BERBAGI INSPIRASI

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..


    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 114,940 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    November 2010
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Kekuasaan, Politik, dan Pluralitas: Perjuangan Dewan Gereja-Gereja Sedunia untuk Berurusan dengan Pluralitas Religius

Posted by postinus pada November 23, 2010


Oleh S. Wesley Ariarajah

 (Paper bermutu  ini diterjemahkan oleh Postinus Gulo. Selamat membaca!)

Dalam artikel yang berjudul “Interreligious Dialogue as a Politicial Quest”, teolog terkenal India Felix Wilfred menunjukkkan beberapa dimensi-dimensi yang hilang  di dalam praktek dan refleksi dialog intereligius di masyarakat India sekarang ini. Kata Wilfred, dialog berlangsung terutama pada dua tingkat. Yang pertama, yang ia sebut “formal,” adalah kesatuan dalam mana ada “sharing dan pertukaran  dalam hal-hal doktrin, worldviews, dan cita-cita meneruskan tradisi keagamaan, dan pengalaman agar masing-masing agama (dapat) mengarahkan pengikutnya. Kedua, diidentifikasikan sebagai “informal”, terjadi di dalam hidup sehari-hari (day-to-day life), di mana umat dari tradisi-tradisi religius yang berbeda tumbuh bersama di dalam kesaling-pengertian (mutual understanding) dan mendorong adanya kehendak baik dalam suatu dialog kehidupan (diologue of life). “Saat tidak menyangkal pentingnya praktek dan teologi agama-agama, kata Wilfred, “Saya mesti menunjukkan bahwa mereka tidak menghadapi baik kelompok-kelompok religius sebagai unit-unit kekuasaan, maupun mereka juga tidak memperhitungkan hubungan kekuasaan (power relationship) di dalam masyarakat yang lebih luas.[1]

Wilfred tentu saja menaruh perhatian terutama pada situasi politik terkini di India, tetapi dia sadar betul bahwa banyak tempat-tempat lain di mana fungsi faksi-faksi politis juga [dilihat] sebagai entitas religius dan menggunakan identitas religius sebagai mobilisasi kekuatan. Ia benar sekali ketika menunjukkan bahwa di dalam situasi-situasi demikian ada dialog intereligius yang mengabaikan “dimensi kekuasaan” yang akan melalaikan salah satu elemen-elemen krusial yang dibutuhkan dalam menumbuhkan relasi-relasi intereligius.

Apa yang Wilfred katakan tentang dimensi sosial dari dialog religius adalah benar juga pada level teologis. Pengalaman saya sendiri berhadapan dengan pertanyaan pluralitas religius dalam gerakan ekumenis lebih tiga dekade, khususnya dalam pertemuan Dewan Gereja-Gereja Sedunia, telah meyakinkan saya bahwa hal yang paling sulit di dalam diskusi-diskusi pluralitas religius untuk mengakui, mengangkat, dan menghadapi elemen kekuasaan, dimensi-dimensi-dimensi politis dan ancaman merupakan bagian dan bidang diskusi-diskusi teologis mengenai pluralitas. Esei ini berusaha mencari jejak diskusi-diskusi mengenai pluralitas religius dalam gerakan ekumenis secara umum dan secara khusus dalam Dewan Gereja-Gereja Sedunia, agar mengenali beberapa isu-isu ini dan untuk menjelajahi cara-cara di dalam mana mereka dapat dituju.[2]

WARISAN KEKAISARAN GEREJA

Sejarah terbentuknya Kristianitas, suatu tradisi religius minoritas yang teraniaya, telah menjadi agama yang bersifat kerajaan dari Kerajaan Romawi yang terkenal itu. Kaisar Konstantinus tidak hanya mengembalikan kemenangan  historis dari tradisi Kristiani pada waktu itu tetapi juga mempengaruhi secara radikal kesaling-pengertian teologis (theological self-understanding) dari gereja dan teologi itu sendiri. Pengaruhnya pertama-tama mempengaruhi kehidupan internal gereja. Konstantinus yakin bahwa pluralitas perspektif-perspektif teologis di dalam tradisi Kristiani, dan divisi-divisi konsekuen di dalam gereja, membawa perpecahan dalam kekaisaran dengan  konsekuensi-konsekuensi politis yang serius terhadap hukum Romawi. Ia juga berpikir bahwa divisi-divisi seperti itu dapat melukai (offend) Allah dari tradisi Kristiani, yang, ia percayai, yang telah memberi kemenangan kekaisarannya.

Maka, tidaklah mengherankan, bahwa kaisar sendiri terlibat secara mendalam menegakkan kesatuan teologis gereja. Berhadapan dengan kontroversi Arian atas penafsiran teologis dari hakikat Tritunggal, Konstantinus memanggil Konsili Nicea pada Mei 325 dan memberikan petunjuk pembukaan Konsili. Dalam upaya untuk mengatasi masalah tersebut, dia menulis surat terlebih dahulu untuk protagonist utama yang kontroversi, Arius dari Alexandria, yang menyatakan bahwa masalah ini harus diselesaikan di Nicea. Ketika pertanyaan itu tidak bisa diselesaikan, Arius, yang tulus dan cerdik dalam perjuangan teologis untuk menghadapi formula trinitas, adalah dicap  yang sesat dan terkutuk!

Isu-isu teologis yang memecah-belah telah muncul dalam agama Kristen sejak awal, dan kompromi teologis harus ditemukan untuk menjaga “community together” (Kis 10; Gal 2; 1 Kor 1).  Bagaimanapun, keasyikan eksesif pada persatuan, menjaga “kesatuan” dari gereja dan “kesatuan” dari kebenarannya, praktek yang bermuara pada dan mempertahankan bahwa kesatuan kebenaran melalui pengecualian, dan akibat intolensi dari pluralitas teologis dalam gereja sekarang semua menjadi bagian dari kepentingan Konstantinus sendiri dalam melestarikan persatuan dalam bidang politik. Kaisar yang mengikutinya terus berada dalam tekanan semacam ini.

Mengikuti logikanya, Konstantinus juga mencabut perlindungan hukum, memberangus, atau secara efektif memarginalkan semua tradisi-tradisi religus yang lain yang ada dalam kerajaannya. Suatu kerajaan diperbolehkan tidak sabar menghadapi (tolerate) oposisi, divisi, kekuatan-kekuatan pengganti, dan pertanyaan otoritas. Itu sangat hidup, memiliki legitimasi, dan kredibilitas tergantung pada “kesatuan”-nya. Konstantinus merasa bahwa ini juga berlaku di bidang keagamaan. Jadi dia memberdayakan kepemimpinan gereja dengan kewenangan dan kekuasaan untuk melestarikan dan melaksanakan “agama yang benar” dengan ketelitian yang sama dengan gubernur provinsi yang akan menegakkan hukum kekaisaran di kalangan masyarakat.

Praktek gereja, teologi, dan pendekatan untuk pluralitas agama internal dan eksternal selama Abad Pertengahan itu, untuk sebagian besar, dibangun di atas warisan ini. Tidak diragukan lagi ada perbedaan pendapat, ekspresi lain dari gereja, dan tradisi teologis alternatif. Namun pendekatan dominan gereja untuk pluralitas, baik dalam sikap dan dalam teologi, bersifat kekaisaran. Gereja mulai memiliki kekuatan pada hal-hal rohani (matters spiritual) dan teologis yang sama dengan kekaisaran mengenai hal-hal duniawi (temporal matters). Seringkali kekuatan jasmani dan rohani berada di tangan yang sama.

Ini adalah ketidakmampuan untuk mengatasi “banyak” yang terletak di belakang penolakan gereja Yudaisme, bersama dengan klaim bahwa itu sekarang “New Israel”. Dan ketika Islam muncul dan mulai berkembang, gereja menanggapi dengan cara yang sama seperti cara-cara kekaisaran untuk menghadapi munculnya kekuatan saingan. Tanggapan naluriah adalah untuk melihat Islam sebagai rival tradisi keagamaan yang tidak sah. Warisan ini masih menandai sikap populer gereja Barat terhadap realitas Islam di zaman kita.

WARISAN KOLONIAL DARI TEOLOGI AGAMA

Sayangnya, ekspansi substansial dari tradisi Kristen ke Asia, Sub-Sahara Afrika, Amerika Latin, dan bagian dunia lainnya terjadi selama ekspansi kolonial Barat ke wilayah tersebut. Penjajah, tentu saja, awalnya tertarik untuk membuat pos-pos perdagangan, yang akhirnya dibuat menjadi daerah koloni. Dalam ekspansi politik Gereja melihat kesempatan untuk juga menyebarkan pesan Injil.

Columbus sendiri tercermin pada motivasi agama yang pergi dengan “penemuan.” Dalam pembukaan buku harian bersifat peringatan tentang perjalanan pertama (Jumat, 3 Agustus 1492) ia menulis:

Kebesaran Anda, sebagai Katolik, Kristen dan Pangeran  yang mencintai iman Kristen dan sudah lama melihat peningkatannya dan sebagai musuh dari sekte dari Mahomet dan musuh dari semua idolatri dan heresi, melihat bahwa pantaslah mengirim saya, Christopher Columbus, untuk melihat bagian Hindia … apa cara yang mungkin kita lakukan untuk mengubah mereka ke iman suci kita.[3]

Pada abad kedelapan belas – dan kesembilan belas – abad ekspansi dimulai, pencerahan dan Reformasi secara efektif merusak pegangan kekaisaran gereja tentang rakyat, meskipun penganiayaan dan perang dahsyat (outright wars) mengisi zaman tersebut, pluralitas telah terbangun di dalam gereja. Namun Gereja Katolik Roma dan gereja-gereja Protestan berhenti (broke off) mewarisi sikap kekaisaran dan sikap eksklusif terhadap pluralitas – baik terhadap satu sama lain maupun terhadap tradisi-tradisi keagamaan lainnya. Melalui Pencerahan datang gagasan bahwa budaya Barat, sekarang diperkaya dengan berpikir ilmiah dan teknologi, lebih superior daripada kultur dan cara hidup yang lainnya. Oleh karena itu, suatu misi asli, harus mewartakan injil dan mewartakan barat; pemberitaan Injil juga harus mencakup transmisi dari “superior values” (nilai-nilai superior) dari budaya Barat yang muncul. Dengan kata lain, penjajahan, evangelisasi, dan Westernisasi dipandang sebagai suatu kontinum.

Sejarah misi itu ambigu. Di satu sisi, ada cerita bahwa yang menggerakkan misi adalah belas kasihan yang mendalam, humanisasi, dan pelayanan tanpa pamrih kepada masyarakat yang paling tertekan dan terpinggirkan di banyak bagian dunia. Di sisi lain, sejarah misi sangat erat kaitannya dengan dominasi, penaklukan, genosida, ketidakpekaan budaya, intoleransi, dan kekerasan yang disertai kolonisasi. Di jantung dari semua ini adalah kepastian keunggulan diasumsikan dari iman Kristen dan budaya Barat atas semua tradisi agama lain dan budaya.

Setiap usaha untuk memahami teologi klasik agama dari gereja dan sikap untuk pluralitas tanpa komponen politik akan kehilangan dimensi penting dari suatu pertanyaan. Formulasi-formulasi biblis dan teologis bertujuan untuk menyajikan dan mendasari asumsi superioritas ini.

“EVANGELISASI DUNIA DALAM GENERASI SEKARANG INI”

Gerakan ekumenis modern lahir dalam konteks ini. Superioritas dari tradisi agama Kristen dan “budaya Kristen” atas semua tradisi agama lain dan budaya hanyalah diasumsikan. Keyakinan superioritas tidak dicapai oleh perbandingan tradisi Kristen dengan tradisi-tradisi lain atau dengan menilai keuntungan dan kerugian dari budaya lain dalam kaitannya dengan budaya Barat. Melainkan, karena diyakini jelas (self-evident). Hendrik Kraemer mengatakan begini: “Wahyu Kristen sebagai perwujudan pewahyuan Allah sendiri di dalam Yesus Kristus adalah sesuatu yang mutlak secara sui generis. Ini adalah kisah tentang tindakan kuasa penebusan Allah telah menjadi dengan jelas dan  akhirnya terwujud dalam Yesus Kristus, Putra Allah yang hidup, dalam Dia, Allah menjadi daging dan mewahyukan kebenaran dan rahmat-Nya.”[4]

Klaim-klaim pada suatu perjumpaan (encounter) Allah dalam Yesus Kristus yang mendalam, perubahan hidup, dan keselamatan, tentu saja, cukup sah. Itu juga akan menjadi alasan-alasan yang baik bagi mereka telah sedemikian melakukan suatu pertemuan untuk berbagi pengalaman dengan orang lain; semua yang mengalami pengalaman religius yang mendalam merasa perlu untuk berbagi dengan orang lain. Namun, keyakinan bahwa apa yang Allah telah lakukan dalam Kristus adalah “self-evident” dan bahwa itu adalah “decisive (menentukan/tegas) dan final” dan oleh karena itu “only way” (hanyalah itu jalan) di mana manusia akan memiliki akses kepada Allah adalah dimensi iman Kristen bahwa hal itu tidak dapat dibenarkan atas dasar pengalaman iman. Pengalaman iman merupakan kebutuhan yang pasti (necessity positive) tentang orang itu sendiri dan terletak di dalam the realm of inner certainty (anubhava)/ bidang dari inti kepastian. Pengalaman iman dapat membawa seseorang pada realisasi kesia-siaan (futility) dari apa yang seseorang telah pegang atau percayai sampai pada saat itu. Namun, determinasi-determinasi negatif tentang pengalaman lainnya bukan merupakan bagian dari pengalaman iman seseorang itu sendiri. Mereka adalah konstruksi-konstruksi teologis yang dibangun seseorang atas dasar pengalaman sendiri.

Karena manusia adalah makhluk rasional, menggunakan pengalaman seseorang itu sendiri sebagai dasar untuk refleksi lebih lanjut tentang isu-isu yang lebih luas, termasuk kemungkinan pengalaman agama lain, adalah aktivitas alami dan sah. Jadi memiliki “teologi” dan “teologi agama,” eksplisit atau implisit, adalah bagian dari menjadi orang yang religius atau suatu komunitas. Oleh karena itu, yang paling penting, adalah mencari faktor-faktor yang mempengaruhi komunitas religius ketika membangun konstruksi teologis sekitar pengalaman religius, tentang dirinya dan orang lain.

Sangat disayangkan bahwa asosiasi akhir gereja dengan kekuasaan politis dan pemikiran bahwa memikirkan sejuah itu dari “menaklukkan dunia” memberitahu konstruksi teologis yang dibangun di sekitar pesan Injil selama kegiatan misionaris pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas. Sedangkan kekuasaan kolonial menaklukkan entitas politik bagi raja-raja di Portugal, Spanyol, Inggris, dan di tempat lain, kegiatan misionaris adalah untuk “menaklukkan” dunia bagi Kristus pada bidang spiritual.

Ini akan menjadi tidak adil terhadap sejarah misi Kristen untuk menghubungkan (to attribute) pada sejarah misi Kristen semua ungkapan sentimen yang menggerakkan kolonisasi politik. Sebagian besar kegiatan misi didasarkan pada keyakinan tentang injil sebagai pesan hubungan cinta Allah kepada dunia, kekuatan dari pesan Kristen untuk membebaskan manusia dari “perbudakan dosa,” dan Kristus sebagai mediator Rekonsiliasi antara manusia dan antara manusia dan Allah. Keyakinan ini sering disertai pelayanan tulus untuk mereka yang membutuhkan dan melalui kegiatan tersebut individu dan komunitas dibebaskan dari perbudakan ekonomi dan sosial. Pada kenyataannya, tujuan mulia tersebut berada di pusat Konferensi Misionaris Dunia pertama tahun 1910, yang melihat waktu di mana hal itu bertemu sebagai “saat yang menentukan dari misi Kristen”, dan pemimpin konferensi, John R. Mott, mengatakan untuk “penginjilan dunia dalam generasi ini.”

Dimensi “kolonial” dari misi terletak pada kesimpulan bahwa hanya satu jalan satu-satunya cara bahwa Tuhan dapat berhubungan dengan manusia dan manusia kepada Allah. Dan dimensi kekuasaan ditunjukkan dalam kesimpulan sepihak agar seluruh cara lain untuk berhubungan dengan Tuhan tidak valid, terutama ketika kesimpulan yang telah dicapai tidak berdasarkan dari suatu pemahaman yang diinformasikan dan pengalaman dari cara-cara lain tetapi secara murni berdasarkan pada prinsip: karena kami benar, semua orang harus selalu salah.

Ini adalah bahasa kekuasaan.

Dengan kata lain, teologi Kristen tentang agama yang menginformasikan gerakan misionaris itu terdiri dari campuran ingin tahu dari afirmasi-afirmasi positif teologis dari apa yang orang Kristen percayai bahwa Tuhan telah mengerjakannya di dalam Yesus Kristus dan rasa kekuasaan yang didasari pada kebutuhan superioritas dari pesan bahwa lebih baik dari semua pesan lainnya. “Kekuatan teologis” berasal dari kekuasaan politik bahwa kerajaan jajahan “Kristen” telah memiliki lebih dari bangsa-bangsa yang mereka taklukan. Itu dilakukan lagi oleh Konstantinus, tetapi dalam cara yang berbeda.

KEKUATAN PERJUANGAN DALAM GERAKAN EKUMENIS

Sejarah teologi (atau teologi-teologi) agama-agama dalam gerakan ekumenis merupakan kisah perjuangan untuk menguraikan bahwa gerakan ekumenis bercampur dengan yang tidak kudus. Dimensi kekuatan dari cerita ini adalah jelas, pertama-tama, kenyataan bahwa mereka yang menganjurkan perubahan dalam pandangan gereja untuk pluralisme agama adalah orang-orang “di lapangan” dengan pengalaman nyata yang berkaitan dengan orang-orang dari tradisi agama lain.  Menantang mereka untuk memikirkan kembali teologi agama yang dialami sebagai ancaman oleh otoritas gerejawi yang memiliki mandat untuk mempromosikan misi untuk memperbesar jumlah, tempat, dan pengaruh gereja di dunia.

            Yang menarik adalah bahwa “pertempuran” antara mereka yang mendesak perubahan dalam teologi gereja dari agama dan mereka yang menolak perubahan teologi gereja tidak dianggap konflik pribadi atau pertempuran antara dua kelompok kekuasaan dalam gereja. Sebaliknya, banyak perjuangan tentang teologi agama-agama dianggap pertempuran teologis. Sejumlah batas-batas teologis positif dan negatif dengan jelas merupakan area “tak tersentuh” (no go) yang telah dibangun di sekitar teologi agama-agama yang berkembang selama periode kolonial. Dan batas-batas ini, untuk waktu yang lama, telah dibesarkan sebagai acuan bagi ortodoksi Kristen dalam hubungannya dengan tradisi-tradisi agama lain. Batasan ini didasarkan pada teologi, tapi niat mereka adalah untuk mempertahankan kekuasaan.

            Bukan maksud tulisan ini untuk memeriksa secara rinci  batasan-batasan positif dan negatif dari  teologi agama-agama klasik. Namun, penting untuk mencatat mereka dalam rangka untuk memahami kontroversi teologis yang menandai diskusi ekumenis pluralitas agama dan pentingnya bagi praktek dan teologi  Kristen. Jadi, kita harus mengakui bahwa tradisi-tradisi Katolik Roma dan Protestan, meskipun salah satu bagian dari gerakan ekumenis, memiliki penekanan yang berbeda dalam berhadapan dengan pluralitas dan memiliki keprihatinan berbeda dalam mempertahankan batas. WCC adalah persekutuan tradisi terutama Protestan dan Ortodoks. Penekanannya di sini adalah pada tradisi Protestan.[5] Tradisi Ortodoks, yang sebagian besar berada di bawah pemerintahan Komunis selama periode yang sedang dibahas, memiliki preokupasi-preokupasi lain.

 

BATASAN-BATASAN  TEOLOGIS

Tiga penekanan teologis memperkaya Protestan/teologi Ekumenis untuk misi yang mengembangkan sikap eksklusif terhadap tradisi-tradisi terligius lain. Pertama adalah konsep “sejarah keselamatan,” yang melihat sejarah manusia sebagai ranah  kegiatan Allah untuk membawa umat manusia keluar dari kesulitan dan membawa umat manusia ke “state God” yang memang bermaksud untuk hal itu. Di sini gereja mengambil alih self-understanding Yahudi sebagai bangsa “terpilih” menjadi “umat Allah” dalam rencana Allah untuk penebusan dunia. Umat Yahudi percaya bahwa Tuhan adalah “Allah dari bangsa-bangsa” dan yang memanggil mereka sendiri untuk “hidup dalam kebenaran Allah di antara bangsa-bangsa” adalah bagian dari misteri rencana Allah untuk membangun God’s shalom  (Kerajaan Allah) di dunia. Dalam hal ini tidak perlu misi dunia untuk membuat semua orang menjadi Yahudi.

Teologi Protestan waktu itu menegaskan pemahaman Yahudi ini tetapi hanya sebagai “persiapan” untuk “mendefinisikan” tindakan decisive Allah dalam sejarah dalam Yesus Kristus. Hal itu tidak hanya telah diadakan Allah sebuah komunitas baru, gereja, tetapi juga percaya bahwa keselamatan umat manusia semuanya tergantung padanya menjadi bagian dari komunitas historis ini. Dengan demikian gereja telah terpojok sendiri, secara teologis, untuk menolak realitas tradisi agama lain, termasuk tradisi Yahudi, sebagai kesempatan yang memungkinkan terjadinya pewahyuan diri Allah, dan telah ditugaskan untuk dirinya sendiri tugas untuk menantang semua manusia untuk menjadi bagian dari komunitas gereja .

Kedua, berdasarkan pada elemen pertama, adalah perbedaan yang tajam yang dibuat oleh Karl Barth antara Injil, di satu sisi, dan agama dan budaya, di sisi lain. Teologi Barth memiliki dampak yang sangat besar terhadap gerakan ekumenis. Dalam pandangannya, Injil, sebagai self-revelation tindakan unik Tuhan, berada dalam diskontinuitas dengan semua tradisi agama dan budaya manusia (termasuk Kristen sebagai agama), yang dilihat sebagai bagian dari pemberontakan manusia terhadap Allah, atau upaya sia-sia (sombong) manusia untuk memahami Tuhan, yang secara total tidak dapat diberi akses pada manusia kecuali melalui self-revelation. Dengan menempatkan semua agama dan budaya dalam pemberontakan manusia terhadap Allah, dan dengan menyajikan Injil sebagai yang menciptakan “krisis” dalam kehidupan semua manusia, menuntut pertobatan dan iman, Barth telah mendevaluasi semua tradisi agama lain dan budaya yang muncul dari mereka.[6]

Ketiga, mungkin penekanan yang paling penting dalam tradisi Protestan, adalah suatu bacaan partikular dan interpretasi dari Alkitab. Bacaan “misiologis” dari Alkitab mengangkat beberapa helai pemikiran dan beberapa ayat, keluar dari konteks sejarah mereka, untuk “membuktikan” bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan, kebenaran, dan hidup, dan tidak ada yang dapat mengenal Allah kecuali melalui Dia. Mengingat kenyataan ini, orang Kristen berada di bawah “kewajiban” untuk pergi ke dunia, untuk memberitakan Injil, untuk membaptis bangsa lain dan orang ke dalam iman Kristen.

Dengan kata lain, sejarah keselamatan memberikan konteks, Injil memberi alasan, dan Alkitab menawarkan kewenangan untuk terlibat dalam misi dunia dan, pada saat yang sama, untuk mendevaluasi tradisi-tradisi religius lain.

 

THE “NO-GO” AREAS (Ranah Tak Tersentuh)

Konstruksi teologis di atas dipecah menjadi tiga prinsip dasar teologis populer yang muncul di hampir semua perdebatan gereja dan ekumenis pada teologi Kristen tentang agama:

  • Keunikan dan finalitas Kristus, dengan mana dimaksudkan bahwa apapun dapat ditemukan dalam tradisi agama lain, wahyu Allah dalam Kristus dan apa yang Allah telah lakukan dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus adalah “decesive” untuk keselamatan manusia;
  • Imperatif misi, dengan mana dimaksudkan bahwa karena Kristen telah menjadi penerima pengetahuan yang menyelamatkan dari apa yang telah dilakukan Allah dalam Kristus bagi seluruh umat manusia, itu adalah tugas tak terbantahkan gereja untuk berada dalam misi untuk dunia; dan
  • Iman biblis, dengan mana dimaksudkan bahwa segala sesuatu yang bergerak menjauh dari keyakinan mengkhianati Alkitab, sebagai pewahyuan sabda dari kesaksian Allah kepada kebenaran.

 

Ketiga kepercayaan popular tersebut, yang dalam fungsi sebenarnya sebagai dasar “kredo” dari jemaat Protestan, kemudian dijaga oleh apa yang harus saya tempatkan lain yang disebut sebagai “tiga ketakutan klasik” dari gerakan misionaris: sinkretisme, relativisme, dan universalisme. Dalam kebanyakan debat tentang pendekatan Kristen untuk tradisi-tradisi agama lain di dalam gerakan ekumenis seseorang akan lari ke dalam tiga istilah tersebut. Contoh yang beredar adalah perdebatan Nairobi di Majelis Kelima WCC.

THE NAIROBI DEBATE

WCC telah memulai sebuah program yang berjudul “Dialogue with People of Living Faiths”  pada tahun 1971. Dalam Pertemuan Nairobi pada tahun 1975 ada satu bagian laporan yang ditawarkan berjudul “Seeking Community/Mencari Komunitas”, yang menyebut cara-cara baru untuk berhubungan dengan orang-orang dari tradisi keagamaan lainnya dalam rangka membangun pertahanan lintas komunitas religius (community accros religious barriers). Konstituensi (pembagian wilayah) misi dari dari Eropa diserang oleh sidang mengenai pernyataan untuk “menkompromikan keunikan dan finalitas Kristus,” “menkompromikan pandangan universal keselamatan,” ” menkompromikan mandat misionaris,” dan menempatkan teologi Kristen dalam tuntunan “sinkretisme” dan “relativisme.” Dengan kata lain, semua ketakutan tersebut di atas dinyatakan dalam sebuah debat tunggal pada pertemuan Kristen sedunia dari tiga ribu dari semua cabang utama gereja.

Yang lebih menarik adalah bahwa sebagian besar orang yang membela hubungan baru dengan masyarakat dari tradisi religius lain datang dari Selatan, dan mereka yang menentang berasal dari gereja-gereja yang kuat dari sebelah Utara, terutama Eropa. Oposisi itu kuat, dan hal itu dilakukan sebagai kebutuhan Kristen atas self-assertion (pernyataan diri) sebagai agama yang telah dipercayakan dengan “kebenaran”. Iman Kristen disajikan dalam bahaya dilusi dan kompromi. Tidak ada harapan bahwa sidang (assembly) akan menerima apa yang disajikan tersebut.

Laporan itu dikirim kembali ke kelompok perancang dengan permintaan untuk mengakomodasi sentimen yang terungkap dalam perdebatan sidang. Ini akan diterima dalam sesi kemudian tetapi hanya dengan “Pembukaan” yang memperkenalkan semua sentimen teologis bahwa orang tradisionalis sedang mencari:

  • Kita semua sepakat bahwa skandalon (batu sandungan) dari Injil akan selalu bersama kita ….
  • Meskipun kita mencari komunitas yang lebih luas dengan umat beriman lain, budaya dan ideologi, kita tidak pernah berpikir bahwa akan ada suatu waktu dalam sejarah ketika ketegangan tersebut akan dapat diselesaikan antara keyakinan dalam Yesus Kristus dan ketidakpercayaan ….
  • Kita sebaiknya membuat perbedaan yang tepat antara divisi-divisi yang tercipta karena penilaian terhadap Firman Allah dan pengelompokkan dosa ….
  • Kita semua setuju bahwa pesan terpenting dari Yesus Kristus yang meminta kita untuk pergi ke seluruh dunia dan menjadikan semua bangsa murid, dan untuk membaptis mereka dalam nama Tritunggal, tidak boleh ditinggalkan atau dikhianati, tidak ditaati atau dikompromikan ….
  • Kita semua menentang segala bentuk sinkretisme, yang baru mulai, baru lahir atau baru berkembang.
  • Kita melihat masa depan misi Gereja penuh harapan untuk itu bukanlah atas usaha manusia yang didasarkan harapan kita, melainkan atas kekuatan dan janji/harapan Allah.[7]

 

Sebagai orang yang telah berpartisipasi dalam perdebatan pada sidang tersebut, saya sangat terkejut oleh “Pembukaan” yang ditambahkan oleh kelompok perancang untuk membuat laporan “yang dapat diterima”. “Pembukaan itu tampaknya menyajikan kebutuhan psikologis yang mendalam dari beberapa golongan gereja. “Pembukaan” itu tidak membuang apapun tambahan cahaya teologis yang berkaitan dengan isu-isu ini. Sebaliknya, ia muncul untuk mencegah laporan yang mulai menyentuh area “no-go” (hal yang tak dapat diutak-atik) menyangkut hubungan Kristen untuk tradisi-tradisi agama lain. Pembagian Utara-Selatan atas masalah tersebut juga signifikan.

David E. Jenkins (kemudian menjadi Uskup Durham, Inggris), dalam sebuah artikel pada pertemuan itu, mengatakan bahwa upaya gereja-gereja yang hidup dalam masyarakat yang majemuk secara agama melakukan klaim di Nairobi untuk dialog yang menimbulkan “kecaman tentang sinkretisme dan pengkhianatan terhadap Injil,” dan bahwa “respon komite perancang untuk kecaman ini membuat banyak orang Asia dan orang lain meninggalkan rasa bahwa wawasan (insight) dan keyakinan-keyakinan sedang terinjak-injak dan terkhianati.”[8]

Yang juga menarik dalam perdebatan Nairobi adalah bahwa banyak dari Eropa dan Amerika Utara yang datang dari gereja-gereja memiliki misi asing dalam perjanjian diam-diam (tacit agreement) dengan isi utama dari laporan asli. Tapi kebanyakan dari mereka, terutama dalam kepemimpinan, mempertahankan suatu studied silence ketika muncul isu-isu yang menyinggung terminologi dari “mengkompromikan keunikan Kristus” dan “mengkhianati mandat misionaris.” Banyak diskusi mengenai teologi agama-agama dalam pertemuan gereja yang resmi memiliki “dimensi politik”. Banyak hal dalam kepemimpinan dapat menghasilkan penyakit untuk dituduh mengkompromikan Kristus atau mengkhianati mandat misionaris.

Diskusi Nairobi memberikan suatu bayangan atas kemungkinan melanjutkan program dialog dalam WCC. Untungnya, sebuah konsultasi khusus, yang disebut pada bulan April 1977 di Chiang Mai, Thailand, untuk mengklarifikasi isu-isu sinkretisme, relativisme, pemahaman Kristen tentang misi, dan sebagainya, memungkinkan Sub-Unit Dialog dari  WCC untuk melanjutkan mandatnya.

Pada saat mengklarifikasi dialog antar-iman (interfaiths dialogue) dan menyusun Guidelines for Dialogue with People of Living Faiths and Ideologies, pertemuan Chiang Mai mengidentifikasi beberapa pertanyaan teologis penting bahwa gereja-gereja perlu bertatap-muka dalam rangka membuat kepekaan teologis dari hidup mereka dengan tetangga dari tradisi-tradisi agama lain. Tugas untuk mencari kejelasan atas pertanyaan-pertanyaan teologis dipandang sebagai langkah penting dalam mempromosikan tugas teologis Kristen di dalam dunia yang majemuk secara agama:

  • Apa hubungan antara aktivitas kreatif universal / tindakan penebusan Allah terhadap semua umat manusia dan kreatif tertentu / tindakan penebusan Allah dalam sejarah Israel dan dalam pribadi dan karya Kristus?
  • Apakah orang-orang Kristen berbicara tentang karya Allah dalam kehidupan semua pria dan wanita hanya dalam term-term sementara dari harapan bahwa mereka mungkin mengalami sesuatu darinya, atau lebih positif dalam term-term pengungkapan diri Allah (God’s self-disclosure) kepada umat yang hidup dalam iman dan ideologi dan dalam perjuangan hidup manusia?
  • Bagaimana orang Kristen (dapat) menemukan dari kriteria Alkitab dalam pendekatan mereka kepada orang-orang yang hidup dalam iman dan ideologi, pengakuan, karena mereka harus, kewenangan yang diberikan kepada Alkitab oleh orang Kristen dari semua abad … dan bahwa mitra dalam dialog memiliki starting points dan sumber lainnya, dalam kitab suci dan dari ajaran tradisi?
  •  
    • Apa pandangan biblis dan pengalaman Kristen mengenai cara kerja Roh Kudus, dan apakah itu benar dan membantu untuk memahami karya Allah di luar gereja dalam hal doktrin tentang Roh Kudus?[9]

 

Ini adalah kepentingan bahwa Guidelines (Pedoman) mengangkat semua isu teologis krusial bagi diskusi yang baik dari pluralitas agama dalam gerakan ekumenis – doktrin Allah sebagai pencipta, signifikansi Kristus, otoritas Alkitab, dan tempat dan peran Roh Kudus dalam ekonomi keselamatan. Sebuah terobosan dalam teologi Kristen tentang agama memerlukan pertanyaan berhadapan dengan menghargai keseriusan mereka. Semakin melihat lebih dekat pada diskusi yang mengikutinya, bagaimanapun, menunjukkan bahwa masalah seharusnya tidak begitu banyak karena kurangnya refleksi teologis tetapi karena kemauan politik.

PERKEMBANGAN-PERKEMBANGAN DALAM PEMIKIRAN EKUMENIS

Selama dekade sejak Konferensi Dunia Misi di Tambaran (1938) banyak yang terjadi dalam teologi Protestan dan teologi ekumenis. Kebanyakan orang Kristen secara bertahap bergerak dari konsep sempit sejarah keselamatan yang memarginalkan Yudaisme sebagai persiapan untuk aktivitas Kristen dan aktivitas terbatas Allah hanya pada bagian sempit kemanusiaan. Gerakan misionaris itu sendiri, dalam Konferensi Misi Dunia di Kota Meksiko pada tahun 1968, mengembangkan konsep dari “misi Allah” (mission of God), yang menegaskan bahwa Allahlah yang melakukan misi di dunia dalam seluruh aspek hidupnya. Hal ini ditafsirkan misi Kristen sebagai partisipasi dalam misi Allah.

Konsep Barth-Kramer tentang Injil datang di bawah tantangan dari berbagai sudut. Ada berbagai macam interpretasi tentang makna dan signifikansi Injil di Asia, Amerika Latin, Afrika, seperti dalam tradisi teologis Barat. Pada kenyataannya, Barth dan Kraemer tidak nyaman dengan cara interpretasi mereka dari Injil yang memarginalkan tradisi agama lain; mereka telah mulai memikirkan kembali posisi mereka dalam tulisan-tulisan mereka berikutnya. Tentu saja hanya sedikit yang bersedia di zaman kita ini untuk melihat semua agama dan budaya hanya sebagai bagian dari pemberontakan manusia melawan Allah.

Ada juga perubahan besar dalam pendekatan Kristen terhadap Alkitab. Kritik feminis/ Womanist dan Amerika Latin, Asia, Afrika, dan kritik lain “membaca” Alkitab telah mengakibatkan perubahan radikal dalam cara otoritas Alkitab sehingga dapat dipahami.

Pendekatan Kristen dan hubungan dengan orang-orang dari tradisi religius lain juga mengalami perubahan besar. Kelompok-kelompok bahkan dari pihak paling konservatif dari gereja menekankan perlunya untuk menghormati dan kebersamaan (mutuality) dalam hubungan antaragama. Dialog Antar-iman telah menjadi suatu bentuk yang diterima dari pelayanan Kristen. Ada juga sejumlah besar pemikiran ulang dalam bidang teologi agama-agama.

Apakah semua ini dimaksudkan untuk diskusi mengenai pluralitas agama di dalam gerakan ekumenis? Apakah hasil mengeksplorasi isu-sisu teologis diangkat dalam Pedoman untuk Dialog pada pertemuan Chiang Mai?

Sayangnya upaya untuk melangkah lebih jauh dalam teologi agama-agama di Pertemuan Keenam WCC di Vancouver, Kanada, pada tahun 1983 menyebabkan diskusi tidak berbeda dengan diskusi-diskusi orang di Nairobi. Lagi-lagi lembaga misi yang kuat menolak upaya untuk mengakui setiap pernyataan yang berbicara tentang kehadiran penyelamatan Allah di antara orang-orang dari tradisi-tradisi lain. Kalimat yang mengakui kehadiran kreatif Allah “dalam pengalaman religius orang dari agama lain” ditentang, dan laporan itu tidak diterima sampai ia direvisi untuk membaca, “kita mengakui karya kreatif Allah dalam pencarian bagi kebenaran agama di kalangan orang-orang beragama lainnya” (penekanan ditambahkan). Ini menjadi politik tidak dapat dipertahankan untuk memberikan kepada orang-orang dari agama lain kesempatan untuk menemukan Tuhan dalam tradisi-tradisi keagamaan mereka. Sekali lagi suara dari pihak dari gereja-gereja misi yang kuat memimpin perdebatan sementara mereka dalam kepemimpinan yang tidak setuju dengan mereka dari dalam gereja sangat mempertahankan suatu studied silence.[10]

Seperti hubungan antar-iman (antar-agama) tumbuh pesat di tahun 1980-an dan 1990-an, berpikir lebih kreatif dan lebih berani keluar dari banyak teolog yang membahas tentang isu-isu pluralitas religius, Kristologi, dan teologi agama-agama. WCC menemukan dirinya semakin tertinggal dalam teologi misi, yang, walaupun banyak usaha untuk bergerak maju, tampaknya terjebak seperti pada tahun 1938. Oleh karena itu,  ada suatu upaya yang lebih terpadu dibuat dalam persiapan untuk Kongres Misi Dunia pada 1989 di San Antonio, Texas, untuk membicarakan (address) isu-isu teologi agama. San Antonio merupakan Kongres Dunia Misi pertama di mana para tamu dari tradisi-tradisi agama lain diundang sebagai pengamat.

Harus dikatakan bahwa meskipun perdebatan sangat memecah belah atas masalah yang sama dari sinkretisme dan “keunikan Kristus,” Kongres San Antonio tidak bisa mengabaikan revolusi yang telah mengambil tempat dalam teologi Kristen tentang pluralitas agama. Untuk pertama kalinya ada keinginan untuk bergerak setidak-tidaknya ke posisi netral dalam relasi terhadap God’s dealing (perlakukan Allah) dengan orang-orang dalam tradisi-tradisi agama lain: “Kami tidak dapat menunjukkan cara lain untuk keselamatan selain Yesus Kristus, pada saat yang sama kita tidak dapat menentukan batas-batas untuk daya penyelamatan Allah” dan “Dalam dialog kita diajak untuk mendengarkan, dalam keterbukaan pada kemungkinan bahwa Allah kita ketahui dalam Yesus Kristus bisa jadi kita temui juga dalam kehidupan tetangga kita dari agama lain.”

Pernyataan ini mengakui bahwa hal itu tidak mengakui agama lain (other faiths) dengan cara positif tetapi hanya berhasil mengakomodasi pertumbuhan tekanan untuk menjauh dari pandangan-pandangan negatif. Hal ini juga mengakui bahwa hal itu tidak bisa menarik kesimpulan teologis yang diperlukan dari beberapa afirmasi teologisnya tentang karya Allah diluar pengalaman orang Kristen. Berbicara tentang keyakinan sendiri dari kebutuhan misi Kristen, Konferensi San Antonio berkata:

Kami sungguh menyadari bahwa keyakinan dan pelayanan dari saksi (Yesus Kristus) berada dalam ketegangan dengan kami yang mengafirmasi Allah hadir dan berkarya dalam umat dari agama lain; kita menghargai ketegangan ini, kita tidak mencoba untuk menyelesaikannya.[11]

EKPLORASI-EKSPLORASI SEMENTARA

Program Diaolog dari WCC berusaha mengeksplorasi isu-isu teologis yang diangkat oleh pluralitas agama melalui proses studi empat tahun di gereja-gereja. Sebuah panduan studi berjudul “My Neighbour’s Faith and Mine – Theological Discoveries through Interfaith Dialogue” dirancang dengan sembilan bagian yang berurusan dengan isu-isu teologis yang diangkat oleh pluralitas agama. Hal itu diterjemahkan ke dalam delapan belas bahasa dan digunakan secara luas untuk mendapatkan umpan balik dari gereja-gereja. Temuan ini kemudian digunakan untuk memanggil konsultasi teologis dari teolog Protestan, Ortodoks, dan teolog Katolik Roma yang telah bergulat dengan masalah ini. Pertemuan ini, diadakan di Baar, dekat Zurich, Swiss, pada tahun 1990, membuat beberapa afirmasi yang menunjukkan  proses ke depan. Berikut adalah beberapa kutipan Pernyataan Baar:

Orang-orang pada segala masa dan di segala tempat menanggapi kehadiran dan aktivitas Allah di antara mereka, dan telah memberikan kesaksian mereka untuk pertemuan mereka dengan Allah yang hidup. Dalam kesaksian ini mereka berbicara mengenai pencarian dan penemuan keselamatan, atau keutuhan, atau pencerahan, atau bimbingan ilahi, atau peristirahatan, atau pembebasan.

      Oleh karena itu kami  mengambil  kesaksian ini dengan sangat serius dan mengakui bahwa di antara semua bangsa dan masyarakat selalu hadir  Allah yang menyelamatkan ….

Kami melihat pluralitas tradisi keagamaan baik sebagai hasil dari cara yang bermacam-macam (manifold) di mana Allah telah berhubungan dengan masyarakat dan bangsa maupun manifestasi dari kekayaan dan keragaman manusia. Kami mengafirmasi bahwa Allah telah hadir dalam pencarian mereka dan dalam penemuan mereka.[12]  

Pertemuan Baar merupakan suatu konsultasi yang tidak resmi. Ketika Konferensi Dunia Misi berikutnya diadakan pada tahun 1996 di Bahia, Brasil, setiap usaha dibuat untuk mengevaluasi penemuan pertemuan Baar ke dalam eksplorasi teologisntya. Tapi Bahia tidak akan melampaui San Antonio. Ketakutan dari sinkretisme, relativisme, dan universalisme yang akan merelatifkan pentingnya Kristus dan pentingnya misi masih tetap menjadi kendala utama untuk menanggapi secara bermakna mengenai  realitas pluralitas agama.

Hal ini tampak bahwa pada level psikologis gereja belum disesuaikan pada kemungkinan menjadi salah satu di antara banyak. Hal ini tidak mempelajari seni dari keberadaan keyakinan yang mendalam tentang apa yang telah dialami tanpa harus menyangkal pengalaman orang lain. Hal ini belum mampu mengkontemplasikan  kemungkinan bahwa Allah mungkin memiliki banyak cara untuk membawa orang pada tujuan (nasib) yang mereka maksudkan, cara orang Kristen menjadi salah satu dari mereka. Di atas semua itu, hal ini telah jatuh ke dalam perangkap pemikiran bahwa jika orang lain adalah benar maka harus menjadi salah. Dengan kata lain, mentalitas tersebut gereja pegang  bahwa tidak memungkinkan untuk itu untuk menerima pluralitas. Mentalitas ini datang dari asosiasi yang panjang dengan semacam kekuatan yang tidak toleran terhadap setiap tantangan pada otoritasnya. Argumentasi Teologis untuk melanggengkan kekuatan ini datang dalam bentuk slogan teruji seperti “keunikan Kristus,” “prioritas dari misi,” “ketaatan kepada kebenaran,” dan seterusnya. Secara politis, hegemoni tersebut selama kebenaran agama dipertahankan dengan menuduh orang yang tidak menyetujui keberadaan  universalisme, relativis, atau syncretists, dan dalam beberapa gereja orang-orang tersebut masih mengalami godaan  heresi.

Dalam pertemuan gereja resmi, meskipun berbagai macam persepsi teologis antara para peserta, tidak ada yang berani untuk mempertanyakan atau meminta penjelasan dari klaim tentang “keunikan Kristus,” “urgensi dari misi,” dan “kebenaran” dari pernyataan orang Kristen (Christian assertions) di atas semua kebenaran lain. Situasi ini hanya dapat dibandingkan dengan pemahaman misguided (salah jalan/tersesat) dari patriotisme yang dianjurkan dan dipraktikkan di banyak tempat di Amerika Serikat selama invasi Irak. Untuk bertanya “Mengapa kita berperang?” “Apakah ini benar-benar diperlukan”? “Bisakah perang ini benar-benar meningkatkan keamanan kita?” Dan pertanyaan lain seperti itu sendiri dianggap tidak patriotis. Mereka yang dikuasai media massa segera dicap siapapun yang menanyakan pertanyaan liberal seperti itu atau tidak patriotik itu. Jadi diskusi akhir sebelum mereka mulai karena orang-orang yang menganggap dirinya unggul, benar, dan tak terkalahkan (invincible)  mengatur ukuran-ukuran dari diskusi. Mereka juga berada pada pihak orang-orang yang memegang kekuasaan politik.

TANTANGAN TERHADAP  GERAKAN EKUMENIS

Teolog India AP Nirmal pernah mengatakan bahwa gereja Kristen memiliki suatu cara mengerjakan sesuatu dengan sebaliknya ketika datang ke diskusi pada dialog antaragama:

Kami meminta dasar teologis “yang adeguat/memadai” untuk dialog daripada memeriksa kembali tradisi teologis dan formulasi-formulasi kita dalam terang pengalaman dialogis tertentu. Kami disibukkan/diasyikkan dengan perhatian kami untuk menjaga keunikan Yesus Kristus atau finalitas Yesus Kristus atau komitmen total kita kepada Yesus Kristus sebelum masuk ke dalam situasi dialogis, daripada memeriksa adeguacy (kememadaian) dari doktrin keunikan Yesus atau komitmen alami kita kepada Yesus dalam terang pengalaman dialog aktual kita.[13]

Apa yang Nirmal katakan adalah benar dari diskusi tentang teologi agama dalam gerakan ekumenis. Berhadapan dengan pluralitas agama dan realitas dari pengalaman religius orang lain, gerakan ekumenis belum mampu mempertanyakan, Apa yang dikatakan itu kepada kita tentang cara kita memahami Allah, pentingnya Kristus, dan tugas menjadi misionaris? Sebaliknya, respon telah menemukan cara dari realita yang pantas dari pluralitas agama dalam keyakinan teologis yang ada. Meskipun upaya ini sangat membawa beberapa pergeseran dalam perspektif teologis (seperti dalam gerak dari eksklusivisme ke inklusivisme), belum dihasilkan dalam pemikiran ulang radikal  yang penting untuk mempertemukan tantangan teologis untuk kita saat ini.

Oleh karena itu, gerakan ekumenis, perlu bergerak menuju rekonstruksi teologi agama untuk kita saat ini yang memperhitungkan penuh pengalaman aktual untuk mengetahui jalan spiritual lain dan kehidupan, dengan orang-orang dari tradisi keagamaan lain. Dengan kata lain, gerakan ekumenis membutuhkan titik awal yang segar bagi refleksi teologisnya terhadap teologi agama. Seperti kebutuhan refleksi untuk menjauh dari tipologi “eksklusif, dan pluralis” dan dari universalisme-universalisme “Christ-centered, God-Centered, dan Spirit-centered”. Hal itu perlu untuk mencapai banyak insight yang datang dari banyak pihak selama beberapa dekade terakhir;  hal itu juga menempatkan pada pegangan “received theology” sampai ia secara adeguat berurusan dengan imperatif teologis yang timbul dari pengalaman konkret, hanya pada tahap selanjutnya sebaiknya hal itu berusaha untuk melihat bagaimana tradisi iman yang diterima melalui zaman dapat dipahami dan terintegrasikan dalam terang keyakinan saat ini. Ini adalah cara suatu tradisi tetap menjadi tradisi yang hidup.

Ini bukan maksud esai ini menguraikan teologi agama. Bagaimanapun, catatan, banyak usulan teologis yang telah dibuat di bidang ini, saya ingin sekarang untuk mengangkat bahan-bahan yang harus menginformasikan eksplorasi segar dari teologi agama dalam gerakan ekumenis.

  1. Hakikat dari tradisi agama (The nature of religious traditions): Setiap teologi yang hidup (viable) dari agama harus dimulai dengan pendekatan realistis terhadap fenomena yang disebut agama. Wilfred Cantwell Smith telah melakukan suatu layanan yang sangat besar untuk diskusi kami dengan menantang konsep agama seperti itu, dan dengan mengisolasi komponen yang membentuk abstraksi yang disebut agama. Dengan membuat perbedaan antara “iman” sebagai sikap ketergantungan (“terlalu besar, terlalu pribadi, dan terlalu ilahi untuk eksposisi publik”) dan “kepercayaan” sebagai artikulasi intelektual dari pengalaman iman, ia telah membantu untuk merelatifkan semua sistem kepercayaan, teologi, doktrin, dan klaim kebenaran sebagai “konstruksi manusia” yang bersama-sama membentuk “ kumulatif tradisi.” [14] Kumulatif tradisi ini sebagian besar dibatasi oleh konteks sejarah, budaya, dan filsafat di mana pengalaman iman diartikulasikan. Oleh karena itu, saat kumulatif tradisi diperlukan untuk setiap komunitas iman, seseorang harus menyadari bahwa mereka adalah konstruksi kemanusiaan yang penting yang dibangun untuk memberi koherensi kepada komunitas iman.

Banyak diskusi mengenai teologi agama dalam gerakan ekumenis memperlakukan formulasi teologis dan doktrin seolah-olah mereka merupakan wahyu ilahi. Ada sedikit pengakuan yang terbuka tentang keterbatasan budaya dan sejarah yang telah memainkan peran yang signifikan dalam cara memaknai dan pentingnya pengalaman Kristus telah teruraikan tersebut. Dengan kata lain, diskusi teologis dalam gerakan ekumenis harus lebih terbuka dalam mengakui keterbatasan doktrin, kepercayaan, dan tradisi teologis. Tidak ada kemajuan bisa dibuat tanpa pengakuan ini.

  1. Penerimaan Pluralitas (Acceptance of plurality): John Hick telah membuat kontribusi yang tegas yang signifikan untuk diskusi dengan mengangkat isu-isu filosofis, moral, dan etika yang jelimet dalam tuntutan bahwa satu tradisi religius adalah “benar,” “valid,” atau ” memiliki kebenaran” melampaui semua tradisi religius lainnya. Ia juga berani menarik keluar implikasi dari penolakan gagasan seperti itu dengan memperkenalkan “revolusi Copernikan” yang sangat dibutuhkan ke dalam teologi agama-agama. Meskipun banyak yang menulis tentang teologi agama menyerah pada godaan dari apa yang saya sebut “ritual Hick-bashing” (sering, seperlunya, dengan salah menggambarkan Hick), tesis fundamental Hick bahwa semua tradisi agama harus diperlakukan secara serius sebagai respon terhadap “Real” (di mana cara manusia menganggap itu) harus menjadi fondasi dari suatu teologi agama dalam gerakan ekumenis.

Hal ini penting karena gerakan, melalui afirmasi teologis di awal Konferensi Misi Dunia (terutama di Tambaram 1938), bertanggung jawab untuk menanamkan dalam pikiran umat Kristen Protestan keyakinan bahwa semua tradisi agama lain, di satu sisi atau lainnya, adalah “palsu, “sesat,” “tanpa wahyu Allah,” dan “tidak memadai sebagai cara keselamatan”. Perhatian tentang “relativisme” dan “universalisme” dalam diskusi-diskusi ekumenis berasal dari kepercayaan sesat (misguided) bahwa semua tradisi agama lain dalam arti beberapa “upaya manusia untuk memahami Tuhan, “sementara Kristen adalah satu-satunya (only one) yang didasarkan pada wahyu diri Allah sendiri. Oleh karena itu, insight-insight Hick tentang hubungan tradisi religiuas terhadap “Real” dan terhadap satu sama lain memberitahukan teologi baru dari agama.

  1. Hakikat dari bahasa agama (Nature of religious language): Hampir semua diskusi tentang teologi agama dalam gerakan ekumenis akhirnya mengerucut pada pertanyaan tentang hakikat bahasa agama, terutama seperti yang tercatat dalam Alkitab. Meskipun kemajuan yang dibuat dalam kritikisme biblis dan hermeneutika, banyak retorika yang berlawanan dengan agama-agama lain pada pertemuan gereja resmi didasarkan pada salah satu bacaan tertentu dari Alkitab. Saya belum melakukan suatu diskusi tentang tradisi religius lainnya dalam setiap pertemuan gereja di mana ayat-ayat Alkitab seperti “Akulah jalan, kebenaran dan hidup,” “Tidak ada nama lain dengan mana kita harus diselamatkan,” Pergilah ke seluruh dunia dan beritakan Injil kepada semua bangsa, “dan sebagainya belum dikutip. Dan lagi, meskipun banyak dalam pertemuan tersebut yang  akan sungguh menyadari perubahan radikal yang mengambil tempat dalam pemahaman dari hakikat (nature) dan otoritas Alkitab, sedikit berani menantang penafsiran literal karena pemahaman literal dari Alkitab sebenarnya juga tidak resmi tetapi “officialized” (dibuat resmi) sebagai bacaan yang mungkin hanya dari Alkitab di dalam pertemuan gereja Protestan. Secara politis, siapa yang bisa “melawan” apa yang Alkitab andaikan untuk pengajaran?

Oleh karena itu, diskusi-diskusi ekumenis mengenai teologi agama, akan membuat kemajuan hanya ketika ada penerimaan lebih besar dari sifat dasar (nature=hakikat) dari bahasa agama dalam Alkitab dan dalam teologi. Hal ini penting untuk menyadari pentingnya dan validitas bahasa “confessional”, walaupun belum menyadari untuk apa hal itu disadari.  Insight dari George Lindbeck tentang hakikat (nature) doktrin, idiom kultural linguistiknya, dan “fungsi regulatif”-nya di dalam komunitas iman (faith communities) perlu menerima kemutakhiran yang lebih di dalam diskusi-diskusi ekumenis.[15] Alkitab perlu diakui sebagai pusat terhadap komunitas iman dan sebagai bahan pengakuan yang bukan untuk mengukur kebenaran atau klaim agama-agama lain.

 

  1. Menolak intimidasi teologis (Resisting theological intimidations): banyak kemajuan yang dibuat dalam teologi Kristen untuk agama belum menemukan caranya ke dalam refleksi teologis secara keseluruhan, pelayanan khotbah, dan pelayanan pengajaran dari gereja karena takut terhadap marginalisasi, penolakan, dan hilangnya anggota pada level jemaat. Entah bagaimana diyakini bahwa hanya ada satu iman “superior”, “powerful,” “one and only/satu-satunya,” “yang jelas (clear-cut),” dan “menentukan,” yang bertentangan dengan semua orang lain, akan memenangkan hati dan pikiran jemaat. Hal ini memang benar dari pihak orang-orang yang mencari tradisi keagamaan seperti itu untuk alasan psikologis dan sosiologis – dan, menyajikan situasi dunia, mereka bahkan mungkin akan terus meningkat. Yang kita lihat saat ini semakin banyak orang, sementara berakar dalam pengalaman spiritual tertentu, mencari suatu tradisi religius yang lebih otentik, terbuka, dialogis, eksplorasi, dan non-dogmatis. Dengan kata lain, dampak dari pluralitas agama sudah mulai mengubah kesadaran religius orang, dan mereka mencari suatu kultur keterbukaan dan suatu spiritualitas inklusi. Hal ini akan memberikan keberanian lebih besar untuk mereka memimpin untuk mengeksplorasi cara-cara baru berpikir tentang tradisi religius lainnya sehingga mereka dapat melawan intimidasi teologis yang begitu banyak dari diskusi mengenai teologi agama.

 

NEW FRONTIER

 

Gerakan ekumenis dipahami sebagai sebuah “frontier movement” untuk memungkinkan gereja-gereja untuk memilah-milah (to discern) dan merespon tantangan baru yang mereka hadapi sebagai situasi yang baru muncul. Bahkan, ia telah menjadi perintis di bidang dialog antaragama (interfaith), memanggil gereja pada suatu hubungan baru dengan orang-orang dari tradisi religius lain. Hal ini juga mengakui bahwa hubungan tersebut tidak dapat berlanjut tanpa pemikiran ulang yang radikal tentang konsep-konsep dan pendekatan teologis yang dibentuk ketika Kristianitas merupakan agama kekuatan (religion of power) dan memiliki hak istimewa. Bahkan saat ini, beberapa bagian dari Kekristenan bersekutu sendiri dengan orang yang melalui pelaksanaan kekuasaan brutal akan membangun kerajaan Kristen baru. Menolak dan mengatasi kekuatan-kekuatan politik yang akan menggunakan teologi dan Alkitab untuk melegitimasi superioritas Kristen atas orang lain telah menjadi bagian dari upaya untuk membangun suatu teologi yang benar-benar pluralis dari agama dalam gerakan ekumenis. Ini adalah perjuangan yang masih dalam proses.


[1] Felix Wilfred, “Interreligious Dialogue as a Political Quest,” Journal of Dharma 28, no. 1 (2002).

[2] Frasa Gerakan ekumenis menunjukkan semua gerakan gereja yang berusaha untuk membawa kesatuan dan pembaharuan. Gereja Katolik Roma, misalnya, meskipun bukan anggota WCC, menjadi pemain penting di dalam lapangan setelah Konsili Vatikan II. Namun, sejak WCC mencakup sebagian besar gereja-gereja Protestan yang besar, sebagian besar gereja-gereja Ortodoks, dan memiliki keanggotaan yang merupakan lebih dari 350 gereja dari 100 negara, terlihat sebagai instrumen paling komprehensif dan signifikan dari gerakan ekumenis. WCC diresmikan pada tahun 1948 di Amsterdam sebagai puncak gerakan dari Missionary, Faith and Order, and Life and Work yang diinspiraikan oleh Konferensi Misi Dunia ekumenis yang pertama diadakan pada tahun 1910 di Edinburg, Skotlandia.

[3] Dikutip dalam Michael Prior, The Bible and Colonialism – A Moral Critique (Sheffield: Sheffield Academic Press, 1999), hlm. 53.

[4]  Hendrik Kraemer, “Continuity or Discontinuity,” The Authority of the Faith: International Missionary Council Meeting at Tambaram, Madral, December 12 – 29, 1938 (London: Oxford Univ. Press, 1939), 1-2.

[5] Gereja Katolik Roma, meskipun aktif dalam gerakan ekumenis, bukan anggota WCC.  Refleksi teologisnya  lebih menekankan pada eklesiologi, sedangkan Protestan berpusat pada Kristologi. Untuk alasan historis, cabang dari gereja Ortodoks tidak terlibat dalam gerakan misionaris pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas dan cara ekspansi misionaris didukung oleh tradisi Katolik Roma dan Protestan. Oleh karena itu, walaupun ada banyak potensi untuk suatu teologi yang kreatif dari agama dalam teologi Ortodoks, belum dikembangkan menjadi posisi utama teologis dalam teologi Ortodoks.

[6] Lihat Karl Barth, Church Dogmatics (Louisville, KY: Westminster John Knox Press, 1994), paragraf 16, “Knowledge of God” (IV, 2, 128); dan  paragraf 21 dan 22, “On the Question of Natural Theology: (I, 2, 301-302; I, 2, 299-300).

[7] David M.Paton, ed., Breaking Barriers, Nairobi 1975: The Official Report of the Fifth Assembly of the World Council of Churches, Nairobi, 23 November-10 December, 1975 (Grand Rapids, MI: Eerdmands; Geneva: WCC Publications, 1976), 73-74.

[8] David E. Jenkins, “Nairobi and the Truly Ecumenical: Contribution to a Discussion about the Subsequent Tasks of the WCC,”The Ecumenical Review 27, no. 3(1976): 281.

[9] Guidelines for Dialogue with People of Living Faiths and Ideologies (Geneva: WCC Publications, 1979), 13.

[10] David Gill, ed., Gathered for Life: Official Report, Sixth Assembly, World Council of Churches, Vancouver, Canada, 24 July-10 August 1983 (Grand Rapids, MI: Eerdmans; Geneva: WCC Publications, 1983), 31-42.

[11] Frederick R.Wilson, ed., The San Antonio Report: Your Will Be Done: Mission in Christ’s Way (Geneva: WCC Publicarions, 1990), 31-33.

[12] “Baar Statement,” in Shared Learning in a Plural World – Ecumenical Approaches to Inter-Religious Education, ed. Gert Ruppell and Peter Schreiner (Munster: Lit Verlag, 2003), 167-171.

[13] Arvind P. Nirmal, “Redefining the Economy of Salvation,” Indian Journal of Theology 30, no. 3 – 4 (1981): 214.

[14] W. C. Smith, The Meaning and End of Religion, reprint (New York: Mentor, 1964), 70 ff., 141 ff.

[15] Cf. George A. Lindbeck, Nature of Doctrine: Religion and Theology in a Postliberal Age (Philadephia: Westminster Press, 1984).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: