BERBAGI INSPIRASI

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..


    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 116,742 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Juni 2013
    S S R K J S M
    « Okt   Jul »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930

OMK Paroki Salib Suci Nias Barat Dipanggil Selalu Setia Pada Imannya

Posted by postinus pada Juni 30, 2013


“Seluruh kisah hidupku kuingat kembali. Kesediahan yang mendera karena ditinggal kedua orangtua saat masih kecil, tak membuatku minder dan takut. Kuyakin Tuhan selalu bersamaku. Dalam acara inilah semakin kuyakini itu.”Demikian kata salah seorang peserta, Fenny Zebua menuturkan kesannya seusai Temu Akbar Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Salib Suci Nias Barat.

Temu Akbar ini diadakan di Aula Paroki Salib Suci Nias Barat (27-30/6/2013), dengan tema “Tabohouni Wa’aurida” (Baharuilah Hidupmu). Temu Akbar ini diisi dengan pendalaman iman yang bernuansa karismatik Katolik. Narasumber didatangkan dari Seksi Kepemudaan Badan Pelayanan Keuskupan Pembaharuan Karismatik Katolik (BPK PKK) Keuskupan Bandung sebanyak 11 orang yang diketuai Johanes Widiadi. Kegiatan ini diprakarsai Pst. Postinus Gulö OSC sebagai moderator OMK Paroki Salib Suci Nias Barat dan Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Sibolga.

DSC09522

Peserta Temu Akbar OMK dari Rayon 3 yang sebagian besar dari Mandrehe Utara (Mandrehe, 30/6/2013)

Dalam salah satu sesi, Johanes Widiadi menegaskan bahwa OMK mesti meyakini bahwa ekaristi adalah puncak dan sumber hidup umat Katolik. OMK juga semestinya selalu membaca dan menghidupi Firman Allah sehingga menjadi penguat OMK dalam melayani sesama. Buah dari iman adalah kerelaan melayani. Iman mesti tampak dalam perbuatan (Yakobus 2: 14-26).

Menurut ketua panitia Nelis Kristianto Hia, tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mengajak OMK semakin memperdalam dan memperkuat fondasi imannya. Tidak hanya itu, OMK dipanggil untuk terus-menerus membaharui diri. Dengan demikian, Roh Kudus sungguh berkarya nyata dalam diri OMK Paroki Nias Barat. Menurut Nelis, peserta Temu Akbar ini berjumlah 350 orang yang berasal dari 66 stasi gereja se-Paroki Salib Suci Nias Barat.

DSC09546 - Copy

Peserta OMK Paroki Salib Suci Nias Barat larut dalam kebersamaan

Ada banyak yang terkesan dengan acara ini. “Metode Temu Akbar semacam ini cocok untuk OMK. Ada banyak animasi melalui puji-pujian yang membuat kami semakin berefleksi.”Demikian kata Munieli Gulö S.Pd, salah seorang peserta dan sekaligus panitia. Lihati Hia menambahkan, “metode pendampingan dari BPK PKK Keuskupan Bandung ini semakin membuat kami mengalami sakramen-sakramen Katolik. Hal itu tampak bahwa dalam acara ini, kami diberi kesempatan untuk mengaku dosa, merayakan ekaristi setiap hari. Selain itu kami mengikuti adorasi dan juga ibadat Taize. Kami sungguh diajak masuk ke dalam kekudusan.”Temu Akbar OMK kali ini menarik perhatian peserta karena diselingi dengan acara kreasi budaya Nias. Tarian kolosal Nias yang sering disebut Maena ditampilkan. Para narasumber dari Bandung pun ikut menari bersama para peserta.

DSC09657

Acara malam kreasi budaya Nias

Dalam acara pembukaan, Bupati Nias Barat Adrianus Aroziduhu Gulö, SH., MH, mengharapkan agar melalui Temu Akbar ini, OMK Paroki Nias Barat semakin setia pada imannya. “Pada zaman dahulu tidak pernah kami alami kegiatan semacam ini. Sekarang OMK sungguh didampingi oleh gereja. Iman OMK zaman ini mestinya lebih kuat. Saya harapkan, Anda semua mesti berprinsip: sekali Katolik tetap Katolik.”Demikian kata Bupati yang adalah mantan katekis Paroki Nias Barat.

Temu Akbar OMK ini dibuka secara resmi oleh Pastor Paroki Nias Barat Pastor Matias Kuppens OSC, didampingi para pastor yang berkarya di Nias Barat Pastor Andreas Dadang OSC, Pastor Agustinus Sugiharto OSC. Dalam arahan dan bimbingannya, Pastor Matias meminta agar OMK Nias Barat tetap menjadikan Yesus sebagai teman hidupnya. (Pst. Postinus Gulö OSC).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: