BERBAGI INSPIRASI

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..


    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 123,682 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Maret 2008
    S S R K J S M
    « Feb   Mei »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

FIKSI, IDE, DAN IDEOLOGI

Posted by postinus pada Maret 6, 2008


Tulisan ini saya awali dengan pertanyaan: apa arti sebuah ide, seperti ide tentang Allah, ide tentang keadilan, dan ide tentang kebahagiaan? Bagi William James, ideas are not solely determined by the social conditions of their time, but also by earlier ideas, or by ideas transferred from different ideological field and different social-economic contexts”, ‘ide-ide itu tidak hanya ditentukan oleh kondisi-kondisi zamannya, tetapi oleh ide-ide sebelumnya atau ide yang berbeda dalam sosial-ekonomi dalam konteks yang berbeda-beda’.  

Saya yakin bahwa ide-ide itu ditentukan oleh status atau kedudukan dan golongan sosial (terpelajar atau tidak) dari orang yang mencetuskan dan memperjuangkannya. Misalnya, ide orang kaya dengan ide orang miskin sangat berbeda. Orang kaya cenderung anti Pedagang Kaki Lima (PKL). Dengan alasan: mengakibatkan jalan macet dan bahkan mengganggu pejalan kaki. Lain halnya orang miskin. Mereka malah pro PKL. Dengan alasan, barang-barang ada di sekitar mereka, bisa dijangkau, bisa tawar-menawar. Jadi, seni berbicara dengan sendirinya terpraktekkan.  

 Harus diakui bahwa di balik ide ada bisnis, ada proyek politis yang cenderung mencari keuntungan. Misalnya, ide melakukan cacah jiwa semasa Kaisar Agustus di seluruh Imperium Roma. Ide itu sarat kepentingan. Kepentingan untuk menentukan jumlah populasi sehingga dengan demikian bisa ditentukan berapa upeti dan pajak yang harus dibayar ke ibu Kota Roma.

Demikian juga di Indonesia. Jika orang Indonesia ke luar negeri diharuskan mengurus surat fiskal, SKKB, surat dokter. Tujuan utama bukan untuk mengamankan tetapi mencari untung.  William James mempunyai konsepsi yang luas dan fleksibel tentang ide. Menurutnya, deretan terminologi : ide, ideologi, teori, proposisi, kurang lebih sama artinya atau yang sering disebut juga family resemblance.

Namun, di sini saya hanya memfokuskan pada dua kata saja: ide dan ideologi. Perbedaan antara ide dan ideologi (yang disebut juga sistem) bagi James adalah perbedaan dalam tingkat (in degree) bukan perbedaan dalam jenis (in kind). “Tingkat” yang berbeda yaitu perbedaan dalam “sistematis”.

Artinya berbeda dalam tingkat keluasan komprehensif dan koherensi. An idea is an implicit system; and a system is an explicit idea”: sebuah ide adalah sebuah sistem yang masih terselubung, implisit, sedangkan suatu sistem adalah sebuah ide yang sudah eksplisit (terurai), kata James. Dengan kata lain, ide adalah gagasan yang masih kabur dan fragmentaris.

Sedangkan ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu (baca: weltanschauung), sebagai akal sehat dan beberapa kecenderungan filosofis, atau sebagai serangkaian ide yang dikemukakan oleh kelas masyarakat yang dominan kepada seluruh anggota masyarakat (definisi ideologi Marxisme).  Ada dua syarat gagasan dapat disebut ideologi.

Pertama, gagasan tersebut dapat dipakai sebagai sarana penyelesaian masalah hidup. Jadi, ideologi harus unik karena harus bisa memecahkan problematika kehidupan.

Kedua, suatu gagasan layak disebut ideologi jika ia meliputi metode penerapan, penjagaan, dan penyebarluasan ideologi. Jadi, ideologi harus khas karena harus disebarluaskan ke luar wilayah lahirnya ideologi itu. Dengan kata lain, suatu ideologi bukan semata-mata berupa pemikiran teoretis seperti filsafat, melainkan dapat dijelmakan secara operasional dalam kehidupan sehari-hari. Dari uraian ini, ideologi adalah gagasan yang terurai secara teratur, “system is well order whole”.  

William James membedakan ide dan fiksi. Bagi dia, keduanya merupakan buah pikiran manusia. Masalahnya, apa perbedaan keduanya dan di mana letak perbedaannya ? Menurut James, perbedaan antara ide dan fiksi terletak pada degree of conviction (perbedaan dari tingkat kepercayaan) kita tentang ide dan fiksi itu sendiri. Ide disebut believable; sedangkan fiksi disebut unbelievable. Sesuatu itu hanya sebuah ilusi jika kita menganggap sesuatu itu tidak bisa dipercayai. Jadi, ide itu believable for me or for people.

Antara believable dan unbelievable berbeda dalam hal tindakan. Suatu ide disebut believable jika kita menjadikannya sebagai dasar bagi tindakan kita. Dan disebut fiksi jika kita tidak berani menjadikannya sebagai dasar dari suatu tindakan. Maka banyak ide yang dianggap kelompok tertentu sebagai believable tetapi bagi yang lain tidak (unbelievable).  Yang dipersoalkan oleh James adalah what is the meaning of an idea?.

Misalnya, apa arti kebahagiaan. Bagi James, ide adalah plan of action (rencana tindakan) yang akan kita lakukan guna meraih atau menghindari sesuatu. Maka arti dari ide itu berbeda-beda. Ide kebahagiaan bagi hedonis berbeda bagi kaum religius. Bagi hedonis bisa saja mereka artikan bahwa kebahagiaan adalah rencana untuk memuaskan keinginan sendiri. Sedangkan bagi kaum religius, kebahagiaan adalah rencana untuk menyenangkan dan melakukan kehendak Allah. Ide tentang surga, misalnya, baik Kristen, Islam, Budha maupun Hindu berbeda dalam memaknainya. Bagi Kristen surga itu diibaratkan sebagai tempat di mana orang tidak kawin dan tidak dikawinkan. Pemahaman Islam, tentang surga adalah 1001 malam.

Sedangkan Budha, memahami surga sebagai situasi pudarnya segala nafsu, dan bagi Hindu, surga adalah sunyata, nothing, lain dari apa yang kita alami.  Menurut kaum Skolastik (Tomistik), makna dari suatu ide identik dengan defenisinya. Karena itu setiap kata, ide, konsep dirumuskan dengan jelas, agar tertangkap maknanya. Contoh, apa makna dari konsep Allah ? Aristoteles dan Thomas mengatakan Allah itu actus purus (aktivitas murni).

Kata actus harus dimengerti sebagai aktualisasi diri dan dikontraskan dengan potensi, kemungkinan. Actus purus artinya segala kemungkinan sudah terwujud dan tidak ada potensi yang belum terwujud padaNya, semuanya sudah terealisasi di dalam Allah. Pada Allah tidak ada kemungkinan, maka Ia adalah realitas sempurna. Semuanya sudah terungkap padanyaNya (jadi Allah perfek).  Contoh lain, Spinoza mengatakan Deus est causa sui et causa omnium (Allah menciptakan dirinya sendiri dan semua yang lain). Jadi, “makna” identik dengan defenisi, pengertian dari kata ide, konsep.

Defenisi sering disebut denotasi yang dibedakan dengan konotasi. Denotasi adalah defenisi. Dengan kata lain defenisi dan denotasi adalah arti utama dan pertama (primer) dari suatu ide. Sedangkan konotasi itu adalah arti sekunder dan tambahan dari suatu ide. ***  

* Postinus Gulö adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: