BERBAGI INSPIRASI

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..


    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 116,742 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Januari 2012
    S S R K J S M
    « Des   Sep »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  

Pihak Pemberi dan Penerima Böwö Perkawinan Menurut Adat Öri Moro’ö

Posted by postinus pada Januari 12, 2012


Oleh Postinus Gulö

 Pulau Nias tergolong pulau kecil. Namun, organisasi adat sangat beragam. Tidak heran jika banyak sekali Öri (gabungan beberapa kampung) yang pada zaman dahulu memiliki tata aturan adat masing-masing. Sekarang, Öri sebanarnya sudah ”runtuh”. Kepemimpinan adat sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Nias. Namun ”roh” adat itu masih melekat dalam hidup masyarakat Nias. Seperti kita ketahui, ada 17 Öri di Nias Barat. Akan tetapi, dalam tulisan ini, penulis hanya membahas pihak pemberi dan penerima böwö menurut adat Öri Moro’ö, Nias Barat.

Kita mesti selalu ingat bahwa makna sejati böwö adalah ungkapan kasih (masi-masi), perbuatan baik (amuata sisökhi/famalua fa’omasi), kemurahan hati, sikap saling menghormati (fasumangeta), sikap saling memuliakan (famolakhömi), pemberian penuh ikhlas hati – tanpa paksaan dan tanpa menuntut balasan (nibe’e sifao fa’ahele-hele dödö – tenga nifaso ba tenga siso sulö). Oleh karena itu, seseorang yang memberikan böwö dalam bentuk babi, emas, uang dan beras semata-mata karena digerakkan oleh makna sejati böwö tersebut. Sementara pihak penerima böwö, menerima böwö dengan penuh kemurahan hati sehingga tidak memaksa pihak-pihak pemberi böwö tersebut.

Secara adat, pihak pemberi dan penerima böwö saling menunjukkan kebesaran kasih (fa’ebua mböwö), saling menghormati (fasumangeta). Dalam sistem böwö sejati, yang lebih penting adalah semangat ungkapan kasih, kemurahan hati dan bukan materi böwö itu sendiri. Pemberian dan penerimaan böwö merupakan tindakan pembuktian kebesaran kasih antara keluarga kedua mempelai. Oleh sebab itu, pihak penerima böwö sudah menunjukkan dirinya sebagai orang yang murah hati (sebua fa’omasi) jika tidak menuntut böwö yang menjadi bagiannya (lö’i faso zinemania). Namun, apabila penerima böwö lebih mementingkan sinema (bagian/penerimaan), maka pihak penerima tersebut tidak memiliki kemurahan hati (tenga niha sebua böwö).

Alangkah bahagianya pasangan suami-istri jika pada saat melangsungkan perkawinan, mereka mendapatkan berkat (howu-howu) dan ungkapan kasih dari para kerabat, warga kampung, warga adat atau dari semua yang hadir dalam pesta. Jika saat pesta perkawinan semua elemen warga adat ini memberi ungkapan kasih dalam bentuk babi, ayam, beras, bibit tanaman, perkakas rumah tangga, uang, dsb., pasti mempelai baru menatap masa depan yang lebih sejahtera, dan bukan menatap masa depan dengan beban utang. Pemberian dari hati yang tulus ini merupakan bukti kasih dan berkat nyata yang dirasakan oleh mempelai baru.

  1. Pihak Pemberi Böwö Perkawinan

Secara adat, pihak pemberi böwö bukan hanya orangtua mempelai laki-laki melainkan pihak-pihak lain, seperti kerabat, warga adat dan warga kampung. Artinya, semangat tolong menolong dalam menanggung böwö sebenarnya sudah menjadi tradisi Nias. Oleh karenanya, jika fungsi relasi kekerabatan keluarga berjalan dengan baik, maka pihak mempelai laki-laki sangat terbantu untuk menyanggupi böwö perkawinan. Sebab nilai material böwö ditanggung secara bersama-sama. Kurang lebih ada 5 (lima) pihak yang memberi atau menanggung böwö, yaitu:

Pertama, orangtua mempelai laki-laki. Secara langsung, pihak pemberi böwö kepada pihak mempelai perempuan adalah pihak orangtua mempelai laki-laki. Misalnya, apabila Antonius akan menikah, maka pihak yang memberi/menanggung böwö adalah orangtuanya. Jika orangtua Antonius sudah meninggal, maka Antonius yang berjuang menyanggupi böwö perkawinannya. Akan tetapi, dalam menanggung böwö, Antonius dibantu oleh pihak-pihak lain. Oleh karena itu, sebenarnya, pihak pemberi böwö bukan hanya orangtua melainkan keluarga besar dan kerabat dari mempelai laki-laki. Pihak-pihak yang dimaksud akan dijelaskan dalam paparan berikut ini.

Kedua, fadono. Dalam tradisi Nias, relasi kekerabatan menentukan kewajiban-kewajiban setiap orang. Misalnya, ketika Antonius akan menikah, maka semua pihak yang mengambil istri dari pihak Antonius berkewajiban membantu Antonius untuk menyanggupi böwö perkawinannya. Pihak yang mengambil istri disebut fadono. Pihak fadono memiliki kewajiban membantu keluarga dan kerabat dari istrinya. Kewajiban fadono itu disebut ömö wadono (ömö = utang; wadono dari kata fadono = pihak yang mengambil istri). Setiap fadono, berkewajiban menyerahkan ömö wadono kepada keluarga mempelai laki-laki, minimal dua ekor babi: sara zafuo ba sara zatabö (seekor babi ukuran kecil minimal 2 alisi dan seekor babi ukuran lebih besar minimal 4 alisi). Ömö wadono merupakan sisa böwö yang ditangguhkan pemberiannya (böwö sitosai) ketika seorang laki-laki melangsungkan pernikahan. Ada 4 macam fadono,[1] sebagai berikut:

(1)   Fadono inti, yakni pihak yang menikahi seorang perempuan dari pihak pengantin laki-laki. Misalnya, Antonius menikah dengan Bella. Sedangkan Antonius memiliki saudari perempuan dan dinikahi Calistus, maka Calistus ini ikut membayar böwö ketika Antonius akan menikah dengan Bella.

(2)   Fadono dari Sirege (fadono dari saudara orangtua mempelai). Misalnya, ayah Antonius adalah Darius dan Darius memiliki saudara, yakni Edward. Edward memiliki anak perempuan yang menikah dengan Filius, maka Filius ini ikut membayar böwö yang ditanggung oleh Antonius ketika menikah dengan Bella. Semakin banyak perempuan yang dinikahi dari pihak mempelai laki-laki, akan semakin gampang membayar  böwö.[2]

(3)   Ono mbene’ö (keponakan). Dalam tradisi Nias, yang disebut keponakan adalah anak dari perempuan yang telah dinikahi, baik anak laki-laki maupun anak perempuan.[3] Misalnya, Antonius memiliki saudari perempuan, yakni Gita dan menikah dengan Hilarius. Anak-anak dari pasangan Gita-Hilarius adalah keponakan Antonius. Jika anak-anak Gita-Hilarius (entah perempuan atau laki-laki) ini telah menikah, maka mereka juga ikut menangung böwö ketika Antonius akan menikah dengan Bella.

(4)   Mauwu, yakni anak dari keponakan (baik laki-laki maupun perempuan). Misalnya, Antonius memiliki keponakan, yakni Ida dari perkawinan Gita-Hilarius. Jika Ida ini telah menikah, maka ia juga berkewajiban membayar böwö yang mesti ditanggung oleh Antonius ketika menikahi Bella. Dan ingat, ketika anak laki-laki dari Antonius akan menikah, semua fadono ini juga ikut menangung böwö yang harus dibayar oleh anak laki-laki Antonius.

Ketiga, talifusö (sanak saudara). Sanak saudara memiliki kewajiban menolong Antonius walaupun dalam bentuk kongsi adat. Jika hal ini berjalan dengan baik, maka Antonius terhindarkan dari utang yang sifatnya berbunga. Sebab, kongsi adat tidaklah berbunga! Ada 3 kelompok yang disebut talifusö.[4]

(1)   Saudara laki-laki dari orangtua pengantin laki-laki. Misalnya, Dodo akan menikah. Ayah Dodo adalah Dede dan Dede memiliki saudara laki-laki, yakni Dudu. Dudu ini sebenarnya memiliki kewajiban untuk ikut membayar böwö yang akan dibayar oleh orangtua Dodo. Hanya saja, bantuan yang diberikan Dudu ini bersifat pinjaman tanpa bunga. Jika suatu saat, anak laki-laki Dudu menikah, maka Dede mesti membayar kembali böwö yang pernah diberi oleh Dudu.

(2)   Saudara laki-laki dari pengantin laki-laki. Misalnya, Dodo yang akan menikah memiliki saudara laki-laki, yakni Fefu, Fofo, dan Fufu. Jika mereka ini telah menikah, mereka juga punya tanggung jawab untuk ikut membayar böwö yang akan dibayar oleh Dodo. Akan tetapi, bantuan yang mereka berikan bersifat pinjaman. Ketika mereka membutuhkan, Dodo wajib mengembalikan böwö yang pernah diberikan oleh Fefu, Fofo dan Fufu.

(3)   Sepupu laki-laki. Misalnya, Dudu memiliki anak laki-laki sebut saja Rido, Rodo, dan Rudu. Jika mereka ini telah menikah, mereka juga ikut berkewajiban membayar böwö yang ditanggung Dodo. Bantuan yang mereka berikan bersifat pinjaman. Dari paparan ini, kita melihat perbedaan antara pemberian fadono dan talifusö. Pihak fadono memberi secara cuma-cuma, sedangkan pemberian talifusö mesti dikembalikan. Tidak heran jika ada adagium yang terkenal di Nias: fatalifusö ita, ba hiza lö fatalifusö gokhötada (kita bersaudara, tetapi harta kita tidak bersaudara).

Keempat, sihasara hada (warga satu adat). Salah satu semangat yang ditanamkan dalam organisasi adat adalah semangat saling menolong. Oleh karena itulah, sangat wajar jika warga satu adat saling menolong dalam menanggung böwö perkawinan. Persaudaraan di antara warga satu adat terbina dengan baik. Maka, pihak yang akan menikah (sangowalu) boleh meminta bantuan warga satu adat. Bahkan jika mereka tidak ada di rumah, sangowalu “boleh” mengambil babi peliharaan mereka yang ada di kandang. Istilah ini disebut mondra’u bawi. Bantuan yang diberikan warga satu adat mesti dikembalikan jika pihak pemberi membutuhkannya kembali.

Kelima, banua (warga kampung). Dalam adat perkawinan Öri Moro’ö, warga kampung mempelai laki-laki menunjukkan dirinya sebagai orang yang bermurah hati dengan membantu pihak yang akan menikah. Bantuan yang diberikan warga kampung disebut kosi mbanua (kongsi warga kampung). Bantuan ini tidaklah cuma-cuma tetapi mesti dikembalikan apabila pihak pemberi membutuhkannya sewaktu-waktu.

Dari deskripsi di atas, kita bisa melihat bahwa proses perkawinan Nias itu menarik. Menarik karena pihak penanggung böwö bukan hanya pengantin laki-laki. Ketika seorang laki-laki menikah, orang-orang sekitarnya akan membantunya. Akan tetapi, pada zaman sekarang, praktek tolong menolong dalam membayar böwö itu sudah mulai memudar. Mereka yang seharusnya menanggung böwö sudah mulai tidak menyadari kewajiban adatnya. Hal itu terjadi oleh karena institusi organisasi adat sudah mulai mengalami keterpecahan.[5]Akibatnya, organisasi adat kehilangan wibawa di mata warga sehingga banyak yang keluar dari institusi adat.

  1. Pihak Penerima Böwö Perkawinan

Bedasarkan tata aturan adat, perkawinan Nias bukan hanya urusan kedua mempelai atau keluarganya melainkan urusan warga kampung, warga adat, bahkan kerabat lainnya. Itu sebabnya, material böwö tidak hanya diterima oleh orangtua mempelai perempuan (ama ni’owalu). Material böwö dibagi-bagikan kepada banyak pihak. Pada zaman dahulu, jenis-jenis böwö yang diterima berbagai pihak itu memiliki nilai material berdasarkan kedudukan adat (bosi) dari ama ni’owalu. Sedangkan pada zaman sekarang, nilai material böwö cenderung tidak ditentukan oleh bosi tetapi oleh tingkat pendidikan sang gadis dan status sosial ayah. Namun, pada pokok pembahasan ini, penulis tidak memaparkan nilai material tersebut. Penulis hanya memaparkan sebutan jenis-jenis böwö itu; pada pembahasan berikutnya, penulis akan memaparkan nilai material böwö berdasarkan tingkatan bosi. Pihak penerima böwö dalam perkawinan Nias, yakni:

a.      So’ono (Pihak Mempelai Perempuan)[6]

Apabila diartikan secara harafiah, kata so’ono berarti yang melahirkan atau yang memperanakkan. Namun, berdasarkan hukum adat Öri Moro’ö (fondrakö si lima ina), yang disebut so’ono adalah keluarga inti dari mempelai perempuan. Pihak so’ono terdiri dari saudara mempelai perempuan (talifusö ni’owalu), orangtua (ama-ina ni’owalu), dan kakek-nenek (tua-awe). Jenis-jenis böwö yang diterima pihak so’ono, sebagai berikut:

Pertama, böwö untuk talifusö ni’owalu. Pihak yang disebut talifusö ni’owalu adalah saudara kandung dari mempelai perempuan (ni’owalu). Secara adat, sebutan böwö yang diterima saudara bungsu adalah siakhi ziwalu. Sedangkan böwö yang menjadi hak saudara sulung disebut sia’a ziwalu. Böwö sia’a ziwalu diberikan kepada saudara sulung ketika ia melihat apakah material böwö sudah mencukupi atau belum. Selain itu, saudara sulung mendapat böwö yang disebut böwö yang utama (sia’a mböli niha).

Saudara tengah mendapat bagian böwö yang disebut sitatalu ziwalu. Misalnya, Yulia memiliki 7 saudara laki-laki. Saudara nomor 2 s/d 6 disebut saudara tengah. Jika ketujuh saudara Yulia ini akan menikah, maka suami Yulia mesti ikut membayar böwö pernikahan mereka. Jadi, semakin banyak saudara laki-laki dari seorang perempuan, semakin besar pula tanggungan pihak yang memperistri sang perempuan itu. Sistem pemberian böwö semacam ini membuat perempuan yang memiliki banyak saudara laki-laki kadang tidak berani dinikahi oleh seorang laki-laki.

Semua saudara dari mempelai perempuan menerima tambahan böwö yang disebut diwo. Secara harafiah, kata diwo berarti lauk. Dalam sistem böwö, diwo tidak dimasukkan di dalam era-era mböwö yang dihitung ketika diadakan ritual perhitungan böwö (fanika era-era). Diwo hanyalah sebutan, sebab wujud materialnya adalah babi yang berukuran minimal 4 alisi.

Dalam sistem böwö zaman lampau, material böwö untuk saudara sulung (si’a ziwalu) dan saudara bungsu (siakhi ziwalu) lebih besar nilainya daripada bagian saudara tengah (sia’a ziwalu). Misalnya, sia’a ziwalu mendapat böwö sebesar 4×4 alisi dan siakhi ziwalu sebesar 3×4 alisi, sedangkan sitatalu ziwalu hanya mendapat 1×4 alisi. Pertimbangan pembedaan bagian böwö itu, yakni dalam struktur keluarga, anak sulung adalah pengganti posisi ayah (ono fangali mbörö sisi zatua). Saudara laki-laki sering disebut sebagai sangosisi fadono (pihak yang memelihara relasi dengan pihak yang menikahi saudarinya). Anak sulung adalah pribadi pertama yang berhak sebagai sangosisi fadono. Oleh karena itu, anak sulung memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan istimewa dalam keluarga. Kedudukan istimewa tentu mendapat perlakuan istimewa pula. Sedangkan saudara bungsu adalah anak yang paling terakhir “menikmati” harta orangtua. Seorang anak menikmati harta orangtua pada saat ia dinikahkan oleh orangtuanya. Anak bungsu juga adalah anak yang paling terakhir menerima tolo-tolo (bantuan) dari pihak fadono sehingga wajar jika diberikan bagian yang lebih besar daripada saudara tengah.[7]

Kedua, böwö untuk orangtua mempelai perempuan. Ibu mempelai perempuan mendapatkan böwö aya nina. Kata aya berarti hormat; nina dari kata dasar ina yang berarti ibu. Jadi, aya nina adalah böwö penghormatan yang diberikan kepada ibu mempelai perempuan (ina ni’owalu). Selain aya nina, ibu mempelai perempuan menerima tambahan böwö (bulu mböwö) yang disebut famokai danga. Arti famokai adalah pembuka; danga dari kata dasar tanga = tangan. Famokai danga berarti böwö yang diserahkan kepada ina ni’owalu agar ia merestui anaknya untuk dipersunting dan pindahkan ke rumah mempelai laki-laki.

Sedangkan ayah (ama ni’owalu) mendapat böwö yang disebut öba bulundru’u. Istilah öba berarti kebal. Istilah itu identik dengan abe’e = keras atau aro = kokoh-kuat. Sedangkan istilah bulundru’u berarti daun rumput; khususnya daun rumput yang dapat dijadikan ramuan kekebalan tubuh. Kata öba sebenarnya lebih cocok digunakan untuk seseorang yang memiliki ilmu hitam (elemu) pengebal tubuh.[8]Itu sebabnya, ada kalimat ”ata’u ita niha da’ö börö mo’öba ia, mo’elemu” (orang itu menakutkan karena dia memiliki ilmu pengebal tubuh). Dalam tradisi Nias kuno, öba bulundru’u merupakan böwö yang diberikan kepada ayah mempelai perempuan agar ia kebal dari segala ancaman musuh.[9]

Selain jenis-jenis böwö di atas, orangtua mempelai perempuan mendapatkan böwö sulö mböra. Istilah sulö = pengganti; mböra dari kata dasar böra = beras. Sulö mböra merupakan böwö yang diterima oleh orangtua ni’owalu sebagai biaya beras untuk jamuan makan pada pesta pernikahan (fakhe wangowalu). Tidak hanya itu, orangtua juga menerima böwö yang disebut sangawawuli ba mbanua. Kata sangawuli = yang kembali; ba mbanua = kepada warga kampung. Arti sangwuli ba mbanua adalah böwö yang sebagian digunakan ama ni’owalu untuk menjamu warga kampungnya; sebagian lagi digunakan ama ni’owalu untuk membeli perhiasan anaknya, seperti cincin emas, gelang emas, kalung emas dan tusuk konde emas.[10]

Pada waktu pertunangan, orangtua menerima böwö yang disebut köla. Pada zaman sekarang, istilah köla sudah jarang dipraktekkan, bahkan banyak warga Nias dan tokoh adat Nias yang sudah tidak mengenal istilah tersebut.[11]Apabila perempuan yang akan dipersunting pernah bertunangan dengan lelaki lain, maka laki-laki yang akan menikahi perempuan itu wajib memberikan böwö yang disebut fameta mbulu nohi safusi kepada orangtua mempelai perempuan. Arti harafiah sebutan fameta mbulu nohi safusi, yakni pelepasan daun kelapa putih. Böwö tersebut merupakan simbol untuk melepaskan ikatan pertunangan terdahulu.

Ada juga böwö yang menjadi hak orangtua yang disebut su’a mbawi. Istilah su’a berarti ukur(an); mbawi dari kata dasar bawi berarti babi. Su’a mbawi diberikan kepada pihak so’ono yang mengukur babi pernikahan. Pada zaman dahulu, seseorang yang mengukur takaran babi perkawinan akan mendapat tambahan (bulu) böwö yang disebut famalali dawi-dawi guri. Kata famalali = pemindahan; dawi-dawi dari kata tawi-tawi = gantungan; guri = botol. Selain itu, pihak orangtua juga mendapatkan böwö tambahan babi pernikahan (nönö mbawi wangowalu) yang disebut fanema fesu mbawi (penerimaan ikat babi pernikahan). Dalam tradisi Nias kuno, fanema fesu mbawi diserahkan pada saat ritual menghantar babi pernikahan ke rumah mempelai perempuan (fondröni bawi).

Dalam sistem böwö, orangtua menunjukkan dirinya sebagai orang yang bermurah hati. Oleh karena itu, ia mau membagikan böwö kepada warga kampungnya yang disebut töla naya mbanua. Istilah töla = inti; naya dari kata dasar aya = hormat; (m)banua = warga kampung. Sebutan töla naya mbanua berarti böwö yang diberikan kepada pihak orangtua untuk menghormati warga kampungnya.

Setelah ketua adat menyelesaikan pembicaraan adat, orangtua mendapatkan böwö yang disebut fanunu manu. Apabila diartikan secara harafiah, kata fanunu = pemanggangan/pembakaran; manu = ayam. Dalam tradisi Öri Moro’ö, böwö fanunu manu adalah böwö yang diberikan kepada pihak so’ono (orangtua) untuk digunakan dalam ritual fanika era-era. Ritual fanika era-era bukan hanya ritual untuk menghitung era-era mböwö (jenis-jenis böwö) yang ditanggung sangowalu (mempelai laki-laki), melainkan juga ritual di mana ketua adat menyampaikan pesan-pesan moral kepada sangowalu agar bersikap sopan-santun kepada keluarga dan warga kampung dari calon istrinya. Setelah para ketua adat melakukan pembicaraan adat (huo-huo hada) dan berhasil mencapai mufakat mengenai besaran böwö, maka para ketua adat melakukan ritual pemanggangan ayam (fanunu manu). Para ketua adat menyantap ayam panggang tersebut secara bersama-sama dicampur dengan tuak.[12]

Dalam tradisi kuno Öri Moro’ö, orangtua menerima tambahan böwö yang disebut sigu-sigu nomo. Böwö ini diserahkan kepada pihak so’ono untuk membersihkan rumahnya yang kotor karena dijadikan tempat pesta pernikahan. Böwö ini sudah jarang yang memberlakukannya di dalam sistem böwö perkawinan oleh karena semakin membebani pihak mempelai laki-laki.

Kita pernah mendengar pepatah Nias yang berbunyi: ”hönö mböwö no awai, hönö mböwö no tosai” (ribuan tanggungan böwö telah diserahkan, tetapi ribuan lagi masih ditangguhkan penyerahannya).[13]Pepatah tersebut mau menunjukkan bahwa mempelai laki-laki masih banyak tanggungannya kepada pihak istrinya. Dalam kaitan itu, pada zaman dahulu, mempelai laki-laki wajib memberikan böwö tambahan yang disebut fanaitagö mbalö gömö kepada orangtua calon istrinya. Secara harafiah, kata fanaitagö berarti penaruhan/pencantolan/peletakan. Namun, dalam hukum adat Öri Moro’ö, kata ini berarti penangguhan. Sedangkan kata mbalö berasal dari kata dasar balö yang berarti ujung awal; kata gömö berasal dari kata dasar ömö = utang. Jadi, arti fanaitagö mbalö gömö adalah penangguhan penyerahan böwö kepada pihak istri. Menurut informan Bazatulö Gulö, böwö yang ditangguhkan penyerahannya itu, akan diberikan oleh suami jika pihak istri membutuhkannya sewaktu-waktu. Makna penangguhan böwö adalah agar relasi suami dengan pihak istrinya tetap memiliki ikatan. Dengan demikian, böwö berfungsi sebagai pengikat relasi kekeluargaan antara mempelai pria dengan keluarga mempelai perempuan.

Jenis böwö tambahan lainnya yang mesti diberikan oleh mempelai laki-laki kepada orangtua calon istrinya adalah bawi wangowalu (babi pernikahan). Babi pernikahan terdiri dari 2 ekor. Seekor disembelih untuk dibagikan kepada pihak mempelai laki-laki yang disebut ö zangowalu (jamuan pihak mempelai laki-laki) dan kepada warga kampung mempelai perempuan (ö mbanua ni’owalu). Babi yang seekornya lagi disembelih untuk dibagikan kepada so’ono, paman (uwu) dan paman dari paman uwu (nga’ötö nuwu). Selain babi pernikahan ini, ada juga babi lain yang disembelih yang disebut bawi tarawatö (babi tuan rumah). Babi tarawatö merupakan lauk pauk pihak sangowalu. Kadangkala, sebagian babi tarawatö tersebut dibagikan kepada warga kampung ni’owalu dan kepada tamu pihak sangowalu. Pada zaman dahulu, babi pernikahan masih ada tambahannya minimal 2 x 4 alisi babi. Sebutan böwö itu adalah nönö mbawi ba zo’ono (tambahan babi untuk so’ono). Menurut informan Bazatulö, tambahan semacam ini menjadi peluang bagi pihak so’ono untuk memperbesar nilai material böwö yang justru membebani mempelai laki-laki.

Ayah dan Ibu mempelai perempuan berhak menerima böwö tambahan yang disebut diwo (lauk pauk) dalam wujud babi. Jika ayah mempelai perempuan berkedudukan adat tingkat ke-10 (bosi si-10), maka ia menerima böwö yang disebut famoloi manu. Secara harafiah, famoloi = pelepasan; manu = ayam. Ritual pelepasan ayam dilakukan sebagai tindakan simbolis pengesahan bahwa laki-laki dan perempuan sudah sah bertunangan.

Ketiga, böwö untuk kakek-nenek. Selain diwo, kakek berhak menerima böwö yang disebut aya dua. Kata aya = hormat; dua dari kata dasar tua = kakek. Dengan demikian, aya dua adalah böwö yang diberikan kepada kakek mempelai perempuan. Menurut tokoh adat Bazatulö Gulö dan Atulöwa Gulö, jika kakek sudah meninggal dunia, maka jenis böwö tersebut diberikan kepada nenek (aya gawe).

b.      Sirege (Saudara ayah mempelai perempuan)

Dalam struktur kekeluargaan, saudara ayah mempelai perempuan disebut sirege (yang terdekat). Pada acara ritual femanga gahe, pihak sirege ini menunjukkan dirinya sebagai pihak yang memiliki kemurahan hati manakala mereka membekali kedua mempelai dengan perkakas rumah tangga, anak babi, anak ayam, bibit tanaman, dan pakaian.

Berdasarkan sistem böwö, pihak sirege menerima beberapa böwö perkawinan, yakni: pertama, famatörö, yaitu böwö yang dibagi secara merata oleh para sirege. Kedua, öba sebua (pengebalan sirege). Ketiga, sanulo ana’a. Istilah sanulo = pencungkil/pengecek/pemeriksa/yang melihat; ana’a = emas. Sanulo ana’a merupakan böwö yang diberikan kepada salah satu sirege yang bertugas melihat emas pernikahan. Pada zaman dahulu, pihak sirege mesti mengecek emas pernikahan. Tujuannya adalah agar pihak sangowalu tidak memberikan emas yang bukan miliknya. Keempat, sanu’a bawi (sanu’a = pengukur; bawi = babi). Artinya, böwö ini diberikan kepada sirege yang bertugas mengukur babi pernikahan. Kelima, bulu sidua, yaitu böwö untuk menghormati pihak sirege. Kata bulu = daun; sidua = yang dua. Sebenarnya istilah bulu sidua adalah ana’a sidua (dua jenis emas), yaitu satu emas yang memiliki kadar 18 karat dan satu lagi berkadar 14/16 karat.[14]

Sebelum kita melangkah lebih jauh, ada tiga istilah yang perlu kita dalami, yakni sanu’a bawi, öba bulundru’u dan öba sebua. Ketiga istilah tersebut termasuk istilah kuno sehingga hampir tidak diketahui oleh masyarakat adat. Istilah sanu’a bawi (Moro’ö) sama dengan istilah famaigi bawi dalam tradisi masyarakat Desa Sihare’ö Siwahili Gunungsitoli. Dalam acara fanu’a bawi (pengukuran babi) atau famaigi bawi (melihat babi pernikahan), utusan pihak mempelai perempuan yang biasanya adalah sirege, bertugas mengecek keadaan babi pernikahan: apakah tambun atau kurus, apakah ekor dan telinga babi belum dipotong, bulunya tidak berwarna merah. Bagi masyarakat Nias, babi pernikahan tidak boleh berbulu merah. Sebab, babi berbulu merah biasanya digunakan untuk menyelesaikan perkara. Apabila ekor atau telinga babi dianggap cacat (telah dipotong atau dilubangi), maka pihak yang melakukan fanu’a bawi/famaigi bawi berhak menjatuhkan denda kepada pihak mempelai laki-laki. Oleh karena itu, babi pernikahan semakin bertambah ukurannya. [15]

Menurut Victor Zebua,[16]istilah öba bulundru’u dan öba sebua hanya terdapat di Moro’ö; tetapi tidak ditemukan di kawasan Laraga, Batu, dan Gomo. Kedua istilah tersebut muncul pada dua tahap awal perkawinan (lamaran) di Moro’ö, yaitu pada tahap famaigi niha (pertunangan) dan tahap famorudu nomo. Kata famorudu berarti penyatuan; sedangkan nomo berasal dari kata dasar omo = rumah. Jadi, famorudu nomo berarti saat pihak orangtua mempelai laki-laki dan pihak mempelai perempuan membicarakan jujuran perkawinan. Öba bulundru’u muncul pada kedua tahap itu, sedangkan öba sebua hanya terdapat pada tahap famorudu nomo. Dalam tafsiran dan analisis Victor, kedua istilah tersebut memiliki makna yang sangat dalam.

Menurut Victor, jika kita melihat konteks dari tahap adat perkawinan di mana kedua istilah tersebut muncul, maka kita dapat melihat bahwa keduanya disimbolkan sebagai perikatan atau gabungan (pertunangan) antara dua belah pihak. Maksud dari kata öba (kebal) tentulah sebuah kekebalan bagi perikatan itu. Öba bulundru’u menyimbolkan perikatan antara seorang pemuda dan seorang pemudi. Dengan adanya öba bulundru’u ini menandakan seorang pemuda telah mengikat seorang pemudi secara kebal atau kuat. Pada zaman sekarang (di kawasan lain) hal ini disimbolkan dengan cincin. Öba bulundru’u dalam tahap famaigi niha, dua keluarga belum memiliki ikatan. Namun, setelah öba bulundru’u yang kembali diberikan pada tahap famorudu nomo, pada saat itulah dimulai proses perikatan dua keluarga.

Sedangkan öba sebua menyimbolkan perikatan antara dua keluarga sang pemuda dan sang pemudi tersebut, dimana momentumnya terjadi saat famorudu nomo yang juga disebut femanga bawi ni sila hulu; dan sekalian membicarakan jujuran yang harus dilaksanakan. Dua keluarga yang telah bersekutu diharapkan membangun persekutuan yang kebal dan kuat meski ada keluarga ketiga yang ’coba-coba masuk’.”[17]

c.       Banua (Warga kampung mempelai perempuan)

Warga kampung disebut banua. Dalam acara fanika era-era, ketua kampung/ketua adat (satua mbanua/satua hada) wajib hadir. Ketua kampung/adat berpartisipasi aktif, selain memimpin ritual fanika era-era, ia juga ikut menentukan böwö yang akan ditanggung oleh pihak laki-laki. Böwö untuk warga kampung disebut sinema mbanua (penerimaan warga kampung).

Ketua adat yang memberkati mempelai berhak menerima böwö yang disebut howu-howu zatua (berkat ketua adat). Tidak hanya itu, ketua adat tersebut menerima böwö fanika era-era. Istilah böwö fanika era-era berarti böwö yang diberikan kepada ketua adat yang memimpin ritual fanika era-era. Ketua adat yang memimpin ritual fanika era-era mendapat tambahan böwö yang disebut fanika lae. Istilah fanika berarti perobekan; lae = tempat makanan dari daun pisang. Maksud fanika lae adalah sebagai simbol bahwa semua böwö sudah lunas. Istilah fanika lae ini ternyata tidak hanya terdapat di Öri Moro’ö, tetapi terdapat juga di Desa Sihare’ö Siwahili Gunungsitoli.[18] Pada zaman dahulu, wujud fanika lae  adalah perak (firö) atau emas (ana’a), akan tetapi pada zaman sekarang wujudnya adalah uang minimal Rp 100. 000 (seratus ribu rupiah). Fanika lae tersebut ditaruh di bawah piring wadah air yang dipakai untuk memberkati mempelai laki-laki.

Sementara warga kampung mempelai perempuan berhak menerima böwö yang disebut mbolo-mbolo. Kata mbolo-mbolo berarti yang disebar-sebarkan. Mbolo-mbolo tersebut dibagi-bagikan kepada warga adat. Berdasarkan sistem pemberian böwö, warga kampung mendapat tambahan babi pernikahan (nönö mbawi wangowalu), yakni (1) nönö mbawi wangowalu ba mbanua (tambahan babi pernikahan untuk warga kampung); (2) samahö bawi (böwö yang diserahkan kepada ketua adat yang menikam babi pernikahan).[19]

d.      Uwu (Paman Pengantin Perempuan)

Pihak yang disebut paman, yakni saudara laki-laki dari Ibu. Istilah uwu (sumber) dijadikan sebutan untuk paman (sibaya). Paman adalah sumber berkat bagi keponakan. Paman pengantin perempuan sering disebut sebagai yang empunya keponakannya (sokhö). Paman pengantin perempuan kadang menyebut keponakannya sebagai okhöta (harta). Sebutan uwu dan sokhö – okhöta hendak menunjukkan posisi (fetaro) keduanya di mana pihak paman lebih tinggi daripada pihak keponakan. Selain itu, pihak paman seringkali disebut sebagai ngöfi nidanö (tebing sungai) sedangkan pihak yang menikahi saudari paman adalah idanö (air sungai). Itu sebabnya ada pameo dalam bahasa Nias: ”Alaŵa ngöfi moroi ba nidanö” (lebih tinggi tebing sungai daripada air sungai). Pameo tersebut hendak mengatakan bahwa pihak yang menikahi seorang perempuan mesti taat dan tunduk serta sopan terhadap pihak keluarga dari istrinya.

Dalam sistem böwö, pihak uwu berhak menerima 3 jenis böwö, yaitu tawi naya nuwu, adu ba nuwu dan töla naya nuwu. Marilah kita memahami istilah-istilah itu satu persatu.  Kata tawi = gantungan, naya dari kata dasar aya = hormat, nuwu dari kata dasar uwu = paman. Istilah tawi naya nuwu berarti böwö penghormatan untuk menyambut kedatangan pihak uwu. Sebagai bentuk penghormatan, böwö tersebut seolah-olah dikalungkan di leher paman; sama seperti di zaman ini jika ada pemuka agama atau tokoh terhormat yang hadir di suatu pesta lalu disambut dengan mengalungkan karangan bunga di lehernya.

Istilah adu berarti patung. Masyarakat Nias kuno biasa membuat patung orangtua yang sudah meninggal untuk disembah. Patung orangtua atau leluhur disebut adu zatua. Patung tersebut ditaruh di dalam rumah, dan masyarakat Nias kuno meyakininya sebagai pelindung dan pemberi berkat terhadap seisi rumah itu.[20]Kata ba nuwu berarti kepada paman. Maka, adu ba nuwu adalah böwö yang diberikan kepada pihak paman untuk menghormati roh leluhur dari pihak paman. Sedangkan istilah töla naya nuwu dapat diartikan demikian, töla = inti/yang utama, naya dari kata aya = hormat, nuwu dari kata uwu = paman. Jadi, töla naya nuwu berarti böwö yang utama yang diberikan kepada paman. Orangtua mempelai perempuan wajib memberikan ömö ndraono (utang anak-anak) kepada pihak paman. Namun, ömö ndraono tersebut tidak menjadi tanggungan mempelai laki-laki. Selain 3 jenis böwö tersebut, uwu juga menerima tambahan babi pernikahan, minimal sebesar 1 balaki (2×4 alisi babi).      

e.       Nga’ötö Nuwu (Paman dari paman pengantin perempuan)

Pihak nga’ötö nuwu, yakni paman dari uwu. Pihak nga’ötö nuwu berhak menerima böwö yang disebut (1) lumö dawi naya nuwu, (2) lumö nadu ba nuwu, dan (3) lumö döla naya nuwu. Menarik untuk kita uraikan arti istilah-istilah tersebut. Kata lumö berarti bayangan. Dengan demikian, secara harafiah istilah lumö naya nuwu berarti bayangan hormat paman. Istilah bayangan merupakan bahasa halus untuk menyebut setengah (matonga). Oleh karena itu, nilai material lumö dawi naya nuwu hanya setengah dari tawi naya nuwu. Misalnya, jika pihak uwu menerima tawi naya nuwu sebesar 1, 5×4 alisi ( 6 alisi), maka pihak nga’ötö nuwu hanya menerima 3 alisi babi. Istilah lumö nadu ba nuwu berarti böwö yang diberikan kepada nga’ötö yang nilainya hanya setengah dari nilai material adu ba nuwu. Sedangkan lumö döla naya nuwu adalah bagian böwö yang nilainya hanya setengah dari nilai material töla naya nuwu. Dari paparan di atas, pihak nga’ötö nuwu berhak menerima böwö yang nilainya hanya setengah dari bagian böwö yang diterima oleh uwu.

Dalam kultur Nias, relasi kekeluargaan antara uwu, nga’ötö nuwu terus dibangun dan dipelihara. Mengapa terus dibangun dan dipelihara? Ada beberapa alasan. Pertama, masyarakat Nias meyakini bahwa pihak uwu dan nga’ötö nuwu adalah sumber dan pemberi berkat bagi pihak kedua mempelai. Kedua, masyarakat Nias juga menaruh harapan kepada uwu dan nga’ötö nuwu sebagai pihak yang menuntun anak-anak dari fadono.

f.       Siso ba huhuo (Juru runding)

Siso ba huhuo adalah juru runding atau penghubung antara pihak laki-laki dengan pihak mempelai perempuan dalam proses perkawinan. Siso ba huhuo biasanya adalah orang yang memiliki keahlian berbicara secara adat. Sebab, peran siso ba huhuo tersebut sangat menentukan tercapainya kesepakatan antara pihak keluarga mempelai laki-laki dengan keluarga mempelai perempuan. Tradisi siso ba huhuo (go-between) tidak hanya tradisi Öri Moro’ö tetapi terdapat juga di dalam tradisi Nias Selatan.[21]

Seseorang yang menjadi siso ba huhuo bisa berasal dari pihak mempelai laki-laki ataupun dari pihak mempelai perempuan. Atas jasanya, siso ba huhuo menerima böwö yang disebut balö ndela. Istilah balö = ujung, ndela dari kata dela = titian. Jadi, balö ndela adalah böwö penghubung antara keluarga perempuan dengan keluarga laki-laki. Balö ndela menjadi hak siso ba huhuo jika dialah yang pertama mengungkapkan niat pihak laki-laki kepada keluarga perempuan (samatu’a li).

Jika siso ba huhuo ini tetap menjadi perantara hingga pelaksanaan pesta perkawinan, maka siso ba huhuo menerima böwö yang disebut fali-fali mbalö halöwö (penyelesaian pekerjaan). Menurut Tageli, nilai material balö ndela minimal 4 alisi babi; sedangkan fali-fali mbalö halöwö sebesar 2×4 alisi babi.

 

g.      Solu’i (Penghantar mempelai perempuan)

Pihak yang bertugas menghantar mempelai perempuan ke rumah mempelai laki-laki dengan cara menandunya disebut solu’i atau samahea. Secara harafiah, solu’i berarti penggendong; sedangkan samahea berarti penggotong. Di Öri Moro’ö, seusai pesta perkawinan di rumah mempelai perempuan (fangowalu) lalu diadakan ritual menghantar mempelai perempuan ke rumah mempelai laki-laki yang disebut famasao. Laki-laki berjumlah minimal 4 orang akan menggotong mempelai perempuan dengan tandu untuk dihantar ke rumah mempelai laki-laki. Pihak solu’i adalah laki-laki dari kerabat mempelai perempuan.

Para solu’i berhak menerima böwö yang disebut howu-howu zolu’i (berkat dari penggendong) dan tefe-tefe nidanö (percikan air). Nilai material howu-howu zolu’i biasanya sebesar 4 alisi atau bisa juga hanya 2 alisi. Sedangkan tefe-tefe nidanö sebesar 4 tu’e babi. Para solu’i tersebut akan dijamu secara istimewa oleh pihak sangowalu dengan menyembelih anak babi sebagai lauk mereka saat jamuan makan; ini disebut diwo zolu’i (lauk pauk penggendonng) yang ukurannya minimal sebesar 4 tu’e babi.

Uraian jenis-jenis böwö di atas semakin membuktikan bahwa perkawinan Öri Moro’ö-Nias Barat, merupakan urusan banyak pihak seperti so’ono, sirege, banua dan pihak-pihak lain yang terlibat di dalam proses hingga pelaksanaan pesta perkawinan. Dengan demikian, perkawinan Öri Moro’ö lebih bersifat komunal (kolektif) daripada personal.


[1] Hasil wawancara dengan Bazatulö Gulö, 8 Maret 2011; Tageli Gulö, 10 Maret 2011.

[2] Dirangkum dari hasil wawancara dengan Ibu Somasi Gulö, 8 Maret 2011.

[3] Hasil wawancara dengan Ama Nefo Gulö, 11 Maret 2011.

[4] Hasil wawancara dengan Bazatulö Gulö, 8 Maret 2011.

[5] Hasil wawancara dengan Tageli Gulö dan Ama Salina Gulö, 10 Maret 2011.

[6] Rangkuman hasil wawancara dengan  tokoh adat Balugu Samolo’o Atulöwa Gulö, 15 Maret 2011.

[7] Berdasarkan penuturan Ama Arena Gulö, 9 Maret 2011.

[8] Hasil wawancara dengan Simon Waruwu, 28 Maret 2011; agar pengertian istilah öba lebih akurat, penulis kembali mewawancarai Bapak Simon pada tanggal  27  September 2011.

[9] Analisis penulis ini didukung oleh Tageli Gulö, 9 Maret 2011.

[10] Hasil wawancara dengan Bazatulö Gulö, 8 Maret 2011.

[11] Penulis mendapatkan informasi ini dari Ina Nefo Gulö, 11 Maret 2011.

[12] Hasil wawancara dengan Tageli Gulö, 9 Maret 2011; Saramböwö Gulö, 10 Maret 2011.

[13] Bdk. Bamböwö Laiya, Bamböwö Laiya, Solidaritas Kekeluargaan dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias – Indonesia (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1983), hlm. 46.

[14] Hasil wawancara dengan Ama Seru Waruwu (9 Maret 2011); Yobedi Zai (14 Maret 2011); Simon Waruwu (27 September 2011); dan Tageli Gulö (27 Maret 2011).

[15] Hasil wawancara dengan informan Bazatulö Gulö (9 Maret 2011), Tageli Gulö (10 Maret + 30 September 2011). Lihat juga Rosthiana R. Sirait Laoli, dkk., Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Nias (Medan: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara, 1985)hlm. 56.

[16] Victor Zebua adalah penulis buku Ho Jendela Nias Kuno dan Jejak Cerita Rakyat Nias. Penulis berdiskusi dengan beliau mengenai makna istilah öba bulundru’u dan öba sebua pada tanggal 26 dan 30 September 2011 melalui surat elektronik (email).

[17] Hasil diskusi dengan Victor Zebua melalui email, 30 September 2011.

[18] Lihat Rosthiana R. Sirait Laoli, dkk., Op.Cit., hlm. 107.

[19] Hasil wawancara dengan Aroni Gulö (11 Maret 2011); dan Yobedi Zai (14 Maret 2011).

[20] Hasil wawancara dengan Bazatulö Gulö, 9 Maret 2011. Bdk. Rosthiana R. Sirait Laoli, dkk., Op.Cit., hlm. 25.

[21] Lihat Bamböwö Laiya, Op.Cit., hlm. 42-43.

2 Tanggapan to “Pihak Pemberi dan Penerima Böwö Perkawinan Menurut Adat Öri Moro’ö”

  1. APULS said

    Pro gratia “Niha” land !
    Maju terus pak Postinus Gulö; kobarkan terus semangat transformasi, dan kami bertrimakasih untuk itu.
    Ya’ahowu !

  2. YA’AHOWU BANUAGU NIOMASIEGU.

    Salam Super Untuk Generasi Nias !!!

    saya tertarik dengatn topik yang telah tertuliskan tentang Keberadaan Adat atau Jujuran Nias, memang sampai sekarang masalah jujuran di Nias masih dipermasalah kan khususnya bagi generasi muda. hal yang terutama dan utama adalah ada adat yang harus kita tinggalkan dan ada adat yang tidak dilunturkan, dimana dalam adat yang harus kita tinggalkan adalah masalah ADAT tentang JUJURan, menurut saya ada beberapa hal positif dan negatif terhadap jujuran di NIAS

    dalam segi Positifnya adalah :

    1. mencari status di mata masyarakat
    2. biaya anak jika udah sekolah, orang tua wajib meminta jujuran yang besar
    3. keluarga terpandang dengan jujuran yang besar
    4. membuat pesta yang meriah
    5. Dll

    Kemudian dari Segi Negatifnya :

    1. perempuan bisa bunuh diri karna masalah jujuran yang diminta sama cowok
    2. kawin lari karna jujuran besar akhirnya orang tua tidak merestui
    3. sitres
    4. ekonomi tidak terpenuhi akhirnya mencuri asalkan terpenuhi kebutuhan hidup
    5.dimata orang khususnya di luar nias, mereka berpikir seakan- akan perempuan nias itu dijual atau dengan kata lain
    diperdagangkan karena adanya tawa-menawar dalam arti sepakat, karena keluarga cewek memperhitungkan pengeluarannya
    kepada anaknya dan meminta untuk kembali.

    kemudian ADAT YANG TIDAK PERLU DIHILANGKAN ADALAH :

    1. Seni/Tariak Nias : kalau kita lihat sekarang, seni atau tariak ( MAENA ) lambat laut dilunturkan oleh masyakakat kita karena
    adanya perkembangan IPTERK dan kurangnya perhatian yang jelas dari pihak pemerintah dan ketua adat, sebenarnya itulah
    hasil keringat dan perjuangan Nenek Moyang kita dulu,namun sekarang dengan mudahnya kita tidak bisa menghargai
    keringat itu !
    2.budaya nias dengan adanya revolusi dan dengan keluar masuknya orang asing atau budaya lain, memberikan dampak ,
    dimana ketika orang tersebut tidak bisa menyesuikan diri masyarakat tersebut, kemudaian pendatang tersebut membawa
    kebiasaannya dari tempat asalnya sehingga masyarakat kita terpengaruh ( contohnya Bule datang ke nias dengan pakaian
    seks yang sebenarnya tidak diterima oleh masyarakat nias ).

    3. muda-mudi Nias khususnya yang kuiah diluar daerah nias, balik kekampung halaman dengan sistim pakaian yang tidak jelas.

    itulah hal – hal yang perlu kita perhatikan bagaimana kedepannya NIAS bisa menjaga keberadaan Nias yang seutuhnya serta nilai2 yang terkandung dalam adat nias, saya harap saran ini bisa bapak dan ibu memahaminya lebih dalam. demikian yang perlua saya sampaiakaikan, akhirkata YA’AHOWU

    Salam Super.

    Solala Halawa
    ——————

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: