BERBAGI INSPIRASI

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..


    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 114,940 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Juni 2010
    S S R K J S M
    « Mei   Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

Fa’owua-wua Dödö: Paradigma Kerajaan Allah dalam Masyarakat Nias

Posted by postinus pada Juni 8, 2010


Oleh Postinus Gulö *

 Pengantar

Istilah “Kerajaan Allah” tidak dipahami orang Nias asli. Kata “Kerajaan Allah” adalah istilah asing, istilah impor, istilah yang dibawa agama Kristen. Begitu juga konsep neraka adalah konsep Nasrani, bukan konsep asli Nias.[1] Akan tetapi, jika Kerajaan Allah dimaknai sebagai Allah meraja dan di mana Allah meraja di situ ada kedamaian, sukacita dan kebahagiaan, maka konsep Kerajaan Allah semacam itu ada dalam konsep masyarakat Nias. Dalam paper ini, saya akan menelusuri dan menganalisis kebahagiaan (fa’owua-wua dödö) bagi masyarakat Nias, karena kebahagiaan itu dapat juga dimaknai sebagai situasi Kerajaan Allah.  

Paper ini diolah berdasarkan buku dari Victor Zebua, Pastor Johannes Maria Hämmerle, OFMCap, Koentjaraningrat, Paul Verghese, dan Pastor Guido Tisera, SVD. Selain itu, informasi dari para informan dari Nias menjadi bahan analisis penulis dalam penulisan paper ini. Informan itu yakni Pastor Otenieli Daeli, OSC, Bapak Tageli Gulö, dan Bapak Aroni Gulö. Ketiga informan tersebut, menurut penulis,  cukup memahami “Kerajaan Allah” dalam pandangan masyarakat Nias.[2]

Kerajaan Allah dalam Kitab Suci

Sebelum saya menganalisis Kerajaan Allah dalam pandangan masyarakat Nias, ada baiknya jika saya terlebih dahulu melihat sekilas paham Kerajaan Allah dalam Kitab Suci. Hal ini penting, sebab Kitab Suci merupakan locus teologi. Dengan kata lain, theoretical framework yang saya gunakan untuk menyusun paper ini adalah paradigma Kerajaan Allah menurut Kitab Suci. Berdasarkan theoretical framework tersebut lalu saya menganalisis paradigma Kerajaan Allah menurut paradigma masyarakat Nias. Artinya, paradigma Kerajaan Allah biblis itu saya relevansikan dengan paradigma Kerajaan Allah menurut masyarakat Nias.

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama (PL) ada beberapa kutipan yang bisa merefer pada makna Kerajaan Allah. Beberapa kutipan itu, antara lain:  Kerajaan Allah adalah Allah meraja sebagai Pembebas (Kej 6: 1 – 12); kerajaan damai (Yes 2:1-5; 9: 4-6); Allah meraja sebagai raja keadilan dan kebenaran (Yes 32: 1 -8); Allah adalah Raja yang kekal (Yer 10: 10; Dan 4: 2-3; Mzm 10: 16); Allah memerintah (Mzm. 22 : 29, 47: 1 -10). Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel memahami Kerajaan Allah sebagai kerajaan yang bersifat humanis, eksklusif (hanya berlaku bagi bangsa Israel sebagai bangsa pilihan). Selain itu, Kerajaan Allah menyangkut nasib dan kebahagiaan eksistensial. Dalam Kerajaan Allah itu, Allah dipahami sebagai hakim dan pemimpin yang melindungi, menolong, menyejahterakan sekaligus menghakimi mereka. Singkatnya, misi Kerajaan Allah adalah keteraturan moral dan keadilan.

Dalam Perjanjian Baru terjadi pergeseran paham mengenai Kerajaan Allah. Kerajaan Allah diperuntukkan bagi orang-orang terbuang (Mat 25: 42 – 45), Kerajaan Allah telah datang jika setan terusir dan yang sakit menjadi sembuh (Luk 11: 20). Kerajaan Allah dipersonalkan dalam diri Yesus: Kerajaan Allah sudah terjadi dalam diri Yesus. Konsep Kerajaan Allah dalam Injil sinoptik bersifat moralis: Kerajaan Allah sudah dekat berarti ajakan untuk bertobat dan lebih baik.[3] Menurut Guido Tisera, Kerajaan Allah yang merupakan pusat pewartaan Yesus berarti transformasi semua struktur manusia demi keadilan dan hak-hak orang miskin.  Kerajaan Allah itu pun sudah terjadi kini tetapi juga nanti/belum[4] (gia e non ancora atau already but not yet). Dari analisis di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa manusia mengalami Kerajaan Allah pada saat ia mengalami kedamaian, keadilan, kebahagiaan, pertobatan, kebebasan, dan kesejahteraan. Berdasarkan paradigma tersebut saya mencoba menyusun dan memahami paradigma Kerajaan Allah dalam persepsi masyarakat Nias.

Kebahagiaan dan Kerajaan Allah dalam Pandangan Masyarakat Nias

            Dalam mamahami Kerajaan Allah dalam konteks Nias, saya memfokuskan diri pada kata KEBAHAGIAAN (fa’owua-wua dödö) sebagai paradigma Kerajaan Allah. Kebahagiaan dalam hal ini sebagai bentuk lain dalam memahami Kerajaan Allah sebab istilah Kerajaan Allah tidak dipahami dalam tradisi Nias. Yang dipahami masyarakat Nias hanyalah istilah kebahagiaan. Namun demikian, dalam kenyataan, masyarakat Nias zaman kiwari sudah mengenal konsep tentang Kerajaan Allah karena akulturasi dan adaptasi dengan berbagai budaya lain terutama kekristenan.

Menurut Pastor Otenieli Daeli OSC, Kerajaan Allah adalah situasi di mana Allah meraja dan di mana Allah meraja di situ ada kedamaian, suka cita, dan kebahagiaan. Oleh karena itu, menurut Pastor Ote – demikian ia disapa – konsep Kerajaan Allah di Nias sangat erat terkait dengan kebahagiaan (fa’ohahau dödö/fa’owua-wua dödö).[5] Kebahagiaan yang dimaksud di sini lebih bersifat duniawi, yaitu kebahagiaan yang dialami di dunia ini. Selanjutnya, saya akan menguraikan konsep kebahagiaan itu dalam pemahaman masyarakat Nias.

Pertama, penduduk asli Nias mengalami kebahagiaan dikala mereka terbebas dari abula dödö (beban hidup, penderitaan ).[6] Menurut Pastor Ote, OSC, salah satu beban hidup bagi orang Nias adalah ömö (utang). Orang Nias akan sangat bahagia kalau tidak punya utang. Mayoritas orang Nias memiliki banyak utang terlebih setelah melaksanakan pernikahan sebab mas kawin (böwö) di Nias relatif besar. Kalau pasangan suami istri sudah bebas dari utang, mereka sangat senang/bahagia karena bisa menikmati hasil jerih payah sehari-hari dengan leluasa. Kalau ada utang, makanan yang sudah di mulut pun enggan ditelan karena memikirkan utang: jangan-jangan sebentar lagi datang “sanugi ömö ” (penagih utang). Dengan demikian, mereka sangat tidak bahagia dengan adanya utang. Bahkan Pastor Ote menegaskan bahwa “Utang membuat orang Nias tidak bisa menikmati Kerajaan Allah.”[7] Artinya, utang membuat orang Nias tidak bisa menikmati kebahagiaan di dunia ini.

            Kedua, pasangan suami istri akan mengalami kebahagiaan jika mereka mampu membangun rumahnya. Itu sebabnya ada istilah begini: no malalau nomoma, ahono sibai dödöma = kami telah membuat rumah kami, hati kami tenang/bahagia. Masyarakat sekitar pun akan berkata: ebua sibai howu-howu khömi, ohahau dödömi = besar sekali berkat atas kalian, hati kalian pasti bahagia. Bagi masyarakat Nias, rumah merupakan sumber berkat. Oleh karena itu, ketika mendirikan rumah, banyak ritual yang akan dilakukan. Kalau tidak mengikuti ritual dan tata aturan pendirian rumah, maka rumah itu tidak memberi berkat (howu-howu) melainkan kemalangan (fa’audi).

Ketiga, orangtua sangat bahagia ketika mampu menikahkan anak mereka, khususnya laki-laki. Orangtua sering berkata: amuso sibai dödögu natola ufangowalu nonogu matua andre, abu’a gabula dödögu (saya bahagia sekali jika saya mampu menikahkan anak lelakiku ini, tertebuslah beban hatiku). Bagi orangtua, menikahkan anak adalah tanggung jawab besar bahkan seolah-olah misi orangtua di dunia ini telah selesai pada saat ia mampu menikahkan anaknya. Orangtua merasa tenang dan bahagia (ahano dödöra).[8]

Keempat, orang Nias mengalami kebahagiaan jika hasil panen mereka berlimpah. Hasil panen yang melimpah merupakan howu-howu Lowalangi, buala Zokhö (=berkat dari Tuhan, pemberian yang Empunya).

Kelima, orang Nias mengalami kebahagiaan jika mereka berhasil dalam berburu (ahulu). Biasanya, sebelum melakukan perburuan, para pemburu berdoa kepada dewa hutan yang empunya babi hutan, rusa, dan kancil. Masyarakat Nias meyakini bahwa semua binatang yang ada di hutan memiliki dewa pemilik. Kalau para pemburu tidak meminta izin kepada dewa tersebut, maka ada empat kemungkinan yang dapat mereka hadapi: tidak berhasil dalam berburu, mengalami kecelakaan, tersesat di hutan, dan ditawan oleh dewa hutan.

Bagi masyarakat Nias, menikahkan anak, membangun rumah, hasil panen yang memuaskan, berhasil dalam berburu adalah suatu prestasi. Prestasi-prestasi yang dicapai bisa membawa orang Nias pada kebahagiaan. Hal ini ditegaskan oleh Pastor Ote, “Dalam arti tertentu, kita kemudian bisa merumuskan bahwa prestasi bisa membawa orang Nias pada kebahagiaan, seperti “molau owasa” (mengadakan pesta besar), menikahkan anak, menerima hasil panen yang banyak, berhasil dalam berburu, dsb.”[9]

Keenam, ketika seseorang mampu melakukan owasa (pesta besar) dengan menyembelih ratusan ekor babi dan mengundang banyak kampung tetangga. Semakin meriah owasa (pesta adat) yang dilakukan maka keluarga itu semakin berwibawa, terpandang, dan disegani (ebua lakhömi).[10] Sebaliknya, orang Nias akan sangat tidak bahagia kalau dipermalukan, apalagi di depan umum. Pepatah Nias mengatakan, Sökhi mate moroi na aila (lebih baik mati dari pada malu).[11]

         Ketujuh, masyarakat Nias akan bahagia ketika mampu memberi fangasi kepada orang yang telah meninggal. Terjemahan harfiah fangasi adalah  penebusan (redemption). Akan tetapi, fangasi bisa juga disebut fangasiwai artinya penyelesaian. Fangasi adalah penyelesaian upacara bagi orang yang telah meninggal.

Kedelapan, konsep dan filosofis kebahagiaan tampak jelas dalam Amaedola (adagium, pepatah, kata-kata mutiara). Salah satu adagium yang terkenal di Nias adalah: “Gowi göda, gae ndriwoda, hulö wakhe ba dödöda na hasara sa dödöda.”[12] Adagium itu dapat diartikan begini: biar hanya ubi makanan kita, biar hanya pisang lauk pauk kita, ibarat nasi bagi kita jika kita sehati sejiwa.[13] Artinya, sehati sejiwa membawa kebahagiaan bagi masyarakat Nias. Jika terjalin ”sehati sejiwa” di antara masyarakat Nias maka terjadilah yang namanya: ”sorugo gulidanö” (=Kerajaan Allah di dunia) atau fa’owua-wua dödö (kebahagiaan). Istilah ”sorugo” (=surga) ini pun adalah istilah masyarakat Nias modern yang telah menganut agama Nasrani.

Locus dan Bentuk Kerajaan Allah

Sekali lagi, Kerajaan Allah saya maknai sebagai kebahagiaan karena terminologi itulah yang dihayati oleh masyarakat Nias. Dalam paparan dan analis di atas kita bisa berkesimpulan bahwa locus Kerajaan Allah/kebahagiaan  bagi masyarakat Nias adalah ”dunia kini”. Kerajaan Allah atau kebahagiaan dialami di dunia kini. Dengan demikian, Kerajaan Allah bersifat historis. Bagi orang Nias, pengalaman akan Kerajaan Allah sangat eksistensial: kebahagiaan karena bebas dari utang, berhasil menikahkan anak, berhasil membangun rumah, dalam keluarga terjadi kesatuan hati. Bentuk Kerajaan Allah pun jelas: pengalaman bahagia!

Akan tetapi, jika kita menganalisis mitos kuno Nias ternyata locus Kerajaan Allah terdapat di dunia lain, dunia seberang. Hal itu tampak dalam mitos Teteholi Ana’a di mana leluhur Nias diturunkan (ladada). Menurut Victor Zebua, Teteholi Ana’a bisa juga dimaknai ”sebagai sebuah kerajaan yang sangat agung dan mulia, tempat yang bahkan semua manusia belum pernah ke sana,”[14] kecuali leluhur pertama Nias. Konsep Teteholi Ana’a menunjukkan bahwa dalam pandangan masyarakat Nias, kebahagiaan itu bersifat historis-eksistensialis sekaligus futuristik-eskatologis. Dengan kata lain, Kerajaan Allah dapat dialami, baik kini dan di sini – di dunia kini, maupun di dunia lain, di Teteholi Ana’a. Bentuk kebahagiaan di Teteholi Ana’a tiada yang tahu.

Pastor Johannes Maria Hammerle, OFMCap, menafsirkan Teteholi Ana’a secara lain. Ia yakin bahwa Teteholi Ana’a adalah simbol rahim sang ibu.[15] Pendapat Pastor Johannes ini masuk akal juga. Sebab, masyarakat Nias mempercayai bahwa Sang Ibu adalah ”hele-hele wa’auri” (sumber kehidupan, saluran keselamatan) atau ”umbu nidanö wa’auri” (mata air kehidupan).[16] Pengagungan akan Ibu itu tampak, salah satunya, dalam ritual perkawinan di Nias. Dalam sistem adat perkawinan Nias, böwö pertama-tama dipersembahkan kepada Sang Ibu, hal ini disebut: sia’a mböwö (böwö yang utama).

Dalam pengertian Pastor Johannes, letak Teteholi Ana’a bersifat historis, duniawi: rahim ibu. Teteholi Ana’a bisa dialami setiap orang ketika berada dalam kandungan sang ibu. Dari tafsiran ini, kita bisa menyimpulkan bahwa Kerajaan Allah adalah tempat yang memberi kehidupan dan kenyamanan seperti rahim ibu. Di dalam rahim, awal kehidupan bertumbuh dan berkembang hingga 9 bulan. Selama 9 bulan, jabang bayi menikmati kenyaman, kehangatan, dan keamanan. Di sana tersedia nutrisi yang tidak terkena formalin.[17]

Jika kita berpedoman pada tafsiran Johannes tentang Teteholi Ana’a, maka kita kesulitan untuk menentukan ke mana orang Nias pada saat ajal menjemputnya. Jika, Teteholi Ana’a adalah rahim ibu, apa mungkin roh orang mati akan kembali ke rahim ibu? Padahal, menurut penelitian Koentjaraningrat, dalam agama asli Nias, roh orang yang meninggal pergi ke Teteholi Ana’a yang berada di dunia seberang, bukan di dunia ini.[18] Oleh karena itu, penulis lebih meyakini bahwa Teteholi Ana’a adalah tempat yang bersifat mitologis bahkan berada di dunia seberang. Kesimpulan saya ini sesuai dengan keyakinan Victor Zebua yang mengatakan bahwa “Kesimpulan Teteholi Ana’a sebagai simbol rahim sang ibu agaknya tergesa-gesa.”[19]

Kapan Kerajaan Allah dialami Masyarakat Nias?

Masyarakat Nias mengalami Kerajaan Allah saat mereka mengalami kebahagiaan. Masyarakat Nias mengalami kebahagiaan, antara lain, saat mereka berhasil menikahkan anak lelakinya, berhasil membangun rumah, hidup tanpa utang, berhasil melakukan pesta adat (owasa). Dari uraian ini, masyarakat Nias mengalami Kerajaan Allah ketika masih hidup di dunia ini.

Akan tetapi, jika Kerajaan Allah itu adalah Teteholi Ana’a berdasarkan penafsiran Victor Zebua, maka masyarakat Nias mengalami Kerajaan Allah ketika masyarakat Nias berada di dunia lain alias meninggal dunia. Pernyataan ini dikuatkan oleh hasil penelitian Prof. Dr. Koentjaraningrat. Menurutnya, dalam agama asli Nias, roh orang meninggal akan pergi ke Teteholi Ana’a. Tetapi untuk sampai ke Teteholi Ana’a, roh itu mesti menyeberangi suatu jembatan yang dijaga ketat oleh seorang dewa penjaga dengan kucingnya (mao). Orang yang berdosa dan belum diupacarakan akan didorong masuk ke dalam narako (neraka) yang berada di bawah jembatan. Keyakinan ini sudah dipengaruhi oleh paham Nasrani.[20]

Menurut kepercayaan agama asli Nias, kehidupan sesudah kematian merupakan kelanjutan dari kehidupan sekarang. Orang miskin, orang kaya dan orang yang berkedudukan tinggi akan demikian keadaannya di Teteholi Ana’a.[21]  Dengan kata lain, kebahagiaan yang dialami di dunia ini akan dialami pula di Teteholi Ana’a. Sebaliknya, kemelaratan dan kemiskinan yang dialami di dunia ini akan dialami pula di Teteholi Ana’a. Konsep ini hendak menegaskan bahwa setelah mengalami kematian, masyarakat Nias tidak mengalami perubahan pengalaman eksistensial.

Penutup

Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru disinggung makna Kerajaan Allah, salah satunya, sebagai pengalaman eksistensial. Pengalaman eksistensial itu adalah pengalaman yang menggembirakan, menciptakan harapan, keadilan, kebenaran, tatanan moral yang baik, kaum tertindas mengalami keadilan dan kebahagiaan. Paradigma Kerajaan Allah semacam itu relevan dalam pemahaman masyarakat Nias akan kebahagian. Hal itu tampak dalam paparan di atas bahwa Kerajaan Allah bagi masyarakat Nias adalah situasi di mana masyarakat Nias mengalami kebahagiaan (fa’owua-wua dödö).

Masyarakat Nias mengalami Kerajaan Allah di dunia ini sekaligus di dunia seberang yakni di Teteholi Ana’a. Dengan kata lain, paradigma Kerajaan Allah gia e non ancora (sudah tapi belum)  dalam Kitab Suci, ternyata ada dalam paradigma masyarakat Nias.

Postinus Gulö, mahasiswa S-2 di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

 

Daftar Pustaka

1. Hämmerle, Johannes Maria, Asal Usul Masyarakat Nias: Suatu Intepretasi, Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2001.

2. Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1976.

3. Tisera, Guido, Seperti Apakah Kerajaan Allah Itu, Jakarta: Obor, 2001.

4. Verghese, Paul, Injil Tentang Kerajaan Allah, Ende: Nusa Indah, 1974.

5. Zebua, Victor, Ho: Jendela Nias Kuni, Sebuah Kajian Kritis Mitologis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.

Informan

  1. Pastor Otenieli Daeli, OSC wawancara via email, 6 Mei 2010. 
  2. Bapak Tageli Gulö (Ama Sohahau Gulö) dari kampung Dangagari, Pulau Nias, diwawancarai via telepon tanggal 1 Mei 2010.
  3. Bapak Aroni Gulö dari kampung Dangagari, diwawancarai via telepon, 1 Mei 2010.

 


[1] Lihat Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Jakarta: Djambatan, 1976), hlm. 51.

[2] Satu orang informan berasal dari kalangan intelektual, yakni Pastor Otenieli Daeli, OSC. Pastor Otenieli Daeli, OSC adalah putra Nias Barat. Sekarang ia sedang mendalami ilmu antropologi jenjang doktoral di Universitas Filipina. Dua informan lain (Tageli Gulö dan Bapak Aroni Gulö) adalah warga Nias asli – dari kampung Dangagari, Nias Barat – yang menurut penulis mereka ibarat “native” yang memiliki pandangan khas mengenai paradigma Kerajaan Allah, khususnya tentang  kebahagiaan (fa’owua-wua dödö ).

[3] Bdk. Paul Verghese, Injil Tentang Kerajaan Allah (Ende: Nusa Indah, 1974), hlm. 9-11.

[4] Guido Tisera, Seperti Apakah Kerajaan Allah Itu (Jakarta: Obor, 2001), hlm. 6-7.

[5] Hal ini dikatakan oleh Pastor Otenieli Daely, OSC via email yang ia kirim ke penulis tanggal 6 Mei 2010. Pastor Ote, OSC sedang studi doktoral antropologi di Universitas Filipina.

[6] Pernyataan ini saya dapatkan dari Bapak Aroni Gulö via telepon, 1 Mei 2010.

[7] Pendapat Pastor Ote ini saya dapatkan langsung dari beliau melalui surat elektronik, 6 Mei 2010.

[8] Hasil wawancara dengan Bapak Tageli Gulö dari kampung Dangagari Pulau Nias, tanggal 1 Mei 2010 via telepon.

[9] Pastor Ote, Ibid.

[10] Bdk. Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Jakarta: Djambatan, 1976), hlm. 48.

[11] Hasil wawancara via email dengan Pastor Ote, 12 Mei 2010.

[12] Pastor Ote, Op. Cit.

[13] Pastor Ote, Ibid., Menurut Pastor Ote, OSC, fakhe [nasi] pada zaman dulu adalah makanan yang sangat istimewa dan paling bagus dalam masyarakat Nias. Oleh karenanya, masyarakat yang bisa menikmati nasi berarti masyarakat yang menikmati kebahagiaan: owua-owua dödö.

[14] Victor Zebua, Ho: Jendela Nias Kuni, Sebuah Kajian Kritis Mitologis (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm.119-120.

[15] Victor Zebua, Ibid., hlm. 112. Lihat juga, Pastor Johannes Maria Hammerle, OFMCap., Asal Usul Masyarakat Nias: Suatu Intepretasi (Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2001),  hlm. 107-109.

[16] Tageli Gulö, Op.Cit.

[17] Victor Zebua, Op.Cit., hlm. 120.

[18] Koentjaraningrat, hlm. 50.

[19] Victor Zebua, Op.Cit., hlm. 117.

[20] Koentjaraningrat, Op.Cit., hlm. 50.

[21] Ibid., hlm. 51. Paradigma Nias ini sejajar dengan paradigma masyarakat Cina yang menganggap kehidupan di alam baka adalah kelanjutan dari hidup di dunia nyata. Itu sebabnya dalam upacara penguburan orang Cina ada acara mempersembahkan uang-uangan kepada orang yang meninggal sebagai simbol kesejahteraan. Uang-uangan dibakar sebagai bekal  bagi orang yang telah meninggal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: