BERBAGI INSPIRASI

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..


    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 114,940 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    April 2010
    S S R K J S M
    « Mar   Mei »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  

Kristus Tersalib Menantang Kekuatan Manusia

Posted by postinus pada April 9, 2010


Oleh Kosuke Koyama

Catatan: Artikel ini diterjemahkan secara bebas oleh Postinus Gulö dari artikel Kosuke Koyama, “The Crucified Christ Challenges Human Power”, dalam Asian Faces of Jesus, hlm. 149 – 162.

“Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (Yoh 1: 29).

 Dengan tangan terpotong Dia membangun dunia komunitasNya; Dia menantang kekuatan pikiran efisiensi (efficiency-mindedness) terhadap sesama (neighbors).

Dia Mengekspos Desepsi Manusia

Kristus tersalib mengekspos desepsi (deception) mereka yang: mengobati luka dengan memandangnya ringan, yang berkata: Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera (Yer 6: 14). Dia membuka desepsi manusia, tidak dari kemewahan (luxury) kursi tangan (armchair), tetapi dengan menyerahkan (abandoning) diriNya sendiri terhadap dominasi manusia, bahkan ke penyaliban. Suatu cara yang menyakitkan dan cara tidakberdayaguna untuk membuka desepsi manusia. Jalan yang tidakberdayaguna ini adalah rahasia kekuatan-Nya menghadapi kekuatan manusia. Jalan tak berdayaguna adalah rahasia dari cinta-Nya.

Sekarang tidak ada orang yang dapat memotong-Nya, karena Dia telah dipotong. Tidak ada orang dapat menyalibkan Dia. Dia telah disalibkan. Tidak ada orang yang dapat menambah atau mengurangi apapun dari-Nya. Yesus Kristus bukanlah “ya” dan “tidak”, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada “ya” (2 Kor 1: 19). Karena Dia – Kristus tersalib –  memiliki ketulusan ultim (emeth, kesetiaan/ketabahan/steadfastness). Dalam Kristus tersalib kita dihadapkan pada ketulusan ultim Allah.

Ketulusan Kristus tersalib terekspresikan dalam kata-kata celaan dari orang yang lewat di sekitar salib: “Dia menyelamatkan yang lain. Dia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri”. Boleh jadi hanyalah ejekan dapat menyingkapkan kedalaman dari ketulusan yang sungguh-sungguh. Seluruh dunia menjadi diam dan semua kekuatan manusia ditantang oleh ketulusan mendalam dari Kristus tersalib.

Itu benar bahwa Ia menyelamatkan yang lain. Dia memerintahkan orang pincang untuk berjalan. Dia membuat melihat orang buta. Dia melepaskan orang dari belenggu setan. Dia, “lahir dari Perawan Maria, mengusir setan, menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus. Setan-setan  terusir. Kekuasaan Allah datang. “….jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11: 20). Dia membagikan hidupnya pada orang miskin dan yang membutuhkan, memberi mereka harapan. Dia berorientasi pada yang lain. Ketulusannya serupa dengan orientasi ini. Tetapi kekuatan penyembuhan mengagumkan ini yang berakar dalam ketulusan yang tertuju kepada yang lain, Dia tidak  buat pada diriNya sendiri. Dia menyelamatkan yang lain dari penghinaan. Dia sendiri nyemplung ke dalam penghinaan. Dia menyelamatkan yang lain bukan dengan menyelamatkan diri-Nya sendiri. Dia menerima keilahian-Nya dengan menyerahkan keilahianNya. Dengan menyembuhkan yang lain dan bukan menyembuhkan diri-Nya sendiri, Dia menegakkan otoritas-Nya.

 

Tangan Kristus yang Dipotong dan Teknologi-Birokrasi

Tangan Kristus yang dipotong menggambarkan ketulusan Allah terarah kepada seluruh humanitas. Sekarang tangan adalah simbol teknologi. Bukankah karena tangan kita mencapai bulan dan mencapai yang beyond melalui ilmu dan teknologi kita? Bukankah tangan kita yang mengubah lingkungan hidup kita berdasarkan kesukaan kita? Bukankah mesin-mesin yang powerful mematuhi sinyal yang kita berikan melalui jari-jari kita? Bukankah mesin-mesin itu sanggup meledakkan bom mematikan untuk membasmi musuh-musuh kita? Tangan kita sangat kuat (powerful).

 

Lihatlah tangan Kristus yang dirusak (disfigured) dan dipotong (mutilated)! Teknologi adalah suatu persiapan yang efisien untuk  “memperbanyak” berbagai hal. Melalui mesin printer, surat kabar dapat diperbanyak hingga ribuan lembar. Dengan alat –alat penggerak, kita dapat menempuh jarak secara cepat dalam rotasi yang cepat. Efficiency is suffocating meaning (Efisiensi melemahkan makna). The good memiskinkan the best. Dewa kesuburan Baal menjadi lebih kuat daripada Perjanjian Allah Yahweh. Makna direndahkan demi efisiensi. Jika makna direndahkan demi efisiensi, tangan-tangan yang manarik akan tampak. Tangan-tangan yang atraktif seringkali menuntun pikiran kita terhadap pesona idolatri.

Kita menghargai teknologi. Teknologi boleh diizinkan untuk melipatgandakan apapun, akan tetapi tidak untuk manusia (human beings). Mesin mesti tidak mendesakralisasikan kesucian di dalam diri orang. Dunia efisiensi – dunia dari tangan-tangan atraktif – mesti dijaga/dikontrol oleh dunia makna – dunia tangan yang dipotong. Ketika lingkungan manusia dibuat serba teknologis, keunikan dari setiap pribadi akan segera menderita, dan di sana dapat memunculkan suatu  faceless mass of people. Kristus tersalib amat menantang suatu jalan efisiensi secara teknologis jika berurusan dengan orang. Teknologi mesti melayani pemeliharaan dan perkembangan nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai ketulusan dan dapat dipercaya di dalam komunitas manusia (human community).

 Birokrasi adalah suatu dunia penyimpanan (a world of filing cabinets) dan dunia klasifikasi tanpa akhir. Birokrasi dapat mereduksi hidup seseorang ke dalam kumpulan bilangan-bilangan ketika seseorang melihat pasportnya. Informasi disimpan dalam lemari secara alfabetis. Jumlah infinitas informasi tentang masyarakat (people) dapat digunakan untuk kesejahteraan masyarakat. Maka birokrasi mempraktekkan pikiran dari reign of God. Akan tetapi birokrasi dapat juga menggunakan informasi untuk menghancurkan masyarakat (people). Birokrasi Nazi dan Jepang dioperasikan dengan efisiensi yang luar biasa untuk menghancurkan hidup masyarakat Asia dan Eropa. Tanpa sistem birokratis, militerisme dan rasisme tidak dapat bekerja.

 Kita mengapresiasi birokrasi. Akan tetapi birokrasi mesti berada pada tangan-tangan raja yang bertanggung jawab (responsible: melek) dan bukan tangan-tangan raja yang tidak bertanggung jawab (irresponsible: molek) yang mencari pengorbanan manusia (Yer 32: 35). Birokrasi mesti dinilai di dalam terang ketulusan Kristus tersalib. Teknologi dan birokrasi adalah subjek efisiensi berbahaya yang melemahkan makna. Contoh yang paling ekstrem kemenangan makna yang melebihi idolatri efisiensi adalah penyaliban Kristus. Di sana Kristus mendemonstrasikan kedalaman ketulusannya ke dalam jalan yang lebih menyakitkan dan jalan “paling tidak berguna”. Mengambil jalan penderitaan untuk membongkar idolatri (Ia rela menderita demi membongkar idolatri). Hari-hari ini, teknologi dan birokrasi mengatakan pada kita: “damai, damai.” Apakah ada damai? Bukankah tekonologi dan birokrasi menjadi sarana militerisme dan rasisme?

Siapa Yang Mengatakan Itu Kepada Siapa?

Kebutuhan Manusia: Roti dan Sabda Allah

Ketulusan dan reliabilitas Tuhan tersalib membongkar desepsi manusia. Jika seseorang berkata, “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah (Luk 6: 20), marilah kita bertanya, siapakah seseorang ini yang mengatakan ini, dan kepada  siapa? Apakah seorang kaya yang mengatakan ini kepada orang lapar? Kaum kaya kepada kaum miskin? Kaum terpelajar kepada kaum tidak terpelajar?  Kaum makmur (well-fed)  kepada orang mati kelaparan? Jika seseorang berkata, “Manusia tidak hidup oleh roti saja, tetapi oleh segala sesuatu yang keluar dari mulut Tuhan”, marilah kita bertanya lagi siapa yang mengatakan itu dan kepada siapa? Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada orang kaya dapat bekata, “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.” Tentu saja, dia mungkin mengatakan hal ini kepada dirinya sendiri. Kalimat itu akan menjadi suatu panggilan untuk menyerahkan harta kekayaan kepada Allah dan bekerja untuk suatu yang lebih pantas bagi masyarakat. Kalimat, “manusia tidak hidup oleh roti saja, tetapi oleh segala sesuatu yang keluar dari mulut Tuhan,” dengan sederhana mengatakan kepada kita bahwa kebutuhan humanitas ada dua yakni roti dan sabda Allah. Kalimat itu tidak mengatakan bahwa sabda Allah yang paling penting daripada roti, atau sebaliknya. Kita tidak dapat hidup oleh roti saja. Kita tidak dapat hidup oleh sabda Allah saja. Kita membutuhkan dua-duanya. Ini mesti menjadi inti komitmen orang Kristen mengarah pada masyarakat yang lebih adil. Sering kali orang makmur (welll-fed) cenderung berkhotbah kepada orang lapar bahwa semua kebutuhan mereka adalah sabda Allah.

Orang lapar tidak mengakui ketulusan dalam kata-kata orang-orang makmur. Oleh karenanya, sulit bagi misionaris yang diutus dari kaum kaya dan negara-negara hebat untuk mengkhotbahkan sabda Allah di dalam negara-negara miskin dan mati kepalaran. Tidak mustahil, tetapi sulit. Kemiskinan dan kelaparan adalah bukan sesuatu yang menggembirakan Allah. Kelaparan dan kemiskinan  harus ditentaskan.  Orang kaya dapat memberi agar orang lapar dan miskin mengalami hidup sebagai orang ideal.

 

Teologi Versus Gosip

a. Menghibur orang miskin dengan kata-kata biblis tapi tak mengangkat martabat mereka.

            Jika  orang kaya bekata kepada orang miskin, “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah,” dia adalah penggosip. Gosip adalah omongan yang tak bertanggung jawab. Gosip tidak menyembuhkan. Gosip menyebabkan sebuah inflasi yang berbahaya dalam spiritualitas manusia (human spirituality), yang membuat kita percaya bahwa gosip ini adalah sabda Allah. Idealisasi kemiskinan oleh kaum kaya hanyalah sebuah bagian arogansi gosip, dan bukan teologi. Di balik gosip di sana ada usaha “duplikasi” dan filing cabinet” untuk melihat orang. Kaum miskin secara cepat diklasifikasi dan diberi label. Akan tetapi ketika kehidupan seseorang direduksi untuk ditetapkan sebagai angka-angka, seseorang mulai memiliki kekuatan jahat (demonic power) atas kaum miskin.

Koyama hendak mengatakan bahwa kaum kaya jangan hanya menghibur orang miskin dengan kata-kata, akan tetapi mengangkat martabat mereka sehingga bisa menikmati kehidupan yang layak. Tindakan ini jauh membahagiakan daripada hanya mengeluarkan kata-kata peneguhan biblis.

            Inilah perbedaan antara gosip dan teologi. Kehadiran “hati yang patah/remuk” (Mzm 51: 17) membuat perbedaan antara gosip dan teologi. Hati yang remuk? Ya. Hati yang remuk adalah hati yang digetarkan (shaken) oleh ketulusan (sincerity) dan reabilitas dari Tuhan yang disalib. Ketika seseorang yang “menyelamatkan yang lain tetapi tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, menyentuh kita, kebutuhan penyesalan datang pada kita. Kristus tersalib menilai buah bibir kita yang teknologis dan birokratis. Dengan tangan yang buntung (terpaku) Dia tidak menyetujui (disapproves) omong kosong kita. Teologi tidak berakar dalam hati yang remuk yang penuh omong kosong (gosip). Gosip adalah percakapan yang tidak bertanggung jawab. Ia mungkin suatu sistem teologis yang mengesankan dengan perpaduan (kohesi) intelektual yang dahsyat dan informasi yang relevan yang berlimpah. Namun, ia hanyalah gosip dan bukan teologi. Konferensi dunia kita dari Gereja-gereja Kristen adalah mengesankan, tetapi ia adalah mungkin pada apa yang dikatakan sebuah gosip dan bukan teologi.

b. Menjelekkan yang lain

            Salah satu dari gosip yang lazim adalah  suatu pembicaraan yang menganggap bahwa semua hal yang baik-baik ada pada orang-orang Kristen dan hal-hal yang jelek ada pada yang lainnya. “Lihat, Aku mengutus kamu seperti di tengah-tengah serigala…”(Mat 10:16). Dengan segera kita berpikir bahwa kita adalah domba (sheep) dan orang lain adalah serigala (wolves). Kita jarang berhenti dan berpikir bahwa kita dapat menjadi serigala tamak yang memakan domba. Ketika kita memandang rendah sesuatu, kita akan segera menemukan rencana kita sendiri untuk menghancurkan sesutau itu.

            Apakah tidak ada tindakan yang menyelamatkan kita dari gosip? Ada, jika ia adalah tindakan yang adalah disentuh/dijiwai oleh Kristus tersalib. Ketika tanganNya yang terpaku (dibuntungkan) menjamah kita, kita dibebaskan (delivered) dari tipu muslihat (deception).

            Kemudian kita mulai melihat perbedaan antara “Dia menyelamatkan orang lain – Dia tidak dapat menyelamatkan diri-Nya sendiri” dan “Dia menyelamatkan diri-Nya sendiri – Dia tidak dapat menyelamatkan orang lain.” Desepsi merajalela jika kita mengatakan bahwa kita berorientasi pada yang lain (other-oriented), sementara kita merasa benar jika berorientasi pada diri sendiri (self-oriented). Tangan Kristus terpaku (terbuntung) adalah tulus dan reliabel. “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.” (1 Kor 1: 25).

Hati-hatilah  jika kamu berkata dalam hatimu, “Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini; bahwa dia bermaksud meneguhkan perjanjian-Nya yang Ia sumpahkan kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini (Ul. 8: 17, 18). Kristus tersalib yang adalah pusat selalu dalam gerak yang terarah pada periferi; Dia mengatasi (challenges) kekuatan religius dan idolatri politis.

 

“Allah-Ku, Ya, Allah-Ku, Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?”

Gereja percaya bahwa Yesus Kristus adalah pusat dari semua manusia dan dari segala hal. “Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah; segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” (Yoh. 1: 2-3). Akan tetapi Dia adalah pusat yang adalah selalu dalam gerak yang mengarah ke periferi. Dalam hal ini Dia mengungkapkan pikiran Allah tentang masyarakat yang berada pada periferi. “Apabila engkau meminjamkan sesuatu kepada sesamamu, janganlah engkau masuk ke rumahnya untuk mengambil gadai dari padanya. Haruslah engkau tinggal berdiri di luar, dan orang yang kauberi pinjaman itu haruslah membawa gadai itu ke luar kepadamu. Jika ia seorang miskin, janganlah engkau tidur dengan barang gadaiannya; kembalikanlah gadaian itu kepadanya pada waktu matahari terbenam, supaya ia dapat tidur dengan memakai kainnya sendiri dan memberkati engkau. Maka engkau akan menjadi benar di hadapan TUHAN, Allahmu.” (Ul. 24: 10 – 13).

            Yesus adalah the center person yang diletakkan dalam sebuah palungan “karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” (Luk 2: 7). Dia “datang bukan untuk memanggil orang benar [terhormat], melainkan orang berdosa [buangan].” Yesus Kristus adalah pusat yang menjadi periferi. Dia mengafirmasi sentralitasnya tapi sekaligus berperiferi. Itu adalah apa yang menjadi makna dari penandaan “Tuhan tersalib”. Tuhan itu pusat. Tetapi ia sekarang mengafirmasi keilahian-Nya (his lordship) melalui being crucified! “Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri.” (Ibr. 13: 12).

            Hidup-Nya bergerak ke arah periferi. Dia mengekspresikan sentralitas-Nya dalam periferi dengan mencapai periferi yang ekstrem. Akhirnya pada salib, Dia memberhentikan gerak ini. Dia tidak dapat bergerak. Dia dipakukan. Ini adalah hal pokok dari periferi yang ultim. “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk 15: 34). Dia adalah Tuhan tersalib. “Walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri.” (Flp. 2: 6-7). Dari poin penting periferi ini Dia membangun otoritasnya. Gerakan yang mengarah pada periferi disebut cinta Allah dalam Kristus. Pada periferi ini bertemu otoritas dan cinta-Nya. Mereka satu. Otoritasnya dikuatkan oleh cinta. Cinta-Nya bersifat otoritatif.

            Pada abad ke-6 sebelum Masehi orang Yehuda terancam oleh serbuan tentara Babilonia. Tentara kafir ini, menurut banyak orang, tidak dapat menyentuh kota suci Allah. Pada pusat kota ini berada Bait Allah, pusat tersuci dari segala tradisi Israel. Oleh karenanya, Yerusalem aman; Yerusalem adalah pusat yang dilindungi secara Ilahi. Yerusalem adalah tempat dari “agama” dan raja-raja. “Ini adalah Bait Tuhan, Bait Tuhan, Bait Tuhan.” “jangan percaya pada kata-kata deseptif” kata Yeremia. Yerusalem dihancurkan pada tahun 587 sebelum Masehi. Rakyat Tokyo pada abad ke-20 diceritakan “ini adalah  istana kaisar suci, istana kaisar suci, istana kaisar suci.” Pada wajah tentara Amerika yang sangat kuat. “Jangan percaya pada kata-kata deseptif.” Tokyo dihancurkan pada tahun 1945.

          Altar dan tahta (throne) telah dihubungkan kepada yang lain jauh lebih intim daripada pengakuan kita. Biasanya altar dan tahta adalah keistimewaan dari sentralitas. Pada peta agama sebuah altar berdiri di tengah. Pada peta politik tahta menempati titik pusat dari kekuasaan (power). Dari kedua pusat ini (altar dan tahta) menggunakan kekuasaan dan otoritas. Tetapi jika hanya penunjukkan belaka kekuasaan altar dan tahta itu suatu pembohongan (deception), menurut Yeremia. Dalam agama kita berkata bahwa altar akan secara otomatis melindungi kita. Dalam politik kita berkata bahwa tahta akan secara otomatis melindungi kita. Mereka tidak demikian! Lihatlah Yerusalem pada tahun 587 Sebelum Masehi dan Tokyo tahun 1945!

            Sampai tahun 1945 tahta kekaisaran disebut “tahta abadi bersama (co-eternal) dengan alam semesta.” Pada apa yang diistilahkan “perjanjian” yang diumumkan pada 22 Agustus 1910, mengenai hubungan Jepang dengan Korea, artikel 1 mengatakan: “Seri Baginda Kaisar Korea membuat penyerahan lengkap dan permanen kepada Seri Baginda Kaisar Jepang dari segala hak-hak kedaulatan di atas seluruh Korea.”

            Seiring berjalannya waktu “penyerahan lengkap dan permanen” berakhir pada tahun 1945!, pemujaan kaisar fanatik Jepang telah menjadi pusat dari hidup rakyat Jepang. Cara memuja ini menempatkan kaisar di pusat dari seluruh alam semesta dan meminta agar semua yang berada pada periferi tunduk (bow) pada tokoh sentral dari keagungan kekaisaran (imperial glory). Semata-mata hanya demi kemualiaan dari pusat  itu menelan korban dari periferi. 35 tahun dari sejarah kolonial Korea di bawah Jepang ditandai dengan eksplotasi yang brutal dan penghancuran. Dalam politik pemujaan kaisar, periferi hanya untuk dijadikan korban. Pusat merawat sentralitasnya dengan mengafirmasi sentralitas dan tinggal dalam pusat. Pusat berhubungan dalam self-idolatry. Kaisar Jepang hingga 1945 telah dipikirkan untuk menjadi pribadi terhormat (highest person) dalam dunia agama (dia adalah manifestasi yang baik) dan dunia politik (dia memiliki kekuasaan absolut). Sentrisme kekaisaran ini adalah muncul kembali hari-hari ini secara cepat!

            Dalam dunia agama dan politik, sentrisme saling berlawanan untuk saling menghancurkan secara berlebihan, sedangkan Kristus tersalib mengafirmasi sentralitas-Nya melalui pemberian diri hanya untuk periferi. Ini adalah jalan menuju shalom. Yesus Kristus bukanlah “kaisar”. Kerajaan-Nya tidak bekerja dalam cara yang seperti kerajaan Jepang yang dikerjakan dan dihancurkan oleh dirinya sendiri. “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini’ (Yoh 18: 36).

Pendidikan Teologis

Yesus Kristus bergerak menuju periferi. Dia melimpahkan otoritas-Nya demi  periferi. Melalui kehadiran Pusat (Yesus) di periferi, periferi menjadi dinamis. Perhatian kita tentang misi, evangelisme dan pendidikan teologis harus diuji dalam terang otoritas yang berorientasi ke periferi (periphery-oriented) Yesus Kristus. Barat secara historis telah memiliki pusat pendidikan teologis, misi dan evangelisme.  Yesus Kristus telah banyak dipresentasikan untuk dunia yang lebih luas yang telah membentuk cara berpikir Barat. Bahasa, seperti Spanyol, Perancis, Inggris dan Jerman, adalah bahasa utama orang Kristen. Zona kultural dan agama yang berada di luar dari bahasa ini diminta untuk mengatur diri mereka sendiri terhadap gambaran tentang Yesus Kristus yang dipresentasikan dalam bahasa-bahasa ini. “Pusat-teologi/center-theologies” (dari “Yesus yang pirang”) telah lebih dari seratus tahun terjadi penyimpangan menyakitkan kepada dunia luar dari Barat, dan kemungkinan besar terhadap Barat itu sendiri. Pada hari ini kebanyakan kaum Nasrani dunia, termasuk para teolog mereka, percaya bahwa bagaimanapun Yesus Kristus lebih hadir di Amerika daripada di Bangladesh, oleh karena itu, Amerika adalah pusat dan Bangladesh adalah periferi. Melalui pikiran ini, mereka tanpa sadar mempunyai ide yang di dalam semua misi Kristinai kita, evangelisme dan pendidikan teologis, Amerika  adalah standar untuk semua. Demikian center-complex, digabungkan dengan teacher-complex, mesti dipertimbangkan dalam terang periphery-oriented authority Yesus Kristus. Umat Kristiani hanya memiliki satu pusat. Ia adalah Yesus Kristus, yang mengafimasi sentralitasNya dengan meninggalkan sentralitas-Nya! SentralitasNya adalah Dia yang berdiri di pusat dari ketaatan dan pemujaan kita. Sebagaimana kita menyembah-Nya, kita mengambil tempat dalam sentralitasNya yang ia korbankan/lepaskan.

            Ini adalah suatu aliran penting dari literatur Kristiani yang datang dari  para teolog yang kompeten yang banyak sekali hari-hari ini. Akan tetapi para penulis dari pekerjaan penting ini mengerjakan karya terbaiknya untuk mengecilkan hati orang untuk membaca buku-buku tersebut. Secara umum, dosa para teolog adalah bahwa mereka menulis buku-buku untuk sesama para teolog dan dengan demikian mereka membangun (build-up) lingkaran/lingkungan khusus di mana mereka saling mengagumi yang lain. Maka, ada banyak pelajar dari dunia luar dari Barat  datang ke Barat untuk mendapat pendidikan teologis mereka. Tetapi mayoritas sekolah-sekolah teologis di Barat masih memimpikan suatu mimpi bahagia dari center-complex. Seperti sebuah mimpi yang innocent.  Ia berbahaya pada realitas hidup Gereja Universal. Ia adalah idolatri karena ia meninggikan kesukuan pada universal. Tuhan tersalib sebagaimana  hadir di Jakarta seperti di Yerusalem, di Ranggoon seperti di London. Dinamisme periferi menilai center-complex (pusat yang komplex) kita.

            Dalam terang otoritas periferi-oriented dari Tuhan tersalib, bagaimana kita melihat orang yang hidup dalam golongan makmur dari dunia sekarang ini?

“People are Wasted”

Kemakmuran/kekayaan dan tingkat inhuman dari kemiskinan tampil bersama-sama secara berdampingan di dalam dunia ini. Salah satu urusan humanitas adalah kematian karena terlalu banyak makan (overeating) dan karena kelaparan. Tragedi global ini sering direfleksikan dalam berbagai bangsa. Hanya segelintir orang Filipina yang menikmati kekayaan besar sementara moyoritas absolut dari rakyat berjuang dalam keputusharapan karena dilanda kemiskinan. Semua sistem eksploitatif didukung oleh  senapan militer. Bahkan dalam negara-negara yang dinamakan negara demokratis di sana tetap eksis kelas yang dimiskinkan (impoverished class) dan “dijajah” oleh kaum kaya.

            Pertemuan ke-6 Konferensi Kristen Asia, pada Juni 1977, menggambarkan “Situasi Asia”: Realita dominan penderitaan Asia adalah bahwa banyak orang yang terbuang/tertindas: dibuang/ditindas oleh kelaparan, penyiksaan, pelanggaran terhadap hak; dibuang oleh  eksploitasi ekonomis, diskriminasi rasial dan etnik, penindasan seksual; tertindas oleh kesepian, tak punya siapa-siapa/relasi, tak memiliki komunitas.

            Konferensi tersebut memfokuskan diri untuk memperhatikan rakyat. Segala bentuk penindasan/pembuangan di dunia memiliki dampak  yang mengerikan: banyak orang terbuang/tertindas. Menurut Konferensi Asia, orang-orang terbuang adalah penyakit fundamental Asia. Ada alasan-alasan ganda untuk membuang/menindas banyak orang. Alasan utama adalah eksploitasi ekonomi. Penyebab kelaparan adalah situasi terbuang. Konferensi menyatakan bahwa, “Dalam situasi ini kita mulai menegaskan bahwa banyak orang tidak untuk dibuang, orang berharga,  diciptakan dalam gambar Allah….” Jika satu orang kelaparan, kehidupan gambar Allah tertindas/terbuang. Ada perbedaan antara anjing lapar dan manusia lapar. Manusia lapar merasakan suatu penyerangan pada martabatnya; sedangkan anjing tidak demikian. Bagi pribadi manusia, humiliasi (penghinaan) secara fisik berarti penghinaan spiritual. Perut kosong berarti suatu penghinaan pada gambar Allah.

            Setelah observasi fundamental ini, kita akan melihat hal kedua dari fokus Konferensi Asia: “people are wasted”. Ada rakyat yang miskin dan kaya. Mereka memerlukan makanan, tempat untuk tidur dan pakaian. Kondisi ekonomi seperti itu membuat hidup mereka dapat menjadi terbuang. Mereka tidak kepalaran. Tetapi mereka dapat menjadi terbuang. Kesenangan badani tidak berarti mengalami pemenuhan spiritual. Biasanya kita berpikir bahwa mereka yang hidup dalam kekayaan tidak mengalami situasi terbuang. Kekayaan memperbudak baik laki-laki maupun perempuan. Saya tidak akan mengatakan bahwa perbudakan karena kekayaan identik dengan perbudakan karena kemiskinan. Mereka tidak identik. Kita semua berhasrat untuk diperbudak oleh kekayaan tetapi kita tidak ingin diperbudak oleh kemiskinan. Orang yang miskin harus dibebaskan dari kemiskinan mereka. Orang yang miskin maupun kaya mesti dibebaskan dari “wasting life”. Orang kaya mesti dibebaskan dari perbudakannya atas kekayaan. Hidup mesti tidak tertindas/terbuang. Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini” (Luk. 19: 8-9).

            Orang-orang yang terbuang adalah orang-orang yang berada di periferi. Kaum miskin adalah orang yang berada di periferi. Yesus menghampiri mereka. Orang-orang yang tidak miskin dapat berada di periferi manakala hidup mereka terbuang/tertindas. Yesus menghampiri mereka. Tetapi seringkali orang-orang yang tidak miskin tidak berpikir bahwa mereka berada pada periferi. Itu ironis seperti kata Mark 2: 17: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Allah yang Tak Pandang Bulu 

Yesus Kristus, yang telah digiring ke periferi , memiliki otoritas menyapa dan menyembuhkan  mereka yang “hidupnya terbuang/tertindas” di bawah aneka tipe perbudakan. “Firman itu telah menjadi daging, dan tinggal di antara kita” (Yoh 1: 14) menunjukkan bahwa dalam pikiran Allah, manusia begitu penting. “Firman itu telah menjadi daging, dan tinggal di antara kita” tidak dikatakan secara khusus bahwa Ia tinggal di antara orang miskin, atau tidak di antara orang-orang miskin maupun kaya, atau tidak di antara orang kaya. Dia tinggal di antara orang-orang (people) untuk menyelamatkan mereka dari hidup yang terbuang. Manakala kita mengatakan bahwa Allah telah memilih kaum miskin – dia berpihak pada kaum miskin – dalam Yesus Kristus, kita mestinya tidak mengartikan bahwa  semua yang lain menjadi musuh Allah. “Firman itu telah menjadi daging, dan diam di antara kita” merupakan dimensi tersembunyi dari “ketakpandangbuluan” belaskasihan Allah untuk semua. “Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua” (Rom 11: 32). “Semua manusia” saya pahami sebagai kata yang tidak memandang bulu kaum miskin, tidak orang miskin maupun kaya atau kaum kaya saja. Inilah belaskasihan Allah yang dalam. Belaskasihan itu sangat mendalam.  “Dia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5: 45). Dia menunjukkan belaskasihan-Nya pada semuanya, baik kaum kaya maupun kaum miskin. Allah berpihak pada kaum miskin; Dia memperhatikan orang-orang yang perutnya kosong dan kedinginan pada malam hari. Allah mesti mengatakan kepada kita yang adalah “dalam pandangan-Nya” musuh-Nya. Ada jutaan “orang Kristen yang saleh” di seluruh dunia  yang beruntung karena satus quo mereka atas regim represif dan eksploitasi tak kenal ampun. Semua sistem pendidikan Amerika, termasuk seminari teologis, terjebak dalam sistem kapitalistik melalui penerimaan kepentingan kapitalis demi endowment funds mereka.  Haruskah mereka menyebut junta militer, kaum kapitalis dan para pengeksploitasi sebagai “musuh” Allah? Bagaimana tentang jutaan yang lainnya yang menerima buah ketidakadilan sistem sosial? Untuk apa uang yang kita pinjamkan untuk Melboure dari empat  sudut dunia? Sungguhkah dia uang yang tidak tercemar? Apakah uang itu sungguh berguna dalam dunia sekarang?  Jumlah yang sangat besar dari “orang Kristen yang baik” mengalami kehidupan yang sibuk yang merupakan semacam spiritualitas Kristen yang tidak menuntut keadilan sosial. Bukankah hal itu membenarkan bahwa pada kenyataannya, orang Kristen mendukung regim penindas? “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi” (1 Ptr 4: 17).

Bahkan ada banyak yang hati-hati mengenai bahasa teologis menyangkut kaum miskin yang bersifat paternalistik. Paternalisme sering memelihara idolatri. Jika kaum miskin diangkat ke puncak sejarah, jika semua humanitas dipusatkan pada kehadiran kaum miskin, jika kaum miskin hanyalah mediator agar kita dapat datang kepada Allah dalam Kristus, idolatri baru telah diciptakan dari  kaum miskin sendiri secara tidak sadar. Lalu humanitas dibagi dalam dua bagian faceless: kaum kaya dan kaum miskin. Pembagian faceless sangat membahayakan. Di satu sisi “diabsolutkan” melawan yang lain. “Sabda menjadi daging dan tinggal di antara kita” berarti bahwa kedatangan Yesus Kristus mengeliminasi facelessness ini. Yesus membangun komunitas daripada membuat kumpulan orang banyak (massa). Dia menentang “wasting life” dalam semua konteks kehidupan. Dalam parabel tentang kaum Farisi dan pemungut cukai di dalam Bait Allah (Luk 18: 9 – 14) menunjukkan bahwa kesalehan kaum Farisi jauh lebih miskin daripada pengusaha pemungut pajak yang sekular yang berseru, “Tuhan, kasihanilah aku, saya seorang pendosa.”

Dalam perumpaan ini, Yesus tidak menyinggung tentang latar belakang ekonomis dari dua orang-orang yang secara spiritual berbeda. Lagipula, dalam perumpaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk 10: 25 – 37) seseorang dapat membayangkan – dan hal itu pasti mungkin – bahwa orang Samaria  yang  sanggup membayar biaya pengobatan orang yang dipukul di jalan raya adalah mungkin orang yang secara ekonomis seorang yang sedikit lebih kuat daripada kaum agamawan yang lewat. Dunia kita penuh dengan hal-hal yang membingungkan dan situasi sosial yang kompleks, dan itu adalah “Sabda menjadi daging dan tinggal di antara kita.”

“Sabda menjadi daging dan tinggal di antara kita.” Dia “lemparkan kemah-Nya” di antara kita. Dia tidak hidup dalam “rumah besar” (pharaoh berarti “rumah besar”). Dia menghidupi kehidupannya sebagai seorang “manusia periferi” (manusia yang berada di pinggir). Sebagai seorang periphery man dia menantang idolatri dalam agama dan politik dan menegaskan tradisi yang lebih dalam dari perkataan, “Tuhan, kasihanilah aku, saya seorang pendosa” dalam kehidupan Sinagoga dan Gereja. Jika kata-kata ini diserukan oleh seseorang, entah dia seorang laki-laki atau perempuan, kaum kaya atau miskin, mereka dapat mengatasi keadaan tatanan sosial yang tidak adil, karena jiwa-jiwa mereka sungguh-sungguh bebas dari idolatri. Mereka tidak hanya mencoba untuk tenang manakala di sana tidak ada kedamaian. Mereka mengalami“jiwa yang hancur” (Mzm. 51: 17). Jiwa yang hancur dapat menjadi jiwa community-minded. Mereka dilengkapi persepsi yang tajam mengenai di mana dan pekerjaan dari ketidakadilan sosial. Kita tidak mesti memahami kata-kata ini dari tangisan sederhana kepada Allah hanya sebagai yang personalistik, kata-kata spiritual yang tidak memiliki banyak untuk mengerjakan dengan realitas sosial. Kata-kata pemungut pajak ini dapat mengatasi human religious dan political power (kekuatan politik). Pada Kristus tersalib reign of God telah datang: bekas luka Yesus menantang kekuatan the good yang membuat mati the best.

Bekas Luka-Luka Yesus

Rasul Paulus menyimpulkan Suratnya kepada umat Galatia dengan kata-kata ini: “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru…. Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus” (Gal. 6: 15, 17).

Tanda (stigmata) berarti cap yang dikenakan pada budak. Stigmata berarti bahwa bekas luka-luka Paulus diterimanya dari pemukulan sebagaimana dinarasikan dalam 2 Korintus 11: 23-28. “Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan. Tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu.” Paulus membawa bekas luka-lukanya pada tubuhnya sebagai sebuah simbol communion antara dia dan Kristus tersalib. Bekas luka-luka itu menunjukkan bahwa Paulus menjadi seorang “ciptaan baru”. Melalui bekas luka-luka tersebut Paulus dibebaskan dari bersunat atau tidak bersunat. Paulus berbicara dengan kata-kata yang tidak biasa tentang institusi yang lebih terhormat pada semuanya yakni penyunatan. Bukan bekas luka-luka dari penyunatan melainkan bekas luka-luka dari Yesus yang sekarang menjadi realitas pokok bagi Paulus.

Gereja Kristen adalah sebuah institusi. Kehidupan tak pernah bebas dari institusi. Kekuatan (vitality)  yang menolak bentuk institusional adalah suatu kekuatan yang sembrono (wild). Di mana ada kehidupan di sana ada institusi. Lantas ada pertanyaan, institusi seperti apa yang mengekspresikan the power of life dan imagination of life? Institusi kreatif? institusi destruktif? Institusi yang menyemangati seseorang (lively one)? Institusi yang membantu seseorang? Pada wajah yang mendatangkan tentara Babilonia, orang-orang Yahudi menceritakan nama institusi yang lebih suci, yakni Bait Allah. Mereka berpikir, Yerusalem tidak dapat dirusak oleh tentara kafir, karena Yerusalem mempunyai institusi yang lebih suci di dalamnya. Tetapi Yerusalem ternyata dihancurkan. Yeremia memberikan alasan atas penghancuran Yerusalem:

“Jika kamu sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing, tidak menindas orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini dan tidak mengikuti allah lain, yang menjadi kemalanganmu sendiri, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini, di tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu, dari dahulu kala sampai selama-lamanya (Yer. 7:6-7).

Bahkan institusi yang lebih suci tidak dapat melindungi (protect) suatu bangsa jika hidup yang memulai institusi tidak dipertunjukkan dengan setia. Dengan kata lain, Bait Allah akan melindungi penduduk bangsa jika mereka mempraktekkan pesan terdalam dari institusi: “melaksanakan keadilan seorang terhadap yang lain”.

Kekuasaan institusional berakar dalam tanggung jawab etis institusi. “Tidak menindas orang asing, anak yatim (fatherless) atau janda”. Institusi Bait Allah menjadi bermakna terhadap bangsa Yahudi. Yesus berpegang pada tradisi ini.

Come to the Altar Twice (Datang pada Altar Dua Kali)

“Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas altar dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan altar itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu datang kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat. 5: 23 – 24).   

Kamu harus datang pada altar “dua kali”. Pertama kali kamu datang, roh yang hidup di altar yang adalah suatu ekspresi institusional akan membuat kamu sadar apa makna “mendatangi altar”. Di sana Anda akan teringat “akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu yang melawan engkau,” janganlah ada pada kamu sesuatu yang melawan saudaramu, karena altar berdiri untuk menghakimi perspektif egosentrik. Maka kamu mengambil suatu jalan, seperti altar. “Pertama-tama berdamai dengan saudaramu”. Kemudian datang kembali dan lanjutkan tindakanmu mempersembanhkan persembahanmu di altar. Praktekkan apa yang altar pegang. Praktekkan apa yang Baik Allah pegang. Jika bekas luka-luka Yesus, dan bukan karena penyunatan, adalah simbol fundamental bagi Gereja, Gereja mesti menyatakan makna dari bekas luka-luka tersebut dalam cara beradanya dan dalam tindakan-tindakannya. Gereja mesti menunjukkan kualitas aslinya melalui kehidupan institusionalnya. Institusi jelek adalah apa yang mendiamkan (tidak mempedulikan) makna Bait Allah. Institusi yang baik adalah institusi yang keluar untuk mendengarkan dan melihat orang-orang.

            Di mana ada hidup di situ pula ada institusi. Namun Gereja adalah sebuah institusi yang asing (strange) yang diciptakan oleh Tuhan tersalib. Gereja adalah gambar Tuhan tersalib yang mesti datang keluar melalui kehidupan gereja institusional. Kristus tersalib tidak dapat diinstitusionalisasikan dengan mudah. Dia tidak dapat dijinakkan (be tamed) dengan mudah. Dia selalu mampu untuk menyalibkan institusi yang dibangun dalam namaNya. Dia mengunjungi GerejaNya sebagai Tuhan tersalib. Dia menyuruh GerejaNya untuk memiliki suatu pikiran tersalib daripada suatu pikiran yang menyalibkan (a crucified mind rather than a crusading mind). Pikiran tersalib bukanlah suatu pikiran neurotis. Pikiran tersalib adalah pikiran yang siap menerima penghinaan untuk  menyelamatkan orang lain dari penghinaan. Pikiran tersalib adalah pikiran community-directed yang kuat. Pikiran tersalib adalah pikiran yang sehat. Gereja bersemangat untuk datang kepada orang-orang dengan pikiran tersalib bukan dengan pikiran yang menyalibkan. Pikiran tersalib menyuruh kita untuk mengikuti Tuhan tersalib agar kita berlari di depan-Nya.

            Namun power Kristus tersalib mengungkapkan dirinya sendiri dalam caranya sendiri dari “penyaliban”. Power-Nya adalah sebuah “crusade” yang secara mendalam berakar dalam Kristus tersalib. Begitulah “crusade” berbeda dari crusade biasa. Ia adalah suatu crusade yang dipentaskan (staged) oleh pikiran yang menerima penghinaan dalam rangka menyelamatkan yang lain dari penghinaan! Ia  tidak menindas yang lain. Ia mengambil jalan penderitaan. “Datanglah kerajaanMu!” sebuah sejarah penderitaan.

            Dalam dunia kita sekarang ini, “orang-orang Kristen yang baik” adalah orang yang menjauhkan diri mereka sendiri dari penderitaan dunia. Mereka berbicara tentang penderitaan dan memberi derma untuk mengurangi  kondisi-kondisi hidup yang tidak manusiawi. Mereka tulus, jujur, pekerja keras dan church-going. Mereka orang-orang baik. Tetapi, di sini “orang baik” yang secara innocent mendukung sistem eksploitasi global yang menindas.  Mereka hidup dalam “ketiadaanberdosa yang bengis”, sebagaimana Michael Harrington katakan. Mereka memperhatikan tentang spiritualitas mereka. Mereka hidupi suatu “kehidupan yang kaya secara internal” dengan Yesus. Tetapi kebaikan mereka adalah karena mereka hanya bertindak sebagai penonton (bystander). Jutaan kali doa“datanglah KerajaanMu” diserukan oleh orang-orang baik yang hidup dalam “ketiadaanberdosa yang bengis.” Hal ini adalah salah satu institusi visible yang paling besar dan institusi yang invisible dari Kristianitas. Orang-orang Kristen yang baik membasmi yang lain!

            Doa “Datanglah KerajaanMu”, tidak berasal dari Gereja Kristen. Gereja menerimanya dari Israel. Yahudi mendoakan, “Datanglah KerajaanMu”. Mereka mendoakan doa ini karena malapetaka holocaust dalam sejarah silam. Ia bukan suatu doa yang murah. Hari ini ketika kita mendoakan doa ini kita mesti mengetahui bahwa kita mengatakannya setelah peristiwa Auschwitz dan genosida Kamboja. Dunia penuh dengan senjata pembawa maut yang mengerikan. Itu ada dalam dunia ini bahwa kita mendoakan doa ini. Kita mesti mengetahui brokenness tragis dari dunia ketika kita mengatakan doa ini. Dengan bekas luka-luka Yesus yang menyembuhkan luka dunia, kita katakan, “Datanglah KerajaanMu.” 

 

Translated by Postinus Gulö

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: