BERBAGI INSPIRASI

  • Hargailah Hak Cipta Orang Lain!

    Para pembaca terhormat, Anda boleh mengutip tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini. Akan tetapi, marilah menghargai hak cipta saya sebagai penulis artikel. Saya cari-cari melalui mesin pencarian google, ternyata sudah banyak para pembaca yang memindahkan tulisan-tulisan dalam blog ini, atau tulisan-tulisan yang saya publikasikan di situs lainnya dikutip begitu saja tanpa meminta izin dan tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel. Semoga melalui pemberitahuan ini tindakan pengutipan artikel yang tidak sesuai aturan akademis, tidak lagi diulangi. Terima kasih. Ya'ahowu!
  • ..


    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    widget

  • Image

  • Blog Stats

    • 114,940 hits
  • Janganlah……………

    Penginjil Lukas berusaha mewartakan Yesus yang memperhatikan orang-orang lemah dan berdosa. Dalam perikop Lukas 18: 9-14 jelas tampak ciri khas pewartaan Lukas itu. Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Tetapi mereka suka merendahkan orang lain. Terutama pendosa. Kaum Farisi cenderung mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Mereka suka menyombongkan diri. Orang Farisi suka mempermalukan orang berdosa. Merasa diri lebih baik dan lebih benar. Kerendahan hati tiada dalam hati mereka. Celakanya, ketika berdoa di hadapan Allah yang tahu apapun yang kita perbuat, orang Farisi justru bukan berdoa tetapi membeberkan bahwa ia tidak seperti pemungut cukai, pendosa itu. Orang Farisi bukan membawa orang berdosa kembali pada Allah. Bayangkan saja. Pemungut cukai itu tenggelam dalam dosanya. Mestinya,orang Farisi mendoakan dia agar ia kembali kepada Allah. Agar ia bertobat. Rupanya ini tidak muncul. Orang Farisi berlaga sebagai hakim, yang suka memvonis orang lain. Sikap kaum Farisi ini, tidak dibenarkan oleh Yesus.

    Sebaliknya Yesus membenarkan sikap pemungut cukai. Pemungut cukai dalam doanya menunjukkan dirinya tidak pantas di hadapan Allah. Pemungut cukai sadar bahwa banyak kesalahannya. Pemungut cukai mau bertobat, kembali ke jalan benar. Ia tidak cenderung melihat kelemahan orang lain. Ia tidak memposisikan diri sebagai hakim atas orang lain. Ia sungguh menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Pemungut cukai memiliki kerendahan hati. Ia orang berdosa yang bertobat!

    Karakter Farisi dan pemungut cukai ini bisa jadi gambaran sifar-sifat kita sebagai manusia. Kita kadang menggosipkan orang lain. Suka membicarakan kelemahan orang lain. Tetapi kita tidak berusaha agar orang lain kembali ke jalan benar. Kita bahagia melihat orang lain berdosa. Kita membiarkan orang lain berdosa. Kita bangga tidak seperti orang lain yang suka melakukan dosa. Kita sering meremehkan orang-orang yang kita anggap pendosa tanpa berusaha mendoakan mereka. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah membawa orang lain kembali pada Allah.

    Marilah kita belajar dari pemungut cukai. Ia sadar sebagai pendosa. Dalam doanya, pemungut cukai meminta belaskasihan dan bukan mengadukan orang lain kepada Allah. Pemungut cukai itu telah menemukan jalan pertobatan. Teman-teman, marilah hadir di hadapan Allah dengan rendah hati. Jangan cenderung melihat kelemahan orang lain. Jika Anda ingin orang lain benar dan menjadi lebih baik, doakanlah mereka agar Allah menuntunya ke jalan pertobatan. ***

  • Orang lain adalah neraka?

    "Orang lain adalah neraka" adalah ungkapan pesimisme Sartre, seorang filsuf eksistensialisme yang mencoba menggugat realitas. Tapi, setuju atau tidak, saya mengira jangan-jangan kita yang justru menjadi neraka bagi orang lain. Fenomena dewasa ini cukup melukiskan bahwa manusia telah menjadi penjara, ancaman, bahkan neraka bagi orang lain. Dengarlah radio pasti setiap hari ada yang terbunuh di moncong senjata, belum lagi yang dibunuh melalui aborsi. Coba Anda bayangkan, berapa ribu orang dalam sekejab menjadi mayat. Lantas, kita bertanya, mengapa terjadi semuanya itu. Apa sih yang dimaui manusia itu?
  • Memaafkan…

    Gimana jika seseorang tidak sadar bahwa ia berbuat salah, sering nyakitin kita? Apakah kita tetap menuntut dia untuk minta maaf? Atau gimana caranya agar terjadi rekonsiliasi? Kayaknya susah memang jika demikian kondisinya. Tapi, seorang teolog, Robert Schreiter mengusulkan: seharusnya kita jangan menunggu pihak yang bersalah meminta maaf. Dan, tidak perlu kita menuntut orang lain minta maaf kalau ia tidak mau minta maaf. Mulailah memaafkan yang lain. Hai, korban, mulailah memaafkan yang lain. Imbuhnya. Saya rasa nasehat beliau ini sangat bijak. Nasehat beliau adalah ungkapan spiritual yang paling dalam. Selama ini, yang terjadi adalah kita sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita. Maka, masalah semakin keruh, situasi semakin mengganas, dan ujung-ujungnya kita "memakan" orang lain. Tidak susah memaafkan jika kita rendah hati. Anda setuju? Manakala Anda mengingat orang yang menyakiti Anda, saat itu Anda dipanggil untuk memaafkannya. Maka, semakin sering Anda mengingat orang yang Anda benci, sesering itu pulalah Anda dipanggil untuk memaafkan.

  • Arsip

  • Kategori Tulisan

  • Sahabat Anda Postinus Gulö

  • Halaman

  • Kalender

    Januari 2014
    S S R K J S M
    « Des   Mar »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  

Datanglah Ya Raja Damai, Aku Berjuang Setia MengabdiMu

Posted by postinus pada Januari 27, 2014


20151027_094628

Oleh Pastor Postinus Gulö, OSC

Berbagai renungan telah terangkai merefleksikan Natal. Ribuan buku telah terbit. Lagu pujian telah ribuan judul. Semua itu untuk menyingkapkan dan memahami misteri agung kelahiran Yesus. Kisah-kisah sederhana pun ditulis untuk menangkap misteri kelahiran Yesus itu. Kisah dan renungan berikut salah satu di antaranya.

Ama Bonus, seorang pemimpin jujur-tulus, dan anti korupsi. Suatu ketika Ama Bonus mengadakan Lomba Memacu Kuda. Ama Bonus memanggil semua bawahannya dan menyampaikan rencananya. Ama Bonus lalu mulai berbicara: Bapak/Ibu dan hadirin semua, di samping kanan panggung ini ada 10 ekor kuda yang tangguh memberi peluang bagi Anda untuk berlari pergi jauh. Siapa di antara kalian yang mau berlomba memacu kuda? Sontak banyak yang berdiri tanda bersedia.

 

Kemudian Ama Bonus menyampaikan pesannya: terima kasih, saya pilih 10 orang dari sekian banyak orang. Sekarang, saya mau bertanya kepada Anda yang 10 orang ini: apakah Anda setia kepada saya? Kalau tidak bersedia setia, saya bisa mengganti`Anda dengan orang lain. Apakah Anda ingin berjuang bersama saya membangun kampung kita ini? Apakah Anda mau berjuang bersama saya untuk memberi yang terbaik pada rakyat? Apakah Anda tidak mementingkan diri sendiri, harta dan kedudukan manakala Anda melayani rakyat? Semua berteriak: kami setia, saya berjuang?

Baiklah, kata Ama Bonus, silahkan berlomba memacu kuda ini, dan ingatlah sejauh kuda berlari, seluas dan selebar itulah tanahmu. Ama Bonus menghitung: satu, dua, tiga…..semua memacu kuda! Dan berlari sekencang-kencangnya.

Ama Bonus menunggu dengan cemas. Beberapa hari kemudian, ternyata dari 10 orang hanya 3 orang yang ingat kembali menemui Ama Bonus. Tiga orang itu tetap mengingat “janji”, sumpahnya, punya integritas, konsisten. Yang lain, terus memacu kuda, menjauh dari Ama Bonus. Mereka lupa telah berjanji. Tak konsisten pada janji yang telah diucapkan. Tujuh orang pemacu kuda, bablas, tak kembali. Tampak aslinya mereka, tampak apa yang mereka kejar: keinginan (fakhöguta), mereka lupa setia dan bersyukur kepada yang memberi “berkat”/hadiah. Mereka cenderung egois memiliki dunia ini (nolalögu danö), hilang kendali (lost control) karena sudah cenderung mementingkan keinginan, kehausan akan harta (tanah).

Ketujuh orang itu, bukan pribadi yang punya pengabdian, tak punya integritas, tetapi mereka pengejar kekuasaan. Ketujuh orang itu sedang mengidap penyakit sebagaimana ada dalam pandangan Sigmund Freud: manusia ada yang tidak pernah merasa puas, dia buru kesenangan, harta dan kekayaan. Tapi justru orang yang tak pernah puas itu, secara psikologis mengidap penyakit kronis: keserakahan dan ketamakan (fakhöguta ba fa’olua’a-lu’a), yang menurut Ketua KPK Abraham Samad merupakan penyebab utama korupsi di Indonesia.

Lord Acton, guru besar sejarah modern di Universitas Cambridge, Inggris, yang hidup di abad ke 19 pernah melontarkan adagium yang terkenal: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely” (kekuasaan itu cenderung korup, dan kekuasaan yang absolut cenderung korup secara absolut). Semua kita perlu mewaspadai itu. “Jabatan” (eksekutif, legislatif, yudikatif) ibarat kuda yang memampukan penunggangnya terbawa lari. Jabatan itupun bisa saja membuat orangnya lupa diri, terlena, tergiur untuk memuaskan keinginan manusiawinya. Bagi mereka yang korup dan hedonis, tak peduli setia atau tidak, yang penting: dia bisa berlari…bisa mengejar harta duniawi itu. Dan itu menyenangkan, bukan?

Tolak “Herodes” Masa Kini

Pada akhir tahun 2013, PGI dan KWI mengeluarkan Pesan Natal Bersama yang diberi tema “Datanglah Ya Raja Damai (Yes 9: 5); ini juga tema Natal Kabupaten Nias Barat tahun 2013. Dalam pesan Natal itu, PGI-KWI menyatakan bahwa umat Kristiani merayakan Natal dalam situasi Indonesia yang sangat memprihatinkan.

Hal-hal yang disorot PGI-KWI, antara lain: perilaku korupsi para pejabat dan pemangku kepentingan. PGI-KWI menegaskan bahwa integritas moral para pemimpin bangsa ini kian hari kian merosot. Disiplin, kinerja, komitmen dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat digerus oleh kepentingan politik kekuasaan. Kita merayakan Natal dalam situasi seperti sikap 7 pemacu kuda dalam kisah di atas tadi: kecencerungan tidak setia, tak punya integritas, tak punya komitmen, tak konsisten. Yesus sebagai Raja Damai dikhianati oleh manusia.

Dalam Matius 2: 1-12 dikisahkan bahwa ada salah satu tokoh antagonis dalam kisah kelahiran Yesus, yakni Raja Herodes. Dia pemburu kekuasaan, memuaskan keinginan. Itu sebabnya, kisah kelahiran Yesus, campur-aduk antara kegembiraan (karena kelahiran Raja Damai) tetapi sekaligus penuh perjuangan, penuh was-was (karena Herodes menebar kebencian). Saya bayangkan, ketika Yesus lahir, Yosef-Maria jauh dari suasana kelap-kelip lampu dan hiasan seperti sekarang. Peristiwa Natal yang dialami Maria-Yosef dalam kesederhanaan.

Kita mesti sadari bahwa sikap Herodes itu merusak inisiatif Allah mendamaikan manusia denganNya. Walau manusia yang salah, manusia ingin memuaskan keinginannya, manusia menjauh dari Allah, tetapi Allah “mendatangi” manusia untuk berdamai: Dia lahir sebagai manusia. Dalam diri Yesus yang lahir di kandang itu, mewujud Allah sebagai Raja Damai. Peristiwa Natal merupakan peristiwa di mana Yesus mendatangi manusia sebagai milikNya (Yoh 1: 10-11). Tetapi apa reaksi manusia, orang sekitar? Orang sekitar tak memberi tempat, Yosef dan Maria pun memilih “kandang” sebagai tempat kelahiran Yesus, sang Raja Damai, sumber hidup kekal itu.

Tidak hanya itu, Raja Herodes yang mengabdi pada keinginannya, berusaha membunuh Yesus. Herodes tak menghendaki siapapun yang mengggantikan dia. Herodes merasa “terancam” atas kehadiran sosok baru: Yesus. Herodes persis seperti pendapat Thomas Hobbes: manusia serigala bagi yang lain (homo homini lupus); atau pendapat Sartre: manusia adalah ancaman bagi sesamanya. Tidak heran, Herodes melakukan segala cara untuk menghalalkan keinginannya. Herodes penuh ketamakan, keserakahan dan iri hati. Herodes tidak menyambut kelahiran Yesus dengan iman, tetapi dengan kebencian.

 

Tragis, karena tidak berhasil menghabisi nyawa Yesus, lalu Herodes membunuh anak laki-laki umur 2 tahun ke bawah (Matius 2:16), Herodes membasmi keturunannya sendiri; menghancurkan “bangsanya sendiri”. Bapak/Ibu/Sdr/i waspadalah, sosok Herodes itu masih ada hingga kini.

 

Ada banyak pejabat, politisi, oknum dewan yang “menghancurkan” daerahnya sendiri dengan perilaku korupsi. Ada banyak oknum dewan yang “menghendaki” proyek pembangunan cenderung dijadikan proyek bagi-bagi kue. Masuk akal jika hingga 2013 sudah banyak politisi, pejabat publik terjerat korupsi, 311 kepala daerah, ratusan anggota dewan, pihak swasta rekanan bisnis. Mereka berjuang demi keinginan, tahta, harta dan wanita.

Pada kesempatan Natal Kabupaten Nias Barat ini, marilah melihat Nias Barat lebih dalam; satu persatu perhatikan para penyelenggara daerah otonomi baru Nias Barat, terutama pejabat Pemkab dan Bapak-Ibu Dewan terhormat. Di Nias Barat, sudah mulai ada pejabat, oknum PNS dan pihak swasta yang dijebloskan ke penjara karena kasus korupsi pembangunan Kantor Bappeda tahun 2010. Sudah beberapa kali terjadi konflik di antara oknum anggota dewan dan oknum eksekutif, terutama dalam kurun waktu 2012-2013. Marilah kita renungkan. Apakah konflik antar-oknum dari legislatif-eksekutif, di Nias Barat itu tidak didasari oleh keinginan memburu kekuasaan, tidak karena sifat Herodian, tidak untuk memuaskan keinginan pribadi, tidak karena memburu proyek dan uang, tidak didasari karena kebencian? Hanyalah Bapak/Ibu Dewan yang terhormat dan pihak pemkab Nias Barat yang mampu menjawab ini. Silahkan renungkanlah itu. Jika mereka sungguh setia sebagai pengabdi, maka bukanlah konflik yang dipertontonkan, melainkan kesetiaan bekerja untuk rakyat yang dilayani. Jika Anda orang yang tetap membawa Yesus dalam hidupmu, maka engkau berjuang menjauhkan keinginan duniawi itu.

Marilah bertanya apakah tidak terjadi di Nias Barat bahwa “proyek fasilitas jalan cenderung bukan proyek pembangunan, tapi proyek pembagian kue, bagi-bagi jatah? Apakah rapat paripurna pengesahan APBD, bukan saat bagi-bagi kue itu? Karena pada kenyataanya, pembangunan ruas jalan dibagi-bagi hanya beberapa ratus meter; ini “dimainkan” oleh oknum dewan. Sedihnya, pembagian kue proyek itu, atas nama aspirasi rakyat. Sangat benar: power tends to corrupts! Kita mesti berani menolak sikap Herodes semacam itu di Nias Barat!

Sikap Herodes lainnya, mewujud dalam diri beberapa orang yang bersorak-sorai jika orang lain “celaka” dan tak berhasil menyerap APBD; ingin tertawa menyaksikan kehancuran dirinya sendiri, seperti Herodes yang membunuh keturunannya sendiri. Ketika ada konflik, ada beberapa orang yang tak memilih menjadi mediator, penengah, tapi malah memilih menjadi wasit sambil bertepuk tangan. Berlaku seperti “Sanunu nowi ba gawöni, felezara zamaböli ba felendrua zanöri-nöri.”

Kecenderungan itu, tidak hanya terjadi secara diam-diam, tapi terungkap secara terbuka di media sosial facebook, dunia internet. Lihatlah komentar, reaksi ketika Menteri Dalam Negeri mengeluarkan hasil 68 poin nilai DOB Nias Barat pada tahun 2012 yang baru dikeluarkan Mei 2013. Banyak yang bersorak-sorai, bukan menghimpun tenaga untuk memberi solusi! Melihat perilaku oknum penyelenggara Nias Barat, kita menjadi mengelus dada. Perilaku tidak setia dalam pengabdian masih terpelihara. Penyelenggara negara itu, tidak hanya Pemkab tapi juga Bapak/Ibu DPRD Nias Barat.

Saya hadir dalam rapat Musyawarah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (Musrenbang RPJPD) Kabupaten Nias Barat (17 s/d 18/9/2013) yang dilaksanakan di Gereja BNKP Simeasi. Sangat mengherankan karena pada paruh hari pertama Musrebang RPJPD yang hanya dilakukan sekali dalam 20 tahun itu, justru banyak SKPD yang sudah meninggalkan ruang rapat; bahkan tidak menghadirinya. Kemalasan oknum SKPD Nias Barat mengikuti dengan seksama rapat Musrenbang RPJP menunjukkan bahwa oknum SKPD itu belum punya komitmen untuk setia mengabdi.

Situasi kini masih tidak jauh dari situasi “kandang” yang kotor itu. Dunia kita masih dipenuhi sikap Herodes, dan sikap orang-orang sekitar Yesus zaman dulu. Dalam situasi itulah kita merayakan Natal, peristiwa Yesus lahir di dunia. Kalau kita manusia penuh iman, pribadi yang merayakan Natal sejati, kita bukan sekadar menyambut Raja Damai dengan rekreatif romantis, kegiatan formalitas, kelap-kelip lampu, ibadat penuh pesona itu, tapi merayakan iman kita akan Yesus dengan membangun komitmen kesetian.

Iman bukan sekadar dapat dipahami secara intelektual, bukan pula dijelaskan secara verbal, kata-kata, tapi iman mesti tampak dalam tindakan nyata. Merayakan Natal, berarti merayakan iman, merayakan komitmen bertemu Yesus, menyembah dan berubah sikap kita menjadi lebih baik, benar dan bertanggung jawab. Kita harus berani menolak sikap Herodes yang masih mewujud hingga kini. Sekarang harus berani membangun komitemen: Taröi zogegewukhö, ta’erogö zolato; ta’otahögö yawa luo, sanului niha sato.

Saya sangat yakin, jika semua kita menjauhi dan membuang sikap-sikap Herodes itu, maka terwujudlah apa yang kita kehendaki bersama sesuai dengan sub-tema Natal Kabupaten Nias Barat 2013: “Bersama-sama mewujudkan damai berkeadilan menuju Nias Barat yang sejahtera.”Kita menjadi kuat dan tangguh, jika bersama-sama setia. Oleh karena itulah, sangat tepat kita ingat pepatah nenek moyang Nias: “alisi tafadaya-daya, hulu tafaewolo-wolo; tafa’ohe tanga ba zanösö, tafa’ohe tanga ba zaelo; ba böi faoma tatuli’ö nawöda ba mbaho.”

 

Berjuang Setia

Dalam kisah kelahiran Yesus, ada dua pihak yang sungguh merayakan Natal dengan perbuatan iman. Pihak pertama dan utama adalah keluarga Narazet (Yosef-Maria). Yosef, pribadi yang berjuang keras untuk setia “memelihara” sumber hidup yang lahir di dalam keluarganya. Yosef, karena punya iman yang dalam, mampu mengetahui kehendak dan maksud Allah, walau lewat mimpi, dia membawa Yesus di tempat yang terlindung (Nasaret).

Pertanyaan reflektif bagi kita: apakah kita sudah berjuang setia memelihara Yesus itu yang kita rayakan setiap Hari Natal? Atau jangan-jangan kita berlaku seperti Herodes, yang berjuang membunuh Yesus? Kita sudah membunuh Yesus jika kita mengkhianatiNya, membunuh Dia hidup dalam diri kita. Kita sudah membunuh Yesus, jika melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak, visi-misiNya di dunia. Pihak kedua yang sungguh merayakan Natal adalah para gembala dari Timur, orang-orang non-Yahudi, orang-orang yang tak sebangsa dengan Yesus, orang-orang kecil. Para gembala (Gaspar, Baltasar dan Melkhior) berjuang mencari, menemukan dan menyembah Yesus, Sang Raja Damai. Setelah menemukan dan menyembah Yesus, lalu para gembala pulang dengan melewati jalan lain, ada perubahan luar biasa dalam diri mereka. Merayakan Natal berarti, tidak hanya sekadar menyembah Yesus, tetapi dipanggil bertobat, kembali berjuang menemukan kehendak Allah dan melakukannya.

Santo Paulus tidak menulis kisah mengenai kelahiran Yesus. Ia membahasakan peristiwa ini dengan pendek. “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil, dan beribadah di dalam dunia, dengan menantikan pernyataan kemuliaan Juru Selamat kita, Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri yang rajin berbuat baik (Tit 2:11-14).

Sikap Yosef, Maria dan para gembala, itulah mereka yang merayakan Natal. Apakah Bapak/Ibu masih ingat kata-kata Yesus: “Bukan orang yang berseru: Tuhan-Tuhan yang masuk ke dalam Kerajaan Allah, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapaku’ (Mat 7: 21). Kita diselamatkan bukan karena merayakan Natal dengan nuansa kelap-kelip romantis, sambil melambungkan nyanyian pujian. Anda diselamatkan karena Anda berjuang melakukan kehendak Allah itu! Jabatan yang Anda emban saat ini, merupakan sarana bagi Anda untuk mengabdi Allah dan melakukan kehendakNya.

Sudahkah Anda berjuang setia melaksanakan tugas itu? Atau penuh dengan tindakan yang koruptif, kolusi, dan nepotis? Apakah jabatan itu, tidak menjauhkan Anda dari Yesus yang engkau rayakan hari ini? Tidakkah jabatan itu, membuatmu semakin tamak dan serakah? Jika dulu Yesus lahir di kandang, di tempat tak layak. Sekarang, biarlah Yesus lahir dalam hati dan hidupmu yang tulus; di dalam hatimu yang tak kotor. Waspadalah, jangan biarkan hatimu penuh kedengkian dan korupsi lalu mempersilahkan Yesus lahir, bersihkanlah hatimu itu.

Merayakan Natal berarti kita mencari Yesus dan menemukan Dia seperti para gembala itu. Merayakan Natal berarti kita berjuang bersama Yesus seperti Yosef dan Maria. Marilah kita memelihara Yesus itu. Jika kita sudah menemukan Yesus, pasti terbukti kita menjadi rendah hati seperti para gembala itu, kita memberi persembahan yang terbaik, hati yang tulus, iman yang dalam, perjuangan untuk mengabdi Allah dalam pekerjaan-pekerjaan kita. Setelah itu, kita dituntut untuk bertobat, melewati jalan yang menyelamatkan. Marilah merayakan Natal dengan ikut mengambil tanggung jawab untuk mendatangkan damai, dengan menyingkirkan hambatan-hambatannya. Damai yang seperti itu adalah tugas yang tidak akan pernah selesai dikerjakan. Selamat Natal. Tuhan Yesus memberkati.

============================================
Catatan: tulisan ini adalah bahan renungan P. Postinus Gulo OSC sebagai pengkhotbah pada Natal Ekumenis Kabupaten Nias Barat tahun 2013, yang dilaksanakan di Gereja BNKP Mandrehe pada tanggal 26 Januari 2014.

Natal Ekumenis Kabupaten Nias Barat tahun 2013 dihadiri oleh Bupati Nias Barat Adrianus A. Gulo, SH., M.H beserta nyonya,Wakil Bupati Nias Barat Hermit Hia, S.IP beserta nyonya, Sekda Nias Barat Zemi Gulo, SH, Wakil Ketua DPRD Nias Barat Evolut Zebua, hampir semua utusan gereja-gereja yang ada di wilayah Nias Barat, tokoh masyarakat, tokoh wanita dan Pemuda.

 

Foto dokumentasi:

DSC02587
Peraih Juara I Koor dalam Festival Pesparawi turut memeriahkan Natal Ekumenis Kab. Nias Barat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: