BERBAGI INSPIRASI

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..


    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 114,940 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Maret 2010
    S S R K J S M
    « Jan   Apr »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  

Merefleksikan Spiritualitas Salib Dalam Kristologi Kosuke Koyama

Posted by postinus pada Maret 30, 2010


Oleh Postinus Gulö

Pengantar

Dalam paper ini, penulis hendak mengeksplorasi gagasan Kosuke Koyama mengenai spiritualitas salib. Spiritualitas salib Kosuke Koyama tampak dalam artikelnya: “The Crucified Christ Challenges Human Power”.[1] Artikel ini menarik. Menarik karena di dalamnya terurai secara “implisit” benih dan elemen-elemen penting spiritualitas salib: via crucis, faithfulness (via oblatia), gratuitus, kenosis, miseri-cordia, fiducia, dan via veritatis..[2]

Koyama dilahirkan di Tokyo 10 Desember 1929. Beliau meninggal pada 25 Maret 2009. Koyama adalah seorang teolog Protestan Jepang ternama. Bahkan bisa dikategorikan sebagai seorang teolog cerdas yang menyelesaikan Ph.D-nya di Seminari Teologis Princeton.[3] Tulisan Koyama sering bernuansa puitis sehingga membutuhkan daya nalar ekstra untuk memahami gagasan-gagasannya.

Peristiwa penyaliban Yesus menjadi peristiwa besar yang hingga kini terus direfleksikan. Salib, tidak hanya dipandang sebagai saat kegagalan, saat menderita. Salib adalah saat keluar dari  diri, keberanian mempersembahkan diri demi orang lain (solider). Peristiwa penyaliban Yesus justru menginspirasikan dan menyemangati banyak orang di muka bumi ini. Kerelaan disalibkan sampai mati demi orang lain, sangat berharga. Seperti kutipan Injil Yohanes: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15: 13). Pemberian nyawa merupakan pengorbanan ultim dan tindakan kasih paling tinggi.

 

Elemen-Elemen Penting Spiritualitas Salib

 Sebelum membahas lebih lanjut spiritualitas salib Kosuke Koyama, kita perlu bertanya: apa yang dimaksud dengan spiritualitas? Menurut Jordan Aumann spiritualitas mengacu pada nilai-nilai religius atau keutamaan etis yang dikonkretkan sebagai suatu sikap (attitude) atau semangat (spirit) agar mengalir tindakan seseorang. Aumann mengatakan: “…spirituality refers to any religious or ethical value that is concretized as an attitude or spirit from which one’s actions flow.”[4]  

Dalam pandangan Aumann, spiritualitas orang Kristen merupakan bentuk partisipasi dalam misteri Kristus yang dipenuhi rahmat, digerakkan oleh iman, kemurahan hati dan keutamaan-keutamaan orang Kristen yang lainnya.[5] Sedangkan menurut Alex Dirdjasusanta, spiritualitas lebih dari peradaban. Melalui kehidupan spiritual, manusia memasuki dunia pengetahuan dan cinta yang melebihi kodrat. aktivitas berpikir dan bertindak didasarkan oleh iman. Dengan rahmat Ilahi dan karunia Roh Kudus, manusia berkomunikasi dengan Tuhan, pencipta, dan sumber kehidupan, yang memberi kehidupan adikodrati kepada siapa saja yang bersedia menerimanya. [6] Artinya, orang yang menghayati spiritualitas tertentu adalah orang yang dipenuhi rahmat sehingga mengimani dan mampu berkomunikasi dengan Allah dan bahkan bertindak sesuai kehendak Allah.

Khusus teologi spiritual, Aumann mendefenisikannya demikian: “teologi spiritual adalah bagian dari teologi yang,  terproses dari kebenaran wahyu ilahi dan pengalaman religius dari setiap pribadi, menegaskan hakekat hidup supernatural, memformulasi petunjuk-petunjuk untuk pertumbuhan dan perkembangannya, dan menjelaskan proses-proses sehingga jiwa maju dari awal hidup spiritual menuju ke kesempurnaan seutuhnya.”[7]

Aumann menyatakan bahwa spiritutalitas yang otentik adalah spiritualitas yang berpusat pada Yesus Kristus dan Trinitas.[8] Pernyataan Aumann ini sangat paralel dengan arah spiritualitas salib Kosuke Koyama. Koyama selalu memusatkan spiritualitas salibnya pada Yesus Kristus yang tersalib. Dalam artikel Kosuke Koyama, “The Crucified Christ Challenges Human Power”, kita bisa melihat elemen-elemen penting spiritualitas salib, sebagai berikut:

1.      Sikap Kenosis dan Keberanian Menempuh Jalan Salib (Via Crucis)

Dalam bahasa Yunani, kenosis berarti pengosongan diri. Kenosis adalah perendahan diri yang dilaksanakan oleh pribadi kedua Tritunggal (=Yesus) dalam penjelmaan (Flp. 2: 5- 11). Dengan merendahkan diri, tidak berarti kodrat Ilahi ditinggalkan. Perendahan diri lebih-lebih berarti menerima keterbatasan eksistensi manusiawi yang berakhir dengan puncak perendahan, yaitu wafat di salib.[9]

Koyama menegaskan bahwa pilihan pada jalan salib merupakan bukti nyata bahwa cinta Yesus pada manusia adalah cinta yang habis-habisan, cinta tanpa syarat, cinta yang membiarkan diri-Nya hangus demi orang lain (kenosis). Sikap kenosis Yesus tampak dalam kerelaan-Nya mengosongkan diri-Nya, merendahkan diri-Nya, menjadi sama dengan manusia. Hal ini terurai jelas dalam Surat St. Paulus kepada jemaat di Filipi 2 : 6 – 8): “…walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”

Menurut Koyama, Yesus adalah sosok yang sangat mencintai manusia. Cinta-Nya tulus dan mendalam. Karena cinta-Nya pada manusia, Yesus Kristus berani mengambil jalan yang seolah “sia-sia”/tak berguna dan menyakitkan : jalan salib (via crucis). Jalan salib yang seolah sia-sia itu merupakan rahasia kekuatan-Nya menghadapi kekuatan manusia. Jalan tak berdayaguna adalah rahasia dari cinta-Nya.[10] Jalan salib bukan hanya jalan yang sia-sia dan menyakitkan. Jalan salib adalah jalan terkutuk : “ terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib” (Gal 3 : 13). Walaupun jalan salib adalah jalan yang paling hina, terkutuk, akan tetapi Yesus berani menempuhnya karena cinta-Nya pada manusia. Cinta-Nya tanpa syarat.

 2.      Kesetiaan (faithfulness/via oblatia)

Di saat mengalami salib derita manusia berusaha menghindar darinya. Tidak hanya itu, manusia seringkali beriman pada Allah karena mereka jarang mengalami derita salib. Di saat sering mengalami derita, manusia mulai mempertanyakan Allah sebagai Mahakasih, Mahabijaksana, Mahapelindung, dll. Jika manusia “lelah” mencari jawaban dan seolah-olah tak tertemukan, maka manusia berpaling dari Allah. Manusia tidak lagi setia pada Allah, tidak lagi mengimani Allah.

Yesus sebagai manusia (dan Tuhan) mengalami hal yang sama. Ketika disiksa di atas Salib, Ia merasa ditinggalkan: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk 15: 34).  Hati-Nya sedih. Sebagai manusia Ia ingin keluar dari derita: “Ya Bapa, jika memungkinkan, biarlah cawan ini berlalu dari padaKu, tetapi jangan seperti yang Kukehendaki melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat 26: 39).

Walaupun Yesus mengalami pergulatan hebat, akan tetapi Koyama percaya bahwa di dalam Yesus hanya ada kesetiaan (faithfulness/oblatia). Lantas Koyama menyitir kata-kata Santo Paulus: Yesus Kristus bukanlah “ya” dan “tidak”, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada “ya” (2Kor 1:19). Karena Dia adalah keikhlasan ultim (emeth, kesetiaan). Dalam Kristus tersalib kita mengalami keikhlasan ultim Allah.

Setelah pergulatan keinginan manusiawi Yesus, Yesus berani berserah: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk 23: 46). Dari peristiwa dahsyat ini, kita semakin yakin bahwa Yesus adalah manusia yang tetap setia dalam situasi apapun. “…Ia taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2. 8). “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia”(1 Kor 1: 25).

3.      Sikap Gratuit

Sikap gratuit adalah sikap yang tidak menghitung untung-rugi. Tidak do ut des (tidak berprinsip : saya memberi agar saya mendapat). Tidak pula memperhitungkan diri sendiri. Sikap yang gratuit adalah sikap yang berkomitmen untuk berkorban demi orang lain secara cuma-cuma. Singkatnya, sikap gratuit adalah sikap yang terarah untuk melayani yang lain tanpa syarat. Yesus adalah pribadi yang disemangati oleh gratuitas. Menurut Koyama, Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan yang lain, bukan untuk menyelamatkan diri-Nya. Ketulusan Kristus tersalib terekspresikan dalam kata-kata celaan dari orang yang mengejek-Nya: “He saved others. He cannot save Himself” (Dia menyelamatkan yang lain. Dia tidak dapat menyelamatkan diri-Nya sendiri”(Mat 27: 38- 44).[11] Dari penyataan  ini, Koyama melihat secara positif ejekan sebagai peristiwa yang dapat menyingkapkan kedalaman dari ketulusan yang sungguh-sungguh dari Yesus.[12]

4.      Bertindak Solider (Miseri Cordia).

Dalam Kitab Suci, Koyama melihat bahwa Yesus mudah tergerak hatinya menolong orang sakit, menderita, kaum miskin. Hati Yesus mudah tersengat oleh penderitaan mereka sehingga Ia tergerak mengulurkan bantuan kepada mereka. Dengan hati yang penuh belaskasihan, Yesus memerintahkan orang lumpuh untuk bejalan. Dia membuat melihat orang buta. Dia melepaskan orang dari belenggu setan. Jika setan-setan  terusir, kekuasaan Allah datang. “….jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11: 20). Yesus membagikan hidup-Nya pada orang miskin dan yang membutuhkan, memberi mereka harapan. Yesus menyelamatkan orang lain dari penghinaan. Bahkan Dia sendiri nyemplung ke dalam penghinaan (compassion, solider). Dia menyelamatkan yang lain bukan dengan menyelamatkan diri-Nya sendiri.[13]

5.      Sikap Percaya-Pasrah (Fiducia)

Dalam bahasa Latin, fiducia berarti kepercayaan (trust), harapan pada sesuatu/berharap pada sesuatu.[14] Pada suatu kesempatan seorang sahabat bertanya kepada Koyama mengenai kematian. Koyama menjawab dengan cerita ketika Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Menurut Koyama, Yesus akan melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Kepada mereka Yesus akan melihat ke dalam mata dan hati kita dan Yesus akan berkata: Perjalananmu pastilah melelahkan. Kamu tentu lelah dan kotor. Marilah, Aku akan membasuh kakimu. Perjamuan sudah disiapkan.[15] Dari penyataan ini, Koyama sungguh menghayati spiritualitas salib: hidup melelahkan dan kotor tetapi Yesus akan membersihkannya. Maka tak perlu menyerah pada kelelahan dan kekotoran. Yesus pasti datang untuk membangkitkan kita dari kelelahan dan sekaligus membersihkan kita dari kekotoran.

Menghadapi salib dan kematian, Yesus tidak menyerah, tetapi hati-Nya dipenuhi sikap percaya sehingga Ia pasrah pada kuasa Bapa-Nya. “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku ” (Luk 23 : 46).  Menurut Koyama, Yesus Kristus bukanlah “ya” dan “tidak”, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada “ya” (2 Kor 1: 19). Karena Dia adalah keikhlasan ultim (emeth, kesetiaan/ketabahan/steadfastness). Dalam Dia hanya ada kepasrahan (fiducia). Dalam Kristus tersalib kita mampu merasakan keikhlasan ultim dari Allah.

Ketulusan dan reliabilitas Kristus tersalib membongkar kemunafikan dan tipu muslihat manusia. Jika seseorang, seperti kutipan Kitab Suci yang berkata, “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah ” (Luk 6: 20). Marilah kita bertanya, siapakah person ini yang mengatakan ini, dan kepada  siapa? Apakah seorang kaya yang mengatakan itu kepada orang lapar? Kaum kaya kepada kaum miskin? Kaum terpelajar kepada kaum tidak terpelajar?  Kaum makmur (well-fed)  kepada orang terpaksa mati kelaparan?

Jika seseorang, seperti kutipan Kitab Suci yang mengatakan “Manusia tidak hidup oleh roti saja, tetapi oleh segala sesuatu yang keluar dari mulut Tuhan”, marilah kita bertanya lagi siapa yang mengatakan itu dan kepada siapa? Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada orang kaya dapat bekata, “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.”

Kalimat-kalimat di atas akan menjadi suatu panggilan untuk menyerahkan harta kekayaan kepada Allah dan untuk bekerja untuk suatu yang lebih pantas bagi masyarakat. Pesan, “manusia tidak hidup oleh roti saja, tetapi oleh segala sesuatu yang keluar dari mulut Tuhan,” hendak mengatakan bahwa kebutuhan humanitas ada dua yakni roti dan sabda Allah, sebagai roti hidup. Kalimat itu tidak mengatakan bahwa sabda Allah yang paling penting daripada roti, atau sebaliknya. Kita tidak dapat hidup oleh roti saja. Kita tidak dapat hidup oleh sabda Allah saja. Kita membutuhkan dua-duanya. Ini mesti menjadi bagian dari komitmen orang Kristen mengarah pada sesuatu yang lebih pantas bagi masyarakat. Orang makmur (welll-fed) cenderung berkhotbah kepada orang lapar bahwa semua kebutuhan mereka adalah sabda Allah.  Ini bukan pemberian harapan yang tepat. Oleh karena itu, orang lapar tidak menghargai kata-kata orang makmur. Ini juga kesulitan para misionaris yang termasuk golongan makmur itu. Mereka kadang mengkhotbahkan sabda Allah di dalam negara-negara miskin dan mati kepalaran. Padahal seharusnya tidak sebatas khotbah, kelaparan dan kemiskinan  harus ditentaskan.

 Jika  orang kaya bekata kepada orang miskin, “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah,” dia adalah penggosip. Gosip adalah omongan yang tak bertanggung jawab. Gosip tidak menyembuhkan. Gosip hanya memberi harapan kosong. Gosip menyebabkan sebuah inflasi berbahaya di dalam human spirituality, yang membuat kita percaya bahwa gosip ini adalah sabda Allah. Idealisasi kemiskinan oleh kaum kaya adalah hanyalah sebuah bagian arogansi gosip, dan bukan teologi.

Kaum miskin secara cepat diklasifikasi dan diberi label. Koyama mengatakan bahwa ketika kehidupan person-person direduksi hanya sebatas objek penelitian dan pengklasifikasian, maka orang yang mengklasifikasi itu mulai memiliki kekuatan jahat (demonic power) atas kaum miskin. Kekuatan destruktif seperti itu mengabaikan konteks hidup di dalam mana kita semua menemukan diri kita sendiri.

6.      Semangat Membela Kebenaran (Via Veritatis)

Yesus pernah berkata : “Aku adalah jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14 : 6). Karena Yesus adalah kebenaran, maka Ia tidak takut menegakkan kebenaran. Dalam Kitab Suci, Yesus banyak mengkritik orang Farisi dengan maksud ingin menunjukkan kebenaran otentik kepada kaum Farisi. Yesus sadar bahwa sikap-Nya mengkritik kaum Farisi pasti berisiko besar. Akan tetapi, Yesus lebih memilih membela kebenaran daripada lari dari penderitaan. Inilah spiritualitas salib yang patut kita teladani dari Yesus sang Guru Besar itu. Sikap Yesus yang meluruskan cara berpikir orang Farisi mengakibatkan Yesus dibenci dan dimusuhi oleh kaum Farisi. Akhirnya, Yesus dihukum mati. Tangan-Nya ditancapkan paku. Begitu juga kedua kaki-Nya.

Koyama mencoba merefleksi peristiwa penyaliban Yesus itu dalam konteks zaman sekarang ini. Menurut Koyama, dalam pemakuan tangan Yesus menggambarkan ketulusan Allah terarah kepada seluruh humanitas. Dengan tangan terentang di Salib, menyimbolkan bahwa Yesus merangkul seluruh umat manusia. Tangan Yesus adalah tangan yang penuh kuasa cinta. Tangan yang merangkul kebenaran. Dan kematian Yesus adalah kematian dalam membela kebenaran.  

Akan tetapi, kalau kita lihat sekarang ini, tangan manusia justru simbol teknologi. Teknologi memiliki fungsi ganda : menolong manusia sekaligus menghancurkan manusia. Bukankah karena tangan kita mencapai bulan ? Tangan manusialah yang menciptakan teknologi canggih. Bukankah manusia sanggup meledakkan bom mematikan untuk membasmi musuh-musuh mereka? Tangan kita sangat kuat (powerful). Walaupun ada efek ambivalen dari teknologi, menurut Koyama, kita tetap menaruh penghargaan pada teknologi. Akan tetapi, teknologi mesti melayani pemeliharaan dan perkembangan nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai ketulusan dan dapat dipercaya di dalam komunitas manusia (human community).

            Koyama tidak hanya mengkritik teknologi tetapi juga institusi birokrasi zaman sekarang yang tidak selalu membela kebenaran. Birokrasi institusional kadang mereduksi hidup person ke dalam kumpulan kuantitas semata. Kita mengapresiasi birokrasi. Akan tetapi birokrasi mesti dikendalikan tangan-tangan raja yang bertanggung jawab (responsible: melek) dan bukan tangan-tangan raja yang tidak bertanggung jawab (irresponsible: molek) yang mencari pengorbanan manusia (Yer 32: 35). Birokrasi mesti dihakimi (be judged) di dalam terang ketulusan dari Kristus tersalib.  Di atas kayu Salib, Yesus mendemonstrasikan kedalaman ketulusannya ke dalam jalan yang paling menyakitkan dan jalan “paling tidak berguna”. 

Penutup

Uraian-uraian di atas memberi gambaran pada kita bahwa spiritualitas salib Kosuke Koyama berpusat pada Kristus. Peristiwa penyaliban Yesus menjadi bahan refleksi kritis bahkan menjadi semangat yang menuntun tindakan dan cara berpikir Koyama. Ciri-ciri spiritualitas salib Koyama dapat disebut antara lain: Pertama, Yesus Kristus sebagai pusat inspirasi. Kedua, manusia yang menghayati salib adalah manusia yang mau ikutserta dalam misteri Paskah Kristus (salib, bangkit dan naik ke surga). Ketiga, peristiwa penyeliban Yesus mesti menuntun manusia untuk menyadari kedosaannya sekaligus belaskasihan Tuhan yang bersedia menjadi silih atas dosanya. Keempat, spiritualitas adalah pengalaman iman. Maka, spiritualitas mengadaikan iman akan Allah (dan Yesus Kristus). Hal itu juga ditegaskan teolog besar Katolik, Balthasar.[16] 

 

Daftar Pustaka

 

Aumann, Jordan, Spiritual Theology, London: Sheed and Ward  Ltd., 1982

Dirjasusanta, Alex, Kehidupan Spiritual dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jakarta: Cipta Adi Pustaka, 1991

http://en.wikipedia.org/wiki/Kosuke_Koyama, diakses 2 Maret 2010.

http://www.perisai.net/berita/teolog_ekumenis,_kosuke_koyama, diakses 2/3/2010.

Koyama, Kosuke, “The Crucified Christ Challenges Human Power”, dalam Asian Faces of Jesus, hlm. 149 – 162.

O’Collins, Gerald  & Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Prent, K., dkk., Kamus Latin – Indonesia, Yogyakarta: Kanisius, 1969

Von Balthasar, Hans Urs, The Glory of  the Lord: A Theological Aesthetics, Edinburgh: T&T Clark, 1982.


[1] Lihat Kosuke Koyama, “The Crucified Christ Challenges Human Power”, dalam Adian Faces of Jesus, hlm. 149 – 162. Judul artikel ini dapat diterjemahkan seperti ini: Kristus Tersalib Mengatasi Kekuatan Manusia. Artikel saya ini, sebagian besar akan merujuk pada artikel Koyama ini.

[2] Lima  dari 7 elemen-elemen penting spiritualitas salib ini pernah dibahas secara mendalam oleh Pastor Agus Rachmat Widiyanto, OSC dalam acara Talk Show di Biara Skolastikat OSC Sultan Agung, 20 Juli 2007. Yang tidak dibahas oleh Pastor Agus Rachmat W adalah faithfulness (via oblatia)  dan via veritatis (jalan kebenaran).

[3] lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Kosuke_Koyama, diakses 2 Maret 2010.

[4] Lihat Jordan Aumann, Spiritual Theology  (London: Sheed and Ward  Ltd., 1982), hlm. 17.

[5] Ibid.,  hlm. 18.

[6] Alex Dirjasusanta, Kehidupan Spiritual dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jakarta: Cipta Adi Pustaka, 1991), hlm. 219.

[7] Jordan Aumann, Op. Cit., hlm. 22.

[8] Ibid., hlm. 17.

[9] Gerald O’Collins & Edward G. Farrugia, Kamus Teologi (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm. 138 – 139.

[10] Kosuke Koyama, hlm.149.

[11] Ibid.,  hlm. 149.

[12] Ibid.,  hlm. 149.

[13] Ibid.,  hlm. 150.

[14] Lihat K. Prent, dkk., Kamus Latin_Indonesia (Yogyakarta: Kanisius, 1969), hlm. 338.

[15] http://www.perisai.net/berita/teolog_ekumenis,_kosuke_koyama,_meninggal_dunia, diakses 2 Maret 2010.

[16] Hans Urs Von Balthasar, The Glory of  the Lord: A Theological Aesthetics (Edinburgh: T&T Clark, 1982), hlm. 365 – 393.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: