dunia alami saat ini. Manusia Indonesia itu absurd, ganjil, aneh. Sampah dibuang ke mana-mana tanpa mempedulikan akibatnya. Akibat sampah tak jauh dari akibat perang: manusia tetap jadi korban. Masih masuk akal jika yang longsor adalah gunung. Tapi di Indonesia lain halnya, justru sampah pun bisa longsor dan menimbun seratusan manusia (seperti yang terjadi di Leuwi Gajah tahun 2005 silam). Lumpur di Sidoarjo adalah akibat kerakusan manusia (bencana yang disengaja) tapi anehnya pemerintah seolah biasa-biasa saja; tak ada tindakan yang tegas untuk menanggapinya.             

          Lebih jauh Tony Broer melihat keabsurditasan dijenjang internasional. Keegoisan Amerika Serikat di bawah komando Presiden John Walker Bush yang menginvasi Irak telah menimbulkan ratusan ribu orang meninggal. Di Irak, berapa anak tanpa dosa yang kehilangan orangtua hanya gara-gara ulah Bush untuk mencapai tujuannya yang tak jelas. Bush rakus kuasa! Ia ingin menjadi penguasa tunggal dunia! Tentara-tentara Amerika tak peduli pada nyawa orang (?). Main babat saja! Itu sebabnya sebelum menampilkan teater monolog Krapp’s Last Tape, Tony Broer memutar video clip, sepenggal aksi brutal penembak misterius sebagai bayangan betapa kejinya kejatahan perang. 

            Melihat situasi seperti sekarang ini, barangkali ada benarnya pendapat Thomas Hobbes: manusia ibarat harimau bagi sesamanya, homo homini lupus. Atau teori Darwinisme: survival of the fittest, yang kuat dialah yang menang! Sekarang, dunia menjadi lembah air mata (lacri marrum valle), samudera penderitaan (the ocean of suffering). Jika Thomas Aquinas pernah berkata, hidup bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk menjadi berkat bagi orang lain (“Non sibi vivere, sed et aliis proficere”), di zaman sekarang justru yang terjadi adalah, manusia menjadi neraka bagi sesamanya.

            Teater ini sebuah pisau refleksi yang mencoba menguliti hati nurani para penguasa. Agar topeng keegoisan terlepas sehingga menyembul belaskasihan. Teater ini barangkali (adalah) menjadi refleksi bagi para penguasa Indonesia yang tergelincir ke dalam belukar keegoisan dengan membabat habis uang rakyat melalui korupsi, kolusi, dan nepotisme. Di negeri ini, kekuasaan, jabatan selalu diburu. Para pemburu kekuasaan cerdik melihat bahwa di balik kekuasaan ada setumpuk “kesempatan” yang bisa dimanfaatkan! Oleh karenanya, jangan heran jika demi mencapai kekuasaan, apapun dilakukan dan dipaksakan. Korupsi, kolusi dan nepostisme menjadi cara yang dianggap paling tepat. Maka, di balik perjuangan menggapai takhta kekuasaan semakin jelas tujuannya: bukan untuk menjadi pelindung rakyat melainkan untuk menjawab kerinduan dalam terminologi keegoisan. Keegoisan para penguasa di negeri ini semakin diperjelas oleh banyaknya para penguasa yang telah dijatuhi hukuman karena KKN. Ya, semoga mereka insaf saja!   

Postinus Gulö adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat, Unpar, Bandung   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: