BERBAGI INSPIRASI

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..


    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 114,940 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Januari 2010
    S S R K J S M
    « Okt   Mar »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Mengalami Sakramen dalam Terang Estetika Teologis

Posted by postinus pada Januari 22, 2010


Oleh Postinus Gulö*

Pengantar

Dalam makalah ini, penulis secara khusus membahas sakramen dalam terang estetika teologis. Penulis menyadari bahwa sangat perlu memahami sakramen dalam terang estetika teologis. Selama ini banyak umat hanya memahami sakramen secara kognitif. Seolah-olah sakramen itu hanyalah kegiatan kognitif bahkan dipandang hanya sebagai tindakan etis/tindakan kesalehan. Sakramen tidak disadari sebagai pengalaman estetis. Tak jarang sakramen itu dipandang sebagai formalitas dan utilitas belaka, sepanjang ada gunanya. Melihat fenomena ini secara tidak sadar umat kita diam-diam menggugat sakramen. Diam-diam umat kita memposisikan diri sebagai penonton dalam perayaan sakramen. Mereka tidak partisipatif-aktif, mereka tidak memposisikan diri sebagai aktor tetapi sebagai penilai. Akibatnya, mereka cepat bosan dan kecewa melihat perayaan sakramen Katolik itu.

Dalam estetika teologis, yang ditekankan adalah pengalaman bukan pengetahuan. Oleh karena itu, dalam terang estetika teologis, sakramen itu bukan untuk diketahui, bukan untuk dipahami melainkan untuk dialami. Melalui sakramen kita bersedia dialami oleh Allah sekaligus kita secara aktif nyemplung untuk mengalami kehadiran dan sentuhan Allah. Oleh karenanya, yang kita alami bukan kepuasan kognitif melainkan afektif (daya rasa dan cinta). Jika sakramen dihayati sebagai pengalaman estetis maka umat akan mengalami pertumbuhan jiwa.

Sakramen adalah tanda yang terlihat, yang dapat ditangkap oleh panca indera, yang dilembagakan oleh Yesus dan dipercayakan kepada Gereja, sebagai sarana yang dengannya rahmat ilahi diindikasikan oleh tanda yang diterimakan, yang membantu pribadi penerimanya untuk berkembang dalam kekudusan, dan berkontribusi kepada pertumbuhan Gereja dalam amal-kasih dan kesaksian. Sakramen-sakramen secara keseluruhan dipandang sebagai sarana penting bagi keselamatan umat beriman, yang menganugerahkan rahmat tertentu dari tiap sakramen tersebut, misalnya dipersatukan dengan Kristus dan Gereja, pengampunan dosa-dosa, atau pun pengkhususan (konsekrasi) untuk suatu pelayanan tertentu.

 

Gereja Katolik mengajarkan bahwa sakramen memberi efek rahmat secara ex opere operato. Artinya, tanpa memperhitungkan kekudusan pribadi pelayan yang melaksanakannya. Sakramen memerlukan adanya iman, kata-kata dan elemen-elemen ritualnya yang menyuburkan, menguatkan dan memberi ekspresi bagi iman.[1]

 Sakramen: Sarana Permainan Ilahi

Esensi bermain adalah “mengalami” bukan memahami, bukan untuk dirasionalisasikan, bukan untuk diperdebatkan. Estetika teologis (ET) kurang lebih sama. Dalam ET yang ditekankan adalah pengalaman dan rasa kekaguman. Itu sebabnya, sangat penting peran dan pertunjukkan “image-form” (sosok) dalam ET.[2] Sosok itu adalah simbol Ilahi. Bagi Balthasar sosok utama adalah Yesus Kristus. Dalam Yesus kita semua dipersatukan bahkan segala ciptaan sujud pada-Nya. Siapa yang memandang Yesus telah melihat Allah Bapa (Yoh 1: 18 dan 9: 37). Yesus adalah sosok (representasi) Allah sendiri.

Kita mengalami sakramen jika sikap dasar kita adalah bermain. Oleh karena itu, dalam sakramen kita bukan hanya mengenang karya penyelamatan Allah (Yesus Kristus) melainkan mengalaminya. Agar kita mengalami sakramen, maka kita ungkapkan dan kita beri sosok yang Ilahi itu melalui berbagai simbol sakral-artistik. Melalui simbol itu, kita ungkapkan bahwa sakramen berisi glorifikasi pada karya penyelamatan Allah. Sakramen berisi tindakan untuk mengagungkan Allah, merayakan kehadiranNya dalam simbol yang kelihatan dan yang dapat dirasakan pancaindra. Oleh karena itu, seharusnya sikap utama kita dalam merayakan sakramen adalah “mencintai” bukan memahami, mengalami dan bukan mengetahui.

Dalam perayaan sakramen sikap kita bukan hanya “menunggu bagian” (bukan apa yang aku dapat melainkan apa yang aku alami).  Ada banyak umat yang hanya bersikap “menunggu bagian”-nya dalam perayaan sakramen. Misalnya, umat merasa berhak mendapatkan sesuatu dari perayaan sakramen Ekariti. Mereka menuntut homili yang baik menurut mereka, ritual yang sesuai keinginan mereka. Kalau keinginan-keinginan ini tidak terwujud maka mereka berani berkata: garing, kering, dan tidak asyik. Dengan kata lain, tujuan hadir dalam peristiwa sakramen adalah untuk menilai proses sakramen secara kognitif. Akibatnya, bagi mereka peristiwa sakramen itu terasa garing, tak bermakna, klise dan tidak menarik.

Sikap yang dianjurkan dalam estetika teologis adalah bukan menunggu-pasif melainkan menjadi “pemain”, menjadi seseorang yang berani “mengalami” sentuhan, sapaan, rangkulan dan sekaligus membiarkan dirinya dialami Allah.[3]

Pengalaman yang kita timba dalam sakramen bukan kepuasan kognitif melainkan  kepuasan batin. Dalam sakramen bukan semata-mata menghayati diri kita melainkan untuk mengalami yang Ilahi. Melalui sakramen manusia mengalami Allah, dan Allah mengalami manusia. Allah mengalami manusia yang datang menghadap-Nya. Allah mengalami manusia pada saat manusia pasrah pada-Nya. Maka, sakramen adalah jalinan kerjasama antara Allah dan manusia. Pengalaman Allah akan manusia, itulah sukacita Allah. Dan pengalaman manusia akan Allah itulah rahmat.[4]

Dalam sakramen, Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah aktif-komunikatif yang membiarkan diri-Nya mengalami manusia dan dialami oleh manusia. Allah mengekspresikan kasih-Nya untuk bisa dialami manusia. Kita bersorak dan bertepuk tangan bersama Allah bahkan berdansa bersama-Nya.[5] Dengan demikian, sakramen adalah sarana “permainan Ilahi”. Mengapa disebut demikian? Karena dalam sakramen kita masuk dalam Allah, kita mengalami Allah. Oleh karena itu, aktivitas kita bukan berpikir melainkan “terlibat bermain”. Partisipasi bermain itulah yang membuat kita semakin “nyemplung” bahkan hanyut bersama yang Ilahi itu.

 Mengalami Sakramen

 Bagi Balthasar, di dalam sakramen, Yesus menjadi res et sacramentum. Yesuslah yang membuat segala sesuatu menjadi bersosok. Maka, inti dasar dari sakramen adalah “likeness, imitation” (homoioma): orang tak berdosa menjadi gambaran dan imitasi Yesus Kristus (Rom 5: 14). Dalam sakramen, umat beriman dihantar menjadi satu dalam kematian dan kebangkitan Yesus (Rom 6: 5).[6] Sakramen adalah bahasa isyarat (ecclesial gesture) yang menunjukkan bahwa Yesus menjadi manusia. “A sacrament is an ecclesial gesture that Jesus Christ directs to man”.[7] Prinsip sakramen itu adalah mempertemukan manusia pada sosok Yesus/mempertemukan kaum pendosa dengan Yesus Kristus. Atau melalui sakramen, relasi manusia berdosa dengan Yesus terjalin: Yesus dan manusia saling “berpelukan” akrab. Dalam perayaan sakramen, Yesus Kristus hadir sebagaimana aslinya. Oleh karena itu, peristiwa sakramen bukan hanya peristiwa yang menjadikan tak terpandang (invisible) menjadi terpandang (visible), melainkan menjadikan yang invisible itu “hadir” sebagaimana aslinya.[8] Dalam sakramen kita mengagumi Kristus sebagai Allah dan manusia.[9]

Dalam Gereja Katolik ada 7 sakramen. Yakni Sakramen Baptis, Ekaristi, Krisma, sakramen tobat, sakramen pengurapan orang sakit, sakramen tahbisan dan sakramen perkawinan. Tetapi, sebenarnya dalam konteks teologi sakramen, Yesus sendiri adalah sakramen Allah karena Ia merupakan simbol representasi Allah. Yesus dan Allah memiliki esensi yang sama (Yoh 10: 30) sehingga siapa yang memandang Yesus telah memandang Allah (Yoh 14: 9; 1: 18). Yesus Kristus adalah epifani dan teofani sebagai Allah penyelamat. Dia adalah realitas Ilahi yang menampakkan diri, menjadi sosok yang dapat dilihat dan diraba, dirasakan kehadiran-Nya dan membebaskan.[10] Dalam sakramen perkawinan misalnya,  terjalinlah relasi antara lelaki dan perempuan sehingga mereka menjadi satu. Balthasar mengatakan bahwa justru itulah kekuatan sakramen perkawinan, relasi antara suami-istri merupakan “an image and a likeness of God.”[11]

Tetapi, kadangkala ke-7 sakramen itu dipahami dalam kerangka kognitif. Bahkan sekadar formalitas dan utilitas. Sindrom yang melanda umat Katolik adalah merayakan sakramen sebagai kewajiban belaka. Seolah perayaan sakramen itu adalah acara gerejani yang tanpa makna. Hal itu tampak sekali misalnya jika kita memperhatikan seberapa orang yang sering melakukan sakramen pengakuan dosa. Bahkan yang menggerogoti keluarga Katolik dewasa ini adalah pengkhianatan pada janji perkawinan yang telah diucapkan dalam perayaan sakramen perkawinan di dalam perayaan skramen ekaristi. Dari dua kasus ini, tampaknya sakramen kurang dialami. Karena kurang dialami maka kurang dihidupi. Oleh karena itulah penghayatan akan sakramen hanya sebatas di bibir. Jika mereka membututuhkan sakramen barulah mereka mengingat sakramen itupun kalau ada gunanya. Gunanya misalnya agar sah secara gereja saja. Di luar itu seolah-olah  tidak ada gunanya.

Esensi suatu perayaan sakramen adalah bermain. Dalam arti di sana ada keseriusan tetapi sekaligus kemengaliran. Di sana ada aturan main tetapi sekaligus kebebasan umat Allah untuk mengambil peran dalam permainan perayaan sakramen itu. Pantas jika sakramen disebut sebagai “sacer ludus’ atau “sacred dance”[12] atau permainan sakral, tarian suci, permainan Ilahi. Mengapa? Karena spirit bermain dan menari adalah kegembiraan, keceriaan, kelegaan, keasyikan, kebebasan, keterlibatan yang mengalir, kesenangan dan kenikmatan.[13] Bermain adalah wahana pengungkapan diri (self-representation). Kedirianku, keberadaanku menjadi transparan, ada kesadaran sebagai manusia citra Allah.

Ritual sakramental bertaburan simbol untuk mengarahkan manusia memandang Allah. Sembah-sujud, syukur, kemuliaan dan kepasrahan menjadi sikap dasar untuk terlibat dalam perayaan sakramen. Sikap dasar ini terungkap dalam berbagai simbol berupa kidung, kata, suasana dan juga barang-barang material yang ada dalam perayaan sakramen itu. Di dalam perayaan sakramen terjadi perpanduan gerakan yang menyatukan pengalaman badaniah (body), pikiran (mind), rohaniah (spirit) dan emosi (emotions). [14] Melalui sakramen, Allah menganugrahkan kepada kita berbagai rahmat: penyembuhan, rahmat penyelamatan, rahmat rekonsiliasi, rahmat kesatuan Allah-manusia, rahmat pengampunan, rahmat pengkhususan, dan rahmat kehidupan. Dalam sakramen Allahlah yang menjadi aktor utama. Walaupun demikian, manusia juga mengambil peran sehingga manusia dapat disebut sebagai aktor/partner Allah. Maka melalui sakramen, terjalinlah relasi interaktif antara Allah dan manusia. Harus diingat, rahmat-rahmat itu bukan untuk dipahami, bukan untuk dianalisis dan kita sadar bahwa kita mendapatkannya hanya karena kita “mengalami”-nya. Manusia “mengalami” perayaan sakramen itu jika manusia mengambil peran” ingin bermain bersama. Dalam sakramen, Allah hadir dan manusia menyembah-Nya dan pasrah pada-Nya. Allah dipuji melalui alunan musik, kidung, penyesalan dan kepasrahan.

Dalam sakramen Allah dihibur (terutama dalam ritual liturgi setiap sakramen). Allah dihibur melalui pertunjukkan karya seni. Agar Allah memberi rahmat kepada manusia, Allah perlu dipuaskan dengan kepasrahan dan kemuliaan, sujud dan syukur. Rahmat akhirnya menjadi hadiah atas sikap manusia memuliakan Allah. Aktivitas manusia ini ditanggapi Allah. Allah bergaul akrab dengan manusia. Maka dalam perayaan sakramen, Allah menjadi realitas aktif. Ia menyatakan diri lewat sabda, sentuhan-sentuhan batin, umat yang berkumpul, dan juga lewat simbol-simbol sakramental. Simbol-simbol yang ada menjadi ekspresi keterarahan manusia kepada Allah sekaligus sebagai manifestasi dari kehadiran Allah.[15] Simbol sakral itu sangat penting untuk menghadirkan sosok ilahi dalam bahasa yang mudah dipandang secara visual dan logika hati. Dengan kata lain, simbol-form itu penting agar umat yang hadir merasa disergap oleh yang Ilahi. Bukan hanya itu, merasa larut dalam sergapan Ilahi itu.

Di dalam perayaan sakramen ada perpaduan luar biasa: alunan musik sakral, simbol-simbol visual Ilahi dan bahkan keyakinan akan kehadiran nyata yang Ialhi itu dalam diri umat yang berkumpul merayakan sakramen. Dalam sakramen dihadirkan sosok Ilahi, tetapi bukan untuk dipahami melainkan untuk dialami.Dalam perayaan Sakramen semua orang ada perannya. Ibarat orang yang bermain harus taat pada aturan walaupun bukan untuk dipahami tetapi untuk dimainkan. Permainan itu memacu umat untuk terus mengalami bahkan “menikmati” ibarat seseorang yang “hanyut” dalam mimpi tanpa terasa lagi waktu itu berlalu. Bukankah keaktifan semacam ini juga yang diharapkan oleh Sacrosanctum Concilium 14? Saya rasa iya. Seseorang disebut aktif jika tidak vakum, tidak diam. Seseorang disebut aktif jika ia terlibat bermain. Dalam sakramen ada simbol-simbol artistik. Simbol itu bukan sekadar ornamen pajangan belaka melainkan agar umat yang hadir mengalami suasana permainan itu.

Dalam estetika teologis, yang ditekankan adalah beriman dengan memandang sosok ilahi itu. Artinya, aku bukan memahami yang Ilahi melainkan aku mengalami-Nya, aku memandang-Nya, membiarkan Dia menyergap dan memeluk aku bahkan aku juga mau berpaut pada-Nya. Oleh karenanya, dalam terang estetika teologis, memahami sakramen bukan secara kognitif melainkan secara afektif: rasa cinta dan kekaguman atas rahmat penyelamatan Ilahi. Sakramen bukan dijelaskan tetapi dialami. Sebenarnya, dalam perspektif estetika teologis, sakramen itu sungguh estetis. Mengapa? Karena dalam sakramen, simbol sakral diusahakan agar dapat ditangkap pancaindra manusia. 

Penutup

 Hans Urs Von Batlthasar pernah mengatakan bahwa tiada sakramen yang tidak membutuhkan form (formless). Pertanyaannya, form itu apa? Menurut Balthasar “form” itu adalah Yesus Kristus. Kita tidak dapat mengalami rahmat jika tidak di dalam Kristus yang telah menjadi sakramen Allah sendiri. Itu sebabnya Balthasar berkata: There can be no res (gratia) which would not, in Christ, already be res et sacramentum.[16] Semua sakramen adalah tindakan penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus terhadap ecclesial believer.[17] Artinya, sakramen adalah sebagai “lahan” dan sarana Allah mewahyukan diri-Nya kepada manusia. Allah mewahyukan diri agar manusia dapat mengalami-Nya sekaligus agar Allah mengalami manusia. Yesus sebagai form tampak di dalam Rom 5:14. Orang yang tidak berbuat dosa adalah “gambaran” Yesus. Yesus sebagai “form” mengambil tempat sebagai form dari hamba (slave form) dan form sebagai manusia (human form).[18]

Sakramen adalah luapan kasih Allah dan juga ekspresi kodrat kemanusiaan. Oleh karena itu, dari sisi ini rahmat yang kita dapat dalam sakramen bukan semacam balas jasa Allah kepada manusia. Rahmat adalah kemampuan kodrati untuk bisa berdendang bersama Allah. Rahmat itu bermula dari kasih Allah dan kerelaan manusia mengekspresikan bekal kodratinya: bergaul dan “bermain” bersama Allah. Dari pergaulan itulah tercipta anugrah sentuhan batin dan pengalaman transformatif diri. Jadi, rahmat itu merupakan pengalaman interaktif Allah-manusia.

Itu sebabnya, sakramen dalam Katolik diartikan sebagai tanda kehadiran Allah. Melalui sakramen Allah merevelasikan diri-Nya kepada manusia, sehingga manusia dapat mengalami-Nya. Dalam sakramen terjadi suatu interaksi antara pengalaman manusiawi sekaligus Ilahi. Allah yang mewahyukan diri melalui Yesus adalah bukan Allah feodal tetapi Allah yang “bergaul” akrab dengan manusia. Yesus adalah Allah yang tidak memandang manusia sebagai inferior: Aku tidak menyebut kamu lagi hamba melainkan sebagai sahabat (Yoh. 15: 15).

Postinus Gulö, alumnus Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung; sekarang mahasiswa Magister Ilmu Teologi Unpar.

Daftar Pustaka

 Balthasar, Hans Urs von. 1982. The Glory of the Lord: a Theological Aesthetics. Edinburg: T&T Clark Ltd.

Deitering, Carolyn. 1984. The Liturgy As Dance and the Liturgical Dancer . New York: Crossroad.

Groenen, C. 1990. Sakramentologi. Yogyakarta: Kanisius.

Heatubun, Fabianus Sebastian, “Liturgi Sebagai Permainan Ilahi” dalam SINYAL Transendensi edisi th II. No. 8 Marert – April 1997, Bandung: Ordo Salib Suci Sang Kristus Indonesia. 

http://id.wikipedia.org/wiki/Sakramen_(Katolik), diakses 18 Desember 2009.

Putranto, Eddy, “Liturgi: Dendang Ritual Allah dan Manusia” dalam SINYAL Transendensi edisi th II. No. 9 Mei – Juni 1997, Bandung: Ordo Salib Suci Sang Kristus Indonesia.


[1] Lihat  http://id.wikipedia.org/wiki/Sakramen_(Katolik), diakses 18 Desember 2009.

[2] Lihat Hans Urs von Balthasar, The Glory of the Lord: a Theological Aesthetics (Edinburg: T&T Clark Ltd., 1982), hlm. 579.

[3] Bdk. Carolyn Deitering, The Liturgy As Dance and the Liturgical Dancer (New York: Crossroad, 1984), hlm. 3.

[4] Bdk. Eddy Putranto, Liturgi: Dendang Ritual Allah dan Manusia dalam SINYAL Transendensi edisi th II. No. 9 Mei – Juni 1997 (Bandung: Ordo Salib Suci Sang Kristus Indonesia, 1997), hlm. 40-41.

[5] Lihat Carolyn Deitering, Op. Cit., hlm. 2.

[6] Balthasar, Op. Cit., hlm. 577.

[7] Ibid., hlm. 579.

[8] Pernyataan Balthasar ini sejalan dengan Sacrosanctum Concilium no. 7 tentang praesentia realis.

[9] Ibid., 579 – 583.

[10] Bdk. C. Groenen, Sakramentologi (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 92-93.

[11] Balthasar, Op. Cit., hlm. 577

[12] Carolyn Deitering, Op. Cit., hlm. 2.

[13] Bdk. Fabianus Sebastian Heatubun, “Liturgi Sebagai Permainan Ilahi” dalam SINYAL Transendensi edisi th II. No. 8 Marert – April 1997 (Bandung: Ordo Salib Suci Sang Kristus Indonesia, 1997), hlm. 57.

[14] Lihat Carolyn Deitering, Op. Cit., hlm. 5-14.

[15] Bdk. Eddy Putranto, 41.

[16] Hans Urs von Balthasar, Op. Cit., hlm. 576.

[17] Balthasar. Ibid., hlm. 576.

[18] Ibid., hlm. 578. Lihat Filipi 2: 5-11.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: