BERBAGI INSPIRASI

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..


    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 114,940 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Agustus 2011
    S S R K J S M
    « Jul   Sep »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  

HAKIKAT, TUJUAN DAN SIFAT PERKAWINAN NIAS

Posted by postinus pada Agustus 23, 2011


Oleh Postinus Gulö*

Setiap sistem perkawinan di bumi Nusantara, bahkan di dunia ini, pasti memiliki hakikat, sifat khas dan tujuannya. Sebelum seseorang memutuskan dan memilih untuk menikah, semestinya ketiga hal itu sudah mereka pahami dan sadari. Dengan demikian, motivasi, keputusan dan pilihan untuk menikah sungguh murni dan matang, terencana dan dapat dipertanggungjawabkan secara konsisten sejalan dengan hakikat, sifat dan tujuan perkawinan itu sendiri. Tidak hanya itu, mereka sadari konsekuensi-konsekuensi yang akan muncul dalam menghidupi perkawinan mereka. Perkawinan semakin kokoh-kuat jika disertai komitmen yang dibangun secara berkelanjutan. Jika hal ini terjadi, niscaya mereka yang menikah akan konsisten menghayati dan menghidupi perkawinan hingga kematian menjemput mereka.

Dalam tradisi Nias, hanya anak laki-laki yang disebut mangowalu (menikah). Sedangkan untuk perempuan disebut tebe’e nihalö. Jika diartikan secara harafiah, tebe’e: diberi, nihalö: diambil. Sebutan nihalö mau mengatakan bahwa perempuan dinikahi (bukan menikahi) seorang laki-laki. Melalui kata-kata ini, terkandung makna bahwa laki-laki berperan aktif, sedangkan perempuan berperan pasif. Seorang laki-laki boleh memilih pasangan hidupnya. Itu sebabnya, sebelum laki-laki menikah, ia pergi melihat calon istrinya di suatu kampung tertentu. Istilah ini dalam proses-tahapan perkawinan Öri Moro’ö-Nias Barat disebut möi mamaigi niha (pergi melihat perempuan). Ritual semacam ini tidak diberlakukan untuk perempuan. Hanyalah laki-laki yang melakukannya!

Dalam tradisi Nias Öri Moro’ö ada tiga hal yang menentukan terjadinya suatu perkawinan. Pertama,  kesepakatan kedua orangtua, baik dari pihak mempelai laki-laki maupun orangtua mempelai perempuan. Kedua, pihak mempelai laki-laki sanggup membayar böwö (jujuran) yang diminta pihak mempelai perempuan. Itu sebabnya, ada kalimat ”ada böwö ada istri” atau ”naso gana’a naso mbawi, öröi namau lö olohi” (jika ada emas dan babi, pastilah engkau perempuan meninggalkan ayahmu). Ketiga, dipestakan secara adat (fangowalu-famasao). Tradisi pertama dan kedua sudah mulai ditinggalkan, walau masih ada yang mempraktekkannya.

Kesepakatan merupakan ungkapan komitmen bahwa calon pasutri saling menyerahkan diri dan saling menerima dalam membentuk dan membangun persekutuan hidup untuk seumur hidup. Banyak generasi muda Nias yang sudah mulai menyadari bahwa perkawinan mestinya dijiwai oleh cinta. Oleh karena itulah mereka mulai berani mengungkapkan cintanya kepada lawan jenis, sesuatu yang dulunya dilarang di Nias. Tidak heran jika pada zaman sekarang, banyak masyarakat Nias yang melangsungkan perkawinan bukan karena inisiatif orangtua, melainkan karena kesadaran mereka sendiri.

Hakikat Perkawinan Nias

Bagi masyarakat Nias, hakikat perkawinan bukan hanya persekutuan seluruh hidup antara mempelai lelaki-perempuan melainkan persekutuan kekeluargaan (fambambatösa) antara keluarga pihak laki-laki dengan keluarga pihak perempuan;[1] bahkan persekutuan antarkampung dan antarmarga. Gagasan ini sejalan dengan pendapat SM. Mendröfa yang menulis demikian: ”Perkawinan adalah urusan keluarga, malah lebih dari itu. Perkawinan adalah urusan persekutuan masyarakat hukum yang diikat dalam suatu lembaga yang disebut banua (kampung).”[2]Artinya, perkawinan dinyatakan sah secara adat jika diketahui oleh tetua dan warga kampung.

Pendapat SM. Mendröfa tersebut searah dengan pendapat Bamböwö Laiya yang menyatakan bahwa ”perkawinan di Nias bukan hanya urusan dua orang saja, antara pengantin laki-laki dengan pengantin perempuan, melainkan urusan keluarga dengan keluarga yang lain, antara satu kelompok dengan kelompok lainnya”.[3] Dalam tradisi Nias, perkawinan merupakan media untuk membangun relasi kekeluargaan (famangakhai sitenga bö’ö).[4] Dalam menjalin kekerabatan dan kekeluargaan, ada kewajiban-kewajiban (lala wo’ömö) yang perlu dipenuhi pihak laki-laki, yakni memberikan sejumlah böwö kepada pihak perempuan dalam wujud babi, beras, uang, dan emas.[5]Selain itu, perkawinan menjadi sarana untuk saling mewujudkan rasa empati, gotog-royong, tolong-menolong, dan saling bertanggung-jawab.

Melalui perkawinan, orangtua mewujudkan kewajiban dan tanggung jawabnya kepada anaknya. ”Ahono sibai dödögu, he matedo sa’ae börö meno awai halöwögu, no’ufangowalu nonogu.” Kalimat yang sering diucapkan oleh orangtua di Nias kalau diartikan kurang lebih seperti ini: ’Tenanglah hatiku, biarpun kematian menjemputku, sebab sudah selesailah kewajiban-tanggung jawabku, sudah kunikahkan anakku laki-laki.’ Alasan ”demi tanggung jawab” ini pula orangtua aktif-berinisiatif memilihkan pasangan untuk anaknya. Tidak heran jika lebih setengah (56, 4%) dari 443 responden pasutri penelitian yang saya lakukan sepanjang bulan Maret 2011, menyatakan bahwa bukan mereka yang memilih pasangan hidupnya melainkan orangtua (34, 1%), saudara/i (7, 2%), ibu (4, 7%), ayah dan calon pasangan masing-masing 4, 3%, yang lainnya adalah paman (1, 8%).

   

Tujuan perkawinan Nias

Tujuan pertama perkawinan dalam tradisi Nias adalah untuk melanjutkan keturunan.  Masyarakat Nias yang telah menikah sangat mendambakan kelahiran anak laki-laki. Sebab anak laki-laki berperan untuk melanjutkan garis keturunan dan marga keluarga (mamatohu nga’ötö) serta untuk memelihara harta warisan keluarga. Budaya patriarkal sangat kentara di Nias. Oleh karena itu, wajar saja jika hanya anak laki-laki yang dianggap pihak penerus marga orangtua. Tidak heran jika istri pertama tidak memberikan anak laki-laki, maka suaminya akan menikah lagi yang disebut mamaerua (harafiah = beristri dua). Dengan harapan, istri kedua ini melahirkan anak laki-laki penerus marga ayahnya. Anak laki-laki yang sulung memiliki posisi sebagai pengganti ayah (ono fangali mbörö sisi, ono fangali mbu’u kawono). Hanya anak laki-laki yang berhak mempertahankan dan meningkatkan status kedudukan adat ayahnya. Anak laki-laki juga yang diharapkan oleh orangtua untuk menafkahi mereka jika sudah tua.[6]

Tujuan kedua perkawinan Nias adalah untuk mendapatkan status sosial sebagai keluarga (ngambatö). Anak laki-laki yang belum menikah tidak diperhitungkan dalam jamuan makan pesta adat. Biasanya dalam pesta adat beberapa ekor babi disembelih dan mereka yang sudah menikah akan mendapat bagian (mo urakha) dari babi yang disembelih itu. Sedangkan mereka yang belum menikah tidak diberi urakha (bagian). Hanya orang yang sudah menikah juga yang bisa meningkatkan kedudukan adatnya. Singkatnya, hanya mereka yang sudah menikah yang memiliki status dalam adat.

Tujuan perkawinan yang ketiga, yakni untuk memperluas relasi kekeluargaan (famakhai sitenga bö’ö). Sedangkan tujuan lain dari perkawinan Nias, yakni agar seorang anak tobali niha.Lau nogu no’ufangowalu ami; ba dangami sa’ae na’auri ami. Malau mangandrö-ngandrö salahimi ena’ö oya howu-howu khömi. Yatobali ami niha. (’Anakku kami telah menikahkan kalian, sekarang kehidupan berada di tangan kalian. Kami selalu mendoakan kalian agar melimpah berkat atas kalian. Semoga kalian menjadi orang’). Dari kutipan nasehat orangtua ini kepada anaknya yang baru saja ia nikahkan mau menunjukkan tujuan perkawinan Nias, yakni membangun keluarga sejahtera (ohau-hau dödö). Bagi masyarakat Nias, sejahtera kadang dikiaskan dengan istilah tobali niha (menjadi orang). Dalam tradisi Nias, seseorang dianggap telah ’menjadi orang’ jika seseorang itu sejahtera. Seseorang dianggap sejahtera jika ia tidak memiliki utang. Akan tetapi, bagaimana pasutri bisa menuju pada kesejahteraan jika mereka hidup dalam belenggu utang böwö? Inilah yang kurang disadari oleh masyarakat Nias. Di satu sisi orangtua mengharapkan anaknya sejahtera (tobali niha), akan tetapi orangtua juga meminta böwö yang besar kepada anaknya.

Dalam tradisi Nias kuno, perempuan tidak boleh memilih tetapi dipilih, ia dilarang aktif mencari jodoh, ia dijodohkan, ia bukan menikah tetapi dinikahi! Di sini sangat kuat unsur pemaksaan. Pola pemahaman semacam ini ternyata masih terjadi hingga kini. Berdasarkan hasil pengolahan data angket penelitian sepanjang bulan Maret 2011, menunjukkan bahwa sebanyak  17, 2 persen istri dari 443 responden menyatakan bahwa mereka dipaksa menikah. Secara rinci mereka dipaksa oleh ayah (6, 3%), orangtua atau ayah-ibu (4, 7%), ibu (2, 7%), saudara (2%), paman (1,1%) dan calon pasangan (0, 2%). Ada 0, 4 persen yang menyatakan menikah karena dijanjikan sesuatu oleh keluarga, ada juga yang memutuskan menikah agar terbayar utang orangtua (0, 9%). Mereka yang menikah karena keinginan keluarga dan tidak ditolak oleh sang anak sebanyak 13, 3 persen. Sedangkan mereka yang tidak bersedia memberi jawaban sebanyak 11, 1 persen. Mereka yang menikah karena keinginan sendiri sebanyak 57, 1 persen.

Walaupun anak laki-laki diberi peluang untuk menikah, dan memilih jodohnya, akan tetapi kenyataannya ada 16, 8 persen dari 443 responden  menyatakan dipaksa untuk menikah. Orangtua berperan aktif untuk memilihkan pasangan untuk anaknya laki-laki. Asa’aro La’ia, dkk., menguraikan motivasi dan alasan orangtua memaksa anak laki-laki untuk menikah. Menurut Asa’aro, dkk., laki-laki yang tidak menikah dijuluki oleh masyarakat sekitar sebagai ono matua si lö tandrösa (lelaki yang tidak punya tujuan). Julukan tersebut sebagai kiasan untuk menyebut perjaka tua.[7]

Orangtua anak laki-laki bersangkutan malu juga jika tetangganya mempergunjingkannya dengan berkata: ”niha silö böla tai, tebai ifa’ötö nononia matua” (dasar orang miskin tak mampu menikahkan anaknya laki-laki). Untuk menghindari julukan dan gunjingan ini, orangtua lalu berusaha keras menikahkan anak laki-lakinya, bahkan mencarikan pasangan untuknya. Orangtua tidak menghiraukan lagi apakah gadis pilihannya dicintai oleh anak laki-lakinya.[8]Menurut penulis ada motivasi lain orangtua memaksa anaknya laki-laki untuk menikah, yakni demi menjaga relasi yang telah terjalin dengan orangtua sang perempuan. Kadang terjadi pula, demi menjaga relasi anggota keluarga dari pihak mempelai laki-laki (misalnya saudara, paman) dengan anggota keluarga dari pihak mempelai perempuan, atau sebaliknya.

Sifat Perkawinan Nias

             Menurut F. Matias Zebua, dalam fondrakö[9]Öri Moro’ö ada hukum yang mengizinkan para suami ”membuang istrinya.” Istilah ”membuang istri” merupakan kata teknis Nias berkaitan dengan tindakan suami menceraikan istrinya. Hukum ini disebut fanibo’ö ira alawe (pembuangan istri). Seorang suami boleh membuang istrinya jika istrinya tidak bertindak baik (lö sökhi gamuata) seperti: selingkuh (mohorö), mencuri (managö), dan rakus pada makanan (molu’a). Akan tetapi, jika seorang suami membuang istrinya tanpa alasan atau istri tidak melakukan kesalahan, maka sang suami harus mengikutsertakan emas sebanyak 12 fanulo kepada istri yang ia buang tersebut.[10] Jika diartikan secara harafiah, kata fanulo  berarti cungkilan. Fanulo merupakan sebutan ukuran emas. Dalam takaran emas di Öri Moro’ö, setiap 1 fanulo emas  = 1 (g)ana’a; 1 gana’a = 1 balaki; 1 balaki  = 4 x 4 alisi babi/3 x 4 alisi babi/2 x 4 alisi babi. Setiap 1 fanulo emas  = 1 balaki emas; 1 balaki emas = 4 x 4 alisi babi. Emas yang 12 fanulo = 48 x 4 alisi babi. Pada bulan Maret 2011, harga 4 alisi babi = 1. 050. 000. Harga 12 fanulo = 48 x 1.050. 000 = Rp 50. 400. 000 (lima puluh juta empat ratus ribu rupiah).

Walaupun secara hukum adat, ada peluang untuk menceraikan istri, akan tetapi, masyarakat Nias zaman dahulu jarang yang memanfaatkan peluang tersebut. Ada beberapa alasan. Pertama, böwö perkawinan Nias tidaklah kecil. Mendapatkan istri memang gampang asalkan sang lelaki punya harta, mampu membayar böwö kepada pihak perempuan. Daripada dibelit utang yang besar lagi jika menikah untuk kedua kalinya, lebih baik suami tetap bersama istrinya. Kedua, para istri jarang ada yang bertindak tidak baik seperti selingkuh, mencuri, atau rakus. Kalau pun ada, biasanya sang suami berpikir dua kali untuk menceraikan istrinya itu. Alasannya, sekali lagi,  böwö perkawinan tidaklah kecil jika mau menikah lagi. Ketiga, membayar 12 fanulo emas kepada pihak orangtua istri tidak gampang, nilainya pada bulan Maret 2011 ketika penulis melakukan penelitian tesis ini sebesar Rp 50. 400. 000 (lima puluh juta empat ratus ribu rupiah). Daripada membayar 12 fanulo emas lebih baik tetap mempertahankan relasi dengan istri. Kita perlu mencatat bahwa dalam hukum adat Öri Moro’ö-Nias Barat hanya suami yang diberi peluang ”membuang” pasangannya. Sedangkan para istri tidak diberi peluang untuk membuang pasangannya. Sebab, yang boleh ”aktif” hanyalah laki-laki, perempuan dikondisikan bertindak pasif, menerima begitu saja keadaan hidupnya bersama suaminya.

Pada zaman sekarang sudah banyak kasus perpisahan dan perceraian pasutri. Ada sebagian masyarakat Nias suka merantau mengadu nasib ke negeri orang. Di antara mereka ada yang nikah lagi di daerah rantau, walaupun sudah punya istri atau suami di kampung halamannya. Banyak di antara istri nekat dan berani aktif untuk ”meninggalkan” suaminya. Apalagi setelah gempa (2005) telepon seluler hampir dimiliki masyarakat Nias. Kecanggihan teknologi komunikasi ini sungguh dimanfaatkan oleh sebagian istri. Dalam waktu sebulan tinggal di Nias sudah banyak peristiwa dan informasi yang penulis dapatkan mengenai istri yang kabur meninggalkan suaminya dan menikah lagi dengan lelaki lain. Ada juga istri yang pergi merantau tanpa sepengetahuan suami dan tidak mau kembali lagi di pangkuan sang suami. Bahkan ada juga seorang istri yang tengah hamil tua, setelah berkomunikasi dengan pria lain lewat handphone, lalu kabur bersama pria idaman lainnya itu. Oleh karena itu, jika para tokoh adat, tokoh agama, pemerintah, tokoh wanita tidak mengambil langkah-langkah preventif dan kuratif menghadapi realitas Nias ini bisa semakin tinggi angka perpisahan pasangan di Nias.

Postinus Gulö adalah Mahasiswa Pascasarjana-Universitas Katolik Parahnyangan, Bandung; menulis tesis “BÖWÖ DALAM TRADISI PERKAWINAN ÖRI MORO’Ö-NIAS BARAT: PERMASALAHAN DAN SOLUSINYA.” Alamat email: postinusgulo@gmail.com.

Footnotes:

[1] Bdk. Romanus Daeli, “Jujuran Sebagai Bukti Kasih,” dalam HIDUP, No. 10 tahun ke-64, 2010, Jakarta,  hlm. 7.  Lihat juga Bamböwö Laiya, Solidaritas Kekeluargaan dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias – Indonesia (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1983), hlm. 41.

[2] Bdk. SM. Mendröfa, Masalah Jujuran dalam Pelaksanaan Perkawinan di Nias, dalam Harian Sinar Indonesia Baru, Sabtu, 3 September 1983. Tulisan ini dilampirkan di dalam dokumen penelitian Jujuran Perkawinan yang disusun oleh Panitia Permus DPRD Tingkat II Nias pada tahun 1983.  

[3] Bambowo Laiya, hlm. 41.

[4] Bdk. Setiaman Zebua, “Hönö Mböwö No Awai, Ba Hönö Mböwö No Tosai,” dalam NiasOnline.Net., diakses 8 Mei 2010.

[5] Bdk. Bambowo Laiya,  hlm. 42-45.

[6] Bdk. Asa’aro La’ia, dkk., Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Nias Terhadap Kemajuan Ekonomi Daerah (Gunungsitoli: BPPD Kab. Nias, 2002), hlm. 11-12.

[7] Asa’aro La’ia, dkk.,  hlm.12. Sedangkan perempuan yang tidak dinikahi lelaki dijukuki sebagai ono alawe sangobou silötö (perempuan yang membuat lapuk kayu tatakan rumah). Istilah ini merupakan kiasan untuk menyebut perawan tua.

[8] Asa’aro, dkk.,  hlm.12.

[9] Kata fondrakö berasal dari kata rakö, artinya: tetapkan dengan sumpah dan sanksi kutuk. Fondrakö merupakan forum musyawarah, penetapan, dan pengesahan adat dan hukum. Bagi yang mematuhi fondrakö akan mendapat berkat dan yang melanggar akan mendapat kutukan dan sanksi.

[10] F. Matias Zebua, Nidunö-Dunö Somasido Urongo (Ononamoölö III: Unpublished, 1996),  hlm. 45.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: