BERBAGI INSPIRASI

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..


    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 114,940 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    September 2011
    S S R K J S M
    « Agu   Nov »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  

BÖWÖ ITU KASIH, KODRAT MANUSIA NIAS

Posted by postinus pada September 30, 2011


Oleh Postinus Gulö*

Böwö adalah ungkapan kasih (masi-masi), amuata sisökhi (perbuatan baik), famolakhömi (pemuliaan/pengagungan), fasumangeta (penghormatan), nibe’e fao fa’ahele-hele dödö (pemberian penuh ikhlas hati), tenga nifaso ba tenga siso sulö (bukan dipaksa dan tanpa menuntut balasan).” Makna böwö yang begitu indah ini terungkap dalam Lokakarya Budaya Nias (1-3/9/2011). Lokakarya ini bertemakan: “Jujuran Perkawinan Nias Menyejahterakan Keluarga (Famalua Böwö Wangowalu Same’e Fa’ohahau Dödö),” dilangsungkan di Gedung Serba Guna St. Yakobus Gunungsitoli.  Lokakarya yang dihadiri tokoh lintas agama, tokoh pemerintah dari 4 Kabupaten dan satu Kotamadya, serta perwakilan tokoh adat  dari berbagai Öri se-Kepulauan Nias,  diprakarsai oleh Pusat Pastoral Keuskupan Sibolga.

     Narasumber Lokakarya Budaya Nias, dari ki-ka: Fidelis Waruwu (tidak tampak), Postinus Gulö, Ama Oti Ndruru, Ama Ronal Daeli, Ama Elsis Sarumaha

Adapun narasumber yang dihadirkan oleh panitia, yakni Bapak Hurezame Sarumaha alias Ama Elsis mewakili Nias Selatan, sesepuh tokoh adat Nias Ama Oti Ndruru dari Öri Huruna, Bapak Ama Ronal Daely mewakili  Öri Lahömi, Bapak Drs. Fidelis Elisati Waruwu, M. Sc.Ed dari unsur akademisi yang berasal dari Nias Barat, dan Fr. Postinus Gulö, OSC., S.S., M.Hum yang merupakan peneliti bö perkawinan Öri Moro’ö-Nias Barat. Lokakarya ini dibuka secara resmi oleh Uskup Keuskupan Sibolga Mgr. Ludovikus Simanullang OFMCap, disaksikan Pst. Metodius Sarumaha OFMCap (Sekretaris Jenderal Keuskupan Sibolga), Pst. Frans Sinaga Pr (Dekanus Dekanat Nias), Firminus Zalukhu (Ketua DPRD Nias Utara), dan Emilia Fau (Plh. Kadis Pariwisata Nias Selatan).

Böwö Muncul Dari Kesadaran Tulus

Sesepuh tokoh adat Nias Ama Oti Ndruru mengungkapkan bahwa sebenarnya nenek moyang orang Nias mempraktekkan böwö ini sebagai ungkapan kasih mereka kepada pihak yang bersedia menjadi bagian dari keluarganya dan dengan tulus mengizinkan putrinya sebagai istri seorang lelaki. Böwö mengandung semangat saling bertukar bukti kasih, yang di dalamnya disemangati oleh ketulusan memberi  tanpa menuntut balasan. Pendapat Ama Oti ini dikuatkan oleh Ama Ronal Daely: “böwö sesungguhnya adalah nibe’e fao fa’ahele-hele dödö” (pemberian yang tulus).  

Namun dalam perjalanan sejarah, Ama Oti dan Ama Ronal mengamati bahwa semangat “böwö” dalam praktek adat perkawinan Nias semakin mengalami erosi. Upacara perkawinan cenderung tidak dirasakan sebagai ungkapan kasih, tetapi sebagai hasrat untuk menikmati harta material. Ada banyak tambahan nilai material pelaksanaan perkawinan yang mengakibatkan keluarga baru menanggung utang yang besar. Itu sebabnya, Ama Elsis Sarumaha mengusulkan agar dalam pelaksanaan perkawinan, masyarakat Nias perlu melihat fungsi dan makna ritual adat. Jika ritual adat memberatkan, tidak membebaskan, dan tidak memanusiawikan, perlu disiasati agar lebih mengangkat harkat-martabat manusia Nias. Tidak hanya itu, menurut Ama Elsis, tahapan upacara perkawinan perlu disederhanakan dan dilaksanakan dalam kurun waktu bersamaan. Tindakan semacam ini bertujuan untuk menghemat nilai material pelaksanaan pesta adat perkawinan Nias.

Ama Elsis Sarumaha, dengan mengutip pendapat Prof. Mohadi, S.H, menegaskan bahwa “kekuasaan budaya tidak dapat diakhiri dengan suatu dekrit. Kekuasaan budaya berakhir setelah lewat waktu.”Ama Elsis hendak mengatakan bahwa melakukan transformasi tidak berhasil jika ditempuh dengan cara-cara otoriter. Transformasi budaya hanya dapat dilakukan melalui cara-cara yang mengadaptasikan perkembangan zaman, dan tindakan yang membangkitkan kesadaran masyarakat adat. Realitas diskriminatif sebagai akibat dari pelaksanaan upacara perkawinan, tidak bisa diubah hanya dengan tindakan kritis tanpa solusi persuasif!

 

Böwö Itu Bawaan Kodrati, Tidak Bisa Diubah

Böwö merupakan warisan nenek moyang orang Nias yang muncul dari kesadaran terdalam mereka.  Böwö adalah  kasih. Jika böwö kita pahami sebagai kasih, maka böwö tidak bisa diubah. Jika kita mengubahnya, berarti kita melawan kodrat. Böwö sebagai kasih sudah ditulis oleh Pencipta dalam kodrat setiap ciptaan. Pemaknaan böwö semacam ini diungkapkan oleh salah seorang Narasumber Lokakarya Drs. Fidelis Elisati Waruwu, M. Sc.Ed, dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara dan Direktur Education, Training & Consulting Jakarta.  Menurut Fidelis, yang dapat diubah adalah aturan adat. Aturan adat Nias semestinya dibaharui dengan semangat böwö.

Lebih jauh, pemegang lisensi internasional sebagai Qualifying Trainer MBTI ini menyatakan, sebenarnya, nenek moyang orang Nias pada awalnya mempraktekkan bö sebagai ungkapan kemurahan hati (niha sebua fa’omasi, niha sebua bö). Oleh karena itu, Bapak Fidelis berharap agar semua yang datang di suatu pesta perkawinan, entah sebagai fadono, uwu, nga’ötö nuwu, warga kampung, tetua adat, dsb., tergerak hatinya untuk memberkati kedua mempelai sekaligus menunjukkan diri sebagai orang yang memiliki kasih yang besar (niha sebua böwö). Sebagai niha sebua böwö, mereka membekali kedua mempelai dengan bibit tanam-tanaman, perkakas rumah, bantuan cuma-cuma dalam bentuk uang, anak babi atau ayam, dan lain sebagainya.

Lulusan S-2 Psikologi Roma ini percaya, jika semua yang menghadiri dan berkepentingan dalam suatu perkawinan, melakukan perbuatan kasih (famalua böwö) semacam ini, niscaya setelah perkawinan, pengantin baru merasa bahagia karena mendapat kasih dari berbagai pihak dan bukan justru utang! Dengan strategi semacam ini, pelaksanaan böwö dalam adat perkawinan Nias semakin memberdayakan dan menyejahterakan secara lahir-batin semua pihak yang melaksanakan dan menanggung böwö perkawinan Nias.

Jurang Antara Makna dan Praktek “Böwö”

Pada awal presentasinya, Fr. Postinus Gulö,OSC., S.S., M. Hum, menegaskan bahwa dari segi etimologis dan makna, böwö itu sangat baik, mengandung nilai-nilai luhur, edukatif dan etis. Sejalan dengan narasumber lainnya, Postinus Gulö, memaknai böwö sebagai  masi-masi, fa’omasi, nibe’e si’oroi dödö, tenga ni’andrö ba tenga siso sulö (pemberian karena kasih, pemberian dari hati, bukan diminta dan tanpa menuntut balasan). Nilai terdalam dari böwö adalah fasumangeta ba li ba amuata sisökhi (sikap saling menghormati melalui kata dan perbuatan) dan bukanlah nilai material (emas, babi, beras, uang).

Bagi Postinus, böwö mengatasi aturan adat. Böwö sesungguhnya bukan aturan legalistik melainkan ungkapan kesadaran yang dibuktikan dengan tindakan kasih, yakni saling memberi tanpa menuntut balasan. Manakala “böwö” hanya dipahami berdasarkan hukum adat (fondrakö), maka yang muncul adalah aturan adat yang mengandung hak-kewajiban dan bukan böwö lagi. Oleh karena itu, Postinus (dan Fidelis Waruwu) mengusulkan agar aturan adat Nias disemangati oleh “böwö” (kasih).

Dari segi makna, böwö begitu baik, di dalamnya terkandung local wisdom (kearifan lokal) nenek moyang orang Nias yang ternyata merupakan kodrat yang sudah ditulis oleh Sang Pencipta dalam diri setiap manusia. Namun, ternyata, makna böwö sesungguhnya tidak selalu hadir dalam praktek böwö itu sendiri. Dalam Lokakarya tersebut, Postinus membeberkan hasil penelitiannya di Öri Moro’ö-Nias Barat. Menurutnya dalam sistem adat Öri Moro’ö-Nias Barat, kepentingan kelompok (keluarga, warga adat, warga kampung) jauh lebih penting daripada kepentingan individu. Oleh karena itu, wajarlah jika dalam proses perkawinan Nias, orangtua kedua mempelai dan yang sederajat dengannya,  yang sepakat dan lebih berwenang menikahkan dan menentukan pasangan hidup seorang anak.

Lebih jauh, Postinus menyatakan, dalam tataran praktis, penerapan böwö (mas kawin) Öri Moro’ö-Nias Barat mengabaikan kesejahteraan suami-istri. Hal itu terlihat dari hasil penelitian lapangan yang ia lakukan selama bulan Maret 2011. Berdasarkan hasil penelitiannya, ternyata penerapan böwö menjadi beban hidup (abula dödö) pasutri (97, 1%). Tidak hanya itu, böwö Öri Moro’ö-Nias Barat menjadi salah satu penyebab ketidaksejahteraan (88, 5%) dan kemiskinan (86, 2%) masyarakat Öri Moro’ö-Nias Barat. Sebab setelah menikah, pasutri memiliki utang dalam bentuk uang rente (94, 8%), dalam bentuk babi (94, 1%), dan dalam bentuk kongsi adat (92, 8%).

Menyikapi realitas ini, Postinus menghimbau bahwa sudah saatnya Gereja dan pemerintah daerah Nias Barat menggalakkan pastoral yang terencana dan berkesinambungan untuk menyadarkan, mendorong dan membantu masyarakat Nias Öri Moro’ö agar semakin memahami hakikat dan tujuan perkawinan. Selain itu, para pelayan pastoral mesti membuka diri untuk sungguh memahami budaya Nias sebagai modal untuk menangani masalah yang ditimbulkan oleh praktek penerapan böwö ini.

Di Nias Barat, bö masih dirasakan sebagai beban, bahkan salah satu penyebab kemiskinan. Namun, di Nias Selatan justru sebaliknya. Menurut Ama Elsis Sarumaha jujuran perkawinan di Nias Selatan tidak menjadi masalah kemiskinan. Sebab, jujuran perkawinan tetap memperhatikan kesanggupan ekonomi pihak mempelai laki-laki dalam memenuhi  material jujuran perkawinan. Kita berharap, realitas Nias Selatan ini menyebar ke seluruh pelosok Pulau Nias sehingga dengan demikian, perkawinan menjadi gerbang menuju kebaikan dan kesejahteraan suami-istri.

 

Kesepakatan Akhir Lokakarya

Pada akhir lokakarya, para tokoh lintas agama, tokoh adat, dan tokoh pemerintah se-Kepulauan Nias dan semua peserta lokakarya secara bulat menyepakati enam hal sebagai berikut:

Pertama, kami memahami böwö sebagai nilai-nilai luhur yang telah dipraktekkan nenek moyang orang Nias bahwa böwö adalah ungkapan kasih (masi-masi), amuata sisökhi (perbuatan baik), famolakhömi (pemuliaan/pengagungan), fasumangeta (penghormatan), nibe’e fao fa’ahele-hele dödö (pemberian penuh ikhlas hati), tenga nifaso ba tenga siso sulö (bukan dipaksa dan tanpa menuntut balasan).

Kedua, kami menyadari bahwa nilai-nilai böwö dipraktekkan dalam adat perkawinan di masing-masing Öri dalam bentuk aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam Fondrakö yang setiap Öri berbeda-beda. Namun selanjutnya dalam perjalanan sejarah, ternyata praktek adat perkawinan Nias menjadi lebih menekankan aturan-aturan, tambahan-tambahan pesta lainnya yang membutuhkan biaya besar di luar böwö, daripada nilai-nilai luhur (böwö) sehingga pelaksanaan adat perkawinan telah memberatkan kehidupan lahir batin keluarga baru. Akibatnya, praktek adat perkawinan terasa semakin jauh dari semangat nilai-nilai luhur (böwö) yang telah diwariskan nenek moyang orang Nias.

Ketiga, agar generasi muda Nias di masa depan tetap memahami nilai-nilai luhur böwö, maka perlu pelaksanaan böwö dalam adat perkawinan di berbagai Öri dijiwai oleh semangat masi-masi (böwö) yang sejati sehingga pelaksanaan böwö dalam adat perkawinan Nias semakin memberdayakan dan memanusiakan pihak-pihak yang melaksanakannya.

Keempat, perlu adanya gerakan bersama antara tokoh pemerintah, tokoh agama, tokoh adat untuk mendorong seluruh elemen masyarakat untuk mulai menerapkan böwö perkawinan yang menyejahterakan keluarga baru. Misalnya, dalam suatu perkawinan pihak-pihak terkait: orangtua, paman, talifusö, banua, dan pihak terkait lainnya yang menerima böwö menerapkan sikap kasih (böwö) yang sama antara anak laki-laki dan anak perempuan dengan menjunjung tinggi azas keadilan dan kesamaan hak.

Kelima, untuk proses bertumbuhnya kesadaran baru akan nilai-nilai luhur böwö yang sesungguhnya pada semua lapisan masyarakat Nias, maka Lokakarya Budaya Nias ini merekomendasikan untuk disusunnya bahan pengajaran dan pembinaan bagi seluruh elemen masyarakat Nias: khususnya anak-anak, remaja, dan kaum muda dan hendaknya dijadikan bahan pengajaran muatan lokal di sekolah formal.

Keenam, untuk kesejahteraan keluarga baru Nias, maka perlu adanya penyederhanaan nilai material adat perkawinan Nias dan tahap-tahap pelaksanaan perkawinan tanpa menghilangkan nilai-nilai dan makna luhur setiap tahapan dalam adat perkawinan Nias. Misalnya, tahap pertunangan, famatö böwö, fangetu bongi dilaksanakan dalam satu waktu secara bersamaan. Dalam pelaksanaan setiap tahap dijiwai oleh semangat nilai-nilai luhur (böwö) yang sejati.

Implementasi Nyata

Kita berharap, semua “sharing,” ide konkrit, dan kesepakatan akhir Lokakarya ini mampu diimplementasikan oleh semua peserta di dalam kehidupan nyata masyarakat Nias. Kita berharap, agar hasil Lokakarya ini tidak tersimpan di dalam lemari dokumen. Kita berharap agar hasil Lokakarya ini menjadi pembakar semangat untuk memberdayakan pasangan suami-istri di Pulau Nias agar semakin membangun keluarga sejahtera. Semoga!

 

 Postinus Gulö, termasuk salah seorang narasumber Lokakarya Budaya: “Jujuran Perkawinan Nias Menyejahterakan Keluarga (Famalua Böwö Wangowalu Same’e Fa’ohahau Dödö).”Alamat email: postinusgulo@gmail.com.

13 Tanggapan to “BÖWÖ ITU KASIH, KODRAT MANUSIA NIAS”

  1. BUALA ZENDRATO said

    Saya sebagai seorang putra nias sangat menghargai Adat dan Budaya Nias itu oleh karena sudah disahkan(sino larakö) para leluhur kita, yang cukup genius dan intlektual sekali sehingga bisa di terima oleh kalangan orang nias dan sangat-sangat menggugah hati serta penuh kesan yang positif sampai hari ini.
    1. Maka pantaslah kalau harus di junjung tinggi oleh karena Adat Nias itu
    terkandung didalamnya nilai-nilai yang sangat berharga yaitu “BöWö” yang juga
    harus dituangkan melalui sebuah ungkapkan melalui peribahasa “pantun
    (amaedola)” yang cukup indah didengar memilki makna-kesan yang cukup tinggi.
    2. Karena proses adat yg cukup panjang mulai memilh calon istri(famaigi niha),
    tunangan(fondöi), famegana’a, fangandö li nina, feme’e ono nihalö, baru pesta
    pernikahan(falöwa) selanjutnya famegö dan famuli nukha dan lain sebagainya.ini
    semua merupakan satu proses yang cukup melelahkan tapi pasti, yang artinya
    dituntut sebauah KESABARAN. makanya sangat-sangat rugi sekali apabila
    pernikahan itu diakhiri dengan sebuah perceraian, lebih lagi ditambah bimbingan
    dan arahan dari pendeta bahwa perceraian hanya diakhiri oleh kematian.
    yang artinya tidaklah mudah untuk “CERAI” (relatif), karena nikahnya juga tidak
    gampang, sebab kalau seseorang melakukan hal itu banyak aspek yg harus
    ditanggung resikonya memalukan kedua belah pihak keluarga dan pencemaran
    nama baik pihak keluarga perempuan(sitenga bö’ö) belum lagi dosanya, dll.
    3. Adat istidat itu(böwö) tetap kita pertahan hanya nilainya kita sesuaikan dengan
    sikonnya.
    Terima kasih YA’AHOWU…..

    • postinus said

      Ya’ahowu Bapak Buala Zendrato. Ya.. benar, marilah kita pertahankan semangat BöWö sebagai kasih, tetapi nilai “materialnya” kita kurangi. Pendapat Anda sangat inspiratif. Terima kasih komentar yang konstruktif ini. Tuhan memberkati.

    • BUALA ZENDRATO
      bagaimana jg dengan saudara/i kita yang sudah mau meninggalkan yang namanya “bowo” dan tidak mau peduli lagi dengan adat Nias itu..?

  2. Sabar Hulu said

    Yaahowu!

    Apresiasi kepada Frater Postinus Gulo. Bôwô merupakan ciri khas/ keunikan yang menunjukkan perbedaan Ononiha dengan masyarakat daerah lainnya. Namun, penerapan Bôwô kadangkala tidak memaknai sebagai kasih/ fosumangeta. Justru pada prakteknya, seringkali bôwô diartikan sebagai balas budi si anak kepada orang tuanya, misalkan bahwa ketika anaknya perempuan telah menjadi PNS/kerja maka bôwô diminta tinggi meskipun pihak laki-laki telah mengungkapkan kemampuannya. Sering kita dengar ungkapan bahwa “ami li moroi ba gô”, hal ini sebenarnya mencerminkan nilai-nilai keluhuran “bôwô”. Namun, sekali lagi pemahaman bôwô masih mencerminkan nilai material bukan keluhuran kasih yang akibatnya sering terjadi “kawin lari”, dan bahkan bôwô menjadi beban hidup. Padahal kedua pihak mendasari hubungannya dengan cinta dan kasih. Ungkapan orang tua kita yang mengatakan bahwa “ô hanigô hada ba lô ahani, ô khozi hada ba lô akhozi”, hal ini sangat menarik. Proses adat khususnya famaigi niha, adalah proses yang sangat menarik karena disanalah terjadi dialog 2 (dua) arah (fagema-gema li), hanya akhirnya akan menuju kepada yang disebut bôwô. Kembali kepada kita, apakah kita memaknai bôwô sebagai kewajiban atau sebagai fasumangeta. Marilah kita renungkan bersama, yang akhirnya bôwô tidak menjadi hal yang ditakutkan.

    Saran:
    Kalau boleh kami sarankan, perlu juga membahas tentang kewibawaan tuhenôri (saat ini Kepala Desa) zaman dulu, sekarang kepercayaan masyarakat kepada Kepala Desa sebagai perpanjangan tangan Kepala Daerah sangat rendah.

    Saohagolo, yaahowu

    • postinus said

      Ya’ahowu bang Sabar. Wah…komentar yang konstruktif dan inspiratif. Terima kasih bang. Kita berharap dan berusaha agar nilai-nilai luhur dalam böwö tetap kita pertahankan. Praktek böwö mestinya dijiwai oleh semangat böwö sejati itu.

      Soal Tuhenôri, sebenarnya konsep dan prakteknya tinggal jejak. Sebab, organisasi adat sesungguhnya telah mengalami “keruntuhan”. Sebenarnya, Tuhenôri sudah tidak pas lagi jika dipangku oleh kepala desa, sebab kepala desa adalah pemimpin di wilayah pemerintahan sedangkan Tuhenôri mrp pemimpin ke-adat-an. Iya bang, saya setuju jika ada yang membahas soal Tuhenôri ini.

      Salam dalam kasih persaudaraan
      Postinus

  3. Sabar Hulu said

    Ya’ahowu Pastor Postinus Gulo.

    Saya salut kepada Pastor atas kepeduliannya untuk mengangkat topik tentang adat istiadat di Pulau Nias, khususnya pembahasan tentang bôwô. Saat ini, kebanyakan penelitian mahasiswa/i lebih pada penelitian kehidupan modern dan lupa kepada hal-hal unik seperti kehidupan zaman dulu (adat istiadat dsbnya) seperti yang Frater teliti. Mudah-mudahan hasil penelitian pastor berjalan lancar dan diberkati Tuhan, dan kiranya juga berkenan kami boleh mendapatkan hasil akhir atau Thesis/ penelitian tentang bôwô dari pastor. Penelitian pastor sangat berguna dan membangun serta mengedukasi. Sukses selalu, kami doakan untuk pelayanan pastor. Yaahowu

    • postinus said

      Ya’ahowu bang Sabar Hulu. Sykur pada Allah, penelitian saya sudah rampung. Tesis saya pun sudah rampung bulan September lalu. Saya bersykur pada Allah karena tesis itu mampu saya pertahankan dengan baik, sehingga saya mendapat predikat cum laude. Terima kasih dukungan Bapak/Ibu, teman-teman semua. Tesis saya ini akan saya persembhakan di Museum Pusaka Nias agar bisa dibaca oleh siapapun. Rencananya, bulan Desember ini saya ke Nias, sekaligus saya bawa hardcopy tesis tersebut.

  4. Yaahowu Talifuso… Mau Minta izin untuk mengutip Tulisan anda sebagai bahan referensi buat saya

    adapun rencana saya untuk menuliskan sebuah tulisan dengan Tema

    ” Kemelut Adat Nias dalam Perkawinan dan Dampak Terhadap Status Sosial”

    Mudah2 aku bisa tuntaskan tulisan ini yang tentunya memberkati orang yang Membacanya. Saohagolo

  5. Putra Gaekhula said

    sdr Fr.Postinus Gulo,ndak usah saya acungkan pujian buat saudara,cukuplah pembicara terdahulu.Numun kenalilah, kt sama sama satu Ori. yakni Ori Moro’o Nias Barat. walau sdr dlm penelitian tadi arti dari pada Bowo sangatlah luas , kasih, ma masi masi, fame e fao sahele hele dodo.Tidak mengharapkan balasan. Tetapi dalam praktek kehidupan sehari hari bermasyarakat Ori Moro O Nias Barat, sangatlah bertolak belakang. Bowo adalah suatu keharusan, nalo itoro haniha ia goi goi mbowo , ifalua wamangowalu ono nia matua( bahe na ibe nihalo nono nia alwe ) , nalo itoro mbowo ,lo ifalua zino te rako , balamane ” silo mangila huku ( tdk hukum Adat ), tidak tau di untung , ambo ono namau ndraugo, ba oya li fondukhu tano bo’o,Sehingga he silo khonia irau. Siap berutang sekeliling pingggang, andro nano mangowalu niha tenga fangohahau dodo, beban berhimpitan hingga anak -cucu lo abua bua wo omo. Jadi Bowo yang sesungguhnya harus di sosialisasikan ke masyarakat luas .Melalui pemangku pemangku Adat, di dorong oleh Pemerintah Daerah. Sy sangat setuju yg di gagas sudara Sabar Hulu, bahwa Eksistensi Tuhenori dibangkitkan kembali, sebagai pemangku Pucuk Pimpinan Adat ba zisambua Ori. Tuhenori memang tidak sama dengan kapasitas kepala Desa , Tuhe nori berfungsi mengayomi seluruh masyarakat Adat di seluruh Negeri .Contoh Ori Moro o, mulai dari luaha Mangonia Desa Sisarahili Hili goe ( dari Ujung timur ) ,terus ke Sisara hili O’O ( ujung Barat/kalo gak salah ) , terus ke Soya Manu, Hili fadolo , Dangagari dan Lasara sihene asi ( Ujung paling utara ), itu semua sambua ori moro O si Lima Ina, ini semua harus bersatu dalam satu rumpun satu tuhe nori. Semoga

    • postinus said

      Terima kasih tanggapan dan juga masukannya Pak “Putra Gaekhula”. Melakukan suatu penyadaran pastilah butuh proses. Kita harapkan usaha-usaha yg kita lakukan ada buahnya kalau bukan sekarang mungkin nanti…..

      Salam Ya’ahowu

  6. frans lahagu said

    makasih ama

  7. Buala Hulu said

    semoga dgn paparan di atas dpt menyadarkan masyarakat kita pulau nias

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: